Work Text:
“Aku boleh rebahan di pangkuan kamu gak?” Permintaan Sangyeon sore itu tak ayal membuat Chanhee menaikkan satu alisnya curiga, tapi tetap mengiyakan.
Kepala Sangyeon sekarang ada di pangkuan Chanhee. Tangan Chanhee bertumpu di punggung sofa, menopang kepalanya sendiri. Tangannya yang lain dimainkan Sangyeon.
“I'm all ears.” Chanhee bergumam. Sangyeon masih diam, memainkan jemari Chanhee.
Chanhee menunggu dengan sabar, memperhatikan suaminya yang sekarang mengecupi jemarinya satu persatu sebelum meletakkannya diatas dada Sangyeon.
“Kemarin pas jemput kamu, aku denger komentar beberapa orang.” Kalimat itu baru dimulai, tapi Chanhee sudah tau dimana ujungnya.
Dan seperti biasa, Chanhee hanya mengangguk, membiarkan Sangyeon melanjutkan ceritanya.
“Terus ya.....gitu deh. Pada bertanya-tanya kok mau ya model terkenal seindah kamu malah nikah sama cowok biasa-biasa aja gini.” Sangyeon melanjutkan, masih tidak berani melihat Chanhee.
Chanhee mendengus dalam hati. Siapa lagi sih yang membuat suami-super-pedenya-jaman-kuliah dulu menjadi tidak percaya diri begini?
Lagian, dari sisi mananya sih Sangyeon pria biasa-biasa saja? Bisa-bisanya Sangyeon kemakan dengan omongan orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya.
“Kamu inget gak sih waktu kita awal pacaran dulu, apa yang paling sering aku pegang kalo kita cuddle?” Tanya Chanhee tiba-tiba. Sangyeon berpikir keras.
”.....bibir aku?” Tanyanya tidak yakin. Chanhee tertawa.
“Ya iya itu juga sih. Tapi bukan.” Chanhee menggeleng. “Ini yang paling sering aku elus.” Kata Chanhee sambil mengelus alis tebal Sangyeon.
“Alis ini yang bikin aku gak bisa ngalihin pandangan aku dari kamu. Dari dulu.” Tangannya masih mengelus alis Sangyeon. “Menurut aku, ini yang bikin kamu seksi.”
Sangyeon mengalihkan pandangannya dari Chanhee, lalu tertawa kecil.
“Terus rahang kamu.” Tangan Chanhee beralih ke rahang Sangyeon. “Sama omongan haters, tajeman rahang kamu gak sih?” Chanhee bergurau, dan Sangyeon menahan senyumannya.
“Aku gamau bahas mata kamu soalnya kamu pasti godain aku terus kalo aku muji mata kamu.” Chanhee mengabaikan decakan kecewa dari Sangyeon.
“Tapi aku gak terlalu suka bibir kamu sih.” Ujar Chanhee. Sangyeon memberikan reaksi shock dan Chanhee yakin dia akan protes 2 hari 2 malam, jadi Chanhee buru-buru menambahkan, “soalnya bibirnya hari ini belum laporan sama aku.”
Sangyeon terdiam beberapa saat, tidak mengerti. Chanhee nyaris kehilangan kesabarannya.
“Aku mau laporan tapi bilang dulu, 'Sangyeon ganteng', gitu.” Sangyeon memaksa. Jika bukan karena suaminya ini sedang tidak percaya diri, Chanhee pasti akan menolak mentah-mentah.
“Lee Sangyeon ganteng, gak mungkin orang biasa-biasa aja karena Lee Sangyeon yang ini bisa nikahin Choi Chanhee yang dipuja banyak orang. Stop gak percaya diri deh, dulu pas kuliah tuh kamu punya kepercayaan diri setinggi langit, kenapa sekarang pas kamu jadi petinggi perusahaan sawit malah gak pede gini sih?” Chanhee nyerocos.
Satu kecupan mampir di bibir Chanhee yang masih mau menceramahi Sangyeon. “Aku dibilang kayak om-om tau. Sedangkan kamu vibes-nya masih kayak anak kuliahan, padahal kita cuma beda dua tahun.”
“Ya gapapa dong, bisa aku panggil Daddy.” Chanhee asal aja sih balas gitu, tapi Sangyeon tersentak.
"Don't—don't ever call me that.” Sangyeon memejamkan matanya, menggeleng-geleng tidak setuju.
“Kenapa sih? Daddy! Daddy! Daddy! Daddy!” Chanhee malah menggoda Sangyeon dengan mengucapkannya cepat.
“Baby, you'll regret this. Astaga.” Sangyeon menghela napas pelan. Chanhee tertawa.
“Try me, daddy.”
Sangyeon menahan senyumannya, menggeleng sekali lagi, lalu mengangkat Chanhee dalam gendongannya.
