Actions

Work Header

Like You Were Homemade Cookies Baked Just Right.

Summary:

Nunew, barista dan salah satu co-owner kafe kecil, secara tidak sengaja bertemu dengan Zee—yang mencari tempat untuk kabur dari penggemar dan masuk ke kafenya Nunew ketika jam tutup.

Harusnya kisahnya berhenti sampai disitu aja, ya kan?

Notes:

Cafe inspo: https://30smagazine.com/2016/04/06/the-hague-favourite-pistache-cafe/

Title from Eyesmile by Kalya Islamadina. Check her out, the music is so pretty!

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text

Waktu menunjukkan pukul dua pagi ketika Nunew akhirnya memutuskan untuk berdiri dari tempat duduknya di depan meja kasir pada area pemesanan kafe. Kegiatan terakhirnya hari ini, menghitung transaksi dan mencocokan dengan lembaran dan koin yang masuk ke dalam mesin kasir sekaligus menghitung yang masuk dalam kantong uang digital mereka. Sebelum kemudian mendongak ketika mendengar suara pintu yang terbuka, Nunew merutuki dirinya sendiri, seharusnya sadar kalau mengunci pintu masuk adalah hal paling pertama yang harus dilakukan ketika dia mulai berbenah untuk jam closing.

Apa yang ada di pikirannya mendadak menguap begitu saja melihat orang paling tampan yang dia pernah temui masuk dengan wajah sedikit waspada dan juga setengah malu-malu menatap ke arahnya. Nunew jujur bukanlah seseorang yang sering mengikuti perkembangan dunia selebritas atau apalah namanya, tapi dia tau kalau wajah seperti orang di hadapannya, ditambah perawakan yang tegap dan tinggi, minimal sudah masuk layar televisi. Mengerjapkan mata, dia baru sadar kalau orang di hadapannya sudah mencoba menarik perhatiannya selama beberapa detik.

“Eh, halo… Nunew?” Ujar si pemuda tampan, membaca tanda pengenal yang tersemat di saku kemejanya, “masih buka?” lanjutnya lagi, matanya menatap cemas ke arah pintu masuk.

“Kami baru saja tutup buku untuk pesanan terakhir, Kak.” Ujarnya, berusaha tetap tersenyum manis walaupun seluruh badannya seperti setengah remuk dan dia yakin penampilannya sudah luar biasa berantakan.

“Satu cangkir saja? To-go?” Ujar laki-laki yang, tentu saja tidak mengenalkan namanya karena buat apa berkenalan di kafe kopi kecil jam 2 pagi? Nunew memicingkan matanya, sedikit curiga sekaligus was-was karena bagaimana kalau orang di hadapannya ini ternyata adalah penjahat atau kriminal atau pemb—”atau, kamu ada portable charger yang bisa kupinjam, mungkin?” Lanjut orang itu lagi, penuh harap sambil mengarahkan layar ponselnya yang kelam tanpa petunjuk apapun.

“Oh, iya ada,” ujar Nunew, bergegas mengambil powerbanknya dan memberikannya kepada si pria tertampan-namun-misterius yang ada di hadapannya, “yaudah nggak apa-apa deh kak, on the house aja. Tapi cuma ada americano, nggak apa-apa?” Lanjutnya, setengah iba, mentally sudah mempersiapkan diri untuk membersihkan lagi seluruh bagian mesin kopi yang mereka miliki.

Laki-laki di hadapannya terlihat kaget dengan tawarannya. Matanya kemudian mengitari tempat kafe kebanggaan Nunew. Tampak baru melihat semua kursi yang sudah terangkat dan beberapa bagian ruangan yang lampunya sudah dimatikan. Seperti terkesiap dan menyadari kalau apa yang Nunew katakan—bahwa mereka sudah tutup—memang benar adanya.

“Eh jangan deh, nanti kamu harus bersih-bersih ulang,” sanggah orang itu, “atau.. er, kalau boleh ada air putih? Mungkin yang botolan?” Lanjutnya, sambil menghidupkan ponsel yang ada di tangannya.

“Ditunggu dulu Kak, paling enggak 5 menit sebelum dihidupkan, kata temen saya kalau habis mati total langsung dihidupkan bisa gangguan baterai.” Ujar Nunew, sambil mengambil satu botol air putih dari lemari di bawah kasir. “Adanya yang nggak dingin nggak apa-apa ya kak.” Lanjutnya sembari menyodorkan botol tersebut.

Membiarkan laki-laki itu berdiri di depan konter kasir, Nunew kemudian mengitari lagi ruangan kafenya. Menutup tirai di jendela kaca, kemudian memastikan kalau tidak ada sampah tertinggal atau kondisi luar biasa yang tidak bisa dia tinggal. Kafe ini adalah miliknya; well, miliknya dan sahabat terdekatnya. Dua orang dengan terlalu banyak kesibukan namun sempat-sempatnya memiliki ide untuk membuka kafe mereka sendiri. Nunew dan Nat, dua mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan master, Nunew dengan Chinese Language & Culture dan Nat dengan arsitektur dan tata kota.

Awalnya karena mereka memang memiliki ide untuk membuka kafe kecil. Nat yang menyukai kopi dan Nunew yang menyukai teh sekaligus senang bereksperimen dengan pastry dan baked goods. Memiliki sedikit tabungan, mereka berdua memutuskan untuk menyewa tempat di taman kecil yang terleta di belakang area perkantoran dan cukup dekat dengan sebuah universitas. Cukup strategis untuk para mahasiswa pencari cable port dan mengerjakan tugas berjam-jam, atau para karyawan yang mencari asupan kafein.

“Design kafenya cantik sekali,” celetuk laki-laki yang masih belum bergerak dari tempat terakhirnya berdiri. “Rasanya pasti betah berada di sini.”

Nunew tersenyum manis mendengarnya. Tentu saja! Interiornya adalah idenya.

“Terimakasih! Bukankah ide bagus menghiasinya dengan banyak warna hijau?” Ujar Nunew, tersenyum lebih lebar, “Nat, oh dia temanku, sebelumnya ingin memakai warna dominan monokrom supaya terlihat lebih, ah, modern?” Racaunya, sambil menarik tirai terakhir, sudut matanya melihat beberapa gerombolan perempuan yang tampak celingukan tidak jauh dari kafenya, “tapi menurutku, mana mungkin warna seperti itu membuat orang betah, iya tidak?” Lanjutnya lagi, kembali ke belakang konter.

“Lagipula aku kan ingin juga punya tempat yang membuatku betah mengerjakan esai, kalau warnanya putih hitam silver semua rasanya dingin sekali nggak sih? Seperti diusir.” Sungutnya, melepaskan tanda pengenal namanya, sekaligus apron yang melekat di badan sebelum melipatnya rapi.

Kemudian hening. Nunew merunduk sambil merasakan panas yang menjalar dari leher ke pipinya ketika menyadari racauan tanpa arahnya. Sedikit merutuki otaknya yang tidak memiliki filter untuk mengoceh tentang surga kedua setelah kamar sewanya. Sebelum mendengar tawa kecil yang diberikan oleh lawan bicaranya.

“Iya, aku setuju, hijau memang jauh lebih mengundang orang untuk betah berjam-jam dibandingkan campuran putih, hitam, dan silver.” Ujar laki-laki misterius itu. “Kamu bilang mengerjakan esai? Tugas kuliah kah? Apa nggak apa-apa dengan kelasmu kalau jam segini masih di luar?” Lanjutnya, tangannya meraih botol minum dan membukanya. Sejenak, mata Nunew terpaku di tangan penuh urat itu.

“Hm?” Jawabnya sedikit terdistraksi, kemudian menganggukkan kepala mantap. “Harusnya Kakak ada denganku waktu berdebat dengan Nat, susah sekali meyakinkan dia loh, padahal aku juga tau dia nggak suka warna-warna kaku.” Ujarnya bersungut-sungut, menyenderkan dirinya di pintu lemari pendingin. Memiringkan kepalanya sedikit, Nunew kemudian mengangguk. “Iya, aku masih kuliah. Besok aku nggak ada kelas kok, makanya hari ini ambil shift closing.” Jawabnya.

“Boleh kutebak?” Ujar laki-laki yang Nunew putuskan akan panggil dengan Kak apabila memang dia tidak bisa mengetahui namanya. Sedikit bingung dengan pertanyaan yang diberikan, Nunew menatap ke arah laki-laki itu sambil mengerjapkan matanya. Membuat sang pembicara tertawa. “Jurusan kamu, maksudnya. Interior design?” Terka laki-laki tersebut. Nunew tertawa.

“Tetottt salah besar, hahahah” jawab Nunew penuh kemenangan, “mau tebak lagi atau mau langsung aku jawab aja?” tawar Nunew, sebelum kemudian terdengar nada dering standard dari telepon genggam milik lawan bicaranya.

“Ah, sebentar, aku harus mengangkat ini,” Ujarnya ke arah Nunew yang mengedikkan bahu. Berjalan menjauh sambil mengangkat panggilan tersebut. Tampak sedikit tergesa sambil mengecek ke luar jendela.

Nunew meringis. So much for uneventful Wednesday night. Mana ada di mimpinya sekalipun kalau dia akan bertemu seseorang begitu tampan ketika berada di shift closing pada malam paling sepi dalam satu minggu. Ck, ralat, bukan hanya ‘begitu tampan’ tapi mungkin orang paling tampan yang dia temui. Yang sampai sekarang dia tidak ketahui namanya, tentu saja. Wajar sih, biasanya orang hanya akan memberitau nama mereka di kedai kopi atau kafe hanya ketika para barista sepertinya butuh memanggil mereka untuk mengambil pesanan.

Tidak lama, sebuah mobil SUV hitam yang tampak mentereng berhenti persis di depan kafenya. Nunew mengerjapkan mata, seharusnya sudah menyangka kalau laki-laki yang mendengarkan racauannya tentang interior kafe ini jelas orang berduit. Yang tidak memiliki powerbank, batin Nunew. Cekikikan sendiri di dalam hati.

Laki-laki tadi kemudian kembali ke arahnya, tersenyum. Kemudian menyodorkan powerbank ke arahnya. Jujur saja matanya kembali mengarah ke tangan pemegang powerbank, menanti untuk disambut.

“Terimakasih banyak ya, Nunew,” Ujarnya, tersenyum lebar. “I owe you one.”

“Sama-sama Kak, nggak merepotkan kok,” Jawab Nunew, balas nyengir, mengacungkan powerbank ke arah lawan bicaranya, “just do me a favor untuk bawa ini sendiri buat jaga-jaga, yang ukurannya kecil banyak kok di ecommerce mana aja.” Lanjutnya terkekeh.

“Good idea, nggak mungkin setiap malam aku bisa seberuntung itu bertemu dengan barista cantik di kafe yang juga cantik,” balasnya dengan senyum lebar. Kemudian melambaikan tangan dan keluar menuju mobil yang menunggu.

Tidak menyadari kalau Nunew hanya bisa mematung di depan area kasir dengan wajah yang makin merah setiap detiknya. Did someone really just compliment him pretty at 3AM in this godforsaken Cafe????


Awalnya, Nunew berpikir suara ketukan pintu kayu yang dia dengarkan hanyalah mimpi. Namun, kok semakin lama semakin keras? Mengerjapkan mata dan mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut, pemuda itu kemudian mengecek jam di layar ponselnya. Kemudian melemparkan salah satu bantalnya ke arah pintu. Waktu bahkan belum menunjukkan pukul 8 pagi!

“Nuuuuu kalau nggak dibuka aku dobrak ya!” Teriak seseorang di balik pintu.

Roommatenya, sekaligus sahabat terdekatnya, sekaligus rekan bisnis, ada Nat sebagai biang kerok pembangun paginya.

“Natttt aku baru closing jam tigaaaa,” balas Nunew, walaupun sambil melangkahkan kakinya turun dari tempat tidur, kemudian membuka kunci kamarnya sebelum kembali menghempaskan badan ke kasur. “Awas kalau enggak penting.” Lanjutnya, setengah tidak koheren dengan pipi yang sudah kembali menempel ke tempat tidur.

“Semalem ada siapa di kafe?” Tanya Nat, duduk di ujung tempat tidur. Nunew mengintip, memperhatikan bahwa salah satu tangan Nat membawa ponsel, dan yang lain membawa garpu.

“Kamu ngapain bawa-bawa garpu….” Ujar Nunew, balas bertanya, “apa pula maksudnya ada siapa? Ada aku lah?” Jawabnya, membalikkan badan sambil tetap memeluk salah satu bantalnya.

“Ini loh!” Seru Nat, menyodorkan layar ponselnya ke arah muka Nunew. Terlampau dekat sampai yang disodorkan hanya bisa memicingkan mata tanpa bisa menangkap apapun di indera penglihatannya. Mengerang, akhirnya Nunew menyerah dan memposisikan dirinya untuk duduk. Apa-apaan sih sahabatnya ini, pikirnya sambil meraih ponsel tersebut dari tangan Nat. Benar-benar memperhatikan apa yang sebenarnya ingin diperlihatkan.

Zee, midnight rendezvous?’ judul artikel yang diperlihatkan Nat. Apabila di scroll lebih lanjut, dia bisa melihat laki-laki tampan yang datang ke cafe mereka semalam—apparently namanya Zee, dan ternyata benar-benar seorang seleb!—tampak keluar dari dalam kafe mereka. Cahaya yang remang-remang dan tirai yang tertutup membuat Nunew sama sekali tidak terlihat, namun, memang cara Zee keluar tampak terlihat seperti menyelinap.

Zeepruk Panich (31), terlihat keluar dari sebuah kafe. adalah penjelasan foto tersebut. Artikelnya menjabarkan bagaimana tingkah laku Zee. Bagaimana dia melepaskan diri dari kru yang sedang melakukan shooting di sekitar situ, kemudian masuk ke dalam kafe yang tampak remang-remang. Menghabiskan waktu beberapa lama di sana sebelum dijemput mobil yang dikenal sebagai mobil managernya. Nunew merasa begitu beruntung si paparazi atau apapunlah ini tidak berdiam cukup lama untuk melihat Nunew keluar.

Nat mengguncangkan bahunya, tampaknya butuh beberapa waktu baginya untuk menyadari kalau sahabatnya sudah berusaha menarik perhatiannya.

“Kemarin beneran ada Zee??” Adalah pertanyaan pertama yang Nat berikan, “Kok bisa?? Ngapain?? Kamu kenal Zee??????” Lanjut Nat lagi sambil masih mengguncang-guncangkan bahunya. Nunew mengerang keras. Sama sekali tidak siap untuk hari ini. Dia bahkan belum benar-benar bangun. Seharusnya hari ini adalah hari dimana dia bisa tidur seharian—setidaknya sampai shift siang-sorenya dimulai.

“Iya ada,” jawab Nunew pasrah, “Enggak tau kenapa bisa nyasar ke sana; hpnya batrenya habis jadi minjem powerbank aku,” lanjutnya lagi, mengedikkan bahu ke arah powerbanknya yang sedang melakukan pengisian daya di nakas. “Gimana caranya bisa kenal sih, kan kamu kenal semua temen-temen akuuuuuu.” Ujar Nunew, kembali menenggelamkan kepalanya ke bantalnya.

“….Oh gitu aja…” Ujar Nat, tampak kecewa, mendengarnya Nunew bangkit dan menatapnya bersungut-sungut.

“Ih masa maksud kamu aku bawa orang kayak Zee tadi itu terus kencan diem-diem gitu jam 3 pagi??” Ujarnya, memanyunkan bibirnya sedikit, Nat kemudian tertawa sambil menepuk-nepuk pelan rambut rambut Nunew.

“Jangan marah dong sayangku, kan kamu tau aku suka gosip,” jawab Nat, “aku lagi bikin french toast, kamu mau nggak? Tenang tadi sebelum ketuk pintu kamu kompornya udah aku matiin kok.”

“…Mau deh…” Ujar Nunew, kemudian menghela napas. Tau benar kalau dia tidak akan bisa kembali tidur. “Aku sekalian bangun deh, mau bake blueberry scone, nanti aku bawa buat shift aku ya.” Lanjutnya, memeluk sahabatnya cepat sebelum mengarah ke kamar mandi.

 


 

Setelah Nat pergi untuk opening dan setelah Nunew menyelesaikan semua proses pembuatan blueberry sconenya—yang tersisa hanya tinggal menunggu hingga sconenya berwarna cokelat keemasan, dan itu kira-kira akan memakan waktu 40 menit—maka Nunew mulai berseluncur untuk mencari tau siapa sebenarnya Zee. Laki-laki tampan yang mengambil tiga puluh menit waktunya tadi pagi. Matanya melirik ke petunjuk waktu di ponsel, mendengus mengetahui waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Baru enam jam berlalu, namun Nunew merasa hal yang terjadi tadi pagi seperti fever dream alih-alih sebuah realita.

Apparently, Zeepruk Panich, atau yang biasa dipanggil Zee, adalah seorang aktor. Memiliki karir yang menanjak pelan tapi pasti, Zee berangkat dari profesi model, namun entah kekuatan berjalannya atau rahangnya menarik salah satu produser film yang saat itu hadir di runway dan mengontak agennya untuk mengikuti audisi salah satu filmnya. Itu sudah lima tahun yang lalu.

Nunew menaikkan alisnya ketika melihat judul-judul film yang dia baca diperankan oleh Zee. Banyak diantaranya yang menyabet penghargaan bergengsi; Zee juga sudah dua kali memenangkan penghargaan aktor pemeran pendukung terbaik. Projek terbarunya adalah sebuah film fiksi ilmiah dimana Zee memerankan ilmuwan yang semakin lama semakin terobsesi dengan temuannya. Peran utama pertamanya—Nunew bersiul kecil mengagumi hal tersebut.

Mendengar timernya berbunyi, Nunew menutup laman biodata Zee tersebut. Berpikir bahwa dia sudah cukup bersinggungan dengan Zee dan hal misteriusnya. Bersenandung kecil sambil membuka panggangan sconenya yang sempurna untuk dijadikan panganan kafe kecilnya yang cantik.

 


Nat Jellybean

‘mayday’

‘Nu plis plis plis ke sini’

‘Nuuuuu plis ke sini aku sama Yim kewalahan banget.’

 

-Muyim

‘Kak Nunew, kalau lihat pesan ini please ke kafe ya kak’

Kurang dari satu jam setelah Nunew menempatkan sconesnya ke wadah, ponselnya berbunyi beberapa kali. Menandakan beberapa pesan masuk secara bertubi-tubi. Waktu baru menunjukkan pukul 10, berarti kafe mereka baru buka kurang lebih dua jam. Masa iya mereka sudah butuh bantuan secepat itu? Memutuskan untuk bergegas membereskan barang-barangnya, Nunew segera menuju lokasi kafe yang hanya memakan waktu kurang lebih 10 menit jalan kaki dari tempat tinggalnya dan Nat.

—Sebelum menemukan kafe mereka dikelilingi begitu banyak orang.

What the fck?, begitu pikir Nunew sambil berusaha masuk. Tidak, ‘banyak orang’ sama sekali tidak cukup untuk menjelaskan keadaan kafe mereka saat ini. Membludak? Melebihi kapasitas? Mungkin jauh lebih tepat. Setelah berjibaku dengan lautan manusia, dia menatap Nat dan Yim yang kewalahan melayani pelanggan. Buru-buru dikenakan apronnya dan dalam diam mengisyaratkan kepada Yim & Nat bahwa dia akan di kasir mencatat pesanan, Yim membuat kopi, dan Nat membereskan urusan makanan.

“Selamat datang Kak, mau pesan apa?” Ujarnya ke arah seorang perempuan manis yang tertawa kecil sambil malu-malu ketika Nunew tanyakan apa yang dia pesan.

“Nomornya Kak Zee ada nggak kak? Aku mau pesan itu!” Ujarnya, yang ternyata memiliki sentimen yang sama dengan orang-orang di belakangnya. Oh tidak. Pikirnya. Matanya menangkap beberapa pelanggan setia mereka yang mulai tampak jengah.

“KAKAK-KAKAK SEKALIAN, KITA NGGAK PUNYA NOMORNYA ZEE ATAU MENYEMBUNYIKAN ZEE DI BAWAH MEJA YA.” Teriaknya, supaya sampai ke ujung ruangan untuk siapapun yang mendengarkan, “JADI KALAU NGGAK MAU BELI, TOLONG MINGGIR.” Lanjutnya lagi. Melihat beberapa orang yang melongo memperhatikannya kemudian mulai beringsut menjauh. Menyisakan beberapa orang yang wajahnya familiar dan beberapa orang lain yang setidaknya tidak tampak akan cekikikan di depan konter pemesanan.

Pantas Nat dan Yim memintanya datang. Beberapa wajah baru yang mereka lihat memang datang karena artikel gosip tersebut, namun hanya untuk membeli kopi. Nunew personally mengusir dua orang reporter dan menagihkan harga dua kali lipat untuk yang bersikeras menetap dan mengamati. Sisanya tampaknya sudah menciut dari teriakannya tadi.

“Halo, mau pesan apa Kak?” Ujarnya tersenyum kepada orang paling terakhir dari antrian ularnya. Menatap ke satu lagi wajah tampan yang mungkin bisa disandingkan dengan Zee, walaupun kalau yang ini bukan seleranya sih.

(Nunew berusaha menghilangkan pikiran kalau Zee adalah seleranya)

“Kamu memang cantik, ternyata,” ujar laki-laki tersebut, tersenyum kecil, “tetap lebih cantik James, tapi yah, itu bias sih.” Lanjutnya lagi, “aku Net, managernya Zee, flat white dan sconenya satu?” ujar Net sambil menunjuk blueberry sconenya. Tidak menyadari kalau dia baru saja membuat jantung Nunew rasanya mencelos menembus tulang dadanya.

“Um,” balas Nunew, sementara menyadari Nat dan Yim sudah menyiapkan pesanan untuk laki-laki di hadapannya.

“Oh dan tambah pembayaran satu air mineral botol,” Kekeh Net, membuka dompet dan memberikan kartunya, “ada orang bodoh yang tadi pagi nggak bawa powerbank dan dompet karena kabur dari teriakan fans.” Lanjutnya, mengambil pesanan yang diberikan Yim kepadanya. Menatap Nunew, seakan menanyakan.

‘well?’

Seperti sadar dari trance, Nunew segera memproses pemesanan tersebut. Memberikan kembali kartu Net dan mengawasi ketika laki-laki itu mendudukkan dirinya di kursi paling dekat dengan kasir. Tertawa kecil dan melambaikan tangan ke arahnya.

“Sana samperin,” ujar Nat dari belakang tubuhnya, “dipanggil itu. Toh antrian udah abis, we can handle it.”

“Hai Nunew,” ujar Net sambil tersenyum, Nunew melihat ke sekelilingnya, memastikan tidak ada satupun dari pengunjung kafenya yang memperhatikan gerak-gerik salah satu barista mereka sebelum akhirnya duduk di hadapan Net.

“Kata Zee, thank you for the help, dia aslinya punya kok powerbank, nggak dibawa aja.” Ujar Net sambil mengunyah. Bagaimana cara orang mengunyah tapi tetap terlihat tampan, Nunew juga ingin belajar. “Terus, the water taste so good kata dia juga, walaupun udah ku tempeleng soalnya mana ada bedanya orang sama-sama dari botol.”

“O…kay?” Jawab Nunew, tidak yakin, “tolong sampaikan nggak masalah sama sekali, glad I can help.” Lanjutnya, bersiap berdiri.

“Waduh sabar bos,” ujar Net tertawa kecil, “aku nggak gigit kok, masih ada beberapa ini pesannya Zee.” Nunew kembali mengrenyitkan dahinya, masa iya percakapan kurang dari tiga puluh menit mereka bisa menghasilkan pesan titipan sebegini panjang?

“Dia minta aku kasih ini,” lanjut Net, memberikan secarik kertas berisi deretan nomor, “no pressure, katanya. Just, ini verbatim ya, not from me, but from him; ‘you’re really really pretty, dan kalau pandangan kemarin itu you also found him attractive, feel free to contact that number.’” Kerutan di dahi Nunew menjadi lebih dalam, semakin kebingungan.

“Surely di profesinya dia nggak mungkin kekurangan orang cantik, kan?” Tanya Nunew, mengambil kertas yang diberikan oleh Net. Sebelum tangan itu tertahan tanpa benar-benar melepaskan kertas dari jemarinya.

“Iya, tapi dia bersikeras kamu lebih cantik dari mereka.” Ujar Net, kemudian dengan tangan yang masih belum melepaskan kertas tersebut, raut wajahnya berubah lebih serius. “itu tadi dari Zee, dan yang barusan bicara adalah temennya Zee yang pastinya mau mendukung dia for any kind of things. Mau relationship atau cari temen baru, Net si temennya Zee pasti akan dukung.” Ujarnya. Kemudian menghela napas.

“Net si managernya, akan minta kamu untuk pertimbangkan your next step.” Lanjut Net, “Net managernya Zee akan bilang kalau karirnya dia lagi menuju ke arah yang teramat baik, jadi Net managernya Zee sangat-sangat reluctant untuk kasih kertas ini, karena Net managernya Zee nggak mau Zee harus melakukan damage control kalau terjadi apa-apa.” Ujarnya. “Jujur, dengan dia keliatan keluar dari kafe ini jam tiga pagi aja nggak terlalu baik untuk imagenya. Tapi setidaknya your little outburst tadi bisa menghalau orang-orang iseng.”

“Tapi, Net temennya Zee udah janji akan kasih kertas ini, so.” Ujar Net, sambil melepaskan jarinya dari kertas berisi deret nomor yang tadi dia tawarkan. Nunew hanya bisa bungkam, tangannya menggenggam kertas itu walaupun pikirannya sendiri dibuat bingung.

“I’m off, Nunew.” Ujar Net, kemudian sedikit melambaikan tangannya ke arah Yim & Nat. “Kopinya enak, sconenya juga. Besok-besok mampir lagi!” Sebelum kemudian berdiri dan meninggalkan Nunew yang masih terdiam. Mengenakan apron dengan logo kafe mereka dan tanda pengenal bertuliskan namanya.

Tiga puluh menit waktu yang diambil oleh Zee darinya, tidak akan mengubah apa-apa pada hidup siapa-siapa. Pikirnya kemudian. Membuat keputusan. Kertas yang ada di tangannya dia lipat tanpa sama sekali dia berikan waktu dirinya untuk membaca.