Actions

Work Header

Konstelasi

Summary:

Pesta dansa akan dilaksanakan untuk merayakan ulang tahun ke-21 dari Pangeran Kei Tsukishima. Kei sendiri tidak bersukacita sama sekali dalam membayangkan dirinya terlibat dalam situasi sosial seperti dansa, tetapi keluarganya tetap bersikeras untuk merayakan. Ketika ia berpikir bahwa ulang tahunnya sudah tidak terselamatkan lagi, ia bertemu dengan seorang gadis bergaun bintang.

[TsukiYachi Royalty AU! + Tsukishima Kei Birthday Fic]

Notes:

Ini tuh untuk TsukishimaKeiWeek2022 Day 1 TAPI TELAT, CUMA GPP YA HAHA

Oiya, ini juga bagian pertama dari tetralogi HQ Royalty AU! Ditunggu ya tiga bagian lainnya!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Ulang tahun.

Apa yang biasanya kau lakukan di hari ulang tahunmu? 

Merayakan kecil-kecilan bersama keluarga? Ya kemungkinan besar seperti itu. Tidak melakukan apa-apa juga bukanlah hal yang aneh. Lagipula, kau kan hanya bertambah satu tahun lebih tua dari tahun sebelumnya, jadi itu bukanlah peristiwa hidup yang cukup penting untuk harus dirayakan.

Ya, kecuali kau adalah pangeran dari sebuah kerajaan yang mana ayahmu adalah raja sementara kakakmu adalah pangeran mahkota. Ditambah dengan fakta bahwa dirimu adalah seorang lajang yang hidup dalam keluarga yang gemar bermain mak comblang. Padahal, kau sebenarnya lebih senang berbaring di tempat tidurmu sambil mengkontemplasikan eksistensimu di dunia.

Kei Tsukishima adalah salah satu jiwa yang tidak beruntung itu. 

Ia merasa semesta tidak suka pada dirinya. Bagaimana tidak, Kei hidup dikelilingi oleh orang-orang yang bertolak belakang dengan dirinya. Setiap hari terasa sebagai ujian kesabaran baginya. 

Bukan berarti dia tidak mensyukuri memiliki keluarga yang lengkap dan kesempatan untuk merayakan ulang tahun, tentu tidak, tetapi Kei jauh lebih mengapresiasi jika mereka setidaknya mau bertanya terlebih dahulu mengenai apa yang ingin dilakukannya di hari ulang tahunnya.

Kei tidak keberatan jika ia hanya merayakan ulang tahunnya dengan makan malam sederhana bersama keluarga inti dan teman dekat. Kei juga tidak ambil pusing jika ulang tahunnya hanya dilewatkan dengan ucapan saja. Sayangnya, keluarganya memilih untuk menggelar pesta dansa mewah atas nama dia. 

Ia bahkan tidak suka berdansa!

Setelah berbicara dengan kakaknya, kakak ipar perempuannya, ayah, beserta ibunya, Kei berhasil memotong biaya untuk pestanya sebanyak setengah. Hal ini termasuk menghapus hampir ratusan daftar undangan, beragam pilihan menu yang berlebihan (kecuali kudapan tentu saja, tidak ada kudapan yang berlebihan), dan menyederhanakan dekorasi. Sisa biaya tersebut pun dialihkan untuk menjadi donasi bagi panti asuhan di seluruh kerajaan.

Awalnya, Kei ingin pestanya dibatalkan, tetapi keluarganya bersikeras bahwa pesta ini tidak hanya untuk merayakan ulang tahunnya, melainkan juga sebagai ajang bagi dirinya untuk bertemu orang baru sekaligus memperkuat ikatan diplomasi dengan kerajaan tetangga. 

Sejujurnya, ia tidak begitu berminat untuk bertemu dengan orang baru. Ya, tetapi setidaknya ia bisa melihat pesta ini sebagai salah satu bentuk tugasnya sebagai anggota kerajaan, yaitu untuk menjaga citra dan hubungan masyarakat. Terlebih di tengah ketegangan politik di antara lima kerajaan di benua tersebut.

Ia bisa memahami posisi keluarganya yang ingin menunjukkan bahwa Kerajaan Luniar dari utara tidak memiliki niat apapun untuk mencari musuh dari empat kerajaan lainnya. Posisinya sebagai pangeran termuda Kerajaan Luniar dengan reputasi yang cukup baik di masyarakat membuatnya menjadi cocok untuk misi ini.

Setidaknya pemikiran ini yang memberikan Kei sedikit semangat untuk tetap melaksanakan pesta tersebut.

Meskipun begitu—mereka tidak mengatakan ini—Kei juga menyadari bahwa keluarganya juga memberikan misi lain. Misi yang mungkin jauh lebih besar, tepatnya misi yang dipenuhi oleh harapan bahwa ia bisa bertemu seseorang di pesta tersebut

Bahkan, Lady Shimizu—tunangan dari kakak ipar laki-lakinya—mengatakan bahwa ia ingin mengenalkan Kei dengan salah seorang temannya. Kei pun hanya bisa mengiyakan dengan pasrah.

Padahal, menjalin relasi dan pernikahan bukanlah hal yang dianggapnya cukup penting untuk dilakukan dalam waktu dekat. Ia sudah cukup puas dengan dirinya di saat ini, terima kasih banyak.

Oleh karena itu, di sinilah ia sekarang, mendekam di balik dinding perpustakaan istana sementara pesta dansa nya sudah dimulai di aula utama setengah jam yang lalu. 

Kei duduk bersandar dengan santai pada sofa velvet di dekat balkon sambil membaca sebuah buku yang diambil secara asal dari salah satu rak di dekat situ. Jas abu-abu dengan jahitan emas beserta dasi merahnya tergeletak dengan rapi di meja dekat sofa. 

Para tamu undangan pasti sedang menunggu dirinya. Akan tetapi, mengingat watak sang kakak, ia pasti bisa mengurus hal tersebut. Akiteru, kakaknya, memiliki karisma yang membuatnya bisa mendapatkan apa saja hanya dengan berbicara. Ia pasti sudah mengarang dengan lihai sebuah alasan untuk menjelaskan ketidakhadiran bintang utama pesta kepada para tamu.

Sementara itu, keluarganya yang lain pasti sudah mengutus beberapa pengawal untuk mencari dirinya. Teman-temannya yang datang ke pesta tentu juga turut mencari dirinya. Ia sudah bisa membayangkan wajah bingung dari Yamaguchi, wajah kesal dari Hinata, dan wajah ketus dari Kageyama.

Kei pun tahu bahwa ia tidak akan bisa kabur dari kenyataan, tetapi ia tetap berharap mereka tidak terburu-buru dalam mencari dirinya.

Lagipula ini hari ulang tahunnya, kan?

Kei menguap sambil melirik ke arah balkon yang terbuka. Tirai vitrase di sisi-sisi pintu balkon bergerak pelan mengikuti angin sepoi-sepoi yang masuk. Kemudian, matanya pun menangkap sebuah cahaya terang dari luar; bulan purnama berpijar dengan penuh kehangatan di tengah lautan bintang kelap-kelip. Kei sontak meletakkan bukunya dan berdiri dari sofanya. Aneh, tidak biasanya bintang muncul sebanyak dan seterang ini.

Entah bagaimana, langit malam itu tampak begitu memikat dan mengundang. Kei pun berjalan pelan ke balkon. Begitu ia melangkahkan kakinya ke lantai marmer balkon, Kei langsung disambut oleh udara malam yang membawa aroma daun-daun kering yang sudah mulai berguguran. 

Kei agak sedikit menyesal ia melepaskan jasnya, tetapi untung saja kemeja dan rompinya terasa masih cukup sanggup melindungi dirinya dari dingin di malam itu. Kakinya pun melangkah ke barisan pagar granit yang membatasi balkon tersebut. 

Kei menyandarkan kedua tangannya pada pagar granit tersebut seraya menengadahkan kepalanya ke atas. Ia menutup matanya dan menarik napas panjang sebelum membuka matanya kembali dengan perlahan, seolah mempersiapkan matanya untuk merekam langit di malam itu di pikirannya.

Apakah mungkin ini bentuk ucapan selamat ulang tahun dari semesta kepadanya? 

Kei tergelak. Ah, tentu saja tidak. Ia bukan orang yang sebaik itu.

Ia mengalihkan pandangan dari atas langit ke area di bawah balkon, tepatnya ke sebuah taman yang berbentuk lingkaran.

Semak-semak pendek berjejer dan diatur sedemikian rupa di sisi luar dan dalam lingkaran tersebut, membentuk sebuah pola seperti labirin. Empat patung malaikat pun diletakkan dengan rapi di tiap sudut taman. Setiap patung ini mengarahkan pada empat jalan yang saling terhubung ke area lingkaran yang lebih kecil di tengah. Setiap jalan tersebut dibuat dari batu mozaik warna-warni yang mana pada setiap pinggirnya ditumbuhi oleh barisan bunga aster. 

Kei ingat bahwa kakeknya pernah mengatakan bahwa sayap bangunan yang ini, yaitu perpustakaan dan taman, dibangun oleh sang nenek sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Kemudian, ketika nenek meninggal, kakek pun membangun air mancur empat tingkat yang megah di tengah taman. 

Air mancur tersebut dibuat setinggi dua setengah meter dengan granit yang sama seperti pagar balkon. Desain air mancur itu mungkin sederhana, tetapi justru kesederhanaan itu yang berhasil memantulkan keindahan langit malam itu. Air mengalir dari bagian atas ke bawah dengan penuh kilauan.

Ada ketentraman yang memenuhi dirinya ketika ia menatap air mancur tersebut. Sayangnya, ketentraman tersebut seketika lenyap ketika Ia tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah pergerakan di dekat air mancur. 

Ia memang tidak dilahirkan dengan penglihatan yang cemerlang, terlebih terhadap objek yang jauh, tetapi ia bisa menyadari keberadaan seseorang di balik air mancur.

Kei pun secara tidak sadar langsung menggerakan tubuhnya. Ia berjalan menuruni tangga granit yang ada di samping balkon tanpa suara. Langkahnya pun dilakukan dengan hati-hati ketika ia menyusuri rumput dan batu mozaik warna-warni di taman. 

Kei pun mulai berpikir, “Siapa sekiranya orang itu? Apa yang diinginkannya di tempat ini? Bagaimana bisa ia ada di tempat ini? Padahal, tidak semua orang tahu tempat ini… Apakah mungkin—”

Ia menghentikan langkahnya tiba-tiba.

Jikalau ia berpikir bahwa langit malam itu sudah sangat gemilang, ia salah besar. 

Kei melihat sesosok yang bersinar dengan begitu hangat di bawah belaian cahaya bulan. Gaun emasnya seolah mencuri tiap bintang yang ada di langit sementara rambut pirangnya yang digelung berkilauan seperti sutra. 

Gadis tersebut duduk di pinggir kolam dari air mancur. Ia menundukkan tubuhnya seraya menatap air di kolam yang memantulkan kelembutan di wajah teduh gadis tersebut.

Kei ingin membuka mulutnya, tetapi lidahnya kelu. Kakinya pun kaku seperti pasak yang terpaku ke tanah. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Kei tidak bisa menemukan apapun dari dalam pikirannya.

Guk!

Seperti sebuah mantra, semua tensi di tubuhnya langsung menghilang. Akan tetapi, ia tidak bisa menikmati kebebasan tersebut karena ia langsung diserang oleh—

“Moira?” Kei berseru seraya menahan seekor anjing besar yang berdiri sambil menyandarkan tubuh berbulunya ke dirinya. Anjing tersebut mulai menyundulkan kepalanya ke atas seraya ia berusaha menjilat wajah Kei. Ekornya yang sudah mengibas dengan cepat pun semakin bergerak dengan gesit ketika Kei menyuruhnya untuk duduk sebelum mengelus kepalanya.

“... Apakah dia milikmu?”

Sebuah suara lembut membuat Kei mengalihkan pandangan dari anjing tersebut ke sosok yang kini berdiri dekat air mancur. Kei langsung menyadari betapa mungilnya tubuh gadis itu, bahkan ia mungkin tidak lebih tinggi dari pundak Kei. Ya, walau memang Kei juga bukanlah orang dengan tinggi yang wajar.

Gadis itu memandangnya sambil menaikkan alisnya dan tersenyum tipis. Ia menyembunyikan kedua tangannya ke belakang. Meskipun kakinya tertutupi oleh gaunnya yang panjang, tetapi dari cara roknya melambai, Kei bisa melihat bahwa ia sedang menggerakkan kakinya dengan tidak teratur.

“Ya, bisa dibilang begitu,” Kei menjawab singkat. Ia tidak melepaskan pandangannya dari gadis tersebut yang tampak semakin tegang seiring pertambahan detik.

“Oh….” Gadis itu bergumam. Matanya kini melirik ke segala arah, senyumnya pun perlahan menghilang dari wajahnya. Ia tampak menggigit bibir bawahnya sambil menahan tubuhnya yang bergetar.

Kei memiringkan kepalanya sebelum berkata, “A—”

“MAAF, TAPI AKU BUKAN PENYUSUP! AKU BERANI BERSUMPAH! AKU HANYA TERSESAT!” Gadis itu tiba-tiba berlutut dan mengatupkan kedua tangannya. “TOLONG JANGAN TANGKAP AKU!”

Kei terbelalak dengan aksi gadis tersebut. Menangkapnya? Apakah gadis itu berpikir kalau ia adalah pengawal? Bagaimana mungkin seseorang tidak mengenalinya?

Ya… dia memang tidak seterkenal itu, tetapi aneh rasanya jika ada orang di kerajaan itu yang tidak mengenali wajahnya. Kecuali…

“Aku tidak akan menangkapmu,” Kei mengulurkan tangannya ke hadapan gadis tersebut, “Sebaiknya kau segera bangun jika kau tidak ingin gaunmu kotor.”

Gadis tersebut menatap wajah dan tangan Kei secara bergantian. Ia tampak cukup ragu sebelum akhirnya menerima tangan Kei. Saat itu, Kei tidak menyadari bahwa ia sedang tidak menggunakan sarung tangan, begitu juga gadis tersebut.

Hangat, itu yang terbesit di pikiran Kei pertama kalinya.

Gadis tersebut menggenggam tangan Kei dengan begitu lembut, dan Kei membalas dengan penuh kehati-hatian. Malam hari itu begitu sunyi, tetapi entah bagaimana Kei bisa mendengarkan degup jantungnya sendiri dengan begitu jelas. 

Begitu gadis tersebut bisa berdiri dengan kedua kakinya, Kei langsung menarik tangannya, mungkin terlalu cepat dari yang diinginkannya. Ia spontan meletakkan kedua tangannya di dalam saku celana dan berdehem. 

“Terima kasih,” ucap gadis tersebut.

“Ya, tidak masalah,” Kei menaikkan kedua bahunya singkat sebelum melanjutkan, “Ngomong-ngomong, kau bukan warga daerah ini ya?”

“Eh, kelihatan sekali ya?” Gadis tersebut tersipu, “Iya, ini pertama kali aku datang ke sini. Aku sebenarnya berasal dari Kerajaan Nivalis.”

Kei mengangguk. Tentu saja ia bukan warga sini, ini menjelaskan mengapa gadis ini tidak mengenali dirinya dan mengapa ia tampak linglung di lingkungan istana. Meskipun begitu, Kei tidak ingin lengah, terlebih dengan ramainya berita baru-baru ini tentang percobaan pembunuhan terhadap raja kerajaan Seiun.

Akan tetapi, gadis tersebut tampaknya tidak berbohong mengenai asalnya. Tidak hanya itu, keluarganya dan keluarga Kageyama dari Kerajaan Nivalis memiliki hubungan yang sangat baik. Ia tidak bisa membayangkan jikalau Kerajaan Nivalis hendak menusuk mereka dari belakang.

Kei tetap tidak ingin menurunkan penjagaannya, hanya saja seberapa besar ia mencoba, Kei tidak bisa mendeteksi setitikpun niat buruk maupun tipu muslihat dari gadis tersebut. Terlebih ketika Kei menatap sepasang mata bulat coklat muda di hadapannya.

Ya, jika gadis ini memang jujur, yang jadi pertanyaannya bagaimana bisa ia berakhir di pesta ini? Pasti ada seseorang yang mengajaknya untuk hadir di pesta hari ini…

Oh.

“Kalau begitu, kau datang ke sini bersama siapa?”

“Aku datang atas ajakan dari Lady Shimizu. Kau tahu siapa kan…? Uh, tentu saja kau pasti tahu. Tidak ada yang tidak mengenal dirinya.” Gadis itu tersenyum.

Ah, jadi dia orangnya. 

Kei menghembuskan napas pelan seraya menahan tawa. 

Ya, ia sudah menduga hal ini. Tentu saja semesta lebih suka mempermainkannya di hari ulang tahunnya ini.

“Nama?”

“Huh?”

“Siapa namamu?” Kei mengulang.

“Oh… Oh iya, aku lupa memperkenalkan diri. Maafkan aku.” Gadis tersebut tertawa kecil sebelum membungkukkan badannya dengan hormat. “Namaku Hitoka Yachi, senang bertemu denganmu.”

“Yachi…” Kei bergumam. Entah bagaimana nama tersebut terasa begitu familiar. Dia tiba-tiba teringat bahwa Kageyama pernah memberitahukan sesuatu. “Tunggu, apakah kau memiliki ikatan keluarga dengan keluarga seniman Yachi?”

Gadis itu mengangguk dengan penuh semangat, “Ya! Kebetulan aku generasi paling muda di keluarga.”

“Oh, begitu.” Kei membalas singkat. Ia tidak menyangka bahwa gadis tersebut adalah anggota dari keluarga yang cukup terpandang. Kageyama pun pernah mengatakan bahwa keluarganya sering meminta komisi lukisan maupun patung kepada keluarga Yachi. Bahkan, kakeknya sendiri memiliki beberapa koleksi seni dari keluarga tersebut.

Kei tidak bermaksud mengatakan gadis itu tidak cocok membawa nama keluarganya, tentu tidak. Ia hanya sedikit terkejut, karena gadis itu tampak dikelilingi oleh aura aristokrasi yang membuat Kei awalnya mengira kalau gadis ini adalah anak bangsawan. 

“Kalau namamu?”

“Hmm, aku?” Kei tersadarkan dari lamunannya. “Panggil saja Hotaru.”

“Oh, baiklah. Senang bertemu denganmu, Tuan Hotaru.”

Kei menaikkan sebelah alisnya. Jikalau gadis ini mengira kalau dirinya adalah salah seorang staf kerajaan, perlakuan formal gadis ini jadi terasa begitu aneh. Tetapi hal itu justru membuat Kei merasa lebih baik.

“Bagaimana kau bisa berakhir di tempat ini?” Kei bertanya sambil mengelus Moira yang sedari tadi duduk di sebelah kakinya.

“Oh… itu,” Gadis tersebut tersenyum malu-malu, “Tadi aku agak sedikit lelah dengan pestanya, jadi aku berpikir ingin mencari angin sebentar. Jadi aku pergi ke taman dekat aula dansa. Nah, di situ aku bertemu dengan Moira ini. Awalnya aku pikir ia adalah serigala, jadi aku sudah bersiap untuk lari, tetapi tiba-tiba ia melolong kesakitan sambil menaikkan kaki kanan bagian depan. Ternyata ada sebuah duri di telapaknya, jadi aku pun membantu melepaskan duri itu. Setelah itu, ia langsung mendorongku seolah menyuruhku untuk mengikutinya, dan ya singkat cerita aku berakhir di bagian istana ini…”

Kei melirik ke arah anjing berbulu tebal tersebut—yang memang sekilas mirip serigala—dan menghela napas, “Kau anjing nakal, ya? Sudah kubilang jangan bermain ke semak-semak mawar.”

Anjing tersebut hanya menjulurkan lidahnya sebelum berjalan ke kolam air mancur. 

“Sepertinya ia membawamu ke sini karena ingin menunjukkan kolam air mancur itu. Sebagai tanda terima kasihnya, kurasa,” Kei menambahkan sembari menghampiri anjing yang sedang melirik ke dalam kolam. Di dalam kolam tersebut tampak ikan-ikan koi sedang berenang dengan lincah.

“Ya, sepertinya begitu,” jawab gadis itu seraya berdiri di sisi lain Moira.

“Maaf, anjing ini jadi merepotkanmu. Tapi terima kasih juga sudah mau membantunya.”

“Ah tidak apa, aku tidak merasa direpotkan.” Gadis itu mengelus pelan Moira. “Justru aku yang berterima kasih karena telah ditunjukkan pemandangan yang begitu indah.”

Kei setuju akan hal itu. Air yang begitu jernih tersebut seolah memantulkan langit malam yang cerah di hari itu. Memberikan ilusi bahwa ikan-ikan tersebut sedang berenang di antara bintang dan bulan.

Kei melirik gadis tersebut sekilas dari samping sebelum mengembalikan arah matanya ke kolam. Ia perlahan membuka mulutnya dan bertanya, “Tadi kau bilang kalau kau lelah dengan pestanya. Apakah pestanya tidak menyenangkan?” 

“Tidak, bukan begitu. Lebih tepatnya pestanya belum dimulai. Jadi, tadi aku lebih banyak berkenalan dengan beberapa tamu dan anggota keluarga kerajaan yang lain.” Gadis itu tersenyum kecil. “Aku suka datang ke pesta, tetapi tadi terlalu banyak sekali tamunya, aku sampai pusing…”

“Begitu ya?” Kei menjawab sebelum akhirnya duduk di pinggir kolam; Moira langsung menghampiri dan merebahkan dirinya di dekat kakinya. “Kalau menurutku, mau tamunya banyak atau sedikit, aku tetap saja tidak akan suka.”

“Benarkah begitu? Apakah ada alasan tertentu jika aku boleh tahu?” Gadis itu bertanya sambil mendudukkan dirinya tidak jauh dari posisi Kei.

“Hmm, mungkin karena aku tidak terlalu suka dengan interaksi sosial? Ah, lebih tepatnya aku tidak suka bertemu orang jika tidak ada urgensi tertentu. Aku benci formalitas dan basa-basi. Makanya menurutku pesta dansa adalah hal yang begitu membosankan dan melelahkan.”

“Oh, aku bisa paham pandanganmu. Walaupun menurutku pesta dansa itu tidak sepenuhnya membosankan, apalagi jika aku bisa bertemu dengan teman-temanku. Aku juga cukup suka bertemu dengan orang baru—Ya walau tetap mendebarkan sih.” Gadis itu berkata sambil memainkan jari-jarinya pelan. “Tapi memang, aku tidak bisa memungkiri kalau pesta dansa itu melelahkan.”

Kei melirik gadis itu untuk kesekian kalinya malam itu. Hanya saja, saat itu ia merasakan kesedihan terpancar dari mata hazel gadis tersebut.

“Melelahkan karena kau harus terus berdansa?”

Gadis itu terkikik, “Ya, itu termasuk! Tetapi maksudku lebih ke… bagaimana ya menjelaskannya… lebih ke perasaan asing?”

Kei tidak merespon, tetapi ia memberikan tatapan lembut kepada gadis itu. Walaupun ia tidak yakin apakah ia bisa tampak lembut , tetapi ia berharap gadis itu bisa memahami maksudnya.

Gadis tersebut tersenyum simpul kepada Kei dan melanjutkan, “Mungkin ini akan terdengar membingungkan, tapi kadang ketika aku berada di pesta, aku merasa seperti orang tersesat. Makanya aku jauh lebih suka datang pesta bersama seseorang yang aku kenal. Walau kadang aku jadi terlihat seperti anak bebek yang sedang mengikuti induk sih, hehehe.”

“Tersesat?”

“Ya, tersesat…” Gadis itu terdiam sejenak. “Seringkali aku merasa tidak bisa membaur dengan tamu lainnya. Aku tidak yakin apakah ini pikiranku saja, tapi kadang aku merasa diperhatikan dengan begitu aneh. Mungkin karena aku bukan anak bangsawan atau pengusaha terkenal, ya? Maksudku, aku paham bahwa keluargaku cukup terpandang, tetapi tentu kami tidak sebanding dengan keluarga besar lainnya. Jadi ya karena itu, aku jadinya sering merasa gelisah dan kelelahan, sampai-sampai aku ingin segera pulang padahal acaranya belum selesai.”

“Lalu, apakah akhirnya kau akan pulang duluan?”

“Kadang iya, tapi lebih banyak tidak. Selain karena aku ingin menghormati tuan rumah, aku cukup menikmati suasana pesta. Jadi biasa aku akan berusaha berfokus pada aspek pestanya saja, seperti makanan, musik, dan dekorasi. Lagipula, Ibuku saja seringkali menjadi bahan rumor karena profesinya yang dianggap sangat tidak mencerminkan perempuan terhormat, tetapi ia menolak menuruti mereka dan memilih datang ke acara sosial dengan percaya diri.”

“Ibumu terdengar seperti orang yang hebat.”

“Ya, dia memang hebat. Kuharap aku bisa menjadi seperti dia.”

“Kau datang ke pesta dari orang yang tidak kau kenal, menurutku itu sudah menunjukkan keberanianmu.”

“...Terima kasih, sungguh.” Ia akhirnya tersenyum kembali, “Hanya saja aku merasa masih harus banyak belajar.”

“Sekarang, bagaimana perasaanmu sekarang?”

Gadis itu mengambil napas panjang sebelum tersenyum, “Sejujurnya aku ingin sekali pulang.”

“Tapi?”

“Tapi aku belum bertemu Pangeran Kei yang berulang tahun hari ini. Setidaknya aku ingin mengucapkan salam kepadanya, baru setelah itu aku akan pulang.”

Gadis itu menjawab tanpa jeda. Pada satu sisi, Kei berpikir kalau responnya adalah bentuk penghormatan dan kesopanan sebagai tamu. Akan tetapi, pada sisi lainnya, Kei tidak bisa mengelak ketulusan yang dituturkan oleh gadis tersebut.

“Ah…” Kei langsung memalingkan wajahnya dari gadis itu, “Dia belum hadir ya?”

“Ya, kata Pangeran Mahkota, adiknya izin terlambat karena ia ingin berdoa dahulu sebagai bentuk syukur atas hari ulang tahunnya.”

Kei menahan wajahnya untuk tidak menampilkan ekspresi apapun. Tapi yang benar saja, masa kakaknya harus pakai alasan kalau ia sedang berdoa? Sejak kapan dirinya rajin berdoa? Ia yakin kalau teman-temannya pasti tidak mempercayai itu. Meskipun begitu, ia tidak bisa protes. Kakaknya pasti sedang keringat dingin saat ini.

“Begitu kah? Tapi menurutku bisa saja pangeran itu kabur dan tidak mau merayakan pestanya.”

Gadis itu tampak terkejut, “Benarkah begitu? Jadi maksudmu pesta ini bukan keinginannya?”

“Setahuku sih seperti itu.”

“Oh… Kalau seperti itu sih, aku bisa paham. Tidak semua orang suka pesta, kan? Aku bisa membayangkan betapa sulitnya jika ia harus merayakan ulang tahunnya sedemikian rupa. Pasti akan begitu melelahkan dan tidak menyenangkan baginya. Bisa saja kan dia ingin melakukan hal lain untuk merayakan ulang tahunnya.”

Kei menaikkan kedua alisnya sambil memandang gadis itu. Kata-kata gadis itu begitu sederhana tetapi begitu mengusik pikirannya. 

“Tapi bukannya yang dilakukannya itu tidak sopan?”

“Kalau dari sudut pandang para tamu, tentu saja tidak sopan,” Gadis itu terbahak.

Kei menyeringai, “Ya, kau benar. Tidak seharusnya ia membiarkan tamu-tamunya menunggu”

“Betul.” Gadis tersebut mengangguk, “Ya tapi di samping bersikap sopan kepada tamu, kuharap pangeran mau datang ke pestanya dengan senang hati.”

“...Maksudmu?”

“Tadi aku dikenalkan oleh Lady Shimizu dengan beberapa kawan dari pangeran, dan dari pertemuan singkat itu aku bisa melihat mereka sangat peduli terhadap pangeran. Aku juga berkesempatan bertemu dengan Pangeran Mahkota dan istrinya, Putri Saeko, juga dua anak kembar mereka. Pangeran Kaito dan Pangeran Hiroto tampak begitu kagum dengan paman mereka. Tadi mereka terus-terusan menanyakan keberadaan Pangeran Kei kepada kedua orangtuanya.” Gadis tersebut menjelaskan dengan penuh semangat dan wajah yang begitu berseri. “Menurut pandanganku, mungkin di satu sisi mereka kurang paham akan perasaan dari pangeran, tapi tidak bisa dipungkiri mereka ingin melakukan suatu hal yang berarti untuk ulang tahun pangeran. Jadi setidaknya kuharap Pangeran Kei bisa datang sebentar untuk menyapa sahabat dan keluarganya ini.”

Kei membisu, pikirannya begitu kosong. Ia hanya bisa mendengar suara gadis itu dan suara air yang mengalir dari pancuran di belakangnya. 

“Jikalau setelah itu ia ingin kabur dari pesta, aku tidak akan menyalahkannya.” Gadis itu melanjutkan dengan gurauan. “Ini pestanya dan ini hari ulang tahunnya, kurasa ia mendapatkan kebebasan untuk melakukan apa saja.”

“... Begitu ya.”

Belum sempat Kei selesai memproses kata-katanya barusan, tiba-tiba gadis tersebut langsung memekik.

“EH TUNGGU, BUKAN BERARTI AKU HENDAK MENYURUH-NYURUH PANGERAN! AKU HANYA MENGUNGKAPKAN PIKIRANKU SAJA. TOLONG JANGAN BERITAHUKAN—”

“Terima kasih, Nona Yachi.” Kei memotong ucapan Yachi. 

Ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis tersebut, ia juga tidak bisa menahan sebuah senyum untuk merekah di mulutnya. Kei pun langsung berdiri di hadapannya.

Yachi terbelalak dan menatap Kei dengan heran, “Eh? Untuk apa?”

“Untuk percakapannya tentu saja. Aku menjadi terhibur.” Kei mengulurkan kembali tangannya kepada Yachi. “Tenang saja, aku tidak akan memberitahukan penyusupan ini ke siapa-siapa.”

“Ah, ya. Tentu saja. Terima kasih, Tuan Hotaru.” Gadis itu tersenyum dengan lebar sambil menerima uluran tangannya. Kei pun membantu gadis itu untuk berdiri kembali. Kali ini, Kei tidak langsung melepaskan tangan gadis itu, ia menunggu beberapa detik.

“Kurasa kau harus segera kembali ke aula dansa, Lady Shimizu pasti khawatir kalau kau menghilang.” Kei berkata sebelum menghampiri Moira yang sedang tidur di pinggir kolam. Kei menepuk-nepuk tangannya pelan di dekat anjing tersebut. “Ayo Moira, antarkan kembali Nona Yachi ke aula dansa. Aku tidak mengajarimu untuk tidak bertanggung jawab, ya.”

Anjing tersebut membuka matanya dan menguap dengan lebar. Ia meregangkan tubuhnya sebelum menghampiri Yachi. 

“Seharusnya Moira bisa membawamu ke sana, tetapi untuk berjaga-jaga akan aku beritahu juga arahnya. Jadi dari sini, kau lurus saja ke arah pohon willow di sana, pohon yang paling besar itu. Lalu kau belok ke kanan sampai bertemu dengan gazebo. Dari gazebo itu, kau lurus saja mengikuti jalur semak mawar. Seharusnya nanti dirimu akan sampai di taman dekat aula dansa.” 

Yachi mengulang kembali instruksi dari Kei dan mengangguk setelah Kei membenarkan pengulangan Yachi. Setelah itu, Yachi pun membungkukkan badannya kepada Kei sembari berucap terima kasih.

“Terima kasih banyak bantuannya Tuan Hotaru! Aku berhutang budi padamu.”

“Ya, tidak masalah.”

Kei pun menatap Yachi dan Moira yang perlahan mulai berjalan menjauhinya. Belum sepuluh langkah terlewati, Kei kembali memanggil Yachi.

“Nona Yachi!”

Yachi berhenti dan menengok ke belakang, “Ya? Ada yang kurang?”

“Apakah kau suka berdansa?”

“Dansa?” Yachi mengulang sebelum tersenyum lebar, “Ya! Aku sangat suka berdansa.”

“Kalau begitu, sebagai balasan hutang budimu padaku, bisakah kau menyimpan satu dansa untukku kalau kita bertemu lagi?”

“Oh ya, tentu saja. Ingatkan aku saja kalau kita bertemu lagi, ya!”

Yachi melambai kembali yang mana Kei balas dengan lambaian pelan dan senyum. Tidak lama setelah itu, Yachi dan Moira pun hilang dari pandangan Kei.

Kei membalikkan badannya dan melangkah cepat ke arah perpustakaan. Langkahnya terasa begitu ringan. Begitu sampai di perpustakaan, ia langsung meraih dasi dan jasnya. Kei pun pergi ke sebuah cermin di dekat situ dan memakai kembali atributnya. Ia mengeluarkan sarung tangan dari saku jasnya dan memakainya juga. Ia melihat untuk terakhir kali bayangannya di cermin sebelum berjalan ke arah pintu.

“TSUKKI!”

“TSUKISHIMA!”

“Kacamata sialan.”

Pada saat yang bersamaan, pintu perpustakaannya terbuka dan memunculkan tiga sosok familiar di hadapannya. Satu orang tampak khawatir, yang satu lainnya tampak kesal, sementara yang terakhir tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.

“Jangan berteriak di perpustakaan.”

Jangan berteriak di perpustakaan ,” Hinata, yang bertubuh paling pendek di antara lainnya, menirukan. “Kau ini merepotkan sekali! Mana bisa ada manusia berulang tahun tapi malah kabur dari pestanya?!”

“Ya, kami khawatir sekali kau diculik atau semacamnya.” Yamaguchi berkata sambil menghela napas.

“Kalau aku sih tidak peduli sama sekali.” Kageyama menambahkan dengan datar.

“Ya ya, maaf.” Kei membalas sambil berlalu mendahului mereka bertiga. “Sudah ya, ayo kembali ke pesta.”

Ketiga orang tersebut mematung sambil memandang Kei yang berjalan cepat ke arah aula.

“Ini Tsukishima asli atau bukan?!” Hinata langsung berlari menghampirinya lalu memukul punggung Kei agak keras, “Sejak kapan seorang Tsukishima Kei semudah ini dibujuk untuk datang ke pesta?!”

“Kau tidak apa-apa, Tsukki?” Yamaguchi bertanya, tiba-tiba sudah di sisi lain Tsukishima.

“Mungkin tadi dia terjatuh dan kepalanya membentur rak buku,” Kageyama menambahkan seraya ia mengikuti rombongan dari paling belakang.

“Ya ampun kalian berisik sekali. Memangnya kenapa kalau aku ingin datang?! Kan ini pesta untukku juga.” Kei mendengus pelan sembari menepuk-nepuk jas dan celananya, memastikan tidak ada kotoran maupun bulu Moira yang menempel.

“HEI—”

“Baiklah, mari kita hentikan pembicaraan ini,” Yamaguchi memotong Hinata yang sudah bersiap menghardik Kei. “Lebih cepat kau muncul di pesta, lebih baik.”

Keempat pemuda tersebut berjalan cepat ke arah pintu utama aula dansa. Di dekat situ, Kei bisa melihat kedua orangtuanya menunggu. Ibunya tampak cemas sementara ayahnya bergeming, akan tetapi Kei tahu mereka sudah menyimpan paragraf panjang berisi teguran kepadanya.

Ketiga temannya tersebut izin masuk ke dalam duluan sementara Kei harus bertahan mendengarkan petuah dari ayah dan ibunya. Untungnya karena mereka sedang dikejar waktu, kedua orang tuanya tersebut menahan diri untuk tidak melanjutkan omelan mereka.

Ketika pintu kayu besar aula dansa terbuka, Kei masuk setelah kedua orang tuanya. Tepuk tangan riuh langsung memenuhi aula beserta dengan alunan piano dan terompet yang membuat telinganya pengang.

Segerombolan orang-orang yang terdiri dari para petinggi kerajaan dan kedutaan kerajaan tetangga langsung menghampirinya. Tidak hanya itu, para bangsawan dan anak putri mereka juga tidak mau kalah dalam menampilkan kehadiran mereka di hadapan Kei.

Senyum kecil, anggukan sopan, dan genggaman tangan adalah ketiga hal yang tidak absen dari interaksi Kei dengan orang-orang tersebut. Walaupun begitu, ia tidak bisa mengingat nama-nama yang masuk ke telinganya. Ia melirik ke samping dan tampak Akiteru sedang memberikan tatapan penyemangat kepadanya. Tidak jauh dari situ, ketiga temannya yang lain juga hanya bisa memberikan simpati dalam diam.

Dari sekian banyak orang yang mengerumuninya, untungnya ada lima sosok familiar menghampirinya: Tuan Kuroo, Master Bokuto, Pangeran Akaashi, dan Pangeran Lev. Mereka bercakap dengan suara yang begitu nyaring yang membuatnya cukup pusing, tetapi ia tidak bisa mengelak kehangatan yang diberikan oleh rasa akrab dari keempat orang tersebut.

Belum cukup di situ, segera setelah pamit dari keempat orang tersebut, Kei langsung diserang oleh dua keponakannya yang merajuk di hadapannya. Kei pun menggendong Hiroto dan Kaito di kedua tangannya sambil mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka dalam menghibur para tamu. 

“Bagaimana main petak umpetnya? Seru tidak?” Sebuah suara tiba-tiba muncul dari belakangnya, tak lain dan tak bukan adalah dari Saeko, kakak iparnya. Saudara iparnya yang lain, Ryuunosuke juga muncul untuk menggodanya.

Kei memutar bola matanya, mengabaikan komentar dari dua saudara iparnya tersebut. Ia justru memilih untuk mengedarkan pandangan ke seluruh aula sebelum terhenti pada satu titik di pojok ruangan. Kei langsung menurunkan kedua ponakannya dan pamit pada Saeko dan Ryuunosuke sebelum melaju melewati lautan manusia. Ia menolak dengan sopan dan singkat ajakan bicara dari orang-orang di sekitarnya. Tujuannya hanyalah satu.

Pada bagian pojok aula, dekat meja kudapan, tampak sekelompok wanita muda sedang berbincang. Salah seorang di antaranya menyadari kehadiran Kei dan langsung menyapanya dengan riang.

“Ah, ini dia sang tokoh utama! Selamat ulang tahun!” Ujar seorang wanita bertubuh tinggi dan berambut perak. Ucapannya ini sontak membuat temannya yang lain langsung mengalihkan pandangan mereka kepada Kei.

Kei menundukkan kepalanya ke arah para wanita sambil berkata, “Maaf atas keterlambatan acaranya.” Kei mengangkat kembali kepalanya dan menyapa mereka satu persatu, “Terima kasih sudah mau hadir, Putri Alisa, Putri Miwa, dan Lady Shimizu.”

Ketiga perempuan tersebut membalas dengan menunduk hormat kepadanya.

“Tadinya Tobio sudah menyuruhku untuk tidak hadir sih,” Seorang wanita berambut hitam dan bermata biru tergelak sembari memutar pelan gelas sampanyenya.

“Kalau begitu aku sungguh berterima kasih karena Putri Miwa tidak mendengarkan bisikan dari Yang Mulia itu.”

Miwa dan Alisa tertawa. Mereka pun tidak lupa mengomentari mengenai dirinya yang sudah bertambah besar dari terakhir kali mereka bertemu. 

“Oh iya, katanya Lady Kiyoko ingin memperkenalkan seseorang kepadamu,” Alisa menengok ke wanita berambut hitam di sampingnya.

“Ya, tapi sepertinya temanku ini sedikit pemalu,” Shimizu menjawab sambil membisikkan sesuatu ke sosok yang bersembunyi di belakang dirinya. 

“Mungkin karena wajahmu terlalu galak ya?” Alisa mengomentari.

“Bisa jadi,” Miwa menambahkan, “Kamu itu tampan, tapi kurang senyum saja.”

“Wajahku memang seperti ini.” Kei membela diri tanpa mengubah ekspresinya sama sekali.

“Ayo, tidak perlu malu,”

Kei mendengar Shimizu berbisik sebelum akhirnya bergeser sedikit dan mendorong perlahan seorang gadis bergaun emas ke hadapan Kei. Gadis tersebut menundukkan kepalanya begitu dalam.

“Pangeran Kei, biar aku perkenalkan dengan temanku, Nona Hitoka Yachi, anak satu-satunya dari Tuan dan Nyonya Yachi. Ia juga berasal dari Nivalis, sama sepertiku dan Putri Miwa.” Ujarnya kepada Kei sebelum mengembalikan atensinya kepada Yachi, “Hitoka, perkenalkan ini Pangeran Kei, adik ipar dari tunanganku.”

Mereka sama-sama mengulurkan tangan mereka. Kei mengatupkan tangan Yachi dan mengecupnya singkat. Berbeda dengan sentuhan tangan mereka di taman, kali ini keduanya menggunakan sarung tangan dan menggerakan tangan mereka penuh keterlatihan sesuai dengan norma kesopanan.

Yachi masih belum mau menatapnya sementara Kei tidak bisa melepaskan tatapannya kepada Yachi meskipun tangan mereka kini sudah tidak bertautan.

“Mungkin kau sudah tahu, tapi keluarga Yachi sudah melahirkan banyak generasi seniman yang hebat, termasuk Nona Hitoka ini,” Shimizu menambahkan yang langsung membuat Yachi tersentak dan membuka mulutnya.

“Tidak, aku tidak—”

“Benar sekali,” Miwa memotong Yachi tiba-tiba, “Hitoka ini yang melukis potret Tobio ketika ia berulang tahun ke-20 waktu itu. Hasilnya bagus sekali, loh. Aku sampai minta dibuatkan potret untuk kucingku juga.”

“Ah, begitu ya?” Kei membalas sambil memperhatikan Yachi yang mukanya semakin memerah. “Aku ingat potret Kageyama waktu itu, dan aku tidak menyangka kalau karya itu hasil goresan seorang gadis yang masih muda. Kau menangkap dengan baik wajah masamnya.”

Miwa menepuk pundak Kei perlahan sambil tergelak, “Tobio bisa mencak-mencak jika mendengar komentarmu.”

“Tidak hanya itu saja loh! Kau juga harus melihatnya langsung ketika sedang melukis,” Alisa menambahkan dengan semangat, “Tangan Hitoka sangat lihai sekali, aku jadi iri!”

“P-Putri Alisa juga pintar dalam melukis,” Yachi berkata, sedikit terbata-bata.

“Terima kasih, tapi tetap saja aku tidak sehebat dirimu,” Alisa tersenyum.

“Kalau begitu, mungkin aku harus meminta komisi kepada Nona Yachi ini, ya?” Kei bertanya kepada Yachi—yang hanya bisa menatap Kei dengan kikuk.

Cringgg…

Belum sempat Yachi menjawab, tiba-tiba alunan piano di aula menjadi melambat dan kini ada tambahan alunan harpa dalam melodi di malam itu. Pembicaraan mereka pun langsung berhenti seraya kelima orang tersebut mengalihkan pandangan ke arah tangga utama. Tampak pangeran mahkota sedang berdiri di dekat situ. 

Setelah mengucapkan sedikit basa-basi, Akiteru mengatakan bahwa dansa akan segera dimulai, yang mana akan dibuka oleh Kei selaku bintang utama dari pesta hari itu. Semua mata yang ada di sekitarnya pun langsung melaju kepada Kei, beberapa bahkan menatapnya dengan harap.

“Kau sudah dapat partner dansa?” Miwa bertanya kepada Kei.

“Sudah.”

“Putri Saeko?” Shimizu ikut bertanya.

“Bukan.” Kei kembali menjawab sembari memerhatikan Yachi yang tidak bisa berhenti mengedarkan pandangannya ke segala arah selain Kei. “Seseorang sudah menjanjikan untuk menyimpan satu dansa denganku.”

Ketiga perempuan tersebut menatapnya dengan bingung. 

“Jadi aku ke sini pun untuk menagih janji tersebut,” Kei kembali mengulurkan tangannya ke arah gadis yang ada di hadapannya sambil membungkukkan tubuhnya sedikit, “Nona Yachi, maukah kamu berdansa denganku?”

Alisa, Miwa, dan Shimizu terperangah dan membeku dalam posisi mereka. Kei pun bisa mendengar hembusan napas terkejut sekaligus sayup bisikan dari orang-orang yang ada di sekitarnya. 

Singkatnya, semua mata tertuju kepadanya dan Yachi. 

Akan tetapi, pada saat itu, semua tampak begitu kabur. Hanya ada satu sosok yang tampak begitu jelas di matanya, dan itu adalah Yachi yang sedang menatapnya dengan terkesima. Wajahnya jauh lebih merah dari tadi, tetapi kini ada sebuah senyum yang terpancar dari wajahnya.

Kei menghembuskan napas lega ketika Yachi membalas uluran tangannya sembari mengangguk. Kei menggenggam tangan Yachi seraya menariknya ke area dansa di tengah ruangan.

Kei menyadari bahwa tangan Yachi bergetar pelan. Ia semakin menyadari ketengangan Yachi ketika mereka berdiri berhadapan. 

Setelah membungkuk dengan hormat ke satu sama lain, mereka mengangkat kedua tangan sesuai posisi dansa waltz yang seharusnya. Kei menangkup tangan kirinya ke tangan kanan Yachi sementara tangan kanannya diletakkan di belakang dekat pinggang Yachi. 

Awalnya Yachi meletakkan tangannya yang satu lagi di pundak Kei, tetapi Yachi tampak tidak nyaman karena perbedaan tinggi mereka yang cukup jauh.

“Letakkan tanganmu di samping lenganku saja,” Kei berbisik sambil melirik ke arah yang dimaksud. 

Yachi pun menurut dan meletakkan tangannya di lengan atas Kei. 

“Maaf aku terlalu pendek,” Yachi bergumam.

Kei menaikkan kedua alisnya sebelum tertawa kecil, “Kau suka minta maaf, ya?”

“Eh… Ma—” Yachi langsung menutup mulutnya lagi sebelum akhirnya tersenyum.

Ketika musik kembali dimulai, Kei menggerakkan kakinya sambil menuntun Yachi mengikuti irama dari lantunan melodi. Awalnya Yachi tampak kikuk, ia terus menunduk memperhatikan kakinya.

“Tenangkan dirimu,” Kei berbisik, “Kau suka dansa kan? Anggap saja ruangan ini kosong dan nikmati saja dansanya.”

Yachi mengangkat kepalanya untuk menatap Kei dan mengangguk. Ia tidak lagi menyembunyikan wajahnya, justru Yachi mengunci matanya pada mata Kei. 

Kei bukanlah pedansa yang handal, tetapi Ia merasakan tubuhnya bisa bergerak dengan begitu bebas hari itu. Ketika Yachi tertawa seiring dengan dirinya yang mulai terbuai dengan tarian mereka, Kei pun tidak bisa menahan untuk ikut terlena di dalam suara merdunya.

Biasanya Kei tidak suka menjadi pusat perhatian, tapi di malam itu ia dipenuhi oleh kepercayaan diri yang mengaburkan rasa risih atas atensi yang didapatkannya. Justru, untuk pertama kalinya ia bisa merasakan kegembiraan di tengah pesta.

Setelah satu lagu selesai, pedansa yang lain ikut bergabung untuk lagu kedua.

“Maaf aku terlambat mengucapkan, tetapi selamat ulang tahun.”

“Terima kasih.” Kei terdiam “Apakah setelah ini kau akan pulang?” 

“Maksudnya?”

“Kau bilang kau akan pulang setelah bertemu dengan bocah yang berulang tahun.”

“Oh itu… Akan aku pertimbangkan lagi.”

“Tetaplah tinggal sampai pesta berakhir.”

“Eh? Kupikir Yang Mulia juga akan pergi di tengah acara?”

“Tergantung. Kalau kau tetap di sini sampai akhir, aku mungkin tidak akan kabur.”

Yachi tersenyum dan bahkan tertawa.

“Baiklah, aku juga sebenarnya sudah tidak ingin pulang lagi kok.”

Kei tidak menantikan pertanyaan dan tatapan yang akan diberikan oleh keluarga dan teman-temannya begitu dansa ini selesai. Entah apa yang akan mereka tanyakan kepadanya. Akan tetapi, satu hal yang pasti, jika ada yang bertanya mengenai bagaimana hari ulang tahunnya hari ini, maka ia akan menjawab, “Tidak buruk.”

Ya, hari ulang tahunnya ternyata tidak seburuk yang ia kira.

 

Bagian 1: Konstelasi

-Tamat-

 

Notes:

Thank you semua yang sudah mau baca! Semoga suka dan terhibur ya!
JUJUR AKU MALU BANGET NULIS + BACA ULANG INI. KEK ASTAGA, DASAR REMAJA DIMABUK ASMARA!!!!
Nulis percakapan mereka jujur cukup sulit sih, agak aneh pakai bahasa Indonesia, tapi kuharap maknanya bisa jelas ya!

Do share me your thoughts!

Bluemallow’s Social Platforms:
Writing Sideblog
Tumblr
Twitter
Bluesky

Series this work belongs to: