Work Text:
"Bukannya aku peduli," tubuhnya ia sandarkan pada badan mobil, bersamaan dengan gerak tangannya yang masuk ke dalam kantong depan hoodie. Jarak mereka cukup jauh, karena Sunoo duduk di kursi halte dengan tas berisikan pakaian miliknya terletak di bawah kaki. Tapi di bawah sorot lampu jalan yang cahayanya tidak seberapa, Sunoo bisa melihat jelas wajah lelaki itu. Bagaimana ia memalingkan wajahnya ke samping sebentar sebelum mengarahkannya ke depan dan menatap lurus pada Sunoo. "Tapi, apa yang kau lakukan di sini? Pada pukul dua pagi, jika aku boleh menambahkan."
Ditanya begitu, asam lambung Sunoo terasa naik saat mengingat kejadian dua jam yang lalu, di mana rasa percayanya disepelekan sekali lagi. Menghasilkan dirinya yang berteriak marah, mata memanas seperti akan menangis namun ia tidak menangis, semua bajunya di lemari ia masukkan ke dalam tas dengan asal. Lalu tanpa berbalik walau namanya diserukan, ia berlari menerobos malam dan biarkan dirinya terduduk lemas di halte bus pada dini hari.
Menahan rasa mual, Sunoo menjawab, "bukan urusanmu."
"Of course it is," lawan bicaranya menyahut santai. Kini matanya jatuh pada tas pakaian di dekat kaki Sunoo. "Couples fight?"
"Shut up. We are over."
"Apa?"
"Kau tuli?" Sunoo menghembuskan napas, lalu mengulangi perkataannya dengan enggan. "Aku dan dia, kita berakhir. So please stop asking, and leave me alone."
Satu alis terangkat, "wow, kau bahkan tidak ingin menyebutkan namanya." Lalu ia terkekeh. Membuatnya terlihat makin menyebalkan di mata Sunoo. "Kau yakin, kalian benar-benar berakhir kali ini? Karena terakhir kali kalian bertengkar karena dia mencium seorang gadis di bar saat dia mabuk, besoknya kalian sudah kembali akur."
Sunoo menggertakkan giginya. "It's different this time."
"And why is it different?"
"Because I saw him myself this time, naked, in our bedroom, with her ." Tangan Sunoo terkepal. "We are really over, now."
Primm adalah kota kecil yang tidak pernah tidur dengan berbagai jenis hiburan malamnya. Namun khusus untuk malam ini, Primm terasa lebih sepi. Bahkan suara kucing yang berkelahi di tempat sampah ujung jalan bisa terdengar hingga ke halte tempat Sunoo duduk. Makanya, ketika perkataan Sunoo selesai dan lawan bicaranya hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun, rasa mual Sunoo semakin menjadi-jadi.
“Jangan lihat aku seperti itu, aku benci dikasihani.”
“Katakan padaku jika setidaknya kau meninju rahangnya.”
“I did.”
“Pintar,” lawan bicaranya tidak lagi bersandar pada badan mobil. Kakinya ia pijakkan di atas paving block, dan mengambil empat langkah lebih dekat dengan Sunoo. “Jadi tadi kau menangis?”
“Kenapa kau bertanya? Kau ingin menertawakanku jika aku tadi menangis?”
“Bukan begitu, Sunoo. Maksudkㅡah sudahlah,” satu helaan napas dan putaran bola mata. “Jadi sekarang kau mau ke mana?”
“Pulang ke Barstow.”
“Di jam seperti ini? Kau pikir siapa yang mau mengangkutmu?”
Sunoo bertanya-tanya. Dari sekian banyak orang di Primm, kenapa harus Lee Heeseung yang melihat dan menemukannya dalam keadaan seperti ini? Kenapa Lee Heeseung repot-repot mau keluar dari dalam mobil ke dinginnya malam lantas menanya-nanyainya seperti ini? Mereka bahkan tidak sedekat ituㅡralat, mereka memang sempat menjadi kekasih saat SMA yang kemudian dengan ajaibnya entah bagaimana bisa, Heeseung menjadi salah satu teman dekat mantan kekasih brengsek Sunoo.
"Demi Tuhan, Heeseung!” Sunoo berseru lalu menelan ludah saat sadar tindakannya barusan membuat Heeseung menatapnya lekat-lekat. Berusaha menguasai diri, ia lalu melanjutkan perkataannya dengan nada normal. “Jika kau di sini untuk membuatku kesal ku mohon jangan sekarang karena aku lelah.”
“Masuk ke mobil.”
“Huh?”
Heeseung tidak langsung menjawab. Lelaki itu mengambil dua langkah lebar lantas meraih tas pakaian yang lebih muda dua tahun dan berkata, "aku akan mengantarmu ke Barstow." Setelahnya, ia berbalik kembali ke mobilnya sambil menenteng tas Sunoo.
***
Heeseung atau Lee Heeseung, jika Sunoo boleh mendeskripsikan, adalah bajingan beruntung yang terlahir di keluarga terpandang, dengan wajah tampan rupawan, kemampuan bersosialisasi yang luar biasa baik, otak cerdas dan pesona yang kelewat menawan; intinya, dia adalah gambaran dari semua hal yang Sunoo remaja (polos, penuh dengan angan-angan) inginkan untuk jadikan kekasih.
Dan rasanya nyaris seperti cerita dongeng pengantar tidur kala itu, saat Lee Heeseung yang merupakan senior dua tingkat di atasnya rupanya juga tertarik padanya.
Mereka berpacaran selama enam bulan. Walaupun singkat, namun Heeseung adalah yang pertama bagi Sunoo dalam banyak hal. Patah hati juga termasuk. Dan meski itu terjadi karena keduanya sama-sama masih begitu muda dan juga dikarenakan Heeseung sudah lulus menjadi siswa SMA. Tetap saja patah hati, meski tidak semenyakitkan yang kini ia rasakan, tidak akan pernah menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Jadi, setelah mereka berpisah, Sunoo tidak pernah melihat yang lebih tua lagi.
Sekali lagi, Primm walaupun kecil, tapi memiliki banyak tempat hiburan malam dan kasino yang menjadi daya tarik turis utama mereka. Sunoo sendiri tinggal di Barstow, hanya berjarak kurang lebih dua jam dari Primm. Mengikuti usul temannya, Sunoo mencoba peruntungan untuk mencari kerja di Primm selama musim panas tahun lalu setelah ia mengambil cuti kuliahㅡyang kemudian tanpa diketahuinya, menjadi awalan dari sejarah sakit hati terburuknya selama ia terlahir di dunia.
Sunoo pertama kali melihat Heeseung lagi di salah satu kasino tempatnya bekerja. Lelaki itu, dengan rambut sekelam malamnya yang ditata memperlihatkan kening, sedang tertawa di dekat salah satu meja billiard. Mungkin karena Sunoo terlalu lama memandang, Heeseung jadi melihat ke arahnya. Sunoo gelagapan saat itu, sudah empat tahun sejak mereka terakhir melihat satu sama lain. Apa yang mereka pernah jalani saat remaja sangat singkat, apakah yang lebih tua mengenalinya? Masih mengingatnya?
Dan sebulan kemudian, Sunoo kembali bertemu Heeseung namun kali ini diperkenalkan oleh mantan kekasih brengsek Sunoo yang pada saat itu baru menjadi kekasihnya selama tiga hari.
Sunoo tidak tahu jika Heeseung masih mengingatnya atau tidak. Karena lelaki itu tidak mengatakan apapun. Tapi saat mereka bersalaman, Sunoo bisa merasakan bagaimana eratnya tangan Heeseung menggenggam tangannya. Dan bagaimana mata lelaki itu seperti tidak pernah meninggalkannya selama mereka berada di satu ruangan. Ya, itu hanya terjadi di hari itu. Karena ketika mereka bertemu lagi, dengan senyum tampan di wajahnya dan sorot tatapan hangat yang dulu sering Sunoo dapatkan saat yang lebih tua selesai mengecup dalam bibirnya dan mengatakan cintanya pada Sunoo, ia menghampiri Sunoo lalu berkata, “you grew up well.”
Mata Sunoo mengerjap, “oh, jadi kau ingat?”
Heeseung terdiam selama beberapa saat sambil memandangi Sunoo, sampai akhirnya tangan besar lelaki itu tergerak untuk mengusap kepala Sunoo. Heeseung terkekeh, “bagaimana aku bisa lupa?”
Katakan Sunoo hiperbola, tapi napasnya seperti hilang saat itu juga.
Namun topik mereka pernah menjadi sesuatu di masa lalu menguap dan tidak pernah lagi dibahas sejak saat itu. Karena berikut-berikutnya saat mereka bertemu lagi, Heeseung yang mengusap kepala Sunoo malam itu seolah-olah tidak pernah ada dan berganti dengan Heeseung yang akan menjahili Sunoo sampai Sunoo melayangkan tendangan pada betisnya.
Singkatnya, di mata Sunoo Heeseung berubah menjadi sangat menyebalkan.
Tapi dari semua tingkah menyebalkan Heeseung padanya, ada satu yang membuat Sunoo sekarang termenung dengan kepala bersandar pada jendela mobil.
Heeseung pernah mengatakan, "your boyfriend is a jerk. Break up with him." Atau, “Leave your boyfriend, Sunoo. He’s a total jerk. You’ll end up hurting yourself.”
Yang lebih tua mengatakan itu bukan hanya sekali. Dulu, saat Sunoo mendengar itu, ia kesal setengah mati. Karena Heeseung adalah teman dekat mantan kekasihnya. Dan menurut Sunoo, Heeseung yang seperti itu sama sekali tidak menggambarkan bagaimana seorang teman dekat harus bersikap. Tapi sekarang, setelah semua yang terjadi, setelah kepercayaannya dipatahkan dengan percuma, it hits different.
Menghirup napas hingga aroma musk mobil Heeseung seperti memenuhi dadanya lalu menghembuskannya kembali, Sunoo memutuskan untuk memecah keheningan yang tercipta semenjak Heeseung membelokkan mobilnya untuk masuk ke jalan raya antar negara bagian dengan rute nomor 15. “Kau sudah mengetahuinya kan?”
Pandangan Heeseung tetap fokus pada jalan. “Apanya?”
“Kalau dia brengsek.” Sunoo melirik Heeseung melalui sudut matanya. “Kau sering menyebutnya begitu.”
Kekehan Heeseung terdengar. “Well, aku tidak tahu pasti kalau dia ternyata selingkuh tapi aku sudah mengenalnya terlalu lama untuk tahu jika dia tidak akan puas hanya dengan satu.” Pegangannya pada setir kemudi mengerat. “Kau… berbeda dengan orang-orang yang pernah menjalin hubungan dengannya jadi ku rasa aku harus memberikanmu peringatan secara tidak langsung? Ya, walau kau tidak mendengarkanku sih.”
“Berbeda bagaimana?”
“I know we never acted like one dan meskipun singkat, tapi tetap saja kau pernah menjadi sesuatu untuk ku, Sunoo. Aku peduli, oke?”
Sunoo tidak tahu harus berkata apa, jadi ia mengakhiri lirikan matanya dan memilih untuk mengabaikan perkataan Heeseung. “Aku kira kau hanya mengatakannya untuk membuatku kesal.”
“Aku tidak seburuk itu, kau tau.” Dengus Heeseung.
“Mhm, meskipun aku tidak tau apa motifmu mengantarku ke Barstow.”
Dilihatnya jalanan di depan lapang, Heeseung memperdalam injakan kakinya pada pedal gas. Mempercepat laju mobil. “Aku peduli, Sunoo.“ Ulang Heeseung. “Aku hanya ingin membantumu. Kalau aku meninggalkanmu di sana tadi, kau baru bisa meninggalkan Primm di pagi hari. Dan sampai saat itu, siapa yang tau jika dia menemukanmu?”
Mendengar itu sontak membuat Sunoo mengangkat kepalanya dan menoleh cepat pada Heeseung. “Dia mencariku?”
“Kau pikir sedari tadi kenapa ponselku tidak berhenti bergetar?”
Sunoo mengalihkan arah pandangnya secara perlahan pada ponsel Heeseung, yang ia letakkan di satu slot tempat menaruh benda di dekat tuas persneling. Sekarang pun, ponsel itu bergetar. “Kau memberitahu dia aku akan ke mana?”
“Tentu saja tidak tapi aku bilang kau bersamaku.”
“Dan responnya?”
“Responnya?” Kepala Heeseung tertoleh sebentar, ada senyuman di wajahnya sebelum ia kembali menatap jalan. “Dia menyuruhku membawamu kepadanya atau dia akan melaporkanku ke polisi atas tuduhan penculikan.”
Sunoo tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa. “He’s crazy.”
Heeseung mengangguk setuju, ikut tertawa. “He is. Tapi, serius,” tawa Heeseung secara berangsur hilang, digantikan dengan raut wajahnya yang berubah serius. “Tadi kau menangis atau tidak?”
Kini Sunoo kembali menyandarkan kepalanya pada jendela mobil. Menatap gurun dan gunung-gunung tinggi di luar tanpa minat. “Kenapa kau terus menanyakan itu?”
“Dan kenapa kau terus mengabaikannya?”
Menghela napas, “aku tidak menangis.”
Sebetulnya aneh. Sunoo merasa aneh. Karena tadi matanya memanas, dan ia sudah bersiap-siap untuk menangis yang sejadi-jadinya begitu tiba di halte tapi ia tidak menangis sama sekali. Hatinya sakit, dadanya terasa sesak, dan ia merasa mual, tapi semua rasa tidak menyenangkan itu tak bisa membuat air matanya keluar.
Heeseung menekan klakson saat hendak melambung mobil truk di depan mereka. Begitu berhasil melewati mobil truk itu, Heeseung berkata, “kalau begitu menangislah sekarang.”
“Ternyata kau memang ingin menertawakㅡ”
Laju mobil melambat, Heeseung memotong perkataan yang lebih muda, “apakah sakit? Apakah rasanya sakit?”
Sunoo semakin merapatkan tubuhnya pada pintu mobil dengan pipi yang menempel pada jendela yang terasa dingin. “Sakit.”
“Apakah selama beberapa saat tadi, kau merasakan duniamu hancur?”
Ia merasa putus asa. “Iya.”
Heeseung mengalihkan pandangannya dari jalan sebentar untuk melihat Sunoo dengan tubuhnya yang terlihat semakin kecil karena ia memeluk dirinya sendiri. “Then cry,” ucap Heeseung, lembut. Pandangan kembali ke jalan. “Di saat kita seperti berada di titik terendah dalam hidup, tidak apa-apa untuk istirahat sejenak, istirahat dan menangis. Tidak apa-apa untuk mengaku kalau kita dikalahkan hari ini untuk secara perlahan bangkit dan tidak dikalahkan lagi di lain hari.”
Sunoo harap dirinya adalah anak kecil lagi. Karena lutut yang terluka karena terjatuh, jauh lebih mudah disembuhkan daripada hati yang patah. Sunoo tidak tahu pasti, apakah karena itu suasana di mobil, ataukah karena rasa sakit yang tadi kembali menyengat, atau karena Heeseung dan bagaimana lelaki itu dengan suara setenang telaganya dan kata-kata penenangnya, satu bulir air mata jatuh melewati pipinya, cepat. Bagaikan meteor jatuh. Diikuti dengan buliran air mata lainnya.
Suara isakannya yang berusaha ia redam barangkali masih kurang kecil sehingga Heeseung bisa mendengarnya. Lelaki itu dengan sigap menepikan mobilnya di pinggir jalan raya rute 15 yang panjang. Suara seatbelt yang dilepaskan memenuhi mobil, diikuti dengan bisik suara Heeseung dan tangannya yang meraih tubuh kecil Sunoo. “Come here. Hugs can make everything feel way more better.”
Tercatat pukul dua dini hari, saat Heeseung menemukannya di halte.
Empat dini hari, saat Sunoo memutuskan menyerah dan membiarkan dirinya yang kelelahan beristirahat di pelukan kelewat familiar dan hangat milik Heeseung.
***
Perjalanan Primm ke Barstow yang seharusnya hanya memakan waktu dua jam, kini berubah menjadi hampir empat jam dan mereka bahkan belum bergeser dari tempat Heeseung menepikan mobilnya dini pagi tadi. Angin pagi berhembus, mereka duduk di atas kap mobil Heeseung menunggu matahari terbit.
“Are you okay, now?”
“Iya, sedikit.”
“It’s okay, it may be weeks, months, even years… but there will come a day when you look in the mirror and don’t see heartbreak written all over your face.”
“Noted. Thank you…” Sunoo menimbang selama beberapa saat, sebelum memutuskan untuk kembali menggunakan panggilan yang dulu ia gunakan untuk Heeseung. “Thank you, kak.”
Secara berangsur gelap mulai digantikan terang.
Heeseung berdehem, “kau ingat saat kau merengek ingin aku menciummu di pesta kembang api ulang tahun SMA kita, agar setiap kau melihat kembang api kau akan terus teringat dengan ciuman pertamamu?”
Sunoo tertegun, pipinya memanas. “Oh, ternyata kau mengingatnya.”
“Yeah,” Heeseung tertawa canggung. Tatapan ia arahkan ke langit, tidak berani menatap Sunoo di sampingnya walau sekarang mata pemuda itu terarah padanya. “I have something to tell you.”
“Kak,” senyum jahil tercipta di wajah Sunoo. “Jangan bilang, jika selama ini kau tidak pernah move on dariku.” Candanya.
“Yes, I am.”
“..... What?”
