Work Text:
Suara air terdengar di balik pintu kamar mandi, uap air mengembun menutupi pintu berkaca rabun itu. Mandi air hangat — rutinitas Piko sepulang kuliah.
Ucup tak heran dengan rutinitas kasihnya itu yang berbanding terbalik dengannya. Piko bisa mandi tiga kali dalam sehari, dan sebanyak itu pula seorang Yusuf Hamdan bertugas mengeringkan dan menyisiri rambut sang kasih.
Ia tidak protes, sungguh. Karena surai Piko Subiakto adalah yang terhalus dari semua bulu kucing yang pernah ia sentuh. Mengapa menyamainya dengan kucing? Ia juga tidak tahu.
Pintu kamar mandi terbuka. Seorang lelaki keluar dengan uap air mengelilinginya, harum sweet mint menyerbak seisi ruangan. Piko beralas kaus oblong putih dan celana bokser hitam selutut, di lehernya tersampir handuk kecil. Dan di sini Ucup; duduk di sofa, memegang sisir dan hair spray — siap menjalankan tugasnya.
Memang sudah seperti aktivitas yang harus dilakukan, seperti: jika ingin makan kita menuju dapur, mengambil piring, nasi dan lauk; jika ingin tidur maka kamar tidur tujuannya. Maka Piko menjatuhkan tubuhnya ke bantalan kecil, badannya diapit oleh kedua paha Ucup, punggung disandarkannya ke sofa.
Ucup lihai dengan jari-jarinya, Piko tahu. Maka caranya mengeringkan rambut Piko dengan sedikit pijatan di kepalanya adalah suatu kenikmatan yang tidak bisa ditolak. Ucup tahu titik lelah, titik pening, sang kasih yang habis digempur oleh kesibukan tugas akhir perkuliahannya. Ucup menekan dan memutar ibu jarinya di sekitar sisi leher, yang menimbulkan lenguhan pelan dari kasihnya, tanda puas.
“Gimana hari ini, sayang?,” tangannya masih sibuk mengeringkan rambut keriting sebahu milik Piko-nya. Yang ditanya sedang menumpukan pandangannya ke televisi di depannya — mendongak, menatap bola mata Ucup-nya sekilas.
“Ya... Udah, gitu-gitu aja sih, Cup. Eh, tapi emang tadi ada aja dosen yang rese," Piko mencebikkan bibir tanda kesal mengingat dosen rese yang selalu meminta revisian dengan tenggat mepet. Lalu Piko melanjutkan bercerita. Selalu seperti itu: Piko yang menceritakan harinya dan Ucup yang mendengarkan dengan seksama, sesekali terkekeh, sesekali tertawa lebar.
Setelah dirasa rambut Piko sudah cukup kering, Ucup menyemprotkan hair spray beraroma cherry blossom ke arah surai kasihnya, diusapnya pelan, lalu dengan telaten disisirnya rambut keriting itu. Piko sempat — usil — menyarankan Ucup untuk membuka salon dengan kelihaiannya dalam merawat rambutnya, namun saran itu ditolak mentah-mentah lantaran Ucup hanya mau merawat rambut kasihnya.
Kemudian sisa hari mereka diisi dengan makan malam lalu menonton acara favorit — yang berakhir Piko tertidur di sandaran bahu Ucup, dan Ucup memiliki tugas baru: menggendong kasihnya menuju kamar tidur keduanya.
