Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
#kookminday22
Stats:
Published:
2022-10-26
Words:
5,199
Chapters:
1/1
Kudos:
32
Bookmarks:
2
Hits:
237

A Cup Of Joy

Summary:

Park Jimin sering berkunjung ke kafe langganannya, setiap hari ia akan selalu mampir untuk sekedar me time sembari mengerjakan pekerjaannya, atau hangout bersama teman. Hingga semua staf kafe pun mengenalnya, akibat sering berkunjung.

A Cup Of Joy, itu adalah nama kafe yang sering di kunjunginya.

Bukan hanya sekedar itu, tetapi ia memiliki misi khusus untuk mendapatkan hati sang vokalis band kafe. Akankah berhasil? kita lihat nanti.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 


 

Mata itu terpejam dengan bibir yang terus bergerak mengikuti lirik demi lirik yang di nyanyikan oleh vokalis band kafe. Suara yang begitu halus, merdu, dan juga sedikit berat membuatnya betah duduk berlama-lama hanya untuk menikmati sebuah lagu.

Bukan sekali atau dua kali dirinya mendengar suara merdu itu namun sudah beberapa kali entah yang ke berapa. Satu bulan, dua bulan? Sepertinya lebih dari itu. Yang pasti ia sudah menjadi pelanggan setia hingga staf kafe pun mengenalnya.

A Cup Of Joy  nama kafe yang sering dikunjunginya.

Suasana indoor maupun outdoor kafe yang terdapat tumbuhan di mana-mana dan juga bangunan kayu yang menambahkan kesan sejuk dan nyaman baginya.

Jimin meminum ice coffee lattenya melihat bagaimana jemari itu sangat lancar memetik senar gitar, memainkan nada demi nada lagu dengan baik. Jimin sangat menyukai kafe ini, dirinya sering berkunjung entah itu untuk hangout bersama teman atau me time. Bukan hanya itu, Jimin juga memiliki misi khusus untuk melihat sang vokalis. Kenapa? Sebab, sepertinya Jimin telah jatuh cinta pada sang vokalis saat mata mereka tidak sengaja bertemu. Pipi Jimin memerah sempurna karena sang vokalis memberikannya senyuman manis pada pandangan pertama yang mana tidak bisa dilupakan begitu saja.

Katakanlah Jimin sangat percaya diri jika sang vokalis menyukainya. Namun, siapa yang tahu akan maksud dari senyuman manis yang dikasih untuknya, bukan?

Lama termenung, Jimin tidak menyadari jika lagu sudah selesai dinyanyikan, digantikan oleh suara sang vokalis yang meminta salah satu pengunjung untuk me-request salah satu lagu sebagai lagu terakhir sebelum istirahat yang akan dimainkan oleh bandnya. 

Mejanya ditunjuk beberapa kali, namun tidak ada respons darinya hingga seseorang di sampingnya mencolek bahu Jimin dan ia segera tersadar dari termenungnya.

“Ya, kenapa?” Jimin bertanya dengan bingung, pasalnya semua pengunjung menatap kearahnya.

Seseorang tadi menunjuk ke arah depan, tepat di mana sang vokalis berada. Jimin sontak mengikuti arah telunjuk seseorang itu dan lagi mata mereka tidak sengaja saling memandang. Kali ini Jimin sangat terpesona akan penampilan sang vokalis.

“Mau request lagu apa, Kak? Gue bakal nyanyiin,” tanyanya sembari tersenyum. 

Jimin kembali menunjuk dirinya, menyakinkan sang vokalis tidak salah memilih. Satu anggukan dari seberang sana membuktikan bahwa benar ialah yang dipilih.

Tanpa pikir panjang, Jimin langsung menyebutkan judul lagu yang ia request

*playing bgm now = tulus - 1000 tahun lamanya*

Senar gitar dipetik kembali, memulai dengan awal kalimat dari sang vokalis. “Buat yang nunggu crushnya buat buka hati lagi, semangat, ya! Jangan putus asa! Meski harus nunggu 1000 tahun dulu atau samsek gak digubris.” candanya.

Gelak tawa muncul dari para pelanggan kafe termasuk Jimin. Setengah wajahnya tertutup tangannya yang mungil hingga matanya membentuk bulan sabit sempurna. Kini semua pelanggan terdiam saat mendengar suara sang vokalis yang mulai bernyanyi. Semuanya menikmati, bagaimana suara, petikan gitar, dan juga senyuman manis sang vokalis di sela-sela nyanyianya.

Jimin tidak hentinya memuji dalam hati, bagaimana sempurnanya wajah sang vokalis. Rahang yang tegas, hidung bangir, bibir tipisnya, mata bulatnya, dan juga gigi kelinci yang terlihat menggemaskan saat tersenyum.

Lirik demi lirik lagu pun selesai dinyanyikan, Jimin bertepuk meriah meneriaki sang vokalis dengan kalimat I love you secara spontan. Balasan tak terduga dari kalimat yang ia sebutkan tadi mampu membuatnya membeku di tempat.

I love you too, Kak Jimin— itulah yang dikatakan oleh sang vokalis padanya.

Dirinya menjadi pusat perhatian dari para pengunjung kafe yang bersorak menggoda, pipinya bersemu merah. Merasakan malu sekaligus berdebar di saat bersamaan. Sontak ia menunduk, mencoba menyembunyikan pipi meronanya meski masih terlihat dengan jelas. Lirikan matanya hanya melihat ke bawah, tidak berani menatap sekeliling karena pasti masih ada beberapa pelanggan yang menatap ke arahnya.

Dalam hatinya berucap, “bagaimana bisa dirinya begitu bersemangat dan bodoh mengatakan kalimat yang mampu membuat jantung nya berdebar tidak keruan?”

 

***********

 

Sepasang sepatu Puma putih berjalan ke arahnya, mencoba mengingat kembali siapa yang memakai sepatu Puma putih. Hingga akhirnya sapaan lembut menyapa telinganya. Jimin mendongak lalu membulatkan matanya terkejut. Hah? kok, pake kesini, sih …?

“Boleh gue duduk disini, kak?” tanyanya sopan.

Jimin masih saja kebingungan, matanya melirik kursi dan juga seseorang di depannya ini secara bergantian. Sepersekian detik berpikir akhirnya Jimin memperbolehkan untuk duduk, meski ia tahu ini akan sangat canggung dan mendebarkan.

“Gue jungkook, hai Kak Jimin.” seseorang itu Jeon Jungkook, vokalis band kafe yang ia sukai.

Uluran tangan terpampang di depannya, Jimin langsung menjabat tangan Jungkook lalu ia lepas, mengangguk sekali, dan kembali menyapa Jungkook.

Umm, hai juga, Jungkook?” ucap Jimin kaku.

Jungkook terkekeh, ia merapikan poni rambutnya ke belakang yang mana membuat Jimin berteriak dalam hati. cakep banget, bangsat! See, Jimin sebegitu sukanya pada Jungkook.

“Btw, kak gue liat-liat lo sering ke sini, emangnya gak bosen kafe ini terus yang lo datengin?” tanya Jungkook penasaran.

“Gak mungkin bosenlah, orang tujuan gue ke kafe juga buat liat lo, kook.”  monolognya dalam hati.

lantas jimin menggelengkan kepalanya, “Gak lah, 'kan vibes kafenya kesukaan gue juga, emangnya kenapa kalo gue ke kafe ini terus? 'kan bikin untung juga.”

Jungkook terkekeh sembari mengangguk, “Haha. iya, tau. Maksud gue tuh lo gak bosen sama menu yang lo pesen tiap hari samaan?”

Sontak Jimin langsung melihat ke arah mejanya, yang terdapat menu strawberry cake dan ice coffee latte. Memang hanya menu itu yang selalu dipesan oleh Jimin.

“Kan enak. Kesukaan gue juga.” jawab nya yakin. “Eh bentar, lo tau nama gue dari mana? Terus juga lo tau menu yang tiap hari gue pesen apa aja, Lo stalker ya?” tuduhnya pada Jungkook.

Jungkook terkekeh kecil lantas ia majukan sedikit wajahnya ke arah Jimin, yang mana membuat Jimin ikut memundurkan wajahnya dengan tatapan terkejutnya serta menahan napasnya.

“Lo lupa ya kak? Gue di sini tiap hari, udah kenal semua pegawai disini, bisa keluar masuk dapur. termasuk bisa liat menu apa aja yang lo pesen,” jawab Jungkook enteng.

Jimin membuang napasnya kasar sebab selama beberapa detik menahan napasnya, mencoba untuk tetap tenang, meski hatinya bersorak riuh.

Setelah mengatakan itu Jungkook kembali memundurkan wajahnya, menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menatap Jimin dengan lekat hingga membuat Jimin melirikan mata gelisah di tempat duduknya.

Ia alihkan dengan memakan strawberry cakenya namun sial, sepertinya pelet Jungkook sangat berpengaruh untuknya.

Baru beberapa suapan saja dirinya menjadi salah tingkah sebab Jungkook yang terus menatapnya sembari tersenyum. Tahu dari mana? Dirinya merasa jika sepasang mata menatapnya lekat sedari tadi.

“Lo ngapa ngeliatin gue senyum kek gitu? Demen lo?” ujarnya percaya diri.

Gigi kelinci itu terlihat, tersenyum lebar menghadirkan lesung pipi yang semakin membuat jimin terpesona. “Lo lucu kak.”

Seketika otak Jimin berhenti bekerja saat pendengarannya menangkap kalimat lucu dari Jungkook. Jungkook mengatakan bahwa dirinya lucu? Oh, Ya Tuhan, tolong tembak Jimin sekarang juga.

“Btw, ini nomer gue. Lo call ya Kak. Gue tunggu. thanks, Kak Jimin.” Jungkook berlalu begitu saja setelah meninggalkan kertas berisikan nomor telepon, lalu berlari ke arah ruangan istirahat khusus band.

Jimin memegang dada kirinya, jantungnya berdebar kencang. Merasakan euforia saat kalimat lucu itu terdengar di telinganya, apalagi Jungkook memintanya untuk menelepon agar mereka bisa bertukar kontak.

INI GAK BAGUS BUAT HATI GUE, GAK BAGUS SERIUS, ya itulah isi hati Jimin saat ini.

 

******

 

Selepas kejadian tukar nomor itu jungkook sudah beberapa kali menemui Jimin, entah untuk sekadar menyapa, mengobrol sebentar, atau lunch bersama di kafe A Cup Of Joy. Terkadang mengobrol lewat telepon atau chatting sampai tengah malam.

Seperti malam ini, sebuah obrolan yang tidak terlalu penting berjalan sekitar dua jam. “Udah malem. Tidur, Kook.” ujar Jimin sembari merebahkan dirinya pada kasur kesayangannya.

“Udah pagi btw, Kak. Sekarang jam satu lewat empat puluh menit” ujar Jungkook dari seberang sana.

Jimin menahan kantuknya agar tidak terdengar oleh jungkook sembari mengucek matanya, menandakan dirinya sudah mengantuk, ingin menyudahi teleponan ini. namun, hatinya masih ingin mendengar suara Jungkook.

“Iya emang udah pagi. Lo ngajakin gue ngobrol ampe berjam-jam.” terdengar suara kekehan dari seberang sana

“Tadi siapa yang bilang, ‘jangan matiin dulu, ya. Gue masih mau denger suara lo, kook.’ Hayo siapa?”

Jimin berdecih sebal, namun pipinya terasa memerah malu. “Nyebelin banget sih, lo? Untung suara lo bagus, jadi nya betah gue dengernya.”

“Suara gue yang bagus apa guenya yang terlalu ganteng makanya lo betah dengerin gue nanyi di kafe?” tanya Jungkook meledek ia hanya ingin tahu bagaimana reaksi Jimin.

Jimin mendengus “A-apa deh. Karena suara lo! Bukan lo nya! Ge-er banget jadi orang!”

“Ya gapapa geer, 'kan lo ini orangnya,” jawab jungkook di sela-sela bercanda nya.

“Gak usah bercanda! Males gue,” tegas Jimin pada Jungkook.

“Gak bercanda, serius gue, Kak.” suara Jungkook terdengar yakin di telinganya, ia percaya akan feelingnya bahwa Jungkook juga menyukainya. Namun, apa ia bisa menyuruh Jungkook untuk suka padanya, meski hati Jungkook entah bagaimana?

Jimin mencoba menghilangkan pikiran jeleknya lalu mengubah posisi tidur telentangnya menjadi miring ke kanan, menaruh ponselnya di sampingnya dengan mode speaker ia nyalakan, tidak lupa juga memeluk guling kesayangannya. Jika tidak ada guling Jimin akan terbangun dari tidurnya terus menerus dan jangan lupa AC yang harus selalu menyala.

“Kak Ji? Lo masih melek, 'kan …? Jangan bilang gue ngomong sama setan?!” Jimin terkekeh akan ucapan Jungkook.

“Yang ada nanti setannya suka sama lo. Karena diajakin ngobrol,” balas Jimin,

“Mending sukain lo aja dah, Kak,” ujar Jungkook tiba-tiba.

Reaksi Jimin hanya terkekeh hambar, sudah terlalu malas meladeni aksi konyol Jungkook. “Ngawur banget ngomong nya lo, kook.”

“Jangan bercanda soal perasaan. Kalo ujungnya nyakitin hati gue, Kook,” lanjut Jimin berbisik, namun masih terdengar jelas ditelinga Jungkook.

Di seberang sana hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa hingga suara Jimin menyadarkannya.

“Btw, Kook, nyanyiin gue lagu dong. Udah ngantuk banget ini, gak kuat melek lagi,” pintanya pada Jungkook

“Mau dinyanyiin lagu apa?” tanya Jungkook kembali.

Jimin terlihat menimang sebentar, namun otaknya tidak bisa bekerja pada saat dirinya sudah mengantuk berat. “Apa aja, asal jangan lagu rock. Gue block nomor lo!” ancam Jimin, di seberang sana hanya tertawa kecil.

Lantas Jungkook langsung mengetes suaranya agar terdengar lembut yang bisa Jimin dengar. “Oke, oke. Gue dapet satu lagu. Gue mulai ya, Kak?”  tidak ada jawaban, lantas Jungkook mulai bernyanyi.

*playing bgm now, Coldplay - fix you.*

Bagi Jimin, suara Jungkook adalah penenangnya. Hanya dengan mendengarkan suara Jungkook saja, hatinya sudah merasa tenang. Bukan satu dua kali ia meminta Jungkook menyanyikan lagu tidur untuknya, sudah berkali-kali dan ia berhasil tertidur lelap. Meski tidak terlalu mengantuk lalu meminta Jungkook untuk bernyanyi maka ia akan tertidur sampai pagi menjelang. Bukan sihir memang, Jimin adalah orang yang susah untuk tidur sebab kerjaan yang membuatnya lembur. Hingga akhirnya, suara Jungkook-lah yang menjadi pengantar tidurnya.

Di sela nyanyiannya Jungkook terkekeh kecil, sebab mendengar suara dengkuran Jimin yang sedikit keras. Sangat lelah kah? — pikirnya. Yang Jungkook pikirkan saat ini, pasti Jimin mengalami hari yang begitu melelahkan. Ia sedikit merasa bersalah sebab mengajak Jimin mengobrol sampai dini hari. Besok pagi ia akan bertemu Jimin, memberikan sesuatu sekaligus meminta maaf karena telah menunda jam istirahat Jimin.

“Sleep Well, Cantik.”  telepon pun ditutup.

Kalimat terakhir jungkook sebelum menutup telepon tadi sangatlah tidak terduga. Membuat hatinya berdebar, Jimin masih setengah sadar dari alam mimpinya dan dunia nyata. Saat mendengar kalimat Jungkook barusan, Jimin bisa merasakan sudut bibirnya naik, menahan senyum dalam setengah sadarnya. Kemudian ia memutuskan untuk tidur sebab besok harus bangun pagi karena pekerjaan.

 

********

 

Suara gaduh dari dalam kamar mungil itu terdengar sampai bawah, sang bunda yang memang sedang menyiapkan makanan untuk sarapan sampai berteriak kencang meminta sang anak untuk tidak gaduh. “Kamu cari apa sih, Dek?! kedebak-kedebuk gitu?” tanya sang bunda.

Dari atas juga ikut menyahut dengan berteriak, “KAUS KAKI PAUS AKU YANG ABU-ABU DIMANA SIH, BUN?”

Sang bunda berjalan ke arah tangga berniat menghampiri sang anak, namun sang anak keburu turun dengan wajah kebingungannya. “Kan kamu sendiri yang taro di rak sepatu bawah,” ucap sang bunda.

“Siapa yang taro? Aku mana ada taro di rak bawah. ini pasti Bunda, 'Kan? bunda yang taro?” tanyanya menuduh sang bunda. Tanpa permisi kepalanya dijitak pelan oleh sang bunda.

“Masih muda udah pikun. Coba inget lagi semalem siapa yang naro? Jangan nuduh bunda!” sang bunda berjalan kembali ke arah dapur, mengambil nampan yang berisi tiga piring pancake beserta susu hangat untuk ditaruh di meja.

“Kok ada tiga? 'Kan ayah di luar kota?” Bukannya menjawab pertanyaan sang bunda, Jimin malah bertanya hal lain mengapa ada tiga piring pancake di nampan padahal hanya ada dirinya dan juga sang bunda di rumah.

Sang bunda memberikan kode ke arah ruang tamu dengan wajahnya, matanya pun mengikuti kode dari sang bunda. Lalu terkejut, sebab kodenya berisikan seseorang yang tengah duduk tersenyum lebar ke arahnya dengan tangan yang melambai sembari berkata “Hai, Kak Ji.”

“Mampus, malu banget gue …,” ujar Jimin dalam hati. Apa saat dirinya mendumel mencari-cari kaus kakinya sudah ada Jungkook di sana? Apa Jungkook mendengarkan semuanya ...?

Jimin berjalan mendekat beberapa langkah. “Lo—” jari telunjuknya menunjuk ke arah Jungkook. “Sejak kapan ada di sini?” tanyanya.

Jungkook mengernyitkan alis, ia melirik jam sekilas dan kembali melihat Jimin. “Baru kayaknya, pas lo cari-cari kaus kaki paus lo.”

Mulut Jimin terbuka sedikit, merasakan malu pada dirinya sendiri. Dirinya yang masih acak-acakan, rambut berantakan, baju tidur yang kusut, dan jangan lupakan wajah bantalnya. Sontak wajahnya langsung ia tutup dengan kedua tangannya hingga membuat Jungkook bingung.

“Lo ngapain kek gitu, Kak?” tanya Jungkook penasaran. 

“Jangan liat! Muka bantal gue jelek!” jawab Jimin jujur.

Ah, soal itu.

Lantas Jungkook tertawa kecil sembari menggeleng kepala. “Sebelum lo tutup gitu juga gue udah liat kali, Kak. Muka bantal lo lucu, gak jelek. Apalagi pas muka lo merengut gitu, ampe mau gue gigit pipi lo saking gemesnya.” Jimin berdecih antara suka dan tak suka akan reaksi Jungkook.

Sukanya? Suka saat dirinya di bilang lucu dan gemas. Tidak suka nya saat Jungkook mengatakan ingin menggigit pipinya. Coba bayangkan, seseorang yang tidak pernah datang ke rumah kalian lalu mengatakan seperti itu saat ada orang tua kalian. Apa tidak malu? Mungkin saja orang tua kalian akan beranggapan lain, bukan?

“Kamu tuh, Dek, kalo punya pacar bawa ke sini. Masa diem-diem aja? 'Kan bunda juga mau tau pacar mu kayak apa,” ujar sang bunda tiba-tiba, Jimin menatap tak percaya pada sang bunda.

“Pacar apanya, sih? Bunda sok tau banget,” jawab Jimin mengelak.

“Ya kalo namanya bukan pacar terus apa? Pagi-pagi ke sini bawain makanan buat kamu,” jawab sang bunda sembari menunjuk styrofoam yang ia yakin adalah bubur.

“Err itu, gue beliin lo bubur ayam, Kak. Buat yang tadi malem, maaf udah ganggu jam tidur lo.” Jungkook menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, ia juga tidak enak akan jam tidur Jimin yang menjadi kacau karenanya.

Jimin paham sekarang mengapa jungkook tiba-tiba datang ke rumahnya sepagi ini. “Santai aja, sih, 'kan gue juga yang mau ditemenin ngobrol sama lo, Kook.” jedanya sebentar. “Tapi, makasih buat buburnya.” lanjutnya.

Jungkook ikut tersenyum saat Jimin tersenyum lembut ke arahnya. Sang bunda yang melihat aksi itu hanya terkikik gemas lalu berdeham kencang agar keduanya menyudahi aksi saling pandang. “Udah sana mandi, abis itu makan. Masih ada waktu 30 menit.”

“Ck, ganggu aja bunda nih,” ujar Jimin, Lalu berjalan ke arah tangga, tetapi sebelumnya ia meminum air putih terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa hausnya. Setelah itu berjalan cepat menaiki tangga untuk bersiap, namun baru beberapa langkah sang bunda berbicara dengan sangat lantang hingga membuat langkahnya terhenti.

“Kan bisa pacaran lagi pas mau berangkat. apalagi naik motor bisa dempetan, 'kan?” balas kembali sang bunda dengan teriakan yang bisa didengar Jimin.

“BUKAN PACARR, IH!” teriak Jimin dari tangga, ia berjalan sembari mengentakkan kaki, membuat kedua orang yang sedang makan itu tertawa kecil.

 

*********

Jimin sudah siap untuk berangkat kerja, tidak lupa untuk sarapan terlebih dahulu dan membawa bekalnya yang sudah disiapkan. Kali ini ada yang berbeda dari keseharian berangkat kerjanya. Apa itu? Yaitu Jungkook yang mengantarkannya. Mereka sudah berada di teras rumah Jimin, memakai helm untuk keselamatan.

“Tali helm nya kalo kekencangan bilang.” Jimin menggeleng hingga helm yang ia pakai ikut bergoyang. 

“Gak kenceng, malah kendor. Tukeran helm sini.”

“Kalo lo pake punya gue yang ada malah tambah kendor. Kepala gue gede, kalo kepala lo 'kan kecil, kak?” ucap jungkook meledek dan setelah satu pukulan pelan diterima pundaknya.

“Kecil pala lo!” ujar Jimin tidak terima kepalanya diejek kecil oleh Jungkook.

Jungkook terkekeh akan jawaban Jimin lantas ia balas, “Kenyataan, badan lo aja mungil, kecil gitu, palanya juga kecil lah.”

Jimin memutar bola matanya malas. “Ya, ya, serah lo. Buruan berangkatnya, takut telat!” ajak Jimin pada Jungkook untuk segera menyalakan motornya.

Jungkook bergegas menyalakan motornya lalu menurunkan pijakan kaki motor agar Jimin mudah menaiki motor Aeroxnya. “Udah?” tanya Jungkook pada Jimin.

“Udah, ayok jalan,” pinta Jimin. 

“Pegangan, Kak. Lo jatuh gue gak tanggung jawab.” lantas Jimin memegang erat masing-masing sisi samping jaket Jungkook.

“Nih, udah pegangan. Sekarang jalan,” pinta Jimin.

Jungkook memutar bola matanya malas, ia menarik tangan Jimin yang ada pada masing-masing sisi jaketnya agar berpindah memeluk dirinya dari belakang. Jimin langsung menahan napasnya di saat merasakan tubuhnya menempel sempurna pada punggung Jungkook.

“Pegangan tuh begini. Kalo tadi kayak gitu, lo bakal jatuh, kak,” ujar Jungkook di saat tangan Jimin sudah melingkar sempurna di pinggangnya.

Jimin menahan senyumnya lalu berbicara ketus seakan tahu maksud Jungkook meski dalam hatinya beterbangan kupu-kupu.

“Modus lo, Kook. Bilang aja biar dipeluk gue, 'kan?” Jungkook hanya tersenyum dari balik helmnya, apa yang dikatakan oleh Jimin ada benarnya. Dirinya ingin dipeluk oleh Jimin.

Jimin mempererat pelukannya, menyandarkan tubuhnya secara rileks pada punggung lebar milik jungkook. Tersenyum lebar bagaimana rasanya memeluk jungkook dari belakang. Kepalanya pun ia sandarkan pada bahu Jungkook, sesekali menatap ke arah spion yang mengarah pada dirinya dan juga Jungkook. Mata bambi itu menyipit, menandakan Jungkook juga ikut tersenyum saat dirinya tersenyum.

Perjalanan kali ini tidak ada obrolan sama sekali, sebab Jimin yang ingin merasakan waktu berdua dengan Jungkook. Sedikit terdengar olehnya detak jantung Jungkook yang berdebar, yang ia harap bahwa jantung Jungkook berdebar karenanya. Meski hubungan mereka belum jelas adanya, Jimin tetaplah Jimin yang tujuan utamanya adalah mendapatkan hati Jungkook.

 

******

 

Rutinitas itu sudah terjalin hampir sebulan lebih, di mana Jungkook yang menghampirinya, mengajaknya makan, memintanya untuk menemani jam kosongnya dengan mengobrol penuh lewa telepon, bermain ke rumah atau meminum coffee di kafe tempat Jungkook bekerja. Semua itu Jimin lakukan dengan harapan Jungkook akan memberitahunya bahwa di antara mereka ada something seperti apa yang ia bayangkan. Namun, sepertinya tidak ada. Tetapi dalam hati Jimin mengharapkan lebih dari apa yang ia bayangkan.

Sakit? tentu saja. Ingin mengatakan bahwa kita ini apa? namun ia sadar diri jika di antara dirinya dan Jungkook tidak ada hubungan apa-apa. Kali ini Jimin datang ke kafe seperti biasanya, memesan menu dan melanjutkan sedikit pekerjaan yang belum selesai, tanpa memedulikan panggilan dan senyuman manis dari seseorang di atas panggung sana.

 

*****

Sapaannya diabaikan lagi, merasa aneh akan sikap Jimin belakangan ini yang tidak seperti biasanya. Jika ia menyapa, Jimin akan langsung melambaikan tangan sembari tersenyum atau berlari kecil menghampirinya dengan senyuman lebar di wajahnya.

Jungkook bertanya dalam hati, “Gue ada salah kah?” Ingin rasanya Jungkook menanyakan langsung pada Jimin namun urung, sebab waktu untuk bernyanyinya sudah dimulai. Mungkin nanti saat dirinya selesai bernyanyi, ia akan menanyakan perihal ini pada Jimin.

Sedih rasanya, seperti ada yang hilang dari sebagian hatinya, melihat Jimin yang selalu tersenyum saat menyapa balik dirinya. Tetapi, kini sapaan itu tidak terbalaskan.

Kali ini Jungkook menyanyikan lagu yang sesuai akan keadaannya, lagu yang memberikan kode pada Jimin bahwa ia ingin meminta maaf.

*playing now, sorry - pamungkas*

Hatinya kembali tercubit akan reaksi Jimin yang terlihat biasa-biasa saja. Tidak memedulikan nyanyiannya. Jika biasanya Jimin akan sangat bersemangat menunggu dirinya bernyanyi dari mejanya, namun kali ini Jimin terus menerus melihat ke arah laptopnya. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan agar jimin kembali seperti biasanya?

 

*******

 

“Gak boleh, Jimin. Lo gak boleh liatin dia terus.”

“Please, jangan luluh!”

“Biar Jungkook tau rasa, gue cuekin. Sapa suruh gantungin gue!”

Jimin kembali fokus pada pekerjaannya mencoba menghapus bayang-bayang jungkook dari kepalanya, tetapi tidak bisa. Hatinya memilih untuk tidak menoleh saat pendengarannya menangkap langkah kaki seseorang yang mendekat ke arahnya namun ia tetap menoleh, saat suara putus asa itu menyapa telinganya, hanya sesaat. Kemudian ia kembali fokus pada pekerjaannya.

“Kak Jimin …” Itu Jungkook, yang kini menatapnya penuh penjelasan.

“Kak Ji …” Jimin hanya membalas dengan berdeham, acuh tak acuh akan kehadiran Jungkook di sampingnya.

Suara tarikan kursi di sampingnya tak membuat dirinya menoleh lagi, matanya tetap tertuju pada layar laptop, sebisa mungkin untuk tidak eye contact dengan Jungkook. Karena jujur, pikiran dan hatinya saat ini tidak bisa diajak kerja sama.

“Lo ngehindar dari gue, Kak?” tanya Jungkook to the point.

Jimin menekukkan alisnnya, tatapannya masih terus menatap layar laptop. “Kapan gue ngehindarin lo? Jangan fitnah!”

“Gak fitnah, tapi fakta. Udah dari seminggu yang lalu, lo banyak berubahnya. Mulai dari lo yang jarang nyapa balik gue, jarang angkat telepon gue, sekalinya angkat singkat banget langsung dimatiin. Gak kasih gue semangat waktu mau nyanyi, gak senyum lagi ke gue. Lo ngehindar dari gue, Kak Jimin.”

“Gue enggak ngehindar dari lo, Jungkook. Stop ganggu gue. Gak liat gue lagi ngapain?” ujar Jimin sembari menatap sengit ke arah Jungkook. Setelah itu dirinya kembali fokus pada kerjaannya.

Jungkook menghela napas, dirinya masih tidak menyerah untuk menanyakan hal mengapa Jimin menghindari dirinya. Bukan hanya satu atau dua kali ia menanyakan pertanyaan yang sama pada Jimin, yang pasti tidak akan dijawab oleh Jimin.

“Jujur aja, Kak ji. Lo ngehindar dari gue. Coba ngomong, gue salah apa biar gue tau 'kan salah gue di mana?”

“Lo gak ada salah,” jawab Jimin singkat.

“Ada, pasti ada. Buktinya lo diemin gue, ngehindarin gue.”

“Gak ada, Jungkook. Gue lagi sibuk.”

“Bohong dosa, Kak.” 

“Serah!” ucap Jimin final, ia tidak akan menjawab perkataan Jungkook lagi.

Alih-alih berdiam Jungkook kembali bertanya, namun kali ini dengan satu ide cemerlangnya yaitu menarik salah satu notebook yang sedang Jimin pakai. Entah itu ide yang cemerlang atau bukan, tetapi Jungkook tetap melakukannya.

“Jujur sama gue. Lo kenapa ngehindar? atau buku buah peach lo ini gue buang?!” Jungkook mengangkat tinggi notebook Jimin dengan tangannya, pada posisi duduknya.

Jimin sontak merebut kembali notebooknya, namun Jungkook mempunyai akal lain dengan dirinya yang berdiri dan buku yang ia rentangkan ke atas.

“Sumpah Jungkook, jangan main-main kenapa?” omel Jimin pada Jungkook.

“Jujur dulu, lo ngapa ngehindarin gue, Kak Jimin? Atau ini buku beneran gue buang?” Jimin menggertakkan giginya kesal, ia menatap ke arah jungkook dengan mata yang sengit bercampur kesal.

“BRENGSEK! GUE SUKA SAMA LO! TAPI LO-NYA GANTUNGIN GUE! PUAS?!”

Ucapan Jimin yang memang sangat lantang membuat Jungkook terdiam di tempat, diikuti suara pelanggan yang tadinya ramai kini menjadi senyap sembari menatap ke arah mereka. Jimin berdecak sebal, ia malu karena menjadi pusat perhatian orang. Ia kembali menatap ke arah Jungkook yang kini terdiam seperti patung, tanpa pikir panjang Jimin mengambil notebooknya dan barangnya secara acak, berjalan terburu-buru meninggalkan area kafe.

“Bodoh, sumpah bodoh. Kok lo bisa ngomong kek gitu sih, Ji???” rutuk Jimin pada dirinya sendiri. 

*******

Tubuhnya membeku di saat mendengar kalimat yang Jimin katakan barusan, ia tidak salah dengar bukan? Jimin menyukainya? sejak kapan …?

Jungkook tersadar dari lamunannya, Ia mencari keberadaan jimin di sekitar kafe, namun tidak ada. Berlari keluar berniat mengejar Jimin namun siluet Jimin tidak terlihat, ia menghela napas panjang, ia kehilangan jejak Jimin. Ia membutuhkan penjelasan lebih dari Jimin. Apakah Jimin benar-benar menyukainya atau tidak?

Sebenarnya dari awal memberanikan diri untuk memberikan nomor teleponnya dan juga berkenalan dengan Jimin, dirinya sudah mulai merasakan rasa yang berbeda di saat berhadapan dengan Jimin. Entah itu apa yang ia rasa, namun yang ia pastikan gejolak jatuh cinta pada pandangan pertama. Jika biasanya ketika ia bernyanyi tidak terlalu sering melihat ke arah pelanggan, namun kali ini ia selalu menatap ke arah pelanggan, yang pasti fokusnya hanya menatap ke arah Jimin bukan yang lain.

Jimin, pemuda mungil yang berhasil menaklukkan hatinya, perhatiannya, dan juga sukses membuat hatinya berdebar ketika mata sipit itu membentuk bulan sabit yang dibarengi dengan senyuman manis di wajah mungil Jimin.

Jungkook bukanlah tipe yang langsung mengajak seseorang untuk berkencan atau berpacaran dengannya. Ia mempunyai rencana harus memantapkan hatinya pada siapa ia pilih, hatinya yang memilih ingin seperti apa pilihannya. Yang beruntungnya Jimin-lah yang menjadi dambaannya, cinta pertamanya.

Ia hanya bisa berdoa pada Tuhan dan semesta, tolong jangan pisahkan dirinya dengan Jimin. Karena sungguh, Jungkook hanya ingin Jimin. 

 

*********

Beberapa hari ini Jimin lebih sering mengunjungi taman kota yang selalu ramai. Di sana Jimin hanya merilekskan tubuhnya atau sesekali membeli makanan untuk mengisi perutnya yang kosong. 

Hari ini Jimin tidak membeli apa-apa, hanya menikmati semilirnya angin malam yang sejuk dan juga dingin. Tubuh mungil itu masih betah menghirup udara malam yang terasa segar. Meski dingin, tubuhnya urung untuk beranjak, menikmati bagaimana embusan angin menerpa kulitnya. 

Kelap-kelip bintang di langit menyinari malam yang indah ini. Orang ramai berlalu lalang bersama pasangan atau seorang, ingin rasanya menikmati waktu malam hari bersama pasangan, entah itu makan malam bersama atau hanya berjalan-jalan malam.

Jam menunjukkan pukul 21.42 malam, esok hari ia harus berangkat pagi-pagi sekali sebab meeting penting yang harus ia hadiri. Tubuhnya terpaksa harus beranjak, meninggalkan langit malam yang sangat indah ini. Menghela napas sebentar lalu bersiap untuk pulang, namun baru ingin beranjak tiba-tiba saja bahunya di tahan oleh seseorang.

Dirinya pun menolehkan kepalanya melihat siapa seseorang itu, yang tanpa permisi memegang bahunya. Namun, dirinya pun terkejut sebab seseorang itu adalah orang yang sedang ia hindari beberapa hari ini. “Jungkook?”

Ya, seseorang itu Jungkook. Yang membuat dirinya malu sekaligus gugup di saat bersamaan.

Jungkook menghela napas panjang. “Akhirnya gue ketemu lo, Kak. kalo gue tau lo disini, udah gue datengin.”

“Langsung aja mau ngapain? Gue mau pulang,” ucap Jimin ketus.

“Mau nanya soal di kafe yang tempo hari itu.” tempo hari? Jimin mencoba mengingat kembali, kejadian apa yang sampai membuat Jungkook mencari-carinya. 

Hingga akhirnya ia mengingat satu hal yang membuat dirinya tidak datang lagi ke kafe langganannya.

“Soal gue suka sama lo? Lo mau gue jujur? Iya, emang gue suka sama lo dari awal lo kasih senyuman maut lo itu. Suka gue nambah pas lo mau kita tuker kontak, kita ngobrol, makan bareng, kadang jalan berdua, itu semua kita lakuin ampe sebulan lebih. Gue emang ngarep banget bakal jadi pacar lo atau lo yang nembak gue gitu. Tapi enggak, sebulan lebih ini kita cuma jalanin as friend or stranger? Gue mau lebih Jungkook, bukan cuma itu. Gue mau jadi pacar lo. Tapi gue masih punya harga diri buat gak nembak lo duluan. kalo gue nembak lo duluan terus ditolak 'kan gue yang malu,” ucap Jimin panjang lebar yang diakhiri dengan bibirnya yang cemberut.

Sudah terlalu muak pada Jungkook yang tidak sadar akan rasa sukanya pada Jungkook. Semua unek-uneknya ia keluarkan, ia tidak peduli reaksi seperti apa yang jungkook tunjukan.

Jungkook lantas tercengang dengan penjelasan Jimin, terkekeh kecil dengan pernyataan Jimin yang diakhir. Kakinya selangkah maju yang mana membuat Jimin refleks memundurkan kakinya.

“Jadi, lo mau gue yang nembak lo duluan gitu, Kak?” tanya Jungkook menggoda.

Awalnya Jimin menganggukkan kepalanya, namun langsung menggelengkan kepalanya. “ENGGAK! Ngapain juga, udah telat.”

“Yakin?” tanya Jungkook sekali lagi, menatap penuh keyakinan pada Jimin yang kini tidak berani menatap ke arahnya.

“Y-yakin lah!” ujar Jimin “Lo jangan deket-deket gue!” lanjut jimin. Menatap hati-hati ke arah Jungkook yang kini menatapnya penuh seringai.

“Kenapa? Salting ya, gue deketin gini, Kak?” jawab Jungkook sembari mendekatkan dirinya pada Jimin.

“Jauh-jauh dari gue, Jungkook. Lo mau gue puku—” 

“Gue juga suka sama lo, Kak Jimin.” perkataan Jimin terputus saat mendengar kalimat Jungkook barusan. Mata mereka berpandangan, Jimin melihat jelas tatapan Jungkook yang terlihat tulus.

Sontak Jimin menggeleng kepala, ia memundurkan langkahnya, memutuskan kontak mata, mengalihkan pandangannya ke mana saja.

“Jangan mainin perasaan orang. Ini hati, bukan Time Zone.” cicitnya

“Gue serius, Kak Jimin. Gue suka sama lo. sebulan ini gue gak kasih tau mau gue apa karena gue mau mantapin hati gue memilih lo. Hati gue cuma mau lo, Kak Jimin.” Jimin kembali menatap kearah Jungkook, jadilah mereka saling memandang. Ia tidak ragu, ia bisa melihat jelas bagaimana tatapan Jungkook kepadanya.

“Bohong dosa,” ujar Jimin pelan lantas Jungkook menarik tubuh Jimin agar berdekatan dengannya.

Tanpa permisi, bibir tipis Jungkook menyapa lembut bibir tebal Jimin. Tidak ada penolakan dari Jimin, sementara Jungkook mencoba melumat pelan bibir Jimin menunggu akan reaksi Jimin membalas lumatannya.

Jimin jelas terkejut atas serangan mendadak dari Jungkook, memproses apa yang terjadi namun hanya seperkian detik saja. Dirinya mulai terbuai akan ciuman yang Jungkook berikan, bibirnya perlahan ikut melumat kembali bibir tipis Jungkook. Kedua tangannya meremat hoodie yang dipakai oleh Jungkook, memejamkan mata menikmati bagaimana Jungkook memimpin ciuman ini.

Aksi berciuman itu tidak berlangsung lama, Jungkook menyudahi ciuman lebih dulu. Menatap dalam pada Jimin yang kini menatapnya dengan sayu. “Be mine, Park Jimin.”

Jimin tersenyum lembut ke arah Jungkook lalu mengangguk yang mana membuat Jungkook juga ikut tersenyum. Wajah mereka berdekatan, Jungkook menggesekkan hidung bangirnya pada hidung mungil Jimin.

Mereka tertawa kecil lalu Jungkook mengecup sekali lagi bibir tebal Jimin yang kini terlihat membengkak karena ulahnya.

“Mau pulang?” tanya Jungkook yang diangguki oleh Jimin. Pelukan mereka terlepas, lantas Jungkook berjongkok di depan Jimin. Menepuk-nepuk punggung belakangnya.

“Sini naik, gue gendong.”

“Boleh emangnya?” tanya Jimin ragu

“Boleh lah, kenapa juga gak ngebolehin pacar sendiri buat di gendong?” jawab Jungkook

Pacar— Jimin tersipu mendengarnya, lantas ia mendekatkan diri dan mulai mendekatkan depan tubuhnya pada punggung Jungkook. Kedua tangannya mengalung di leher Jungkook.

Jungkook mencoba menyeimbangkan gerakannya saat mengangkat tubuh Jimin. Menyangga paha Jimin dengan tangannya lalu membenarkan posisi agar Jimin terasa nyaman di gendongannya.

Let's go home, baby,” Jungkook berujar semangat, tersenyum senang karena memang hatinya sedang berbahagia hari ini. Senyuman itu terlihat malu-malu untuk mekar, saat pendengarannya mendengar kata baby yang pasti ditunjukan untuknya.

“Jungkook,” panggil Jimin

“Kenapa, hm?” jawab Jungkook lembut.

“coba bilang baby sekali lagi dong, boleh gak?” tanya Jimin ragu.

“Mau banget? Apa mau aja?” Jimin mendengus sebal, ia menoyor pelan kepala Jungkook. Jungkook hanya terkekeh kecil, melihat reaksi Jimin yang tengah merajuk padanya. lucu memang, Jimin merajuk adalah hal yang paling lucu untuknya.

Baby jiminie, let's go home. Okay? Jangan ngambek, nanti malah jadi tambah lucu, gemesin,” ujar Jungkook tiba-tiba yang mana membuat Jimin tersipu lagi, pipinya merona, jantungnya berdebar, hatinya bahagia. Wajahnya ia benamkan pada ceruk leher Jungkook, menghirup harum aroma tubuh Jungkook.

“Kak,”

“Apa?”

“Tau gak malem ini kenapa keliatan gelap?”

“Malem ini terang, gak gelap Jungkook.”

“Hah ... gue 'kan niatnya mau ngegombal,” ucap jungkook putus asa Jimin tertawa dan meminta maaf sebab dirinya yang tidak bisa diajak kerja sama.

“Haha oke, silakan kalo mau gombalin gue.”

“Udah basi ah gombalan nya,” ambek Jungkook pada Jimin 

“Elah, cepetan, Kook!”

“Malem ini gelap, karena bulannya ngumpet, minder ngeliat lo yang cantik.” Jimin mendengus, gombalan klasik namun mampu membuatnya tersipu.

“Klasik banget gombalan lo, Kook.”

“Klasik tapi bisa bikin pipi lo merah.” Ingin rasanya ia memukul kepala Jungkook namun itu kenyataannya. Pipinya bersemu merah, malu, sebab gombalan Jungkook yang diberikan kepadanya. Dalam perjalanan pulang, mereka saling bertukar cerita dan sesekali bercanda. Mengobrol hal yang penting hingga yang tidak penting, Jimin-lah yang lebih bersemangat bercerita sementara Jungkook hanya mendengarkan sembari melirik ke arah Jimin.

Bagi Jungkook, Jimin adalah sosok yang sempurna. Sempurna dalam segala hal, termasuk sempurna mengambil sepenuh isi hatinya. Dirinya berharap bisa membahagiakan Jimin, bahagia dengan caranya. Karena bagaimanapun, Jimin-lah yang mengambil alih perhatiannya. Jatuh cinta pada Jimin, menurutnya sangat beruntung. Jimin memiliki kepribadian yang baik, sopan, lembut, penyayang, rendah hati, dan tentunya pekerja keras. Jungkook sangat bersyukur, mendapatkan seseorang seperti Jimin untuk mengisi hari-harinya. Jungkook akan berusaha membahagiakan Jimin dengan caranya, bahagianya hanya berada pada Jimin, hanya Jimin.

Malam ini adalah malam yang bahagia untuk Jimin dan juga untuk Jungkook. Penantian yang sangat panjang, yang Jimin bayangkan akhirnya menjadi kenyataan. Jungkook kini menjadi pacarnya, dan first kissnya di ambil oleh seseorang yang pertama kali menyentuh hatinya. Ucapkan terima kasih pada Tuhan dan juga semesta karena telah menyatukan mereka bersama, saling mencintai dan saling menjaga. Jimin bahagia bersama Jungkook, begitu juga dengan Jungkook yang bahagia bersama Jimin.

 

 

 

Notes:

thank you for support my works <33