Work Text:
Suara obrolan para tamu memenuhi seluruh isi ruangan. Lalu lalang ke sana dan kemari akhirnya menetapkan pilihan untuk menyendiri di tempat minuman.
Sugawara mengambil sebuah gelas berisi air di dalamnya. Tatapannya kosong menyorot bayangan pada gelas itu. Ia berkali-kali menanyakan pada dirinya sendiri, untuk apa ia ada di sini?
Sedangkan sang surai abu termenung, temannya menepuk bahunya dan membuatnya sedikit terperanjat karena terkejut. “Astaga, Suga. Aku mencarimu kemana-mana!” ucap Daichi dengan raut wajah sedikit panik.
“Daichi ... ” Sugawara berbicara memelan. “Ah, maafkan aku. Aku ... ”
Daichi tahu bahwa Sugawara tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia berikan tatapan iba lalu mengalihkan padangannya pada bintang utama ruangan itu, kedua mempelai yang sedang berbagai hari ini.
“Kau tahu ... ” Daichi membuka mulut lalu kembali melihat Sugawara. “Kau tak harus datang hari ini.”
Sugawara menggeleng. “Tidak mungkin aku tidak menghadiri pernikahan temanku sendiri bukan?” balas Sugawara. “Ini hari spesial Kiyoko, aku harus melihatnya berbahagia.”
“Untuk apa melihatnya bahagia sedangkan kau di sini terluka, Suga?”
Sugawara menggigit bibirnya sendiri. “Diamlah, Daichi.” Rasa sesak memenuhi dadanya. Ia benci perasaan ini, ia benci sakit ini. “Lukaku bukan salah Kiyoko. Ini salahku karena tak bisa berhenti mencintainya.”
Ada rasa sakit yang ikut merasuki Daichi sehabis mendengar hal itu. Ia menghembuskan napasnya. “Pulang dahulu saja, Suga. Yang terpenting, ia tahu kau sudah datang hari ini. Akan kusampaikan salam saat berfoto dengannya nanti.”
Sugawara menimbang-nimbang solusi yang diberikan Daichi. Benar juga, ia bisa katakan ada pekerjaan mendadak yang tak bisa dihindari, bukan? Kiyoko pun pasti akan paham hal tersebut.
“Baiklah, aku akan pulang. Tolong, sampaikan salamku untuknya,” ucap Sugawara sembari menaruh gelasnya dan langsung melangkah dari sana.
“Suga!”
Ada suara lembut yang memanggil namanya. Sugawara menahan napas lalu berbalik dan benar saja, Kiyoko datang berjalan cepat dengan balutan gaun pernikahannya juga rambut yang telah dipotong pendek. “Eh, apakah kau akan pergi?” tanya Kiyoko pada Sugawara.
Netranya tak dapat lepas dari pesona Kiyoko. Rasanya ia jatuh cinta lagi pada sang surai biru malam tersebut. Sial, terlalu cantik, batin Sugawara. Ia kembali jatuh dan jatuh, sampai rasa sakitnya semakin melebar.
“Ia ada urusan mendadak yang tak bisa dihindari,” balas Daichi sambil tersenyum lebar. Ia harus menolong temannya, bukan? Tentu saja ia akan melakukannya walau belum berjanji seperti tadi.
“Ah, sayang sekali,” ucap Kiyoko dengan raut kecewa. “Ayo, berfoto bersama dahulu dengan yang lain! Mereka sudah menunggu di sana.”
Daichi menelan ludah lalu melirik Sugawara. Menunggu tolakan dari Suga. Namun, yang ia dapat hanya sunyi dari si abu. “Eum, bagaimana, Suga?” tanyanya. “Namun, sepertinya pekerjaanmu sangat sibuk, bukan? Kurasa kau harus segera pulang.”
Sugawara terdiam. Daichi benar, ia tak perlu melanjutkan bertahan di sini. Ia bisa segera pergi dari sana tanpa membuat rasa perihnya lebih tajam lagi. Ia harus menolaknya.
“Ayo!”
Ah.
Bodoh.
Daichi membelalakan matanya, Kiyoko melebarkan senyumannya. “Baiklah. Ayo, kita berfoto bersama di sana.” Lalu, mereka berjalan menuju tempat berfoto. Ada teman-temannya di sana.
Lirikan dilakukannya, ia melihat Kiyoko kembali di sebelah suaminya, Tanaka. Sugawara merasakan panas pada matanya. Sakit, sakit, sakit. Ia merasakan dadanya dipenuhi rasa sakit.
“Bersiap, satu, dua, tiga! Chesse!”
Semua di sana tersenyum bahagia, kecuali satu orang yang tersenyum lebar untuk menutupi rasa sakitnya. “Chesse!”
