Work Text:
Jeongguk melirik tajam pada Detektif Park di meja seberang. Ia sedang menulis laporan dari kasus perampokan dan pembunuhan ganda yang baru saja ditutupnya dua jam yang lalu. Pelakunya sudah diamankan, barang bukti sudah terkumpul. Jeongguk tahu Detektif Park memang sangat efisien dalam melakukan pekerjaannya. (Dan charming, rasanya semua orang siap sedia membantu jika Detektif Park yang meminta. Dan mungkin juga sedikit manipulatif—tetapi yang ini disimpan sendiri oleh Jeongguk). Jeongguk mendengus. Kakinya digerakkan tak sabar. Matanya berkali-kali melirik telepon di mejanya yang tak kunjung berdering juga. Bukan hanya sekali ini ia dikalahkan oleh Detektif Park dalam hal menutup kasus. Bukan sekali ini pula Jeongguk melihat Detektif Park bersantai menulis laporan sedangkan ia masih harus menunggu Hakim Jung mengesahkan surat penangkapan yang ia ajukan.
“Detektif Jeon, nungguin Hakim Jung lagi?” Detektif Park menggoyangkan alisnya seakan mengejek. Laporannya sudah tersusun rapi dalam map yang ia letakkan di pinggir meja.
Jeongguk hanya mengangguk pelan dan tersenyum kecut. Jika sudah seperti ini, Detektif Park akan memamerkan kedekatannya dengan orang-orang penting yang membuatnya bisa menutup kasus dengan kilat tanpa delay.
“Sudah gue bilang, biar gue aja yang telepon Hakim Jung kalau surat penangkapan lo macet lagi. Kan tahu sendiri, Hakim Jung suka lupa,” ucap Detektif Park sambil mengangkat gagang telepon di mejanya.
“Gak usah.” Jeongguk menggertakkan giginya. “Gue bisa sendi—”
“Ah, Hakim Jung! Ini Park Jimin.” Detektif Park tidak menghiraukan protes Jeongguk.
Jeongguk menggerutu. Bukannya tidak mau berterima kasih, tentunya ia bersyukur jika kasusnya bisa lebih cepat selesai. Tetapi mengapa setiap kali kasusnya macet, Detektif Park selalu jadi yang pertama membantunya? Ia ‘kan, lebih dari mampu untuk menyelesaikan kasusnya sendiri. Apakah ini cara Detektif Park untuk memamerkan bahwa ia lebih kompeten sebagai investigator? Apakah ini caranya menghalangi Jeongguk mendapatkan kenaikan pangkat tahun depan? Apakah Detektif Park mengincar posisi yang sama seperti Jeongguk?
(Tidak mungkin, Detektif Park baru bergabung dengan 13th Precinct selama tiga bulan. Ia juga baru dua tahun menjadi detektif di Precinct sebelumnya. Jeongguk tahu itu. Tetapi akal sehatnya sedang tidak berfungsi saat ini.)
“Ah iya iya, terima kasih Hakim Jung.” Detektif Park menutup telepon dengan sumringah. “Sudah tuh, tunggu aja lima belas menit lagi,” lanjutnya, menatap Jeongguk yang bersungut-sungut.
Memang, setelah keberhasilannya menutup kasus terbesar dekade ini pada saat awal bergabung dengan 13th Precinct, Detektif Park jadi semacam selebritas yang memiliki popularitas tanpa tanding. Pengikut media sosialnya melambung tinggi. Tentu saja, siapa yang tidak senang dengan seorang polisi kompeten, muda, dan tampan yang berhasil menaklukkan pembunuh berantai paling prolifik abad 21?
(Tidak, Jeongguk tidak mengatakan Detektif Park tampan. Itu hanya imajinasimu saja).
Sejak saat itu, orang-orang penting berdatangan agar terlihat berada di sisi baik Detektif Park. Semua orang tahu niat mereka adalah untuk menaikkan popularitas (dan elektabilitas) di mata masyarakat. Dan Detektif Park—si manipulatif kecil itu—memanfaatkan kedekatannya dengan orang-orang penting itu untuk memudahkannya dalam menyelesaikan setiap kasus yang terpentok birokrasi. Dasar, rubah licik.
Namun benar saja, tidak sampai sepuluh menit, telepon di meja Jeongguk berbunyi. Memberitahukan bahwa surat penangkapannya sudah siap. Jeongguk bergegas memakai gear-nya dan mengumpulkan pasukan untuk bersiap-siap menjemput tersangka. Tak lupa ia acungkan jari tengah pada Detektif Park untuk bantuannya—yang sebenarnya tidak ia inginkan. Detektif Park hanya tertawa.
***
Brutal. Itu adalah deskripsi proses penangkapan tersangka sore tadi, yang dipimpin oleh Detektif Jeon. Brutal bagi tersangka tentunya, yang dengan bodohnya lari dari kejaran Detektif Jeon. Tanpa basa-basi, Detektif Jeon langsung menghantamkan badannya ke tersangka yang kabur sehingga menabrak tembok. Dua tulang rusuknya retak dan pelipisnya sobek. Sedangkan Detektif Jeon? Hanya sedikit goresan di buku-buku jari (akibat menjotos tersangka yang masih berontak saat sudah hampir sekarat). Otot kawat tulang besi, kalau kata Jimin. Untungnya tersangka masih hidup. Ceroboh sedikit saja, Detektif Jeon bisa kehilangan kariernya hanya gara-gara menangkap kriminal rendahan.
Sekarang si Gatotkaca sedang diobati lukanya di klinik. Besok, internal affairs akan menyerbu 13th Precinct untuk menginvestigasinya. Penyelidikan rutin memang, kapan saja setiap ada tersangka yang terluka dalam penangkapan, untuk memastikan tidak ada kesewenang-wenangan dalam proses penangkapan oleh polisi. Namun, tetap saja a pain in the ass.
“Sudah selesai, jangan lupa perbannya diganti besok pagi,” kata dokter yang membebat jemari Detektif Jeon sambil menyerahkan sebungkus kain kasa dan obat oles.
“Terima kasih.” Detektif Jeon menerima bungkusan itu dan melangkah keluar ruang tindakan, menghampiri Jimin.
“Bisa gak sih, gak ceroboh lebih dari sebulan? Kayaknya setiap bulan ada aja kejadian lo harus berurusan sama internal affairs,” gerutu Jimin.
“Bisa gak sih, gak cerewet?” sahut Detektif Jeon.
Jimin menyilangkan tangannya, berjalan beriringan dengan Detektif Jeon kembali ke meja kerja mereka. “Padahal kita akan ditugaskan bersama di kasus pencurian barang antik milik Gubernur. Gue mau ngasih tahu itu tadinya. Tapi kalau gini caranya, lo gak usah ikutan aja. You’re off the case!” Jimin bersungut.
Detektif Jeon menghentikan langkahnya dan mencekal lengan Jimin. “Gak bisa begini, lo gak bisa seenaknya mencopot gue dari kasus kayak gini, Park.”
“Oh, tapi gue bisa. Gue lead detective di kasus ini. Gue bilang lo gak ikut, ya gak ikut.” Jimin menepis lengannya dari genggaman Detektif Jeon. Ia beranjak pergi tanpa menengok ke belakang lagi, masuk ke squad room dan mulai menyelidiki kasus baru tanpa Detektif Jeon.
“AAAARGH!!”
BHUAKK
Teriakan Detektif Jeon dan suara hantaman kepalan tangan di tembok terdengar hingga menggetarkan squad room. Darah yang belum sempat mengering kini menyesap hingga ke permukaan perban di tangan Detektif Jeon. Ia masuk squad room dengan mengentakkan kaki, tatapannya bagai belati menghujam semua penghuni. Lalu berhenti tepat pada Jimin.
‘This is why you’re off the case, Jeon,’ ucap Jimin dalam hati, balik menghujamkan belati pada manik legam di depannya.
***
Jeongguk menyandarkan kepalanya di atas lengan yang ia lipat. Ia meletakkan badannya yang lelah setelah seharian berurusan dengan internal affairs. Sesaat setelah penyelidikan atas dirinya usai, ia langsung melesat menuju rooftop untuk menemukan udara segar. Seharian terjebak di ruangan tertutup bersama investigator yang tujuan utamanya adalah mencari kesalahan pada dirinya, membuat pikiran Jeongguk penat bukan kepalang. ‘Jadi ini yang dirasakan tersangka yang ia interogasi?’
Baru saja Jeongguk memejamkan mata, pintu rooftop terbuka. Jeongguk melirik ke arah sumber suara dan, oh—
“Detektif Jeon.” Suara yang keluar dari mulut itu lirih, jauh lebih lemah dari biasanya.
“Detektif Park—ngapain ke sini?” Jeongguk mengernyitkan alis melihat penampilan Detektif Park yang—berantakan. Rambutnya tak beraturan. Kemejanya kusut. Jasnya sudah hilang entah ke mana. Matanya—tunggu, apakah Detektif Park baru saja menangis?
Detektif Park duduk di samping tempat Jeongguk berbaring. Tak menjawab pertanyaan Jeongguk, ia malah menyalakan sebatang rokok dan menghirupnya dalam-dalam, kemudian ia embuskan bersamaan dengan helaan napas panjang. Lima menit berlalu dalam diam. Hingga tiba-tiba, Detektif Park tertawa terbahak-bahak dan menghempaskan badannya di samping Jeongguk. Tawanya terdengar pahit.
Jeongguk hendak berkata lagi tetapi ia menahan diri. Dibiarkannya Detektif Park selesai dengan tawanya. Ia hanya memperhatikan bagaimana tawa Detektif Park berubah menjadi desahan getir.
Detektif Park kembali duduk. Dimatikannya rokok yang baru habis separuh itu dan dihadapinya Jeongguk. “It was a trap, Jeon. Gue dijebak,” ucapnya lemah.
“Hah? Maksudnya?” Alis Jeongguk mengernyit.
“Inget kasus pencurian barang antik di rumah Gubernur yang gue bilang kemarin?”
Jeongguk mengangguk.
“Ternyata, gak ada pencurian sama sekali. Malahan, ada pesta perayaan ulang tahun Gubernur hari ini di rumahnya.” Detektif Park tertawa tipis mengingat kejadian pagi tadi.
“Lah, bukannya pesta ulang tahun Gubernur ditunda ya, gara-gara kasus pencurian ini?”
“Ya gue tahunya juga gitu. Tapi ternyata mereka bayar reporter buat bikin berita itu. Terus diikutin lah sama reporter lain. Tahu sendiri kan reporter sini suka gak ngecek fakta dulu sebelum up berita?”
Jeongguk manggut-manggut. “Terus?”
“Gue di sana kayak orang tolol. Udah serius ngomong sama Gubernur nanyain tentang kejadian pencuriannya, eh dianya ketawa-ketawa sambil bilang ke semua tamu undangan kalo gue ngada-ada. Gue dipermalukan di depan orang-orang penting seprovinsi. Dan yang parahnya lagi, they live streamed the entire event. Jadi, semua orang sedunia udah tahu kalo gue tolol.”
Pahit. Itu yang dirasakan Jeongguk saat mendengar cerita Detektif Park. “Tapi bukannya malah Gubernur yang kelihatan main-main?”
Jimin terbahak. “Coba lo lihat sendiri trending di Twitter. Apa iya orang-orang mikir gitu?”
Jeongguk membuka ponselnya dan mengecek Twitter. Ia menemukan nama Detektif Jimin di trending topic nomor lima. Ia baca beberapa komentar yang muncul di paling atas.
Yaelah, detektif kesayangan lo pada tuh ternyata gampang ketipu prank, gimana mau nangkep penjahat coba kalo ginian aja ketipu.
Anjaay untung gue gak pernah ngefans, emang ACAB.
Kaya begini nih kualitas detektif top kita? Pantesan.
Apa sih yang lo harepin dari kaum halodek?
Info rumah gedong lur, berani nyolong lah gue kalo polisinya begini awokwok.
Inget guys, yang kaya begini tuh polisi Wakanda ya, bukan— (sebagian teks hilang).
Jeongguk menutup layar ponselnya dengan gusar. Ia melirik Detektif Park yang hanya tersenyum tipis.
“Kan, apa gue bilang?”
Jeongguk tidak tahu harus berkata apa. Mungkin, bukan perkataan pula yang dibutuhkan Detektif Park saat ini. Sebenci apa pun Jeongguk pada Detektif Park, tidak tega juga ia melihat Detektif Park seperti ini. Terlihat … kalah.
‘Gue gak rela lo kalah dari orang lain, Park. Cuma gue yang boleh ngalahin lo.’
Jadi, Jeongguk melakukan satu-satunya hal yang ia tahu. Ia rengkuh bahu Detektif Park dengan lengannya. Ia sandarkan kepala Detektif Park di dadanya. Ia eratkan dekapannya hingga tiada lagi jarak antara badan mereka.
“Lo ngapain, sih?” Detektif Park melayangkan pukulan kecilnya ke dada Jeongguk. Tetapi tidak berusaha bergerak melepaskan diri.
“Udah, nurut aja dulu.”
Mereka berdiam beberapa saat. Hingga akhirnya Detektif Park angkat suara lagi, ”Untungnya lo gak ikut kasus ini, Jeon. Cukup salah satu di antara kita yang kena penghinaan ini. Lo jangan.”
“Kalo gue ikut udah gue tonjok tuh Gubernur biar tahu rasa.”
“Lo bisa dipecat, bego! Ternyata lo emang tololnya melebihi gue, ya?” Detektif Park tertawa.
Jeongguk merasakan getaran tawa Detektif Park di dadanya. Bagus. “Kalo gue dipecat, lo gak ada lawan lagi dong. Bukannya enak malahan?”
“Lo tuh, ya!” Detektif Park mencubit kecil perutnya. “Gue sengaja gak ngelibatin lo karena ini urusannya sama Gubernur. Lo gak ada backingan. Gue masih aman, setidaknya itu yang gue pikir sebelum …”
“Sebelum apa?”
“Tahu kan gue deket sama orang-orang penting? Tapi kebanyakan mereka oposisi Gubernur. Dan dia gak suka oposisinya lebih populer. Makanya dia pakai cara licik buat jatuhin gue, dengan gak langsung jatuhin oposisinya juga.” Detektif Park menghela napas panjang. “Dan sekarang backingan gue juga pada ngilang karena mereka gak mau terasosiasi sama detektif gagal kayak gue.”
“Lo, seorang Park Jimin yang bisa nangkep pembunuh berantai yang kasusnya gak ada perkembangan selama satu dekade, gagal?” Jeongguk menjitak kepala Detektif Park.
“Gak gue doang kali, kan lo juga ikut waktu itu.” Detektif Park meringis mengusap kepalanya yang dijitak Jeongguk.
“Ya, tapi hasil investigasi gue salah, dan yang bener lo. Artinya lo yang berhasil ngungkap kasus legendaris ini.”
“Hm, ya ya, terus aja lanjutin terus.”
Jeongguk tersenyum jahil. “Lo punya praise kink, ya?”
“Lo bisa diem gak?” Detektif Park memalingkan wajahnya dari Jeongguk. Tetapi, Jeongguk melihat semburat merah menghiasi telinganya.
“Pokoknya lo gak boleh kalah, Park. Gak usah peduliin politisi kebelet pansos itu. Cuma gue yang boleh ngalahin lo, paham?” Jeongguk menarik wajah Detektif Park kembali menghadapnya.
Detektif Park meringis. “Aslinya, gue udah capek menang terus dari lo. Lo gak capek apa? Lagian ngapain sih pake saingan segala? Kata gue mah mending kita partneran aja, kayak dulu lagi. ”
“Lo bilang gini karena lo udah gak punya backingan, ‘ kan? Lo takut gak bisa menang dari gue tanpa backingan?” Jeongguk tersenyum sombong.
“Idih, najis!” Detektif Park menjulurkan lidah lalu membalik badan berbaring membelakangi Jeongguk.
Jeongguk tertawa. “Oke, mulai besok kita partneran, ya. Biar gue yang bilang ke Chief Min.”
“Hm.”
“Jangan nyembunyiin informasi dari gue lagi.”
“Hm.”
“Diskusi dulu sebelum nangkep, jangan asal cabut aja gak bawa backup. ”
“Hm.”
“Gue lead detective-nya.”
“Enak aja, gak bisa gitu, Jeon!” Detektif Park berbalik badan, langsung dihadapkan dengan wajah Jeongguk yang tersenyum kecil.
“Oke, gantian.” Jeongguk tertawa melihat bibir Detektif Park yang mengerucut. “Satu lagi, panggil gue Jeongguk.”
“Oke, Jeongguk. Jimin,” Detektif Park—Jimin—mengulurkan tangannya, yang kemudian disambut oleh tangan Jeongguk.
“Hmm, gak jadi, deh, kayaknya lebih cocok kalo lo manggil gue Kak Jeongguk atau Mas Jeongguk.” Tangan Jimin ditariknya hingga beristirahat di pinggang Jeongguk.
“Ngelunjak, ya!”
Mereka berdua tertawa. Disaksikan oleh kelap kelip lampu gedung dan kendaraan di sepanjang horizon. Tanpa peduli apa-apa lagi.
Setidaknya hingga Jimin tersadar bahwa masih ada satu detail kecil yang terlupakan olehnya.
“Haduh, gue lupa. Tadi pas masuk gedung, ada banyak wartawan yang menghadang gue. Ini kalo gue pulang sekarang mereka masih nungguin gak, ya?” Jimin bertanya cemas.
“Udah, lo pulangnya sama gue aja,” sahut Jeongguk santai.
“Ih ogah, motor lo kan motor cowok, bukan matic.” Jimin menolak mentah-mentah.
“Lah, emang kenapa?”
“Gak mau ntar duduknya nonggeng,” ucap Jimin dengan wajah serius.
Jeongguk tertegun melihat keseriusan Jimin. Sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Ia tidak menyangka Jimin bisa jadi semenggemaskan ini. “Kurang-kurangin lah lo nonton Antares!”
***
