Chapter Text
Desa Bahagia adalah desa fiktif yang dibuat oleh panitia dan pembina sebagai tempat pelatihan bagi para calon pasukan pengibar bendera merah putih pada upacara kemerdekaan di lapangan kantor gubernur.
Namanya memang bahagia, tetapi isinya sudah pasti latihan keras ala tentara. Kurang simulasi perang dengan senjata saja baru lengkap bisa disebut wamil. Pada hari pertama, para capaska sudah disuruh berbaris dan mandi air kembang sebagai bentuk upaya penyambutan dari panitia. Mandi kembang buat apa? Pembersihan jiwa? Hanya panitia yang tahu. Hari pertama diisi dengan ramah tamah, dan beberapa sambutan, dilanjut pemilihan kepala desa dan pasangan. Ingat kan? Namanya juga Desa Bahagia, walau fiktif harus totalitas.
“Yang mau jadi kades boleh maju ke depan! Saya kasih waktu 30 detik.” seru Kak Tetsurou lantang. Semuanya diam. Mai sudah pasti ogah jadi kades di desa ini, maunya di desa Naruto saja.
“Futakuci gak berminat?” tanya Kak Alisa ramah seperti malaikat.
“Enggak kak hehe, mending jadi kepala keluarga aja daripada kepala desa.” Futakuchi cengengesan
“Emangnya kamu sudah punya pacar?”
“Gak ada sih, baru calon pacar.” Futakuchi lirik-lirik Mai, yang dilirik pura-pura gak tahu walau dalam hati risih dan nahan malu sambil mengumpat. Memang dasar ketpas buaya gak jelas!
“Ciee siapa itu yang diliatin, calonnya ada disini ya?” mampus, mana Kak Alisa peka lagi.
Plis kalo kayak gini ceritanya, para senior pasti bakal masangin dia sama Futakuchi sebagai bapak dan ibu RT, Mai gak mau... tolong!
Namun sayang sekali, gak ada yang mau dengar doa dan seruan hati seorang Mayang Nametsu. Setengah jam kemudian, ia dan Futakuchi resmi jadi pas—GAK coret Mai gak mau pakai kata itu, maksudnya resmi jadi partner bapak dan ibu RT. Padahal sebenarnya Mai ngarep di pasangin sama kepala desa mereka dari SMA Gagak Terbang; Ennoshita William Chikara.
Setelah pembagian partner dan kepala desa, dilanjut dengan pembagian kamar, lalu kemudian pembagian jadwal, serta peraturan yang harus ditaati selama kurang lebih 31 hari di hotel ini. Mai tidak keberatan dengan semua peraturan kecuali SATU, larangan memakai barang elektronik. Semua ponsel dikumpulkan sampai pelatihan berakhir dan jika ada kondisi darurat hanya boleh memakai ponsel milik pelatih.
Plis, ini mereka beneran sudah kayak wamil aja.
“Lu bosan gak bisa main internet?” tanya Futakuchi
“Ya lu pikir aja, siapa sih yang gak bosan kalo gak ada ponsel? Setidaknya kita butuh hiburan dari latihan neraka yang menanti.” Omel Mai
“Gua gak bosan.”
“Memang aneh lu.”
“Soalnya bakal bareng lu terus.” Futakuchi senyum
“Hah?”
“Jadi suami istri pula.”
“MAKSUD?”
“Yah kan memang suami istri? Pak rt dan bu RT, walau bohongan sih. Kenapa? Lu mau beneran? Tunggu gua lul— ”
Belum selesai Futakuchi ngomong, Mai sudah balik kanan pergi duluan. Bisa ikutan stress dia kalo ladenin Futakuchi dan mulut sampisnya.
***
Satu kamar diisi oleh tiga orang, kebetulan Mai sekamar dengan orang yang sudah ia kenal baik sejak seleksi hari pertama. Kaori dan Kanoka, cantik, manis dan ceria, Mai kalo jalan sama mereka berasa jadi remahan kerupuk.
“Mai, kamu beneran di pdktin sama Futakuchi ya?” tanya Kanoka sambil sisiran
“Hah? Gak mungkin ah, dia itu cuman iseng memang buaya orangnya.”
“Serem banget kalo buaya, gausah ditanggepin kalo gitu Mai!” ucap Kaori sambil ganti baju.
“Iyalah, memang maunya gitu. Hufh doain aja deh yah semoga hari-hari gua lancar ke depannya.” Mai hela napas, capek.
“Kasian Mai.” Kanoka prihatin
Tiba-tiba pintu kamar diketok, tiga kaum hawa panik dan segera beres-beres. Dikiranya itu senior yang jemput mereka karena kelamaan datang ke aula buat kumpul, tapi ternyata cuman Futakuchi en frens.
“Kok lu kesini?”
“Kan datengnya harus sama istri masing-masing.” Jawab Futakuchi tengil, dengar kata ‘istri’ bikin Mai geli sendiri. Oh berarti dua cowok dibelakang Futa ini suami (bohongan) Kaori sama Kanoka.
“Noh ambil. Gua pinjemin.” Futakuchi nyodorin kresek yang isinya mp3 player.
“Lah? Ini kan punya lu?”
“Gua pinjemin, kan lu ngeluh gak ada hiburan tadi. Mayan ‘kan, walau isinya lagu-lagu kesukaan gua sih.”
“Emang boleh kayak gini?” tanya Mai
“Boleh lah kalo gak ketahuan.” Futakuchi lagi-lagi nyengir,
“Anjir, bentar.” Mai buru-buru balik badan buat nyimpan barang keramat tersebut di kamar.
“Yuk istriku.” Ajak Futa ala-ala papah mesra.
“Geli banget plis, bisa diam gak lu.”
“Halo Mayang, salam kenal ya. Gua Yahaba, panggil aja Baba.” Yahaba ngulurin tangan, tapi malah dijabat duluan sama Futakuchi.
“Salam kenal juga ba.”
“Lebai lu Fut, protektif amat lu jadi laki.” Cibir Yahaba, Futa bodo amat dan narik Mai menjauh.
“Apasi Fut, gua bisa jalan sendiri ish!” Mai nepis tangan Futa galak, terus noleh ke arah Aone.
“Loh Aone, pasangan sama Kanoka ya? Ih cocok banget kalian.”
“Apaan sih Mai.” Seru Kanoka
“....”—Aone
“Kalo kita cocok gak Mai?” Tanya Futakuci
“Gak.”
“Besok juga cocok kok.”—Futa
“Gak.”
:(
