Work Text:
Sena Izumi berjalan menyusuri lorong-lorong sekolahnya. Walau sudah masuk April cuaca masih dingin, belum lagi matahari yang sudah mulai terbenam mengingatkannya bahwa sebentar lagi suhu udara akan semakin dingin lagi.
Semburat oranye menyelimuti pandangannya, terpantul dari langit-langit, lantai, juga jendela.
Semua ini salah Tenshouin. Karena mereka baru saja bercakap-cakap tadi; tentang dia. Dia yang eksistensinya enggan pergi dari otak Izumi, sekeras apapun ia coba. Warna helaian rambutnya yang diabadikan langit senja ini. Musik-musiknya yang masih tertata rapi di dalam iPod Izumi. Kekehan riangnya yang ia mulai lupa bagaimana suara persisnya.
Izumi kesulitan untuk tidak memikirkan tentang Tsukinaga Leo.
Pikirannya berlabuh pada hal yang tak ia inginkan; harapan semu Izumi yang ia ucapkan pada Tenshouin tadi. Mungkin sebatas curhat, mungkin mencari simpati. Entah bagaimana Izumi bisa-bisanya tak malu mengutarakan hal sejujur, semerah itu. Tentang Izumi yang berharap untuk membekukan waktu; kembali ke rentang waktu kala Leo masih ada di sampingnya; saat Knights hanya ada untuk mereka berdua, saat mereka masih bisa bercanda dan tertawa.
Nggak masuk akal. Kekanak-kanakan. Izumi ini mandiri. Dengan usaha keras dan keteguhan hati, ia akan bisa hadapi tantangan apapun yang ada di hadapannya. Mau bersama Leo ataupun tidak.
Ia akan maju ke depan.
Begitu batinnya, lekas Izumi membuka pintu kelas kosong yang telah ia pinjam untuk latihan. Anak baru itu—siapa namanya—Kasa-kun, dia terlihat semangat untuk latihan, jadi setidaknya mulai bulan ini Izumi tak akan melaksanakan rutinitas unitnya sendirian.
“Kasa-kun, aku kembali—” ujarnya setengah hati sembari membuka knop pintu, menutup mata.
Saat ia membukanya kembali, yang menyambutnya bukanlah ruang kelas bersemburat oranye. Tak ada papan tulis, kursi dan meja yang dikumpulkan di belakang kelas, ataupun Kasa-kun.
Justru yang ada di depannya adalah sebuah pohon sakura yang setidaknya 5x tinggi badannya, dengan sinar putih kebiruan yang menyusup dari lubang besar di langit-langit, seakan tempat ini pernah roboh suatu hari jauh di masa lalu.
Tepat di depan pohon itu terbaring Leo.
Awalnya pemuda di bawah sakura itu terlihat sama bingungnya dengan apa yang Izumi rasakan, namun begitu ia sadar akan kedatangan Izumi, secepat kilat ia bangkit, kemudian berlari.
Lari ke arah Izumi.
“SEEEENAAAAAA!!”
Dua detik kemudian, pemuda itu sudah ada di dekapannya. Izumi menghidu bau familiar—aroma tubuh Leo-kun yang pernah ia ingat di dalam suatu musim semi yang jauh, sedikit bercampur dengan wewangian kelopak bunga sakura yang sedari tadi memayunginya.
“Leo-kun?”
Apa yang baru saja terjadi?
*.゜。:+.゜。*
Lima belas menit, satu jam, atau mungkin tiga, Izumi tidak yakin sudah berapa lama waktu berlalu semenjak ia dipeluk Leo-kun. Apa ia sedang mimpi? Melamun? Bukannya tadi ia sedang berjalan ke ruang latihan? Walaupun—entah dengan keajaiban seperti apa—Leo-kun datang kembali ke Yumenosaki untuk latihan, Izumi tidak ingat ruang latihan terlihat seperti ini. Yang jelas, terakhir ia lihat, ruangannya tak sebesar ini, langit-langitnya tidak runtuh, dan tidak ada pohon sakura di dalamnya.
“Leo-kun…?”
Ia melirik ke bawah. Leo mengenakan jas biru muda, seragam sekolah. Rambutnya ditata rapi, tidak seperti Leo-kun yang terakhir kali ia lihat—berantakan, murung, dan terlihat seperti ia belum tidur beberapa hari.
Izumi melepaskan pelukan Leo darinya walaupun diprotes oleh pemuda bersangkutan. Tanpa sadar tangannya sudah ia julurkan untuk menangkup pipi Leo. Di bawah dua manik hijau itu tidak lagi ada kantung mata setebal yang ia ingat, pantulan iris matanya tak lagi terlihat mati, dan seragamnya rapi.
Dasi warna merah. Dasi siswa kelas satu Akademi Yumenosaki.
“S-Sena, kamu ngapain?”
“Ah, sori.”
Refleks ia mundur dan melepas tangannya dari pipi Leo. Jika Izumi melihat ke bawah, dasi miliknya sendiri juga merah. Dengan tangan gemetar ia pegang dasi di kerahnya itu. Ia ingat obrolannya siang ini dengan Tenshouin. Permainan catur yang mereka mainkan. Keinginan konyolnya.
Membekukan waktu; kembali ke rentang waktu kala Leo masih ada di sampingnya.
Saat Knights hanya ada untuk mereka berdua, saat mereka masih bisa bercanda dan tertawa.
“Sena… kenapa mukamu keliatan bodoh gitu?”
Izumi sontak sadar akan mulutnya yang ternganga dan matanya yang terbuka lebar, seakan ingin copot dari kepalanya melihat apapun yang sedang terjadi di hadapannya. Apa yang terjadi? Candaan konyol macam apa lagi ini?
“Seenaa, kita dimana?”
Aku yang ingin tahu, Leo-kun.
“Mana ku tau. Uh, gedung terbengkalai? Sekitar kita banyak reruntuhan, lebih baik kita kelu—”
“Aaaah stop stop!! Jangan kasih tau aku!”
Izumi memasang wajah masam. Jangan ini lagi.
“Biarkan aku mikir, Sena! Berkhayal!! Dengan kemungkinan tak terbatas yang semuanya hanya butuh imajinasiku, sebelum dunia kejam ini memberi jawaban membosankan—”
Tanpa mendengar lebih lanjut ocehan Leo, Izumi menyeretnya untuk pergi keluar.
*.゜。:+.゜。*
“Sena!! Aku belum selesai ngomong!”
“Simpan dulu ocehanmu itu buat nanti. Kita nggak tau kita dimana, bisa jadi tempat ini bahaya.”
Tak ada pertanyaan mereka yang terjawab dengan keluar dari gedung tadi. Oke, mungkin satu pertanyaan. Bahwa tempat ini—bukan hanya dalam gedung yang baru saja mereka tempati, tapi juga sekitarnya, sudah lama tak dijamah manusia.
Dari yang bisa Izumi lihat, tempat ini sepertinya dulu adalah taman bermain. Banyak wahana rusak ataupun berkarat yang bisa ia lihat di sekitar mereka, mulai dari roller coaster, komedi putar, hingga bianglala. Izumi tak ingat ada tempat seperti ini di wilayah sekitar mereka tinggal.
“Oooh Sena! Roller coaster!”
“Aku nggak buta.”
“Ayo naik!” ujar Leo riang, lantas Izumi merasakan tangannya ditarik.
“Tunggu, Leo-kun! Jelas-jelas wahana yang itu rusak! Liat besi-besinya, setengahnya patah!”
Omelannya tak didengar. Dengan gelak tawa seakan ia mengira situasi ini lucu, Leo terus menggiringnya mendekati wahana tersebut.
“Aaah, udah lama aku nggak dapat inspirasi~! Enak banget rasanya! Sena Sena! Pinjemin aku kertas sama pulpen!”
Sangat terlambat rasanya, tapi Izumi baru menyadari tas dan barang bawaannya semua menghilang. Ia ingat betul ia tak meninggalkan apapun di aula tadi. Nggak masuk akal; tapi begitu pula dasi seragamnya yang tiba-tiba berganti warna, atau Leo yang entah bagaimana ada di sini.
Ah.
“Aku bawa ponsel.”
“Ooh, pinjami aku~! Aku bisa nulis di situ!”
“Eh? Nggak boleh! Ini situasi genting!” bergegas Izumi membuka kunci ponselnya. Pandangannya langsung ia fokuskan ke ujung atas layar. “Nggak ada sinyal….”
Dengan ekspresi serius—juga sedikit frustrasi, Izumi menghadap Leo. Mencoba untuk terdengar sesabar mungkin, ia menjelaskan, “Leo-kun, kita nggak tau apa yang bisa terjadi di sini. Kita harus cari gerbang keluar secepat mungkin. Aku nggak yakin kita bisa pake ponselku atau nggak buat hubungin ke luar sana, tapi seenggaknya kita harus hemat baterainya—”
Pemuda di hadapannya tak terlihat takut atau khawatir sama sekali. Ia justru terlihat agak… sedih? Kesepian? Izumi tak pernah begitu peduli untuk mengerti ekspresi orang lain, namun perpindahan raut wajah sekecil apapun, kalau orangnya adalah Leo, entah bagaimana Izumi mengerti.
“Sena mau keluar dari sini?”
Izumi berkedip sekali.
“Apa maksudnya?”
Leo memajukan bibirnya, seperti anak kecil yang merengut.
“Habisnya, bukannya ini keinginan Sena?”
Jantung Izumi serasa akan berhenti berdetak saat itu juga. Tangannya dingin. Telinganya berdengung. Tenggorokannya terasa kering.
Apa yang baru saja Leo katakan? Apa maksudnya?
“Leo-kun, apa yang kamu—“
“Sena bilang kan~” pemuda itu lantas berbalik menghadapnya, sedikit menunduk, menatap Izumi lurus-lurus dari bawah. “Sena mau bareng-bareng lagi sama aku. Ketawa dan bercanda lagi sama Tsukinaga Leo! Wahaha!”
Tangan Leo terulur mendekatinya, kemudian keduanya tiba di wajah Izumi, menyentuh dan menarik otot-otot di sisi bibirnya, memaksa ujung-ujung mulutnya untuk menekuk ke atas.
“Makanya ayo senyum, Sena!”
Izumi meneguk ludah. Entah bagaimana ia harus mendeskripsikan perasaannya sekarang, namun yang pasti ia tidak senang. Mungkin sedikit takut, sedikit malu, seakan rahasia yang seharusnya mati di taman bunga itu, perasaan tersembunyinya yang harusnya tak diketahui siapapun kecuali Tenshouin dan papan catur bodohnya itu—terutama tidak boleh diketahui Leo—dibongkar begitu saja di hadapannya. Diucapkan oleh sang empunya sendiri.
Atau—mungkin bukan empunya sendiri. Ada rasa sakit yang terasa tumpul menusuk dada Izumi. Leo seharusnya tidak tahu soal keinginannya, dan rasanya terlalu egomaniak untuk Izumi bisa percaya bahwa ia tengah bertemu dengan Leo di latar seperti ini.
Atau setidaknya Leo yang asli. Karena Izumi sudah terlalu kotor, terlalu pahit, terlalu guilty untuk Leo dekati sekarang.
Jadi apa yang ada di hadapannya saat ini?
Apakah ini hanyalah imajinasinya akan Leo, untuk memupuk rasa kesepiannya?
Rasa kesepian yang sudah terlalu lama tidak ia akui keberadaannya?
“Kalau dipikir-pikir, aku nggak usah nulis lagu juga nggak apa-apa~” seakan hal sangat signifikan yang menjungkir balikkan seluruh persepsi Izumi tentang dunia ini tidak baru saja terjadi, Leo kembali meraih tangan Izumi, menariknya untuk pergi mendekati wahana yang ia ingin naiki tadi.
“Habisnya, di dunia ini kan cuma ada aku sama Sena.”
Seakan semua ini normal, hal yang memang seharusnya terjadi.
“Jadi karena audiensku cuma Sena, sekarang dan seumur hidup, aku bisa langsung perform aja di depan Sena! Wahaha! Aku pinter banget!”
Merasakan kepalanya yang sedikit demi sedikit terasa semakin ringan, Izumi membiarkan tangannya ditarik.
*.゜。:+.゜。*
“Sena Sena Sena!! Di dalem situ, coba pikirin di dalem situ ada gitar!”
Dengan langkah cepat dan gestur liar Leo menunjuk-nunjuk ke arah roller coaster, tepatnya ke dalam bangku wahana yang terparkir di bawah, layaknya menunggu penumpang masuk.
“Pikirin? Apa maksudmu?”
Walau tak begitu mengerti apa yang diminta darinya, Izumi tetap mencobanya. Di dalam bangku itu ada gitar. Di dalam bangku itu ada gitar. Konyol sekali rasanya, tapi entah mengapa ia tetap ingin coba.
Semakin mendekati bangku-bangku wahana bersangkutan, semakin kencang juga langkah Leo yang masih menyeret tangan Izumi. Setelah tiba tepat di hadapan bangkunya, ia bersorak riang.
“Waah!! Sena Sena, liat! Beneran ada gitar akustik! Keren banget!” dengan bangga ia terbahak, kemudian diambilnya gitar tersebut, warna coklat muda, terbuat dari kayu rosewood dengan merk cukup terkenal. Modelan yang kerap ia lihat di toko musik dekat sekolahnya.
“Udah lama banget aku nggak main gitar~ masih bisa nggak ya? Oh, ga perlu ditune! Keren!” Tanpa ragu Leo mulai memetik-metik gitar yang baru didapatnya, kemudian dengan santai ia duduk di salah satu bangku roller coaster. Ia lekas menepuk-nepuk bangku tepat di sebelahnya, mengisyaratkan kepada Izumi untuk ikut duduk. Entah mengapa, yang diajak menurut saja.
“Keren banget gitarnya bisa beneran ada di situ~” ulangnya, seraya masih memetik-metik acak senar gitar. “Entah kenapa aku tahu, ternyata memang dunia ini dikontrol sama pikirannya Sena! Wahaha!”
Kalau mau jujur, Izumi tak merasa senang sama sekali akan kesadaran itu. Alasannya simpel. “Tempat ini berantakan banget. Semuanya rusak, kotor, berdebu, karatan,” omel Izumi bertubi-tubi. “Nggak masuk akal tempat kayak gini lahir dari pikiranku.”
“Mm. Soalnya Sena benci kotor, kan?” dengan senyum simpul Leo berhenti mengotak-atik gitarnya, kemudian ia menghadap Izumi. Maniknya menatapnya tajam. Hijau.
“Sena, kayaknya aku tahu kenapa Sena milih—walaupun tanpa sadar—tempat ini buat kita bisa sama-sama lagi.”
Izumi tak tahu apapun soal itu, dan ia juga merasa obrolan ini tak sepenting itu untuk ia luangkan waktu berharganya. Tapi mereka terperangkap di sini. Ia punya berapapun waktu yang ia mau—ataupun tak mau—untuk mendengar celotehan Leo.
Tidak. Izumi sudah terlalu lama, satu kali terlalu banyak, tidak mendengarkan apa yang Leo ingin utarakan. Tidak bertanya lebih jauh tentang apa maksud kata-katanya.
Jadi kali ini ia memilih untuk diam, mendengarkan.
“Sena, aku pernah bilang kan ke Sena, waktu kita kelas satu, aku pengen ke taman bermain bareng sama Sena?”
Mungkin Izumi ingat, mungkin juga tidak. Tapi nampaknya Leo tidak butuh jawaban untuk pertanyaan itu.
“Tapi kita nggak pernah beneran pergi bareng, jadi mungkin Sena ngerasa bersalah soal itu. Ah, banyak juga tempat lain yang belum sempet kita kunjungi bareng-bareng~ Kuil di tahun baru misalnya, atau restoran chinese yang katamu enak itu!”
Nostalgia masuk dengan cepat, menyerang relung memorinya. Ia ingat obrolan-obrolan itu dengan Leo. Benar juga, mereka sering sekali bermain bersama sepanjang kelas satu dan dua. Banyak hal yang terjadi di antara mereka, dan tidak semuanya buruk. Banyak hal yang membuatnya tersenyum, tertawa, membuatnya bersyukur sudah mendaftarkan dirinya ke Yumenosaki, sudah berteman dengan Leo, sudah bisa hidup. Jadi anak SMA biasa yang menikmati hari-hari masa mudanya.
“Tapi tempat ini terbengkalai, rusak, kotor,” lanjut Leo. Izumi mengangguk. “Ini cuma spekulasiku, tapi kayaknya itu terjadi karena Sena lihat kita—mimpi kita, masa depan kita, sebagai sesuatu yang rusak.”
Manik-manik Leo terlihat sendu, seakan mengeluarkan kalimat itu dari lidahnya juga menyakiti dirinya sendiri.
Izumi tertegun. Ia tak bisa menyangkalnya.
“Sena masih mau bareng-bareng sama aku, tapi Sena nggak bisa bayangin masa depan bersamaku di mana semuanya baik-baik aja. Mau di ujung mimpi, di ruang keinginan, Sena tetep aja ya realistis. Haha.” Tawanya lemah, tak seperti Leo yang biasanya. Izumi sedikit kesal apa yang ia pikirkan begitu saja dipaparkan di depannya, dengan mulut orang lain, seakan ia tahu semua hal tentang Izumi. Menyebalkannya lagi, apa yang ia katakan tidaklah salah.
“Sena,” ucap Leo lembut, seakan ia ingin menghapus luka hati dan sinisisme Izumi dengan kata-katanya. Gitar akustik tadi ia letakkan di bawah, kemudian lengannya maju untuk meraih dan mendekap Izumi, memeluknya erat-erat. “Kita masih bisa ngubah ini semua. Tempat ini ada karena keinginan Sena, kan? Jadi kalau Sena percaya kita bisa bahagia, di sini, berdua, pasti tempat ini bisa bener lagi.” Izumi tak bisa menangis, tapi ia setidaknya sedikit terenyuh. Tanpa pikir panjang ia mengembalikan pelukan Leo, mendekapnya dengan lengannya yang sedikit gemetar.
“Haha, aku seneng banget Sena masih mikirin tentang aku.” Suara Leo pecah. Ia terdengar lemah, seakan ia sendiri pun masih meragukan apa yang diucapkannya. “Aku ada di sini karena Sena masih mau sama aku, kan? Apalagi berdua kayak gini, di tempat yang seharusnya nggak pernah ada.”
Leo melonggarkan dekapannya, kemudian ia mundur, menghadap Izumi. Wajahnya dengan lembut mendekat hingga kening mereka menyentuh satu sama lain. Manik hijau itu kembali masuk ke dalam penglihatan Izumi, kali ini memenuhi semua yang bisa ia lihat. Indah.
“Sena itu cantik, pekerja keras, hebat. Makanya Tuhan sayang sama Sena. Sampai keinginan Sena dikabulin kayak gini.” Izumi senang, malu, namun lebih dari semua itu ia gatal ingin sekali menyangkalnya. Mau dilihat dari manapun dia ini biasa saja, anak SMA sinis yang tak bisa jujur terhadap perasaannya sendiri, dan dengan egonya, sudah menyakiti Leo terlalu banyak. Namun tenggorokannya terasa seperti tercekik; tak ada kata-kata yang bisa lolos dari lidahnya.
“Aku juga ngerti,” ucap Leo, dengan nada rendah yang mendekati bisikan. “Soalnya aku juga sayang Sena.” Napas Izumi tercekat, dan Leo menyadarinya. Entah sudah berapa ribu kali Leo mendeklarasikan bahwa ia suka Sena, cinta Sena, Sena itu hebat, Sena itu begini dan begitu. Namun Izumi tahu yang ini berbeda. Yang ini bukan sekadar kata-kata Leo yang biasanya. Yang ini adalah sesuatu yang lain, yang hanya Leo tujukan pada Izumi. Hanya padanya.
“Sena, boleh kucium?”
Sebelum Izumi bisa memberi jawaban apapun, bibir Leo terlebih dahulu mendarat di bibirnya.
Manis.
*.゜。:+.゜。*
Entah sejak kapan Izumi sudah mulai tertawa. Leo konyol banget, meniru marahnya Kunugi-sensei, kemudian ia pakai peragaan itu menjadi nyanyian. Nyanyi lagu-lagu konyol pula, lagu super sedih misalnya. Yang di tangannya justru jadi pentas komedi.
Kapan terakhir kalinya Izumi tertawa selepas ini, suasana hatinya sebebas ini? Terus menerus ia teringat akan kenangan-kenangannya dengan Leo satu tahun lalu, saat mereka masih bercanda riang, bermain-main, menghindari dan mengabaikan konflik yang terjadi di sekitar mereka. Seakan dunia hanya milik berdua. Tidak ada Chess, tidak ada Knights, tidak ada Tenshouin, Narukami Arashi, Sakuma Ritsu. Hanya Sena Izumi dan Tsukinaga Leo. Izumi senang, sangat senang ia bisa mengulangi lagi kenangan mereka di hari yang jauh itu.
Ada kalanya ia meragukan memorinya sendiri, mempertanyakan apakah mereka pernah benar-benar bahagia. Apakah semua kenangan itu benar adanya, atau rasa sakit yang terus menghantui kesehariannya belakangan ini membuat semua hal biasa yang ia lalui dengan Leo satu tahun lalu jadi terlihat lebih indah. Namun ternyata keduanya benar. Sebiasa apapun hal yang mereka lakukan, sejelek dan se-out-of tune apapun suara nyanyian Izumi dulu, sesedikit apapun audiens penampilan mereka—hanya satu sama lain, Izumi nyatanya pernah bahagia bersama Leo. Ia pernah merasa hidupnya bermakna.
“Sena.”
Sekelebat bayangan lewat di pikirannya. Suara rintih Leo dengan rambutnya yang tak diikat, berantakan, bajunya yang lusuh dan ia yang enggan keluar dari kamar. Tangisan Ruka-tan.
“Hm? Sena, kenapa mukamu seram gitu?”
Dengan napas kasar Izumi terbatuk-batuk. Saat ia melihat lagi ke depannya ia disambut oleh Leo yang biasa. Leo yang sejak tadi mengobrol dan melawak di hadapannya. Leo dengan rambutnya yang dikuncir rapi, dasi merah terpasang seadanya di kerah bajunya yang dua dari atas dibiarkan tidak dikancing.
“Nggak apa-apa...”
Apa itu tadi?
Izumi sontak ingat pertanyaannya pada dirinya sendiri sekian jam yang lalu. Tentang siapa sebenarnya identitas Leo yang ada di hadapannya ini. ‘Leo’ ingat semua memori mereka dari kelas satu dan dua, namun akunya ia tak ingat siapa itu Naru ataupun Rittsu. Yang bisa ia ingat hanyalah semua yang ia dan Izumi lalui berdua.
Ucapan dan gerak-geriknya sama persis seperti Leo yang pernah ia kenal, tapi Izumi tahu Leo-nya yang sekarang tidaklah seperti ini. Ia lihat dan dengar dengan mata kepalanya sendiri. Setebal apa kantung di bawah matanya, segelap apa kamarnya, separau apa suaranya.
Mungkin benar Leo yang sekarang ada di hadapannya adalah Leo yang ia inginkan, tapi bagaimana dengan Leo yang asli?
Izumi mendorong Leo untuk sedikit menjauh darinya, menundukkan wajahnya. Ia meneguk ludahnya satu kali, masih mencoba untuk menormalkan kembali alur napasnya.
Ini tidak benar.
“Leo-kun, aku harus pulang.”
“Hah?” pemuda yang ada di hadapannya membulatkan matanya, alisnya mengerut dan mulutnya membuka tak percaya. “Apa maksudnya? Aku kira Sena senang ada di sini sama aku. Sena baru aja ketawa-ketawa sampai tadi! Sena, ada apa?”
Izumi sendiri pun tak tahu bagaimana ia harus menjelaskannya. Kalau ia boleh jujur, ia tidak benci dunia yang seperti ini, dimana segala hal bisa dibentuk sesuai dengan keinginannya. Mungkin ia harus coba eksperimen lebih jauh. Mungkin ia bisa membangkitkan kembali Tower of Babel, atau bertemu naga, apapun. Apapun yang ia bisa pikirkan. Namun entah mengapa semua itu rasanya jadi tidak penting ketika ia mengingat rumah itu, tangisan anak gadis setinggi pundaknya itu, yang terlihat lemah dan lelah, meminta bantuannya. Tsukinaga Leo di hari itu, yang enggan keluar kamar.
“Leo-kun… kamu juga harus pulang, kan? Keluargamu bakal khawatir kalau kamu di sini terus.”
Lawan bicaranya memberinya senyum lemah.
“Aku udah bilang kan, Sena~? Semuanya bakal lebih seneng kalau aku nggak ada di rumah itu.”
Izumi pernah mendengar kalimat itu sebelumnya. Nggak benar, ia ingin sangkal. Lihat adikmu yang segitu pedulinya padamu, atau orang tuamu yang jelas-jelas ingin kamu bahagia. Senyum lega ibu Tsukinaga yang membiarkan Izumi menginap di rumah Leo, di hari yang jauh itu, senyum malu-malu Ruka-tan yang menyambutnya di depan pintu, ayah Leo yang hanya baru ia lihat beberapa kali, dengan suara tegas namun perhatiannya.
Dan hidup Izumi sendiri, yang betapapun sulit dan sakitnya untuk ia jalani sekarang, tetap ingin ia hidupi.
Hari sudah menjelang sore. Semburat oranye sekali lagi menaungi langit mereka, memantulkan cahayanya di surai Leo yang satu warna, menjadikan helaian rambut itu terlihat lebih menyala lagi. Seperti terbakar api. Terang, kuat, dan penuh kehidupan. Seperti Leo yang seharusnya.
Izumi juga sadar, ia benar-benar arogan kalau ia berpikir ia bisa menentukan seperti apa ‘Leo yang seharusnya’ itu.
Di dalam hatinya, Izumi mengambil sebuah keputusan.
“Leo-kun,” dengan nada lembut ia memanggil lawan bicaranya, kemudian mengangkat tangannya untuk ditautkan dengan Leo. Izumi tersenyum kecil melihat semburat kemerahan yang mulai terlihat di pipi Leo.
“Mau keliling?”
Sedari tadi mereka masih terduduk di roller coaster yang masih saja rusak, tak bisa bergerak. Pada suatu hari yang jauh di masa lalu, Leo pernah bilang bahwa ia ingin pergi ke taman bermain bersama Izumi. Jadi Izumi akan mengabulkannya, siapapun Leo yang tengah ia pegang tangannya ini.
Karena Leo yang ini, yang tangannya bertautan dengannya, ataupun Leo yang murung dan tidak ingin keluar dari kamarnya, keduanya sama-sama pernah membuka perasaannya terhadap Izumi dengan ekspresi penuh luka yang serupa.
“Kalau aku mau, wahana-wahana ini bisa jalan, kan?”
*.゜。:+.゜。*
Layaknya pergi kencan ke taman bermain pada umumnya, Izumi dan Leo berakhir menaiki beberapa wahana (yang entah bagaimana bisa-bisa saja mereka tumpangi, tanpa antrian pula). Mulai dari rumah hantu, bumper car, sky swinger, hingga wahana-wahana yang mereka tak tahu namanya. Mereka tidak merasakan lapar ataupun dahaga di tempat ini, namun stand makanan dan minuman tetap tersedia. Makanan-makanannya bersih, walau tak ada yang jaga.
Izumi teringat kata-kata Leo beberapa jam yang lalu. Kalau Sena percaya kita bisa bahagia, di sini, berdua, pasti tempat ini bisa bener lagi.
Ia tersenyum kecil mengingatnya. Mungkin Leo benar. Mungkin ia merasa bahwa mereka berdua bisa bahagia di sini, seperti mereka setahun yang lalu. Seperti mereka saat hal-hal buruk belum menghantui keseharian keduanya.
Keinginan Izumi terjawab, walau hanya beberapa jam.
Sepanjang perjalanan Leo masih terus membawa-bawa gitar akustik yang mereka dapatkan di awal, bernyanyi ria untuk Izumi. Entah itu lagu konyol, penampilan serius, hingga lagu original yang dibuatnya di tempat. Izumi semakin tak yakin Leo ini hanyalah pigmen dari imajinasinya saja ataukah memang Leo yang asli, karena jelas-jelas Izumi tidak bisa membuat lagu, apalagi yang sebagus itu. Namun rasanya itu sekalipun sudah tidak penting. Leo yang ini, ataupun Leo yang lusuh dan lelah, tidak ingin keluar dari kamarnya, keduanya berkelakuan seperti orang yang sama, ekspresi sakit dan senang layaknya Tsukinaga Leo yang ia kenal, jadi Izumi akan memperlakukan mereka sebagai demikian.
Hari sudah semakin petang. Taman bermain mereka benderang dihiasi lampu-lampu cantik yang entah sejak kapan dipasang. Dunia ini masih hanya berisikan mereka berdua, dan karenanya tempat ini tetap sesepi beberapa jam lalu, namun rasanya tinggal di sini akan menjadi lebih nyaman. Kalau Izumi mau, nampaknya ia bisa saja membangun rumahnya sendiri di sini, supaya tidur malamnya lebih nyaman, layaknya di rumah sendiri. Jika mereka bosan dengan taman bermain, mungkin besok ia bisa ganti tema dunia kecilnya menjadi dunia fantasi, atau inggris di era victorian, apapun yang ia mau.
Sedikit demi sedikit, Izumi bisa melihat masa depan yang bahagia—selamanya terperangkap di dalam dunia kecil mereka ini.
Keputusannya mantap ia simpan di dalam hatinya.
“Leo-kun, buat wahana terakhir, ayo naik bianglala.”
Leo mengangguk puas, dengan kekehan kecil.
*.゜。:+.゜。*
“Leo-kun, gimana? Hari ini seneng?” Izumi menopang dagu, melirik Leo dari samping. Mereka terduduk bersebelahan, di dalam bianglala yang tengah naik.
Leo terlihat kaget mendengar pertanyaan Izumi, kemudian ia nampak senang. Seperti ia tidak menyangka akan ditanya begitu, layaknya kencan betulan. Izumi tertawa kecil. “Kenapa kaget gitu? Leo-kun kan yang bilang pengen ke taman bermain~ Kalau Leo-kun nggak senang terus kita ke sini buat apa?”
“Hehe, bener juga.” Tertawanya manis, tak seperti Leo yang biasanya. Seperti malu, ekspresi yang jarang sekali diperlihatkan Leo.
“Aku seneng banget. Ah, bukan cuma taman bermainnya, tapi bisa ada di dunia ini sama sekali.” Di atas kursi ia meringkuk, membuat figurnya jadi terlihat lebih kecil lagi. Senyumnya kecil, namun lembut. Tulus. “Aku tadi bilang kan, lebih baik kalau di rumah nggak ada aku? Keluargaku baik. Baiiik banget. Makanya aku ngerasa nggak enak nggak bisa jadi anak yang mereka pengen. Nggak bisa pergi ke sekolah, kerjaannya ngerepotin doang.”
Perlahan nada suaranya semakin sendu. Leo kemudian mengubur wajahnya di kakinya, menutupinya dengan kedua lengan. Seakan ia tidak ingin Izumi melihat ekspresinya sekarang. Tidak ingin Izumi melihat sisi lemahnya.
“Aku… aku nggak disukain di sekolah. Karena itu aku nggak bisa ada di situ. Tapi di rumah juga aku nggak suka. Aku ngerasa jadi beban.” Jika Izumi mulai mendengar isakan dari sebelahnya, ia tak berkata apa-apa. “Tapi Sena… Sena manggil aku ke dunianya. Aku dengar, waktu aku lagi duduk sendirian di kamar gelapku. Katanya Sena mau kembali, ke waktu di mana kita masih cuma berdua, bisa bercanda terus ketawa.”
Ada sesuatu imajiner yang mengganjal tenggorokan Izumi. Kata-katanya tidak bisa keluar.
“Aku… aku seneng banget Sena masih pengen bareng sama aku. Aku ngerasa aku punya tempat di mana aku dibutuhin, di mana aku harusnya berada. Jadi hari ini aku berusaha keras buat lupain semua hal buruk yang kita laluin, dan kembali jadi Tsukinaga Leo dari satu tahun lalu. Tsukinaga Leo yang bisa bikin Sena Izumi ketawa; bukan marah, nangis, atau kecewa.”
Leo mengusap wajahnya kasar, kemudian bangkit dari posisinya semula, memperlihatkan wajahnya pada Izumi. Wajahnya merah, pipinya basah oleh air mata yang sampai sekarang belum berhenti. Izumi ikut ingin menangis melihatnya. Sebelum pecah menjadi isak tangisan lagi, Leo terlebih dahulu memeluk erat Izumi, mengubur wajahnya di bahu pemuda bersurai abu itu. Basah. Tapi hangat.
“Jadi Sena—aku nggak bisa pergi dari sini. Aku nggak bisa pulang. Kalau aku kembali ke sana, aku bakal jadi Tsukinaga Leo yang nggak diinginkan siapa-siapa lagi…” di tengah isakan ia memohon, dengan suara parau dan tangan gemetaran. Hati Izumi patah mendengarnya. Perlahan tangannya naik untuk balik memeluk Leo. Erat.
Izumi menatap langit-langit ruangan kecil bianglala mereka, menyiapkan mentalnya untuk mengakui sesuatu yang sangat memalukan—sangat personal baginya. Hal yang tak akan ia akui seumur hidup, kalau saja Leo-kun tidak membutuhkannya.
“Leo-kun. Leo-kun tau kenapa aku masih di Knights?” yang menjawabnya hanyalah isak tangis, kemudian pergerakan kepala di bahunya yang nampaknya menggeleng.
“Knights udah hancur berkeping-keping sekarang. Aku tau aku punya talent, dan aku rajin. Kalau aku mau, aku bisa pindah ke unit lain yang bisa janjiin aku kesempatan sukses yang jauh lebih gede.” Ia meneguk ludah sekali, kemudian mengeratkan pelukannya pada Leo. “Tapi… tapi kepingan-kepingan Knights juga adalah hal yang berharga buat aku.”
Isakan Leo mulai mereda, walaupun tubuhnya masih gemetaran. Ia mendengar dalam diam.
“Knights itu unit yang dibangun Leo-kun sama aku. Mau bersimbah darah sebanyak apapun, mau sekotor apapun, unit itu tetep peninggalan—kenangan kita berdua.”
Suara Izumi mulai pecah, gemetar.
“Leo-kun udah nggak dateng ke Yumenosaki. Kalau gitu, apa yang tersisa dari Leo-kun buat aku? Aku cuma punya Knights, unit yang kita bangun bareng-bareng, unit dimana kita udah berjuang dan terluka bareng-bareng. Aku cuma punya lagu-lagu Leo-kun yang masih kusimpan di iPod-ku.”
Pelukannya amat erat sekarang, hingga terasa sedikit sesak.
“Aku ingin jaga apa yang aku punya—apa yang tersisa dari Leo-kun, mau sekecil apapun. Aku nggak mau pura-pura apa yang terjadi di antara kita—mau kenangan bagus ataupun jelek, nggak pernah terjadi.”
Leo sekali lagi terisak. Pelukannya naik ke punggung Izumi.
“…Juga kalau suatu hari Leo-kun balik, Leo-kun bakal punya tempat buat kembali.”
Di tengah isakannya dengan segera Leo menggelengkan kepala, kemudian melepaskan pelukannya dengan Izumi. Wajahnya basah berlinang air mata. Saat itulah Izumi sadar bukan hanya Leo yang menangis; seluruh wajahnya sendiri juga terasa panas dan basah.
“Aku nggak bisa pulang,” ulang Leo dengan parau, gemetar, takut. “Aku udah nggak punya masa depan. Mimpiku, masa depanku, masa depan aku sama Sena udah rusak. Aku udah nggak bisa nulis lagi—”
“Tapi Leo-kun bisa nulis lagu baru hari ini!”
“Itu karena aku ada di sini kan?! Makanya kita nggak bisa pulang!” Leo menghempas napas kasar setelah saling berteriak di tengah isak tangisnya. “Aku nggak bisa pulang…” suara Leo kembali melemah. “Nggak ke rumah itu. Nggak ke Yumenosaki. Aku nggak punya tempat lain sekarang selain di sini.”
Izumi melihatnya dalam-dalam, entah iba, kasihan, atau perasaan lain yang ia tak bisa mengerti. Yang ia tahu adalah hatinya juga tersayat.
“Kalau gitu kita tinggal bikin tempat dimana Leo-kun bisa nulis lagi, di sana.”
Nyaris spontan Leo menggeleng dengan cepat, seakan ide yang dipaparkan Izumi itu gila.
“Mana bisa hal kayak gitu—”
“Ayo kita ke taman bermain beneran! Di dunia sana. Kita bisa ke restoran yang aku suka, atau bioskop, kemanapun yang Leo-kun mau.” Mungkin terdengar terlalu putus asa, tapi Izumi tak peduli. Ia merasa ini adalah kesempatan terakhirnya. Sebelum Leo selamanya terperangkap di tempat ini. “Nggak bisa nulis lagi juga gapapa—Leo-kun tetep suka nari kan? Nyanyi? Kita bisa tetep perform bareng-bareng, bisa jadi satu unit lagi.”
Leo masih terus menggeleng, terisak, air matanya bercucuran.
“Aku bakal terus ada di sisi Leo-kun. Bukan cuma Leo-kun yang jadi sandaran aku—mulai sekarang aku juga bakal jadi sandaran Leo-kun. Leo-kun nggak sendirian. Mau ada hal seseram, se-menakutkan apapun yang terjadi di sana, kita bakal laluin sama-sama.”
Kata-katanya itu bukanlah janji kosong. Bukan pula hanya ditujukan pada Leo. Tapi juga pada dirinya sendiri.
“Leo-kun, kita masih bisa punya masa depan. Aku nggak mau lupain apa yang udah kita laluin bareng, tapi aku juga pengen bangkit. Aku pengen Leo-kun ngerti bahwa walaupun dengan segala luka-luka Leo-kun, kita masih bisa ketawa bareng, kita masih bisa punya masa depan yang bahagia.”
Isakan Leo masih belum berhenti, dan mungkin begitu pula dengan isakan Izumi. Mungkin ia juga menangis separah Leo. Ia tak tahu. Yang jelas, tangan dan tubuh Leo melemah, dan sekali lagi ia jatuh ke dekapan Izumi, memeluknya.
“Maaf aku udah ninggalin Leo-kun.”
Gemetar tubuh Leo sungguh hebat, membuat Izumi ingin menjaganya, melindunginya dari segala hal yang menyakitinya—sesuatu yang gagal ia lakukan di masa lalu.
“Aku suka Leo-kun yang senyum lebar dan bercanda kayak tadi. Aku suka Leo-kun yang muji-muji aku terus menerus. Aku suka Leo-kun yang nulis banyak lagu, cuma buat aku.” Perlahan Izumi mengelus kepala Leo, menenangkannya. “Tapi bukan cuma itu. Aku bakal tetap suka Leo-kun walaupun Leo-kun udah nggak bisa nulis lagi, walaupun Leo-kun lagi nggak ada tenaga buat muji aku, walaupun Leo-kun lagi nggak bisa ketawa, atau senyum.”
Andai saja ia bisa jujur tentang ini sedari awal. Saat Leo benar-benar membutuhkannya. Mungkin Leo tidak harus hancur hingga menjadi seperti ini.
“Aku suka Leo-kun dengan segala luka-luka yang Leo-kun bawa. Dan kalau aku boleh sedikit arogan, aku mau coba meringankan sedikit rasa sakitnya.”
Izumi melepaskan pelukan mereka, kemudian memandang wajah Leo. Merah, bersimbah air mata, dengan matanya yang sembab dan ingus yang keluar sedikit. Ia tertawa kecil. Muka Leo jelek sekali sekarang. Ia berharap mukanya setidaknya tak terlihat seberantakan ini.
“Leo-kun, dari sekarang, jalan kita pasti bakal sulit, tapi apa Leo-kun bisa percaya sama aku?” tangannya naik untuk menopang pipi Leo sekali lagi. Pemuda di hadapannya mendekat, bersandar ke sentuhan Izumi.
“Bukan cuma dunia khayalan di mana aku bisa ngontrol apapun yang terjadi, tapi di dunia nyata, di mana kita harus berusaha, dan jadi luka-luka, buat dapetin apa yang kita mau.”
Izumi menyandarkan keningnya ke kening Leo, memandang manik-manik hijau tersebut dengan tatapan lembut.
“Leo-kun, percaya kita bisa punya masa depan yang bahagia di dunia sana.”
Kali ini ia yang mendekatkan mulutnya, mengecup bibir Leo dengan sentuhan singkat.
“Aku nggak akan ninggalin Leo-kun lagi.”
Setelah sekian lama menangis, Leo akhirnya tersenyum. Senyum paling lebar, diiringi bekas air mata juga mata sembab, senyuman terindah yang pernah Izumi lihat seumur hidupnya.
“Makasih, Sena.”
Dengan begitu, Izumi bangun.
*.゜。:+.゜。*
Seperti nyaris tenggelam rasanya, Izumi terbangun dalam kondisi kehabisan napas dan detak jantungnya yang berdegup terlalu kencang.
Ketika melihat sekitar, ia langsung sadar ia betulan ada di kelas kosong tempat latihan Knights yang seharusnya ia masuki tadi, minus langit oranye yang sudah berganti gelap. Hari sudah malam.
“Sena-senpai!”
Saat membalikkan badan, Izumi langsung ditemui pemuda bersurai merah yang berkacak pinggang padanya, dengan mulut yang ditekuk ke bawah dan alis yang mengerut, jelas mengindikasikan ‘aku marah’.
“Sena-senpai, katanya hari ini mau latihan, tapi justru tidur seharian! Dimana professionalism-mu?”
“Ah? Aku tidur?”
Benar juga. Dia tidur? Rasanya tadi dia bermimpi tentang sesuatu yang sangat penting. Tapi ia tidak bisa ingat.
“Mau kubangunkan seperti apa juga tetap tidak bangun! Sena-senpai, pokoknya sekarang Senpai harus bantu aku menata ulang bangku-bangku ini, mengerti?”
Mimpi … mimpi apa tadi dia? Dia tak boleh lupa.
Dengan segera Izumi bangkit dari posisi duduknya, matanya membulat dan napasnya kasar. Ia … ia harus pergi. Ia tak tahu kemana, tapi ia tahu ia punya suatu tempat yang lebih membutuhkannya sekarang.
“Sena-senpai, pokoknya besok-besok kalau—“
“Aku… aku pergi dulu! Kasa-kun, maaf hari ini aku nggak bisa bantu!”
“Tunggu, Senpai!!!”
Dengan deklarasi seperti itu dan erangan emosi Tsukasa yang terdengar hingga lorong, Izumi berlari keluar kelas.
Pikirannya berkecamuk. Sekeras apapun ia mencoba untuk ingat, ia tak bisa. Serpihan memori yang tak lagi ada di otaknya, juga kikisan-kikisan perasaan yang pernah ia alami, ia pegang erat-erat.
Izumi berlari. Di sepanjang lorong, melewati lapangan, menyusuri gedung-gedung sekolah, kemudian keluar gerbang. Izumi benci berlari. Ia amat sangat tak suka berkeringat. Tapi rasanya semua itu tak penting lagi. Sesuatu, seseorang membutuhkannya. Jadi ia terus berlari, lebih kencang dari marathon manapun yang pernah ia lakukan, lebih melelahkan dari latihan atau performance apapun yang pernah ia jalani.
Di antara Akademi Yumenosaki dan rumah Tsukinaga Leo, ada pohon sakura yang tingginya kurang lebih 7,5 meter. Pohon sakura paling tinggi yang ada di sekitar sini, menjulang di tengah lapangan kosong, kelopaknya berjatuhan dibawa angin malam.
Di bawah pohon tersebut berdiri seorang pemuda. Pemuda yang amat Izumi kenal. Dengan jaket dan celana hitamnya, juga surai senada langit senja yang dikuncir seadanya, helaiannya disapu lembut oleh angin musim semi.
Entah kenapa—Izumi tidak mengerti mengapa, namun ia merasa sangat lega. Seakan suatu beban yang tertanam di dalam hatinya, yang tak pernah ia ketahui ada di sana, tiba-tiba lepas, dan ia bisa bernapas lagi.
Izumi berjalan mendekati sang pemuda.
“Leo-kun!”
end.
