Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-09-20
Words:
349
Chapters:
1/1
Kudos:
8
Hits:
65

Why?

Summary:

Suna mengingkan perpisahan sedangkan Osamu hanya terdiam, tak dapat melakukan apapun selain bertanya dalam benaknya sendiri.

Work Text:

“Osamu”

Ada suara hangat kesukaanku serta tepukan pada bahuku. Aku menoleh, mendapati kekasihku. “Apa kau sudah lama menunggu, Rin?” tanyaku agak khawatir.

Ia menggeleng. “Aku pun baru datang,” balasnya. “Langsung saja, ya?”

Mengerutkan alisku, penasaran dengan ia yang tiga jam lalu mengirimkan pesan dan minta bertemu di taman tempat biasa kami berkencan. “Tak ingin mencari minuman hangat dulu? Di sini dingin,” ucapku sembari memandang langit malam.

“Tidak.” Ia membalas dengan cepat. “Aku ... tak ingin membuang-buang waktumu.”

Aku tersenyum miris. “Maksudmu, waktumu sendiri?”

Ia menarik napas. “Yeah, kau tahu aku, kan? Kurasa aku akan langsung jujur saja padamu.”

Kulancarkan kekehan kecil. “Tentu saja, kita telah bersama selama dua tahun.”

Ada rasa sesak yang bersemayam di sudut dadaku. Berkali-kali kuhempaskan napasku dengan sedikit kasar dan berharap agar sesak itu hilang mengudara di antara angin malam; tentu saja semua itu percuma.

“Aku ... mau kit—

“Pisah? Baiklah, silahkan saja.”

Matanya sedikit terbelalak mendengar jawabanku. Andai situasi ini adalah hari lalu di mana kami masih benar-benar saling mencintai satu sama lain, pasti aku akan tertawa terbahak-bahak melihatnya.

Tapi, situasinya kini terlalu dingin dan menusuk. Aku tak dapat mengeluarkan tawa atau bahkan candaan lagi. Justru, air mataku terasa sedang memaksa untuk menunjukkan eksistensinya sekarang juga.

Suna melirik ke arah lain. “Maaf.”

“Hm?” Aku mengerutkan alisku. “Maaf untuk apa?”

Ia terdiam sejenak, seperti sedang menahan sesuatu. “Maaf karena ... aku tak bisa menjaga perasaanku dan kini ia menghilang.”

“Tak apa.” Aku kembali tersenyum. “Setidaknya kau jujur dan tak memilih bermain di belakang, bukan?”

Ya.

Tak apa.

Aku tak apa.

Kuputar tubuhkan dan melambaikan tangan. Dinginnya angin malam menusuk hidungku. “Terima kasih atas kenangannya selama ini. Selamat tinggal, Suna.”

Langkah kakiku semakin cepat dan cepat hingga kini aku berlari menjauh dari sana. Pandangku berfokus pada jalan di depan dengan air mata yang meledak begitu saja. “AAAAAAA, BRENGSEEEEK,” teriakku lalu terisak. “BRENGSEK, BRENGSEK, BRENGSEK.”

Ribuan pertanyaan terus berputar dalam benakku namun satu yang paling memenuhi isi kepalaku.

Mengapa aku tak bisa membuatnya bertahan dan tetap mencintaiku? Mengapa? Mengapa? Mengapa?

Duak! Aku tersandung dan mengecup aspal. Rasa sakit akibat luka gesekan memenuhi tubuhku. Tak memilih bangkit, aku melanjutkan tangis piluku.