Work Text:
Piko tahu rencana ini beresiko tinggi, dan sangat, sangat berbahaya.
Tidak ada yang tidak berbahaya dari melakukan penyamaran untuk menyusup ke rumah seorang penjual lukisan palsu yang menipu banyak orang dan telah meraup keuntungan hingga milyaran rupiah. Terdengar seperti sesuatu yang pernah mereka lakukan sebelumnya, tetapi dengan situasi yang sama sekali berbeda: kali ini, Piko adalah pihak yang ditipu dengan iming-iming bayaran sebesar tiga ratus juta rupiah untuk sebuah lukisan rumit yang ia buat replikanya. Lukisan telah berpindah tangan, tetapi Piko tak mendapatkan upah sepeser pun atas pekerjaannya. Ia justru diancam akan dilaporkan ke pihak berwajib atas pasal pemalsuan barang berharga bila ngotot menagih haknya.
Piko sebenarnya tak ingin terlalu ambil pusing dalam masalah ini—ia memang sudah kehilangan banyak waktu dan tenaga, juga kehilangan sejumlah uang untuk mempersiapkan peralatan lukisnya, tapi menurutnya tidak mengapa—karena toh melukis adalah sesuatu yang dilakukannya tanpa dasar terpaksa, bahkan meski ditipu sekalipun. Jadi, ketika ia menceritakan detail penipuan pada Ucup malam itu, Piko tidak sedang menggodok aksi balas dendam apapun—ia sungguh hanya ingin berbagi dengan sahabatnya.
Di luar dugaannya, Ucup benar-benar berang.
“Goblok! Kok bisa lo diem aja ditipu?!” Ucup mondar-mandir dengan kedua tangan terangkat tinggi-tinggi, seolah ingin mencekik sesuatu di atas kepalanya sebagai ganti mencekik sahabatnya. “Piko, ya Tuhan. Piko, temen gue yang paling ganteng. Lo tuh terlalu baik tau nggak, saking baiknya jadi goblok dan gampang digoblokin sama orang!”
Piko meringis mendengar rentetan umpatan yang dialamatkan Ucup padanya. “Udah, puas lo ngatain gue goblok?”
“Enggak, sampai kita dapetin itu tiga ratus juta balik!” Ucup masih mengaum. “Piko, tiga ratus juta itu duit, bukan daun pisang! Lo bisa-bisanya duduk santai abis ilang duit segitu, pegang setengahnya aja lo gak pernah!”
Piko menyandarkan punggungnya di sandaran kursi beroda, menimbulkan bunyi decit yang nampaknya membuat Ucup makin gusar karena pemuda itu menoleh ke arahnya dengan galak. “Ya… abisnya mau gimana, udah terlanjur…”
Piko tidak tahu ekspresi macam apa yang saat ini nampak di wajahnya, tapi apapun itu, sepertinya ampuh untuk sedikit meredakan amarah Ucup yang meletup-letup seperti kawah merapi. Pemuda gondrong di depannya menatapnya beberapa saat, lalu berbalik dengan satu tangan di pinggang dan tangan lain menggaruk kepalanya dengan kasar.
Piko mendorong roda kursi dengan tumitnya, bergerak perlahan mendekati Ucup. “Cup, maaf…”
“Jangan minta maaf sama gue, itu duit lo yang dibawa kabur.”
“Iya, tapi gue bikin lo kesel…”
Ucup mengerang, berbalik dan menatap Piko tajam dengan kedua tangan mencengkeram bahunya, cukup kuat untuk mengunci ruang gerak Piko tapi tak cukup keras untuk menyakitinya. “Gue kesel karena gue nggak bisa mencegah transaksi bodoh itu dan ngebiarin temen gue ditipu. Bukan karena elo, oke? Nanti kalau gue udah bisa mikir, kita cari cara buat dapetin duit lo lagi. Lo cukup dengerin gue dan nurut aja, ngerti?”
Piko menelan ludah. Mata Ucup yang menyala-nyala dan suaranya yang bergetar oleh amarah yang ditekan menakutinya, tapi Piko tahu Ucup hanya ingin menolong, jadi ia mengangguk. Ucup pasti berpikir jika Piko mengabaikan urusan ini, bukan tidak mungkin ia akan ditipu dengan nominal lebih besar di masa mendatang hanya karena tak ingin memperpanjang persoalan—dan perkiraan itu akurat.
“Satu lagi, jangan pernah lakukan transaksi apapun dengan siapapun tanpa gue.”
Piko mencibir, “Apaan nih, lo bertingkah jadi manajer gue sekarang?”
“Piko.”
“Siap, dimengerti, Bapak Yusuf Hamdan.”
Tidak ada yang tidak berbahaya dari rencana ini, tetapi seperti kata Ucup; Piko hanya perlu mendengarkan dan mengikuti.
Seperti biasanya.
Ucup mengumpulkan komplotan mereka—Fella, Sarah, Gofar dan Tuktuk beberapa hari kemudian di studio lukis Piko yang merangkap sebagai base camp untuk membagi peran dalam sebuah rencana akbar: mendapatkan uang Piko kembali. Piko menjelaskan duduk perkara dan, seperti yang telah diduganya, keempat temannya menepuk jidat dan menggeram gemas karena Piko tidak terlihat seperti orang yang baru saja mengalami kerugian finansial.
“Lo ditipu tiga ratus juta tapi muka lo biasa aja,” Gofar berdecak tak percaya. “Pik, yang boleh begitu tuh cuma si Fella. Kalo buat dia, gue percaya duit tiga ratus juta cuma bakal diputer pas main monopoli.”
“Lo nggak ngerasa kesel apa gimana, gitu?” Sarah menimpali dengan alis bertaut keheranan. “Duit segitu nggak sedikit, Pik. Dan lo pasti bikin lukisannya juga pakai effort, bukannya sambil merem.”
“Gue rasa Piko nggak bakal ngerasa dirugikan selama dia masih bisa melukis dengan leluasa,” Ucup menyahut dari sofa yang terletak di sudut ruangan, mata lekat menatap layar ponsel yang menampilkan grafis permainan adu strategi perang. “Dan dia mungkin mikir, bodo amat dah ditipu. Yang penting gue udah belajar teknik ngelukis baru yang bisa gue jadiin investasi untuk proyek berikutnya.”
Piko menoleh ke arah Ucup, ngeri karena prediksinya benar seratus persen. Ucup merasakan tatapannya dan menurunkan ponsel, nyengir lebar. “Kan,” katanya penuh kemenangan. “Apa gue bilang. Inilah kenapa kita harus dapetin duit Piko lagi, karena gue yang bakal foya-foya pakai duitnya.”
Piko menghela nafas, menatap teman-temannya bergantian. “Ini semua idenya Ucup yang nggak bakal berhasil kalau cuma kita berdua yang kerjain. Tapi gue nggak akan maksa, yang nggak mau terlibat bisa meninggalkan ruangan sekarang.”
Teman-temannya bertukar pandang. Gofar mengangkat bahu, “Selama gue sama adik gue dapet komisi dari repot-repot ini sih, nggak masalah.” Ia menyenggol bahu adiknya, dan Tuktuk mengangkat ibu jari sebagai tanda setuju.
“Bayarin bensin aja Pik, sisanya beres.”
Piko mengangguk, mengalihkan tatapan pada dua gadis yang duduk di seberangnya.
“Kalian bakal butuh tukang pukul and that’s why I’m here,” Sarah menunjuk dirinya sendiri. Piko terkekeh tanpa menyangkal karena itu benar; mereka semua bergantung pada kemampuan bertarung Sarah sebagai garda terdepan dalam rangka penyelamatan diri.
“Nominal target terlalu sedikit untuk bikin gue tertarik, tapi gue tetep mau gabung karena lo temen gue,” Fella mengedikkan bahunya dan tertawa lepas saat merasakan tatapan kesal dari pasang-pasang mata di dekatnya. “For your information, orang yang nipu Piko ini pernah beberapa kali kontak bisnis sama nyokap gue. I’ll see what I can do to help.”
“Oke, karena timnya udah beres, sekarang kita menuju agenda utama!” Ucup melompat dari sofa dan dengan seenaknya menempati celah sempit yang tersisa di kursi Piko, membuat dua pemuda berukuran hampir sama besar itu berdesakan di atas sebuah kursi yang hanya muat satu orang. Piko tak ingin menyerahkan tempat duduknya sementara Ucup pantang menyerah—jalan tengah diambil dengan Ucup yang duduk dengan posisi aneh karena separuh tubuhnya bertumpu di pangkuan Piko dan separuh lainnya di kursi.
“Lo gak bisa lebih ngeselin lagi? Duduk di tempat lain emang gak bisa?” protes Piko, mendorong Ucup menjauh tanpa hasil.
“Gak bisa, gue maunya di sini,” balas Ucup keras kepala. “Anyway, sebenernya eksekusi tugas kita kali ini nggak terlalu susah, sistem keamanannya juga gampang lah gue akalin. Yang jadi catatan justru bodyguard sama security yang jaga di daerah sekitar rumah penipu ini, soalnya dia ngerekrut mantan-mantan gangster. Langkah yang lumayan cerdas, bentuk satpamnya bener-bener kayak tukang jagal.”
Fella mengangkat tangan untuk meminta waktu interupsi. “Kita punya pemegang medali emas taekwondo tingkat nasional di sini,” katanya, menunjuk Sarah yang duduk di sampingnya. “Apa nggak bisa kita langsung masuk aja?”
Ucup menggeleng. “Kalah jumlah. Sarah bukan lawan sebanding, apalagi dia maju cuma sendirian. Dan kita nggak bisa mastiin mereka bawa senjata atau enggak, jadi itu cuma bakal bikin dia dalam bahaya. No offense, Sar.”
“None taken,” Sarah menjawab tak acuh. “Terus rencana lo apa, Cup?”
Ucup mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan berhenti saat bersitatap dengan kedua bola mata Piko yang membulat penasaran.
“Pertama, kita curi lukisan Piko dari rumahnya.”
Ucup menghabiskan bermalam-malam berikutnya di kediaman Piko untuk mematangkan rencana mereka. Piko tidak keberatan dengan kehadiran Ucup yang konstan, selalu merasa aman dan terlindungi dengan berada di sekitar Ucup meski Ucup tidak pandai berkelahi fisik seperti Sarah.
Dan Piko diam-diam senang mengamati Ucup bekerja, seperti saat ini: Ucup berbaring tengkurap di tempat tidurnya dengan laptop terbuka di hadapannya, jemarinya menari lincah di atas deretan keyboard dengan wajah yang jelas menampilkan raut tidak bisa diganggu. Piko duduk di sampingnya tanpa suara, sebenarnya ingin menanyakan banyak hal tetapi urung dilakukannya sampai Ucup memberinya kesempatan.
“Jangan liatin gue terus, nanti gue tambah ganteng.”
Piko mendengus dan melempar kepala Ucup dengan bantal. “Udah selesai kerjaan lo?”
“Hampir,” gumam Ucup pelan. Ia berbalik untuk berbaring terlentang, meregangkan otot-ototnya yang menegang. “Fella udah nemuin calon pembeli lukisan lo yang bisa ngasih harga lima ratus juta. Abis kita ambil lukisannya, Fella, Gofar, sama Tuktuk akan langsung bawa barangnya ke tempat transaksi.”
Piko mengerjap, harga yang ditawarkan lebih tinggi dari perjanjian seharusnya. Jumlah yang menggiurkan, tapi apa uang lima ratus juta layak ditukar dengan rencana berbahaya yang bisa saja mengancam keamanan mereka?
“Lo begitu lagi,” tuding Ucup, mengangkat tangan untuk mendorong pipi Piko dengan jari telunjuknya. Piko memiringkan kepala, memberi pertanyaan tanpa suara. “There’s this kind of expression you have on your face when you’re overthinking. Stop it. Gue gak suka liatnya.”
Piko mengerutkan kening tak paham, tapi memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Otaknya belum selesai memproses ketika mulutnya sudah lebih dulu bergerak, “Kenapa lo peduli banget soal lukisan gue, Cup? Do you want the money that bad?”
Sudah terlambat saat Piko menyadari betapa kasarnya pertanyaan itu; terdengar jelas seperti ia meremehkan bantuan Ucup dan semua hal yang dilakukan Ucup untuknya serta menganggapnya mata duitan. Piko mengecap pahit di lidahnya ketika mengulangi pertanyaan itu dalam hati.
“Cup, maaf. Gue gak bermaksud–”
“Gak apa-apa, gue paham maksud lo.” Terdengar bunyi gemerisik saat Ucup bangkit untuk duduk di atas kasur Piko. “Jujur aja, gue nggak bener-bener peduli soal jumlah uangnya. Gue peduli karena itu lukisan lo, lo bekerja keras untuk itu dan gue mau semua mahakarya dari tangan lo dihargai dan diapresiasi dengan semestinya. Kedengeran ironis karena sebenernya yang kita lakuin gak bener-bener amat, ya?”
Piko tak mampu menahan tawa dan Ucup menyusul gelak tawanya sesaat kemudian. Ada jeda setelah tawa mereka reda, dan Piko merasa pipinya menghangat karena ucapan Ucup barusan. Piko bertanya-tanya apakah efeknya akan serupa jika ia mendengar hal yang sama dari kawannya yang lain, atau hanya terasa berbeda karena Ucup yang mengatakannya.
“Abis kita dapet duit dari jual lukisan gue, lo mau ngapain, Cup?”
“Hmm, gue belum mikir sampai situ, sih. Tapi kayaknya gue mau ngajak lo makan bakso di perempatan situ. Oke nggak, rencana gue?”
“Makan bakso aja harus masuk dulu ke rumah pencuri…”
“Iya, Pik. Di situlah letak luar biasanya.”
Rencana Ucup seharusnya sempurna.
Mereka akan menyusup masuk ke dalam rumah saat pergantian shift penjaga setelah Ucup melumpuhkan kamera pengawas dan pintu garasi otomatis yang membawa mereka ke lokasi penyimpanan lukisan-lukisan mahal yang diduga hasil curian dari pelukis lepas seperti Piko, mengambil lukisan Piko, mengeluarkannya dan membawanya ke dalam mobil Tuktuk, lalu pergi dari sana dengan mobil lain yang sudah disiapkan Fella.
Semuanya sempurna—sampai tidak lagi.
Terjadi miskalkulasi yang fatal dan seluruh rencana mereka terbongkar di depan mata musuh—Piko tak sempat mengingat bagaimana detail kejadiannya karena semua terjadi begitu cepat. Komplotan terpencar; Gofar dan Sarah beradu tinju dengan lima orang berbadan dua kali lebih besar dari mereka, Fella dan Tuktuk tak terlihat di manapun, sementara Ucup terkepung oleh tiga orang bertubuh besar yang mengerumuninya.
Piko melihat Ucup jatuh tersungkur dengan dua pukulan keras di ulu hati. Satu pukulan lain mendarat di wajahnya, dan Ucup terpental dengan darah segar meleleh dari ujung bibirnya.
“UCUP!!!” Piko memekik keras, melihat Ucup dipukuli membuat tulang-tulangnya sendiri terasa remuk. “Cup!! Ucup!!!”
“Pik, lari!” Ucup berseru tersengal, dengan sisa tenaganya berusaha menghalau Piko yang berlari ke arahnya. Perhatian ketiga orang di depan Ucup sejenak teralihkan pada Piko, dan Ucup menendang tulang kering salah satunya keras-keras untuk mencegah mereka menjadikan Piko target selanjutnya. “Pergi dari sini, anjing! Pergi dari sini sekarang!”
Piko mengabaikan ucapan Ucup—tidak mungkin ia sudi angkat kaki sejengkal pun dari sini tanpa Ucup bersamanya. Tapi tiba-tiba Piko merasakan seseorang menariknya kuat-kuat dari belakang, menyeretnya pergi. Piko berusaha keras memberi perlawanan meski sia-sia, dan baru berhenti meronta saat menyadari yang sedang mencengkeram kerah bajunya adalah Tuktuk.
“Tuk! Ucup, Tuk! Gue gak bisa ninggalin dia sendirian, dia bisa mati!” Piko berusaha melepaskan diri karena Tuktuk justru mencengkeram bajunya lebih kuat alih-alih membiarkannya pergi menolong Ucup. “Lepasin gue, anjing! Kalo elo nggak mau nolongin Ucup, biar gue sendiri!”
“Pik, dengerin gue,” Tuktuk mencoba menenangkan Piko yang masih meracau tak karuan, tatapan matanya menyalang liar mencari keberadaan Ucup yang tak mampu dijangkau visualnya. “Piko, Pik, dengerin gue. Demi Tuhan, dengerin gue dulu!” Tuktuk memegangi kedua sisi wajah Piko dengan telapak tangan, memaksa Piko menatapnya. “Ucup bisa beneran mati kalo dia liat lo luka segores aja, makanya dia minta gue bawa lo ke tempat aman. Ucup pasti survive, Pik. Ucup pasti selamat.”
Piko tak benar-benar memahami seluruh kalimat yang diucapkan Tuktuk, tapi sudah tak memiliki daya untuk melawan. Ia jatuh terduduk di atas aspal karena kakinya tak mampu lagi menyangga tubuhnya, bersandar sepenuhnya di bahu Tuktuk dan mulai terisak tanpa suara. Pikirannya dipenuhi kabut gelap dan tebal, juga rasa amat sangat takut kehilangan yang membuatnya menggigil. Di dalam benaknya kini hanya ada nama Ucup—persetan dengan lukisan dan pencuri sialan itu. Persetan dengan uang tiga ratus juta.
Jika terjadi sesuatu pada Ucup, Piko akan datang sendiri dan mematahkan leher semua orang yang telah melukai sahabatnya.
“Piko!”
Fella melompat keluar dari kursi kemudi sebuah mobil hitam yang berhenti tepat di samping Piko dan Tuktuk, gadis itu berlari memeluknya dengan raut panik yang tak bisa disembunyikan. “Lo baik-baik aja, kan? Lo nggak dipukulin, kan?”
Piko menggeleng lemah, “Gue baik-baik aja.”
“Ah, syukurlah,” Fella menghembuskan nafas lega. “Ayo, sekarang kita ke rumah sakit. Lo pasti mau ketemu Ucup.”
Pendengaran Piko menajam mendengar nama Ucup. “Gimana kondisi Ucup, Fel? Siapa yang bawa dia ke rumah sakit? Gofar sama Sarah gimana?”
Fella dan Tuktuk bertukar pandang sesaat. Tanpa menjawab pertanyaannya, keduanya merangkul Piko dari kedua sisi dan membopongnya masuk ke dalam mobil. Tuktuk duduk di balik kemudi sementara Fella duduk di belakang bersama Piko, ketiganya berkendara dalam hening hingga mobil berbelok menuju arah pelataran rumah sakit.
Ucup terbaring seperti mumi dengan perban yang malang melintang di sekujur tubuhnya, dan Piko merasa asing dengan sosok di depannya karena ia tak pernah membayangkan akan melihat Ucup dalam keadaan seperti ini setelah bertahun-tahun berkawan.
“Kata dokter kondisinya stabil, kok. Dia lagi tidur abis dikasih obat.” Fella mengedikkan dagu ke arah tempat tidur Ucup. “Lo bisa ngomong sama dia, tapi pastikan dia nggak banyak gerak dulu.”
Piko mengangguk paham. “Kalian nggak ikut masuk?”
Tuktuk menggeleng. “Gue sama Fella mau ngecek Gofar sama Sarah. Nanti kita balik ke sini lagi, setelah semuanya beres. Lo temenin Ucup dulu aja, Pik.”
“Oke.” Piko menunggu kedua temannya menutup pintu ruang rawat Ucup dan duduk di kursi di samping tempat tidurnya, menyentuh punggung tangan Ucup dengan hati-hati. Ia berjengit mundur saat sentuhan itu membangunkan Ucup, tapi Ucup menahan tangan Piko saat Piko bergerak menjauh.
“Hei,” katanya, memaksakan seulas senyum dari satu sudut bibir yang tidak robek.
“Hei hei palalu,” Piko mendesis marah. “Sok jagoan lo, njing. Gak bisa berantem juga, pake sok-sokan nggak mau ditolong. Kalo lo mati dipukulin preman gimana, bangsat?”
Ucup tertawa pahit mendengarnya. “Lo juga nggak bisa berantem, anjing, nggak usah berlagak mau nolongin gue. Kalo kita berdua mati gimana?”
Mata Piko memicing kesal, tapi rasa lega karena masih bisa bertukar umpatan dengan Ucup yang nampaknya baik-baik saja mengguyurnya di atas kepala seperti seember air dingin. Ia beringsut dan menarik Ucup dalam pelukannya, berhati-hati agar tidak menyenggol luka-lukanya. Dengan satu tangan yang tidak terhalang selang infus, Ucup membalas pelukan Piko, memberinya tepukan menenangkan di punggung seperti yang selalu dilakukannya untuk menghibur Piko ketika suasana hatinya sedang buruk.
“Lukisannya aman, Pik.”
“Gue nggak peduli soal lukisan itu sekarang, Cup.”
Piko merasakan getaran halus di tubuh Ucup saat sahabatnya itu tertawa. “Gue bukan nanya, gue ngasih tau lo bahwa misi kita berhasil. Sekarang mungkin lukisannya udah jadi duit, nanti lo bisa tanya Fella kalo lo ketemu dia.”
Piko melepaskan pelukan dengan kening berkerut. Itu mengingatkannya: betapa banyak hal yang ganjil dan tidak dipahaminya dalam eksekusi rencana ini, seolah Piko tidak pernah menjadi bagian di dalamnya. Ucup membaca ekspresinya dan tersenyum lembut, “Gue utang banyak penjelasan sama lo, ya?”
“Iya.”
“Hmm. Biar Tuktuk deh yang jelasin ke elo, abis itu lo boleh marah sama gue.”
“Kenapa gue harus marah sama lo?”
“Gak tau, firasat aja.”
Piko mengernyit penasaran, tapi memutuskan untuk tidak menekan Ucup lebih jauh—jika Ucup memang berniat menjelaskannya sendiri, ia pasti sudah melakukannya tanpa diminta. “Istirahat, Cup. Gue beli makanan dulu.” Piko mengusap rambut Ucup yang jatuh ke keningnya dan melangkah keluar kamar, menutup pintunya perlahan.
Ia berdiri persis di hadapan Tuktuk yang membawa satu tas plastik berbau harum makanan, menyerahkannya pada Piko sambil tersenyum lebar.
“Jadi… lo mau denger penjelasan gue dari mana?”
Piko dan Tuktuk duduk di bangku panjang di taman rumah sakit, sengaja memilih tempat terbuka agar Piko bisa mendengarkan dengan kepala dingin.
“Lo belum denger dari Ucup soal rencana dia sebenarnya?”
Piko menggeleng, “Dia berhutang banyak banget penjelasan sama gue, tapi katanya gue akan dengar semuanya dari lo. Abis itu gue bisa marah ke dia—his words, not mine. Gue juga nggak ngerti kenapa menurut dia gue harus marah.”
Tuktuk menghela nafas panjang. “Misi yang Ucup kasih ke kita, yang hari ini kita eksekusi, itu cuma sebagian dari keseluruhan rencananya. Ucup punya rencana lain yang menurut dia, lebih tinggi prioritasnya ketimbang ngambil lukisan lo. Kata dia, nggak apa-apa kita gagal ngambil lukisan lo dari rumah pencuri itu, selama rencana kedua berjalan sempurna.”
Pemuda bersurai gelap itu menatap Piko dengan ekspresi tak terbaca. “Rencana lain Ucup adalah gue dan Fella harus bawa lo pergi dari TKP tanpa tersentuh preman-preman itu, sementara dia, Gofar dan Sarah yang akan nahan mereka supaya nggak ngejar kita. Prioritas utama Ucup itu elo, Pik, dan Ucup ngelakuin semua itu setelah sadar dia salah perhitungan dan nggak mungkin kita pergi dari sana tanpa baku hantam.”
Tuktuk ingat hari dimana Ucup mampir ke bengkel bersama Fella dan Sarah tanpa Piko. Pemandangan yang janggal baginya, karena Piko dan Ucup hampir tidak pernah terlihat tanpa satu sama lain.
“Gue mau propose satu rencana terkait Piko, jadi dia emang nggak boleh ada di sini. Dan gue harap, kalian bisa jaga rahasia sampai rencana kita sukses.” Ucup memulai dengan serius. “Gue mau Tuktuk dan Fella siapin mobil buat bawa Piko sejauh mungkin dari TKP, dengan atau tanpa lukisan Piko. Gue, Gofar dan Sarah akan berusaha mengalihkan perhatian orang-orang itu sampai kalian aman. Kalau situasinya memburuk, Gofar dan Sarah bisa pergi duluan. Gue cabut terakhir.”
“Lo ngasih kita misi bunuh diri?” Gofar mendelik mendengar rencana kasar itu. “Lo bilang kita bisa selesaikan semuanya dalam lima belas menit waktu mereka lagi ganti shift! Kenapa kita harus jadi samsak tinju?!”
“Gue salah perhitungan, Far. Kita mungkin berhasil ngeluarin dan angkut lukisan itu ke mobil dalam lima belas menit, tapi kita gak mungkin pergi dari sana tanpa ketahuan sama sekali. Gue udah perkirakan sampai sini dan gue udah siapin distraksi juga, tapi gue lupa mereka udah pernah liat wajah Piko dan Piko pasti bakal jadi sasaran utama mereka.”
“Jadi tujuan utama lo adalah memastikan Piko nggak terluka dalam misi ini, bahkan meskipun lo yang harus nanggung sisanya.” Sarah berkata tenang dan Ucup mengangguk sebagai konfirmasi.
“Sinting, lo,” maki Gofar sambil tertawa mengejek. “Lo sinting, Cup. Sumpah. Bucin tolol, lagi. Lo kalo cinta sama dia ngomong di depan mukanya, jing.”
Tuktuk ingat persis ekspresi Ucup yang melembut mendengar ucapan Gofar, dan bagaimana Sarah dan Fella bertukar tatap dengan senyum tipis. Mereka semua paham.
“Nanti,“ kata Ucup kemudian. “Nanti gue akan bilang ke dia, setelah kita semua keluar dengan selamat.”
“...dan rencana gila Ucup di-backup sama Fella dan koneksinya. Setelah kita keluarin lukisan lo dari rumah itu, Mas Gito ambil alih barangnya untuk langsung dibawa orang suruhan Fella ke tempat transaksi sama pembeli, terus dia bawa Ucup, Gofar dan Sarah ke rumah sakit pakai mobil gue. Fella bawa mobilnya untuk jemput gue sama lo, selebihnya lo udah tau sendiri.”
Piko merasa seluruh tenaganya terserap habis meski tak melakukan apa-apa. Ucup benar-benar Tolol dengan huruf T kapital, geramnya dalam hati. Apa dia kira Piko akan terharu dan berterimakasih karena dia menempatkan dirinya sendiri dalam bahaya demi Piko? Apa dia kira Piko akan sanggup melanjutkan hidupnya seperti biasa jika sampai sesuatu yang buruk terjadi padanya?
“Sarah sama Gofar gimana?” Piko mencoba mengalihkan topik hanya agar dadanya tak terasa sesak oleh pikiran semrawut tentang lelaki yang sedang terbaring seperti mumi.
“Lukanya nggak terlalu parah, jadi nggak perlu dirawat. Mereka cuma diobatin di IGD,” jawab Tuktuk. “Gue mau anter yang lain pulang abis kelar urusan administrasi, jadi mungkin kita gak ketemu Ucup dulu malam ini. Lo sama Ucup kalo butuh apa-apa bisa ngomong ke gue sama Gofar.”
Piko mengangguk dan menggumamkan terima kasih. Tuktuk menepuk bahunya, sambil bergurau mengingatkan Piko untuk bersikap baik pada Ucup setelah ini. Piko hanya merespon dengan senyum masam dan, “Sori, gak bisa janji.”
Piko tidak berbohong; jika ia bisa ia ingin meninju wajah Ucup sekali saja untuk meluapkan rasa kesalnya. Separuh rasa kesal itu masih dibawanya sampai ia kembali ke kamar Ucup yang sudah sepenuhnya terjaga, dilihatnya kepala Ucup bergerak-gerak mengikuti setiap langkahnya.
“Udah selesai ngomong sama Tuktuk?”
Piko membanting tubuhnya ke kursi di samping tempat tidur Ucup, entah bagaimana caranya Ucup bisa tahu ia baru saja berbincang dengan Tuktuk. Seberapa banyak rencana Ucup yang berjalan di balik punggung Piko?
“Udah.” Ditatapnya Ucup dengan sinis, “Kali ini apa lagi rencana lo yang gak melibatkan gue?”
Ucup mengerjap bingung, namun dengan cepat mencerna maksud kalimat Piko dan nyengir lebar. “Plan C, menghabiskan waktu semaleman sama lo di rumah sakit sampai gue pulih.”
“Emang dasar tolol,” Piko mendesah keras. “Gue nggak pernah minta lo bertingkah heroik buat gue. Gue seharusnya ada dalam rencana lo, Cup. Gue seharusnya ikut bersusah-susah kayak yang lain seperti rencana kita di awal dan bukannya dipanggul pergi gitu aja kayak barang gak berguna. Apa susahnya sih stick to the plan?”
“Lo ada dalam rencana gue, Pik,” tukas Ucup tegas. “Lo ada dalam setiap rencana gue. Gue bikin plan B justru karena ada elo dalam rencana gue, dan gue gak bisa sekedar stick to the plan kalau taruhannya keselamatan orang yang sangat penting buat gue.”
Hening.
Hening yang sangat lama, hingga rasanya Piko mampu mendengar degup jantungnya sendiri tepat di depan telinganya.
Lalu dengan suara bergetar, Piko bertanya: “Kenapa lo ngelakuin semua ini, Cup? Lo suka sama gue?”
Ucup terkekeh pelan seolah menertawakan pertanyaan Piko. “Menurut lo gue bakal rela bikin misi pengorbanan diri cuma demi orang yang gue suka?”
“Gue cinta sama lo, tolol.”
Dan jika kemudian sel impulsif dalam otak Piko mengirimkan lebih banyak sinyal pada reseptor motorik untuk bergerak dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir Ucup, semua itu jelas adalah ulah pernyataan cinta bodohnya.
Piko benar-benar tidak tahan.
Ia ingin sekali menggosok wajah Gofar, Tuktuk, Fella dan Sarah dengan kanebo yang bertengger di bahu Tuktuk untuk menghapuskan senyum menyebalkan di wajah teman-temannya. Keempat orang gila itu tidak henti-hentinya meledek dan bersiul riuh sejak mereka bertatap muka dengan Piko dan Ucup, meski itu tidak sepenuhnya salah mereka.
Siapa yang tidak gatal untuk bereaksi bila melihat kedua teman mereka tiba bersamaan dengan jemari yang saling bertaut?
“Plan B sukses ya, Bos?” celetuk Gofar yang disambut sorak sorai teman-temannya yang lain.
“Sukses, dong,” Ucup mengangkat tangannya dan Piko, memamerkan tautan jari mereka. “Ini namanya sekali jalan, dua misi terlampaui.”
“Misi apa aja, emang?” tanya Piko penasaran.
Ucup menatap Piko dengan senyum manis penuh percaya diri dan menjawab, “Misi pertama mencuri lukisan lo, misi kedua mencuri hati lo.”
Sorak sorai dan siulan riuh rendah kembali terdengar di sana-sini. Piko menatap Ucup tak percaya—mungkin akan mulai menyesali keputusannya menerima pernyataan cinta pemuda gondrong dengan kuncir separuh itu mulai hari ini.
(Atau, tidak ada penyesalan sama sekali.)
