Work Text:
dalam balutan kardigan rajut, dalam diam bibir dan cekatan tangan. berisik pena di atas kertas. menulis kata dan angka dalam agenda dan laporan keuangan. keningnya berkerut halus, penuh konsentrasi. tenggelam dalam bukunya, dalam dunianya. ia tak peduli bahwa ia sedang diperhatikan diam-diam. saat ini, saat seperti ini persis mengingatkan aran pada masa remaja tanggung mereka. kala mereka masih kesulitan mengenal diri sendiri untuk mengekspresikan perasaannya dengan benar; pada momen ketika aran mencintai shinsuke dalam diam.
malam semakin larut, aran tahu karena shinsuke tak mengatakan apapun ketika aran duduk di belakangnya dan mencium bahunya tanpa aba-aba. kemudian leher. kemudian ia menemukan tangannya melingkar di pinggang kekasihnya dan shinsuke berhenti menulis. pena masih di tangan. biasanya ia akan menggerutu ketika diganggu melakukan sesuatu.
“aku nyalain lilin, mau gak?”
lilin aroma cendana. atau vanilla kadang. mereka selalu punya di rumah karena nyonya ojiro selalu memastikan shinsuke punya lilin untuk dinyalakan kala ia butuh sesuatu guna menenangkan pikiran.
“aku selesai bentar lagi.”
"itu jawaban buat pertanyaan lain.”
shinsuke tertawa, ia menoleh ke arah aran yang duduk di belakangnya. “enggak perlu, aran, ini kerjaannya udah mau selesai.”
“good.” aran memberi kecupan di pipi kekasihnya. shinsuke tertawa lagi, kali ini tubuh mungilnya bersandar pada tubuh aran yang lebih besar. “kamu ketawa terus dari tadi berarti udah saatnya istirahat.”
“orang ketawa tuh bukan karena capek sih biasanya. tapi karena senang.”
“siapa tahu kamu punya cara sendiri.”
satu tangan membelai rahangnya, jemari halus menelusuri janggut tipis yang aran sengaja tak cukur. mata shinsuke tak lepas dari matanya, tampak sayu dan separuh tertutup. tampak lelah dan bahagia.
“aku ngantuk,” dia mengumumkan akhirnya dengan hela napas halus. aran ingin memilikinya seperti ini seumur hidup; mengantuk, kepayang dan puas dalam dekapan.
"mau aku gendong?"
shinsuke meringis kemudian menjauhkan diri untuk berbenah meja kerjanya. "jangan. aku takut kepalaku kejedot kusen pintu."
"siapa yang mau jedotin kepala kamu ke kusen pintu?"
"bukan kamu, bukan aku. akaashi-san kemarin benjol gede banget di keningnya. katanya gitu, kejedot gara-gara osamu gendong dia ke kamar."
aran tak sanggup menertawakan apapun meski dalam situasi lain mungkin ini akan terbahak. misal: ketika ia menanyakan langsung ke osamu garis miring menggodanya sampai pria miya tersebut salah tingkah. namun bayangan akaashi keiji benjol di kening gara-gara alasan konyol membuatnya mau tak mau meringis. "akaashi-san tinggi. itu samu gak nyadar apa ya."
shinsuke terkekeh, ia mengulurkan tangan untuk membantu aran berdiri. buku dan alat tulis sudah dibereskan ; sudah siap untuk beristirahat. "buta kalo udah jatuh cinta, semua gak keliatan yang penting gendong ayang ke kamar. emang kamu gak gitu apa?"
lugas, bercanda. "engga."
shinsuke memutar bola mata. "iya deh."
tak ada yang mengantisipasi bagaimana aran meraih tubuh shinsuke membuat pria tersebut memekik ketika ia tak lagi memijak lantai dan tangan aran menopang tubuhnya di paha dan di punggung. tawa aran mengiringi tawanya. lebih keras ketika mereka mencapai bibir pintu karena takut terantuk pinggirannya. ruangan tersebut hanya ruang kecil seluas 3 x 4, menghadap pada kolam ikan yang menghadap rumah tetangga dipisah oleh pagar tinggi. bila gaduh tawa shinsuke terdengar sampai ruang pribadi mereka, maka aran hanya berharap mereka maklum dan pura-pura tidak dengar. buta kalo udah cinta, semua gak keliatan yang penting gendong ayang ke kamar, ia harap mereka berpikir begitu toh shinsuke jarang tertawa. mungkin ini jadi satu dari sekian hal dari shinsuke yang aran bagi dengan mereka.
tawa berat familiar, pipi yang mudah memerah saat ia kelelahan atau saat ia kewalahan akan emosinya sendiri. mata yang cemerlang keemasan, meredup kala sang empunya mengantuk. kulit pucatnya kini berubah cokelat karena banyak dipanggang matahari. kini shinsuke ada di ranjang mereka. di kamar yang mereka bagi untuk berdua tapi aran masih ingat pada masa remaja tanggung mereka. kala mereka masih kesulitan mengenal diri sendiri untuk mengekspresikan perasaannya dengan benar; pada momen ketika aran mencintai shinsuke dalam diam.
kini sudah banyak yang berubah sejak saat itu. kini aran tak lagi memperhatikan dalam diam; aran biasa dengan sorak sorai, dengan mereka yang terang-terangan menginginkan perhatiannya. dari mereka aran coba belajar; menarik shinsuke untuk balas memperhatikannya. maka ketika berhasil, aran tahu caranya kemudian untuk menarik pria tersebut untuk balas perasaannya.
emosinya menggelegak tanpa permisi. dulu ia tak pernah bermimpi akan mendekap shinsuke seperti ini, kini ia punya shinsuke sepenuhnya dalam perhatiannya. dikecupnya kening pria tersebut untuk mengurai pikirannya satu persatu. shinsuke suka saat mereka seperti ini. dunia berasa berputar lebih lambat, katanya. tak ada nafsu, tak ada sentuhan menggairahkan. hanya mereka melepas penat dan saling hadir untuk satu sama lain.
malam semakin lanjut, lampu-lampu sudah padam dan urusan mereka dengan dunia sudah selesai hari ini. shinsuke menceritakan sesuatu sebagai penutup, aran tak tahu apa ia tertidur di tengah cerita atau setelahnya. tapi ia ingat bibir lembut menyapu pipinya, ia ingat shinsuke menggumam: terima kasih sudah bersamaku.
