Work Text:
Rasanya otak Jimin sudah mengepul dan mulai memercikkan api. Ia tidak habis pikir dengan rangkaian kejadian yang dialaminya hari ini, aneh dan di luar nalar. Misalnya seperti pertemuannya dengan salah satu sosok anak Adam di hadapannya yang pada saat ini dengan santainya tengah menyeruput secangkir kopi pahit sampai tetesan terakhir setelah mengeluh kesakitan beberapa saat lalu. Pemuda gila itu benar-benar hampir membuatnya menjadi seorang tahanan.
Bangsat, ampas kopinya pun diseruput juga.
Jimin mendengus sebal.
“Jujur, saya stres,” ucap Jimin sebelum mengisap sebatang rokok yang dipegangnya.
“Sama, saya juga.”
Lihat? Sangat tidak membantu.
Melihat respons santai dari lawan bicaranya, Jimin pun bangkit dan mematikan puntung rokoknya. Ia masih punya beberapa urusan omong-omong, jika dia terus berdiam diri di sini hanya akan membuatnya sakit kepala.
"Masnya udah enakan? Sekali lagi saya minta maaf atas kelalaian saya tadi. Sebagai gantinya ini ada sedikit uang sebagai kompensasi."
Rp300.000 untuk biaya berobat setidaknya cukup, 'kan? Toh, hanya luka ringan. Itu pun karena kesalahan pemuda itu sendiri yang tiba-tiba berjalan ke tengah jalan tanpa melihat sekitar ketika Jimin sedang mengendarai sepeda motornya menuju kampus.
"Wah, kasihan. Ternyata miskin betul kamu ini, ya," celetuk Jungkook yang sontak saja membuat Jimin terkesiap.
“Untung cuma lecet di bagian lutut aja, kalau di bagian wajah bisa hancur masa depan saya, loh. Nih, uangnya saya kembalikan, saya tambahin Rp2.500 buat biaya kamu parkir. Gak usah sungkan, saya ikhlas, kok."
Memandang uang sejumlah Rp302.500 yang dikembalikan Jungkook kepadanya membuat Jimin hampir saja menitikkan air mata.
Demi Tuhan, baru kali ini ia benar-benar merasa jengkel!
“Natapnya biasa aja dong, Mas. Kalau saya baper 'kan bahaya, sebentar lagi saya mau nikah soalnya. Misalkan Mas mau nih, saya bisa kok undang mas ke acara pernikahan saya."
Tak menghiraukan ucapan Jungkook, Jimin menghela napas kasar dan meremas kedua tangannya, mencoba menenangkan gejolak amarah yang sejak tadi ingin ia lampiaskan kepada sosok pemuda freak di hadapannya itu. Walaupun kedua tangannya cenderung pendek, mungil, dan bulat. Akan tetapi, damage yang dihasilkan dari tonjokan tangan tersebut pun tidak bisa dianggap remeh.
"Baik, terima kasih."
Setidaknya untuk saat ini Jimin tidak ingin berulah sehingga harus berurusan lagi dengan makhluk bumi yang satu ini.
Satu kali saja sudah cukup.
"Oh iya, Mas--" Jungkook mengerutkan dahinya mencoba untuk mengingat namanya.
"Jimin."
"Nah, itu! Mas Jimin, sebelum pulang saya mau ngajuin satu pertanyaan dulu."
"Pertanyaan apa?"
"Mas Jimin lihat uang Rp2.500 saya, gak? Saya tiba-tiba haus, nih. Kayaknya minum es di warung depan enak tuh."
"..."
Amit-amit cabang bayi!
Pagi-pagi buta sekali Jihan, sang ibu, membangunkan Jimin untuk segera bersiap-siap. Matanya masih tertutup karena rasa kantuk yang tak tertahankan sembari memeluk bantal guling berwarna kuning kesayangan miliknya dengan erat karena enggan untuk bangun.
"Astaga anak ini, dari tadi mama bangunin kenapa gak bangun juga sih, Ji?"
"Um, lima menit lagi."
"Okay deal, lima menit lagi mama bakar patung kecil jejepangan kamu itu. Geli mama lihatnya, teteknya gede-gede gitu udah kaya kena tumor aja."
Dalam kurun waktu kurang dari lima detik akhirnya Jimin terpaksa membuka matanya dan menatap kesal ke arah sang ibu. Bisa-bisanya wanita paruh baya itu mengancam dan mengejek action figure miliknya.
Lalu apa katanya tadi? Tumor? Benda ini adalah bola-bola surgawi! Orang tua mana tahu.
"Nah, gitu dong! Sekarang kamu mandi terus siap-siap sebab keluarga bapak Jeon mau datang ke sini."
Jimin mengernyitkan dahinya heran. "Mereka siapa emangnya?"
"Itu loh... yang punya pabrik tahu gede, salah satu supplier kita."
"Oalah.."
Cukup iyakan saja walaupun sebenarnya tidak tahu.
Lagi pula sepertinya ada yang aneh, sebab tidak biasanya ia dibangunkan sepagi ini hanya karena ada salah satu supplier datang ke rumah. Padahal jika sekadar urusan bisnis cukup berbicara dengan papa atau mamanya saja.
Jimin tiba-tiba merasa tidak enak perasaan.
Ibunya tidak berniat menjualnya ke lelaki tua hidung belang, 'kan?
Nah.
Ingat hal ini, jangan pernah abaikan firasat buruk! Karena berdasarkan pengalaman Jimin, pada dasarnya firasat buruk selalu benar terjadi dengan kemungkinan 85%. Seperti pada saat ini misalnya.
"Hehehe."
Jimin menatap pemuda tak asing di depannya dengan wajah cemberut. Membatin dan berharap agar gigi pemuda tersebut cepat kering sehingga menyusahkannya untuk tertawa menyebalkan seperti itu.
Jeon Jungkook.
Sialan, bisa-bisanya mereka dipertemukan kembali.
Terlebih lagi setelah mengetahui bahwa seonggok Jungkook ini merupakan calon suaminya.
Catat, calon suaminya!
Kali ini Jimin benar-benar ingin menangis. Terbukti dengan adanya genangan air mata buaya di kedua pelupuk matanya.
Posisi duduknya sangat tidak nyaman. Bagaimana tidak? Dengan posisi kursi yang saling berhadapan sehingga mau tak mau keduanya akan menatap satu sama lain. Lagi pula apa yang mau Jimin lihat selain wajah bodoh Jungkook? Membayangkan dirinya menikah dengan pemuda itu saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri. Tentu saja ia merinding!
Jimin melihat kanan kirinya untuk mencari sang ibu yang beberapa saat lalu keluar bersama kedua orang tua Jeon Jungkook, katanya sih mau membahas masalah bisnis. Padahal Jimin tahu betul bahwa hal ini sudah direncanakan oleh mamanya.
Wanita itu, astaga.
"Saya gak nyangka loh kalau calon suami saya ternyata Mas Jimin. Hati saya berbunga-bunga, aduhai~" ucap Jungkook dengan nada menggoda yang membuat Jimin semakin kesal.
"Yakin banget saya mau sama situ?" jawab Jimin ketus.
"Loh, kenapa enggak? Bapak saya punya pabrik tahu."
Pala bapak kau.
Kalau begitu alasannya, Jimin lebih memilih untuk menikahi bapaknya saja.
"Mas Jimin."
"Hm."
"Saya mau cerita sesuatu, nih. Tapi, nanti mas jawab ya?"
"Cerita apa?"
"Kemarin 'kan saya ke apotek beli obat tidur, pas pulang saya bawa pelan-pelan. Tahu gak kenapa?"
"Takut ketabrak lagi?"
"Ish, bukan!"
"Terus?"
"Saya takut obatnya bangun, xixixixi."
Oalah, wong sableng.
Jimin menguap dan menopang wajahnya di atas meja dengan kedua lengannya untuk tidur sejenak. Ia masih memiliki satu mata kuliah terakhir pada hari ini, akan tetapi rasa kantuk tetap melahapnya setelah semalam suntuk mengerjakan tugas mata kuliah statistika.
Hari ini adalah jadwal mata kuliah manajemen pemerintahan. Jimin mengambil program studi Ilmu Pemerintahan sehingga mau tak mau ia harus memahami hal-hal berbau politik. Duduk di bangku semester lima sedikit banyak menyita waktu Jimin untuk bersantai ria.
Mendengar sebuah suara tarikan kursi di sebelahnya, membuat Jimin dengan enggan menoleh untuk mengetahui pelaku pembuat suara tersebut.
Ah, ternyata cecunguk Taehyung.
"Ji, gimana tugas statistika? Susah gak?"
"Hm, ya gitu."
Taehyung tidak membalas dan hanya menganggukkan kepalanya sembari memainkan ponselnya.
"Kenapa pindah tempat duduk ke sini?" tanya Jimin yang merasa heran dengan kehadiran Taehyung di sebelahnya.
"Males, Ji. Di pojok belakang banyak nyamuk."
"GUYS, COBA CEK GRUP KELAS. ADA INFORMASI BARU DARI BU NARA!"
Jimin berdecak sebal setelah mengetahui bahwa sang dosen tidak akan masuk pada hari ini dan akan digantikan dengan hari lain. Sungguh, ia amat sangat membenci pergantian jadwal seperti ini.
"Goblok, tahu gini mending aku turu aja daripada ngampus."
"Tahu, tuh!"
Riuh suara mahasiswa yang juga merasa kesal dengan perubahan jadwal yang tiba-tiba.
Jimin melirik arloji miliknya dan waktu telah menunjukkan pukul 13.00 siang. Siang-siang begini sepertinya enak kalau dinikmati sembari nongkrong di warung kopi dan mengisap sebatang rokok. Kedua tangannya refleks meraba kedua saku celananya untuk memastikan stok rokoknya masih tersedia.
Bagus, masih aman.
"Ji." Taehyung menepuk pundak kiri Jimin yang sontak saja menimbulkan pertanyaan bagi empunya.
"Apa?"
"Tuh," ucap Taehyung sembari melirik ke ambang pintu di mana terdapat sosok pemuda bergigi kelinci yang sedang tersenyum ke arah Jimin.
Loh, Jungkook?
"Selamat siang, Kekasih. Anterin mas ke pasar yuk!"
"Ngapain?"
"Mau beli pakan lele, dong! Mas ini mau coba bisnis ternak lele, hebat 'kan calon suamimu ini?"
Hal apa yang lebih melelahkan daripada lembur mengerjakan tugas seharian penuh?
Ya, betul.
Berurusan dengan seorang Jeon Jungkook sepanjang hari.
Seminggu setelah pertemuannya dengan keluarga Jeon, Jihan selaku ibu selalu meminta Jimin untuk mengajak Jungkook jalan-jalan sebagai upaya pendekatan sebelum ke jenjang pernikahan yang akan diadakan lima bulan ke depan.
Jihan bahkan memberikan semua informasi tentang Jimin kepada Jungkook, mulai dari kampus, tempat biasa dia nongkrong, semuanya. Katanya sih agar memudahkan 'si calon suami' untuk bertemu.
Jimin merasa mual mendengarnya.
"Mas Jimin, kalau boleh tahu di sini ada ruko gitu gak, ya? Perjalanan dari rumah mas saya ke rumah mas Jimin terus ke kampus bikin badan saya kurang enak gini rasanya. Kayaknya saya masuk angin, deh." Setelahnya Jungkook bersendawa dan menepuk perutnya berkali-kali.
Berapa usia pemuda Jeon ini? Perjalanan dari rumahnya ke kampus pun sudah mengeluh masuk angin, seperti bapak-bapak saja.
Menghela napas lelah, Jimin hanya mampu menadahkan tangan kanannya guna meminta uang kepada Jungkook. "Mas Jungkook tunggu di sini, biar saya yang bantu beliin."
Jungkook tersenyum puas, dengan jahil ia mencubit pelan pipi kanan jimin. "Belum juga nikah sudah berbakti sama calon suami, jadi makin suka."
"Ini uangnya. Oh iya, saya minta tolong buat beliin minyak gosok juga kalau ada, ya? Badan saya agak pegal soalnya."
"Iya."
"Sama satu lagi, kembaliannya ambil buat Mas Jimin jajan."
Cerewetnya.
"Bila kamu di dekatku, hati rasa~ syahdu~"
Mendengar Jungkook mulai menyanyikan lagu dangdut sembari menatapnya, membuat Jimin bergegas membawa uang dan pergi meninggalkan pemuda Jeon tersebut.
Bisa-bisanya sang ibu menjodohkannya dengan bapak-bapak seperti Jungkook.
"Satu hari tak bertemu, hati rasa rindu~"
"ASEEEEK!"
Suara keras Taehyung terdengar menyahuti nyanyian Jungkook.
Astaga, benar-benar memalukan.
Tak terasa sudah dua bulan lamanya Jimin melakukan proses pendekatan dengan Jungkook. Jujur saja, hal ini berada di luar ekspektasinya karena Jimin tidak mengira bahwa ia masih bisa bertahan sampai sejauh ini.
Setelah mengenal calon suaminya tersebut, Jimin mengambil kesimpulan bahwa pemuda tersebut cukup baik dan pengertian walaupun karakternya yang agak norak dengan dad jokes miliknya. Satu hal lagi, Jimin akui bahwa paras Jungkook tidak terlalu buruk sehingga tidak terlalu jomplang bila disandingkan dengannya.
Jungkook masih berusia dua puluh dua tahun omong-omong, dua tahun lebih muda dibandingkan Jimin. Akan tetapi, anehnya Jungkook memiliki perangai yang sedikit abnormal. Pemuda bergigi kelinci tersebut berperilaku bak seorang pria dewasa, um- lebih seperti bapak-bapak sih, pikir Jimin.
Seminggu yang lalu Jimin dibuat sedikit kesal dan malu setelah mendapat sebuah pesan via WhatsApp dan menemukan bahwa Jungkook mengirimkan sebuah foto dirinya yang telah diedit ala kadarnya dengan caption, "Lemah, letih, lesu kukira masuk angin, ternyata efek mencintaimu." Tak lupa dengan pemilihan font yang alay serta emoji cinta yang besar di samping wajahnya.
Hidup di tahun berapa dia itu?
Setelahnya Jimin harus menanggung malu karena fotonya yang entah kenapa bisa bocor di tangan cecunguk Taehyung. Pada akhirnya, ia terus ditertawakan oleh Taehyung perihal hal tersebut.
Tetapi, jujur saja, foto itu memang cukup menghibur.
"Udah lama nunggunya, Mas?"
Jimin menoleh dan mendapati Jungkook yang muncul dari arah sampingnya dengan setelan pakaian yang kasual serta model rambutnya yang ditata rapi dengan model curtain haircut. Sangat tampan.
Sebentar, apa katanya tadi?
Sesaat Jimin hampir tidak mengenali sosok pemuda itu karena gaya pakaian dan rambutnya yang tak biasa. Jungkook tampak jauh lebih segar dan terlihat seperti usianya pada umumnya. Karena di hari-hari biasa pemuda itu hanya akan mengenakan setelan kaus dan celana jeans tak lupa dengan sendal jepit hijau miliknya.
"... Mas Jungkook?"
"Hehehe, pasti terpesona sama ketampanan calon suamimu. Iya, 'kan?"
"Iya, deh. Iya."
"Siang ini terik betul, jadi saya mampir dulu ke toko kosmetik buat belikan sunblock supaya kulit Mas Jimin tetap terjaga." Jungkook mengeluarkan satu kantung plastik berisi satu tub sedang tabir surya dari saku jaket denim-nya dan menyerahkannya kepada Jimin.
Orang ini ... benar-benar out of the box.
Namun, orang ini adalah calon suaminya.
Jimin dengan ragu menerimanya dan menyimpannya di saku celana. "Terima kasih."
"Berhubung saya udah dandan ganteng begini gimana kalau kita jalan-jalan ke Mall? Jajan terus karaokean enak tuh, Mas."
Ide bagus.
"Tapi saya maunya dangdutan, deal?"
Jimin terkekeh pelan sembari menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan dan menerima uluran tangan Jungkook yang diarahkan kepadanya.
Setidaknya ia memiliki kencan 'normal' dengan calon suaminya tersebut.
"Sekarang cuacanya cerah, secerah hati saya tiap ketemu sama Mas Jimin."
"Mas suka deg-degan juga gak sih tiap ketemu saya? Coba dengerin jantung saya, bunyinya kayak ketuk palu Pak Hakim!"
"Mas Jimin gemesin banget deh, kaya puding."
Mulai lagi.
Omong-omong genggaman tangan Jungkook rasanya hangat.
Jimin sakit.
Ia demam, pusing, mual, dan tenggorokannya nyeri.
Lalu Jungkook dengan sigap mengirimkannya beberapa kebutuhan seperti obat-obatan anti demam, kompres bye bye fever, obat isap pereda nyeri tenggorokan, serta bubur yang diklaim sebagai bubur buatannya sendiri.
Istilah gaulnya sih ... Jungkook itu tipikal boyfriend material.
Jimin menggelengkan kepalanya saat Jungkook menodongkan sesuap bubur di depan mulutnya. Ia cukup mual saat ini, benar-benar tidak ada nafsu untuk memakan apapun.
"Makan dulu, Sayang. Kalau gak ada asupan apa pun nanti makin sakit, loh. Sini buka mulutnya biar mas suapin, lagian buburnya enak, kok."
Cih, sayang.
Tetapi gemas.
"Gak mau ..."
"Mas udah buatin buburnya loh, masa gak mau coba?"
Melihat wajah melas milik Jungkook sontak saja membuat Jimin sedikit tidak tega. Mau tidak mau ia membuka mulutnya untuk menerima sesuap bubur buatan Jungkook itu.
"Gimana? Enak?"
Rasanya enak dan hal itu cukup mengejutkan Jimin. Ternyata selain pandai dalam berbisnis ternak lele, calon suaminya juga cakap dalam hal memasak.
"Hm."
Tentu saja Jimin tak mau berbicara secara gamblang dan mengatakan bahwa bubur ini enak serta ia menyukainya. Gengsi dong, Boss!
Jungkook tersenyum setelah mendengarnya, lantas menyodorkan kembali sesuap bubur itu ke arah Jimin. Tak sadar bahwa pada akhirnya Jimin mampu menghabiskan semangkuk bubur buatannya. Merasa puas.
"Makanya kalau dibilangin tuh, ya, nurut. Kemarin saya bilang apa? Jangan keseringan minum es sama makan yang goreng-goreng. Mas Jimin ini kalau dibilangin bandelnya minta ampun."
Terus saja terus.
Jungkook pikir dia siapa? Ayahnya? Bisa-bisanya mengomel ini itu. Jimin ini seorang pasien tahu! Pasien!
Bukannya sembuh yang ada justru vertigo yang didapat karena terus mendengar omelan Jungkook.
"Tuh, dengerin omongan calon suamimu, Nak. Memang mama gak pernah salah pilih calon menantu, hihi."
Ini lagi satu. Benar-benar combo yang bagus.
"Ya sudah, sekarang istirahat aja yang banyak. Obatnya tolong diminum setengah jam sesudah makan. Saya masih ada kerjaan di luar, tapi kalau ada apa-apa cukup kabari saya, ya?"
Cup!
GSGAJZNAKALZNZ
JUNGKOOK? BERANINYA?!
Jihan yang sejak tadi memperhatikan dua sejoli itu langsung terkikik pelan dan pergi begitu saja setelah melihat calon menantunya dengan berani mengecup dahi putranya.
Lain halnya dengan Jimin yang pada saat ini wajahnya kian memerah bak tomat yang telah masak.
Jimin kesal dan ingin menangis pada saat ini juga.
Seharian penuh Jungkook tidak mengabarinya, bahkan sebuah pesan pun tidak. Entah apa yang dilakukan pemuda itu sampai membuat Jimin terbiasa dengan ocehannya dan pesan-pesan absurd yang dikirimkan kepadanya.
Biasanya Jungkook akan mengirimkan setumpuk pesan dengan gombalannya yang aneh atau foto hasil editan yang amat sangat dibanggakannya.
Kemarin Jimin bertengkar hebat.
Dengan Jungkook tentunya.
Jimin tidak terlalu pandai dalam mengatur ucapannya ketika ia sedang marah ataupun jengkel. Jujur saja, ia pun menyayangkan hal tersebut. Kebetulan kemarin adalah hari yang cukup berat untuknya, ia baru saja sembuh dari sakit. Akan tetapi, harus menghadapi permasalahan dari pekerjaan, perkuliahan, dan juga tuntutan sang ibu untuknya menikah muda.
Sebenarnya ia juga tidak menolak usulan Jihan untuknya menikah muda. Akan tetapi, Jimin hanya sedikit jengkel karena ibunya terus merecokinya untuk melakukan ini dan itu.
"Bisa diam gak, sih? Saya itu pusing dengar ocehan gak jelas kamu itu!"
"Kamu pikir saya gak stres sama tuntutan kalian semua supaya saya menikah muda apalagi dengan calon suami seperti kamu?!"
"Saya muak!"
Mengingat hal-hal yang diucapkannya kemarin sangat tidak pantas dan kasar membuat Jimin mengerang frustrasi. Ia memandang sendu jalanan dari atas balkon kamarnya dan melirik ke arah ponsel di tangannya.
Tetap tidak ada notifikasi dari yang ditunggu.
"Kamu kenapa sih, Ji? Mama lihat seharian ini kamu uring-uringan terus."
Jimin menghela napas berat. "Jungkook ..."
"Dia gak ada kabar," lanjutnya.
"Loh, mama kira kamu udah tahu kalau nak Jungkook gak bisa ke sini dulu karena habis kecelakaan--"
"Mama kenapa gak bilang aku, sih? Aish!"
"Eh, tunggu dulu, Ji!"
Sesampainya di halaman rumah keluarga Jeon, Jimin langsung berlari ke depan pintu dan menemukan Bapak Jeon sedang berbincang santai dengan beberapa pegawainya bahkan terlihat tertawa.
Apa yang bapak tua itu lakukan? Anaknya sedang sekarat, tetapi-
Tak mengindahkan pria paruh baya tersebut, Jimin bergegas mengetuk pintu rumah dan mendapati seorang wanita yang merupakan sosok Ibu Jungkook membukakan pintu untuknya.
"Loh, Nak Jimin?"
"Ibu, Jungkooknya ada?"
Ibu Jeon tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya, mempersilakan Jimin untuk masuk menemui sang putra. Tentu saja Jimin tidak menyia-nyiakan hal tersebut, ia langsung berjalan menuju kamar Jungkook. Akan tetapi-
"AKKHHHHH!!! MATI AKU MATI."
Sesaat Jimin terdiam di depan pintu masuk Jungkook, hatinya berdenyut nyeri mendengar teriakan menyakitkan calon suaminya. Bisa-bisanya kabar sebesar ini disembunyikan darinya!
"Sakit, huhu."
BRAK!
"JUNGKOOK!"
"..."
Apa-apaan ini?
Apa yang dilihatnya justru di luar ekspektasi. Jimin pikir Jungkook tengah diinfus dan menggunakan perban di sekujur tubuhnya, namun ini-- Jimin bahkan tidak menemukan indikasi luka berat apa pun. Hanya ada Jungkook dan seorang wanita paruh baya kisaran 50 tahunan yang tengah mengoleskan minyak gosok di bagian paha pemuda itu.
Katanya Jungkook kecelakaan ...
"Mas Jungkook, kamu ..."
Kamu kelihatan baik-baik aja tuh.
"Saya dengar Mas Jungkook habis ngalamin kecelakaan," cicit Jimin.
Jungkook terdiam tak menjawab pertanyaan Jimin, terlampau terkejut karena tak menyangka atas kedatangan Jimin ke rumahnya. Urat-urat di lehernya menonjol, sesaat lehernya pun berubah warna menjadi merah. Setelahnya Jungkook memalingkan wajahnya.
Loh?
Ibu Jeon yang baru saja tiba di kamar sang putra dan melihat situasi bingung dari calon menantunya langsung mengelus lembut bahu Jimin.
"Nak Jimin, jangan khawatir, ya, sebab Mas Jungkook baik-baik aja, kok."
"Oh, ya? Tapi kenapa Mas Jungkook tadi teriak begitu ...?"
"Calon suamimu itu cuma lagi diurut badannya sedikit, soalnya habis ditabrak sapi Pak Samsudin tadi pagi."
Mendengar klarifikasi dari calon mertua sontak saja membuat Jimin tertawa keras sampai menitikkan air mata. Ia benar-benar kehabisan kata-kata. Semua kekhawatirannya sirna begitu saja dan hanya bisa melihat sosok Jungkook yang tengah menatapnya dengan malu.
"Mas Jungkook maafin saya soal kemarin, ya?" Jimin tiba-tiba menangis.
Jungkook mencoba beranjak dari kasur walaupun sedikit mengaduh kesakitan. Berjalan terseok-seok ke arah Jimin dan segera memeluknya dengan erat. "Iya," jawabnya singkat sembari mengecup lembut puncak kepala Jimin.
"Maafin saya karena gak bisa jaga ucapan, maafin saya juga karena gak bisa kontrol emosi waktu itu, dan maafin saya juga karena--"
"Sssst jangan nangis, gak usah dipikirin, toh. Saya gak apa-apa, kok. Pas kita nikah nanti, sapinya saya sembelih karena udah buat calon suaminya Mas Jimin celaka. Kira-kira mau dibuat rendang atau dendeng, Mas?"
Bangsat, bangsat, bangsat.
Kenapa kisah hidupnya berubah haluan menjadi komedi seperti ini? Tidak ada lagi kehidupan normal setelah pertemuannya dengan seseorang bernama Jungkook.
Calon suaminya yang satu ini benar-benar tiada duanya!
"Apa sih, garing!"
"Tapi boleh deh dendeng ... pedas, ya?"
"Iya, Sayang. Iya."
Kalau dipikir-pikir, keduanya hampir tidak pernah benar-benar mengatakan pernyataan cinta pada satu sama lain. Selain itu, Jimin pun masih dalam proses belajar untuk menerima Jungkook sebagai calon suaminya, memang cukup memakan waktu. Akan tetapi, mari kita nikmati perjalanan cinta keduanya sampai ke titik budak cinta penghabisan!
"Mas Jungkook?"
"Iya?
"Saya penasaran, kok kayaknya Mas Jungkook sering banget kena tabrak begitu? Gak hati-hati atau gimana?"
"Kalau kata ibu saya, sih, sebab saya lahir pas Jumat Kliwon. Jadi, ya begitu."
-Fin-
