Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 8 of Octoberabble 2022
Stats:
Published:
2022-10-10
Words:
627
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
43
Hits:
237

sweet snippets

Summary:

Fragmen kehidupan berpacaran ala Piko dan Ucup.

 

#Octoberabble : Day 10 - Forget

Notes:

Mencuri Raden Saleh bukan punya saya. Sesungguhnya saya nggak punya apa-apa, karena semua hanyalah titipan Tuhan.

#Octoberabble : Day 10 - Forget

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

 

i.

Ucup menahan diri untuk tidak melirik.

Gagal.

Piko tertawa, terlampau gembira saat menyadari bahwa Ucup dan segala persona tukang godanya luruh, bila dihadapkan dengan kenyataan.

"Kalo mau gandengan, bilang aja kali, Cup."

Ucup tersentak.

Tapi toh, tangannya meraih jemari Piko malu-malu pada akhirnya.

 

 

ii.

Ucup membatu.

Kali ini Piko tidak memperhatikan. Terus saja, ia berceloteh panjang lebar, menumpahkan segenap keluh kesah, tanpa tahu bahwa ia mungkin tidak didengarkan.

"Dan lo tahu apa yang paling ngeselin? Gue harus revisi semuanya. Semuanya, Cup! Sinting emang dosen satu itu!"

Bagaimana Ucup mau mendengarkan, kalau telinganya dipenuhi gemuruh detak jantungnya sendiri?

Bagaimana Ucup bisa menyimak, jika Piko yang menempatkan diri dalam pelukannya, sukses membuat separuh kerja otak Ucup berhenti?

"Cup, lo denger 'kan, gue ngomong apa?"

 

 

iii. 

"Mau kemana?"

Rasanya bagai diguyur air dingin, saat sedang ngantuk-ngantuknya, Ucup nyaris mengeluarkan pekikan tidak elegan.

Piko tidak menghiraukan, tangannya merangkul pinggang Ucup, melarangnya untuk beranjak, menawannya untuk tidak pergi dari kenyamanan ranjang yang mereka bagi.

"Mandi," Ucup menjawab otomatis.

Piko mendengkus, ditarik laki-laki yang dalam rangkulannya, lebih dekat.

"Sepuluh menit lagi," gumamnya, tanpa membuka mata. "Gue masih ngantuk, ayo balik tidur."

Ucup mengikuti saja, sebelum otaknya sempat memproses bahwa klausa "Ucup mandi" dan "Piko tidur" seharusnya tidak saling berkaitan.

 

 

iv.

"Capek."

Ucup otomatis menggeser posisi.

Piko menempatkan diri.

Bersandar pada bagian depan badan Ucup, Piko menghela napas.

Pelan dan berat.

"Capek," ujarnya sekali lagi. Ucup refleks mengeratkan peluknya.

Piko mendongak.

"Mau begini terus."

 

 

v.

Piko tidak tahu harus berkata apa.

Ucup mengangkat alis, penuh tanya.

"Kenapa?"

Piko menggeleng. Ketika Ucup kembali menghibahkan kulit ayam goreng ke piringnya, Piko tak bisa berhenti menyeringai.

 

 

vi.

"Temennya enggak beli, A'?"

Bahu Ucup menegang.

Piko menerima semangkuk styrofoam, tak luput memperhatikan reaksi itu. Ia terkekeh, sembari menyodorkan kertas hijau kepada sang gadis penjual.

"Pacar saya nggak suka Jasuke, Teh."

 

 

vii.

Tuktuk terang-terangan menggerakkan alis dengan maksud sugestif ke arah Gofar.

Gofar melempar pandang bingung pada Fella.

Fella berusaha menahan tawa, namun gagal total saat Sarah membuka mulut.

"Yang bener aja, justru Ucup yang kagok dan jadi super awkward setelah kalian official?"

Piko hendak memulai argumentasinya, tapi Ucup memotong.

"Bilang aja lo iri."

 

 

viii.

"Katanya lo wajib ciuman paling nggak sekali pas naik bianglala."

"Lo kebanyakan nonton film."

"Yeee, ngaku deh, lo paling juga grogi pas udah di atas, sampe nggak bisa ngelakuin apa-apa."

"Gue jadi inget, tempo hari nonton Love, Simon terus—"

Ucup merona.

Pun Piko.

Dua gadis yang sibuk mengobrol di depannya mematung, ketika keduanya bergandengan.

"Bilang kalo lo barusan liat apa yang gue lihat!"

 

ix.

"Dua bulan, eh enggak, tiga bulan." Jeda. "Atau malah mau jalan empat, lima bulan? Sumpah, kerasanya tuh kayak udah bertahun-tahun, Tuk. Mungkin karena ini Ucup, jadi gue ngerasa kayak nggak ada yang berubah."

"Tuktuk?" Ucup menyapa, menanggalkan jaket dan meletakkan ransel. Telunjuk menunjuk Piko dan ponselnya. "Ngomongin apa?"

Ia sudah setengah memutar kursi untuk duduk, ketika Piko bersuara.

"Udah berapa lama kita pacaran."

Pantat Ucup meleset dari kursinya. 

"Tuktuk bilang, nggak selama yang gue pikir. Padahal gue ngerasa udah lama banget kita pacarannya."

Piko lupa, bahwa pacaran tidak mengubah posisi mereka sebagai dua orang mahasiswa yang berbagi tempat tinggal. Atau membuat mereka melakukan rutinitas dengan berbeda. Meskipun...

"Udah ya, Tuk, lanjut kapan-kapan. Gue mau nge-cas dulu."

Colokan di seberang sana, di bawah lemari televisi. Charger tergeletak di meja.

Mengisi daya, bukan dalam artian sebenarnya: Piko mengalungkan tangan di leher Ucup, membenamkan wajah di antara rambut hitam sebahu.

"Diem dulu," titah Piko, Ucup kembali membatu. "Gue lagi nge-cas."

 

 

 

x.

Takjub, begitu ekspresi Ucup.

"Kadang gue lupa, lo tuh punya gue."

Piko tergelak, menarik wajah Ucup mendekat dengan harap kata-kata yang terucap bisa terdengar lebih jelas.

"Gue bakal selalu jadi punya lo, Cup."

"Kayak gue yang selalu bakal jadi punya lo, Pik?"

Piko mendaratkan kecupan cepat di bibir Ucup.

"Betul banget."

 

 

 

 

 

Notes:

Entahlah, saya buntu ide.

Series this work belongs to: