Work Text:
Udara yang lebih dingin menyeruak ketika pintu sebelah kiri mobil terbuka. Secara natural, senyum laki-laki itu mengembang ketika Wina masuk.
Ia mengibaskan rambut hitam panjang yang tergerai itu setelah menaruh tumbler kopi, lalu melepas jumper yang dikenakannya. Setelah itu, tangannya tergerak menarik seat belt dan memposisikan duduknya senyaman mungkin. Lalu menyandarkan tengkuknya yang sudah terasa berat itu dan menghela nafas panjang.
“Thanks ya, Ian.”
Brian memperhatikan setiap hal kecil yang dilakukan perempuan itu. Ia suka.
“Santai, kak. Gaada yang ketinggalan?”
Baru pukul setengah tiga sore ketika dirinya mendapat pesan dari Wina yang menanyakan apakah mungkin ia bisa menjemputnya di rumah sakit lantaran —entahlah, Brian bahkan tidak ingat apa yang terjadi pada mobil Wina. Ia terlalu excited untuk mengingatnya.
Yang ia pikirkan hanyalah kesempatan untuk menjemput Kak Wina dan mengantarnya pulang. Mungkin melihat senyum manisnya dan mengobrol dengannya di perjalanan.
Selang beberapa menit berdiam, Wina kembali membuka matanya dan menoleh pada yang lebih muda. “Nunggu apa?” tanyanya.
“Nunggu capeknya ilang.”
Mendengar jawaban tak biasa itu, Wina lantas tersenyum.
“Biar rileks, kak. Lagi ujan gini, jalanan pasti macet.” Tambah Brian.
Wina makin tersipu. How can this boy be so sweet sometimes? She thinks.
“Okay, okay. Gue udah rileks kok sekarang.” Ujar Wina kembali menghela nafas panjang.
Wajahnya masih dihiasi senyuman yang hingga saat ini pun, masih memberi sinyal kejut pada otak Brian. Ia masih, tidak, bahkan mungkin ia tidak akan bisa merasa terbiasa dengan itu.
Mengurangi perasaan groginya, Brian akhirnya melepas tuas rem tangan dan mulai melajukan mobilnya menembus hujan yang masih setia turun dari langit kelabu hari itu.
A perfect day for lying about your position and drove for a fine 35 minutes to pick up your loved one.
Yup, Brian berbohong ketika mengatakan dirinya masih berada di kampus yang notabene-nya tak jauh dari rumah sakit tempat Wina bekerja. Padahal sebetulnya kelasnya sudah selesai dua jam yang lalu.
“Spotify dong, sepi banget.” Ucap Wina memecah keheningan. Tentu saja, perempuan itu tak tahan hanya berdiam di dalam mobil tanpa mengobrol.
“Mine or yours?”
“Lo aja, playlist lo kadang oke.”
Brian terkekeh, merasa tersanjung. “Kalo lo suka berarti taste kita gak jauh beda lah, kak.”
“Ya, but I’m not that organized masalah playlist lagu. Cuma shuffle play dari rekomendasi aja.”
Alunan gitar akustik dan vokal yang sudah tak asing di telinganya itu terdengar setelah Wina menyelesaikan ucapannya. Pilihan lagu yang kelewat cocok itu membuat Wina kembali mengingat siapa laki-laki yang saat ini berada di sampingnya.
A musical major student, in fact, a music genius. And he’s Brian Maverick, someone who really cares about others. Sometimes she’s wondering how much love does he have.
Untuk beberapa saat Wina terdiam dan menikmati lagu itu. Hingga daun telinganya menangkap suara pelan Brian yang ikut bernyanyi.
‘Cause all of the small things that you do
Are what remind me why I fell for you
Those Eyes by New West.
—
Tepat seperti dugaannya, jalanan ibukota sore itu sudah dilanda kemacetan bahkan saat belum memasuki rush hour.
Wina sudah larut dalam carpool jamming session-nya dan ikut menyanyikan beberapa penggal lirik setiap lagu yang terputar. Setiap lagu dari sebuah playlist yang Brian buat khusus untuk saat-saat seperti ini. Jujur saja, tidak banyak kesempatan yang ia dapatkan untuk menghabiskan waktu hanya berdua dengan kakak temannya itu.
Karena itulah ketika Wina memintanya memutar lagu, Brian tak membuang peluang emasnya untuk memainkan playlist itu.
Satu hal yang tak Wina sadari adalah beberapa diantara liriknya sebetulnya menggambarkan perasaan Brian padanya. Perasaan yang ia kubur bertahun-tahun.
Belakangan ini, Brian sempat berpikiran untuk setidaknya mengutarakan itu pada Wina. Meskipun tahu itu tidak akan mengubah apa-apa sekarang, ia pikir, setidaknya dirinya akan merasa less being a pathetic coward.
Perhaps.
Tak terasa, ia kembali larut dalam benaknya sendiri. Hujan masih belum reda, macet tak kunjung usai. Brian memutuskan untuk kembali menarik tuas rem tangannya ketika mobilnya benar-benar terhenti saat itu. Ia mencuri pandang ke Wina beberapa kali.
“Kak,” panggilnya.
“Hm?”
Brian menelan ludah. Mengapa lidahnya tiba-tiba terasa sulit mengeluarkan sepatah kata ketika berada di dekat Wina?
“Hari ini jaga di IGD atau operasi?”
Wina yang tengah mengetik sesuatu di ponselnya itu mendongak. “Dua-duanya. Gue jaga IGD,” ia menarik nafas sesaat, pandangannya kini lurus ke depan, “terus ada kecelakaan tadi.”
“Oh ya?”
Perempuan itu mengangguk. Ia menyelesaikan kegiatannya dengan ponsel lalu kembali menaruhnya.
“Ada dua orang. Yang satu pendarahan parah di kepala, satunya tulang rusuknya patah.” Terang Wina dengan hand gesture khasnya. “Sebelah kanan, sini, ada beberapa yang patah gitu. Jadi pendarahan di paru. Gue nanganin itu.”
Yang mendengar itu hanya manggut-manggut mengerti.
“Selain itu gaada yang parah sih. Thankfully.”
Brian bergumam menanggapi. “Sekarang kondisinya gimana?”
“Sampe shift gue selese tadi sih belom sadar, mungkin malem ini atau besok pagi. Eh, Jowen di mana sih? Imess gue gak dibaca, dia mau pulang sama siapa....” Wina mengecilkan suaranya di ujung kalimatnya.
“Udah balik kali. Kelas kita selese dari siang. Paling juga ketiduran tuh anak.”
“Kok lo masih di kampus?”
“Ada urusan di sekre tadi.”
Mulai merasa ada yang tak beres dengan jawaban Brian, Wina menyipitkan mata menatapnya. “Sus.”
Yang ditatap itu spontan tertawa. “Dih. Kok lo gak percaya sama gue sih, Kak.”
“Ya lo kan suka mengorbankan diri kalo nolong orang.”
No. It’s not sacrificing, it’s an effort. Pikir Brian.
“Kak.” Brian kembali memanggil yang lebih tua. Niat hati ingin mengucapkan empat kata yang sudah ia pendam selama tahunan itu.
Gue sayang sama lo. Namun lidahnya terasa kelu.
“Hm?”
“Lo kapan nikah?” Lagi, ia mengalihkan topik.
Wina berdecak. “Ck, gausah nanya aneh-aneh deh lo. Gue masih punya bayi di rumah yang mesti diurus.”
“Bayi lo umur 20 tahun.”
“Tetep aja bayi.” Jawab Wina tegas. “Gak kebayang kalo gue punya bayi beneran yang minta nete juga.”
Lagi, Brian hanya tertawa. Setengah karena betulan merasa terhibur dengan jawaban Wina. Setengahnya lagi sebetulnya ia menertawakan dirinya sendiri yang seperti pengecut.
“Kak.”
Merasa jengah, Wina akhirnya menoleh pada Brian dan menatapnya lekat dengan tatapan yang jika diterjemahkan akan berbunyi seperti, “apa lagi sih?”
Brian menatapnya balik tepat di manik.
“Gue sayang sama lo.”
Kalimat itu akhirnya terlontar. Brian tidak berhalusinasi, ia benar-benar mengucapkannya.
Yang mencengangkan adalah respon Wina ketika mendengar itu. Dia tidak tertawa meremehkan, seakan sudah mengetahui hal ini dan hanya menunggu Brian mengucapkannya sendiri.
Their eyes meet each other, this is how you fall in love by Jeremy Zucker playing slowly in the background.
"What's easy is right", my mother's advice
You are the reason I never think twice
Wina menelan ludah dengan susah payah.
Beruntung, adanya jarak di depan mobil mereka membuat Brian kembali fokus pada stir mobil dan memutus pandangan mereka. Wina menoleh ke samping kirinya. “Gue gak pernah anggep lo sebagai laki-laki. Lo itu sama kayak adek gue.”
“I know.” Suara Brian terdengar parau.
Mendadak, suasana berubah menjadi canggung.
“Sorry. I don’t know what else to say. But I always love you since the night we first met. In my grandma’s room. I was fifteen, and you were 23. I always remember how you caress my back and told me to cry when my Oma passed away and everyone else were forcing me to be okay.”
“You know, me too, was thinking that it might be just... adoring? Admiring? You were like a superhero to me back then. I thought it was just that kind of liking. But no, I think I love you.”
Sesuatu dalam perut Wina kini terasa naik hingga dadanya sesak.
No.
Please don’t be like this.
“...and I’m sorry for that.”
“I know I shouldn’t be like this, maybe. But I don’t know what to do with my feeling, kak. You’re my first love,” Brian tertawa miring, “I’ve never experienced this before.”
Setelah itu, Brian mengambil jeda. Hening mengudara untuk beberapa detik.
“It’s okay, I didn’t expect you to do anything about this. I just want to get this out of my chest.”
“I love you, that’s all.”
“That’s all I’m saying.”
Dengan itu, Brian mengakhiri monolog panjangnya lantaran Wina tak menanggapi sedikitpun. Bahkan ia belum mengalihkan pandangannya dari jendela.
Tentu saja, pikirannya saat ini kalut. Ia kembali pada ingatannya ketika pertama kali menginjakkan kakinya di negara asal Ibunya yang terasa asing ini.
Ia kembali pada memori kelam yang terkubur jauh di hati dan pikirannya, ketika Ibundanya meninggalkan mereka untuk selamanya.
Hal itu yang kemudian mengubah hidupnya dan keluarganya seratus delapan puluh derajat.
Ia kembali pada saat adiknya yang paling terpukul atas insiden itu, akhirnya kembali melanjutkan sekolah setelah mengurung dirinya selama berbulan-bulan.
Ia kembali pada saat Jowen bercerita padanya tentang teman pertamanya di sekolah.
Satu hal paling berharga yang Wina ingat, karena bukan hanya fakta bahwa adiknya mendapat teman, tetapi juga fakta bahwa adiknya mulai terbuka pada dirinya.
Dan itulah saat Brian masuk ke dalam cerita hidupnya. Selama ini, ia berpikir Brian adalah sosok malaikat yang Ibunya kirim untuk menjaga adiknya. Mengingat betapa hangat dan manisnya anak itu.
Sekarang, sangat sulit rasanya menerima kenyataan bahwa ia harus mengubah persepsi itu.
Brian datang memungut adiknya dan menjadikan ia teman, semata-mata hanyalah balas budi terhadap dirinya yang sudah menolong sang Nenek?
It sounds freaking wild.
“Kak,”
“Jangan sampe Jowen tau.” Wina memotong ucapan Brian lugas.
“Nobody will know.”
Wina menghembus nafas kasar.
“Kak, if you think I’m being friends with Jowen just because I love his sister or because of my gratitude towards you, you’re totally wrong.”
Merasa pikirannya seperti terbaca, Wina termenung. Sejujurnya, ia masih ingin mendengarkan penjelasan Brian tentang semuanya.
“Bener, gue tertarik sama dia pas tau nama belakangnya Mahardhika. But I never thought he really is your brother.”
“But at the end of the day, you’re right. Mr. Seventh sense.” Wina menimpali.
“Yes, and I’m more than thrilled.” Ujar Brian sarkas yang sukses mendapat tinju kecil di lengannya.
“Trust me, kak. I’ve been through all stages of grief. You don’t have to worry about me. Go on with your life, I’m enough being here with you guys.”
Wina merapatkan bibirnya membentuk senyuman simpul. “And you’ll find your life too someday.”
“Well, gue gak gitu mikirin my love life juga sih buat sekarang.”
Dengan itu, Wina akhirnya menghela nafas sedikit lega. Tidak ada yang harus diubah. Tidak ada yang akan berubah. Kekhawatirannya sudah terjawab saat itu juga. Ia menghembuskan nafas kasar. “Lo tuh bener-bener ya, pinter banget bikin orang gak nyaman.”
“Masa sih? Justru I’ve been told I’m a warm person, pinter mencairkan suasana dan bikin orang nyaman.”
“Well, that also true. Mulut lo emang manis banget kadang. Tipikal buaya. Buktinya segampang itu out of the blue ngomong ‘gue sayang sama lo’.” Wina sengaja melirik lawan bicaranya dengan tatapan sinis.
“Kalo gue buaya mah gabakal sampe 5 tahun, kak, lo baru tau perasaan gue.”
Wina tergelak. “Are you for real, Bri?” She asked herself, still not sure about the conversation she has just witnessed.
Dan obrolan mereka kembali berlanjut tanpa rasa canggung seperti di awal. Hingga perlahan mobil mereka bisa kembali bergerak dan jalanan mulai lancar.
It’s Not So Bad cover by Dybbukk playing in the background this time.
It’s not so bad rainy day.
It’s not so bad confession.
—
Brian’s playlist: https://open.spotify.com/playlist/0wNA0Vo2lxVtlL83EpwfMi?si=IGMiq04FSy2agkjYFE8M3Q
—
“Kak.”
Brian kembali memanggil perempuan yang kini bersandar ke seat-nya yang sudah agak dimundurkan sambil memeluk jaketnya.
Lelah cukup terasa kini usai shift panjangnya dari pagi dan perjalanan yang memakan waktu dua kali lipat dari biasanya. Dia bahkan belum pulang ke rumahnya sejak kemarin. “Hmm.”
“Boleh gue cium?”
Wina tak terusik. Ia masih menyandarkan kepalanya dengan nyaman. “Kalo lo mau wafat besok pagi sih, silakan.”
Brian tertawa puas dengan jawaban Wina. Tentu saja, ia tak betul-betul ingin mencium pujaan hatinya itu.
“Yah, aturan mah daritadi ya gue nanya.” Candanya selagi mulai mengurangi kecepatan ketika memasuki perumahan tempat Wina tinggal. Hujan sudah reda beberapa saat yang lalu, meninggalkan aspal yang masih basah dan bau tanah khas.
Kali ini Wina benar-benar sudah kehilangan tenaga untuk merespon yang lebih muda. Dirinya terdiam sampai saat Brian akhirnya melepaskan penuh pedal gas dan menginjak rem mobil di depan gerbang rumahnya. Ia bergegas mengemasi barangnya dan turun.
“Mau masuk dulu?” tanyanya saat Brian juga keluar dari mobil.
Brian melongok ke rumahnya sesaat, “next time aja deh, kak.”
“Oke, thanks ya sekali lagi.” Wina menepuk lengan kanan Brian.
“Kak.”
Wina yang sudah hampir masuk itu kembali menoleh.
“Boleh gue peluk?” Kali ini, sorot mata Brian menyiratkan keseriusan. Sekilas, namun Wina dapat menangkapnya jelas. Pandangan mereka kembali bertemu untuk beberapa detik. Sebelum Wina menoleh ke kanan dan kirinya memastikan tak ada yang melihat mereka.
Ia mengangguk.
Tak sampai sedetik, tubuh mungilnya langsung didekap oleh yang lebih muda.
Wina tak menolak.
Pun membalas pelukan itu.
Ia hanya membiarkan tubuhnya direngkuh oleh laki-laki itu. Ini pertama kalinya dirinya mendapat pelukan langsung dari teman baik adiknya itu. Hangat ia rasakan.
Kemudian, seperti mendapat insting dadakan, ia kembali menoleh ke arah rumahnya. Itulah saat Wina refleks menyikut perut Brian agar menjauh lantaran dirinya melihat salah satu sisi gorden di jendela kamar adiknya bergerak-gerak.
Benar saja, figur tinggi dan kurus memakai kaos oblong putih nampak di sana beberapa saat setelahnya. Wina tersenyum dan melambaikan tangan.
Brian yang masih mengaduh kesakitan dan memegangi perutnya itu lalu mengikuti arah pandang Wina.
Jowen membuka salah satu pintu kaca itu dan berjalan keluar menuju balkon kecil di samping kamarnya di lantai 2. “Kakak baru pulang?”
“Baru sampe, macet banget di jalan.”
Jowen lalu menggeser perhatiannya pada sosok di sebelah Kak Wina. “You good, bro?”
Satu tangan Brian terangkat memberi tanda OK. “Rada mules aja tiba-tiba, gue duluan ya.”
“Kak.” Ia mengangguk pada Wina lalu masuk ke dalam mobilnya.
Pertanyaan tentang bagaimana kakaknya bisa bersama Brian sejenak muncul di benak Jowen, but he just shrugged it off.
—
Pukul sebelas malam. Hujan deras kembali mengguyur seisi kota tanpa ampun hampir dua jam yang lalu. Kali ini bahkan disertai kilatan petir.
Wina yang baru saja menyelesaikan kegiatan bersih-bersih badannya dan bersiap untuk tidur itu memasuki kamar adiknya perlahan. Ingin memastikan apakah Jowen tidur dengan baik, mengingat adiknya tidak begitu menyukai petir saat hujan.
Lampu kamar sudah padam saat itu. Tersisa remang-remang cahaya dari desk lamp yang masih menyala. Jowen sudah terlelap. Pelan-pelan Wina menaiki ranjang dan memposisikan dirinya untuk tidur di sebelah adiknya. Ia memperhatikan wajah sang adik seksama.
“Temen kamu tuh gila ya.” Ucapnya sendiri.
Tak bisa bohong, benaknya masih berisi semua kejadian yang dialaminya siang ini bersama Brian. Siapa yang menyangka dirinya akan mendapat pernyataan cinta seperti itu tanpa aba-aba.
Rasanya masih sulit menerimanya.
Bukan karena Wina meragukannya, tetapi lebih karena ia merasa sudah cukup mengenal Brian. He’s none other than such a caring and loving person.
It’s so hard to differentiate the platonic and non-platonic love from him.
Is he really loves her as a woman and not just as a nice doctor and older sister figure?
Kekhawatiran mengenai sang adik juga masih terpatri di hatinya. Bagaimana jika Jowen mengetahui hal ini? Ia pasti akan sangat kecewa pada temannya itu. Akan sulit meyakinkan dirinya bahwa Brian tidaklah menjadikan ia teman hanya karna menyukai kakaknya.
Why everything should be this way?
