Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-10-15
Words:
3,139
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
237
Bookmarks:
5
Hits:
5,128

My Precious

Summary:

Haechan tidak pernah membayangkan memiliki seorang anak dari seorang pangeran kerajaan. Namun ia sangat menyayangi satu-satunya sumber cahaya di kehidupannya tersebut, buah hati yang ia cintai dan paling berharga dalam hidupnya.

Notes:

(!) Male pregnant (mpreg)

Work Text:

Aku tersenyum sumringah mendapatkan kabar bahwa ia kini telah terlahir ke dunia dengan sehat dan selamat. Segera saja beberapa orang mendekatiku dan lalu menaruh bayi mungil yang manis itu di samping tubuhku yang tengah terbaring lemah sehabis mempertaruhkan nyawa.

"Dia manis sama sepertimu," ujar salah satu wanita paruh baya yang sudah membantu semua prosesi kelahiran bayiku. Aku tersenyum manis dan mengucapkan terimakasih kepadanya.

"Di mana ayah dari bayi ini?"

Sebuah pertanyaan yang selanjutnya terlontar membuat senyumanku memudar seketika dan terganti dengan seulas senyum lemah. "Dia tidak ada," jawabku seadanya. Semua orang di sini langsung menatapku terkejut dan ada pula yang menatapku prihatin.

"Maaf, apakah ia sudah tiada?" Sekali lagi, pertanyaan mengenai ayah dari bayiku terdengar. Bukannya aku enggan untuk memberi jawaban, hanya saja aku terlalu lemah untuk menceritakan semuanya.

"Tidak, dia masih hidup."

Pria itu memang masih hidup tentu saja, bahkan ia tinggal di sebuah kerajaan yang mewah dan mungkin dikelilingi banyak wanita cantik.

Jika bertanya kenapa demikian, jawabannya karena ayah dari bayiku ini adalah seorang pangeran berdarah biru. Ia sangat tampan dan kaya, tahta dan kekuasaan sudah ia genggam di tangannya bahkan sejak dirinya terlahir ke dunia. Hanya tinggal menunggu ajal sang Baginda Raja, maka ia akan menggantikan posisi beliau sebagai satu-satunya putra.

Berbanding terbalik dengan diriku yang hanya rakyat kecil di kerajaannya. Mendiang ayahku adalah seorang pembantu—atau mungkin pelayan yang tinggal di kerajaan. Sedangkan ibuku yang kini entah dimana, dulunya adalah seseorang yang diperintah untuk melayani para prajurit dalam artian baik. Ibu biasanya akan mengantarkan masakan atau minuman kerajaan, juga melayani mereka selayaknya seorang pelayan. Tak jauh berbeda dengan ayah.

Bagaimana aku bisa mendapatkan seorang anak dari pangeran adalah sesuatu yang bahkan tidak aku percaya.

Saat itu, seperti biasa aku ingin pergi ke ruang pelatihan di kerajaan untuk mengantarkan makanan kepada ayah dan ibu. Namun tanpa disangka, aku justru malah bertemu dengan sang pangeran yang tengah melatih para prajuritnya di sana. Seperti kisah novel dan dongeng, aku pada akhirnya jatuh hati padanya dan kami pun mengikat janji, secara diam-diam tanpa ada yang tahu. Bahkan hanya aku, pangeran, dan seorang pendeta yang tahu. Tidak ada orang lain.

Masih teringat jelas bagaimana pada saat itu pangeran menyuruhku untuk pergi beberapa hari setelah pengikatan janji tersebut.

 

"Mungkin lebih baik jika kau bersembunyi."

Aku menoleh pada sosok pria berkulit putih dengan rambut pirangnya yang terang secerah langit pagi itu, mengernyit kebingungan dengan ucapannya barusan. Kedua matanya menatap ke arahku dengan raut wajah yang sulit seperti sedang ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

"Haechan, bagaimana pun aku adalah seorang pangeran dan kelak akan menjadi penerus raja," ujarnya pertama. Aku tahu itu, tentu saja. "Aku tidak mungkin bisa memunculkanmu begitu saja walau kita sudah menikah, apalagi kau seorang lelaki."

Bagai terhujam benda besar yang begitu keras, hatiku hancur. Ucapannya tadi sama saja mengusirku, bukan? Apakah dia menyesal dan membenciku sekarang setelah malam-malam yang kita habiskan bersama beberapa waktu lalu?

"Maka dari itu, pergilah dari kerajaan ini untuk—"

Tidak lagi kudengarkan ucapannya itu. Indera pendengaranku terasa pengang dan tak bisa mendengarkan dengan jelas. Aku hanya bisa tersenyum getir padanya.

"Aku mengerti."

Menuruti permintaan sang pangeran yang begitu aku cintai dengan sepenuh hati, aku pun pergi meninggalkan kerajaan ini. Mencari tempat sejauh yang aku bisa sesuai dengan keinginan suami kesayanganku, namun hidup seperti berjalan melawanku, aku mengandung beberapa minggu kemudian tanpa ada satu orang pun yang tahu bahwa anak yang tengah berada di perutku adalah anak pertama dari seorang putra mahkota.

 

"Oh Tuhan, lalu di mana ayah bayi ini?" Seorang wanita yang terlihat paling muda di ruangan ini bertanya dengan menatapku bingung, membuatku tersadar dari lamunan masa lalu. Aku hanya memberikan senyuman kecilku padanya.

"Dia—"

"Sudah Winter, bukankah Haechan harus istirahat sekarang?" Lerai Jeno, seseorang yang memang selalu membantuku belakangan ini, dia sangat baik. Jeno adalah orang pertama yang mengetahui keadaanku yang tengah hamil tanpa mencerca apalagi menghakimi sedikitpun, mengingat aku lelaki dan tidak memiliki siapapun apalagi suami ketika datang ke tempat ini. Aku tersenyum padanya sebagai tanda terimakasih dan mengucapkan bahwa aku butuh istirahat sejenak, tubuhku rasanya masih begitu lemah.

o0o


Beberapa tahun kemudian.

Bayi mungilku kini telah tumbuh menjadi seorang pria kecil yang sangat tampan dan pemberani. Wajahnya sangat mirip dengan pangeran, membuatku sempat khawatir ada yang sadar akan hal itu. Tapi sejauh ini semuanya tampak baik-baik saja.

"Baba!" Pria kecilku berseru riang sembari berlarian ke arahku yang tengah menimba air.

"Perhatikan langkahmu, sayang," ujarku memperingatinya. Ia tak begitu memperdulikan ucapanku dan tetap berlari ke arahku dengan semangat membuatku terkekeh pelan.

"Baba! Lihatlah apa yang kudapat!" Kedua matanya tampak berbinar ketika menunjukkan sebuah gelang cantik dari liontin dan kerang-kerang kecil padaku.

"Ah, cantiknya."

"Hmph! Aku membuatnya bersama Nuna Winter. Baba, ini untuk Baba," katanya seraya mengangkat tangan ke udara, memintaku secara tak langsung untuk menunjukkan pergelangan tanganku agar ia bisa memasangkan gelang tersebut. Aku hanya menurut dan kini ia memakaikan gelang itu padaku.

"Wah! Sangat cantik begitu dipakai oleh Baba!"

Aku tertawa kecil melihat antusiasnya. Kuangkat tanganku untuk mengusap pucuk kepalanya yang kini telah ditumbuhi oleh helaian rambut pirang yang begitu halus. Bahkan rambutnya pun sangat mirip dengan rambut pria itu. Beruntunglah mereka memiliki warna mata yang berbeda, jika tidak mungkin pria kecilku bisa disebut duplikat pangeran.

"Kau lapar, Andy?" Aku mengangkat kembali tanganku dan kini beralih mengangkat seember air yang baru saja aku timba. Andy dengan sigap membantu mengangkat ember yang lainnya, aku pun mengucapkan terimakasih padanya. "Baba memasak sup jagung kesukaanmu."

Begitu mendengar ucapanku, wajah Andy—anakku—langsung bersinar cerah. Ia melompat kecil dan berseru riang sepanjang perjalanan menuju ke rumah, sungguh pemandangan yang menyejukkan hati.

Kami sampai di rumah kemudian. Aku segera menaruh kedua ember berisi air ke kamar mandi dan lalu berjalan ke dapur untuk mengambilkan anakku makan. Aku cukup beruntung masih mempunyai sisa bahan pangan untuk membuatkan Andy makanan kesukaannya, mungkin besok aku harus pergi ke desa dan mencari pekerjaan lagi agar bisa selalu membuatkannya makanan yang lezat.

"Woa! Sup jagung! Sup jagung!"

Seruan Andy membuat hatiku menghangat. Betapa beruntungnya diriku memiliki anak sepertinya. Andy hampir tidak pernah mengeluhkan apapun kepadaku, ia menerima semua yang kuberikan padanya. Seperti hidangan sederhana hari ini, Andy yang begitu bersemangat membuatku merasa lega.

Andy sudah bersiap di meja makan, aku pun segera menghidangkannya ke hadapan Andy. Tanpa membuang waktu, ia segera melahap dengan senang hati sup jagung buatanku tersebut.

"Bagaimana?"

"Lezat! Seperti biasa," jawabnya sambil mengunyah dan mengangguk-angguk kecil. Aku tertawa melihat tingkahnya yang menggemaskan. "Baba yang terbaik, terimakasih makanannya."

"Andy," panggilku di sela ia tengah memakan makannya. "Baba akan mulai bekerja besok, apa kau ingin ikut?"

Andy yang baru saja akan kembali menyendok segera menghentikan gerakan tangannya dan menatap ke arahku, dahinya mengernyit menggemaskan. "Baba akan pergi?" Suaranya terdengar sedih, membuatku jadi tak enak hati.

"Bukan seperti itu. Baba hanya akan pergi sejenak untuk bekerja, kau bisa ikut," jelasku. "Tapi mungkin akan melelahkan dan membosankan di sana, jadi kalau kau ingin tetap di sini Baba akan meminta tolong Paman Jeno menjagamu selagi Baba tidak ada." Aku tersenyum kepadanya di akhir kalimat, kuharap ia bisa memahaminya.

Andy menunduk, wajahnya terlihat bimbang bercampur sedih. "Baba, aku tidak mau dengan Paman Jeno," katanya pelan. "Aku ingin selalu bersama Baba, aku ingin menjagamu. Aku tidak mau berpisah dari Baba." Ucapan polos Andy membuat hatiku kembali terenyuh, betapa suci pikiran dan hatinya itu.

Kubelai pipi putihnya yang selembut kapas, semakin Andy bertambah dewasa, ia semakin memperdulikan diriku. Andy membuatku begitu teringat dengan sosok pangeran yang membuatku jatuh hati. Mengingat itu membuatku tiba-tiba jadi merindukannya.

"Baba," panggil Andy kembali yang hanya kutanggapi dengan satu dehaman pelan. "Ayah itu ... sebenarnya siapa?"

Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar pertanyaan Andy. Ini adalah pertama kalinya ia mengungkit-ungkit mengenai sosok ayah yang tidak pernah kuceritakan padanya. Aku hanya terdiam, tak menjawab pertanyaannya tersebut.

"Semuanya memiliki ayah, hanya aku yang tidak."

"Andy—"

"Tapi aku tidak sedih, Baba," potong Andy lebih dulu begitu aku ingin bersuara. Andy kini menatapku begitu serius walau umurnya baru menginjak sebelas tahun. "Ayah meninggalkanmu, apa itu artinya ia tidak perduli? Kalau begitu ayah adalah orang yang jahat. Sangat jahat."

Mataku mulai terasa penuh akan cairan bening yang siap keluar kapan saja.

"Baba, aku ingin menjagamu. Aku ingin melindungimu dari apapun yang ada di dunia ini. Aku tidak peduli jika aku tidak memiliki ayah! Karna yang aku butuhkan adalah Baba, aku hanya perduli pada Baba."

Aku tidak pernah menyadari kapan Andy tumbuh dewasa secepat ini hingga sudah bisa mengucapkan kata-kata manis seperti itu padaku. Ucapannya membuatku tak kuasa menahan tangisan, liquid bening yang sejak tadi tertahan itu pun kini mengalir dengan perlahan membasahi kedua pipiku.

***

Dua minggu setelahnya, Andy semakin menunjukkan sikap dewasanya yang mandiri begitu dirinya ikut denganku bekerja di pasar yang ada di kerajaan.

Tidak, ini bukan kemauanku untuk memunculkan diri kembali di kerajaan ini. Hanya saja, aku tak menemukan pekerjaan lain yang lebih layak dari ini. Aku hanya bisa berdoa agar tidak ada yang sadar akan keberadaan Andy.

"Ah, Tuan." Sebuah panggilan yang kurasa ditunjukkan kepadaku membuatku tersentak dari lamunanku. Aku langsung merubah raut wajah dan tersenyum manis padanya.

"Ada yang bisa kubantu?"

"Ya. Aku ingin membeli dua potong roti gandum dan tiga buah apel merah."

"Tunggu sebentar, Nyonya." Aku pun segera membungkus pesanan wanita itu. Saat itu bertepatan dengan Andy yang baru tiba setelah menukar uang koin ke toko sebelah.

"Baba, aku taruh uangnya di laci ya?" Andy datang tiba-tiba berdiri di sampingku, membuatku sedikit terkejut.

"Ah, ya—"

"Pangeran?"

Aku langsung bungkam, menatap wanita yang tengah membeli di tokoku dengan wajah membeku, sedangkan Andy terlihat hanya terdiam, tidak menampilkan ekspresi yang berarti.

"Oh, bukan." Tanpa sadar aku kembali menghirup udara sekitar yang sudah kutahan beberapa detik lalu. "Siapa namamu?" Wanita itu bertanya ramah kepada Andy, dan Andy pun tanpa ragu menjawab.

"Andy, namaku Andy."

"Andy? Nama yang indah," ujar si wanita. Tanganku masih kaku bahkan hanya untuk memasukkan satu buah apel merah lagi ke dalam kantung.

"Wajahmu sangat mirip dengan pangeran, apa kau tahu itu?"

Andy terlihat bingung dengan pertanyaan tersebut karena memang sejak kecil ia tidak pernah mengenal keluarga kerajaan. Aku menginterupsi percakapan mereka dengan segera memberikan barang belanjaan sang wanita. "Ini, dua buah roti gandum dan tiga apel merah, Nyonya," ujarku membuat si wanita beralih menatapku. Ia pun memberikanku uang dan kemudian pergi dari sana.

"Baba, apa maksud wanita itu tadi?" Andy bertanya kepadaku, membuatku sejujurnya bingung harus menjawab seperti apa.

"Tidak perlu dipikirkan."

"Tapi Baba, pangeran mana yang mungkin memiliki paras mirip denganku? Bukankah itu tidak mungkin?"

Aku hanya terdiam.

Seperti sadar akan keterdiamanku, Andy pun menunduk. "Baba, maafkan aku." Ia seakan tahu aku tak ingin membahasnya sama sekali. "Aku akan pergi menemui Paman Johnny saja untuk membantunya menyetok buah. Aku akan kembali sore nanti."

"Iya, hati-hati."

***

Tidak tahu sudah berapa lama aku bekerja di pasar bersama Andy, namun kini kami memutuskan untuk pindah dan tinggal di desa yang cukup dekat dengan pasar. Kebetulan Raja menyediakan tempat kecil tanpa uang sewa untuk rakyat jelata mau pun rakyat kecil sepertiku. Mengesampingkan akan bahaya dan kemungkinan-kemungkinan kecil bertemu pangeran, aku memutuskan tinggal di sana. Selain tidak membayar uang sewa, setidaknya kini Andy tidak perlu lagi kelelahan tiap kami pulang dengan jarak yang sangat jauh.

Namun memang mungkin aku tidak seberuntung itu.

Semua anak remaja pria di tempat ini diwajibkan untuk mengikuti pelatihan dengan prajurit kerajaan, sekurang-kurangnya seminggu sampai mereka yang berkemampuan akan dipilih beberapa untuk menjadi penerus prajurit kerajaan.

Tahun ini Andy berumur enam belas tahun yang artinya ia juga harus pergi ke kerajaan untuk melaksanakan pelatihan tersebut. Aku sedikit menyesali keputusanku pindah ke sini, tetapi untuk sekarang aku hanya bisa berdoa agar Andy tidak terpilih dan bisa hidup bersamaku dengan tenang, aku berharap tidak ada yang akan mengenalinya.

Hari demi hari terus berlangsung hingga pada akhir minggu dimana seharusnya Andy sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu, namun aku tak melihatnya sama sekali sejak tadi. Semua anak yang tinggal di sini sudah pulang dengan berita mereka yang terpilih maupun yang tidak, tetapi Andy tidak ada diantara mereka sama sekali.

Kemana perginya anak itu?

Aku tidak mau membuang waktuku hanya untuk berpikir dan termenung di rumah. Aku memutuskan untuk menjemputnya ke kerajaan yang sejujurnya tidak mau aku datangi lagi.

Beruntungnya aku bisa masuk ke dalam dengan mudah setelah menyebutkan bahwa anakku mengikuti pelatihan wajib di kerajaan. Para penjaga tanpa menaruh curiga langsung membiarkanku masuk dan menunjukkan kamar asrama yang selama seminggu terakhir dipakai untuk para peserta pelatihan. Tanpa membuang banyak waktu aku segera mencari keberadaan Andy, namun begitu aku sampai di sana dan mengecek, aku tetap tidak menemukan keberadaan putraku sama sekali.

Rasa gelisah dan takut mulai menjalar ke seluruh tubuh, menghantuiku. Berbagai macam pikiran negatif pun tanpa bisa dicegah sudah bersarang di kepalaku, memaksaku untuk merasa amat khawatir. Kugigit bibir bagian dalamku cukup kuat.

Andy pasti baik-baik saja.

"Siapa ibumu?" Suara itu—tidak mungkin.

Aku berlari secepat mungkin menghampiri sumber suara yang sebelumnya kudengar, dimana kini aku dapat melihat Andy yang berdiri berhadapan dengan ayah kandungnya, sang pangeran.

Menyadari kehadiranku, mereka kompak menoleh. Raut wajah mereka menampilkan ekspresi yang sama, betapa miripnya kedua pahatan indah di depan mataku saat ini bahkan gerak gerik kecil mereka terlihat serupa. Aku tahu mereka memang mirip, tetapi tidak pernah terbayangkan olehku mereka akan berdiri berdampingan seperti itu. Aku merasa sesak dan khawatir di waktu yang bersamaan.

"Baba—"

"Baba?" Panggilan Andy terpotong oleh suara pangeran yang terlihat mengernyitkan dahinya. Seperti menuntut jawaban ia menatapku dengan tajam.

"Dia anakmu? Dia memanggilmu baba," tanya sang pangeran yang berjalan ke arahku, ia masih terus menatapku menuntut mungkin merasa aneh dengan panggilan 'baba' yang Andy lontarkan. Sangat jelas bahwa Andy adalah anakku. "Wajahnya begitu mirip denganku, Haechan, apakah dia anakku? Katakan yang sejujurnya padaku sekarang."

Aku langsung menunduk dalam dengan tangan yang gemetar, mulutku terasa kelu hanya sekedar untuk berbicara dan mengakui semuanya. Bagaimana mungkin Andy akhirnya bertemu dengannya di saat seperti ini.

Mark Sizee Ma'quire. Aku tidak pernah berharap akan hal ini, aku tidak mau Mark merebut Andy dariku.

"Apa maksudnya?" Andy yang melihatku terpojok pun ikut berjalan menghampiriku, kini ia sudah berada di depanku sambil menggenggam tanganku yang gemetar. Pria kecilku yang sudah tumbuh dewasa, melindungiku. "Maafkan atas kelancangan saya, tapi bisakah kami pergi? Pelatihan hari ini telah usai dan saya tanpa mengurangi rasa hormat akan menolak ajakan Yang Mulia untuk menjadi prajurit di kerajaan."

"Andy."

Andy tidak berbicara kembali saat Mark memanggil namanya dengan datar, membuatku takut jika sikap tidak sopannya yang sebelumnya akan membuat Mark marah. Bagaimanapun ia adalah seorang putra mahkota dan kami hanyalah rakyat biasa.

"Aku tidak pernah tahu selama ini kau terlahir dan sudah tumbuh sedewasa ini," ucap sang pangeran yang merubah raut wajahnya menjadi melunak, membuat berbagai pemikiran muncul di otakku. "Ini kali pertama kita bertemu, tapi sejak hari pertama kau datang pandanganku selalu tertuju padamu seperti memiliki ikatan batin.

"Andy, kau adalah anakku satu-satunya. Maka jadilah penerus kerajaan berikutnya. Kau berhak menyandang nama kerajaan, kita bisa hidup bersama di istana mulai sekarang."

Air mataku lolos begitu saja tanpa diperintah. Genggaman tanganku pada Andy menguat, kurasakan sesak di dadaku menjalar. Aku tidak tahu, tapi apakah aku akan kehilangan Andy? Apakah Mark akan merebut Andy dariku?

"Aku akan memberikanmu segalanya kau tidak akan perlu hidup susah. Aku bisa memberikan apapun yang kau mau." Mark kembali bersuara membuatku semakin bersedih. Aku memang tidak pernah bisa memberikan apa yang mungkin bisa Mark berikan untuk Andy, tapi aku sudah memberikan segalanya untuk Andy sejak dulu.

"Saya tidak tahu bagaimana mungkin saya adalah anak seorang pangeran kerajaan tapi," Andy menghentikan ucapannya sejenak untuk menoleh ke arahku sekilas dan mengelus punggung tanganku dengan ibu jarinya, "Yang Mulia, saya hanya ingin tinggal dan hidup bahagia bersama Baba. Saya tidak membutuhkan apapun selain Baba."

Mark terdiam sejenak menatap balik Andy yang dengan tegas tanpa takut menatap ke arahnya yang adalah seorang pangeran kerajaan berstatus tinggi. Pandangannya lalu beralih ke arahku yang masih setia bersembunyi di balik tubuh tinggi remaja berusia enam belas tahun ini.

"Bagaimana, Haechan?" Suara sang pangeran yang tertuju kepadaku. Aku tersentak pelan mendengar pertanyaan singkatnya barusan, suaranya yang sangat lembut masih terdengar sama seperti ketika dulu ia mengajakku untuk bersama-sama mengikat janji.

"Maukah kau kembali ke istana bersama dengan anakku? Maukah kau kembali dan menjadi pasanganku, hidup dan tinggal bersamaku seperti dulu?"

Aku menatapnya terkejut, air mataku sudah berhenti mengalir. Bukankah ia membenciku?

o0o

Semuanya terasa bagai mimpi, walau begitu aku sangat mencintai mimpi indahku ini.

Melihat pemandangan indah dimana Mark dan Andy sedang duduk bersama, bercakap-cakap di ruang musik kerajaan bagaikan mimpi yang bahkan tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Pangeran—yang kini sudah menjadi raja—tengah mengajarkan cara bermain piano kepada Andy, melihatnya saja membuatku ingin meneteskan air mata. Setiap hari kupikir ini adalah mimpi, namun ini nyata.

Setelah malam itu, pada akhirnya pangeran secara resmi mengajakku sebagai pasangannya. Aku sudah menjadi pasangan sah dan pendamping raja di kerajaan ini. Bagaimana kami bisa bertemu dan berpisah, hingga diriku mengandung, semuanya sudah aku ceritakan pada Andy. Mark juga menjelaskan kepadaku bahwa ia terpaksa menyuruhku bersembunyi karena Sang Raja tahu hubungan mereka, Mark hanya tidak ingin diriku terancam namun sebelum bisa menjelaskan semuanya aku sudah lebih dulu pergi jauh dari istana bahkan hingga Mark tidak bisa meraih keberadaanku lagi.

"Aku tidak tahu kau akan pergi sejauh itu dariku." Sang pangeran yang selama ini terlihat berwibawa berubah menjadi seperti anak kecil yang merajuk. Aku pun tersenyum.

"Maafkan aku."

Mark menggeleng. "Tidak, aku yang seharusnya minta maaf padamu karena sudah membuatmu menghadapi semuanya sendiri. Aku sangat bersyukur kau dan Andy hidup dengan baik selama ini," katanya kala itu sambil memelukku erat. "Apakah kau mau memaafkanku, Haechan?"

Aku tidak tahu jika bahkan setelah beberapa tahun berlalu, perasaanku masih sama pada pria itu. Bagaimana bisa aku tidak memaafkannya jika Mark sungguh menunjukkan niatnya untuk mencariku setelah ia naik takhta menjadi raja, namun takdir mempertemukan kami bahkan sebelum hari itu tiba, aku sudah kembali ke sini bersama Andy dan aku tidak menyesalinya.

Terlalu lama berdiri dan melamun di depan pintu, aku pun segera mengetuk pintu dan masuk ke dalam.

"Yang Mulia, Andy, aku membawa teh dan kue kering untuk kalian. Istirahatlah dulu sejenak sebelum lanjut belajar lagi," kataku yang berjalan masuk secara perlahan dengan membawa nampan.

Mereka menoleh ke arahku bersamaan. "Oh, Baba," sahut Andy yang langsung bangkit menghampiriku begitu saja.

Aku ikut duduk bersama mereka di meja kecil yang tersedia di dalam ruangan. Menaruh teh dan kue keringnya secara perlahan.

"Terima kasih," kata Mark sambil tersenyum, mengusap kepalaku begitu aku sudah duduk di sampingnya. Pria itu tanpa malu mengambil sebelah tanganku dan mencium punggung tanganku kemudian dengan lembut, sedikit membuatku tersipu.

Kami duduk melingkar di meja bundar putih berornamen emas yang terlihat begitu cantik, aku duduk di antara Andy dan Mark. Dapat kulihat raut wajah antusias Andy dan mulut yang terus bercerita tentang pengalamannya belajar piano hari ini bersama Mark, dia tidak berubah sama sekali meski sudah tumbuh dewasa. Putra kesayanganku yang sangat kucintai.

Andy Sizee Ma'quire.

Hari itu pun kami habiskan dengan bercerita dan melakukan banyak hal bersama. Melihat Mark yang tersenyum lembut dan melihat Andy yang selalu bersemangat akan apapun. Aku harap semua kebahagiaan yang kurasakan ini akan terus berlanjut hingga selama-lamanya.

Tamat