Actions

Work Header

Kanvas Pancarona

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

"gue pelukis, cup," matanya menatap lurus ke depan. "salah, masih belajar. tapi gue udah di proses jadi seorang pelukis. harusnya gue mengembangkan imajinasi dan konsep-konsep unik di kepala gue," wajahnya menengadah ke atas, menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat. "tapi selama satu bulan, kepala gue kosong, cup," matanya menatap ke depan lagi. piko menelan ludah berkali-kali, menjaga suaranya agar tetap stabil.

"gue gak bisa ngapa-ngapain," kedua tangannya dimasukkan ke kantong celana, ia masih berdiri di sana, sendirian. "kepala gue kosong, gue gak tau harus gimana. lo yang selalu ngasih tau gue gimana bisa nyelesaiin masalah. gue... benci banget sama lo cup."

piko berjongkok, memeluk lututnya sendiri. "lo ingkar janji soalnya cup." lelaki itu terdiam sebentar, air mata yang sudah mengering selama satu bulan belakangan akhirnya mulai keluar satu per satu, membuat piko semakin tersadar akan satu hal; "cup, waktu itu lo ngomong gue gak perlu khawatir karena masih punya lo."

"katanya lo akan selalu ada di hidup gue, di setiap keputusan yang gue ambil, tapi mana cup? lo malah ada dua meter di bawah gue gini," piko menarik rambutnya yang diikat asal dengan frustasi. satu bulan belakangan, lelaki berkacamata itu mengurung diri di ruangan lukisnya.

karena piko tidak percaya, seseorang yang selalu menemaninya disana, membawakannya makanan saat ia sibuk melukis, yang selalu berisik sendiri kalau kalah bermain game tembak-tembakannya tak aka ada disana lagi. piko diam disana, berlama-lama sampai teman-temannya khawatir.

dari seluruh orang yang mengenal yusuf hamdan, hanya piko yang tak datang ke pemakamannya. iya, piko subiakto yang selalu menjalani harinya bersama lelaki yang menghabiskan banyak waktu di depan komputer itu. piko subiakto yang lagi-lagi dipaksa untuk hidup di dalam kelam.

"gue... benci lo cup," dikatakannya lagi, kali ini tangannya terulur, membersihkan makam yang rumputnya sudah mulai panjang. "stock root beer lo masih banyak, gimana dong? gue gak suka, kayak balsem," piko memaksa suara paraunya untuk bicara. air matanya tidak kunjung berhenti keluar dari mata yang lelah itu, masih banyak yang ingin ia sampaikan sore ini, tapi lelaki malang itu malah sibuk terisak.

"gue baru sadar cup kalo gue gak pernah bener-bener sendiri. gue... selalu punya lo. sebanyak apapun orang yang ninggalin gue, pasti selalu ada lu di hidup gue."

"makasih ya cup, karena lo gak pernah ngebiarin gue sendirian. maaf gue baru dateng, susah banget terbiasa tanpa presensi lo di hidup gue. sampai detik ini, gue masih gak tau harus gimana selanjutnya," piko melepas kacamatanya yang mulai basah, napasnya diatur agar bisa lanjut bicara.

"lucu ya cup? kita ngobrolin semua hal yang ada di dunia ini, tapi kita gak pernah ngobrolin tentang bagaimana jika salah satu dari kita pergi lebih dulu. terlalu banyak waktu buat kita berdua ngomongin hal-hal lain, tapi kita gak pernah punya cukup waktu untuk bahas duka," ditatapnya langit yang membentang luas di atasnya, ada sesuatu di dalam dadanya yang membuatnya bingung. rasa yang tak ia kenal, duka yang piko tak pernah tahu akan ia rasakan sebelumnya. 

 

"cup, kita selalu bahas sesuatu bareng, nentuin keputusan bareng, nyelesaiin masalah bareng, kenapa sekarang lo malah nyuruh gue mikir sendirian cup?" nadanya meninggi, mempertanyakan pertanyaan yang tak akan pernah ada jawabannya.

 

"gue udah gak peduli lagi sama bapak, cup. udah lama sebenernya, karena gue pikir, gue kan selalu punya lo yang gak mungkin ninggalin gue. tapi kayaknya emang gue ditakdirin untuk jadi seseorang yang selalu ditinggalkan. sama ibu, bapak, bahkan... lo cup. the best person i know," dada piko terasa menyempit, napasnya tersengal seiring bulir bening dari matanya semakin deras keluar. kepalanya tak bisa berhenti membayangkan akan bagaimana harinya tanpa senandung-senandung kecil ucup, tanpa cerita tentang bagaimana harinya berjalan, tanpa yusuf hamdan lagi.

 

"cup, lo inget gak pernah iseng minta gue buat lukis lo sambil megang keranjang buah? dulu kita ketawa sepuluh menit lebih karena lo meragain langsung pake keranjang basket," di tengah tangisnya, piko terkekeh seraya memutar ulang memori itu di kepalanya. 

 

"well, selamat ulang tahun, yusuf hamdan. lo harusnya disini karena gue lukis lo beneran, untung kita waktu itu ngambil foto lo megang keranjang basket yang rusak. gue gak tau lo bakal suka apa nggak sih, hehe. tapi ya cup, misal kita gak ngambil foto waktu itu, gue bakal tetep lukis lo. karena gue terbiasa melupakan banyak hal, kecuali wajah lo, postur tubuh lo, setiap ekspresi yang lo punya. suara lo, gerakan tubuh lo kalo lagi joget, semua cup. jadi tenang aja ya? lo akan selalu hidup di kepala gue, cup. gue janji. gue selalu sayang lo cup."

 

piko menggenggam kedua ujung kanvas putihnya dengan erat, mengarahkan kanvas itu ke nisan dengan ukiran nama yusuf hamdan di atasnya. "ini hadiah ulang tahun lo, i'm letting you go, cup. akan gue coba walau sampe 20 tahun. tapi lo harus janji untuk sering dateng ke mimpi gue, temenin gue ngobrol, kasih tau gue solusi-solusi jenius lo lagi, atau bahkan sekedar lelucon aneh yang baru lo liat di internet. apapun situasinya, walau dunia kita udah beda, gue masih mau menjalani kehidupan dimana ada yusuf hamdan di dalamnya."

 

walau banyak rasa yang menyesakkan dadanya, piko subiakto sudah terlatih untuk melepaskan sesuatu yang ia sayangi.

 

walau yang harus ia relakan adalah seseorang yang ia kira tak akan pernah meninggalkannya, piko tetap mengucapkan selamat tinggal pada lelaki yang selama ini menjadi bagian paling besar di hidupnya. Sore itu, Piko berlama-lama mengobrol dengan seseorang yang raganya sudah tidak ada disana lagi, karena sebanyak apapun teman baik di sekitarnya, ia hanya menginginkan ucup untuk mendengar seluruh ocehan tentang sejarah seorang seniman, teknik melukis yang baru ia pelajari, atau sekedar apa makan siang piko hari itu. 

 

jika bukan karena ulang tahun ucup, piko tak akan melangkah keluar dan memutuskan untuk melanjutkan hidupnya yang kembali sepi hari ini. bahkan setelah kepergiannya, yusuf hamdan masih membantu piko subiakto untuk bangkit dari kelamnya.

 

 

 

 

 

Notes:

cuma fiksi