Work Text:
“Kita benar-benar udah nggak bisa lagi ya?” Tooru mati-matian menahan air matanya yang sudah terkumpul di pelupuk mata.
“Tooru, I just want you to know that I love you so much. Tapi jalan kita udah nggak bisa bareng lagi. Aku ngerti dan mendukung cita-citamu sebagai atlet voli profesional, sekarang udah ada kesempatan di depan mata kamu untuk mewujudkan mimpi yang kamu bangun sedari kecil itu.”
Diraihnya tangan Tooru, kemudian ia genggam erat kedua tangan itu.
“Aku udah liat perkembangan kamu dari kecil sampe sekarang, rasanya nggak adil kalo aku harus egois minta kamu tetap disini.”
“Aku sayang banget sama kamu.”
“I know.”
Raya memeluk Tooru yang kini tengah menangis. Mengusap-usap punggungnya menenangkan Tooru agar tidak menangis lagi.
“Aku paling tau dari semua orang kalo Oikawa Tooru sayang banget sama Minami Raya. Karena itu, kamu harus janji sama aku kalo kamu bakal bahagia disana.”
Tooru menggeleng dengan lemas. Ia tidak mau meninggalkan orang-orang terkasihnya disini, sayangnya disaat yang bersamaan hatinya juga tidak ingin melepaskan mimpinya.
“Tooru, aku yakin kamu pasti bakal jadi pemain voli yang hebat, semua orang di seluruh dunia pasti akan tahu betapa hebatnya Oikawa Tooru.”
Tangisan Tooru makin mengeras mendengar penuturan Raya. Tooru bertanya-tanya mengapa jalan hidupnya terlalu berlika-liku. Tidak bisakah semesta memberikannya apa yang ia inginkan, dunia dimana ia menjadi pemain voli profesional dengan Raya yang terus ada di sampingnya.
“Kalo aku minta kamu buat ikut aku, apa aku egois?”
Raya menggeleng, lalu kedua tangannya meraih wajah Tooru dan mengusap jejak air mata yang masih jelas tercetak disana.
“Aku ingin, sangat ingin malah ikut kamu kesana. Tapi kamu tau sendiri kalo aku punya mimpiku sendiri yang harus aku capai, dan aku nggak mau bergantung sama orang lain.”
“Kalo gitu aku nggak mau berangkat.”
Raya menghela nafas melihat kelakuan Tooru. Memang Tooru kadang bisa menjadi sangat kekanakan, sayangnya ini bukan saat yang tepat untuk bertingkah seperti itu.
“Tooru, aku nggak mau ya kamu tiba-tiba batal berangkat cuma gara-gara aku. Aku bakal marah sama kamu. Tau sendiri aku paling ngga suka orang yang menyia-nyiakan kesempatan.”
Mendengar Raya berkata demikian, air mata Tooru kembali mengalir dengan deras.
“Gimana kalo kita lanjut ldr?”
“Tooru, kamu tau kan kalo kamu bakal dinaturalisasi. Aku nggak bisa selamanya tinggal di Argentina loh.”
Raya mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, sebuah kalung dengan bandul berbentuk lingkaran kecil di tengahnya.
“Aku kasih ini dengan tujuan biar kamu tau aku selalu mendukung kamu, dan apapun yang kamu lakukan saat ini bukan salahmu. Jangan jadikan hadiahku menjadi hal yang menghalangi kamu untuk menemukan kebahagiaan disana.”
Kalung itu mendarat di tangan Tooru. Sepintas, sebuah memori terputar di otaknya, memori saat Tooru memohon agar mereka bisa memakai kalung couple seperti pasangan lain. Saat itu Raya menolak mentah-mentah, cringy katanya. Mirisnya justru sekarang Raya memberikan sebuah kalung kepadanya, hal yang dulu ia dambakan di kala mereka akan berpisah.
“Lusa kamu harus berangkat ya, nanti aku sama yang lain antar kamu ke bandara. Tooru si Raja Besar harus bisa kasih tau sama orang-orang di luar sana siapa Raja Besar yang sebenarnya. Oke?”
Sebenarnya Raya hampir tidak sanggup untuk menatap kedua manik coklat Tooru, hatinya juga perlahan hancur dengan kepergian Tooru.
“Raya juga harus bahagia ya, kamu harus jadi seorang arsitek yang hebat, biar kalau aku mau bangun rumah bisa langsung minta tolong sama kamu.”
Suasana menjadi bertambah mellow saat keduanya saling bertatapan. Perlahan, keduanya mendekat hingga bibir mereka saling mencumbu penuh dengan kasih sayang satu-sama lain yang tidak bisa tersampaikan melalui kata-kata. Ditemani sinar rembulan di taman dekat sekolah, Raya dan Tooru mengakhiri hubungan mereka dengan sebuah ciuman perpisahan.
