Actions

Work Header

mcd nearby, same order same time?

Summary:

Dua orang yang terjebak riuhnya McDonald's terpaksa berbagi satu meja. Siapa sangka satu pertemuan tidak ideal membuahkan banyak pertemuan lainnya.

Chapter 1: pertemuan perdana

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Malam itu panas sekali di pertengahan bulan Juni.

Dan yang seperti semua orang ketahui, McDonald’s merupakan restoran keluarga yang akan selamanya sesak entah dalam kondisi apapun, di bulan manapun, apalagi kalau memasuki jam makan malam. Seolah-olah satu dunia memutuskan tak memasak apa-apa dan menyerbu pintu masuk McDonald’s untuk kemudian berbaris (untung masih sopan dan tidak desak-desakan) di hadapan layar sentuh dan memijit-mijit agar dapat menu makanan malam sesuai yang diinginkan.

Tak terkecuali Monika Shin, yang kala itu berhasil menyelinap kabur dari pekerjaannya (juga tawaran makan bersama seorang kolega yang… sama sekali tak menarik minat wanita berusia 36 tahun itu) dan berakhir bersama puluhan orang lain di restoran cepat saji tersebut.

Bahkan ia sendiri tak mengerti kenapa kaki dan otaknya memutuskan pergi ke McDonald’s. Ia hapal betul betapa sesaknya restoran ini tiap jam makan malam. Tapi apa daya? Sudah di tengah antrean, tak mungkin ia keluar dan menyia-nyiakan kesempatan yang didapatkan. Maka, setelah pasangan super lama di depannya berhasil membayar pakai kartu kredit dan bergeser menuju meja mereka sendiri, Monika maju dan dengan sigap menekan-nekan layar. Di dalam kepalanya ia telah memutuskan mau makan apa, sehingga tak sampai lima belas menit, wanita itu sudah membayar dan kini menunggu di sudut yang mestinya ditempati berdua sembari mengetukkan jarinya di atas meja.

Belum lagi pesanannya datang, belum pula teriakan dua anak kecil dari seberang ruangan tertelan oleh tawa murid SMA yang sepertinya baru pulang dari les pelajaran tambahan — pandangan Monika mendadak ditutupi oleh tubuh mungil yang mengenakan kaos kebesaran warna hitam dengan cetak sablon bergambar bunga matahari besar sekali di tengah. Kaos tersebut lantas dimasukkan serampangan ke dalam celana jins yang (entah bagaimana) juga sama kebesarannya.

“Hai. Is this seat empty? I’ve looked everywhere and apparently, this is the only seat that —”

Monika mengangkat wajah dan melihat seseorang yang tidak mungkin lebih dari umur dua puluhan menatap balik ke arahnya, suara perempuan tersebut yang tadinya cukup vokal mendadak berubah jadi cicit ketika mereka berpandangan. Namun yang membuat Monika terkejut adalah betapa mudahnya ia mengangguk dan mempersilakan si perempuan mengambil duduk di hadapannya. Monika tak pernah melakukan itu sebelumnya.

Ia bukan tipe orang yang mudah percaya, apalagi mau-maunya berbagi tempat duduk dengan orang asing. 

Akan tetapi, tentunya ini merupakan sebuah situasi klise di mana selalu akan ada kali pertama. Mungkin Monika hanya kasihan, atau penasaran sebab kenapa perempuan ini masih memaksa makan di tempat jika tau satu restoran sudah penuh, atau mungkin ingin bertanya apa alasan di balik keputusan fesyen yang sama sekali tak masuk akal bagi Monika: memakai baju terlampau kebesaran saat wanita itu yakin, ujung kepala si calon lawan bicara tak akan sampai melewati bahu Monika sendiri.

“Terima kasih,” ujar perempuan itu, lantas mendudukkan diri. Kentara betul tidak nyaman, sebab dari sudut mata Monika yang pura-pura mengalihkan pandang untuk memperhatikan layar pesanan, ia dapat melihat si perempuan bergerak-gerak di kursinya. Kadang mengetukkan jemari ke atas paha, menengok kanan dan kiri seolah mencari hal lain untuk diperhatikan, hingga akhirnya menatap kosong meja makan yang tak memiliki apa-apa di atasnya.

Gerah mengamati pemandangan menyedihkan ini, Monika angkat bicara lebih dulu.

“Um… No friends? No, nothing?”

Perempuan itu terlonjak sedikit di kursinya. Lalu secara reflek menyelipkan rambut ke belakang telinga, sebelum memberikan senyum simpul dan menggelengkan kepala. 

“I rarely come here with friends. I like the silence.”

Kali ini Monika mengerutkan dahi, mengedarkan pandangan untuk mengecek barangkali perempuan di hadapannya membicarakan mengenai restoran lain sebab… sebelah mananya dari McDonald’s pada jam makan malam yang bisa disebut hening?

“I’m sorry, but are we even talking about the same place? Because I swear to God, I heard a baby screaming from the second floor of this restaurant just a few seconds ago.”

Perempuan di hadapannya terkekeh, mau tak mau membuat Monika tersenyum di luar keinginannya sendiri sebelum memiringkan kepala dan menagih jawaban dari si lawan bicara. “So?”

“Right,” perempuan tersebut menggeleng-geleng geli. “Yeah, we’re talking about the same place. But what I meant was, kalau sendiri kan tetap hening. Aku sukanya tuh the ambience… tapi emang nggak gitu minat kalau perginya ramai-ramai. Karena lebih enak nonton orang-orang yang ada di sini, you see. Fun aja, banyak yang aneh-aneh tiap harinya.”

Monika menautkan jemarinya sendiri, lantas mengangguk paham. Tak lama kemudian, pesanan mereka berdua datang. Yang satu memesan kopi panas dan yang lain es kopi, tapi keduanya ditemani oleh satu porsi kentang goreng ukuran besar yang memancing tawa walau tak disengaja.

“Alright. So you’re hungry and a fan of coffee.”

“I can see that you are too,” balas Monika. 

“Diana.”

“Monika.”

“It’s nice sharing a table with you.”

“Well, glad to know that the feeling is mutual.”


Sepuluh menit pertama hanya berisikan hening dan sesekali suara menyeruput kopi, atau terkadang digantikan oleh bunyi sedotan yang beradu dengan es batu dalam gelas es kopi milik Diana. Sebelum Monika gatal sekali ingin bertanya, yang lantas menandai permulaan debat tak resmi mereka mengenai pilihan baju Diana.

“Harusnya kamu pakai sesuatu yang lebih pendek dan celana yang lebih panjang. Something like high-waist jeans? It will do the trick.”

“What trick?” Diana bertanya, kerutan kecil nampak di dahinya tanda perempuan itu sudah menyiapkan jawaban yang akan digunakan untuk menangkis masukan Monika.

“...supaya lebih tinggi?” tanya Monika, tak seyakin sebelumnya.

Mata Diana yang membelalak jelas ampuh membuat nada suara Monika berubah dari profesional menjadi cicitan. Siapa sangka anak ini punya begitu banyak amarah dalam diri, sampai-sampai Monika mendapati dirinya mundur sekitar dua senti dari meja yang ditempati.

“This feels comfortable.”

“I know, but you look like a kindergarten student who just raided her emo older brother’s wardrobe.”

“And what if I did?”

“There’s no way.”

“Yeah… you’re right. I don't have an emo older brother.

Diana mengangkat bahu, lantas mengunyah lagi satu kentang goreng yang ia hemat-hemat sembari matanya terpatri pada layar laptop. Selewat beberapa pertanyaan basi, Monika mengetahui kalau Diana memang biasa kabur ke McDonald’s untuk mengasingkan diri sekaligus membereskan pekerjaannya yang super macam-macam itu.

Tidak seperti Monika yang menghabiskan setengah hidupnya membangun karir sebagai penari sampai bisa mendirikan studio tari sendiri, Diana bekerja serabutan dan sangat bervariasi. Bagi Diana menyedihkan, dari sudut pandang Monika justru sangat menyenangkan.

“Tapi aku jadi bingung tiap kali orang tanya kerjaanku apa!”

“Kan kamu bisa bilang jadi freelancer aja, Na?”

“Yeah but it… doesn’t feel like a real job.”

“You’re literally juggling four different jobs at the same time, how are they not real?”

Diana mengangkat bahu, mengerucutkan bibir sebelum menyesap es kopinya yang tinggal seperempat. Pesanan Monika sendiri sudah tandas lima menit lalu dan wanita itu hanya menonton Diana berpindah-pindah pandang antara mata Monika dan pekerjaannya di layar.

Pukul sembilan lewat dua, yang lebih muda akhirnya menutup laptop miliknya.

“Selesai!”

“Great. It wasn’t that long. Just two hours and five minutes, I wasn’t bored at all.”

Monika berucap santai, jemarinya diketukkan ke atas meja sementara ia memerhatikan kalau sudah banyak kursi yang kosong selama Diana menyelesaikan pekerjaannya yang entah apa. Si lawan bicara tersenyum getir, lalu memberanikan diri mengetuk ruang kosong persis di sebelah jemari Monika untuk mengambil perhatian wanita itu.

“Kamu bisa pulang aja, toh…”

“Yeah… I didn’t feel like it. It’s fun to see someone else working. Usually it’s just me staring at myself from a small mirror that I keep on my working desk at the office.”

“That is very narcissistic... although I know you don’t mean it that way.”

“Yeah. So, why McDonald’s?”

“Why not?” Diana balas bertanya, kepalan tangannya yang tadi berada sebegitu dekat dengan milik Monika telah dijadikan topangan dagu. Sementara perempuan itu (yang betulan berumur dua puluhan awal — lagi-lagi ditanyakan Monika selepas kentang gorengnya yang kelima) menatap Monika penuh-penuh, seakan tak mau ketinggalan satu kata pun yang diucapkan oleh lawan bicaranya.

Monika membuang muka dan berdeham untuk alasan yang tak akan pernah ia akui pada Diana.

“I asked you first, Na.”

“Well, I asked you second?”

Kali ini tatapan Diana dibalas dengusan dan pandangan tajam dari Monika, mau tak mau membuat yang lebih muda memberikan cengiran bersalah sebelum mengangkat kedua tangannya ke udara. “Iya, iya. Maaf.”

Just like what I’ve told you earlier. It’s fun here. You get to see a lot of people doing a lot of things. Ada lah keluarga, ada lah anak-anak SMA bawel, ada juga pasangan yang bertengkar lalu baikan lagi. Lucu-lucu pengunjung McD, tuh,” lanjut yang lebih muda.

Monika mengangguk perlahan, kemudian berucap lagi setelah membiarkan dirinya terdistraksi oleh iklan McDonald’s yang terpampang di layar dekat tempat duduk mereka, “this is actually my first time going here after… six? Eight years?”

“Hah? No fucking way.

Tidak tau apa yang lebih lucu. Kerutan pada dahi Diana yang begitu dalam seolah-olah Monika memberitahunya kalau baru saja ia membunuh orang sebelum makan di restoran tersebut, atau seberapa keras volume suara Diana sampai pelayan yang membereskan dua meja dari mereka mau tak mau menoleh saking kagetnya, atau kedua tangan Diana yang ia rentangkan lebar-lebar, sama sekali tak percaya atas apa yang didengarnya dari Monika.

“Yang bener aja!”

“Serius.”

“How…?”

“I’ve been trying to eat healthier.”

“Ew… I’m not touching this topic, let’s move on.”

“Let’s go home, actually. It’s almost ten,” ujar Monika, mengerling pada jam di layar ponselnya yang menunjukkan kalau restoran tersebut akan tutup dalam dua puluh menit.

“Oh.”

Monika hampir memiringkan kepala dan menaikkan sebelah alisnya. Terlalu banyak kekecewaan yang terkandung dalam nada bicara Diana, padahal ia hanya menyebutkan satu kata. Namun Monika membiarkan hal tersebut lewat begitu saja dan mereka berdua mulai membereskan barang masing-masing. 

Begitu selesai dan Monika bangkit dari kursinya lebih dulu, Diana tetap bergeming. “Kamu nggak pulang?”

“My sister wants me to bring her something, you can go first. It’s alright.”

“Okay.”

Wanita yang lebih tua baru mengambil tiga langkah menjauh dari meja yang ditempati, saat Diana menggeram kesal dalam hati sebab kepalanya berdengung bising sekali tak mau berhenti — 

“Uh… same order, same time — two weeks from now?” Diana bertanya dalam cicit tak yakin (seperti di awal pertemuan mereka tadi) sembari menggigit bibir bawahnya, sementara Monika harus mati-matian menahan diri agar tidak tersenyum kelewat lebar daripada yang ia intensikan.

“Sure.”

“Alright. It was nice sharing a table with you, really. See you when I see you.”

“It was indeed nice. See you when I see you, Na.”

Notes:

I just want to talk with Monika in a crowded McDonald's.