Chapter Text
Ucup seharusnya sudah memperkirakan bahwa hari ini ia akan sial.
Seharusnya Ucup sudah merasakannya ketika pagi ini ia terbangun oleh suara gedebuk keras dari luar kamar alih-alih suara dering alarm, dan ia tertegun di atas tempat tidur saat menyadari hal-hal tak lazim yang terjadi di sekitarnya: jam beker yang terguling di lantai dengan bantal Ucup di atasnya—Ucup tidak ingat kapan jamnya berbunyi dan mengapa ia melemparnya dengan bantal—juga tempat tidur Gofar yang kosong di seberang tempat tidurnya.
Aneh sekali, pikir Ucup, karena Gofar biasanya tidak akan bangun sebelum Ucup mengancam akan mengguyurnya dengan sebaskom air. Tapi satu hal yang lebih aneh dari Gofar bangun pagi adalah: suara ramai dari luar kamar berasal dari Gofar juga—cowok bertubuh besar itu sedang sibuk memindahkan setumpuk barang yang diletakkannya di lantai ke dalam kardus berukuran sedang.
Ucup merasa ada sesuatu yang salah pada kawannya. Pertama, Gofar benci bangun pagi. Kedua, Gofar membutuhkan waktu sedikitnya empat puluh menit setelah ia membuka mata di pagi hari untuk mampu menjalin komunikasi dua arah yang memadai, terlebih untuk melakukan aktivitas fisik seperti sekarang ini.
“Far, lo lagi ngapain?” Ucup menghampiri Gofar dengan kening berkerut dan ikut berjongkok di samping sahabatnya, mengamati barang-barang yang setelah Ucup perhatikan dengan seksama adalah barang milik Gofar sendiri. “Ini semua kenapa dimasukin kerdus? Mau lo jual?”
“Gue digusur sama Fella,” jawab Gofar tak acuh. Ia tidak serius mengatakannya, tapi pemuda itu memilih waktu yang salah untuk bergurau karena cowok gondrong di sampingnya menatapnya dengan kerutan dalam di kening yang menyatukan kedua alisnya. “Kagak lah, pake percaya lagi lo kayak orang bego. Ini sebagian barang gue mau dipake Tuktuk di kosan dia jadi gue paketin ke sana, ntar sisanya gue kirim pas akhir bulan sekalian gue cabut dari sini.”
Ucup merasa ada lebih banyak informasi yang hilang dari kalimat Gofar ketimbang yang dapat menjawab pertanyaannya. “Bentar, gimana? Lo cabut dari sini? Lo nggak tinggal di sini lagi gitu maksud lo? Terus gue gimana?”
“Ya gak gimana-gimana, Cup. Lagian ngapain lo gue bawa ke kosan adik gue?” Gofar tergelak dan tawanya baru berhenti saat dilihatnya Ucup benar-benar tidak memahami konteks kalimatnya. Gofar mendengus, mengganti nada bicaranya menjadi lebih serius. “Lo pasti lupa kapan hari gue bilang, gue bakal pindah ke kosan Tuktuk sebelum dia mulai kuliah. Kuliahnya sekitar pertengahan bulan depan, tapi gue mulai pindahan dari sekarang soalnya barang gue lumayan banyak. Biar gue gak repot juga ngisi kosan dia, ntar tinggal nambahin dikit-dikit.”
Gofar benar, Ucup lupa. Ia bahkan tidak mengenali kalimat itu seolah Gofar mengatakannya dalam bahasa planet lain, yang dapat diartikan dengan Ucup sama sekali tidak siap untuk ditinggal kawan sekamarnya dalam waktu dekat.
Bukan, Ucup bukannya tidak bisa hidup tanpa Gofar. Lebih tepatnya, Ucup tidak bisa hidup tanpa orang lain yang akan membayar sewa kamar ini bersamanya—harga sewa tempat ini mahal dan karena lokasinya yang strategis, tempat ini menjadi incaran banyak orang baik mahasiswa maupun pekerja. Bila Ucup tak melunasi sewa tepat waktu, bukan tidak mungkin ia akan didepak dan digantikan oleh orang lain yang sanggup membayar nominal sewanya.
Ucup berpegang teguh pada prinsip untuk tidak meninggalkan kamar yang telah ditempatinya selama dua tahun belakangan ini apapun yang terjadi.
Gofar berjengit terkejut saat Ucup tiba-tiba melompat ke arahnya, bergelayut erat di lengannya seperti koala kesurupan. “Ucup! Bangsat, ngapain sih lo, anjing?! Jauh-jauh lo dari gue!”
“Gofaaaar,” Ucup merengek. “Kok lo tega banget ninggalin gue di sini? Di tempat segede ini? Sendirian? Lo lebih milih Tuktuk daripada gue?”
“Ya iya, lah! Pake nanya!” Gofar mendorong Ucup menjauh dengan wajah ditekuk kesal. “Lagian gue kan udah bilang dari kemaren, siapa suruh gue ngomong gak lo dengerin!”
“Ya kan lo ngomongnya banyak, Far. Bukan salah gue kalau gue kudu pilah-pilah dulu mana yang harus gue dengerin dan mana yang enggak.”
“Emang anak anjing,” Gofar mendengus. “Dah, sana minggir! Gue mau lanjut beberes, ntar jam sembilan kurirnya dateng!”
Ucup beringsut menjauh dan memeluk lututnya di sudut ruangan, menatap kesibukan Gofar yang berlanjut tanpa cowok itu menghiraukannya. Keputusan Gofar nampaknya sudah matang, dan Ucup tidak mungkin membujuknya tetap tinggal hanya demi uang sewa karena Gofar tidak mungkin membiarkan adiknya sendirian. Ucup tahu Gofar sangat menyayangi Tuktuk dan sebesar apapun Tuktuk nantinya, ia akan selalu menjadi adik kecil Gofar yang harus dijaga dan dilindungi.
Yang artinya, Ucup masih punya satu masalah. Masalah besar.
“Far, lo udah bilang sama Fella kalau lo gak bakal perpanjang tinggal di sini?” tanya Ucup, menyebut nama putri tunggal pemilik kos yang dengan seiring waktu membaur menjadi teman karena mereka bertiga seusia. Fella lebih banyak berinteraksi dengan para penyewa kamar termasuk soal urusan uang sewa, membuat Ucup dan Gofar merasa Fella lebih terlihat seperti ibu kos ketimbang ibunya sendiri yang sibuk bekerja di tempat lain.
Gofar mengangguk tanpa menoleh dari kardus dan lakban di tangannya. “Udah, gue udah bilang Fella.”
“Terus kata Fella apa?”
Kali ini, Gofar menoleh. Mungkin dirasanya pertanyaan Ucup terlalu bodoh untuk dijawab, tapi Ucup memang terlihat belum berfungsi seratus persen sejak mencerna informasi bahwa Gofar tak akan tinggal bersamanya lagi.
“Kata dia, ‘oh, ya udah. Sukses buat adik lo’. Emang lo ngarepin dia bakal jawab apa, sih? Mohon-mohon biar gue gak pergi supaya lo ada yang nemenin?”
Ucup merengut dan memeluk lututnya semakin erat. “Tapi kalau gue sendirian di sini, gak kuat gue bayar sewanya, Far.”
Gofar terkekeh. “Ya, lo minta Fella sewain kamar ini ke orang lain, lah. Susah amat.”
“Lo kira nyewain kamar kayak audisi nyanyi? Tinggal sebar selebaran trus orang pada dateng sendiri?” Ucup mengernyitkan hidungnya. “Dulu gue ajak lo nyewa di sini karena lo temen gue dan gue udah kenal sama lo dari lama, makanya gue gak masalah kita tinggal sekamar. Beda urusan kalau sama orang asing yang gue gak kenal. Mana gue tau dia maling apa bukan? Buron apa bukan?”
Gofar meletakkan lakban di lantai dan duduk dengan kaki berselonjor, ikut berpikir. “Bener juga,” katanya setelah merenung beberapa saat. “Atau gak, lo pindah aja ke lantai bawah. Kan ada tuh kamar yang buat satu orang, gak ribet juga lo mindahin barang orang cuma pisah lantai doang. Sewanya juga lebih murah, masalah selesai.”
Ucup mengerang dan menggeleng kuat-kuat. “Gak! Gue gak mau pindah dari kamar ini! Ini kamar udah jadi setengah nyawa gue, Far!”
“Nah, yang begini ini yang pola pikirnya kena,” Gofar mendecakkan lidah lalu memungut lakbannya di lantai dan kembali bekerja membungkus rapat kardusnya. “Gue udah coba kasih solusi, Cup. Kalau menurut lo itu gak bisa menyelesaikan masalah, mungkin masalahnya ada di elo. Alias, beresin sendiri.”
“Dih, elo mah baiknya sama Tuktuk doang emang,” Ucup berdecih. Gofar hanya mengangkat bahu, sibuk dengan barang-barang dan kardusnya dan tak lagi mengajak Ucup bicara. Lelah menonton Gofar, Ucup akhirnya bangkit dan melangkah gontai ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Hanya ada satu orang yang dapat diandalkannya sekarang.
___
Fella tampak tak terkejut saat Ucup mengajaknya bertemu di kantin kampus setelah kelas pagi mereka selesai—mereka tidak kuliah di jurusan yang sama, tapi beberapa kelas mereka selesai di jam yang berdekatan.
“Soal Gofar, ya?” tebak Fella tepat sasaran. Gadis berambut panjang sebahu yang hari ini dibiarkan tergerai dengan jepit rambut sebagai pemanis itu tertawa saat Ucup memasang ekspresi aneh mendengar pertanyaannya.
“Lo ngomongnya kayak gue sama Gofar pacaran dan gue mau konsul sama lo masalah percintaan,” Ucup meringis. “Tapi ya, ini soal Gofar. Soal gue, sebenernya, soalnya yang punya masalah disini gue bukan Gofar.”
“Sama aja, lah,” Fella mengibaskan tangannya. “Gofar udah bilang sama gue dari awal dia daftarin Tuktuk kuliah, karena gak mungkin Tuktuk ikut tinggal sama lo dan Gofar di kamar lo sekarang.”
Ucup membayangkan betapa sesaknya bila tiga pemuda tinggal dalam satu kamar dengan hanya dua tempat tidur; sebuah situasi yang lebih tidak ideal daripada tidak punya teman sekamar, bila Ucup harus jujur. Sepertinya pilihan Gofar untuk keluar dari kamar ini memang opsi yang akan menyenangkan semua orang— semua selain Ucup.
“Terus itungan sewa gue gimana?”
“Lo bayar penuh satu kamar sebelum ada yang sewa lagi, dulu kan kamarnya disewa atas nama lo.”
Ucup terduduk lemas di kursinya. “Emang gak ada cara lain, Fel? Lo gak ada belas kasihan dikit aja gitu sama gue?”
Fella menatap Ucup iba. Ucup merasa Fella sudah ada di pihaknya dan percaya diri Fella bisa membantunya, tapi kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya tanpa berganti ekspresi.
Sudut mata Ucup berkedut jengkel. “Yang bener aja lo, nyet.”
“Sori, Cup. Lo emang temen gue, tapi bisnis tetap bisnis,” Fella menepuk punggung tangan Ucup dengan simpatik. “Gue akan coba ngulur waktu pembayarannya ke nyokap, tapi ketentuannya nggak bisa berubah. Jadi satu-satunya cara cuma elo harus cari duit yang banyak sampai waktunya lo bayar.”
“Enteng bener lo ngomong,” gerutu Ucup yang direspon Fella dengan kekehan pelan. “Tapi ngomong-ngomong, itu kamarnya bakal disewain ke orang lain atau jadi kamar gue sendiri?”
“Belum gue bahas sih sama nyokap, tapi bisa aja kita sewain ke orang lain kalau emang ada yang lagi cari kamar buat berdua. Lo sendiri gimana? Keberatan nggak sekamar sama orang selain Gofar?”
Ucup sebenarnya keberatan. Satu-satunya alasan mengapa ia memilih kamar yang bisa diisi oleh dua orang ketika menyewa kamar di rumah milik keluarga Fella adalah karena ia akan menempatinya bersama Gofar, dan Ucup tidak pernah membayangkan tinggal dalam ruang yang sama dengan seseorang yang bukan sahabatnya, terlebih seseorang yang benar-benar asing baginya.
Tapi di sisi lain, Ucup membutuhkan seseorang yang dapat memikul beban sewa ini bersamanya—bahkan bila orang itu bukan Gofar. Meski Ucup merasa tak perlu memberitahu Fella tentang hal itu sekarang.
“Gue cari duit dulu, dah. Jangan disewain dulu kamarnya, Fel.”
Fella mengangguk seraya mengacungkan jempol, “Semangat cari duitnya, Cup.”
___
Nyatanya, mencari uang tambahan untuk menutup biaya sewa dengan dibayang-bayangi kepergian Gofar bukan sesuatu yang mudah dilakukan oleh mahasiswa semester enam merangkap pekerja serabutan. Yang lebih sering terjadi justru suasana hati Ucup memburuk setiap kali teringat nominal rupiah yang harus ia kumpulkan, dan hal itu diperparah dengan Gofar yang mempercepat proses migrasinya ke kos Tuktuk sebelum akhir bulan.
“Lo niat banget ya mau ninggalin gue?” Ucup harus merajuk, karena Gofar harus tahu keputusannya sangat amat mengganggu Ucup. Ucup mengira ia masih bisa menggunakan Gofar sebagai tameng terlambat membayar sewa sampai awal bulan depan dengan alasan masih sibuk membantu Gofar pindahan, tapi bila Gofar sudah hengkang sebelum waktu perjanjian maka semua rencananya akan sia-sia.
Gofar menggaruk tengkuknya, “Sori ya, Cup. Ini adik gue lagi ospek, kegiatannya padet banget dari pagi sampai malem tiap hari. Daripada gue bolak-balik ngirim barang pas dia nggak ada di rumah, mending sekalian aja gue isi kamarnya.”
Alasan itu masuk akal dan bisa menghemat biaya sewa mobil untuk mengirim barang. Seperti biasanya, Gofar selalu penuh perhitungan. Tapi sayangnya perhitungan yang matang itu tidak melibatkan Ucup dan nasibnya di awal bulan depan yang tinggal menghitung hari.
“Lo masih bingung soal biaya sewa?” Gofar mengangkat sebelah alisnya. “Emang Fella gak bisa bantuin lo? Pasti bisa, lah, apa coba yang Fella gak bisa? Kalo sampe dia gak bantuin lo, ajak berantem aja. Gue deh yang ngajak berantem.”
“Save your energy, big guy. Gak semua orang tangannya enteng buat dipake mukul kayak lo,” ujar suara ketiga di belakang mereka. Ucup dan Gofar serentak menoleh, menemukan Fella berdiri bersandar di kusen pintu kamar mereka yang terbuka dengan pakaian serba hitam yang memberi kesan mengintimidasi. Rambutnya yang diikat ekor kuda tinggi di belakang kepalanya berayun seirama langkahnya saat ia berjalan menghampiri Gofar dan Ucup. “Jangan mentang-mentang lo udah bukan tenant di rumah gue lagi, jadi belagu lo.”
“Ampun, mantan ibu kos,” Gofar menangkupkan tangan di depan wajahnya dengan nada serius. Ia lantas menurunkan tangannya dan menyodorkan tangannya pada Fella untuk bersalaman. “Makasih banyak buat semuanya ya, Fel. Gue aslinya betah banget di sini, tapi Tuktuk lebih butuh gue.”
Fella menyambut uluran tangan Gofar dengan hangat. “Sama-sama, Far. Tuktuk beruntung banget punya abang kayak lo, yang kurang beruntung ya temen kita yang satu ini,” Fella melirik Ucup dengan sudut matanya. Yang dilirik hanya memutar bola mata, enggan berpartisipasi dalam konversasi yang tidak memberinya benefit.
“Lo beneran gak bisa bantuin Ucup, Fel?” Tanya Gofar. “Nyokap lo gak bisa dirayu? Padahal si Ucup lucu begini. Coba bilangin kalo biaya sewanya dikorting, nanti sama Ucup dibuatin masakan yang enak, sambil lo kasih foto dia ke nyokap lo.”
“Gue gak bisa masak ya, tolol. Gak usah nambah-nambahin masalah orang,” Ucup mendorong kepala Gofar dengan gusar. “Dan gue gak mau dijual ke nyokapnya Fella pakai cara kayak gitu! Harga diri gue di mana, jing?”
Fella mendengarkan percakapan kedua pemuda di depannya dengan tangan terlipat di depan dada dan baru mulai bicara setelah keduanya selesai berdebat. “Nyokap gue gak bisa kasih keringanan biaya sewa atau mundurin waktu tenggat pembayaran karena itu udah jadi aturan bisnis di tempat kita, dan satu kelonggaran bisa bikin efek domino yang berimbas pada aturan-aturan lain. Nyokap gue paling gak suka harus beresin kekacauan orang lain, dalam hal ini adalah masalah finansial Ucup.”
Mendengarnya, lutut Ucup lemas. Bila ia tidak membayar sewa tepat di tanggal yang telah ditetapkan, bisa-bisa ibu Fella mengeluarkan semua barangnya dari kamar dan mengusirnya ke jalanan.
“Tapi,” Fella melanjutkan, “gue punya satu opsi yang bisa dipakai untuk nyelametin Ucup.”
Ucup tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.
“Apa maksud lo kamarnya mau disewain ke anak temen nyokap lo yang lagi nyari tempat tinggal sementara?!”
“Persis seperti yang lo dengar barusan,” Fella menjawab tenang. “Mas Piko baru balik dari luar negeri, dia mau menetap di sini tapi kata nyokap gue dia belum bisa balik ke rumahnya karena satu dan lain hal. Nyokapnya sama nyokap gue udah temenan dari gue orok, jadi dia setuju-setuju aja tinggal di salah satu rumah nyokap gue.”
“Apanya yang setuju-setuju aja? Emang lo udah tanya orangnya?”
“Udah, lah! Dia bahkan gak masalah tinggal sekamar sama lo, asal lo gak keberatan tempat lo jadi agak-agak bau cat soalnya dia butuh tempat buat ngelukis.”
Ucup mengerutkan kening, “Emang kalo dia pindah ke kamar gue, dia mau ngelukis di mana?”
“Di balkon. Gue udah nunjukin foto kamar lo beserta semua sudut-sudutnya, dan dia bilang dia suka lokasinya.”
“Balkon?!” Ucup mengulang setengah berteriak. “Fella, itu tempat gue jemur cucian!”
“Itulah kenapa udah saatnya lo pakai fasilitas laundry karena kebiasaan lo gantungin kolor di balkon itu bikin mata orang lain pedes,” ujar Fella yang dengan efektif menutup mulut Ucup. “Gak gampang cari tenant yang mau berbagi kamar sama orang lain dalam waktu singkat, Cup. Lo harusnya bersyukur timing Gofar pindahan barengan sama Mas Piko balik dari Itali dan kebetulan banget dia lagi cari kamar.”
Fella benar, dan harus Ucup akui solusi dari Fella datang seperti keajaiban yang turun dari langit. Hanya saja, ada sesuatu yang masih mengganjal di benak Ucup tentang orang asing yang tiba-tiba akan menjadi teman serumahnya itu.
“Anak temen nyokap lo itu lebih tua dari kita?” Ucup mulai melakukan penyelidikan terbatas.
Fella mengangguk. “Lumayan sih jarak umurnya sama kita. Gue terakhir ketemu dia kayaknya pas gue kelas enam SD, dia baru masuk kuliah.”
Kedua bola mata Ucup membelalak lebar-lebar hingga rasanya mereka akan melompat keluar dari soketnya. “Astaga Fel, lo udah gila? Itu namanya bukan cuma lebih tua, itu udah beda generasi! Gue bahkan nggak yakin lo inget ketemu orang yang sama kalau terakhir kali lo ketemu dia lo masih jadi bocah pakai seragam putih merah sementara dia udah jadi mahasiswa!”
“Nggak separah itu juga, ah,” Fella mengerutkan keningnya pada reaksi Ucup yang berlebihan. “He’s just a bit older than us, that’s all . Lo aja yang norak gak pernah ketemu cowok yang lebih tua dari lo.”
“Tapi lo yakin itu ide bagus?” Ucup bertanya, masih sangsi. “Kalau gue diapa-apain sama dia gimana?”
“Pede banget lo bakal diapa-apain sama dia?” Fella menukas sewot. “Mas Piko orang baik-baik, kok! Ada juga gue yang khawatir lo bakal ngapa-ngapain dia!”
“Lo cuma bilang gitu karena dia anak temen nyokap lo,” dengus Ucup yang dibalas Fella dengan juluran lidah. “Dia sepuluh tahun lebih tua dari gue, Fel–”
“Tujuh. Dia dua puluh delapan tahun ini.”
“–it’s closer to ten than zero, thank you very much. Gue gak pernah berinteraksi dalam jarak dekat dengan orang yang usianya sejauh itu sama gue, gimana kalau dia ternyata om-om freak?”
Fella menatap Ucup dengan tatapan memicing kesal. “Lo butuh duit buat bayar sewa kamar sebelum diusir sama nyokap gue,” katanya tegas. “Dan kalau lo gak mau berbagi kamar sama Mas Piko, berarti elo yang keluar.”
Ucup bergidik pada kemungkinan menjadi gelandangan dalam sekejap mata. Ia menghela napas, kali ini dihadapkan pada satu pilihan atau jalan buntu.
“Oh, ya. Mas Piko juga bakal bayar penuh uang sewanya selama tiga bulan pertama karena dia berterima kasih lo mau nampung dia, juga sebagai formalitas karena lo tinggal duluan di sana. Gue udah bilang gak usah, tapi dia maksa. Jadi awas aja kalau elo nggak bersikap baik sama dia, Cup. Abis lo di tangan gue.”
Dengan setengah terpaksa, Ucup akhirnya mengangguk.
___
Piko Subiakto, hampir dua puluh delapan tahun, seorang pelukis kenamaan yang namanya telah cukup lama malang melintang di dunia seni lukis internasional. Pelukis muda yang sering diundang oleh museum-museum di Eropa untuk menjadi pemandu yang menjelaskan singkat tentang koleksi lukisan mereka pada masyarakat awam karena Piko dan kata-kata serta senyumnya yang hangat sama memikat dengan Piko saat mengayunkan kuasnya sendiri.
Dan Yusuf Hamdan alias Ucup, mahasiswa jurusan teknik informatika semester tanggung, tidak percaya laki-laki itu akan tinggal bersamanya di kamar yang disewanya di rumah keluarga Fella. Ucup baru menutup laman internet yang memuat info tentang Piko dan beberapa fotonya saat menghadiri pagelaran lukis di dalam dan luar negeri belum sampai sepuluh menit yang lalu, jadi ketika Ucup melihat Piko—yang asli, bukan foto—ia merasa aneh. Rasanya seperti bertemu dengan seorang selebriti yang tidak dikenalnya, tapi Ucup yakin banyak orang yang akan rela membayar untuk berada di posisinya.
Bila Ucup sedang tidak benar-benar membutuhkan seseorang yang bisa membayar sewa kamar dengannya agar tidak diusir ke jalanan, mungkin Ucup mau saja bertukar tempat dengan mereka karena sejujurnya, Ucup masih tak yakin ia ingin berbagi kamar dengan Piko. Satu-satunya yang membuat Ucup percaya orang bernama Piko ini tak memiliki maksud jahat hanyalah Fella yang terus mengomel karena Ucup tak bisa berhenti menaruh curiga, dan bila Piko bukan orang baik Fella tidak akan menempatkannya di ruangan yang sama dengan Ucup.
Piko masih sibuk berusaha memasukkan koper besarnya melewati pintu depan, tertawa kikuk saat menyadari kehadiran Ucup di belakangnya.
“Sebentar,” katanya terengah. “Tinggal ini, kok. Abis itu saya tutup pintunya.”
“Eh, nggak apa-apa, santai aja.” Ucup awalnya ragu, tapi memutuskan untuk tidak menciptakan kesan antagonis pada pertemuan pertamanya dengan seseorang yang telah menyelamatkannya dari status gelandangan. “Mau gue bantu?”
“Nggak usah, ini udah- bisa-” Piko nyaris terpelanting ke belakang di saat bersamaan ia berhasil menarik kopernya masuk melewati daun pintu, dan ia akan jatuh dengan posisi amat menyakitkan bila Ucup tak secara reflek memegangi kedua sisi lengannya untuk menjaga keseimbangan Piko.
Mereka bertatapan selama sekian detik. Ucup melepaskan pegangannya dengan canggung sebelum Piko berpikir macam-macam, tetapi dari gelagatnya kelihatannya Piko tak mencurigai apapun. Pemuda yang lebih tua dengan rambut dicepol rendah di tengkuk itu membenahi letak kacamata di hidungnya dan tersenyum lebar pada Ucup.
“Thanks, I was kinda nervous, to be honest. Ini pertama kalinya saya akan tinggal dengan orang lain di tempat yang bukan milik saya,” ia mengulurkan tangan, senyum masih tak lepas dari bibirnya. “Saya Piko. Piko Subiakto.”
“Yusuf Hamdan, tapi cukup panggil Ucup aja,” Ucup menerima uluran tangan Piko dan merasakan kasar di ujung-ujung jarinya ketika kulit mereka bersentuhan, khas pekerja keras. “Semoga betah di sini, um…” Ucup mengerutkan kening, berpikir keras. Bagaimana ia harus memanggil Piko? Kak, Bang, bro, Bung, atau Pak?
Ia ingat Fella memanggil Piko dengan sebutan Mas, tetapi panggilan itu jelas tidak untuk Ucup tiru—setidaknya tidak saat ini. Memanggil seseorang dengan sebutan seintim itu pada hari pertama mereka berbagi tempat tinggal hanya akan membuat Ucup tak bisa menatap matanya lagi di kemudian hari.
Lalu, yang keluar dari mulut Ucup adalah: “Semoga betah di sini, Oom.”
Piko mengerjap. Ia tak langsung merespon dan Ucup khawatir ia telah melukai harga diri lelaki itu dengan memanggilnya Oom , tapi nampaknya Piko hanya terkejut karena kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
“Kayaknya kalau penampilan saya seperti ini, emang pantesnya dipanggil oom, ya,” Piko menunjuk dirinya sendiri. Ucup ingin mendebat, sebenarnya, karena Piko yang memakai sweater rajut longgar berwarna olive di atas kaos hitam polos dan sepasang celana chino warna moka lebih terlihat seperti mahasiswa seni rupa semester tua. Ucup ingin meminta maaf karena sudah asal bicara, tapi karena ia belum tahu bagaimana harus memanggil Piko, ia memutuskan untuk tidak mengoreksinya.
Piko sepertinya bisa membaca isi kepala Ucup karena kemudian ia melanjutkan, “Kamu bisa panggil saya pakai nama saja, Ucup. Atau kakak, kalau kamu sungkan. Saya nggak keberatan kamu panggil oom, tapi mungkin akan jadi aneh kalau didengar sama orang lain. Nggak ada yang bakal percaya saya punya keponakan sebesar kamu.”
Kini giliran Ucup yang mengerjap beberapa kali—benar juga, Ucup tak memikirkan sampai ke sana.
“Oke, um, Kak Piko. Gue gak mau kualat karena manggil orang tua pakai namanya.”
“Harusnya nggak dong, kan saya sudah kasih izin,” Piko terkekeh. “Tapi panggil kakak juga gak masalah, saya selalu ingin punya adik laki-laki. Anyway , makasih banyak udah mau nampung saya di sini, Cup.”
“Gue yang harusnya makasih…” kalimat Ucup menggantung di udara, ia tak terlalu ingin menceritakan dengan gamblang soal masalah finansialnya pada seseorang yang baru dikenalnya lima menit. “Tempat ini terlalu gede buat gue pake sendiri, dan gue males pindah kamar soalnya barang gue banyak.”
Senyum di wajah Piko merekah semakin cerah. Ucup memutuskan bahwa mungkin tinggal dengan Piko tak akan seburuk perkiraannya.
(Mulai hari itu, Ucup dan Piko resmi menjadi dua orang yang terlibat hubungan simbiosis mutualisme.)
___
“Jadi, gimana kehidupan baru lo setelah sama Mas Piko?”
Mereka berempat—Ucup, Fella, Gofar dan Tuktuk—berkumpul di kantin kampus untuk makan siang setelah Ucup dan Fella berhasil membantu Gofar menyelundupkan adiknya keluar dari kelompok mahasiswa baru teknik mesin karena Gofar khawatir Tuktuk akan pingsan melewati rangkaian ospek jurusan yang melelahkan.
Ucup tahu pertanyaan itu akan dilontarkan padanya karena Fella terus mendesaknya memberi berita terkini tentangnya dan Piko, meski Ucup sudah berulang kali mengatakan tidak ada yang benar-benar terjadi setelah Piko mulai tinggal bersamanya hampir dua minggu yang lalu.
Ketika Ucup mengangkat kepala dari layar ponselnya, tiga pasang mata tengah menatapnya dengan ekspresi berbeda-beda: Fella dengan kedua bola mata berbinar penasaran, Gofar dengan alis terangkat tinggi-tinggi hingga nyaris menyentuh garis rambutnya, dan Tuktuk yang menatapnya tanpa berkedip.
Fella kampret, batin Ucup dongkol. Pertanyaannya membuat kesan seolah ada sesuatu yang terjadi antara dirinya dan Piko, dan Fella adalah satu-satunya yang mengetahui fakta dibaliknya sehingga Ucup tak bisa menyalahkan reaksi Gofar dan Tuktuk. “Baik-baik aja, kebetulan. Gue sehat, Kak Piko sehat, kita makan tiga kali sehari dan tidur sambil merem. Makasih udah tanya.” Ucup menjawab dengan seulas senyum manis yang dibuat-buat.
“Oh, panggilnya kakak,” Fella terkikik geli. “Kenapa gak panggil Mas aja, sih? Takut baper, ya? Soalnya manis banget kayak lagi manggil pacar sendiri?”
“Lo. Bisa. Diem. Gak.” Ucup bicara di sela giginya yang terkatup rapat, lalu mengalihkan tatapan pada Tuktuk dan Gofar yang masih melongo menatapnya. “Tolong jangan dengerin Fella, temen-temen. Gue sama cowok yang namanya Piko ini gak ada apa-apa, semua yang kalian denger barusan adalah akal-akalan cewek satu ini. Kita cuma kebetulan tinggal bareng karena suatu keadaan.”
“Tinggal bareng…” Tuktuk nampak berpikir keras. “Maksudnya kumpul kebo?”
Tiga pasang mata membelalak mendengar celetukan polos itu. Gofar menutup mulut adiknya dengan kedua tangan, mencoba melakukan damage control atas kata-kata yang terlanjur keluar. Fella terbahak dengan seluruh tubuhnya hingga suara tawanya habis, dan Tuktuk membuat suara protes yang teredam oleh tangan Gofar.
“Sekate-kate lu ngomong, Tuk. Lo kalo bilang gitu sama aja ngatain gue sama Ucup juga begitu dulunya,” omel Gofar. “Lo juga, Cup. Bisa-bisanya lo gak cerita sama gue kalau itu kamar udah ada yang ngisi? Trus sekarang lo tinggal sama mas-mas?”
Ucup menghela napas, merasa seperti sedang duduk di kursi panas pengadilan dimana ia harus membuka detail sebuah perkara. Ucup bukannya tak ingin membagi cerita dengan teman-temannya, tapi ia memang tak memiliki cerita untuk dibagi karena ia dan Piko nyaris tak pernah bertemu selama dua minggu belakangan. Jadwal aktif mereka selalu bersimpangan; Ucup ada di rumah saat Piko di luar dan sebaliknya. Bila keduanya berada di rumah pun, Piko selalu terlihat melukis di balkon dan Ucup merasa tak punya alasan untuk sekedar menyapanya.
“Dia bahkan tidur di sofa ruang tamu, bukan di kamar. Kalau gue gak liat peralatan lukis dan barang-barangnya dia, gue mungkin lupa gue punya temen sekamar.”
“Wah, baru dua minggu udah pisah ranjang aja lu, Bang,” Tuktuk berdecak. Ucup menahan diri sekuat tenaga untuk tidak berdiri dan menjitak kepala cowok kecil itu. “Mungkin elo nggak menyambut dia dengan hangat kali, Bang. Jadinya sungkan dia mau tidur di kamar. Dia kayaknya takut mau ganggu lo, soalnya lo galak kayak macan.”
“Gue setuju,” tambah Fella. “Lo udah antipati sama Mas Piko sejak pertama gue bilang lo bakal sekamar sama dia, padahal berkat dia lo gak jadi diusir sama nyokap gue karena gak bisa bayar sewa. Mungkin lo gak ngerasa ngelakuin apa-apa, tapi Mas Piko bisa lihat dari tingkah lo. Dan karena Mas Piko orang baik, dia gak mau nyusahin elo makanya dia bela-belain tidur di luar.”
“Lo jangan gitu dong, Cup. Gue sebagai mantan teman sekamar lo jadi malu, nih.”
Ucup menatap ketiga temannya bergantian, “Kenapa kalian jadi nyalahin gue?”
Fella memutar bola matanya. “Soalnya Mas Piko orangnya supel dan easy going banget. Menurut lo kenapa dari dulu gue bisa temenan sama Mas Piko tanpa canggung dengan jarak umur sejauh itu kalau bukan karena dia pinter bawa diri? Kalau lo gak bisa temenan sama Mas Piko, berarti masalahnya di elo, bukan dia!”
Ucup kehabisan bahan argumen, jadi ia hanya terdiam dan meresapi kata-kata Fella dan Tuktuk. Memang benar Ucup merasa berbagi tempat tinggal dengan Piko tidak seburuk yang awalnya ia duga, tapi itu tidak lantas membuatnya dan Piko menjadi dekat dan kemudian menjadi sahabat. Mereka tak sering berjumpa yang membuat Ucup merasa canggung untuk mulai bertegur sapa—sesuatu yang tak lazim ditemukan pada dua orang yang tinggal dalam satu kamar, dan amat kontras bila dibandingkan dengan suasana rumah saat Ucup masih tinggal bersama Gofar.
Piko adalah teman sekamar yang diidamkan semua orang: ia bertanggung jawab atas kebersihan area yang mereka tempati bersama dan selalu berusaha untuk tidak meninggalkan peralatan lukisnya asal tergeletak di mana saja. Ia tidak pernah meninggalkan sampahnya di sembarang tempat, juga membersihkan kamar mandi setiap tiga hari sekali tanpa Ucup minta karena mereka belum membuat kesepakatan tentang jadwal piket. Bila ditarik mundur, mungkin Ucup-lah yang sebenarnya bukan teman sekamar yang baik—ia tinggal lebih lama di sana tapi tak berusaha membuat Piko merasa nyaman dan diterima, berpikir itu bukan kewajibannya karena mereka adalah dua orang asing.
Tapi bukankah selalu ada kali pertama untuk segala hal, termasuk saling mengenal?
Piko adalah penolongnya—Ucup bahkan belum berterima kasih secara jujur atas apa yang telah Piko lakukan untuknya. Membuka percakapan dengan teman sekamar barunya mungkin menjadi satu-satunya hal yang bisa Ucup lakukan saat ini, baru nanti ia akan pikirkan cara membayar hutang budinya pada Piko.
Ucup tidak seratus persen yakin, tapi Ucup tahu dari mana harus memulai.
