Chapter Text
' Dilan.’
‘Gw denger dari Bang Aeros, Akew meninggal. Turut berduka ya.’
‘Sori gw belom bisa dateng.’
Dilan hanya membaca pesan-pesan dari Ares tersebut melalui notifikasi gawainya. Dia masih duduk di rumah duka Hendri Wijaya, atau yang akrab dipanggil Akew, dikelilingi teman-teman satu geng motornya. Tangannya memutar-mutar gawai tersebut, kepalanya kosong, tidak memikirkan apapun.
Oh, bukannya tidak memikirkan. Tetapi terlalu banyak yang harus ia pikirkan.
Kematian Akew (Siapa pelakunya?)
Akew benar telah tiada? (Akew, sahabat karibnya yang sering bercengkrama dan bersenda-gurau bersama di warung Bi Eem?)
Lalu bagaimana dengan nasib sekolahnya? (Setelah kejadian dengan Anhar, ia terancam dikeluarkan dari sekolah.)
Apakah ini balas dendam?
Haruskah ia balas dendam?
Atau keluar dari geng motor ini?
“Lan.”
Mendengar ada yang memanggilnya, Dilan terlepas dari lamunannya. “Eh, Bang Aeros. Kumaha, Bang?” (“Gimana, Bang?”) Dilan sapa balik sambil menjabat tangannya. Aeros merupakan ketua dari geng motor bernama Wolves. Meskipun sesama geng motor di Bandung, karena memiliki wilayah kekuasaan yang beda, geng motor Dilan berteman akrab dengan Wolves.
“Teu damang, lah. Ieu teh kunaon?” (“Ga baik, lah. Ini tuh kenapa?”)
“Urang teu ngarti, Bang. Masih ditalungtik ku pulisi.” (“Saya juga ga ngerti, Bang. Masih diselidiki polisi.”)
“Mudah-mudahan geura beres, Lan. Eh, ieu, aya titipan ti Calderioz.” (“Mudah-mudahan cepat selesai, Lan. Eh, ini ada titipan dari Calderioz”) Aeros mengeluarkan sepucuk amplop dari kantong jaket kulitnya.
“Ha?”
“Eta, Antares.” (“Itu, Antares.”)
“Masihan ka kulawargana, atuh. Masa ka urang.” (“Kasih ke keluarganya, dong. Masa ke saya.”) Dilan tertawa kecil, menunjuk ke dalam. Aeros lalu berpamitan untuk masuk ke dalam mengucapkan belasungkawa ke keluarga Akew.
Sepulang dari rumah duka, Dilan tidak balik ke rumahnya. Ia memutuskan untuk ke rumah Burhan, ketua gengnya, bersama anggota yang lain. Saat malam hari tiba, tiba-tiba rumah Burhan didatangi oleh polisi. Mereka beralasan ingin membawa Burhan ke kantor polisi sebagai saksi untuk dimintai keterangan. Dilan menawarkan diri untuk ikut, merasa Akew juga temannya dan ia sendiri sama-sama terlibat dalam geng motor. Akhirnya, semua yang ada di rumah Burhan ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan mereka masing-masing.
Menunggu yang lain selesai, Dilan akhirnya mengecek gawainya kembali.
‘Nuhun, Res.’ (‘Makasih, Res’) Akhirnya ia membalas pesan dari Antares, ketua geng motor Calderioz yang memiliki basis di Jakarta. Pertama kali ia mengenal Antares di lokasi kemping – kebetulan gengnya sedang kemping juga dan lokasi kempingnya bersebelahan. Alhasil geng motornya dan Calderioz memiliki hubungan baik hingga saat ini. Begitu pula hubungan dia dengan Antares, yang sekarang biasa ia panggil Ares.
Tak lama kemudian, terlihat Ares membalas pesan dari Dilan. ‘Gw telpon, ya?’
Dilan baru saja ingin membalas pesannya, tetapi ia melihat sang Ayah turun dari mobilnya yang terparkir persis di depan pintu masuk, berjalan cepat menghampirinya. Ia pun bergegas berdiri, bermaksud ingin menyalami ayahnya. Namun, sang Ayah berkata lain.
Plak!
Terdengar bunyi pertemuan antara telapak tangan kanan ayah Dilan dengan pipi kiri anaknya tersebut. “Lihat saya!”
“Maaf, Yah.” Dilan menatap mata Ayahnya tersebut. Pak Faizal, atau yang lebih dikenal orang sebagai Letnan Ical merupakan seorang tentara angkatan darat.
“Berapa orang yang ditangkap? Hanya ini?” Tanya Letnan Ical kepada petugas polisi yang ada di situ.
“Ya, Pak.” jawab sang polisi.
Letnan Ical kembali menatap anaknya, “Siapa ketuamu?”
Dilan menjawab, “Saya, Yah.”
Tetapi Burhan yang dari tadi duduk di sebelah Dilan angkat bicara, “Saya, Om.”
“Orang mana kamu?”
“Ciwastra, Om.”
“Kamu tau siapa yang ngeroyok teman kamu?”
“Tidak.”
Petugas yang ada pun memberi keterangan kepada ayah Dilan. Mereka sudah memeriksa tiga orang sore tadi, tetapi tidak ada yang mengenali pelaku karena pelaku memakai topeng.
“Saya tak akan ikut campur. Ini wewenang kalian. Saya di sini karena anak saya ini. Tapi kalau dia bersalah, hukum sesuai hukum yang berlaku.” Pesan Letnan Ical kepada polisi tersebut.
Dilan hanya menunduk diam, tidak dapat membela diri. Karena ia tahu, apa pun yang ia katakan, sang ayah tidak akan mempercayainya. Meskipun memang kenyataannya adalah dia tidak ikut campur pada pengeroyokan Akew dan sama sekali tidak mengetahui masalahnya. Yang ia tahu adalah saat ia ke warung Bi Eem, Piyan memberi kabar bahwa Akew sudah tiada.
Sang Ayah kembali menatapnya, “Kamu. Jangan pulang ke rumah! Dengar kamu?” Katanya tegas, menunjuk kepada Dilan.
Dilan yang setiap berbicara dengan ayahnya tersebut diwajibkan menatap wajahnya, menjawab dengan nada tidak kalah tegas. “Dengar.”
“Ini hukumanmu. Terserah mau tidur di mana.”
Hari sudah larut malam ketika Letnan Ical pergi dan meninggalkan anak lelakinya di kantor polisi. Dilan dan teman-temannya baru bisa pulang saat adzan subuh berkumandang.
‘Sori, tadi Ayah tiba-tiba dateng’
Tak Dilan sangka, tidak dibutuhkan waktu lama untuk Ares membalas pesannya ‘Gw telpon, ya?’
‘Sok’ (‘Silakan’)
“Gimana?” Tak banyak bicara, sangat khas Antares.
Dilan sedikit terkekeh mendengarnya, “Salam heula, atuh. Assalamualaikum Antares.” (“Salam dulu, kali.”)
“Waalaikumsalam. Jadi gimana?”
“Gimana apanya, nih?”
“Ya, lo yang ceritain lah ke gue.”
Dilan hanya tersenyum getir. “Panjang, Res. Teu kelar-kelar entar.”
“I have all day.”
“All day, all day. Teu sakola? Ieu teh waktuna mandi, siap-siap, nyarap bubur.” (“Ga sekolah? Ini tuh waktunya mandi, siap-siap, sarapan bubur.”)
Ares hanya tertawa mendengar celotehnya. “Masih kepagian Lan. Baru juga subuh.”
“Nah, geus solat subuh acan? Solat geura biar kasep. Maneh ngartos teu? Ulah seuri-seuri wae.” (“Nah, udah solat subuh belum? Solat buruan biar ganteng. Kamu ngerti ga? Jangan ketawa-ketawa aja.”)
“Ngerti, Lan. Dikit. Dah solat, lagi pula gue kan udah ganteng.” Ya, Antares memang hanya sedikit mengerti saat Dilan berbicara dalam Bahasa Sunda. Tetapi setidaknya Dilan sudah mau berbicara cukup banyak. Karena rasanya sangat aneh saat ia hanya mendapat balasan-balasan yang singkat dari obrolannya dengan Dilan.
“Ieu, contoh manusia sombong. Teu bisa dipuji saeutik.” (“Ga bisa dipuji sedikit.”)
Ares hanya tertawa, lalu mengembalikan pembicaraan ke topik awal. “Jadi, gimana ceritanya?”
Dilan lantas menceritakan semuanya yang terjadi kepada Antares. Mulai dari dia mendapat kabar soal Akew, pergi melayat, hingga kejadian di kantor polisi. Matahari sudah mulai memancarkan sinarnya dan burung-burung mulai berkicau. Bahkan Ares sama-samar dapat mendengar suara ayam berkokok dari sambungan teleponnya dengan Dilan. Ia seharusnya sudah mulai bersiap untuk ke sekolah. Tetapi Ares merasa tidak apa telat untuk hari ini. Toh, hanya sesekali.
Dilan masih bercerita panjang lebar, hampir tanpa selaan dari Ares. Sesekali, Ares akan memotongnya untuk menanyakan maksudnya. Terlebih saat Dilan terlalu terbawa suasana sehingga tanpa disadari memakai Bahasa Sunda dengan nada yang cepat pula. Tetapi lebih banyak Ares diam dan hanya memberi respon sebagai penanda ia mendengarkan kisahnya dengan baik.
Setelah Dilan selesai bercerita, Ares melontarkan pertanyaannya. “First of all, sekarang Dilan di mana?”
“Rumah Burhan,” jawab Dilan. Pemilik rumah masih tidur setelah semalaman di kantor polisi. Kicauan burung menemani Dilan yang sedang duduk di teras.
“Bukannya tadi bilang mau ga aktif dulu di geng motor?”
“Iya, tapi mau gimana lagi.”
“Sekolahnya gimana? Diskors?”
“Dipecat atuh Res. Kemarin pas soal Anhar udah dibilang mun urang terlibat sesuatu lagi langsung dipecat. Tapi Bunda baru bisa urus pindah kalo kasus Akew selesai.”
“Sini aja ke Jakarta. Nanti gue bilang ke Bunda deh.”
“Ga usah. Dilan teu nanaon.” (“Aku gapapa.”)
“Besok dijemput Pak Iwan ya.”
“Antares.”
“Apa, Dul?”
“Dilan! Jangan Abdul! Mun maneh di dieu bakal urang hajar.” (“Kalo kamu di sini udah aku hajar.”)
“Nah makanya ke sini aja. Katanya mau hajar.”
“Teu nyaho, ah! Meuni lieur.” (“Ga ngerti, ah. Pusing banget.”)
“Dah, tidur lah lo sana.”
“Ares juga, siap-siap sekolah. Eh udah telat ya?! Naha Ares henteu bilang.” (“Kenapa Ares ga bilang.”)
Akhirnya sambungan telepon itu ditutup dengan candaan seperti biasanya, pada waktu sudah mendekati pukul delapan.
‘Dimana lo?’
Sore harinya, Dilan sedang di rumah Piyan saat ia mendapat pesan instan dari Antares.
‘Rumah Piyan. Bunda teu beri izin Dilan di rumah Burhan’
‘Shareloc.’
‘Keur naon?’ (‘Buat apa?’)
‘Bawel. Buruan share.’
‘Idih, sieun euy, meuni posesip.’ (‘Dih, takut deh, posesif banget.’)
[Dilan shares a location]
‘Jangan kemana mana lo.’
‘Ya, kamana deui. Balik ka rumah juga teu bisa.’ (‘Ya ke mana lagi. Pulang ke rumah juga ga bisa.’)
Tidak sampai setengah jam, Dilan melihat sebuah Toyota Fortuner hitam yang berhenti di depan rumah Piyan. Kebetulan ia dan Piyan sedang gitaran di ruang tamu dengan keadaan pintu depan terbuka. Dilan dan Piyan saling menatap heran, lantaran teman-teman mereka biasanya datang menggunakan motor. Tidak ada yang mengendarai mobil. Saat sang supir turun menuju rumah Piyan, Dilan terperanjat kaget.
“Antares? Motor maneh ka mana?” (“Motor kamu ke mana?”)
“Salam dulu ga nih?” Pria berkaos hitam polos yang masih mengenakan celana panjang seragam sekolahnya tersebut menjawab pertanyaan Dilan dengan pertanyaan lain.
“Salam atuh. Assalamualaikum, Antares. Kumaha damang?” (“Gimana kabar?”) Jawab Dilan dengan nada memaksa, tangannya bersiap untuk menghajar Ares.
Tak kalah cekatan, Ares pun sudah bersiap untuk mengelak dan menahan serangan dari Dilan. “Anjing, beneran dihajar gue.” Ares pun berjalan menghampiri tuan rumah, “Apa kabar, Yan?”
“Baik, Res. Mau ngapain ka mari?” (“Mau ngapain ke sini?”)
“Ini, jemput Dilan. Kata Bunda-nya bawa aja ke Jakarta dari pada bikin pusing terus di Bandung.”
Dilan yang tak tau apa-apa terkejut, “Lah? LAH?”
“Iya bawa aja Res,” Piyan menyetujui. “Tuh barang-barangnya.”
“Halo, Dilannya aya di dieu loh.” (“Halo, Dilannya ada di sini loh.”) Dilan mencoba menghalangi Ares yang sedang mengambil barang-barangnya.
Ares menarik lengan Dilan dengan satu tangan dan menahannya dengan cara merangkulkan tangannya di bahu Dilan.
“Kita pergi dulu ya, Yan. Titip motor Dilan.” Ares pamit kepada Piyan, sambil mendorong tubuh Dilan ke luar rumah dengan satu tangannya sementara tangan lainnya memegang tas dan jaket denimnya Dilan. “Udah nanti di mobil gue jelasin.” Ucap Ares untuk memberhentikan pemberontakan yang Dilan lakukan.
Dilan, kadung kesal karena dijemput paksa, bergegas masuk mobil dan menutup pintu agak kencang. Sementara itu, Ares berjalan seperti biasa, menaruh barang-barang Dilan di bagian penumpang, baru masuk dan duduk di kursi kemudi.
“Kesel?” Canda Ares ke Dilan.
Dilan hanya mendengus, tidak mengindahkannya. Antares mengulurkan tangan untuk mengacak-acak rambut cowok yang duduk di sebelahnya itu. Meski ia tahu persis apa yang akan terjadi setelahnya.
“ANTARES!” Dilan seketika menangkap lengan Ares dan bergerak untuk menggigitnya.
Ares mencoba menarik kembali lengan kirinya yang ditahan oleh Dilan. “Aduh, iya, iya, jangan gigit beneran dong, Lan.”
“Basah anjing,” Ares mengulurkan lengannya, bermaksud untuk memeperkannya ke kaos Dilan.
“Heh!” Dilan langsung menepisnya. “Goblog, eta tisu apa gunanya.” Ia ambil selembar tisu dan melemparnya ke Ares.
Selesai mengelap tangannya, “Udah keselnya? Gue nyetir nih ya. Jangan gigit-gigit dulu.”
“Res, aku mau tanya.”
“Oke, sambil jalan ya. Kemaleman entar sampe rumahnya.”
Akhirnya perjalanan mereka ke Jakarta pun dimulai. Sepanjang perjalanan, Antares dihujami pertanyaan-pertanyaan oleh Dilan.
“Pak Iwan ka mana?”
Tawa Ares terlepas mendengarnya, karena dari sekian banyak pertanyaan yang ia tahu Dilan miliki, itu lah pertanyaan pertamanya. “Nanti juga ketemu di rumah.”
“Ini kamu beneran udah ketemu Bunda?”
“Iya. Itu baju-baju lo juga udah gue bawa.”
“Terus?”
“Terus gimana?”
“Bunda inget ka Ares?”
“Inget. Katanya ‘Si kasep temen Dilan yang nemenin pas Dilan koma kan?’”
“Anying, naha bawa-bawa pas koma.” (“Anjing, kenapa bawa-bawa pas koma.”)
Ares hanya mengedikkan bahunya. “Itu pipi.. gw liat merah sebelah,” ujar Ares sambil melirik Dilan.
“Eh, teu nanaon. Dari Ayah semalem.” (“Eh, gapapa.”)
“Lo buka dashboard dah.” Dilan menuruti Ares. “Tuh, ada kotak P3K, dalemnya ada salep. Pake.”
“Teu, ah! Biasa ieu mah,” (“Ga, ah! Biasa ini mah.”) Dilan menolak. “Tong lebay, Res.”
Ares berdecak kesal, “Tinggal pake aja apa susahnya. Harus gue yang pakein?” Ares tampak ingin menepikan mobil.
Dilan mengikuti saran Ares untuk memakaikan salep pada pipinya yang memerah – walau dengan wajah-wajah tidak ikhlas. Dilan menyadari Ares sedari tadi memperhatikan ia memakai salep. “Tong dipelong wae atuh! Maneh pikir Dilan boneka?” (“Jangan dilihatin aja dong! Kamu kira aku boneka?”)
Ares mengacak-acak rambut Dilan gemas. Dilan yang tangannya lagi memegang salep tidak dapat menahan pergerakan usil tangan Ares. “Eta jalan tingali.” (“Itu jalan dilihat.”) Dilan bersungut sambil menunjuk ke depan.
“Cewek lo ke mana?”
“Milea? Geus putus.” (“Udah putus.”)
“Loh? Kapan? Ga cerita lo.”
“Barusan tadi siang.”
“Cerita dong.”
“Carita naon? Milea dateng pas Dilan masih di rumah Burhan. Dateng, marah-marah, terus abis bilang putus langsung balik. Urang teu sempet ngomong. Sebelumnya juga cuma liat sebentar pas dia ngelayat Akew. Pas ada Bang Aeros juga. Ares nitip ke dia kan?”
“Iya. Gue titip dia. Yaudah ga usah cemberut,” Ares mencubit pipi Dilan.
“Res, ah!” Dilan mencoba mengelak dari serangan tiba-tiba Ares, tapi tak berhasil.
“Udah, pokoknya lo di Jakarta healing aja sambil nunggu hasil penyelidikan polisi.”
“Healing naon. Teu aya motor.” (“Healing apaan. Ga ada motor.”)
“Ada motor gue.”
“Terus Ares gimana?”
“Santai, ada Pak Iwan. Atau gue bawa ni mobil ke sekolah juga bisa.”
“Oh! Dilan aya ide. Ares Dilan anter ka sakola naik motor. Jadi motornya bisa Dilan pake.”
“Boleh, boleh. Asal jangan nangis kalo nyasar.”
Dilan seketika memukul bahu Ares. “Geus aya teknologi namanya Google Maps, goblog.” (“Udah ada teknologi namanya Google Maps, goblok.”)
Sepanjang perjalanan mereka dipenuhi oleh senda-gurau. Tak jarang pula Ares menerima pukulan-pukulan dari Dilan karena candaannya.
Mereka tiba di rumah Ares saat hari sudah gelap dan jam sudah menunjukkan hampir pukul 10. Sesaat setelah Ares memberhentikan mobil di depan pagar rumahnya, seorang pria paruh baya segera membukakan pagar tersebut.
Ares menurunkan kaca jendelanya, “Pak Iwan, ada yang kangen nih.”
“Siapa, den?”
Ares merapatkan tubuhnya ke kursi kemudi agar Pak Iwan dapat melihat Dilan yang duduk di kursi penumpang. Pak Iwan – bernama lengkap Iwan Gunawan – merupakan supir Ares dan seorang pria keturunan Bandung. Oleh karena itu ia akrab dengan Dilan.
“Assalamualaikum, Pak Iwan. Kumaha damang?” Sapa Dilan dengan semangat.
“Eh, aya den Dilan. Alhamdulillah sehat, den. Den Ares teu bilang-bilang mau ka Bandung euy. Kan Pak Iwan bisa setirin.”
“Santai, pak. Ini saya parkir dulu ke dalem ya.”
“Eh, iya, iya, den. Malah keasikan ngobrol di depan.”
Ares memarkirkan mobilnya di garasi, terlihat ada Mercedes Benz E320 di sana.
“Om jeung tante aya, pak?” (“Om dan tante ada, pak?”) Tanya Dilan ke Pak Iwan yang baru selesai menutup pagar. Sementara Ares berkutat dengan barang-barangnya Dilan yang di mobil.
“Aya, den. Komplit, sadayana geus di imah.” (“Ada, den. Lengkap, semuanya udah di rumah.”)
“Sini den Ares saya bawakan barang-barangnya.” Pak Iwan menawarkan, melihat Ares yang tangannya penuh dengan barang.
“Gapapa, pak. Itu aja, kunci mobilnya masih ngegantung.”
“Siap, den. Besok sekolah pake motor kan?” Pak Iwan memastikan.
Ares dan Dilan tatap-tatapan sejenak, baru ia menjawab, “Iya.”
“Res, sini barang-barangnya biar Dilan yang bawa.”
“Jangan. Berat. Biar gue aja.”
“Si anying. Eta barang saha. Barang Dilan euy.”
“Dah, lo bawa itu aja. Pake, biar ga dingin.” Ares melempar jaket kulit miliknya dan jaket jeans milik Dilan. Untungnya Dilan berhasil menangkap walaupun sedikit kaget.
“Geus di imah, Ares goblog sia. Iyeu jaket euweuh gunana.” (“Udah di rumah, Ares goblok. Ini jaket ga ada gunanya.”) Dumel Dilan. Tapi meskipun begitu, ia tetap memakai jaket kulit milik Ares. Penasaran, katanya. “Gede pisan euy,” (“Besar juga ya”)
Mereka berdua jalan memasuki rumah Ares melalui pintu yang terhubung dengan garasi, menyusuri jalan hingga menuju dapur, dan sampailah mereka di ruang makan. Rumah Ares tampak sepi. Hanya ada papanya Ares sedang menonton TV di ruang keluarga.
“Pa,” Ares memanggil, mengalihkan perhatian papanya dari layar kaca.
“Eh, Ares baru pulang. Kamu dah makan malem belom? Dilannya mana?”
“Udah Pa,” jawab Ares.
Dilan muncul dari belakang Ares, “Assalamualaikum, om.”
“Waalaikumsalam Dilan. Kata Ares kamu mau nginep ya?”
“Iya, om. Maaf nih ngerepotin.”
“Santai aja, Dilan. Tapi maaf nih, kamar tamunya belum disiapkan sama Bibi. Ares kasih infonya mendadak soalnya.”
“Eh, om gapapa kok om, beneran. Dilan yang ga enak udah ngerepotin gini.”
“Gapapa, Pa. Biar sama Ares aja.” Ares akhirnya angkat bicara.
“Iya, om gapapa bener loh. Dilan di kamar Ares aja.”
Ares menengok cepat ke Dilan, “Maksud gue, gue yang beresin kamar tamunya anjing.” Dengan bagian ‘anjing’ yang dipelankan karena ia masih di hadapan papanya.
“Udah malem Res. Males. Capek. Mau tidur aja.”
Melihat perdebatan kedua orang ini, ayahnya Ares tidak ingin ambil pusing. “Sesuka kalian aja lah ya. Kalian atur mau gimana. Dilan, anggap aja rumah sendiri.”
“Eh, iya. Nuhun, om.”
“Kalo gitu, kita ke kamar dulu ya Pa.” Ares izin pamit ke papanya.
“Ya. Jangan lupa Ares besok tetep sekolah loh ya.”
“Aman, om. Mun Ares teu bangun, saya yang bangunin.” Dilan mengangkat kedua ibu jarinya.
Ares memutar bola matanya jengah dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Dilan.
“Antares!” Dilan mengejarnya, lalu sedikit lompat untuk mengalungkan sikunya di leher Ares dari belakang. Alhasil, Ares jadi sedikit tercekik dan terbawa ke arah Dilan karena perbedaan tinggi badan mereka.
“Lepasin anjing,” Ares menepuk tangan Dilan.
“Hayu, atuh. Hayang rebahan.” (“Ayo. Ingin rebahan.”)
Yang punya rumah, siapa ya?
