Work Text:
Sudah 3 jam Carlos sibuk duduk menatap layar laptopnya dengan fokus, namun di depannya hanya menampilkan dua paragraf baru latar belakang masalah. Revisi sidang skripsi cukup menguras pikirannya. Meskipun dosen penguji sudah menjelaskan secara rinci dan Carlos juga sudah mempunyai bayangan seperti apa latar belakang terbarunya, tetap saja ia stuck di paragraf kedua.
Semua revisi lain dari dosen penguji sudah ia selesaikan, hanya mengubah latar belakang ini saja yang masih menjadi beban untuk pikirannya. Belum lagi ternyata teman-teman sepengujinya sudah lebih dahulu selesai dan sudah mendapat persetujuan dosen penguji agar skripsi mereka siap cetak membuatnya semakin merasa frustasi, merasa tertinggal dan seperti harus menyusul sesegera mungkin. Padahal sesuai persetujuan batas revisi sidang skripsi adalah 50 hari dan ini baru pekan kedua sejak Carlos selesai menjalankan sidang skripsi.
Carlos melepas kacamata dan memijat tulang hidungnya yang pegal. Jam di laptopnya menunjukkan pukul 10 malam, dan sekarang adalah Sabtu malam, ia bisa bergadang sepuasnya agar Senin dirinya sudah mendapat tanda tangan basah dosen penguji seperti teman lainnya. Namun sayangnya kopi yang ia pesan tadi sore dengan tujuan untuk menahan rasa kantuknya tidak memberi efek apapun, malah ia sudah menguap dan matanya berair.
“Shit…,” helaan napas kasar tanpa sadar keluar dari mulut Carlos. Tangan kanannya kemudian menggerakan kursor mouse untuk mencari playlist Spotify yang cocok dengan suasana hatinya. Dipilihlah playlist lagu-lagu DAY6 kesayangannya, tepatnya lagu Habits, favoritnya.
Carlos tertawa sendiri sambil menyanyikan beberapa bait chorus. “Padahal gue lagi nggak habis putus.”
Lagu berikutnya adalah Letting Go. Tawanya semakin meledak disertai umpatan “anjing” khas-nya. Jadi teringat dengan mantan yang dulu memutusnya sepihak saat ia sedang struggle dengan proposal dan tetek bengeknya.
Tok! Tok! Tok!
“Oit?” sahut Carlos tanpa bangkit dari singgasana kebanggaannya; bangkeles coklat yang sudah robek di bagian bawah dan tepos itu.
Pintu kamarnya terbuka, menyembulkan rambut merah gelap Shirakawa dengan matanya yang tertutup sebelah, seperti biasa.
“Lah? Cepet amat udah balik kesini lagi?” tanya Carlos heran. Masalahnya teman kosannya ini baru dua hari yang lalu pulang ke Bogor dengan alasan urusan keluarga mendadak.
“Ngapain lama-lama, orang cuma ponakan gua sunatan. Nggak bakal fokus juga revisi di sana,” jawab Shirakawa enteng. Ya, Shirakawa juga baru saja menyelesaikan sidang skripsi pada tanggal yang sama dengan Carlos. “Nih talas bogor goreng, tapi udah dingin. Ngidam kan lu.” Ia meletakkan sekotak tupperware ungu di atas printer Carlos.
Mendengar nama makanan yang telah diidamkan dari lama, Carlos mengangkat sedikit pantatnya dan meraih kotak makan tersebut. “Anjir banyak banget,” celetuknya begitu ia buka tutup kotaknya.
“Paling juga besok pagi udah abis. Tau gua.”
Carlos terkekeh. “Makasih bro.”
Shirakawa hanya membalas dengan gumaman dan menutup pintu kamar Carlos. Mungkin ingin melanjutkan revisi skripsi seperti dirinya, Carlos tidak terlalu peduli.
Carlos tatap talas bogor yang sudah mendingin itu selama lima detik sebelum ia tuang gula yang diplastikkan ke tempat kosong yang tersedia, kemudian ia suwir satu talas menjadi dua bagian dan mencocolnya di atas gula pasir, lalu ia mulai menyantapnya lahap. Ah… enaknya….
Dengan mulut yang masih sibuk mengunyah talas ketiga, Carlos scroll kembali file Doc1 Word yang berisi ketikan kasar latar belakang terbarunya. Perlahan mulai muncul inspirasi yang tepat untuk melengkapkan kekosongan-kekosongan yang sempat dikatakan oleh dosen pengujinya. Kemudian ia mencari referensi yang tepat dari 30 artikel jurnal yang sudah berjejer di tab Chrome-nya.
Begitu dirasa sudah cukup kenyang setelah memakan lima potong talas, ia bangun dari singgasananya untuk mencuci muka dan tangannya yang berminyak, lalu kembali duduk dan menekan ctrl+n pada keyboard-nya, memilih untuk membuka lembar kerja Word baru dan menulis cerita tentang lelahnya mengerjakan revisi skripsi — yang ternyata menguras tenaga dan otaknya.
