Actions

Work Header

Di Sabtu Siang

Summary:

Suasana di hari sabtu siang saat ini sangat sepi karena Jacob sedang menginap di rumah temannya, Hyunjae sedang pergi kencan dan Younghoon Changmin juga pergi kencan seperti yang Sunwoo katakan sebelumnya. Hanya ada Chanhee dan Sunwoo.

Notes:

Ini pertama kali posting di ao3, jadi masih belajar. Akupun masih sangat kurang dalam hal menulis. Jadi, mohon maaf jika banyak kekurangan dari segi penulisan dan alur cerita. Mohon saran dan kritik yang membangun. Terima kasih^^

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Setelah hampir satu jam bergelut dengan pikirannya untuk ke luar kamar atau tidak, akhirnya Chanhee memutuskan untuk keluar dari kamarnya menuju ruang tengah kontrakan. Suasana di hari sabtu siang saat ini sangat sepi karena Jacob sedang menginap di rumah temannya, Hyunjae sedang pergi kencan dan Younghoon Changmin juga pergi kencan seperti yang Sunwoo katakan sebelumnya. Hanya ada Chanhee dan Sunwoo. 

 

"Lah tadi katanya mau nonton sendiri, kok masih kosong sih? Apa gue samperin ke kamarnya aja ya? Eh tapi nanti tuh orang malah kepedean" 

 

Walau berkata seperti itu, langkah kaki Chanhee menuju kamar Sunwoo. Chanhee terdiam di depan pintu kamar Sunwoo, ingin mengetuk tetapi ragu. Selama beberapa saat Chanhee masih terdiam di depan pintu kamar Sunwoo sampai tiba-tiba pintu kamar Sunwoo terbuka. 

"Eh kak Chanhee, mau ngajakin nonton ya?" Sunwoo sedikit tertawa. Telinga Chanhee memerah karena malu ketauan berada di depan pintu kamar Sunwoo. 

"Hah? Ohh. Engga, orang gue cuma lewat aja eh kebetulan lo buka pintu" Jelas Chanhee dengan terbata karena gugup. 

"Iya deh percaya. Kalau lo jadi mau nonton, duduk aja di ruang tengah nanti gue nyusul. Gue mau ambil orderan pizza gue dulu"

 

Chanhee langsung menuju ruang tengah dan mendudukkan dirinya di sofa. Tak lama Chanhee merasakan ada yang mengusak rambutnya. 

 

"Sayang nih pizzanya" Sunwoo mengusak rambut Chanhee sambil meletakkan pizza di meja dekat sofa. Tindakan Sunwoo tersebut menghadiahkan pukulan kencang di bahu Sunwoo. 

"Sakit. Lo gak bisa baik sedikit apa sama gue?" Sunwoo mengeluh kesakitan. 

"Lagian lo gak sopan banget pegang-pegang kepala gue. Gue lebih tua dari lo ya dan lagi STOP PANGGIL GUE SAYANG" Chanhee kembali memukul Sunwoo. 

"Yaelah santai aja sih, anggap aja latihan sebelum kita pacaran beneran" Chanhee tidak menanggapi ucapan Sunwoo karena terlalu kesal, ia langsung memilih secara acak film yang akan di tonton. 

 

Keduanya duduk bersebelahan sambil menikmati pizza yang Sunwoo beli. 

"Kak, selera film lo jelek banget sih. Ganti ganti, gak seru" Protes Sunwoo. 

"Ya mana gue tau, orang gue asal pilih. Ganti aja sendiri, gue udah gak mood nonton"

"Yaudah sama, matiin aja deh kak. Gue mau main hp aja di sini" Chanhee mematikan film tersebut. 

 

"Lo mau ngerokok di sini?" Tanya Chanhee yang melihat Sunwoo sudah mengeluarkan sebatang rokok dan ingin menyalakannya. 

Sunwoo menggangguk, "lagian cuma ada kita berdua di kontrakan kan?"

Belum sempat Chanhee beranjak dari duduknya, Sunwoo sudah menjadikan paha Chanhee sebagai bantalnya. 

"Eh anjir berat. Pake bantal aja nih" Chanhee menyerahkan bantal sofa dengan kasar. 

"Gak mau, maunya tiduran di paha lo aja. Enak terus wangi lagi" 

"Berat. Lo juga ngerokok jangan tiduran gitu nanti kena sofa" Sunwoo mengabaikan protes dari Chanhee dan malah memainkan ponselnya dengan satu tangannya. 

 

Entah apa yang Chanhee pikirkan hingga ia terdiam sejenak dan membiarkan Sunwoo untuk tidur di kakinya. 

 

Hening. Keduanya fokus dengan ponsel dan asap rokok yang menemani keduanya. Hingga hampir satu batang rokok itu habis, Sunwoo mendudukkan dirinya dan mematikan rokoknya. 

 

"Kak" Chanhee tak merespon

"Kak Chanhee" Chanhee masih mengabaikan panggilan Sunwoo

"Chanhee, gue mau ngomong ih"

"Ngomong tinggal ngomong sih, ribet banget"

"Lo-nya fokus banget sama hp. Kalau ngobrol tuh enaknya tatap-tatapan" Chanhee menghela nafasnya lalu meletakan ponselnya di atas meja. 

 

"Apa sih?" Chanhee menatap sinis ke arah Sunwoo. 

"Lo kenapa gak yakinin kakak gue aja tentang kita ketemu di Bali?"

"Gue udah bilang ke Changmin sama kakak lo juga tapi gak ada yang percaya. Males juga yakinin mereka, gak penting juga. Lagian waktu itu kita cuma ons doang. Abis enak, pulang lalu lupakan" Jelas Chanhee. 

"Lo sering ya?" Untuk kedua kalinya, Chanhee menghela nafas lalu membenarkan posisi duduknya menghadap ke arah Sunwoo. 

"Gue udah pernah bilang ke lo, gue jarang. Paling sesekali doang kalau lagi stress atau emang ke pengen banget. Bahkan bisa di itung pake jari tangan berapa kali gue ngewe dan lagi, itu privasi gue. Lo gak perlu tau. Ngerti?" Sunwoo menganggukkan kepalanya, tanda mengerti. 

 

"Oke, gue juga cuma penasaran doang sih. Oh, karena emang gak penting buat lo. Jadi, jangan bahas lagi masalah itu ke kakak gue ya terutama soal gue ngerokok"

"Kenapa? Bukannya pas awal lo malah nyuruh gue bilang aja? Takut ya?" Chanhee meledek Sunwoo dengan tersenyum jahil. 

 

"Bukan takut. Gue cuma gak pengen dia tau aja lagian itu privasi gue. Lo gak perlu tau kan?" Sunwoo tersenyum sambil menatap Chanhee yang membuat luntur senyum jahil itu. Bukan karena Chanhee terpesona tetapi, ia merasakan senyuman itu mengartikan hal lain. Chanhee tak tahu pasti. Yang Chanhee yakini saat ini adalah ia harus menutupi sisi lain Sunwoo di luar dari pengetahuan kakaknya. 

 

"Tapi, semua terserah lo sih. Lo mau bahas lagi atau bilang ke kakak gue kalau gue ngerokok, bebas aja. Semua tergantung sama lo. Thank you udah nemenin nonton, nanti gue aja yang beresin semuanya. Lo kalau mau balik ke kamar, balik aja" Sunwoo langsung merapikan sisa box pizza dan bekas minuman kaleng yang sudah habis lalu di buang. Chanhee terdiam, memandangi Sunwoo dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya. 

 

"Kenapa ya gue ngerasa senyum itu, tatapan itu, kaya dia minta tolong buat gue tutup mulut dan kesedihan?" -monolog chanhee di dalam pikirannya. 

 

Sunwoo mendekatkan wajahnya membuat Chanhee tersadar dari pikirannya. Tetapi, tidak ada sepatah kata keluar dari bibir Chanhee. Hanya gerakan kecil untuk menjauhkan wajah mereka dan tatapan terkejut Chanhee. 

 

 

Entah siapa yang memulai, kini Chanhee sudah berada di pangkuan Sunwoo dengan keduanya saling melumat bibir satu sama lain. Chanhee melingkarkan kedua tangannya di leher Sunwoo. Sedangkan tangan kanan Sunwoo berada di pipi Chanhee sambil mengusap pelan dan tangan kiri Sunwoo berada di pinggang Chanhee. 

 

Tubuh mereka semakin menempel dan lidah mereka yang sudah lama bertemu di dalam mulut mereka. Chanhee melepaskan ciuman itu untuk mengambil pasokan udara. Belum sampai sepuluh detik, Sunwoo sudah kembali mencium Chanhee menjadi lebih kasar dari sebelumnya. 

 

Chanhee akui, Sunwoo masih terlihat belum berpengalaman dari caranya berciuman yang sangat berantakan. Tetapi Chanhee percaya, Sunwoo akan sangat mahir berciuman karena cara berciumannya yang masih berantakan sudah mampu membuatnya lemas. 

 

Chanhee mengusap rahang tegas milik Sunwoo. Tubuh keduanya semakin menempel. Tangan Sunwoo sibuk mengusap pinggang Chanhee. Suara lenguhan kecil Chanhee memasuki indra pendengar Sunwoo yang membuatnya semakin gencar mencium Chanhee, walau dengan tempo yang amat berantakan. Sunwoo tak peduli. Yang ia pikirkan saat ini adalah Chanhee dan bibirnya. 

 

Entah berapa lama mereka berciuman hingga bibir keduanya membengkak. Mereka memutuskan ciuman itu. Keduanya saling menatap, Sunwoo tersenyum kecil dan menghapus jejak saliva yang sudah tercampur di bibir Chanhee. 

 

"Makasih kak" Sunwoo menurunkan Chanhee dari pangkuannya dan mengecup sesaat bibir Chanhee. Sunwoo beranjak dari sofa dan akan meninggalkan Chanhee yang masih duduk di sana. 

Baru beberapa langkah Sunwoo terhenti karena ucapan Chanhee, "mau di bantuin gak?"

Sunwoo berbalik dengan terkejut, "itu… mau di bantuin gak?" Chanhee mengalihkan pandangannya kemanapun kecuali ke arah Sunwoo. 

 

 

 

 

 

"Kamar gue ya kak"

 

 

 

 

—dai°sy

 

Notes:

Awalnya ragu sih mau posting ini karena masih banyak banget kekurangan tapi mencoba memberanikan diri hehe berharap ada yang suka.