Work Text:
“Sedihnya udah kek, Bang. Toh gue gak jelek-jelek amat buat gantiin calon suami lo.”
“Berisik.”
Memanggil ...
“Ayo dong jawab ...” cicit Jimin sembari menatap ponselnya dengan gusar.
Tak ada jawaban.
Jimin mengerang frustrasi. Seharusnya hari ini merupakan hari bahagianya di mana ia akan melangsungkan pernikahan secara langsung di gereja bersama sang kekasih, Kim Namjoon.
Tetapi, apa ini?
Belum juga mengikrarkan janji suci, Jimin justru dikejutkan dengan sosok pria asing di hadapannya yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Lalu Namjoon? Kekasihnya itu bak hilang ditelan bumi. Tidak ada satu pun dari panggilannya yang diangkat.
Rasanya Jimin ingin menangis, semua persiapan yang ia lakukan rasanya sia-sia. Ia bahkan sudah memutuskan untuk cuti selama sebulan dari kegiatan modelling-nya. Terlebih lagi dengan ‘calon suami’ palsunya yang tengah duduk santai bertingkah seolah tidak ada hal apa pun yang telah terjadi menimpanya.
“Saya tanya sekali lagi, kenapa kamu bisa ada di sana? Di mana calon suami saya? Dan kenapa harus kamu yang ada di sana?”
Rentetan pertanyaan yang dilayangkan Jimin membuat Jungkook, sosok pria itu menggaruk tengkuk lehernya kikuk. “Gue sendiri aja gak tahu, Bang. Lagian hari ini jadwal gue kawin juga dan gue pikir ya lo itu emang calon gue.”
“Omong kosong! Mana mungkin kamu gak pernah ketemu sama calon kamu sendiri sampai ngira kalau saya calonnya. Kamu pasti bohong, ‘kan?”
“Astaga, serius deh gue gak tahu apa-apa. Gue nih korban perjodohan emak bapak gue asal lo tahu, Bang. Gue Cuma ngikut aja kalau hari ini gue disuruh kawin. Maka dari itu gue ngira lo calon pengantinnya.”
Bloody hell.
Semuanya benar-benar kacau.
Jimin menghela napas berat dan kembali mengecek ponselnya. Ia sudah mengirim puluhan pesan kepada Namjoon, namun sepertinya terlihat tidak ada tanda-tanda dari pria itu untuk membalas.
Bagaimana bisa Namjoon diam dan santai saja? Apakah pria itu tidak berusaha menghubungi Jimin dan menanyakan keberadaannya? Jelas-jelas calon pengantinnya tidak ada.
“Terserah. Berhubung saya lagi pusing, jadi kamu urusin masalah kamu sendiri. Saya pamit.” Jimin melonggarkan kerah jas putihnya dan beranjak pergi.
Baik fisik dan psikisnya lelah saat ini, Jimin butuh waktu untuk beristirahat sejenak guna memulihkan tubuhnya. Beruntung dia memutuskan untuk mengadakan acara pernikahan secara tertutup sehingga tidak akan muncul pemberitaan mengenai hal memalukan yang telah terjadi pada hari ini.
“Eitss, mau ke mana?”
Tetapi sayang, sepertinya keinginan Jimin tidak semudah itu. Pergelangan tangannya dicekal begitu saja oleh Jungkook.
Jimin memutar kedua bola matanya, “Ada apa sih?”
“Kalau lo pergi, terus gimana sama gue?”
“Ya tinggal pulang.”
“Ya enggak segampang itu, bang! Gue diwanti-wanti dari lama sama emak bapak gue buat kawin, udah minta cuti sebulan dari kerjaan, mau jawab apa nanti kalau misalnya gue pulang gitu aja tanpa bawa pasangan gue ke rumah?”
Semakin mendengarkan, semakin pusing kepala Jimin. Problematika dirinya saja belum tuntas diselesaikan lalu kemunculan Jungkook dengan segala permasalahannya harus membuatnya ikut bertanggung jawab juga? Yang benar saja!
“Loh, itu bukan tanggung jawab saya dong?”
“Secara gak langsung lo juga bertanggung jawab! Lagian Abang ngapain ke gereja sini sedangkan ini gereja udah emak gue booking full sejak seminggu yang lalu? Wajar dong kalau gue ngira lo sebagai calon pengantin gue? Untung aja mereka berdua gak bisa hadir hari ini, mau taruh di mana muka ganteng gue ini?”
Tunggu, apa katanya tadi?
“Sebentar, ini—GKI Kebayoran Baru, ‘kan?”
Mendengar pertanyaan ragu Jimin sontak membuat Jungkook terkesiap dan langsung mengubah raut wajahnya. Ia menyeringai. “Waduh, jangan bilang lo salah alamat ya, Bang? Ini Gereja Kristus Kebayoran Baru, bukan GKI Kebayoran Baru.”
Calon pengantinnya tertukar karena Jimin salah alamat.
Sial, kenapa dia begitu ceroboh?
Setelah jatuh tertimpa tangga pula.
Kalau kata anak zaman sekarang sih Jimin itu ngenes sekali. Berkali-kali gagal dalam urusan percintaan dan sekarang harus mengalami kegagalan dalam pernikahan.
Satu jam yang lalu akhirnya Jimin mendapat kabar dari sang kekasih, namun sialnya yang ia dapatkan justru kabar yang tidak mengenakkan hati.
Aku pamit, Ji.
Melihat betapa cerobohnya kamu sama pernikahan kita, aku pikir pernikahan kita bukan ide yang bagus untuk saat ini.
Maaf, tapi aku harap ke depannya kamu dapat lelaki yang lebih baik lagi.
Terima kasih untuk satu tahunnya.
Berengsek betul, bukan?
Lebih wow-nya lagi, Jimin menemukan informasi dari sebuah postingan di Twitter yang menunjukkan bahwa kekasihnya ini tengah menjalin hubungan dengan rekan kerjanya yang bernama Hoseok dan secara kebetulan merupakan calon pengantin Jeon Jungkook yang sesungguhnya!
Mengetahui hal ini tentu saja mengharuskan Jimin untuk mengabari Jungkook agar pria itu tahu. Akan tetapi, responsnya justru di luar dugaan. “Ya udah biarin aja sih, toh masih ada lo.”
Setelah itu Jungkook terus mengikutinya dan mengecapnya sebagai pengganti calon pengantinnya. Jika Jimin menolak, pria bergigi kelinci itu akan merengek karena takut dimarahi oleh kedua orang tuanya.
Kekanakan sekali.
“Calon lo tuh berengsek, Bang. Ngapain ditangisin? Ngomong-ngomong kasur lo empuk, entar kalau kita udah nikah gue beli satu modelan begini juga deh.”
Jungkook dan semua ucapannya penuh dengan omong kosong. Ingin rasanya Jimin memukul wajah idiot itu dengan kepalan tangannya. Siapa juga yang mau menikah dengannya?
“Minggir, saya mau tidur.”
“Masa calon suami diperlakukan dengan kejam seperti ini? Hiks. Gak mau, gue pengen deket sama lo pokoknya!”
“Pindah ke kamar tamu atau saya usir sekarang juga?”
“Elah ancamannya gak asik, iya-iya gue pindah, nih. Awas, jangan kangen sama gue ya!”
“Ya Tuhan ...”
Pukul 06.15 WIB.
Jimin yang tengah tertidur pulas akhirnya dibangunkan oleh suara alarm dari ponsel miliknya. Dalam beberapa saat ia mencoba duduk dan berdiam sejenak, mencoba mengumpulkan niat untuk beranjak dari kasur.
Ia malas, namun di sisi lain juga haus.
Mau tidak mau Jimin bangkit dan berjalan ke luar kamar untuk mengambil segelas air putih di dapur. Dalam jarak yang cukup dekat, ia mendengar sebuah suara dari dapurnya. Tepatnya suara seorang pria yang tengah berbicara layaknya seorang vlogger profesional.
Jungkook? Apa yang dilakukan pria itu di dapur miliknya?
“Oke, setelah itu jangan lupa beri sentuhan terakhir. Kali ini gue pake saus tomat buat ukir bentuk cinta di tengahnya!”
“Jungkook?”
“Eh, ayang beb gue udah dateng. Live memasak bersama Bang Juki episode sebelas cukup sampai di sini, ya. See you next time para penggemarku!”
Jimin tidak mengindahkan apa yang tengah dilakukan Jungkook, toh pria itu memang sudah absurd dari sananya. Ia membuka kenop pintu lemari es dan mengambil sebotol air putih dari dalam lalu menuangkannya ke dalam gelas.
Satu tegukan.
Ah, rasanya melegakan sekali.
“Bang, sini duduk dulu.”
Jungkook merangkul Jimin dan memintanya untuk duduk di kursi yang telah ia sediakan. “Gue masakin lo sarapan, gue namain ‘nasi goreng cinta’ khusus buat lo.”
Jungkook tersenyum lebar setelah mengatakannya. Jimin yang awalnya ingin menolak pun rasanya jadi sedikit enggan karena merasa kasihan. Matanya melirik ke arah sepiring nasi goreng kecap yang dihiasi dengan saus tomat berbentuk cinta. Sedikit mengerikan dan tidak ada nilai seninya.
“Kalau saya mati, kamu yang saya datengin lebih awal.”
“Buset buset, negatif mulu pikiran lo ke gue, Bang. Tapi, makasih loh karena udah pilih gue sebagai pilihan pertama yang lo datengin nanti. Hihi, jadi malu.”
Orang gila.
Daripada terus berbicara aneh dengan Jungkook, lebih baik menghabiskan makanan ini secepat mungkin agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi-- seperti adegan pemukulan misalnya.
Suapan pertama.
Um, rasanya tidak buruk.
Suapan kedua.
Ini oke.
Suapan ketiga.
Aman, Jungkook tidak mencoba untuk meracuninya.
Begitu pun seterusnya.
“Gimana rasanya? Enak?”
“Rasa nasi goreng.”
Jika kalian bertanya apakah mudah untuk tinggal bersama Jungkook? Jawabannya tidak.
Jimin harus rela membagi kehidupan personalnya dengan Jungkook yang notabenenya merupakan orang asing. Harus diketahui juga bahwa berbicara dengan orang yang tidak dikenal tentu menjadi tekanan tersendiri, begitu pun yang dirasakan Jimin.
Berhubung Jimin sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukannya setelah insiden kegagalan pernikahannya. Oleh karena itu, ia menuruti keinginan Jungkook untuk menampung pria itu selama beberapa hari sebelum Jungkook memutuskan untuk berbicara jujur kepada kedua orang tuanya.
Dalam kurun waktu berapa, Jimin tidak tahu.
Akan tetapi, setelah hadirnya sosok Jungkook di kehidupannya rasanya kesabaran Jimin terus menipis bak selembar tisu. Jungkook—demi apa pun tingkah lakunya benar-benar di luar nalar dan menyebalkan. Jimin baru mengetahui bahwa Jungkook gemar sekali menanyakannya pertanyaan-pertanyaan aneh.
Misalnya seperti saat ini.
“Bang, lo pernah kepikiran gak sih cara undur-undur berkembang biak? Apakah mereka saling mundur satu sama lain supaya bisa menghasilkan anak?”
“Di dunia ini ‘kan ada yang namanya tes IQ, menurut lo siapa yang buat tes itu? Berarti dia lebih jenius dari Albert Einstein dong karena bisa ngetes tingkatan IQ orang-orang?”
“Bang—“
“SSSST! Lama-lama mulut kamu saya sumpel juga, ya!”
Bukannya diam, Jungkook justru semakin mendekatkan diri ke arah Jimin sembari tersenyum jahil. “Boleh dong disumpelnya pake yang satu itu, keknya enak tuh kaya yupi.”
Bugh!
Jangan salahkan Jimin dalam hal ini. Salahkan Jungkook karena telah berani menggoda dirinya dan berbicara hal yang tidak senonoh soal bibirnya.
“Bangsat, kecil-kecil cabe rawit anjir. Aduh, mati gue mati.”
Benar saja, setelahnya Jungkook langsung terkapar di lantai.
Jika Jimin tidak salah menghitung, awal pertemuannya dengan Jungkook hingga saat ini sudah berjalan selama kurang lebih sebulan.
Walaupun Jimin dan Jungkook sudah tidak mempermasalahkan isu pernikahan kemarin dan Jungkook pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya setelah kurang lebih seminggu berada di rumah Jimin, sampai saat ini keduanya masih saling berkomunikasi dan berteman baik.
Beberapa waktu yang lalu Jungkook mengatakan bahwa kedua orang tuanya kesal dan masih memintanya untuk menikah. Jimin sendiri tidak habis pikir atas keinginan kedua orang tua Jungkook agar putranya segera memiliki pasangan. Dia masih muda, kenapa harus terburu-buru menjalin sebuah hubungan pernikahan?
Lebih mengejutkannya lagi, pada saat ini Jungkook baru saja berusia dua puluh tiga tahun! Masih cukup muda. Lain halnya dengan Jimin yang akan segera menginjak usia dua puluh enam tahun pada bulan oktober nanti.
Oh ya, hari ini Jimin mengenakan setelan sweter karena cuaca yang cukup dingin. Pakaian berwarna lilac yang membalut tubuh mungil Jimin membuatnya semakin terlihat imut dan lembut.
Melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 13.38 siang, itu tandanya dalam kurun waktu ke depan Jungkook akan segera tiba di rumahnya.
Ting tong.
“Cepat buka pintunya, Yang Mulia ini mau masuk!”
Ucapan nyeleneh seorang Jungkook terdengar di telinga Jimin yang sontak saja membuat Jimin bangkit dari sofa dan segera membukakan pintu, mempersilakan Jungkook untuk masuk.
“Saya gak segan-segan buat kasih pukulan kedua kalau kamu ngomong yang aneh-aneh lagi.”
Jungkook tertawa, namun dengan sigap menaruh telapak tangannya di pipi sebelah kanan yang telah menjadi korban dari kepalan tangan Jimin. Bulat dan kecil begitu kalau dipakai memukul rasanya ngeri-ngeri sedap bos. Dia sudah merasakannya sekali, jadi tidak ada untuk kedua atau ketiga kalinya.
“Oh iya, ini gue bawain bunga mawar lilac buat lo. Dijadiin tanaman hias bisa, bunga pemanggil setan juga bisa, pokoknya all in one, deh.” Jungkook menyerahkan sebuket mawar lilac kepada Jimin.
Jujur, kali ini Jungkook cukup membuatnya terkesan.
Siapa yang menyangka bahwa pria itu akan membawakannya sebuket bunga?
“Terima kasih juga untuk bunganya. Selera kamu bagus juga.”
“Waduh, iya dong! Ngomong-ngomong hari ini lo makin gemesin aja, Bang. Manaan pake baju ungu pastel gitu, lucu, mirip boneka di dashboard mobil yang bergerak itu loh.” Setelahnya Jungkook memperagakan gerakan boneka yang disebutkannya tadi.
Jimin cemberut. “Bisa gak sih kalau muji seseorang itu dengan tulus?”
“Loh, kurang tulus apa lagi gue? Lagian boneka di dashboard mobil lucu kok,” jawab Jungkook sembari kembali menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
Iyain aja.
“Berhubung gue udah sampai sini, gue mau lanjutin pembahasan kita tadi.”
“Saya ingat, perlu bantuan apa?”
“Gue baru aja download dating apps, lo bantuin gue cari seseorang yang match sama gue, ya? Gue mau cari calon soalnya.”
“Ah ... okay.”
“Yang ini?”
“Gak deh, bibirnya ketebalan.”
“Kamu ngejek saya?”
“Ah elah, berburuk sangka mulu sih, Bang.”
“Berisik! Kalau yang ini? Style-nya cukup bagus.”
“Hmm, skip aja. Lo lihat leher sama mukanya belang begitu, mirip eek cicak warnanya hitam putih.”
Jimin mendengus sebal, pria idiot seperti Jungkook banyak sekali keinginannya. Terlalu ini lah, terlalu itu lah, semuanya serba salah. Ini bahkan sudah kelima belas kalinya Jungkook melewati profil para wanita dan pria di aplikasi tersebut.
“Coba sebutkan kriteria pasangan terbaik menurut kamu itu seperti apa, biar saya sendiri yang bantu carikan.”
Jungkook mengetuk keningnya dengan jari, termenung beberapa saat sebelum melebarkan senyumnya pada Jimin. “Badannya bersih, wangi, montok biar bisa dipeluk, bibirnya plumpy, gemesin, pake baju warna ungu pastel!”
“Oh iya, ada satu hal lagi! Pokoknya dia imut mirip boneka yang ada di dashboard mobil,” lanjut Jungkook sembari menatap jahil Jimin.
“F U, Kid. Don’t you dare to play with me.” Jimin menggeram kesal.
“Hehehe, iya-iya gue minta maaf. Sensitif mulu perasaan.”
“Lagian kamu ngapain ngeliatin saya waktu ngomong begitu? Semua hal gak bisa kamu jadiin bahan candaan, Jungkook.”
Kali ini bukan tatapan jahil atau godaan seperti yang dilayangkan Jungkook sebelumnya. Namun, sebuah tatapan dalam dengan postur tubuhnya yang tegap. “Tapi gue serius, gimana dong?”
Sebenarnya bukan sekali dua kali Jungkook menggoda Jimin dengan mengatakan bahwa ia pujaan hatinya, calon pengantinnya, jodohnya, dan lain sebagainya.
Namun, mengingat perangai pria itu yang sering menjadikan hal apa pun bahan candaan, membuat Jimin skeptis atas apa yang diucapkan oleh Jungkook. Bukannya ia tidak suka, hanya saja Jimin terlalu lelah jika perasaannya terus dipermainkan.
Satu hal lagi, Jimin akui bahwa kedekatannya dengan Jungkook telah menumbuhkan perasaan nyaman yang tentu saja ia paham betul makna dari perasaan tersebut.
Jimin senang dengan kehadiran Jungkook, caranya berbicara, caranya memikat hati dengan guyonan absurd-nya, semuanya.
Akan tetapi, baru saja memikirkan pria itu. Jimin mendapat sebuah pesan dari Jungkook berisikan, “Bang, gue udah match sama seseorang.”
Lihat, memang anak setan.
Sepertinya kisah percintaan Jimin tidak pernah berjalan dengan baik. Bibirnya tersenyum getir setelah membaca isi pesan tersebut lalu menaruh ponselnya di atas nakas.
Semua bangsat, bercanda.
“Taehyung, Namjoon, dan sekarang Jungkook.”
“Saya harap semoga bantal bawah kalian selalu panas!” pekik Jimin dan langsung menelungkup kepalanya ke bantal, kakinya bergerak gusar.
Daripada menggalau tidak jelas hanya karena seorang lelaki, lebih baik tidur di sela waktu liburnya. Jimin masih memiliki waktu tiga hari sebelum akhirnya pergi bekerja seperti sediakala.
“Bunganya taruh di situ, nah pinggirin sedikit lagi. Sip, bagus.”
“Anak saya kurang suka model dekorasi begitu, coba nanti ganti sama yang minimalis tapi ada kesan elegan, ya!”
“Vasnya agak menghalangi cahaya, coba geser sedikit.”
Jimin terbangun.
Matanya memicing dan menajamkan pendengarannya. Bukankah itu suara sang ibu? Ada perlu apa dia di sini?
Lalu, kenapa rumahnya terdengar begitu ramai?
Jimin bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke luar kamar, ia menemukan beberapa pekerja yang tengah mendekorasi ruang tengahnya lalu ada sang ibu yang berada di ujung ruangan tengah berbincang bersama seorang pria –
Jungkook?
Kepalanya sedikit berdenyut nyeri, baru saja bangun sudah disuguhkan pemandangan aneh seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi di rumahnya?
Setelahnya Jimin memutuskan untuk berjalan ke arah mereka berdua dengan tatapan linglung. Ia menoleh ke arah Jungkook. “Kamu dan ibu ... sebenarnya ada apa di sini?”
“Seperti yang udah gue bilang tadi, Bang. Gue udah match sama seseorang,” ucap Jungkook dengan bangga sembari menatap ke arah Jessica, ibu Jimin.
Melihat hal itu sontak saja membuat Jimin menatap keduanya dengan tatapan horor. Jangan bilang Jungkook mengencani ibunya?!
Demi apa pun juga Jimin rela apabila Jungkook menemukan seseorang sebagai calon pengantinnya. Namun, ibunya? Jelas ia tidak menerima hal itu terjadi.
“Kalian berdua ... match?"
Jessica, sang ibu langsung mengetuk kepala Jimin setelah mendengar pertanyaan putranya. “Hush, ngaco! Kamu pikir mama doyan daun muda?”
“Nak Jungkook sejak seminggu yang lalu datang ke rumah dan minta restu mama buat nikahin kamu. Awalnya mama gak setuju karena dia kelihatannya anak yang begajulan, makanya mama gak suka. Tapi, ternyata dugaan mama salah, sebab usut punya usut ternyata Jungkook ini anaknya keluarga Jeon yang mana mama tahu betul background keluarga mereka. Nak Jungkook ini berasal dari keluarga baik-baik,” lanjut Jessica.
“Eh, tapi ada benernya juga loh, akhirnya gue match sama mama mertua terus bisa nikahin lo.”
Mama mertua katanya? Cih.
“Kenapa mendadak begini? Kenapa gak kasih tahu saya sebelumnya? Saya pikir kamu punya pilihan kamu sendiri, saya pikir—“
Jungkook menangkup dan mengelus kedua punggung tangan Jimin yang terlihat jauh lebih kecil di tangannya. Bibirnya mengulas senyuman lembut. “Lo dikasih kode ratusan kali pun gak pernah peka. Gue bingung sebenarnya lo emang gak peka atau pura-pura denial. Maka dari itu, gue memutuskan untuk minta restu secara langsung ke orang tua lo biar lo sendiri tahu keseriusan gue sama lo.”
“Bukan karena tuntutan ayah ibu kamu, ‘kan?”
“Em, sebenernya termasuk sih, hehe. Tapi, gue pikir untuk apa menunda-nunda? Ditambah gue lihat akhir-akhir ini lo dideketin sama temen masa SMA lo, pada saat itu lo kira gue gak ketar-ketir lihatnya?”
Jimin terkekeh saat melihat Jungkook yang menggebu-gebu saat mengatakannya. “Ya kenapa gak terus terang aja?”
“Capek hati gue, Bang. Udah gue kasih bunga mawar lilac juga lo tetep gak paham makna dari bunganya. Bangkenya lagi malah lo jadiin pupuk tanaman.”
Eh?
Dengan sigap Jimin membuka ponselnya dan mencari makna dari bunga mawar lilac seperti yang dikatakan Jungkook tadi di internet. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui makna yang cukup mendalam dari sebuah artikel.
‘Bunga mawar lilac melambangkan cinta dan gairah, sempurna untuk pasangan yang menjalani hubungan lebih serius.’
Jadi, sebenarnya pada saat itu Jungkook sudah mengajaknya untuk memiliki hubungan ke jenjang yang lebih serius.
Dia benar-benar tidak tahu.
Lagi pula bunganya sudah layu, selain dijadikan pupuk tanaman Jimin tidak tahu lagi harus berbuat apa.
“Jungkook, maaf ...” lirih Jimin sembari menatap Jungkook dengan puppy eyes-nya.
“Untung lo gemesin, jadi gue maafin. Saran gue lo mandi deh sekarang, nanti jam empat sore gue mau ngajakin lo tunangan.”
“Tunangan aja, nih?”
“Buru-buru amat, Bang. Kita berproses dulu lah, toh nikahnya gak lama lagi kok. Pokoknya bulan depan kita nikah.”
Jimin terdiam seraya menatap Jungkook. Ia mendengus sebal. “Kok tempatnya di rumah saya sih? Kenapa gak sewa gedung yang agak luas sedikit.”
“Gak ah, gue takut lo salah alamat terus calon pengantinnya ketuker lagi kayak waktu itu.”
Keduanya tertawa lebar setelah mengingat kembali insiden beberapa waktu lalu mengenai kegagalan pernikahannya. Jungkook benar, kejadian pada saat itu tidak boleh terulang kembali.
“Plot twist banget gak sih, Kook?”
“Enggak, saya lagi ingat-ingat awal pertemuan kita sampai sejauh ini. Mulai dari salah alamat gereja, calon pengantin yang tertukar, eh tahunya malah jadi calon pengantin beneran.”
“Haha, tenang aja. Kemarin cuma salah alamat gereja, tapi cintanya tepat sasaran kok.”
-Fin-
