Actions

Work Header

sampai ketemu Senin

Summary:

Maka aku meraih tangannya, jari kami bertaut, dan ia mulai berlari.

Tawa paling renyah, paling manis, paling adiktif yang pernah kudengar mengetuk ruang dengarku diiringi debur ombak yang tiada akhir. Pacarku menoleh lagi, aku yakin ia mengucap sayang. Lantas aku membuka mulut, baru saja akan membalas deklarasi cintanya, ketika aku membuka mata.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“It’s happening again! Last night.”

Hari itu berangin, dengan daun-daun coklat kekuningan yang gugur serta langit biru cerah dihiasi banyak awan berarak. Aku mengencangkan syal yang melingkari leher sampai yakin kalau tusuk-tusuk kecil hawa dingin bulan November tak mampu menyiksa leherku dan membuatku masuk angin, lalu menoleh sangat antusias ke sebelah kanan. Aku memasang cengiran lebar sembari menunggu respon yang (mungkin kuharapkan) sama antusiasnya seperti nada bicaraku barusan.

Tapi lawan bicaraku hanya mengangkat alis, merapatkan jaket yang dipakainya hari itu, sebelum menghujaniku dengan tatapan penuh heran. Seolah-olah ia tak mengerti siapa atau apa yang menjadi topik utama pertemuan kami siang ini. “I’m sorry, what’s happening again?”

“I saw her again! In my dream, we were talking! It’s always the same beach…” 

Sekali lagi, yang ditampilkan Monika Shin pada wajahnya hanya kebingungan. Ekspresinya begitu jelas sampai-sampai aku hampir tertawa. Sambil menunggu respon yang lebih menggugah, aku lantas menggosok-gosok kedua telapak tanganku agar tetap hangat. Selang semenit, masih tak ada jawaban. “Kamu nggak… nyambung? Nggak nangkep?”

Aku bertanya lagi, kali ini giliranku yang keheranan sebab aku yakin betul setidaknya sudah pernah satu kali menceritakan tentang mantan pacarku pada Monika. Tapi wanita itu malah mengangkat bahunya polos, kini menopang dagunya menggunakan kepal tangan, persis anak kecil yang siap mendengarkan cerita sembari makan kue kering pada jam istirahat sekolah. Aku menatap Monika dengan pandangan kecewa dan mendengus keras-keras.

“Kecewa.”

“I know,” jawabnya kasual. “Makanya konteks, dong. Aku nggak pelupa tapi kamu nggak bisa mengharapkan aku hapal semua yang terjadi di hidup kamu.”

“...fair point,” ujarku lamat-lamat sambil menatapnya dengan kerutan di dahi, jelas tidak terima. Monika sekali lagi mengangkat bahu, yang ini tanda kalau ia tidak peduli akan protesku barusan.  Maka aku memutar kedua bola mataku, sebelum kemudian berdeham dan memberinya konteks. “Remember my ex-girlfriend? Yang fotonya jatuh dari kantongku di kafetaria? The one that you picked up, lalu kamu kembalikan ke aku?”

“Oh… foto yang diambil nggak pakai izin itu…” komentar Monika acuh tak acuh, membuat fokusku yang sempat terlempar pada selembar kertas segi empat di kamarku itu langsung kembali lagi padanya. “Lah, kok merengut? Kan kamu yang bilang, you didn’t ask for her permission. Until you met her again, somehow you got busted, then you guys… started dating, whatsoever?”

Aku hampir membantah. Mulutku sudah setengah terbuka, masih dengan kerutan dalam terpampang pada dahi, sebelum menyadari bahwa hal tersebut tak ada gunanya sebab semua yang Monika bilang adalah benar. “Betul. Dan itu bukan cuma whatsoever, kami jadian hampir empat tahun, tau.”

“Aku tau,” sambar Monika cepat. Ia mengangguk sekali, tatapannya mengingatkanku kalau obrolan ini akan mengarah kemana-mana kalau tidak kukembalikan pada jalur aslinya. Dan memang betul, aku sudah sangat dekat dari mengajak Monika bertengkar perihal betapa pentingnya hubungan pacaran empat tahun itu dan melupakan topik awal yang ingin kubagi dengannya hari ini. “Jadi… apa? She’s been showing up in your dreams?”

“Betul.”

“Kenapa tiba-tiba?”

“NAH… itu dia,” aku mengangkat telunjukku ke udara, terlampau semangat sampai Monika secara refleks memundurkan wajahnya. Mungkin takut kena tusuk di mata atau apa (yang sangat mungkin terjadi kalau kalian mengenal aku secara personal). “Sebenarnya semalam bukan yang pertama kali, sih. Kira-kira sudah dua sampai empat kali? Mulai dari berapa bulan lalu…”

“What was the trigger?” tanya Monika lagi. Dari nada suaranya, aku tau ia sudah sama antusias dan penasarannya denganku pada masalah ini. Akan tetapi, kini giliranku yang mengangkat bahu. 

“Kayaknya semenjak aku nggak sengaja ketemu foto dia itu, deh… I mean, semenjak kami putus, aku kan, pindah dan lain-lain. Aku nggak pernah lagi buka-buka kardus yang isinya barang pemberian dia dan sebaliknya. Tapi awal tahun ini, aku beres-beres… dan yah, fotonya ketemu. Unexpectedly.”

Mendadak, sebuah benjolan tak nyata terasa muncul di kerongkonganku, sehingga aku mesti menelannya bulat-bulat. Lantas diikuti alur detak jantung yang sedikit lebih cepat dari biasa. Karena untuk sepersekian detik, memori aku membereskan kamar dan menemukan selembar foto usang tersebut terjatuh di lantai membuat dadaku sesak, meskipun kami sudah putus dari setahun lalu. Dan meski aku sudah merelakan semuanya, berhenti menyalahkan diri sendiri, serta berhenti memimpikan hal-hal buruk lagi. 

“Hei,” tepukan di bahu dan teguran Monika menarikku kembali pada rumput hijau yang kami duduki. Aku terkesiap, sebelum menatap Monika dan mau tak mau tertawa canggung. Malu sekali disadarkan ketika kau sedang tak sengaja terselip dalam memori lama dan hampir mendapat serangan panik karenanya. “You’re slipping again.”

“Hehehe,” aku hanya mampu membalas dengan cengiran kuda lainnya. Jelas-jelas malu dan canggung bukan buatan. Menggelengkan kepala untuk mengembalikan fokusku, lantas aku berucap lagi sebelum terlanjur lupa. “Ya, gitu deh. Jadi dia sudah muncul dua sampai empat kali, selalu di pantai… Dan aku sama dia selalu ngobrol! Though I can never quite catch what we’re talking about, tapi intinya dia senang. Aku juga senang, banget. Aku selalu mau cerita ini ke kamu, tapi entah kenapa selalu lupa. Mungkin kita terlalu banyak kegiatan tiap kali ketemu.”

Monika tidak membalas apa-apa, yang kudengar sebagai gantinya adalah tarik dan helaan napas. Seolah-olah wanita itu sedang memikirkan respon apa yang cukup sopan dan tak akan menyakiti hati seorang perempuan (agak) delusional yang masih memimpikan mantan pacarnya yang sudah meninggal sejak setahun lalu. Aku mengalihkan pandang ke danau buatan di hadapan kami berdua, berusaha mengingat apa yang terjadi dalam mimpi-mimpi tersebut.


Ketika aku membuka  mata, yang menyambutku adalah cahaya matahari dan awan-awan putih berlatarkan langit biru cerah. 

Aku merasakan angin menggelitik rambut-rambut halus di pipiku, sementara halus pasir pantai menyambut telapak kakiku yang telanjang. Di sebelahku, perempuan yang paling kusayang satu dunia sedang memandang jauh ke arah gulungan ombak yang tak habis-habis. 

Dengan rambut tertiup angin, serta sepasang mata yang melengkung bagai bulan sabit kala bibirnya mengguratkan senyum kekanakan. Seolah-olah ia tak pernah melihat pantai sebelumnya, atau mungkin baru menyadari kalau berapa kali pun kakinya menginjak pasir putih dan gendang telinganya diketuk ramah oleh suara ombak yang memecah karang, ia tetap akan jatuh cinta pada tempat ini. Aku ikut tersenyum saat menyadari bahwa aku akan selalu jatuh cinta melihatnya jatuh cinta pada lautan di hadapan kami.

Pacarku menoleh, menggumamkan sesuatu yang aku tak bisa tangkap apa, tapi aku tertawa sewaktu ia memberikan cengiran lebar yang memamerkan gigi depannya. Pacarku lantas bangun dan mengulurkan tangannya padaku, kepalanya mengedik ke arah lautan sana. 

Aku yakin sekali ia mau lari-lari, pada pagi hari di pantai yang anginnya hampir sama mencekik seperti salah satu hari di bulan November, dan aku tak bisa mengucap apapun selain mengiyakan. Karena ia begitu lucu, dengan syal hitam membebat di sekeliling leher dan menjaganya dari angin yang hendak menusuk-nusuk. 

Maka aku meraih tangannya, jari kami bertaut, dan ia mulai berlari.

Tawa paling renyah, paling manis, paling adiktif yang pernah kudengar mengetuk ruang dengarku diiringi debur ombak yang tiada akhir. Pacarku menoleh lagi, aku yakin ia mengucap sayang. Lantas aku membuka mulut, baru saja akan membalas deklarasi cintanya, ketika aku membuka mata.

Aku terbangun dalam kamarku dan tidak ada siapa-siapa. Lalu aku berusaha menelan gumpalan yang mendadak muncul dalam kerongkonganku ketika aku ingat, kami putus karena kesayanganku meninggal dalam kecelakaan mobil yang nyaris membunuh kami berdua.

Sebab aku selamat, namun dia tersisa dalam ingat.


“Na…? You’re slipping, again,” kali ini Monika mengguncang bahuku pelan. Membuatku terkesiap (lagi) ditambah harus menggelengkan kepala cepat-cepat dan refleks memundurkan diri karena otakku mengira sedang dalam ancaman bahaya.

“Oh, iya, sori. Aku berusaha ingat-ingat isi mimpinya, tapi intinya… cuma aku sama dia ketemu di pantai. Ngobrol, ketawa… dia cantik, aku naksir, lalu aku bangun.”

Kalau ada satu hal yang kupelajari dari Monika selama aku berkenalan dengannya dari Maret tahun ini, wanita itu selalu jujur dan paling payah dalam menyembunyikan respon awalnya. Sehingga ketika ia mendengus geli, lantas berusaha susah payah mengubahnya jadi batuk-batuk kecil yang sama sekali tak meyakinkan, aku mau tak mau harus menonjoknya di bahu.

“What the hell? What was that for?” tanya Monika dalam nada yang lebih cocok jika kuganti dengan kata menghardik, tapi wajahnya terlihat lebih tersakiti ketimbang berniat mencaci maki. Maka aku mengucapkan permintaan maaf tanpa suara, ditambahi senyuman paling manis (yang mungkin dilihat Monika sebagai senyuman paling menggelikan) yang bisa kuberikan padanya. “...jangan lagi.”

Aku tidak akan bertanya mana yang ia maksud dengan jangan lagi, apakah senyum atau tonjokannya. Biarkan yang satu itu jadi misteri, sehingga bisa kupakai salah satunya kapan-kapan lagi. “Tapi menurut kamu, gimana?”

“Nggak bisa asumsi apa-apa selain kangen… mungkin?” wanita itu merespon dengan nada setengah ragu, setengah hati-hati. Ia memeluk kedua lututnya, lalu mengusap-usapkan telapak tangan pada bahu dalam usahanya mencari sedikit kehangatan.

“Masa, sih? Tapi kan, sudah setahun lalu. Aku juga sudah ikhlas? Sudah nggak mimpi buruk lagi, sudah nggak menyalahkan diri sendiri lagi. Terapisku bilang aku sudah maju banget loh, dibandingkan awal tahun.”

“Kalau kangen ya, kangen aja kali, Na,” balas Monika dalam nada paling serius hari itu. “Selama nggak membuat kamu stres atau gimana-gimana, I guess it’s harmless. Tapi kalau khawatir, cerita ke terapismu. Tanya.”

Aku menggigit bagian dalam pipiku, menimbang-nimbang apakah sebaiknya aku cerita lagi atau kubiarkan saja perasaanku tertahan di kerongkongan seperti yang lalu-lalu, lantas kemudian aku sesali di kamarku sebab seharusnya aku tinggal asal ceplos saja. Toh tidak akan ada konsekuensi apa-apa, kami teman baik dan Monika tidak pernah protes mendengarkan ocehanku yang seringnya meracau sampai kemana-mana. Helaan napas yang kuembus membuat Monika mengalihkan pandang dari orang-orang lain yang sedang mengobrol kembali ke wajahku.

“Hm?” pancingnya.

“The first time it happened, I had to swallow this invisible lump yang mendadak muncul di kerongkongan. It was awful dan yang bikin tambah parah, kayaknya aku denial kalau aku kangen dia.”

Belakang kepalaku mendengus sebab akhirnya aku membiarkan kerannya sekalian terbuka dan tumpah ruah. Aku mengindahkan protes tersebut sebelum lanjut bicara, “tapi kali berikutnya? Aku cuma ngerasa damai. It feels serene, bahkan setelah bangun. Kalau nggak mimpi aku nggak apa-apa, tapi kalau mimpi ya, aku senang. It’s a nice feeling. It doesn’t scare me.”

“Oke... problem solved?” tanya Monika, alisnya naik sebelah sementara intonasinya sudah kembali kasual seperti biasa. 

“Tapi kalau mimpi lagi, gimana?” aku mengerutkan dahi, menatap Monika sungguh-sungguh. Aku tidak bicara dalam intonasi yang sebegitu mendesak, tapi sedikit banyak aku harap ia paham dari caraku menatapnya yang (semestinya) terlihat seperti orang minta bantuan sebab tak mau selamanya terjebak dalam mimpi bersama si mantan pacar.

Monika terdiam, balas menatapku. Sekilas, entah permainan cahaya atau aku yang mengada-ada, mataku menangkap kesedihan yang muncul pada kedua matanya sebelum digantikan tatapan Monika yang biasa. Yang terasa seperti berusaha mengebor langsung, menembus tembok-tembok yang sudah susah payah kubangun dan membuatku tak bisa merahasiakan apa-apa darinya. Walaupun sebetulnya juga percuma, sebab semenjak kami kenal, ia resmi jadi tong sampah untuk menceritakan segala gundah gulana yang kualami dan begitu pula sebaliknya.

“Tinggal bangun?” 

Aku membulatkan mataku tak percaya. Sementara segaris senyuman tipis yang terukir pada bibir Monika kini berubah seutuhnya jadi cengiran lebar, sebelum kemudian ia tertawa. Betulan senang sekali, sampai mesti membuang muka dan melambaikan sebelah tangannya sebagai permintaan maaf. Mungkin wajahku tolol sekali barusan sampai-sampai membuatnya terpingkal sedemikian rupa.

Ketika Monika sudah bisa menguasai diri dan kembali menatapku, dengan tatapan geli sekaligus minta ampun, aku sudah kehilangan minat melanjutkan topik barusan. “Bodo amat, deh. Mending kamu balik, istirahat makan siang sudah mau selesai, kan?”

Mendengar ucapanku, Monika refleks mengecek jam pada pergelangan tangannya, lalu mengeluh. “Iya, lagi. By the way, besok aku nggak bisa mampir, Na. Ada kerjaan di luar kota.”

“It’s okay, I’ll keep myself entertained.”

“Kalau ada yang lucu-lucu, nanti kukasih di hari Senin, ya.”

Aku memasang cengiran lebar hampir otomatis, lalu mengacungkan kedua jempolku tinggi-tinggi. “Keren.”

Lalu Monika bangkit lebih dulu, mengulurkan tangannya padaku. “Yuk? Nanti kamu dicari terapismu.”

“Nanti aku balik sendiri. Lagian hari ini nggak ada jadwal ketemu, cuma harus isi jurnal,” responku, mendongakkan kepala untuk melihat Monika menatapku dengan tak yakin. “Nggak usah begitu… Aku bukan anak umur lima belas tahun.”

“Kalau kamu lima belas tahun, kita nggak akan kenalan.”

“Betul.”

Monika menggeleng tak percaya, lalu menggumamkan selamat tinggal dan baru saja akan memutar tumitnya kembali ke arah gedung rumah sakit sebelum aku berujar tanpa dipikir dua kali. “Kamu mirip Jungwoo deh, kadang.”

“Jungwoo… mantan kamu?”

Aku mengangguk, yang dibalas Monika dengan senyuman tipis. “I’ll see you on Monday, Na.”

“Dadah, hati-hati.”


“Masih belum ingat?” 

Monika hampir terhuyung ke depan ketika pikiran-pikirannya terhenti kala mendengar sebuah suara yang bertanya dari belakang, mengaburkan lamunannya. Wanita itu memutar tumit dan bertemu Dokter Jung, terapis kekasihnya sejak setahun lalu sekaligus si sahabat lama.

“Belum.”

“Kamu nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa, Hanee. Dia bilang pacarnya muncul di mimpi, and she looks pretty much satisfied with it, so…” Monika menaikkan kedua bahunya sebelum menambahkan, “bisa repot kalau mesti cerita ke Diana bahwa pacarnya nggak meninggal dan kecelakaannya ngebuat dia lupa akan muka pacarnya sendiri. Dan bukan cuma kamu yang repot, tapi dia juga kesusahan nanti.

“I’m so sorry, Jungwoo.”

“Monika Shin, Dok. Bukan Shin Jungwoo. And it’s okay, we work as friends anyway.

“Besok lagi?”

“Hahaha, nggak. Senin.”

“I’ll take care of her.”

“Terima kasih. Ada untungnya juga kuliah psikologi, ya, Han?”

“Kurang ajar.”

“Hahaha, see you. Titip Diana.”

“See you.”


9.30 PM

Besok ke pantai nih, ternyata.

9.31 PM

Wah! Mau foto-foto, dong.

9.32 PM

Siap.

9.33 PM

Terima kasih, Monika Shin, teman paling baik sedunia.

 

Monika menarik napas, membuangnya lagi sebelum mengetikkan balasan terakhir malam itu.

 

9.36 PM

Sama-sama, Diana. Sampai ketemu Senin.

9.37 PM

Bye!

 

Diana mengunci ponselnya, menaruh ponsel tersebut pada meja kecil di samping tempat tidurnya, dan menutup mata sebelum jatuh tertidur. Bibirnya mengulas senyum tipis ketika ia membuka mata, dan yang menyambutnya adalah cahaya matahari dan awan-awan putih berlatarkan langit biru cerah. 

Notes:

lagi-lagi cerita tanpa substansi. cuma kangen nulis aja, dan kayaknya lucu kalau nulis tentang pacar yang nggak inget sama muka pacarnya sendiri tapi tiap hari ngobrol bareng. sounds fun am i right? :D