Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-10-31
Words:
1,950
Chapters:
1/1
Kudos:
18
Bookmarks:
1
Hits:
210

Senja

Summary:

“Senja tidak selalu tentang oranye, Ran. Mereka dapat berwarna lain, seperti violet, seperti warna matamu. Oranye dan violet menyatu dihamparan langit luas. Lebih dari cantik itu sendiri.”

Work Text:

Entah dimana dan kapan sang sulung Haitani mendengar bahwa saat yang paling tepat untuk jatuh cinta adalah saat senja.

Senja sendiri adalah bagian waktu dalam hari atau keadaan setengah gelap di bumi sesudah mata hari terbenam, ketika piringan matahari secara keseluruhan telah hilang dari cakrawala menurut situs yang telah sulung Haitani baca.

Minatnya akan senja tidak terjadi begitu saja hanya karena alasan sepele seperti keingintahuan semata atau menambah wawasan. Semua minat akan senja mengalir dalam diri sulung Haitani saat matanya terpaku pada keindahan yang ditawarkan seseorang. Keindahan yang mampu mengingatkan akan betapa indahnya senja yang membawa kebahagiaan.

Seseorang itu berwajah mungil dengan lengkungan mata yang seolah tersenyum, hidungnya kecil diapit oleh pipi tembamnya. Senyumannya menyegarkan sejauh mata memandang, mengalahkan segar angin sore yang berhembus saat itu.

Langkah sulung Haitani terhenti, tawa sang senja masuk kedalam indra pendengarannya seiring langkah yang mendekat. Rambut sebahu berwarna oranye melambai mengikuti datangnya arah angin bersama dengan jiwa sang sulung.

Waktu disekitarnya terhenti. Oranye bertemu violet dalam hitungan detik, sungguh perpaduan dari warna senja itu sendiri.

“Cantik” tanpa sadar bibirnya berucap halus seiring ia dilewati.

Tidak hanya bibirnya yang ada diluar kendalinya, tangannya juga secara spontan meraih lengan sang senja. Oranye bertemu dengan violet terjadi sekali lagi. Tidak ada lagi tawa, hanya tatapan bingung dari pria yang lebih kecil. Tingginya hanya sampai setinggi dada Haitani, “Maaf?”

“Ran. Ran Haitani. Namamu?” rasa keberanian itu keluar begitu saja, alam bawah sadar Ran tidak rela ia kehilangan senjanya begitu saja. Cukup senja disore hari yang hadir kurang lebih selama setengah jam terhitung dari sekarang, senjanya jangan.

“Ran?”

“Itu namaku. Namamu?” Ran mengulang pertanyaan yang sama, ada secercah harapan dari tatapan yang ia berikan. Setidaknya, ia akan mengetahui nama senjanya.

Pria berambut oranye masih memproses apa yang sedang terjadi, tatapannya ia alihkan kepada seseorang disampingnya dengan lengan yang masih dalam pegangan pria asing berambut lilac. “Kau kenal?” pria disampingnya menggelengkan kepalanya, tidak kenal.

Menghembuskan nafasnya, pria berambut oranye melepaskan tangan yang memegang lengannya. “Nahoya. Tapi pria asing yang tampan namun aneh. Sekali lagi kau menyentuh tanganku, akan kupastikan wajah tampanmu tidak akan lagi sama.” Setelahnya ia pergi bergitu saja, menarik temannya.

Pertemuan pertama tersebut masih membekas difikirannya, Ran memandangi tubuh kecil tersebut menjauh dengan omelan disana-sini tentang prilaku tidak sopannya. Ran tersenyum melihat kepergian tersebut dengan latar belakang senja yang sangat seperti dirinya. “Nahoya ya. Kau harus menjadi milikku, bagimanapun caranya.” Janjinya saat itu kepada sang senja.

***

 

Perjuangannya tidak mudah untuk mendapatkan senjanya, Ran selalu dihindari oleh Nahoya, kapanpun dan dimanapun seolah kehadirannya membawa malapetaka. Namun berkat ketekunan dan kegigihan Ran, Nahoya secara perlahan membiarkan Ran masuk ke dalam hidupnya.

Kehidupan di sekolah tinggi Nahoya menjadi lebih berwarna dengan hadirnya Ran yang awalnya hanya Nahoya anggap sebagai angin lalu.

Sudah terlalu banyak Nahoya memperhatikan pria seperti Ran dikehidupan nyata. Mudah untuk merayu sana-sini karena wajah tampan mereka menjadi senjata utama untuk menaklukan siapapun yang menarik minat mereka dan akan melepaskannya begitu saja. Jelas sekali, Ran tidak akan masuk dalam kriteria pria pendamping hidupnya yang ia tunggu.

Ran hanya akan mempermainkannya, membuangnya kapanpun saat ia sudah bosan dengan mainannya.

Semua prasangka buruknya akan Ran ternyata tidak terbukti benar, setelah membiarkan Ran masuk kedalam hidupnya dengan anggapan Ran akan bosan dan membiarkan dia kembali sendiri dengan hidupnya yang monoton dalam sebulan, pria tinggi berambut lilac tersebut justru semakin gencar mendekatinya.

Nahoya diperlakukan dengan baik oleh Ran, ia tidak menyentuhnya sembarang, merawatnya dengan tulus, dan menemani Nahoya dihari baik dan buruknya. Bahkan menjemput dan mengantarkannya meskipun rumah mereka berlawanan arah yang baru Nahoya ketahui setelah mereka menjadi lebih serius dengan hubungan mereka.

Suatu ketika, ketika hubungan mereka semakin dekat dari hari kehari. Banyaknya cerita dan waktu yang sudah mereka bagi. Nahoya merasakan hatinya mulai berdesir setiap Ran berada disekitarnya, rindu akan hadirnya jika tidak melihat sosoknya atau mengabarinya.

Nahoya tahu ia jatuh pada sosok Ran. Siapa yang tidak?

Hari itu, satu hari sebelum menjelang akhir pekan. Nahoya akan beranjak dari kursinya setelah melepaskan seatbelt, meraih tas yang ada dikursi belakang, dan mengucapkan terima kasih dan akan berjumpa lagi pada hari senin kepada Ran sebagai rutinitasnya tetapi semua itu tidak Nahoya lakukan saat ini; saat mobil Ran sudah sampai di depan perkarangan rumahnya.

Nahoya tetap memandang kedepan, menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Sekarang atau tidak sama sekali, batinnya.

Dengan hati yang gelisah dan bimbang, ia menatap Ran yang ada kursi pengemudi, tangannya masih di setir kemudi dengan lengan kemeja yang tergulung sampai kesikunya dengan urat nadinya yang menonjol pada tangannya karna cengkraman. Sesaat perhatian Nahoya teralihkan sebelum memulai pembicaraan yang mengganggu dibenaknya apalagi dengan senyum di wajah rupawan sulung Haitani.

Sial, sejak kapan Ran jadi semenarik ini. batinnya menjerit.

“Ada yang tertinggal?” tanya Ran yang melihat Nahoya tidak kunjung turun dari mobilnya dan hanya memandangnya.

“Bisa bicara sebentar?” Ran yang ditanyai seperti itu memiringkan kepalanya, bingung tergambar jelas di raut wajahnya.

Nahoya terburu menambahkan, “eh kalo kamu buru-buru mau pergi, senin aja.”

Melihat Nahoya yang gugup tidak seperti biasanya, Ran melepaskan cengraman pada stir mobilnya dan menahan lengan Nahoya yang akan meraih tasnya. Tahu pembicaraan ini akan menjadi penting melihat dari gelagat senjanya. Ah, sudah lama sekali Ran tidak memakai kata itu.

“Enggak, aku enggak buru-buru. Kamu punya semua waktuku, Na.” ujarnya menaruh kembali tas yang sudah Nahoya genggam.

Keheningan melanda mereka setelahnya. Ran memberi Nahoya waktu untuk mengutarakan yang ingin ia ucapkan kepadanya.

Nahoya meremas tangannya untuk mengalihkan degup jantungnya yang semakin berdebar. Bagaimana tidak, setelah difikir ulang ternyata dalam ruangan yang sangat sempit seperti mobil bersama orang yang ia sukai dan saling menatap sangat mendebarkan seperti jantungnya akan keluar begitu saja.

“Kamu suka aku?” mulai Nahoya. Ran membelakkan matanya, pandangannya yang semula fokus kini hilang di telan bumi. Jantung Ran terasa berhenti saat itu juga, tidak menyangka topik inilah yang akan diangkat oleh Nahoya.

Selanjutnya semburat merah terlihat pada pipi Ran, “Bukannya sudah jelas ya?”

Nahoya menundukkan pandangannya, “Enggak tahu. Ran gak pernah bilang.” gumamnya dengan pelan.

Ran kembali menatap Nahoya yang masih menundukkan kepalanya, surai oranye panjangnya menghalangi wajah Nahoya. Ran tidak tahu pasti raut wajah apa yang sedang Nahoya pasang dan yg ia fikirkan.

“Suka Na. Aku suka kamu, suka banget Nahoya."

Jika Nahoya menatap Ran pada saat itu, Nahoya akan mendapatkan raut paling tulus yang Ran punyai.

Ran tersenyum sedih, saat tak kunjung mendapatkan balasan dari Nahoya yang masih dengan posisinya.

Ran sudah sadari dirinya hanya dianggap teman oleh pria bersurai oranya yang sudah ia tetapkan menjadi senjanya. Hanya teman, dari awal sampai sekarang. Ran tidak mengharapkan lebih, sudah beberapa bulan berada disamping Nahoya saja sudah cukup membuat dirinya merasa puas, meskipun tetap hatinya berkata lain; tetap mengingkan Nahoya menjadi miliknya.

Tetapi Ran tidak bisa dan tidak mau menjadi egois dengan memaksakan kehendaknya. Biarlah dirinya hanya dapat memandangi senja yang akan hilang di balik gulita malam. Setidaknnya senja membawa hadir kebahagian meskipun hanya sebentar.

Namun kali ini, Ran sekali saja ingin mengikuti kata hatinya menjadi lebih sedikit egois, sebelum Nahoya memintanya untuk menjauh setelah pengakuannya. “Aku boleh elus rambutmu?”

Itu adalah kali pertama Ran meminta izin untuk menyentuhnya, setelah awal pertemuan mereka. Nahoya mengangkat kepalanya, menoleh kesamping kearah Ran yang sepenuh badan sudah menghadap kearahnya. Melihat tatapan keinginan berlebih, Nahoya menganggukkan kepalanya.

Tatapan Ran berubah menjadi bersemangat setelah mendapatkan izin dari yang punya surai, tangan besarnya tanpa ragu membelai sayang surai oranye sepundak Nahoya yang sangat Ran damba-dambakan selama ini. Membelainya selayaknya sutra.

“Rambut mu halus, cantik. Warnya oranye kayak bola mata kamu Na, sejujurnya aku selalu penasaran ingin sentuh rambutmu.” Jelas Ran, pandangannya tidak meninggalkan Nahoya. Ran tersenyum penuh kasih sayang saat melakukannya.

“Kenapa enggak pernah sentuh kalo gitu?” Nahoya semakin berani untuk menantang Ran, sentuhan Ran dirambutnya memberikan sedikit keberanian bahwa meraka berada di dalam kapal yang sama.

“Takut kamu risih.” Jujurnya.

Nahoya terkejut sesaat mendengarnya, tertawa sedikit setelahnya. “Padahal tinggal pegang.”

“Enggak berani. Nanti mukaku kamu bikin bonyok lagi.”

Nahoya pukul pelan tangan Ran, “Aku gak gitu ya”

“terus barusan?”

“sialan." mereka tertawa bersama.

Mengetahui suasana hati Nahoya yang sudah seperti biasanya, Ran mengembalikan topik awal pembicaraan mereka. Tatapannya tetap pada tawa Nahoya yang masih tersisa dengan tangannya tidak berhenti sedetik pun untuk meninggalkan surai oranye Nahoya. membelainya dari ujung kepala hingga kepundaknyda dan kembali lagi, “Aku beneran suka kamu, Nahoya Kawata.”

Sisa tawa Nahoya berhenti, kali ini ia dengan jelas mendengar pengakuan Ran dan tatapan apa yang diberikan Ran. Penuh kasih sayang dan tulus apa adanya, tanpa kebohongan sedikit pun.

Belum dapat memberikan tanggapan, Ran kembali memperjelas ucapannya. “Aku tau ini aneh, bahkan kamu sendiri pernah bilang diawal pertemuan kita. Aku enggak paham bagaimana caranya semesta ini berkehendak. Tapi sore itu, aku lihat kamu dengan latar belakang langit yang sewarna dengan rambut oranyemu ini, saat senja. Semesta seolah menunjukkan kamu lah senja yang hadir untuk aku, Na. Senja yang mampu bawa kebahagian sebelum gelapnya malam. Detik itu juga, aku mengklaim bahwa kamu senjaku, Na- dan kamu harus menjadi milikku.”

Ran berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “tapi, setelah sudah didekatmu kayak sekarang. Aku sudah merasa puas dengan hubungan kita saat ini dan gak berharap lebih lagi. Asal tau dan liat bahwa kamu bahagia, setidaknya aku berhasil liat senjaku bahagia, ntah itu karena aku ataupun yang lain. Karena aku sadar, senja hadir sementara.” Tutup Ran dengan senyum bersamaan dengan menarik tangannya dengan berat hati yang berada di surai Nahoya.

Namun, Nahoya tidak membiarkan itu terjadi. Nahoya menarik kembali tangan Ran, tidak membiarkan Ran meninggalkan surainya. “lagi, jangan dilepas.”

Siapa Ran yang menolak keinginan senjanya.

Setelah mendengarkan pengakuan Ran, Nahoya tahu pasti apa yang diinginkan hatinya sekarang. Bersama dengan Ran.

“Senja ya, kayak sekarang juga bukan. Lihat.” Tunjuk Nahoya keluar, Ran mengikuti arah jari Nahoya dan menganggukan kepalanya.

“iya, kayak sekarang. Cantik bukan?”

Nahoya sendiri tidak pernah terlalu peduli dengan senja yang sedari tadi Ran kagumi, tetapi melihatnya langsung bersama Ran dan mendengar arti senja bagi pria bersurai lilac tersebut terasa sangat berarti juga baginya.

“Iya. Terima kasih sudah menyamakannya denganku.”

“Kamu lebih dari layak mendapatkannya.”

Mereka berdua masih memandang langit yang sama. “Aku rasa aku juga menemukan senjaku, Ran.”

“Siapa itu? Aku kenal?." tatapan cepat Ran kembali ke arah Nahoya dengan khawatir dan penasaran.

“Kamu, Ran Haitani.” Nahoya menatap Ran.

“Senja tidak selalu tentang oranye, Ran. Mereka dapat berwarna lain, seperti violet seperti matamu. Oranye dan violet menyatu dihamparan langit luas. Lebih dari cantik itu sendiri.”

Tangan Ran yang ada disurai Nahoya sekarang berada dalam genggaman Nahoya, “Kamu melewatkan satu hal Ran. Ya, waktu senja memang sementara. Tapi bukankah mereka ada untuk menghibur sebelum gelapnya malam? Mereka memberi harapan sebelum gelap. Sebagai waktu yang paling sedikit waktunya, namun paling berkesan.” Nahoya yang kali ini tersenyum.

“Kamu tidak ingin mengetahui jawabanku, setelah mengatakan menyukaiku?” lanjutnya

Ran meneguk ludahnya dengan kasar, jantungnya seolah berada diujung kakinya dengan bagaimana itu berdetak dengan kerasnya. Ran menganggukkan kepalanya, “dan jawabanmu?”

Nahoya mencondongkan tubuhnya, menarik sedikit leher Ran. Kecupan singkat Nahoya berikan dibilah bibir Ran, “aku juga menyukaimu, Ran. Bukan hanya dikala senja, kapanpun dan dimanapun."

Surai lilac Ran lah kini yang berada dalam belaian tangan Nahoya setelah mengatakannya, tangannya berpindah meraih rahang Ran dan mengelusnya dengan kasih sayang. Ran tersenyum bahagia dengan tindakan tersebut. Tangannya berada di atas tangan Nahoya. Bersandar penuh pada kasih sayang yang diberikan dan memejamkan matanya.

“Terima kasih sudah membalas perasaanku, Nahoya”.

Mereka tetap berada diposisi seperti itu untuk beberapa waktu.

Ran membuka matanya, membawa kedua tangan Nahoya kepangkuannya, menundukkan kepalanya sedikit untuk memberikan kecupan pada semua buku buku jari Nahoya satu persatu sebelum memberikan kecupan penuh pada punggung tangan Nahoya dengan kasih sayang sebagai bukti rasa cintanya. Setelahnyan Ran memberikan ciuman panjang pada pelipis Nahoya sampai matahari terbenam sempurna dan menjadi gelap.

Malam itu, setelah senja mereka tetap bersama.

Siapapun yang mencetuskan bahwa saat yang paling tepat untuk jatuh cinta adalah saat senja itu diakui oleh Ran Haitani dan Nahoya Kawata sebagai salah satu yang menyetujuinya.