Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-09-21
Words:
2,767
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
23
Bookmarks:
1
Hits:
353

Can't Help Falling In Love With You

Summary:

Cuma kisah 2 pemuda yang jatuh cinta, semakin sadar cinta mereka sangat besar ketika matahari senja dan daftar putar lagu cinta bermain menemani mereka.

Playlist: https://open.spotify.com/playlist/7HIXunrKfcdxLZSJlE76se?si=f3299a24c5534dce

Work Text:

Nggak bawa mobil, kan? Aku jemput ya…” 

Suara Bible di seberang sana bagaikan hembusan angin sejuk di kala terik matahari yang menyengat, menyegarkan dan sangat dinantikan. Tadinya, Jeff merasa harinya sudah cukup buruk dan ia hanya ingin pulang dan merebahkan diri di kasurnya sampai minggu depan, sampai suara itu menggelitik telinga Jeff melalui telepon dan Jeff tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.

“Cie… Sudah punya SIM jadi bisa jemput-jemput pacar, ya~” Jeff menggoda Bible, yakin si yang lebih muda kini sedang tersipu malu dengan lucunya.

Suara tawa Bible terdengar renyah, Jeff bahkan bisa mendengar senyuman yang merekah di wajahnya hanya dari suaranya yang terdengar ceria. 

Aku sampai studio sekitar tiga-puluh menit ya, nggak dihitung sama macetnya juga. Kayaknya bakal macet parah deh, habis hujan gini,” Bible memberikan informasi layaknya penyiar radio jalan tol lengkap dengan suara rintik-rintik hujan yang sepertinya masih cukup deras di sekitar rumahnya, dan Jeff hanya bisa bergumam ‘iya, hati-hati’ sebelum memutus jaringan telepon mereka.

Jeff terduduk lagi di kursinya, kini tidak selesu tadi sebelum mendengar Bible akan menjemputnya. Di sampingnya, produser hanya tersenyum kecil melihat Jeff yang kembali terlihat lebih hidup dan asyik mengetik beberapa hal di ponselnya. Pasti masih mengirim pesan kepada orang yang baru saja ia telepon, pikir sang produser. Dasar anak muda.

“Pacarmu?” sang produser bertanya sembari memutar kembali kursinya dan kembali sibuk menekan tombol ini itu pada keyboardnya, “Aku nggak tahu kamu sudah punya pacar, Jeff.”

Jeff mendongak dari ponselnya, melirik sekilas ke arah layar komputer di hadapan mereka dan menggeleng, wajahnya sedikit bersemu namun kerling mata yang antusias itu tidak bisa menutupi gelengan kepalanya yang denial, “Nggak, Bible.”

“Oh? Bible bukan pacarmu?” kembali produser bertanya, kali ini ia berhenti dengan pekerjaannya dan memutar kursinya lagi, sedikit untuk menghadap Jeff dan melempar senyum usil, “Aku pikir kalian pacaran?”

Jeff tersenyum kecil, kembali ia menggeleng, wajahnya masih memerah dan dengan cepat ia berdiri dari duduknya, berjalan ke arah ruang rekaman dan kembali menggunakan headphone, sama sekali tidak menggubris sang produser yang kini terkekeh. Ia mendekatkan wajahnya pada mikrofon dan memberikan isyarat ia siap melanjutkan rekaman Hide versi Bahasa Inggrisnya.

 

 

Bible menelepon satu jam kemudian, mengabarkan kalau ia sudah menunggu di lantai bawah. Benar perkiraan Jeff kalau Bible akan datang cukup terlambat karena kemacetan kota Bangkok yang baru saja diguyur hujan sepanjang hari. Satu hal yang tidak bisa dihindari dari kota berpenduduk padat seperti ini.

“Harusnya kamu nunggu di mobil aja, toh aku nanti ke sana,” Jeff mengusak rambut Bible sekenanya ketika ia akhirnya bertatap muka dengan si yang lebih muda, sedikit basah karena Bible harus berlari sedikit dari parkiran ke arah lobi, “kenapa nggak parkir di basement aja?”

Bible agak sedikit merunduk pada Jeff agar si yang tertua bisa mengusak kepalanya dengan lebih mudah, seolah sudah terbiasa akan apa yang si tetua lakukan, ia merespon dengan bergumam, “Malas, susah.”

Jeff terkekeh, kadang kelakuan Bible ini memang masih terlihat kekanakan meskipun penampilannya sendiri sudah sangat dewasa, tapi sepertinya kebiasaan seorang anak bungsu tidak bisa pergi begitu saja. Beberapa detik kemudian ia berjalan mendahului Bible menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri sementara si empunya mobil mengikuti dari belakang layaknya anak bebek. Seperti sudah terbiasa dengan semua ini, Jeff dengan santainya membuka kursi penumpang dan duduk di sana sementara Bible sedikit memutar dan masuk ke kursi pengendara.

Sembari memasang sabuk pengaman, tangan Jeff juga sibuk menyalakan tape mobil Bible dan seketika bluetooth ponselnya pun tersambung. Di sampingnya, Bible sudah sibuk memundurkan mobil dan membawa mereka keluar dari parkiran gedung studio.

“P Jeff lapar, nggak? Mau makan dulu?” Bible bertanya masih dengan menatap ke arah jalanan, menunggu jawaban dari si paling tua yang masih asyik memilih lagu dari daftar putarnya.

Jeff menggeleng, tidak yakin apakah Bible melihat kepalanya yang menggeleng tapi ia tetap melakukannya. Toh biasanya si yang lebih muda akan lebih memahaminya walau tanpa kata-kata.

 

 

Tak lama, beberapa melodi piano yang familiar menggema di dalam mobil. Lagu yang Jeff suka lantunkan ketika mereka sedang bersama di dalam mobil, biasanya ketika mereka sedang menikmati pemandangan mentari sore yang oranye. Ketika mereka sedang tertawa-tawa bercerita soal kelakuan aneh teman-teman mereka di kantor Be On Cloud. Ketika mereka berbagi satu layar ponsel menonton video-video dan gambar hasil karya para penggemar sembari menunggu kemacetan. 

 

It was just two lovers

Sittin' in the car, listening to Blonde, fallin' for each other

Pink and orange skies, feelin' super childish, it's no Donald Glover

Missed call from my mother

Like, "Where you at tonight?" Got no alibi

 

“Kenapa lagu ini?” Bible tiba-tiba bertanya, matanya terkunci pada jalanan di depannya, namun ia yakin Jeff sedang melirik Bible dengan tatapannya yang seolah bertanya ‘kenapa?’.

“Nggak, aku nggak suka denger lagu ini kalo pas sore-sore hujan,” Bible menjawab sebelum Jeff sempat bertanya atau mengeluarkan sepatah dua patah kata, “Nggak ada cahaya matahari,”

Well, I can see that, Mr. Wichapas. But why?” kini Jeff yang balik bertanya, ia sedikit mendekatkan dirinya ke arah Bible, melempar senyum jahilnya dan berusaha menarik perhatian Bible, “It’s Jvke!”

“Well,” Bible berdeham, tangannya sibuk memutar setir mobil melewati beberapa kendaraan yang menurutnya berjalan terlalu pelan, “Judulnya Golden Hour, tapi sama sekali nggak ada golden hour-nya sih sore ini,”

 

 

I was all alone with the love of my life

She's got glitter for skin, my radiant beam in the night

I don't need no light to see you

 

Shine! It's your golden hour~~” merasa tidak mendapat jawaban memuaskan dari Bible atas pertanyaannya, Jeff memilih asyik bernyanyi mengikuti lagu, rasanya seperti sedang berada di carpool karaoke seketika, “you slowdoooowwnn timeee~ c’mon Bibs! Sing with me!”

Bible menoleh ke arah Jeff sedikit, tersenyum sembari menjulurkan tangannya dan merapikan sedikit poni yang ada di wajah Jeff, “in your golden hour…

Jeff terpaku dengan tangan Bible yang mengambang di udara, Bible nampak sedikit kaget dengan tangannya yang entah bagaimana bergerak sendiri ke arah wajah Jeff. Mereka terpaku beberapa detik hingga seolah tersadar dari lamunan mereka, kembali menatap canggung ke arah jalanan di hadapan mereka yang masih dipadati kendaraan.

Astaga, Bible sangat cinta lagu ini dan bagaimana biasanya ketika lagu ini sedang menari di telinga mereka, Jeff menjadi jauh lebih indah dengan sinar mentari sore yang jatuh ke wajahnya. Wajar jika secara reflek ia langsung ingin menoleh dan menikmati wajah si Paling Tua. Seperti yang biasa ia lakukan ketika mereka sedang bersama menikmati matahari terbenam menyinari kota. Bible tidak suka lagu ini di kala hujan. Tidak ada sinar mentari untuk Jeff. Ia tetap terlihat indah, tidak ada bedanya dengan Jeff yang ia lihat pertama kali bertahun silam. Tapi ketika Jeff berada di bawah sinar mentari sore, rasanya semua keindahan duniawi tak ada artinya.

 

 

Tapi Bible tidak akan memberi tahu Jeff soal ini. Tidak. Ia akan membawa penilaian pribadinya perihal kombinasi luar biasa antara Jeff dan mentari sore yang menjadikannya sangat terobsesi dengan setiap lekukan wajah Jeff, hingga ia mati. Biarkan ia secara rahasia berterima kasih kepada mentari atas sinarnya pada wajah Jeff Satur kala senja menjelang.

 

 

Mereka tetap terdiam dalam kecanggungan, menanti jalanan untuk mulai bergerak kembali. Irama biola kini memenuhi mobil yang mereka tumpangi, lagu yang mereka dengarkan tadi sudah mencapai penghujung. Lagu selanjutnya akan berganti segera, dan mungkin kecanggungan ini akan berhenti pula. Beberapa lagu yang familiar membuat keduanya bersenandung seperti biasa, hiingga nada lainnya mulai terdengar menggelitik telinga keduanya. Asing bagi Bible, membuatnya seketika berhenti bernyanyi asal.

I guess Peter Pan was right

Growing up's a waste of time

So I think I'll fly away

Set a course for brighter days

 

Bible melirik ke arah Jeff kala bait lirik itu mulai menggema dalam mobilnya, “New track?”

 

Terlampau sering ia dan Jeff bertukar lagu untuk didengarkan, sampai ia hafal betul lagu-lagu apa yang akan diputar Jeff pada waktu tertentu, kala awan sedang kelabu atau rasi bintangnya berpendar di langit malam. Namun lagu ini baru, lain dari biasanya. Terdengar sangat mellow dan… menyesakkan. Judul lagu dan penyanyinya nampak jelas pada layar radionya, Peter Pan Was Right - Anson Seabra.

 

“Kamu pernah gak kepikiran, ternyata tumbuh dewasa tuh gak semenyenangkan bayangan kita waktu kecil,” Jeff tiba-tiba bersuara, ia menatap ke luar jendela mobil, pemandangan kota Bangkok yang nampak kelam karena masih dihiasi sedikit rintik hujan, “Peter Pan was right, huh.

 

 

Now it's late night and I'm at home

So I make friends with my shadow

And I play him all my sad, sad songs

And we don't talk but he sings along like

“Hey,” Suara Bible berhasil menarik perhatian Jeff, si yang tertua menoleh mendapati tangannya yang sedari tadi tergenggam erat di atas pahanya kini mendapatkan teman, genggaman tangan Bible, “Kenapa?”

“Lagi biasa, bertanya-tanya kenapa aku tetap memilih jadi penyanyi, ya. Rasanya struggling banget, aku jadi nggak tau apakah aku benar-benar cocok buat ini. Aku nggak tahu apakah ini karena aku makin tua dan jadi kepikiran, this isn’t the thing I can do for so long atau aku cuma capek aja,” Jeff membuka tangannya dan beralih menjadi balas menggenggam tangan Bible, erat, “Aku pengen balik jadi anak-anak.”

Bible terdiam, ia menatap Jeff yang mulai memejamkan matanya, menikmati musik dari speaker mobilnya. Di depan, beberapa kendaraan tidak bergerak sama sekali, akhirnya mereka disapa oleh kemacetan yang tentu akan membuat perjalanan mereka menjadi jauh lebih lama. Lagu milik Anson masih memenuhi mobilnya, melodi menari di antara keheningan keduanya sampai Bible memecah dengan suaranya.

“Kalau P Jeff mau balik jadi anak-anak, aku bakal jadi lost boy sama kamu,” Bible tersenyum, ia menghela nafas sebelum melanjutkan, “Kalau kamu mau tetep jadi orang dewasa, aku bakal temenin kamu menua. It is your choice,”

Jeff terdiam, ia membuka matanya dan melirik Bible, tersenyum kecil dan semakin lama, senyum itu semakin lebar. Matanya yang gemerlap kini berubah bentuk menjadi bulan sabit. Indah. 

"Guess Anson lupa Peter Pan nggak sendirian, dan aku juga nggak sendirian deh…" ia menjulurkan tangannya ke kepala Bible, kembali mengusak rambut si yang muda, "terima kasih sudah menemaniku jadi dewasa, walaupun yaah baru berapa tahun sih,"

Berdua mereka bertatapan sebelum akhirnya Bible mengangguk dan mereka berdua terkekeh geli. Lucu rasanya. Setiap kali mereka pulang bersama, ada banyak percakapan yang tidak berbobot yang terlontar, namun di sisi lain, mereka akan mengenal satu sama lain lebih dalam lagi.

 

 

 

"Bible, kenapa selalu aku yang memutar lagu? Kenapa kamu nggak pernah request? Aku juga mau kok denger lagumu," Jeff kembali asyik dengan ponselnya, tiba-tibe terpikirkan hal itu dan berusaha memutar lagu yang mungkin akan disukai Bible, "lagu apa yang kamu mau?"

Si yang lebih muda hanya menggeleng, ia melirik sekilas pada Jeff sebelum kembali mengendarai mobilnya beberapa meter ke depan sebelum terhenti oleh kemacetan lagi, “Nggak perlu, P Jeff. Aku suka dengar lagu-lagumu. Aku jadi tahu apa yang terjadi denganmu hari itu, aku jadi lebih kenal kamu,”

Jeff terdiam, tangannya berhenti di atas sebuah lagu yang tadi ingin ia putar, sebuah senyum kecil tersungging di wajahnya yang sedikit memerah. Hatinya jadi berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Sialan, Bible masih berhasil membuat hatinya tak karuan padahal sudah bertahun berlalu sejak ia memantapkan hati kalau ia menyukai si yang lebih muda. Baru hitungan beberapa bulan sejak mereka menjadi dekat dan Bible terang-terangan berusaha mendekatinya. Rasanya seperti mendapatkan undian, Jeff hampir gila ketika Bible bilang padanya ‘Boleh aku coba dekati P Jeff bukan dalam platonik?’. Tapi tidak, Jeff tidak akan membicarakan betapa ia begitu senang dengan perkataan Bible. Rahasia yang ia akan bawa terus hingga hari kiamat tiba.

 

 

 

Tanpa ia sadari, tangannya sudah menekan lagu yang tadi ingin ia putar. Lagi, denting piano lembut sebagai intro menggema di dalam mobil.

 

I guess I learned it from my parents

That true love starts with friendship

A kiss on the forehead, a date night

Fake an apology after a fight

 

Oh shit.

Jeff merutuk dalam hati. Ini adalah lagu yang ia suka dengarkan diam-diam sembari membayangkan bagaimana ia dan Bible jika mereka berkencan. Hei, Jeff juga manusia. Ia sering hidup dalam fantasi buatannya pula. Tapi, ia tidak pernah membagikan hal itu pada siapapun, bahkan lagu yang jelas-jelas ia gunakan dalam momen pribadinya pun Bible tidak tahu. 

Sial, wajahnya semakin memerah. True love starts with friendship, sial! Bible dan Jeff bermula sebagai teman! Lagu ini seolah membuka semua imajinasi Jeff terhadap Bible yang membuatnya terus-terusan jatuh cinta. Matilah dia!

 

I need a man who's patient and kind

Gets out of the car and holds the door

I wanna slow dance in the living room like

We're 18 at senior prom and grow

 

“Lagunya bagus,” Bible akhirnya buka suara setelah lagunya telah berjalan nyaris sepertiganya, “Jax, ya? Lagunya romantis,”

Ya, saking romantisnya, aku pakai sembari mengkhayal memelukmu sepanjang malam! Pikir Jeff. Aduh, ingin rasanya ia mengganti lagu yang diputar, tapi Bible pasti akan menghujaninya dengan lebih banyak pertanyaan. Belum selesai otaknya dan batinnya saling menyalahkan satu sama lain, lagi, suara Bible membuatnya nyaris lompat dari kursinya.

“P Jeff masih suka sama aku?” 

Jeff menoleh dengan gerakan lambat, wajahnya menatap Bible dengan horor, “Kenapa tanya gitu?”

Bible terkekeh, ia hanya menggeleng dan menghela nafas karena akhirnya mereka terbebas dari kemacetan dan bisa melaju agak lebih cepat untuk segera tiba ke apartemen mereka. Ia harus memutar, rumah Jeff berada setelah rumahnya, jadi ia akan menghabiskan lebih banyak waktu di jalanan tentu saja.

Jeff yang dibiarkan dengan pertanyaan menggantung seperti tadi, jadi semakin tidak tenang terduduk di kursinya. Lagu Like My Father milik Jax masih terus berputar menjadi lagu latar keheningan di antara mereka berdua. Denting piano pelan, beradu dengan sedikit rintik hujan dan suara kendaraan yang berlalu lalang di luar. Begitu menenangkan sebenarnya, bertolak belakang dengan jantungnya yang nyaris lompat dari mulutnya.

 

 

He'll accidentally burn our dinner

And let me be the scrabble winner

And when my body changes shapes

He'll say, "Oh my God, you look hot today"

 

“Pft!” Bible tiba-tiba menahan tawa, Jeff yang masih berkecamuk hatinya merasa tawa itu ditujukan padanya, maka ia menoleh dan menatap tidak suka dengan reaksi Bible.

Namun, bukannya menjelaskan segera, ia malah tertawa di antara kata-katanya, “Aku bakal yang gak sengaja bakar makan malam,”

Masih bingung, Jeff menatap dengan wajah penuh pertanyaan pada Bible, “Konteks?”

“Lagu ini,” Bible akhirnya berhenti tertawa, ia melirik ke arah Jeff dan tersenyum lebar, “You will be the one that look hot until you are 60,”

Sialan! Jeff berteriak kencang dalam hati kala menyadari Bible sedang mendengarkan baik-baik lirik lagu tersebut dan membagi mana cerita tentang dirinya dan mana tentang Jeff. Ah, Jeff ingin menggigit jok mobil itu dan berteriak kencang. Dalam hati ia merutuk, kenapa lagu ini tidak segera usai sehingga ia tidak perlu terus menerus membayangkan berbagai scenario yang selama ini ia susun ketika lagu ini bermain.

 

 

Untungnya ia tidak perlu mengalami mental breakdown-nya terlalu lama, setelah hampir 45 menit mereka berkendara, ia dapat melihat pagar apartemennya di ujung sana. Helaan nafas pelan keluar dari mulutnya, sial biasanya ia akan menikmati perjalanan pulang bersama Bible sambil diam-diam melirik cukup lama ke wajah si yang lebih muda, tapi hari ini rasanya ia seperti sedang digoda habis-habisan dan kehabisan kewarasannya. Lagu Like My Father milik Jax tadi sudah berakhir beberapa detik lalu, dan kini alunan lembut melody piano milik JVKE kembali bermain memenuhi mobil. 

 

I hit these stages like I'm ready (ready)

'Cause you my queen, I know you ready

To grow with me the rest of your life

Startin' tonight

 

Jeff menjilat bibirnya yang kering ketika liriknya sudah hampir mencapai reff, bersamaan ketika mobil Bible berkelok memasuki pagar lingkungan apartmentnya. Jantungnya berdegup semakin kencang ketika ia berusaha menyanyikan tiap bait, masih sambil melirik Bible.

 

'Cause I can't help falling in love with

You ooh-ooh, ooh-ooh, ooh-ooh, ooh

You, ooh-ooh, ooh-ooh, ooh-ooh, ooh

You, ooh-ooh, ooh-ooh, ooh-ooh, ooh

No, I can't help but fall in love with you

 

“P Jeff?” Suara Bible membuyarkan lamunan Jeff yang kini sepenuhnya menatap ke arah wajahnya, “Hehe.. ada apa?”

“Bible,” Jeff mengerjap beberapa kali, hatinya tiba-tiba merasa penuh dan sebuah semburat merah muncul lebih banyak di wajahnya, lagu cinta penuh semangat masih menggema melalui speaker mobil. Ia melihat sekeliling dan tersadar ia sudah berada di bagian depan lobi apartemennya.

Bait lirik kembali menggema dan entah bagaimana berputar-putar di dalam kepala Jeff, membuatnya merasa tertelan dengan musik yang membuatnya semakin yakin…

Ia masih sangat jatuh cinta pada Bible.

Sudah bagai kehilangan pegangan dirinya ketika Jeff mendekatkan wajahnya pada wajah Bible dan mengecup pipi si yang lebih muda, namun sedetik kemudian ketika ia tersadar, dengan gerakan super cepat Jeff langsung membuka pintu mobil Bible dan berlari masuk ke dalam lobi. Meninggalkan Bible yang bengong sambil perlahan menyentuh pipinya yang baru dikecup tadi, lagu yang tadi masih terkoneksi dengan ponsel Jeff seketika terputus dan menciptakan keheningan di dalam mobilnya. 

Tapi senyum tersirat di wajah Bible, sangat lebar, senyum kepuasan. Membuat ia harus bersandar terlebih dahulu ke kursi pengendara, melirik ke arah dalam gedung apartemen Jeff dan terkekeh.

“You could’ve just said you still like me so much tho, Jeffy. Cutie.”