Work Text:
Pintu kayu yang warnanya sudah mulai pudar itu terbuka, muncul seorang lelaki dengan rambut yang diikat asal. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, matanya menelusuri ruangan yang lampunya sedikit redup. Lalu maniknya terkunci pada seseorang yang tertidur pulas di sofa yang mulai sedikit lapuk. Senyum Ucup merekah, ia berlari kecil menuju lemarinya, dengan teliti jemarinya memilah selimut biru yang kini ia tarik dengan hati-hati. Didekapnya selimut yang masih terlipat rapih di tangannya. Ucup kembali masuk ke dalam ruangan yang didominasi aroma cat tadi, mengintip dan melangkah masuk dengan hati-hati—tak ingin membangunkan yang tengah terlelap.
Tangannya terulur, ia berusaha selembut mungkin saat melepaskan kacamata Piko dari batang hidungnya. "Jangan bangun, jangan bangun, jangan—nah cakep," Ucup bergumam sendiri. Dilipatnya kacamata Piko dan ia letakkan di coffee table yang ada di depan sofa. Lalu ia merentangkan tangannya seraya melebarkan selimut yang tadi dibawanya. Seraya menahan napas, Ucup menyelimuti tubuh Piko, dari kaki hingga lehernya. Ucup jadi yang paling tahu sahabatnya suka menyelimuti tubuhnya dengan penuh.
Untuk sesaat ia berdiri sejenak disana dan bertolak pinggang. Piko, nama yang lucu menurut Ucup. Manik coklatnya melihat ke sekeliling ruangan tempat Piko menorehkan warna-warna pada kanvas dan mengubahnya jadi sesuatu yang cantik. Walau Ucup mengakui dirinya tidak mengerti soal seni, tapi jika Piko mengoceh soal seni, Ucup jadi yang duduk paling lama seraya mendengarkannya.
Dari sudut pandang Ucup
Kacau. Gue gak bisa begini. Masa sih gue suka sama Piko?
Tapi siapa sih yang gak suka sama Piko? Udah lucu, asik, berusaha ngerti keadaan sekitarnya, kalo gue ngomong terus bisa bikin buku seratus halaman kayaknya. Posisi gue masih sama, berdiri dan natap Piko yang kalau tidur kelihatan tenang banget. Setiap kali gue liat dia begini, kepala gue selalu mikirin satu hal: Dia gak pantas dapat hidup yang menyedihkan.
Ini bukan sekali dua kali gue berdiri ngeliatin dia. Kalau dia gak bolak-balik dapur nyari cemilan, pasti dia ketiduran. Dan gue selalu benar. Anggep gue klise, tapi gue suka banget liat Piko tidur.
Yang di awal tadi, gue pura-pura aja denial soal gue suka sama dia. Sebenernya, gue udah nyadar dari lama. Tapi berulang kali gue mikirin juga, kalau gue bilang ke Piko, dia bakal gimana?
Karena satu-satunya informasi pasti yang gue punya sekarang cuma Piko gak mungkin suka sama gue. Di matanya, gue cuma sahabat dia yang juga jadi housemates -nya. Di mata Piko, gue cuma Ucup yang kerjaannya begadang, yang kalau dia pulang larut malam, gue masih duduk di depan komputer.
Tapi setelah itu, Piko selalu duduk di kursi yang gak jauh dari tempat gue duduk, nyeritain harinya, nyeritain soal ide-ide yang ada di kepalanya buat dia lukis. Dan gue akan selalu memutar kursi kerja gue dan dengerin dia cerita. Kadang Piko pulang bawa plastik minimarket yang isinya root beer —minuman favorit gue. Walau berkali-kali dia bilang rasanya mirip sama balsem, tapi tetep aja dia sering beliin gue.
Piko terus ya yang diomongin? Iya soalnya dia yang bikin gue sadar kalo setiap orang punya sisi kacau di kepalanya masing-masing. Dulu gue adalah Yusuf Hamdan yang merasa bahwa hidup gue paling menyedihkan—paling kacau. Lalu Semesta nampar gue dengan kehadiran Piko. Yang nyokapnya udah meninggal sedari dia kecil, dan yang bokapnya masuk penjara. Piko anak semata wayang, jadi sejak bokapnya masuk penjara, dia harus nanggung semua hidupnya sendirian. Kuliah di Jakarta, bolak-balik Jakarta-Bandung buat jenguk bokapnya, belum lagi buat hidup sehari-harinya.
Gue emang gak tau apa yang selama ini terjadi di pikirannya yang kacau balau, tapi Piko adalah orang paling tegar dan kuat yang pernah gue kenal.
Jadi setidaknya gue pengen jadi bagian hidupnya Piko sebagai orang yang nunjukkin dia bahwa dia gak sendirian, bahwa Piko gak sekacau yang dia kira, bahwa dia akan selalu punya gue di kesehariannya.
Selama berteman sama Piko dan tinggal di bawah atap lindungan yang sama, gue belajar banyak hal tentang Piko. Dia gak gampang panik, dia suka pake selimut nutupin kakinya sampai ke leher, dia gak pernah capek gambar dan ngelukis, dia suka belajar hal baru, dia bawel (tapi gue betah dengerinnya), dia kadang keras kepala, dia gak suka keliatan lemah—ketahuan sakit misalnya, dan yang paling gue tau adalah dia suka bangun selama mungkin karena katanya saat dia tidur, banyak mimpi buruk yang menuhin kepalanya.
Gue yang tadinya mau lanjut duduk depan komputer malah jadi duduk di lantai, meluk lutut sendiri, dan masih natap Piko yang tidur. Gimana bisa lo besok pagi bangun dengan senyum di wajah lo?
Itu yang gue pertanyakan setiap kali gue liat dia senyum dan siap memulai harinya. Karena gue tau, kalo gue jadi Piko kayaknya gak akan bisa setenang itu. Apa karena Piko udah terbiasa sama sepi dan patah selama hidupnya ya? Jadi dia udah mati rasa dan yang bisa dia lakuin cuma senyum, mungkin?
Ah tapi gue gak mau sok tau. Tapi, kalau ternyata semua itu bener, gue gak mau Piko jadi orang yang mati rasa. Gue mau dia bisa ngerasain semua hal lagi, gue mau Piko bisa nikmatin hidupnya lagi.
Tapi gue sendiri masih gak tau gimana bikin dia merasa disayang dan gak sendirian. Bertahun-tahun gue sahabatan sama Piko dan gue selalu ngerasa dia ngebangun sebuah dinding besar yang membatasi gue untuk mengenalnya lebih dalam.
Kembali ke sudut pandang penulis
“Ucup lo kesambet?” suara serak Piko membuyarkan lamunan Ucup yang duduk melamun. Lelaki itu gelagapan, tidak tahu ingin membantah bagaimana. “Ng-nggak lah anjir. Serem amat kesambet,” balasnya. Ucup berusaha mengalihkan pandangannya ke berbagai arah, tapi tetap saja ia berakhir melihat Piko yang baru saja terbangun dari lelapnya.
“Lo kenapa kebangun?” mereka saling tatap, Ucup menangkap sekelebat sepi di manik yang selalu ia puja itu.
“Nggak, gak papa. Udah yuk ke dalem aja? Ngapain di ruang kerja gue coba,” Piko menyibak selimut dan memakai kacamatanya. “Oke, gue duluan ya,” ujaran Ucup dibalas dengan anggukan kecil dari Piko.
Setelah memastikan sahabatnya keluar dari ruang kerjanya, Piko mengusap wajahnya dengan gusar dan merapikan ikatan rambutnya yang sedikit berantakan saat tidur tadi. Dilepasnya celemek yang menjadi bukti ia sudah menghabiskan ratusan jam untuk berdiri di depan kanvas putih selama ini. Senyumnya sedikit merekah saat ia tersadar Ucup yang menyelimutinya tadi.
Telunjuknya menekan tombol saklar untuk mematikan lampu di ruang kerjanya. Piko memejamkan matanya untuk sesaat dan memijit pelipisnya. Setelah menutup pintu, langkahnya berjalan menyusuri seisi rumah untuk mencari keberadaan sahabatnya.
“Cup!”
“Oi!” Piko langsung berjalan menuju sumber suara—ruang kerja Ucup. “Mantengin apa sih lo?” tanyanya sebelum duduk di sofa berukuran kecil yang berada dua meter dari meja komputer.
“Mantengin duit lah,” Piko terkekeh mendengar Ucup.
“Pik, lo kenapa?” matanya melirik ke Ucup yang masih membelakanginya. “Gimana apanya?”
“Gue tau lo gak gampang kebangun, lo mimpi jelek lagi?”
Untuk beberapa detik, sunyi menemani mereka berdua. “Justru mimpinya bagus, Cup. Gue ketemu Ibu.”
Ucup memutar kursinya, mendapati Piko menatap kosong ke langit-langit. Empat langkah dan ia kini duduk di samping Piko, menepuk pahanya. “Tapi kenapa lo keliatan gak baik-baik aja?”
“Kayaknya buat malem ini, gue capek jadi baik-baik aja deh Cup. Gue liat Ibu di mimpi gue, tapi gak sempet ngobrol. Gue kangen banget sama Ibu, rasanya mau ngobrol, sambat sebentar aja sama Ibu,” seperti sudah terbiasa, Ucup merangkul pundak Piko, mengusapnya untuk memberikan kenyamanan pada lelaki yang tengah hancur di sebelahnya.
“Gue kan sering bilang ke lo, It’s okay to be not okay. Tapi lo selalu berusaha baik-baik aja di depan semua orang, bahkan di depan gue. Lo gak merasa nyaman dan aman ya di deket gue?” Piko menoleh, menatap wajah Ucup dari samping.
“Bercanda ya lo? Lo udah kayak rumah buat gue, Cup. Tempat gue bisa jadi versi apapun dari diri gue, dan lo tetep ngerangkul gue kayak sekarang ini.”
Sial. Ucup yang tadinya tenang sekarang jadi berusaha mengambil napas dengan terburu karena jantungnya berdegup dengan sangat kencang.
Ucup rumahnya Piko katanya.
“Cuma ya, satu-satu ya Cup. Gue gak bisa ngebebanin hidup lo dengan diri gue yang kacau ini. Jadi kalo gue selalu berusaha baik-baik aja tuh tanda terima kasih gue ke lo yang selalu ada buat gue, yang selalu bantu gue.”
“Lo gak ngebebanin gue, Piko. Lo gak akan pernah jadi seseorang yang nyusahin gue,” Ucup mengubah posisinya, ia bergeser dan menghadap ke arah Piko.
“Gue gak tau hidup gue gimana kalo gak ada lo, Cup,” ujaran Piko barusan membuat alis Ucup mengernyit. Mereka saling tatap, Piko ikut bingung dengan maksud dari tatapan sahabatnya. “Kenapa Cup?”
“Lo… Lo bakal tetep jadi Piko yang sama.”
“Kok bisa gitu?”
“Ya… Soalnya lo orang paling kuat yang gue kenal, orang yang paling bisa ngontrol dirinya biar gak dikendaliin sama emosinya, lo orang yang keras kepala dan gak mau berhenti berusaha. Ada gue maupun gak ada gue di hidup lo, lo bakal tetep jadi seniman yang hebat, Piko.”
Tapi lain cerita kalo lo yang gak ada di hidup gue, Pik. Ucup dapat melihat manik Piko yang mengkilat. Ia membuka lengannya lebar-lebar dan tanpa ragu Piko memeluknya, menenggelamkan wajahnya di pundak Ucup.
“Gue capek berusaha baik-baik aja, Cup.”
“I know, Pik.”
“Lo boleh ngerasa hancur, gue gak akan kemana-mana. Gue janji akan tetap ada di samping lo kalau-kalau lo bingung gimana caranya bangkit lagi nanti,” tangannya mengusap punggung seseorang yang letih itu.
Piko memejamkan matanya, merasakan usapan teratur Ucup di punggungnya, mencoba saran sahabatnya yang memperbolehkannya untuk runtuh malam ini. Tak perlu waktu lama, seluruh tubuh Piko melemah disertai dengan isakan pilu yang keluar dari mulutnya.
Ucup berusaha menguatkan dirinya sendiri. Sulit baginya mendekap seseorang yang begitu dikasihinya seperti ini, mana kuat hatinya melihat Piko hancur lebur di lengannya? Beberapa racauan yang tidak dapat Ucup dengar dengan jelas menemani air mata yang tak berhenti keluar dari mata Piko.
Ucup melihat tangan kanan Piko yang menggenggam kacamatanya. Kemudian ia menyandarkan kepalanya di kepala Piko.
Saat ini yang ada di kepala Piko hanya satu: ia ingin menyerah. Dirinya sudah lelah terbiasa letih karena telah lama ditinggal sendiri. Baginya, Ucup adalah sebuah pengingat. Ucup yang membuatnya berpikir bahwa tak apa untuk bertahan sedikit lebih lama lagi. Yusuf Hamdan yang sudah lama menjadi sahabatnya itu jadi alasan Piko masih bernapas hingga saat ini.
Namun tentu Ucup tidak tahu akan hal itu.
Karena entah sampai kapan Piko merasa seperti itu. Ibaratnya seperti tulang yang patah dan tumbuh tidak sempurna. Mau dipaksakan sekeras apapun, Piko tidak akan pernah kembali utuh. Sedari dulu, bagian-bagian hidupnya seperti ditakdirkan untuk dipatahkan—satu per satu, semua akan hancur.
Piko selalu berpikir, jika Ucup tahu bahwa dialah alasan Piko masih berada di dunia ini, ia akan terbebani nantinya. Piko takut, Ucup akan selalu berusaha kuat di depan Piko nantinya. Tentu itu bukan hal yang diinginkannya.
Piko ingin Ucup menjalani kehidupannya dengan sebagaimana mestinya, tanpa harus memikirkan bagaimana cara jadi pondasi hidupnya Piko.
Lima menit yang memilukan kemudian berakhir. Piko berhenti terisak, tapi ia belum juga menegakkan tubuhnya. Dan Ucup tidak keberatan dengan hal itu, malah ia ingin mendekap yang terkasih sedikit lebih lama lagi, menenangkannya dan membuatnya nyaman.
Mata yang sembab dan pipi yang basah membuat Piko memalingkan wajahnya ke arah lain saat mereka kembali bertatapan. Piko bersandar pada tubuh sofa dan menghembuskan napasnya dengan berat. Ucup ikut bersandar, mereka menatap ke langit-langit ruangan bersama.
“Cup.”
“Hm?”
“Makasih ya udah jadi rumah buat gue. Dan gue mau lo janji satu hal ke gue, Cup.”
“Apaan?”
“Lo juga boleh hancur, Cup. Gue akan berusaha jadi nyaman dan aman juga buat lo.”
Ucup terdiam sebentar, kemudian ia menyunggingkan senyum hangat. “Piko, lo lebih dari semua itu. Lo adalah pusat dunia gue.” adalah sesuatu yang ingin ia ucapkan.
“Iya, Pik. Makasih juga ya.”
Pada akhirnya, semua ditelan dalam-dalam ke dalam hatinya sendiri. Karena bagi Ucup, yang penting adalah ia bisa membuat Piko merasa jadi manusia yang pantas bahagia dan disayangi di dunia ini. Ucup hanya ingin Piko merasa Semesta berada di pihaknya. Persetan dengan seluruh perasaannya, semua terbayar saat senyum Piko kembali merekah di awal harinya.
Bagi Ucup, Piko adalah bintang yang tak beraturan tapi punya cahayanya sendiri, sedangkan ia adalah malam yang akan mendampingi bintang-bintang untuk menampakkan kilauannya yang cantik.
