Work Text:
Semua tentang Shin Jungwoo terasa benar. Kukira kami akan selamanya berpendar, sayang sekali ujungnya harus berpencar.
“Ada yang kurang?”
Suara Shin Jungwoo menyapa telingaku sayup-sayup dari arah kamar, sementara aku menyipitkan kedua mata untuk mengecek ulang beberapa kardus di hadapanku di ruang tengah.
“Nggak, lengkap semua kok,” aku menjawab sembari menutup kardus terakhir selepas memastikan kalau memang semua barang-barang yang niatnya dipindahkan sudah ada di dalam sana. Kemudian aku bertumpu pada lutut untuk bangun dan mengambil langkah menuju tempat Jungwoo berada. Kepalaku adalah yang pertama muncul di daun pintu, diikuti tangan sebelah kiri yang berpegang di kusen. “Kamu sudah lapar, belum?”
Kedua mata Jungwoo masih lekat pada layar laptop yang memperlihatkan halaman putih dihiasi banyak bulatan-bulatan hitam kecil. Tangan kanannya memegang pensil, sementara dahinya mengerut kala wanita itu memindah-mindahkan bulatan-bulatan tadi ke sudut tertentu, kanan dan kiri, atau membentuk segaris panjang berisikan delapan bulatan sekaligus. Baru ketika ia selesai menelengkan kepala dan menyingkirkan satu bulatan untuk digeser ke paling belakang sebagai ekor dalam formasi yang kulihat mirip segitiga, Jungwoo menoleh ke tempatku berdiri. “Yuk? Kepalaku lumayan berasap.”
Ia lantas memundurkan kursi, mematikan laptop, dan berdiri hanya untuk menunduk ketika berada tepat di hadapanku. Aku refleks mendengus geli, kemudian memberikan puncak kepalanya tepukan lembut dua kali. “Terima kasih sudah kerja keras hari ini.”
“Tapi jadi nggak bisa bantu kamu beberes barang-barang,” balasnya, kini meremas kedua bahuku pelan sebelum memutar tubuhku agar kami bisa berjalan seperti kereta beranggotakan dua orang menuju meja makan.
“Nggak apa-apa. Ternyata dikit juga yang mesti aku masukkan ke dalam kardus,” ujarku, menoleh ke arah ruang tamu dan disambut pemandangan lima kardus berukuran sedang. Kepalaku mendongak, mendapati Jungwoo yang juga melempar pandang ke arah sama. Matanya yang menyipit mengingatkanku kalau wanita itu berpesan agar kardusnya diletakkan dekat pintu keluar, supaya bisa diangkut lebih mudah. Jelas sekali, aku lupa.
“Nanti kita angkut berdua selesai makan,” gumam Jungwoo, ganti menepuk puncak kepalaku. Remasan pada bahuku baru terlepas begitu aku berdiri tepat di salah satu sisi meja makan kami. “Wah… sop ayam.”
Aku berbalik, memberikan cengiran bersalah paling baik yang bisa kulakukan sebelum menyatukan kedua telapak tanganku dan menggosoknya. “Standar banget, aku tau. In my defense, otakku berhenti mikir saking capeknya beres-beres jadi dari seribu juta menu, cuma keinget sop ayam.”
Wajah netral Jungwoo, yang sepertinya memang dari awal tidak keberatan kalau mesti makan sop ayam siang itu, perlahan melunak dan bibirnya melengkungkan senyuman. “Aku nggak protes, loh.”
“Ya… kali aja, kamu mau apa gitu. Oseng-oseng kangkung mungkin… atau yogurt. Walaupun kita berdua tau, aku nggak akan ngasih kamu makan siang yogurt sama granola doang. Makanan burung perkutut.”
Kali ini, Jungwoo tertawa. Aku juga.
Untuk pertama kalinya setelah waktu yang begitu lama, kami tidak makan dalam diam. Biasanya Jungwoo terlalu fokus atau aku terlalu letih, bahkan di beberapa kesempatan kami berdua sudah makan lebih dulu. Sehingga menyuap nasi panas ditemani sop ayam ala kadarnya diselingi berita terbaru mengenai projek yang dikerjakan Jungwoo atau kejadian aneh di kantorku, terasa begitu menyenangkan buat kami. Aku tak henti tergelak, sementara Jungwoo hampir tersedak karena terbahak-bahak.
“Aku aja yang nyuci piringnya, kan kamu masak tadi,” ujar Jungwoo. Sigap sekali bangkit dari kursi, lantas menumpuk piring dan mangkuk yang kami gunakan sebelum berjalan menuju bak cuci piring. “Habis ini mau ngapain? Truk pindahannya masih nanti malam, kan, datangnya?”
Aku mengekor wanita itu, lalu menyandar pada kabinet. Pandanganku jatuh pada tangan Jungwoo yang memakai sarung tangan karet berwarna merah muda, kini sibuk menyabun dan membilas peralatan makan kami. “Hm… mau es krim? Atau kita bisa duduk di teras, kalau malas jalan-jalan. Kayaknya kucing kecil yang biasa mampir itu lagi sibuk main di halaman kita.”
Pandanganku teralih pada Jungwoo tepat ketika wanita itu mengangguk setuju, kedua alisnya terangkat dan bibirnya melengkungkan senyuman terbalik. Ekspresi yang biasa muncul kalau aku mengatakan sesuatu yang masuk akal atau Hyowon memberi ide blocking yang dapat menyelesaikan formasi koreografinya.
Tak sampai lima menit berselang, Jungwoo telah selesai. Ia melepas kedua sarung tangan, melangkah dan membuka pintu kulkas kami untuk mengambil seember es krim berikut dua sendok kecil, lalu kembali padaku. “Yuk?”
Giliranku yang menaruh kedua tangan pada pinggang Jungwoo, sementara ia berjalan lebih dulu. Aku mau tak mau tersenyum geli sendiri akan apa yang kami lakukan, tapi tidak berucap apa-apa supaya tidak merasa malu berlebihan.
Begitu sampai di teras, betul saja anak kucing yang hobi menyambangi rumah kami (mungkin karena aku dan Jungwoo selalu menyediakan makan dan minum) sedang sibuk berguling-guling sendiri di halaman depan. Barulah ketika duduk bersebelahan, dapat kulihat kalau anak kucing tersebut sedang berusaha menangkap kepik yang terus-menerus berhasil terbang dari tangkapan si kucing.
“Kucing itu selalu ada aja tingkahnya tiap kali main ke sini,” komentar Jungwoo sembari tangannya membuka tutup es krim tersebut, dengan pandangan lekat pada si kucing. Aku mengangguk setuju, membiarkan Jungwoo mengambil suapan pertama sementara aku mengeluarkan karet hitam dari saku celana.
“Lihat ke kiri,” pintaku. Tanpa banyak tanya, Jungwoo memutar setengah badannya ke kiri, membuatku bisa menguncir rambutnya dengan leluasa. Siang ini begitu panas dan aku kekurangan hiburan, sehingga aku putuskan kalau Jungwoo akan dikepang hingga nanti. Jemariku mulai memisahkan rambutnya dan mulai mengepang sementara Jungwoo masih menyuap es krim ke dalam mulutnya.
“Buka,” ucapnya. Wanita itu menoleh untuk memberikan satu suapan padaku, yang aku apresiasi sebelum melambaikan tanganku lagi dengan gegabah. Nanti kepangnya rusak kalau ia terlalu lama memutar badannya ke arahku. “Beneran nggak ada yang ketinggalan kan, barangnya? Nanti repot kalau mesti balik lagi ke sini setelah pindah.”
“Beneran, semua aman,” jawabku tanpa jeda. Jungwoo mengangguk sekali, lalu diam lagi sementara aku menyelesaikan kepangannya. Begitu rampung, aku menepuk bahu sebelah kanan Jungwoo sebagai sinyal agar ia bisa berbalik. Ia menggumamkan terima kasih dengan dua sendok es krim tersimpan dalam mulut, aku menggeleng geli. Kami kembali diselimuti keheningan, kini giliranku yang mengambil alih ember mini berisikan es krim tersebut. Berkali-kali menyuap dan mungkin dengan sengaja menghindari adanya percakapan.
Tapi tentunya tidak bisa begitu, tidak jika kekasihmu adalah Shin Jungwoo.
“Say something,” bisik Jungwoo sembari menonton si anak kucing yang masih bergulat melawan seekor kepik. Aku tidak menjawab, malah sibuk menyuapkan satu sendok es krim pada Jungwoo sebelum menutup ember mini tersebut. Terdengar tarik dan hela napas berat yang jelas asalnya dariku, mengundang Jungwoo untuk mengalihkan pandang dan menatapku sangat serius.
Tatapannya mirip ketika pertama kali ia mengajakku berpacaran, kurang lebih lima tahun lalu setelah kami resmi kenal lebih dari enam bulan. Waktu itu, dia bilang gugup minta ampun. Tapi yang bisa kulihat cuma determinasi, menyiratkan kalau wanita itu tak akan pergi kemana-mana sampai diberi keputusan yang pasti. Mau diterima atau ditolak, yang penting mesti dijawab.
“Aku nggak yakin bisa sendiri,” merupakan kata-kata yang meluncur dari bibirku setelah Jungwoo mengambil jemariku dan menautkan pada miliknya. Kini giliran wanita itu yang pura-pura tidak dengar, pandangannya beralih ke pagar rumah kami. Yang aku ingat betul, kami cat ulang dua pekan setelah pindah ke sini. Wajah Jungwoo mengeras dan bibirnya mengatup sementara aku mengusap-usap punggung tangan wanita itu menggunakan ibu jariku.
“Bisa. Dari tiga bulan lalu juga sudah bisa,” ia berucap. Genggamannya pada jemariku semakin erat, sementara kami kembali bertatap mata, kini pandangan Jungwoo begitu lekat.
“We’re not falling out of love, we just need to spend more time together,” sanggahku. Jelas berbohong karena sedetik setelahnya, dapat kurasakan sensasi asing pada lidah sendiri, pertanda kalau yang kukatakan berbanding terbalik dengan yang kurasakan. “Tapi beneran, Jungwoo… we just lost our way. Bukannya nggak bisa balik, kan?”
“Jelas-jelas nanti jam delapan tukang angkut kardus kamu sampai sini.”
Aku tidak bisa membalas kalimat yang barusan, karena kenyataan barang-barangku tersimpan rapi dalam lima kotak terpisah masih ada sebagai barang bukti yang tergeletak di ruang tamu kami. “Tapi aku bisa aja batalin, nggak jadi pindah.”
“Terus apa?” sambar Jungwoo hampir secepat kilat. Jemari kami masih bertaut, namun pandangan wanita tersebut padaku persis seperti yang selalu ia tampilkan pada murid-muridnya yang ketahuan berbohong dan bolos latihan padahal sibuk pacaran. “Mau pura-pura peduli?”
Bibirku mengerucut tanda ingin membantah, tapi lagi-lagi tidak ada suara yang keluar sebab pertanyaan yang dilontarkan tak bisa kusanggah. Memang aku sudah tidak peduli, jelas bukan pada Jungwoo tapi pada hubungan ini. Dua hari lalu aku bilang padanya kalau ia tak terasa seperti orang yang sama, namun Jungwoo berkata kalau ia tak berubah, hanya memang waktunya saja untuk kami berpisah.
“Aku nggak yakin bisa kalau nggak sama kamu.”
“Bisa. Selama tiga bulan ini juga sudah bisa.”
“Aku bukannya nggak sayang lagi.”
“Aku tau.”
“Kalau kamu tau kenapa kamu bolehin aku pergi, kan aku masih sayang?”
“Karena bukan sayang yang membuat kamu mau tinggal di rumah ini.”
“Kita sudah sama-sama lama banget.”
“Kan kamu yang bilang, mati-matian bersama, belum tentu mati bersama?”
“…don’t use my words against me?”
Jungwoo hanya mengangkat bahu, kemudian ganti mengusap-usap punggung tanganku menggunakan ibu jarinya. Si anak kucing sudah menyerah, kini hanya berguling-guling di atas rumput hijau yang kami siram jam empat sore setiap hari. Kecuali mungkin hari ini, sebab terlalu sibuk mendebatkan apakah mestinya aku tinggal atau pergi.
“I’ll be getting over you my whole life,” aku berucap jujur, pada akhirnya. Setelah melontarkan kalimat sanggahan berkali-kali yang berlandaskan rasa sopan agak kelewat batas sebab kami terlalu lama bersama, sudah terlalu melekat rutinitas yang dibangun tiap harinya, begitu kenal pada Jungwoo hingga rasanya sealami bernapas — aku mengungkapkan ketakutanku yang sebetulnya. Bahwa aku tidak yakin bisa menemukan orang lain seperti Shin Jungwoo, bahwa ada kemungkinan sebesar gunung es kalau butuh selamanya melepaskan segala yang sudah terjadi di antara kami berdua.
Untuk yang satu ini, jemariku dilepaskan sebegitu hati-hatinya. Wanita itu memutar tubuhnya, menyelipkan rambutku ke belakang telinga sembari tersenyum tipis, lalu mulai berujar.
Kata-kata yang diucapkan, dari jelas sampai bergaung dalam kepala. Ekspresi wajah yang ditampilkan, dari nyata sampai mengabur sebab tertutup air mata. Aku merasakan telunjuk Jungwoo menelusuri telapak tanganku sambil ia bicara, sementara aku berusaha sekuat tenaga mendengar ucapan yang keluar dari bibirnya.
“Aku sayang kamu dan aku juga tau kalau kamu pun sayang. Aku pun paham kalau nggak ada hal lain yang kamu paling benci di dunia ini selain segalanya yang terjadi di luar kendali kamu, tapi perasaan yang kita punya itu salah satunya. Aku tau kamu nggak merencanakan untuk berhenti cinta, aku juga nggak tau kalau hidup tanpa kamu bisa tiba-tiba masuk dalam agenda jangka panjang kita. Dan itu nggak apa-apa.
Nggak apa-apa karena kita saling jatuh cinta, nggak apa-apa karena kamu teman paling baik yang aku punya, nggak apa-apa karena kamu sudah bersedia mendengar segalanya yang terjadi di tempat kerja, nggak apa-apa karena nggak semua hal bisa dikontrol oleh kita berdua, nggak apa-apa karena toh kita sudah mencoba, nggak apa-apa karena aku milik kamu selamanya dan sebaliknya. Waktunya sudah selesai aja. Selain itu? Sisanya tetap sama.”
“But I don’t want to, I just want you.”
“You did. Now you don’t, not anymore.”
“I do! I swear. I still want you.”
Jungwoo menggeleng pelan, jemarinya menyusuri rambutku sementara wajahnya mendekat. Terus-menerus hingga aku dapat merasakan napasnya tepat di hadapanku, lalu ia menempelkan dahinya pada milikku dan memejamkan mata. Pada detik yang sama, mendadak sebuah perasaan aneh menyergap sekujur tubuhku, dan berani sumpah, aku bisa merasakan kalau ini merupakan akhir perjalanan kami yang sebetulnya. Hatiku melesak jatuh ke dalam tanah ketika Shin Jungwoo akhirnya berbisik, secara resmi menutup lembaran buku yang tadinya berisi kisah kami:
“It will pass, love.”
