Actions

Work Header

Transportasi Darurat

Summary:

Ketika Yukie merasa bahwa harinya tidak bisa menjadi semakin buruk, ia menemukan dirinya dalam situasi yang begitu sulit. Untung saja ada Bokuto yang bersedia membantu Yukie.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Hari itu Yukie bangun dengan kepala yang sedikit pening. Sepertinya pilihannya kemarin untuk menerobos gerimis dari sekolah ke halte bus bukanlah ide yang baik.

Terbesit pikiran untuk melewatkan kelas, tetapi ia teringat kalau akan ada kuis Fisika di hari itu.

Malas rasanya jika ia harus mengatur kuis susulan. Tidak hanya itu, ia tidak enak jika harus meninggalkan Kaori untuk mengurus kegiatan klub sendirian. Toh seharusnya sakit kepalanya akan langsung membaik setelah meminum obat.

Yukie pun bangkit dari kasurnya dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.

Sayangnya, semangatnya harus pupus ketika Yukie menyadari meja makannya yang kosong. Ah, Yukie baru ingat kalau orang tuanya harus berangkat pagi sekali hari itu. Sepertinya karena itu mereka tidak sempat menyiapkan apa-apa untuk Yukie.

Ya mau bagaimana lagi, terpaksa Yukie berangkat ke sekolah dengan perut yang hanya terisi parasetamol. Bekal makan siang pun tidak ada.

Untung saja Yukie masih mempunyai uang untuk membeli makan, jadi ia tidak perlu khawatir akan kelaparan seharian.

Rencana Yukie adalah mampir ke konbini terlebih dahulu. Sayangnya konbini dekat rumahnya sedang kehabisan stok makanan. Yukie pun mengganti rencananya dan memutuskan untuk datang ke kantin sekolah. Biasanya sudah ada satu kios yang buka dan menjual beberapa makanan, walau memang tidak selengkap saat makan siang. Akan tetapi untuk situasi seperti ini, Yukie memilih untuk tidak menjadi pemilih.


Buka Siang.

Yukie merasa ubun-ubunnya mulai memanas ketika membaca papan di depan sebuah kios yang bertuliskan B u k a  S i a n g.

SIANG?! Biasanya juga sudah buka, kok!” gerutu Yukie dalam hati sembari menggenggam tali tasnya dengan geram.

Yukie pun menyeret tubuhnya dengan paksa ke kelas.

Kaori tampak menyadari suasana hati Yukie dan langsung menghampiri Yukie yang duduk di kursinya dengan lemas sambil cemberut. Yukie pun menceritakan mengenai tragedi paginya, yang lantas membuat Kaori terbahak.

“Sabar ya Kie, harusnya nggak akan kerasa kok. Nanti tahu-tahu sudah jam makan siang,” Kaori berkata sambil menepuk puncak kepala Yukie dengan lembut.

Yukie hanya bisa mengamini ucapan Kaori sembari meminum susu kotak yang dibelinya dari vending machine.

Saat kelas dimulai, Yukie mulai merasakan denyutan lemah di kepalanya. Papan tulis dan ibu guru pun tampak berputar-putar lambat di dalam pandangannya.

Apakah obat sakit kepalanya sudah kadaluwarsa, ya? Karena jelas sekali Yukie tidak merasakan efek apapun dari obat tersebut.

Belum lagi perutnya yang tidak bisa berhenti bergemuruh. Yukie pun hanya bisa berharap perutnya tidak akan bersuara dengan keras secara tiba-tiba.

Tiga jam berlalu—yang tampak begitu kabur di ingatan Yukie—dengan cukup lancar. Ya, cukup, karena Yukie sama sekali tidak bisa fokus pada pelajarannya apalagi pada kuisnya.

Ah, sudahlah itu tidak penting. Sekarang pertempuran yang nyata akan segera dimulai.

Pertempuran apa katamu? Tentu saja pertempuran yang mana kantin adalah medan perang dan remaja kelaparan adalah tentara.

Ini adalah salah satu alasan Yukie lebih suka membawa bekal dibanding membeli makan siang.

Biasanya Kaori juga membawa bekal, tetapi hari itu Kaori menawarkan untuk menemani Yukie.

Mereka berdua setengah berlari demi mendapatkan barisan paling depan di antrian kantin.

Biasanya juga, Yukie kuat jika harus berlari jarak pendek, tetapi entah bagaimana di hari itu kakinya terasa begitu berat.

 


 

Ramai dan bising.

Dua kata itu yang terbesit di kepala Yukie ketika melihat gerombolan anak di depan kios-kios kantin.

Boro-boro mau mengantri di mana, menentukan dia mau membeli makan apa saja Yukie tidak bisa.

Yukie pun menoleh pada kios dengan antrian paling pendek.

Ah, nasi kepal mungkin?

Yukie pun mengantri di depan kios nasi kepal bersama Kaori.

Saat mengantri, Yukie merasakan keanehan pada dirinya. Meskipun cuaca mulai masuk musim gugur, tetapi Yukie menyadari panas yang menguap dari tubuhnya. Entah akibat kelelahan berlari atau hal lain, Yukie tidak yakin.

Yukie juga merasa keringat mulai bercucuran dari pelipisnya. Anehnya, keringat itu membuat tubuhnya menggigil. Yukie pun mulai memeluk tubuhnya sendiri sembari melihat antrian yang tampaknya hanya bergerak satu jengkal dari tadi.

“YUKIPPE!”

Telinga Yukie langsung berdenging ketika sebuah suara familiar tiba-tiba berteriak dekat situ. Sesosok laki-laki tinggi dengan rambut abu-abunya menghampiri Yukie dan Kaori dengan semangat.

“Eh, Bokuto!” Kaori membalas sebelum melirik penuh penilaian ke tangan Bokuto yang tampak memegang banyak roti dan nasi kepal di tangannya, “...Itu lu maling kiosnya?”

“Loh ada Suzumeda juga? Tumben kalian berdua ke kantin.” Bokuto membalas sambil tersenyum lebar.

"Ya—"

Yukie tidak bisa mendengar dengan jelas lanjutan dari obrolan antara Bokuto dan Kaori karena kepalanya kembali berdenyut. Yukie menunduk dan memejamkan matanya dengan keras, seolah-olah kedua hal tersebut bisa menghilangkan rasa sakit di kepalanya.

“—Eh Ppe, denger ga?”

“Hah?” Yukie tersentak dan menatap Bokuto. Hanya saja, Bokuto tampak berbayang di matanya.

“Gua bilang, gua mau pinjem catetan sejarah. Boleh ya?”

“Gimana bisa? Catatan Bahasa Inggris yang lu pinjam minggu lalu aja belum dibalikin.”

“Oh, eh, yang itu…” Bokuto terdiam sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Kayaknya keselip deh, nanti gua cari ya Yukippe.”

Biasanya, Yukie hanya akan menghela napas dan menggumamkan kekesalan ketika Bokuto membalas seperti itu.

Hanya saja di hari itu, nadi di pelipis Yukie terasa begitu tegang. Lidahnya pun gatal, sementara perutnya terasa mendidih.

“HOI! Kawan-kawanku!” Tiba-tiba, seorang laki-laki berambut pirang gelap mengaitkan tangannya di sekitar leher Bokuto.

“Wey, Konoha!” Bokuto menyapa balik.

“Eh, gila lu Bok, ini mah namanya ngerampas hak milik orang lain yang kelaparan!” Konoha berkomentar seraya mengambil satu nasi kepal dari tangan Bokuto.

“Iya, sama kayak yang gua bilang tadi. Lu tuh nggak kira-kira deh Bokuto belanjanya,” Kaori menambahkan.

“Pantes tadi Ibu kantinnya bilang kalo nasi kepal terakhir pada diborong sama satu anak rambut landak gitu,” Konoha menjelaskan sambil membuka bungkus nasi kepal, “Gua dah duga sih pasti itu lu, Bok.”

“Ya, maaf nih, laper banget gua, Kon."

"Eh, tunggu!" Kaori tiba-tiba memotong, "Kalau nasi kepalnya abis, berarti ini ngantri apaan dong?"

"Ngantri bakpao daging, cuma belum mateng gitu sih." Konoha menjelaskan. "Makanya gua akhirnya nitip ngantri katsudon sama Washio."

"Yah... Padahal Yukie bilang dia mau nasi kepal. Gimana Kie? Mau ganti makanan?"

Yukie tidak menjawab.

"Sayang sekali Yukippe, sepertinya lu kurang cepat mengantri. Nanti deh lain kali gua ajarin gimana cara menguasai makanan di kantin."

"Justru lu yang tahu diri, Bok. Sisakan bagi siswa kelaparan lainnya, lah!" Konoha protes.

"Lah kok gua yang salah? Toh gua juga kan belinya pake uang, justru gua membantu jalannya perputaran uang di kantin.”

“Lu ternyata merhatiin pelajaran ekonomi ya,” Kaori berkomentar.

“Oh iya jelas, tentu saja! Makanya gua juga butuh pinjem catatan Yukippe biar nilai gua tetap bagus!”

“Nggak modal amat sih lu Bok, nyatet sendiri kek.” Konoha menghardik di sela-sela sesi mengunyah.

“Lu tau lah, gua gabisa nyatet di bawah tekanan waktu. Apalagi kalo gurunya lagi ngebut, keburu bete duluan guanya.”

“Ah, alesan.”

Bokuto mengabaikan Konoha, ia justru mengalihkan pandangannya kembali ke Yukie. “Jadi, boleh ya Ppe? Gua mau minjem catetan sejarah & ekonomi.”

Yukie tetap tidak menjawab.

"Ayolah Yukippe! Tolonglah diriku ini! Please, please!"

Yukie masih tidak menjawab.

Pada saat itu sepertinya Bokuto menyadari sesuatu karena ia hendak membuka mulut, tetapi belum sempat ia menyuarakan pikirannya, Yukie sudah keburu...

“ADUH BOKUTO, LU TUH NGEGANGGU BANGET SIH?! BERISIK BANGET PULA. EMANG LU PIKIR GUA GA PUSING DENGERINNYA?! MANA NGGAK PERNAH MAU TANGGUNG JAWAB LAGI KLO MINJEM BARANG! GUA CAPEK BANGET AH SAMA LU BOKUTO! PERGI JAUH-JAUH LAH LU SANA!”

Yukie merasakan tubuhnya bergetar dengan begitu hebat segera setelah dirinya bersuara. Pada saat yang bersamaan, keramaian di kantin langsung berubah menjadi sayup-sayup.

Semua mata terbelalak menatapnya, begitu pula Kaori, Konoha, dan Bokuto. Bahkan, Yukie sendiri terkejut dengan apa yang baru saja ia katakan.

Yukie merasa ada bom waktu yang berdenting di dalam dirinya. Seluruh tekanan yang diterimanya sedari pagi membuat perhitungan mundur bom itu menjadi semakin cepat.

Keheningan di sekitar Yukie tiba-tiba berubah menjadi suara dengung yang memekik di telinganya. Kepalanya juga terasa begitu sakit dan panas.

Akhirnya, Yukie menghentakkan kakinya dengan keras dan berlari menjauh dari kantin.

 


 

Yukie berlari mengikuti arah ke mana kakinya hendak membawa dirinya.

Ia bisa merasakan semua mata orang di lapangan maupun selasar memperhatikannya, tetapi ia tidak peduli. Yukie tetap berlari dengan sedikit tenaga yang masih tersimpan di dirinya.

Yukie pun berjalan naik menyusuri tangga yang kebetulan sepi.

Tiba-tiba, Yukie merasakan pandangannya berputar yang mana membuatnya langsung hilang keseimbangan.

Bruk.

Semua terjadi dengan begitu cepat. Tanpa Yukie sadari, ia sudah duduk bertumpu di lantai dasar dari belokan tangga.

Anehnya, Yukie tidak merasakan apa-apa. Hal yang pertama justru dirasakannya adalah kulitnya yang terasa terbakar bercampur dengan keringatnya yang dingin. Matanya terasa melepuh sementara kepalanya terasa seperti diikat dengan tali kencang.

Yukie pun hanya bisa mematung dalam kesesakan di tengah napasnya yang begitu memburu.

“Kak Shirofuku?”

Sebuah suara tiba-tiba bergema di lorong tangga tersebut. Yukie pun langsung mengangkat kepalanya dan melihat sesosok berambut hitam yang tampak buram. Meskipun begitu, Yukie mengenal betul siapa pemilik suara itu.

“Akaashi?”

“Kak Shirofuku nggak apa-apa? Bisa berdiri?” Sosok itu langsung menghampiri dan berlutut di samping Yukie.

Yukie tidak menjawab, tepatnya ia tidak bisa menjawab karena mulutnya langsung bergetar. Matanya terasa basah bersamaan dengan air mata yang mengalir dengan cepat di pipinya.

Badannya terasa begitu sakit dan pikirannya berputar-putar dengan kacau. Yukie merasa sangat aneh hari ini, seperti orang asing. Rentetan demi rentetan kekesalan—yang sebenarnya sangat sepele—seolah menumpuk sebelum akhirnya menerjang dirinya dengan tiba-tiba.

Tadi ia tidak bermaksud berteriak ke Bokuto, dan sekarang ia merasa begitu buruk terhadap dirinya. Tidak seharusnya ia mengatakan hal seperti itu ke Bokuto. Bagaimana kalau kata-katanya justru menyakitinya? Bagaimana—

“Yukippe?”

Suara panggilan itu terdengar nyaring di koridor tangga, disusul dengan suara hentakan sepatu yang menaikki anak tangga.

“Buset deh, Pe. Lu larinya cepet juga ya. Gua sampe susah…” Bokuto bergurau sebelum menghentikan ucapannya tiba-tiba ketika menyadari posisi Yukie.

Yukie langsung merasakan kehadiran Bokuto yang berlutut di sampingnya.

“Eh, Yukippe, lu kenapa?” Berbanding terbalik dengan sebelumnya, suara Bokuto kini jauh lebih rendah. Ada kelembutan yang tersirat dari pertanyaannya yang sederhana.

Yukie ingin menjawab, tetapi yang keluar dari mulutnya hanyalah isak yang justru semakin keras.

Akaashi kembali bersuara dan kali ini ia sepertinya sedang menjelaskan kepada Bokuto mengenai apa yang mungkin terjadi pada Yukie.

Koridor tangga yang tadinya kosong pun perlahan mulai didatangi siswa lain yang penasaran. Dari antara kerumunan itu, Yukie bisa menyadari sayup-sayup suara Kaori, Konoha, dan bahkan Washio.

Seketika, sebuah tangan besar menyentuh dahinya. Yukie reflek ingin menjauhkan kepalanya, tetapi reaksinya terlalu lambat.

“Panas… Kayaknya demam,” Bokuto berkata seolah menjelaskan, tetapi bukan ditunjukkan kepada Yukie.

“Kalau begitu mending Kak Shirofuku dibawa ke UKS deh, Kak Bokuto.” Akaashi membalas.

“Gue akan kabari petugas UKS kalau begitu,” Kaori langsung menyambar.

Yukie ingin mengelak dan mengatakan kalau mereka semua bereaksi terlalu berlebihan. Akan tetapi, untuk menepis tangan Bokuto yang masih menempel di dahinya saja ia tidak punya tenaga.

Ia tidak paham mengapa Bokuto tidak merasa risih, padahal dirinya saja merasa risih karena wajahnya lengket dengan keringat. Bahkan Bokuto masih sempat-sempatnya merapikan helaian poni yang menempel pada dahinya.

Yukie tidak bisa mendengar dengan jelas percakapan antara Akaashi, Kaori, Konoha, dan Washio. Yang ia tahu, tidak lama setelah percakapan itu, langsung terdengar suara langkah-langkah sepatu yang perlahan menjauh.

“Yukippe.” Bokuto memanggil. Kini tangannya sudah tidak lagi menyentuh dahi Yukie.

Yukie—yang masih sesegukan walau tidak separah sebelumnya—mengadahkan pandangannya ke Bokuto.

“Bisa berdiri nggak?”

“… Nggak tahu.”

“Mau coba? Nanti dibantu sama gua dan Akaashi.”

Yukie sekilas menengok ke Akaashi yang memberikannya senyum dan anggukan.

“Ya… Tolong,” Yukie berkata sembari mengelap wajahnya dengan lengan jas miliknya.

Seketika, Yukie merasa tangannya ditarik dan digantikan oleh usapan dari sapu tangan.

“Jangan pakai jas atuh, Pe.”

Yukie ingin membalas tetapi tidak bisa membuka mulutnya karena…

“Aduh, pelan-pelan,” Yukie menampik tangan Bokuto dan merebut sapu tangan tersebut, “Lu kira lagi ngelap meja apa gimana?”

“EH! Ya ampun, maaf ya maaf. Sumpah, nggak bermaksud gua, Pe.” Bokuto membalas sambil mengangkat kedua tangannya di udara.

Yukippe menghela napas sambil menatap Bokuto sinis.

Setidaknya, itu yang ia coba lakukan sebelum sebuah senyum kecil merekah di wajahnya. Hal ini tentu tidak terlewatkan oleh Bokuto dan Akaashi yang ikut tersenyum.

Setelah itu, Yukie mencoba berdiri dengan bantuan Bokuto dan Akaashi yang memegang masing-masing tangannya. Namun, ketika Yukie menumpukan berat tubuhnya di kaki kanannya, tubuhnya terasa seperti disetrum dari bawah ke atas. Yukie pun langsung memekik kesakitan.

Bokuto dan Akaashi langsung sigap menangkap Yukie yang hampir jatuh ke lantai. Mereka menurunkan Yukie perlahan sehingga Yukie kembali ke posisinya semula.

“Aku dari tadi sudah menduga kayaknya Kak Shirofuku ada cidera di kaki,” Akaashi berkata kepada Bokuto, “Soalnya tadi suara jatuhnya cukup keras.”

“Kalau begitu Yukippe nggak mungkin bisa jalan ke UKS.”

“Tadi kakak kelas yang lain sudah mengabarkan ke UKS sih, jadi bisa saja mereka akan datang ke sini.”

Bokuto tampak melirik ke kerumunan yang terbentuk di sekitar mereka, kerumunan yang sedari tadi Yukie coba abaikan. Dia sendiri terlalu lemas untuk bisa merasakan malu.

Tiba-tiba, Bokuto berjongkok di depan Yukie, atau lebih tepatnya, membelakangi Yukie. Sementara itu, Yukie—dan Akaashi—hanya bisa menatap punggung Bokuto dengan heran.

Bokuto menengok ke belakang dan menampilkan ekspresi yang bingung juga, “Lah kok bengong, ayo naik!”

“HAH?”

“Ayo, Yukippe! Anggap saja gua adalah ambulans.”

"Ambulans...? Serius?"

"Iya, serius. Apa perlu gua menirukan sirinenya juga?"

"Nggak perlu Bok." Yukie menjawab cepat.

"Ya sudah kalau gitu, ayo buruan!"

Awalnya Yukie ragu, tetapi ia sejujurnya lebih tidak nyaman menjadi pusat perhatian di koridor tangga ini. Akaashi pun memberikan tatapan yang seolah mendorong Yukie untuk menyetujui Bokuto.

Akhirnya, Yukie membiarkan dirinya untuk digendong di belakang Bokuto.

Rasanya cukup aneh, belum lagi ketika ia menyadari lirikan maupun bisikan dari orang yang lewat. Yukie pun hanya bisa menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.

Kecepatan berjalan Bokuto jauh lebih cepat dari tempo biasanya Yukie berjalan. Tetapi, Yukie bisa mendeteksi kehati-hatian dari setiap langkah yang diambil oleh Bokuto.

Pada sisi lainnya, Akaashi membantu memandu jalan mereka berdua. seperti meminta siswa yang menghalangi jalan untuk minggir sebentar.

Yukie melirik sekilas ke wajah Bokuto. Mungkin ini pertama kalinya Yukie bisa melihat Bokuto sedekat ini. Ia pun jadi menyadari beberapa hal, seperti bagaimana alisnya berkerut ketika ia sedang serius seperti sekarang.

“Gua berat nggak, Bok?” Yukie tiba-tiba berbisik.

“…Ini pertanyaan jebakan atau bukan, Pe?”

“Maksudnya?”

“Konoha pernah bilang jangan mau jawab kalau ditanya tentang berat badan sama perempuan.”

“Ya tapi kan ini gua lagi digendong, kalo gua berat kan gua jadi nggak tega sama lu Bok.”

“Oh. Nggak berat kok, Yukippe. Jauh lebih berat bola voli malah dibanding lu.”

Yukie mendecak lidah, “Kalau mau bohong ya seenggaknya usaha dong, Bok.”

“Lah, gua nggak bohong kok!” balasnya cepat sebelum termenung, “Hmm, atau mungkin emang gua kuat kali ya, Pe? Jadinya lu nggak berasa sama sekali.”

“Ya… Terserah lu deh.” 

“Ih, kalau nggak percaya, nanti kita suruh Akaashi gendong lu juga ya. Biar bisa kita buktikan mana yang benar.”

“Kak Bokuto kayaknya nggak perlu sampai begitu deh.” Akaashi langsung membalas tanpa jeda.

Yukie hanya bisa terkekeh pelan melihat interaksi antara Bokuto dan Akaashi. Perlahan, suara Bokuto dan Akaashi yang awalnya keras pun berubah menjadi sayup-sayup. Bersamaan dengan itu, Yukie mulai merasakan kelopak matanya menjadi semakin berat. Ia tidak bisa menentukan apakah ini disebabkan oleh tubuhnya yang lelah atau oleh ayunan teratur dari gendongan Bokuto. Yang pasti, ada sebuah perasaan aman yang menyelimuti dirinya.

“Maaf ya Bokuto, soal yang tadi di kantin.” Yukie kembali berbisik, kini jauh lebih pelan dari sebelumnya. “Harusnya gua nggak teriak ke lu.”

“Oh itu, tenang aja, Pe.” Bokuto membalas. “Nggak biasanya kan lu teriak, jadi gua langsung mikir kalau pasti ada sesuatu yang terjadi. Terus tadi gua juga udah sadar kalau muka lu pucet, dan gua tuh udah mau nanya tentang itu, tapi lu udah keburu lari duluan.”

“Ya, tetap saja Bok. Gua bersalah.”

“Santai lah, Yukippe. Tiap orang pasti pernah salah, kan? Toh lu juga sadar dan minta maaf. Gua juga udah memaafkan lu, seratus persen memaafkan malah. Jadi, nggak perlu dipikirin ya, Pe.”

Yukie terdiam sebelum akhirnya tersenyum. Ia menyenderkan kepalanya ke pundak kanan Bokuto dan memejamkan matanya.

Pada saat itu, ada bagian kecil dari dirinya yang berharap agar perjalanan menuju UKS ini bisa bertahan sedikit lebih lama dari seharusnya.

 

- Fin -

Notes:

Fic ini terinspirasi dari ide airzawaaa tentang bokuyukie genre angst. Terus aku juga ada kepikiran buat nulis tentang piggyback ride (soalnya gemes gitu ngebayangin bkyk). Alhasil aku gabung keduanya. Awalnya mau maksimal 1000 words aja, tetapi aku keasikan menulis jadi kelebihan deh, HAHA.

Terus juga, aku agak sedikit kesulitan menulis Yukie, karena agak kurang kebayang (berhubung screentime dia yang minim). Meskipun begitu, kuharap kalian tetap bisa menikmati ini ya! Thank you yang udah mau baca! I would love to hear your thoughts and opinions <3

Bluemallow’s Social Platforms:
Writing Sideblog
Tumblr
Twitter
Bluesky