Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Kisah Yusuf dan Piko
Stats:
Published:
2022-09-11
Completed:
2022-10-09
Words:
10,424
Chapters:
4/4
Comments:
48
Kudos:
125
Bookmarks:
10
Hits:
1,442

Would you mind it if i’m gonna call you my home?

Summary:

Sedari ia kecil, Yusuf Hamdan sudah diajarkan untuk tahu diri.
Tahu diri tentang statusnya, tahu diri tentang latar belakang keluarganya.
Tahu diri, bahwa orang desa tidak mungkin bisa bermimpi muluk-muluk.
Tetapi, saat bertemu dengan cucu majikannya, Piko, saat itu juga ia ingin sekali egois dan berdoa pada Tuhan agar ia bisa selalu bersama dengan lelaki itu.

Cerita ini merupakan bagian dari serial kisah "Yusuf dan piko" Silakan mampir juga ke epilog dari cerita ini ya!

Notes:

Helu! Selamat datang di semesta Cupiko pra-kemerdekaan! Dalam semesta ini kamu akan diajak menyimak kisah Yusuf (ucup) orang desa biasa yang jatuh cinta dengan cucu majikannya, Piko.

Cerita ini akan dibagi menjadi tiga babak, dan akan kuterbitkan seminggu sekali. Minggu ini, mari kita simak dari sudut pandang Yusuf ketika bertemu dengan piko! Selamat membaca!

Chapter 1: Orang desa mesti tahu diri

Chapter Text

Sedari ia kecil, Yusuf Hamdan sudah diajarkan untuk tahu diri. 

Tahu diri tentang statusnya, tahu diri tentang latar belakang keluarganya.

Tahu diri, bahwa orang desa tidak mungkin bisa bermimpi muluk-muluk. 

 

Ia tumbuh besar dalam keluarga Jawa yang sederhana, tidak berada, namun cukup untuk makan sehari-hari. Hamdan, sang ayah hanya seorang buruh tani biasa, menggarap sawah juragan di kampung mereka, untuk mendapat upah yang tidak seberapa. Ibunya sendiri, hanya seorang ibu rumah tangga yang pasif. Begitulah jika seorang anak perempuan belia harus dinikahkan paksa ketika ia seharusnya sedang bermain dengan anak sepantarnya. 

 

Saat Yusuf baru berusia dua tahun, adik pertamanya lahir, membuat kasih sayang sang ibu harus terbagi lebih besar ke adiknya. Bapaknya selalu berkata pada Yusuf kecil, bahwa sekarang Yusuf sudah besar, dan tidak boleh manja. Yusuf sudah diajak oleh bapaknya menggarap sawah sedari umur lima tahun. Ketika bapaknya menggarap sawah, Yusuf berada di tepi sawah sembari menjaga rantang dari ibnya yang berisi dua bongkah singkong rebus dan secuil gula merah untuk perasa. 

 

Saat itu, bahan-bahan seperti gula dan garam salah satu komoditas mewah yang hanya bisa dinikmati sehari-hari oleh para juragan dan majikan-majikan Belanda. Terkadang, ketika panen gagal dan sulit untuk mencari beras di pasar, bapak dan ibunya mencari bahan makanan lain untuk mereka bertahan hidup. Tidak ada protes atau pun kekecewaan yang terlontar dari orang tuanya, karena mereka berpikir siapalah mereka yang hanya orang kecil biasa. 

 

Ketika Yusuf sudah berumur delapan tahun, yang terpikir olehnya adalah bagaimana cara membantu orang tuanya agar adiknya dapat tetap makan sehari-hari. Sekolah? Saat itu sekolah hanya dapat diakses oleh para anak-anak Belanda, juragan, dan anak pegawai kantor pemerintahan. Lagipula, di sini sekolah dibangun di dekat pusat pemerintahan, mana ada sekolah didirikan di desa-desa.

 

Bertemu dengan lelaki berparas cantik

 

Jadilah Yusuf cilik sudah membantu bapaknya menggarap ladang milik juragan besar di desanya. Sang juragan bernama  Jurgan Djati Subiyakto. Ia seorang pengusaha tebu terbesar di daerah itu. Djati memiliki dua orang anak, yang laki-laki bernama Budiman Subiyakto, dan yang perempuan Rini. Budiman dan Hamdan sudah mengenal satu sama lain sedari Hamdan bekerja sebagai buruh penggarap ladang sedari mereka remaja. Ketika Hamdan tahu bahwa sahabatnya akan bersekolah di ibukota, Hamdan turut berbahagia. Sejak saat itu, mereka menjalani takdir mereka masing-masing dan kembali bertemu saat keduanya memiliki anak laki-laki yang sepantar. 

 

Saat itu Yusuf sudah berusia 16 tahun saat hatinya diuji habis-habisan ketika melihat seorang lelaki cantik sepantarnya bernama Piko, anak  dan cucu  laki-laki satu-satunya dari majikan bapaknya. Pertemuan pertama Yusuf dengan Piko, ketika ada pemberitahuan bahwa anak laki-laki Raden Djati baru saja tiba dari ibukota bersama dengan anak laki-laki sematawangnya. Karena bapaknya teman dekat dari Budiman, ia dan bapaknya dipanggil ke rumah utama keluarga Subiakto. 

 

Ketika menginjakkan kakinya di beranda rumah keluarga Subiakto, ia terpana dengan sosok laki-laki muda berambut panjang sebahu yang tengah duduk di samping Juragan Djati. Ia mengenakan kemeja putih polos dan celana bahan berwarna  coklat muda.  Rambutnya panjang sebahu dan sedikit ada ikal di beberapa bagian. Senyumnya teduh seperti saat Yusuf tengah beristirahat di balai-balai ketika terik matahari mulai tinggi. Meski kulit lelaki itu agak colkat sawo matang, ia terlihat sangat terawat, begitu pula jari-jemarinya yang sekilas dipandang saja, Yusuf tidak pernah membayangkan akan bertemu  dengan sosok se-cantik ini dihidupnya. Ia seperti sedang melihat pajangan keramik mahal yang tersusun rapih di ruang tamu juragan Djati, rapuh, cantik, membuat Yusuf segan untuk memandangi apalagi memegang keramik-keramik itu.

 

Namanya Piko, paman Budiman (Budiman berkata bhawa Yusuf bisa memanggilnya paman, sebab Hamdan, ayahnya adalah sahabat baiknya) mengenalkan anaknya pada Yusuf dan bapaknya. Piko yang tadinya duduk di sebelah kakeknya, kini sudah berdiri di samping ayahnya.

 

“Piko, ini paman Hamdan, sahabat ayah sedari muda, dan ini anaknya Yusuf.” ujar Budiman. Yusuf hanya bisa melongo dan terpana dengan paras Piko. 

 

“Piko.” si laki-laki cantik itu tersenyum padanya lalu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Yusuf. Jujur, Yusuf kaget dengan perlakuan Piko, sebab ia tak pernah membayangkan bakal bersalaman dengan cucu majikannya. Apalah dirinya yang cuma jongos di sini. Secara reflek, Yusuf malah menundukkan pandangannya dan agak membungkuk. 

 

“Nama saya Yusuf, maaf, tangan saya kotor, nanti tanganmu jadi kotor juga.”  Piko yang melihat reaksi Yusuf sedikit mengernyit heran, kalau kotor tinggal dibersihkan toh. 

 

“Loh, tidak apa-apa kok, nanti kan kita bisa cuci tangan setelah ini. Boleh saya jabat tangan kamu? Untuk perkenalan.” tanya Piko. lagi-lagi Yusuf dibuat kaget dengan perlakuan Piko padanya. Tidak ada yang pernah berjabat tangan dengannya, duh siapa juga yang mau memegang tangan seorang buruh garap sepertinya. 

 

Sedikit ragu-ragu, Yusuf pun mengulurkan tangannya dan meraih tangan Piko. Yusuf tidak pernah melihat atau pun memegang sebuah kain sutera, tetapi mungkin halusnya sama seperti tangan Piko yang kini tengah ia jabat.

 

Tak butuh waktu lama bagi Yusuf dan Piko untuk menjadi sahabat dekat. Setiap pagi mereka berpapasan saat Yusuf dan bapanya pergi ke ladang. Piko tengah duduk di bawah pohon rindang dan besar di samping ladang sembari membaca buku yang Yusuf tak tahu judulnya. Tentu saja ia tak tahu, dia kan buta huruf. Tidak seperti majikan lainnya, Piko tak membeda-bedakan dalam memperlakukan semua orang. Contohnya, saat ia berpapasan dengan Yusuf dan Hambdan, Piko selalu menyapanya dengan hangat. Piko juga sering menghampiri Yusuf di ladang dan berbincang santai saat yusuf tengah beristirahat. 

 

“Yusuf, saya mau tanya sesuatu.”

“Tanya apa?”

“Kamu kenapa selalu menunduk kalau kita sedang berbicara?”

 

Kebetulan bapak Yusuf sedang berada di ladang, dan mereka hanya berdua di balai-balai itu. Duh, bagaimana menjelaskannya pada anak kota seperti Piko, bahwa kelas sosial dirinya dengan Yusuf sangat lah berbeda, dan tidak sepadan. 

 

“Karena kamu majikan saya.” Tapi dilain sisi, hal ini seperti berkah yang terselubung, jika boleh jujur, Yusuf bersyukur tidak perlu memandang Piko saat mereka berbicara, karena ia pasti tidak bisa fokus menyimak pembicaraan Piko. 

 

Yusuf sebetulnya lebih banyak diam dan menyimak, dan terkadang menjawab jika ditanya. Ia terlalu terpukau dengan hal-hal yang dibicarakan Piko, seperti kondisi di ibukota, buku-buku yang bercerita tentang sebuah negeri di luar sana, dan banyak lagi. Tentu cerita-cerita ini tak pernah ia dengar sebelumnya, karena di desa tak ada yang bisa membaca kecuali juragan dan keluarganya, tidak ada hiburan seperti radio yang katanya sering memutarkan informasi-informasi di luar jawa. Jadi, saat Piko bercerita tentang hal-hal yang tak pernah yusuf dengar, Yusuf terkagum-kagum dibuatnya. 

 

“Hmm, tapi majikan kamu kan kakek saya, saya cuma kebetulan cucu beliau. Jadi sepertinya, kamu tidak perlu memperlakukan saya seperti kamu memperlakukan kakek saya.”

 

“Tapi, tetap saja, kamu keluarga majikan saya.”

“Hmm, sepertinya kamu punya alasan lain kenapa kamu nggak pernah menatap saya. Ayo, saya bisa tahu loh kamu sedang berbohong.” ucap Piko sembari tersenyum jahil pada yusuf yang masih menundukkan kepalanya. Perlahan Piko mendekatkan diri ke arah Yusuf dan membuat Yusuf semakin salah tingkah. 

 

“Suf, saya masih menunggu loh jawabannya. Ayo keburu waktu istirahatnya selesai.” 

 Yusuf terperangkap, aduh bagaimana jika Piko tahu yang sebenarnya, apa nanti dia malah tidak mau lagi berteman dengan orang kecil sepertinya. Perkataan bapaknya tentang “orang desa harus tahu diri” langsung terngiang-ngiang di telinga Yusuf. 

 

“Err, saya. Saya sebetulnya takut tidak bisa fokus jika menyimak sembari melihat wajahmu.”

“Hah? Memang wajah saya kenapa? Jelek?”

“Bu..bukan. Wajahmu ca.. “

“Ca??”

“Can…, cantik.” Yusuf langsung beranjak dari duduknya lalu berlari meninggalkan Piko yang pipinya sudah merona padam karena ucapan Yusuf.