Work Text:
"Nice, Noya-san!" apresiasi Tanaka saat Nishinoya berhasil kembali melambungkan bola yang baru saja di-smash oleh Asahi.
"Hampir saja! Asahi-san smash-mu semakin kuat, ya!" Nishinoya bangkit dari posisinya, mengacungkan jempolnya ke Asahi—mantap artinya. Sedangkan yang dipuji hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Priit!! Pelatih Ukai meniup peluitnya, semua yang di ruangan itu jelas sudah tahu apa yang akan dikatakannya selanjutnya.
"Latihan hari ini sampai di sini saja! Terimakasih atas kerja kerasnya!"
Nah, itu.
"Terimakasih atas kerja kerasnya!" balas yang lain.
Hinata celingak-celinguk, ia merasa seperti ada yang aneh dari latihan hari ini. Penasaran, ia melapor ke Sugawara.
"Suga-san, hari ini latihannya sedikit aneh, ya?"
Sugawara memiringkan kepalanya sedikit, mencerna pertanyaan Hinata sebentar. Aneh? Insting Sugawara membawa matanya mengarah ke jam.
Peka sekali.
Sedikit tertawa pelan, Sugawara menjawab setelah jeda pelan. "Latihan hari ini selesai 15 menit lebih cepat dari biasanya."
Huruf o kecil terbentuk di bibir Hinata saat ia mendengar jawaban Sugawara.
"Kau belum puas?" kini Sugawara yang bertanya balik.
Seperti Sugawara tadi, Hinata menoleh sebentar, ke Kageyama bukan ke jam. Ia melihat laki-laki dengan potongan rambut yang membosankan itu tengah membantu Tanaka melepas net—Kageyama tampaknya tak sadar ia sedang diperhatikan. Setelah itu Hinata kembali ke Sugawara. "Tidak, Bakageyama juga tampaknya tak sadar."
Sugawara tertawa pelan lagi mendengar jawaban Hinata. "Baiklah kalau begitu, aku duluan, ya. Sampai jumpa besok, Hinata."
"Sampai jumpa besok, Suga-san!" kata Hinata sambil melambaikan tangannya, namun aksinya tak bertahan lama saat nada marah Kageyama memintanya untuk ikut membantu berberes.
Hinata selesai berberes lebih lama dari yang ia kira. Jadi setelah ia selesai, Hinata buru-buru pergi ke tempat sepedanya terparkir. Meski hari belum terlalu gelap, tapi memakan waktu yang lumayan banyak untuk perjalanan pulang.
Ia mengayuh sepedanya dengan brutal sebelum lima detik kemudian ia menyadari ada orang yang sangat familiar sedang duduk di dekat sungai. Rem ia berhentikan dengan paksa, hampir membuatnya terjatuh konyol hanya karena ia ingin memastikan sosok itu.
Dan benar. "Huh, Kageyama-kun suka hal yang seperti ini, ya?" ejek Hinata, pemilik nama yang dipanggil sedikit kaget karena tidak menduga akan bertemu teman setimnya di sini.
"Kalau iya, kenapa?" Kageyama tidak kalah menyebalkannya. Mereka adalah menyebalkan kuadrat jika sedang bersama.
"Tidak cocok, terlalu romantis buatmu."
"Lalu aku cocok dengan apa?" tanya Kageyama, beneran penasaran.
"Dengan aku!" Tidak perlu satu detik untuk menunggu kepala Hinata dijitak oleh Kageyama. Terimakasih untuk jawabannya.
Hinata mengaduh pelan, sakit, jujur. Ia bisa melihat Kageyama menghadap ke arah yang lain—ada warna merah samar di telinganya, mungkin salting?
Keheningan menemani mereka sebentar. Suara angin sore saat itu benar-benar menyenangkan. Sesekali terdengar suara anak-anak yang berlari pulang ke rumah.
Hinata memecah keheningan, selalu seperti itu. Kageyama tidak pandai soalnya. "Coba pikiran lagi," ujar Hinata.
Kageyama menoleh sedikit, menunggu Hinata melanjutkan kalimatnya.
"Saat itu juga sedang sepert ini, ya? Mataharinya, anginnya." sambung Hinata.
Dari raut wajah Kageyama, tampaknya ia tak paham maksud kalimat Hinata.
Saat itu apa? Tertulis besar di wajah bingung Kageyama.
"Saat aku menantangmu, bodoh. Aku kalah saat pertandingan kita di SMP." Hinata menjelaskan, ada sedikit nada kesal di dalamnya, sedikit menggemaskan kata Kageyama.
Senyum kecil tak bisa Kageyama tahan saat ia mengingat kejadian itu. "Ya, kau juga menangis seperti anak yang diambil permennya saat itu."
"Waaa!! Jangan diingat bagian itu!"
Kageyama tertawa, meski tak besar, namun itu langka. Sinar matahari membuatnya terlihat lebih menawan dari yang biasanya.
Pemandangan yang langka di mata Hinata. Dan pemandangan yang indah di mata Hinata. Ia baru sadar kalau wajahnya memanas, dan entah sejak kapan pemompa darahnya bekerja lebih ekstra dari biasanya.
Semua karena Kageyama.
Sudah merasa selesai menertawakan Hinata, Kageyama menepuk pelan kepala Hinata, tidak tahu tujuannya apa. "Kau lucu saat menangis."
Kageyama Tobio sialan! Itu pasti sengaja!
"Kau—"
Entah kenapa Kageyama merasa Hinata jadi sering berbicara setengah-setengah. Itu buruk, karena kesabaran Kageyama hanya setipis tisu.
"Kau juga, Kageyama terlihat tampan saat sedang tersenyum." Kata demi kata, volume suara Hinata mengecil, tapi ia pastikan Kageyama dapat mendengar setiap katanya.
Kageyama diam, Hinata tidak bisa menebak apa yang sedang pria itu pikirkan.
Setelah jantungnya berdetak dengan nada yang semestinya, Hinata memberanikan diri maju. Ia meletakkan kedua jari telunjuknya di masing-masing ujung bibir Kageyama, membentuk senyum.
"Kan? Memang Kageyama dan matahari terbenam adalah kombinasi yang terbaik!"serunya sambil tersenyum.
Kageyama melihatnya. Otaknya merekam sosok yang lebih kecil darinya itu sedang tersenyum dengan sinar matahari mewarnai wajah sebelah kirinya. Bukan hal yang langka, namun bukan hal yang membosankan juga.
Tidak, kau yang paling cantik di sini,
END
