Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 5 of Keluarga Cendana
Stats:
Published:
2022-10-23
Words:
1,282
Chapters:
1/1
Kudos:
29
Hits:
752

Aku Milikmu

Summary:

Mungkin Ari Lasso sudah tidak menyanyi untuk Dewa 19 lagi.

Tapi lagu Aku Milikmu tetap di sana.

Sama seperti Johnny yang tetap milik Ten. Serta Ten yang memiliki Johnny.

Baik musik ataupun kisah Johnny dan Ten, mereka abadi.

Notes:

Oneshot ini dibuat karena Joel yang muncul dan buat Rumpang balik ke permukaan. Jadi, ini oneshot memang untuk Joel dan orang yang masih inget, nunggu dan suka sama Rumpang.

Makasih udah kasih ke cerita yang entah kapan rampungnya ini.

Btw, oneshot ini punya latar waktu saat Bang Johnny sama Ten masih pacaran! Waktu Johnny belum pindah kerja ke Balige, jadi mereka belum LDR~

Work Text:

Kalau ditanya apa yang paling bisa buat Johnny bahagia saat ini, jawabannya ya udah pasti Ten.

Namanya Ten Chittaphon. Nama unik yang kata Ten bisa dikasih demikian karena dia yang lahir di Thailand waktu Mama sama Bapak lagi liburan ke sana.

Jujur, Johnny nggak peduli gimana asal usulnya. Yang penting bagi Johnny sekarang cuma Ten yang ada di pelukannya. Yang penting buat Johnny sekarang, cuma Ten yang datang buat beri warna baru buat hidupnya yang udah kelewat berat sepanjang dia hidup.

Di minggu siang yang damai, di dalam kamar Johnny yang jendela kamarnya terbuka lebar sampai angin sepoi-sepoi masuk buat berikan sejuk untuk dua sejoli yang kini lagi pelukan di atas kasur itu, mata Ten masih terpejam sempurna dalam kamar yang tak dinyalakan lampunya itu; buat Ten masih berada nyaman di alam mimpi sementara Johnny yang memeluk dari belakang—jadi sandaran Ten tidur—bernapas dengan tenangnya sambil usap surai pacarnya yang baru aja dipangkas kemarin sore sambil sesekali usakkan hidungnya di sana.

Suara sayup radio yang mengalun di luar kamar terdengar merdu. Bawakan lagu-lagu baru yang masih asing di telinga sekalipun dinyanyikan oleh penyanyi kegemaran.

Dewa 19 kali ini jadi penggambaran bagaimana kisah cinta Johnny bersama Ten.

 



Sekejap cinta terlahir
Namun jadi sebuah cerita
Yang tak mungkin terlupa
Terukir di hati
Dan tak mau pergi

 



Johnny terenyuh dalam lirik yang dinyanyikan oleh Ari Lasso itu. Jemari besarnya mengusap pinggang Ten pelan, membuat pria yang lebih kecil kini memutar tubuhnya dan tidur menghadap Johnny.

Wajah damai Ten yang tidur ada di hadapan matanya. Bibir ranumnya yang memerah alami, bulu matanya yang Johnny sadari kini jadi lebih lentik dari sebelumnya, serta hidung bangirnya yang tercetak sempurna.

Ten bukan manusia bagi Johnny. Karena setiap manusia harusnya miliki kekurangan. Namun pada Ten, pada Chittanya. Johnny tidak bisa temukan hal itu

 



Mungkinkah ku miliki
Cinta seperti ini lagi
Jangan biarkan aku
Kehilangan dirimu

 


Ten beringsut semakin menempel pada dada bidang Johnny. Melingkarkan tangannya pada pinggang pria yang lebih tua serta mendusalkan wajahnya sampai kembali tenang terlelap.

Johnny menunduk, melihat ke arah Ten yang belum tunjukkan tanda-tanda ingin terjaga dari tidur siangnya.

Tak apa, buat Johnny, Ten yang lelap di pelukannya padahal alih-alih mereka kini sedang kencan di luar sesuai dengan kesepakatan awal sama sekali tak masalah.

Karena yang terpenting, bukan apa yang dilakukan, tapi dengan siapa yang melakukan aktivitasnya.

Johnny ikut pejamkan matanya, pendengarannya dapat tangkap napas teratur Ten dalam pelukannya. Sedetik berganti semenit, Johnny tetap pada posisinya. Dan Ari Lasso di luar pun masih menyanyi merdu.

 



Coba dengarkanlah sumpahku
Dari hati aku cinta kamu
Jangan dengar kata mereka
Yang tak ingin kita satu

 


"Abang?"

Johnny jauhkan wajahnya dari Ten, kedua matanya langsung tatap mata sayu pria yang baru saja panggil namanya dengan serak.

Mata Ten belum terbuka sempurna, kesadarannya pun belum terkumpul semua. Ten mendongak, ia condongkan wajahnya untuk semakin dekat dan tatap Johnny dengan senyumannya yang perlahan hadir di bibir.

"Nyenyak tidurnya?"

"He'em." Ten tarik lengan Johnny untuk semakin erat melingkar pada pinggangnya. Pun sama, Ten juga ikut peluk Johnny sedekat dan serapat yang ia bisa.

Tangan Johnny yang satunya menangkup punggung Ten, mendorongnya 'tuk mudahkan Ten jadi rapat dan membelainya halus.

"Mau tidur lagi?" tanya Johnny dengan suara berupa bisikan hingga suaranya ikut merendah.

"Engga. Mau peluk aja." Ten kikis jarak antara wajah mereka hingga ujung hidung bangirnya menggesek hidung pacarnya.

Johnny istirahatkan keningnya pada milik Ten. Kedua mata mereka sama-sama terpejam. Namun hati mereka bisa melihat bagaiman tenang dan nyamannya yang mereka rasakan.

"Aku mau kayak gini terus," bisik Ten yang diaminin Johnny.

"Aku juga."

Johnny pun mau rasakan begini selalu. Johnny mau habiskan setiap waktunya untuk hidup bersama Ten; bernapas dengan damai dalam rangkulan lengan Ten.

Sampai kapanpun, Johnny akan selalu usahakan untuk tidak bisa beranjak dari pelukan Ten. Ia akan usahan untuk tidak lagi lepas dari genggaman hangat Ten.

Kalau selamanya ada, maka Johnny akan minta selamanya untuk bisa saling berbagi oksigen dengan Ten.

Dengan Chittanya.
Dengan Cintanya.

"Abang."

Johnny selalu dipanggil abang oleh banyak orang. Namun saat Ten yang memanggil dengan suaranya yang melembut, perutnya tetap saja tergelitik.

"Kenapa, sayang?" Telunjuk Johnny usap rambut-rambut Ten yang jatuh di atas pelipis.

"Laper," adu Ten yang berhasil buat Johnny tertawa kecil.

"Mau makan apa?"

"Indomie."

"Masa indomie? Nggak mau yang lain aja?"

"Engga. Maunya indomie. Tapi kamu ya yang masak? Kalo abang yang buat, rasanya lebih enak."

Ten sunggingkan senyum lebar. Berhasil buat Johnny luluh dan iyakan permintaan simpelnya.

"Ya udah ayo. Kamu mau ikut ke dapur atau tunggu di sini?"

"Ikut."

Ten bilang ikut. Tapi ia tak beranjak. Ten bilang mau ke dapur juga, tapi lengannya masih peluk Johnny erat tanpa mau lepas.

"Terus gimana kita ke dapur kalau masih begini?"

"Akunya yang digendong," ucap Ten yang ia akhiri dengan kekehan geli.

Ten tentu hanya bercanda.

Tapi Johnny sungguh-sungguh. Satu tangan Ten ia taruh untuk melingkar di lehernya sementara satu lengan Johnny lainnya mengalung di bawah perpotongan lutut Ten.

"E-eh! Nanti kalau ada yang lihat gimana?!" Ten panik. Mereka sedang ada di rumah Johnny sekarang. Ten akan merasa tidak enak hati dan segan kalau sampai Ibuk atau Hana melihat mereka.

"Nggak apa-apa. Kan kita pacaran."

"Tapi nggak gini juga, abanggg."

Walau Ten tidak mau, tapi dia tetap diam dan tak berontak di gendongan Johnny. Ten bantu Johnny untuk buka pintu kamar dan mereka pergi ke arah dapur yang bisa di bilang lumayan jauh dari kamar Johnny yang berada di depan sementara dapur di belakang.

Ten lingkarkan kedua lengannya pada leher Johnny, wajahnya ia sembunyikan pada dada Johnny karena tidak ingin melihat Johnny yang malah menatapnya alih-alih melihat ke arah jalan.

"Aku nggak bakal berubah jadi monyet tiba-tiba, jangan dilihatin gitu."

"Masa lihat pacar sendiri nggak boleh?"

Ten melirik ke arah Johnny. "Terserah abang aja lah."

Johnny menahan tawanya; wajah memerah Ten yang kini sembunyi di pundaknya berhasil buat hatinya menghangat.

"Udah sampe ini, mau tetep di gendong atau gimana?" tanya Johnny penuh jenaka sekaligus godaan hingga Ten masih saja salah tingkah.

"Rumah nggak ada orang ya?" tanya Ten yang sebenarnya tidak menjawab pertanyaan Johnny.

"Iya, cuma kita berdua."

Ten celingak-celinguk melihat sekitar. Ia mengangkat dirinya sendiri untuk mendekat ke wajah Johnny dan tanpa aba-aba, satu kecupan mampir pada pipi kanan Johnny;

berhasil buat Johnny terbelalak kaget dan tersenyum lebar.

"Ada rawit sama telur nggak ya?" Ten turun dari gendongan Johnny dan langsung menuju kulkas tanpa melihat lagi ke arah pacar tingginya.

Walau ia yang berbuat, Ten tetap malu dan salah tingkah.

Apalagi Johnny yang dicium mendadak gitu. Pria itu masih terpaku di posisinya sambil memegang pipinya sendiri.

"Ten," panggil Johnny.

Ten yang mencari cabai di dalam kulkas tidak menggubris.

"Chitta."

Ten masih diam dan mengoceh bahwa ia tidak bisa menemukan apa yang ia cari.

"Sayang?"

Ten menoleh dan tatap Johnny dengan raut bingung serta pipi yang masih setia timbulkan semburat merah.

"Kenapa?"

Johnny berjalan mendekat, tangannya mengacak surai Ten lalu berkata, "Kamu duduk aja, kan aku yang masak," ucap Johnny yang kemudian ikut secara tiba-tiba layangkan satu ciuman di pipi kiri Ten.

Membuat Ten menggigit mulut bagian dalamnya dan izin pergi untuk ke kamar mandi lebih dulu.

Ten mengacir ke kamar mandi. Pergi untuk netralisir jantungnya yang berdetak kencang tak karuan. Tinggalkan Johnny sendirian di dapur yang juga lakukan hal sama, coba bernapas dengan harapan bahwa perasaan yang membuncah senang di hatinya dapat berkurang sedikit demi sedikit.

Bukannya apa, tapi Johnny tidak akan sanggup untuk berhadapan dengan Ten kalau jantungnya terus saja berisik.

Di dapur siang itu, Johnny dan Ten tak sembunyikan senyum dan kasmaran cinta yang hadir. Bahagianya mereka, muncul dari hati dan sampai ke mata.

 


Yakinkan aku milikmu
Aku milikmu

 


Ari Lasso sudah tidak menyanyi untuk Dewa 19 lagi.

Tapi lagu Aku Milikmu tetap di sana.

Sama seperti Johnny yang tetap milik Ten. Serta Ten yang memiliki Johnny.

 

—fin.

Series this work belongs to: