Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-10-17
Words:
2,796
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
12
Bookmarks:
2
Hits:
115

Winter Present

Summary:

"Apakah aku harus berterima kasih sudah tidur di depan tokoku?"

Notes:

For #KaYang_HPMI02 event in twitter
(prompt spesial : Leo. Riou melihat Samatoki seperti seekor singa)

Hypnosis Microphone © King Records

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Riou menandaskan sisa kopinya yang sudah mendingin. Suhunya turun lebih cepat dari biasanya. Sepertinya musim dingin akan datang sedikit lebih awal. Riou beranjak dari meja jaganya, tanda toko tutup sudah beberapa jam lalu terpasang di pintu kaca. Namun, seekor kucing yang sedang ditinggalkan seseorang untuk dititipkan sedikit menahan kepulangan si pemilik pet shop.

Sembari mencuci cangkir kesayangannya, Riou melempar pandangan keluar jendela. Ia tidak sabar menunggu pemandangan malam bertabur salju yang akan terpampang di sana. Tahun ini mungkin suhu akan turun dengan drastis. Sepertinya ia harus mencuci jaket bulu tebalnya besok.

Setelah memastikan kucing jenis maine coon yang bermalam di tokonya sudah mendapat persediaan makan dan minum yang cukup sampai pagi serta tempat tidur di kandang yang nyaman, Riou meraih mantel yang tersampir di sandaran kursinya. Ia harus pulang sedikit larut dan kembali lebih pagi tiap ada hewan yang dititipkan di tokonya.

Riou mengingat-ingat rencana untuk membeli persediaan bumbu dapur di konbini 24 jam saat perjalanan pulang. Sampai ia mendorong pintu dan menemukan seonggok manusia terlelap di pelataran tokonya.

Riou hanya diam berdiri seraya berkedip-kedip selama beberapa detik. Ini adalah pengalaman pertama ia menemukan orang alih-alih kucing atau anjing liar menggelandang di depan tokonya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri sejenak sebelum kemudian berjongkok di depan orang itu. Rambutnya mengingatkan akan warna salju, kontras dengan wajahnya yang memerah. Alis Riou berkernyit saat mendapati memar yang tercetak di ujung bibir. Dugaan yang pertama muncul adalah orang itu habis mabuk. Dugaan kedua karena kedinginan lantaran orang itu hanya memakai satu lembar kemeja tipis. Atau mungkin saja keduanya?

Tak membuang waktu lebih lama lagi, Riou mengangkat laki-laki itu dalam satu sentakan pelan. Badannya jauh lebih kecil dibanding Riou, namun cukup solid. Kulitnya dingin, sudah berapa lama pria ini ketiduran di sana? Sembari mendorong pintu kaca yang belum sempat dikunci dari luar dengan siku, Riou berpikir sepertinya ia tidak akan pulang malam itu.

 


 

Samatoki mengangkat lembaran selimut yang menutupi tubuhnya dengan setengah nyawa yang belum terkumpul. Mata sewarna delima yang membulat seperti tupai ketahuan mencuri kacang itu berkedip-kedip polos. Ketika ingatannya mulai kembali, bahwa seharusnya semalam ia membiarkan dirinya tergeletak di jalanan, Samatoki buru-buru menyibak selimutnya dengan keras.

"Oh, kau sudah bangun."

Suara bas yang berat dan rendah itu membuat Samatoki menggeser tubuhnya hingga ke sisi terjauh dari kursi yang sebelumnya menjadi tempat pembaringannya. Di depannya menjulang seorang lelaki berbadan tegap dengan rambut sewarna senja yang dipotong undercut membawa senampan menu makanan sederhana lengkap dengan minumannya.

"Siapa kau?" tanya Samatoki, bagai kucing yang mengangkat punggung dan bulu-bulunya ketika berhadapan dengan saingannya.

"Busujima Mason Riou," orang itu menjawab tenang, "Orang yang punya pet shop ini."

" Pet shop ?" ulang Samatoki, matanya berkeliling ruangan sejenak. Orang itu tidak memungut Samatoki karena dirinya dimiripkan dengan hewan, kan? “Kenapa aku ada di sini?”

“Kau belum menyebut namamu.”

“... Samatoki,” gumaman enggan dilontar.

Namun, tampaknya Riou tidak begitu peduli. "Semalam aku menemukanmu tertidur di depan tokoku. Aku tidak bisa diam saja, tapi aku juga tidak tahu siapa dirimu dan dimana rumahmu. Jadi, aku membawamu masuk. Semalam kulihat wajahmu merah sekali, kau mabuk?"

Alis Samatoki berkerut tidak senang mendengar dirinya dituduh sembarangan. “Tidak,” jawabnya ketus.

“Ada memar di pipimu, habis berkelahi?”

Kali ini Samatoki memilih diam.

Riou menggeser nampan dihadapannya, menyerah untuk terus bertanya. “Kalau begitu makanlah, Samatoki. Pet shop -ku punya dapur, tapi maaf cuma ada roti dan telur.”

“Ti-tidak masalah,” kecanggungan merambati leher Samatoki mengetahui pemungutnya sampai membuatkannya makan pagi, tangannya meraih gelas berisi air. “Selama bukan makanan kucing atau anjing. Seharusnya kau tidak perlu repot-repot untuk orang yang hanya menumpang sembarangan.”

“Aku yang membuatmu jadi tamu. Kalau merasa tidak enak, bagaimana jika kau balas dengan menceritakan kenapa semalam tidur di depan tokoku?” tawar Riou.

Sesapan Samatoki pada air minumnya terhenti sejenak. Sebelum akhirnya dilepas sempurna dari bibirnya. “Itu ....”

Riou menunggu. Tangannya yang besar melepas tali celemek yang masih melekat di perut. Namun, tak lama kemudian Riou sudah membuka mulutnya sebelum Samatoki menyambung ucapannya.

“Aku tidak akan memaksa kalau kau tak bisa menceritakannya.”

Diam lagi beberapa saat. Riou sudah hampir berdiri mengembalikan celemek ke dapur.

“Akan kuceritakan sebagai balasan atas tempat tidur dan makanannya. Tapi, mungkin ... belum.”

Kedua alis Riou terangkat, sedikit tidak menyangka dengan jawaban itu. “Baiklah.”

Setelah ucapan “selamat makan” dilontar dan Samatoki memasukkan lahapan pertamanya ke dalam mulut, Riou baru beranjak. Ia menuju pintu belakang yang terhubung dengan dapur dan keluar setelah menggantungkan celemek ke tempatnya semula, bersama seekor kucing maine coon dengan bulu-bulu sewarna kelabu yang sedikit panjang menutupi tubuh.

“Kucingmu?” tanya Samatoki spontan.

“Bukan, milik orang. Tokoku menerima jasa penginapan hewan,”

“Kalau untuk orang, terima tidak?”

 


 

"Aku tidak pernah terpikirkan akan melihat seseorang yang berurusan dengan binatang dari dekat."

Riou tengah membenahi meja berisi stok beberapa jenis makanan dan obat-obatan untuk hewan ketika yakuza itu tengah duduk menikmati kopi pagi di dalam toko yang belum buka. Hari itu terhitung sudah hari ketiga Samatoki menumpang tidur di sana.

Saat Riou bertanya kenapa Samatoki tidak pulang, laki-laki itu bilang akan ada seseorang yang mungkin mencarinya di rumah dan ia sedang tak ingin bertemu siapa pun. Riou tak keberatan Samatoki menumpang tidur di tokonya selama tidak ada yang dilakukannya terhadap barang-barang di meja ataupun rak. Bahkan Riou juga meninggalkan kunci cadangan untuk Samatoki karena ia memilih tidur di rumah, meski kunci cadangan itu pada akhirnya sama sekali tidak terpakai. Di sana tidak ada ranjang. Dua malam ini Samatoki hanya tidur di sofa. Setidaknya di toko itu ada dapur dan kamar mandi, fasilitasnya sudah lebih dari cukup. Tadinya Samatoki sedikit heran kenapa ada dapur hanya untuk sebuah pet shop . Namun, ia memakluminya setelah tahu ternyata Riou suka memasak.

Quro[1], kucing maine coon yang juga sedang menjadi penumpang di toko Riou menjadi kawan bicara Samatoki. Ia masih merasa itu nama yang aneh. Riou bilang bukan dia yang memberi nama, membuat Samatoki semakin penasaran seperti apa orang yang tidak punya selera menamai hewan peliharaan dengan baik itu.

Mata ruby Samatoki bergulir, berpindah mengamati Riou dari atas sampai bawah. Tubuhnya begitu terbentuk. Rasanya laki-laki itu lebih cocok jadi atlit gulat daripada seorang penjaga toko kebutuhan hewan. Tapi, Samatoki tidak pernah berpikir perawakan tubuh besar Riou menyeramkan atau mengintimidasi. Ekspresi wajahnya cukup lembut dan ramah ketika berhadapan dengan makhluk berbulu terutama yang saat ini tengah berkeliaran di lantai ruangan di antara kaki-kaki mereka.

"Kau terdengar tidak begitu akrab dengan hewan," komentar Riou, mata sewarna langit musim panasnya melirik Samatoki sejenak sebelum kembali pada bermacam bingkisan, kaleng, hingga botol dan bungkusan pil di hadapannya.

"Mereka tidak bisa diajak bicara seperti manusia. Juga tidak bisa dipukul sembarangan meski mereka membuat masalah. Merepotkan. Aku bukannya tidak suka, hanya memilih untuk tidak berurusan dengan mereka."

"Cara mudah menangani hewan adalah dengan memahami mereka," sebuah alat jatuh bergemelinting sehingga membuat Riou harus membungkuk untuk mengambilnya. "Dan pengetahuan itu tidak digunakan untuk menyakiti mereka."

Quro sedang terpaku mengamati gerak-gerik Riou, tampaknya ia agak terkejut dengan suara barang terjatuh tadi.

“Kau terdengar seperti seorang pecinta binatang.” Samatoki mengandaskan kopinya. “Kenapa tidak membangun shelter sekalian?”

Riou tersenyum kecut. “Aku baru menetap di sini beberapa bulan. Akan makan banyak biaya dan modalku tidak akan cukup.” Selanjutnya senyum itu berubah menjadi jenaka. “Meski kurasa aku baru saja memungut satu kemarin lusa.”

“Ha?” Samatoki mengernyit tidak terima. “Kau mengataiku binatang?”

“Hanya menganalogikan. Seperti memungut kucing misal.”

Biasanya, Samatoki tidak akan segan memelototi bahkan mengajak bertikai siapa pun yang seenaknya padanya. Namun, ini pertama kalinya ia merasa tidak keberatan, bahkan senang, disebut demikian. Seperti panggilan sayang.

Samatoki refleks menggelengkan kepalanya dengan keras. Apa yang barusan dipikirkannya? Apa kopinya tak sengaja tertuang alkohol dan membuatnya sedikit gila?

Mencoba mengalihkan pikirannya yang tidak sengaja melantur, yakuza itu beranjak hendak mencuci cangkir pinjaman yang barusan digunakannya. Sebelum Samatoki sempat menginjak dapur, Riou memintanya untuk membalik tanda yang menggantung di pintu toko menjadi “buka”. Tak perlu respon bertele-tele, langsung diputarnya langkah menuju toko bagian depan. Si kucing maine coon yang hendak mengekor ke dapur sampai nyaris tertendang lantaran Samatoki mengubah haluannya. Senandung kecil terlontar dari celah bibir sebagai tanda suasana hatinya yang membaik, meski dalam hatinya mengumpat kenapa ia jadi senang-senang sendiri seperti orang bodoh. Begitu tangannya membalik papan putih yang tergantung di pintu kaca, tampaknya takdir turut menjungkirbalikkan perasaannya.

Dari balik lensa datar yang membatasi Samatoki dengan dunia luar, terlihat Yamada Ichiro tengah menyeberang jalan dan melangkah santai menuju pet shop Riou.

Riou yang kini beralih menyisir rambut Quro terkesiap kecil ketika Samatoki mendadak lari terbirit-birit ke dapur seperti habis melihat hantu.

“Samatoki?” Riou yang penasaran melongokkan kepala ke pintu belakang. “Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa,” balas Samatoki kikuk. Cangkir kopi yang sedang dibasuh air nyaris tergelincir dari tangannya.

“Kau tahu gelagatmu terlalu jelas–“

Belum sempat Riou menyelesaikan kalimatnya, bel yang menggantung di pintu depan berdenting, menandakan tamu pertama pagi itu sudah datang. Kedua laki-laki berbeda warna kepala itu saling pandang sejenak. Sebelum akhirnya Riou mengalah dan memilih untuk melayani pelanggan daripada menuntut penjelasan Samatoki.

Samatoki meringis dalam hati melihat dengusan singkat yang dihembus Riou sebelum sosok besar itu raib dari pintu. Cangkir yang masih kotor dibilas sabun dan dibasuh air dengan sedikit tergesa. Laki-laki bermata heterokrom, yang dipanggilnya Ichiro itu, yang menjadi alasannya melesat bersembunyi di dapur, adalah orang yang saat ini paling tidak ingin ditemuinya.

Jika bukan karena orang itu, Samatoki tidak akan berakhir tidur beratapkan langit dan berselimut angin di depan toko Riou dua hari yang lalu.

“Jadi, pemiliknya sudah ketemu?”

“Ya. Kau benar-benar membantuku, Busujima-san.”

Samatoki bisa mendengar suara percakapan itu dari kusen pintu dapur tempatnya menyembunyikan diri saat ini. Kenapa Ichiro bisa ada di sana? Samatoki penasaran, namun tak sudi menampakkan muka apalagi bertanya langsung demi mengais jawaban.

“Saatnya pulang, Quro.”

Samatoki spontan mendecih. Jadi, kucing itu asuhan Ichiro? Tapi, Riou sempat menyinggung soal menemukan pemilik. Samatoki sedang berspekulasi soal situasi yang didapatnya dari pecahan obrolan ketika kakinya tak sengaja membentur pintu rak rendah yang masih terbuka dengan keras, menimbulkan bunyi yang mampu mendistraksi dua insan lainnya.

“Samatoki? Kau baik-baik saja?”

Ichiro membelalak. “Samatoki?”

Yang disebut namanya mengerang tertahan. Usahanya menyembunyikan keberadaan jadi tak ada artinya lagi. Ia tidak bisa mencegah ketika Ichiro turut menyebut namanya. Riou yang sedari awal tak tahu apa-apa spontan bertanya.

“Yamada-kun, kau kenal Samatoki?”

Alih-alih menjawab, Ichiro langsung membawa kakinya mendekati pintu belakang dimana sumber suara hantaman tadi berasal.

“JANGAN MENDEKAT!”

Bentakan yang mendadak menggelegar itu memaku semua yang ada di ruangan itu, termasuk Quro yang masih bertengger di pelukan Ichiro. Untuk beberapa saat Ichiro mendadak lupa bagaimana cara menggerakkan kakinya. Pun dengan Riou, tiba-tiba saja tenggorokannya serasa diblokir, segala kata yang hendak dimuntahkan secara lisan lenyap begitu saja.

“Maaf, aku ....”

“JANGAN BICARA!”

Satu suara bagai guntur kembali bergemuruh. Itu adalah kali pertama Riou mendengar nada tinggi Samatoki, penuh kebencian dan kekecewaan.

“Kau tunjukkan muka aku bersumpah kau tak akan pulang dengan baik-baik saja,” lanjut Samatoki.

Kali itu, Riou bisa menangkap sebersit rasa putus asa yang menyertai nada bicara si yakuza.

“Kalau begitu ... pulanglah. Nemu–“

“KUBILANG DIAM! Bagian mana perintahku yang tidak jelas?!”

Khawatir bentakan Samatoki yang selanjutnya mungkin bisa menghancurkan tembok tempatnya bersembunyi, Riou maju menengahi berinisiatif mencegah kedua pria di kedua sisinya untuk bertemu bahkan saling bicara lagi.

“Yamada-kun, kurasa sebaiknya kau lekas mengembalikan Quro. Dia sudah hilang tiga hari. Pemiliknya pasti khawatir sekali.”

Ichiro tidak sebodoh itu untuk tidak memahami maksud Riou. Tampaknya tak ada lagi yang bisa dilakukannya untuk membujuk Samatoki selain membiarkan yakuza itu sendirian untuk sementara. Meninggalkan tatapan terakhir pada helai-helai rambut putih yang sedikit mencuat dari balik kusen pintu, Ichiro beralih pada sang pemilik pet shop .

“Baiklah, kalau begitu ... aku pergi dulu. Biaya penitipannya akan kutransfer nanti.”

Riou mengangguk sekali dan Ichiro langsung melenggang pergi. Rautnya sulit dideskripsikan, seperti sedang berperang dengan batinnya sendiri. Setelah bel di atas pintu berdenting menandakan si anak Yamada telah meninggalkan toko, Riou beralih pada bahu Samatoki yang mengintip dari dapur. Beberapa detik Riou hanya memandang si yakuza dalam diam, sementara Samatoki melengos bungkam.

“Ternyata kau bisa mengaum.”

Kali ini, Samatoki menggeser posisinya, menyembulkan kepala ragu-ragu. “Kau mengejekku?”

“Sama sekali tidak. Mau kukis? Yamada-kun tadi bawa kukis– kalau tidak mau juga tidak apa.”

 


 

Ruang utama toko saat itu diselimuti hening. Namun, pandangan Riou akan jatuh pada Samatoki yang tengah membantu menakar makanan kucing dalam waktu yang berkala. Di mulutnya tergigit sekeping kukis. Pada akhirnya, Samatoki mau memakannya karena Riou tidak doyan makanan manis. Sayang kalau mubazir katanya.

“Baiklah, baiklah, aku akan cerita. Jadi, bisakah kau berhenti memandangiku tiap dua menit begitu?” kata Samatoki dengan jengah, akhirnya membuka percakapan.

“Maaf.”

Alis Samatoki berkerut dalam. “Buat apa? Akulah yang harusnya minta maaf.”

“Kau, kan, tidak ada salah.”

Samatoki mendengus lelah. Sedang tidak ingin berdebat dengan Riou. Lantas, ia memulai cerita. “Ichiro itu, orang yang membuatku sangat menyesal sudah jatuh cinta padanya.”

Riou tidak berani menyela dengan bertanya “kenapa?”. Namun, atensinya sama sekali tidak dilepas. 

“Aku memberikan waktu dan tenagaku untuknya. Tak segan-segan membelikan hadiah demi melihat senyumnya. Jauh-jauh ke Ikebukuro hanya untuk mengecek kabarnya. Saat suatu hari ia bilang akan menikahi adikku, aku memukulnya tepat di wajah.”

Mata dan mulut Riou perlahan membola.

“Dia tidak terima aku memukulnya, jadi dia memukulku balik. Kami berhenti sampai tanganku tidak sengaja mendarat di wajah adikku.”

“Lalu, kau pergi dan berakhir di depan tokoku,” Riou melanjutkan dengan kesimpulan yang disusunnya.

“Aku tidak ingin pulang karena tahu mereka akan mencariku di rumah. Aku sedang tidak ingin melihatnya.” Samatoki masih bercerita tanpa menghentikan tangannya menyendok makanan kucing ke atas timbangan sebelum dituang ke dalam wadah plastik. “Wajah orang yang kucintai tiba-tiba jadi sosok yang paling ingin kuhabisi.”

Hening kembali menyela. Seorang pelanggan yang datang turut memotong obrolan. Riou menjawab dengan lancar dan ramah saat seorang ibu paruh baya menanyakan obat jamur untuk anjingnya yang malang. Dan Samatoki sama sekali tak mengalihkan pandang pada apa yang sedang dikerjakannya.

Genggaman tangan yang dihias gelang mutiara hitam putih pada sekop mini tanpa sadar mengerat. Hatinya tak henti-henti menyumpahi si sulung Yamada. Bahkan bertemu untuk sekedar bertanya kabar pada sang adik semata wayang pun Samatoki enggan. Jika punya kekuatan supranatural, ia mungkin sudah menenggelamkan seisi Yokohama dengan tsunami besar. Tak pernah ia merasa semurka ini sebelumnya.

Gemeretak gigi yang tanpa sadar nyaris membuat bibir Samatoki berdarah kontan terhenti kala tangan besar Riou sudah menggenggam tangan Samatoki yang masih menggenggam sekop mini. Ibu-ibu berpakaian necis yang mencari obat untuk anak bulunya sudah raib. Samatoki kembali hanya berdua dengan Riou di toko hewan itu.

“Aku tidak akan menasihati apa pun karena kaupikir mungkin aku tidak akan paham perasaanmu. Tapi, tolong jangan lukai dirimu sendiri.”

Sosok pemuda bermata heterokrom hijau-merah yang beberapa detik lalu ingin dilahap Samatoki dengan tsunami itu sekonyong-konyong lenyap. Kesadarannya spontan ditarik bagai gravitasi oleh mata sewarna langit cerah di musim panas.

Tangan Riou yang menggenggam tangan Samatoki dilepas untuk kemudian dibawa mengusap wajah berbingkai helai-helai rambut seputih salju. “Kalau butuh pelampiasan, aku siap jadi pendengar. Orang yang bisa kaucintai tidak hanya dia seorang.”

Samatoki menyentuh tangan yang bertengger di pipinya perlahan. Ia tak pernah mendapat perlakuan itu dari Ichiro, tak pernah mendapat pandangan selembut itu dari Ichiro. Samatoki belum sempat mencerna apa pun lagi ketika Riou tiba-tiba membawanya dalam dekapan.

“Harusnya kau jatuh cinta padaku saja.”

Kali ini ganti mata delima Samatoki membola. “Apa...?”

“Cinta memang aneh. Perasaan itu bisa membuatmu membenci seseorang seketika. Bisa hinggap dalam seseorang tiba-tiba.”

“Riou...?” Samatoki mendapatkan kembali suaranya hanya untuk menyebut nama orang yang membuatnya mendadak jadi orang bodoh karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

“Kau tahu, saat aku menemukanmu, aku langsung merasa tertarik. Padahal aku belum tahu suaramu, belum tahu apa warna matamu. Tapi, entah kenapa aku mendadak berpikir apakah begini rasanya ketika Tuhan menjatuhkan seorang malaikat di hadapanku. Karena itu aku membawamu masuk tanpa pikir panjang.”

Samatoki kira, dirinyalah yang begitu aneh karena mendadak senang tanpa sebab dipungut seseorang. Mendadak senang tanpa sebab dimasakkan sarapan. Mendadak senang tanpa sebab dalam obrolan sederhana. Ternyata, orang yang memungutnya tidak jauh berbeda.

“Apakah ini yang dimaksud oyaji bahwa orang aneh akan dipertemukan dengan orang aneh juga?”

Riou menarik kepalanya menjauh untuk memerangkap sosok Samatoki dalam bayang matanya. Raut mukanya menunjukkan ia tak mengerti maksud ucapan laki-laki di hadapannya.

“Tidak usah dipikirkan,” kata Samatoki kemudian, ”Kau benar. Aku tidak bisa hanya terus terpaku pada Ichiro. Tapi, tolong jangan pernah sebut aku malaikat lagi. Itu ... menjijikkan.”

Riou terkekeh. “Ya. Tadinya kukira kau seekor kucing. Ternyata kau seekor singa.”

“HAH?!”

“Lihat, kau mengaum lagi.”

“Aku bukan singa!”

Riou masih tersenyum, tak peduli semprotan Samatoki. “Tidak apa-apa, kau masih seekor singa yang manis.”

“Berhenti mengejekku! Tidak ada yang pernah memanggilku begitu.”

“Benar juga, kau mungkin lebih sering mendapat sebutan galak atau barbar. Ah, apakah aku harus berterima kasih pada Yamada Ichiro karena sudah membuatmu tidur di depan tokoku?”

“Jangan sebut-sebut nama itu!” Samatoki mendengus keras seraya mendorong tubuh Riou menjauh dari dirinya. “Minggir, aku belum selesai menimbang pakan kucing.”

“Kalau begitu, kau tidak keberatan menyelesaikannya sambil memikirkan tempat kencan yang cocok untuk kita berdua?”

“Hah??!?”

Riou melengos dan kembali ke meja jaganya begitu saja. Diam-diam, ia tersenyum dalam hati. Sepertinya musim dingin tahun ini akan jadi yang terhangat untuknya.

 

Notes:

Nama kucingnya Quro diambil dari saran nama kucing dari Saburo di Hypnosis Radio (hipuraji) pertama bulan November 2019 😂

Quro = Queen Anna Break Through Love Shooting Star Road
(Ga tau juga bisa-bisanya dinamain begitu)