Chapter Text
#1: A Lover
“Kento mau ngga jadi pacarku?”
Aku memikirkan sejenak situasi macam apa yang tengah aku hadapi ini. Sebenarnya kalimat itu sudah pernah beberapa kali kudengar, hanya saja bukan dengan situasi yang semacam ini. Bukan di situasi dimana aku hanya punya sedikit waktu sebelum latihan klub sepak bola dimulai dan aku terancam akan dihukum jika terlambat, bukan di situasi dimana aku menerimanya dari teman sekelasku, si Michieda yang marganya langka ini.
Bukan hanya karena fakta kami sama-sama laki-laki, tapi momen aku berbicara dengan Michieda dapat kuhitung dengan jari di satu tanganku saja. Kami sama sekali tidak dekat terlepas fakta bahwa kami berada di kelas yang sama, kami sama sekali tidak berbicara walaupun terkadang berada di kelompok belajar yang sama, dunia Michieda yang hanya terfokus pada dirinya sangat berbeda dariku yang berpendar di antara orang banyak.
“Boleh saja,” ucapku enteng. Michieda mungkin tampak terkejut dengan jawabanku, begitu juga dengan diriku sendiri. Apa karena aku sudah terburu-buru untuk undur diri, ya?
“E-eh? Beneran?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan, kubalas dengan anggukan yang sesekali menengok jauh ke arah lapangan apakah Nishimura sensei sudah hadir di lapangan. “Tapi aku ini laki-laki loh, Kento?”
Aku mengangguk, “Ya, aku bisa melihatnya. Kau tidak punya dada di sana,” ucapku asal. Ah, klub sepertinya sudah mulai ramai.
“A-anu, aku juga tidak begitu populer,” tambahnya lagi sembari menunduk. Dibandingkan denganku yang sudah kepepet, ia tampak lebih panik dan gugup. Apa dia sungguh ingin pacaran denganku ya.
“Baguslah, tidak ada yang menyaingi kepopuleranku,” imbuhku atas pernyataan yang ia berikan. Ah, sial. Aku dapat melihat kaos hijau mentereng milik Nishimura sensei dari kejauhan.
“Terlebih kita tidak dekat, lalu kalau ketahuan teman sekelas—“
Ah, persetan. Aku akan lari sekarang juga. “Michieda, nanti kita bicarakan lagi, ya!” pekikku sambil mengambil ancang-ancang untuk berlari setelah menepuk lengannya pelan dua kali dan berpisah dengan senyum simpul.
Aku dapat melihat Michieda tersenyum gugup membalas senyumanku itu seperginya aku dari sana. Motivasi apa yang mendorongku untuk menerima ajakan berpacaran dari Michieda sore itu juga aku belum tahu, dan motivasi apa yang mendorong Michieda untuk mengajakku berpacaran aku juga tak tahu. Eh, tapi dia memanggilku Kento ya tadi? Apakah kita cukup dekat untuk memanggil nama satu sama lain?
-
“Nagao, lari keliling lapangan sepuluh putaran!”
“Siap, sensei!”
Bagus, setelah membuat masalah dengan menjadi kekasih orang lain, aku juga membuat masalah baru dengan dihukum di bawah terik matahari sore. Aku juga tidak lagi dapat melihat kerumunan teman satu klub-ku, mungkin sudah diinstruksikan untuk bubar. Ah, hanya sepuluh putaran, pikirku.
“Michieda?”
Aku dapat melihat sosok menjulang yang di depanku ini terpapar sinar matahari senja, tersenyum canggung tapi juga seketika mencoba menetralkan ekspresinya. Lucu sekali, pikirku sesaat. Terlepas dari proporsi tubuhnya yang begitu besar, sikapnya dari luar sebenarnya sangat canggung. Maka dari itu di kelas Michieda bukan seorang murid yang begitu mencolok dan dibicarakan banyak anak perempuan.
“Kau bilang akan membicarakan hal itu, jadi…,” ucapannya terputus tanpa ada niat untuk menyambungkan kalimat itu dari dirinya sendiri. Arah pandangnya tidak ia berikan padaku dan yang ia lakukan hanya mengusap bagian belakang lehernya.
“Kau menungguku hingga hampir gelap seperti ini?”
“Jangan salah paham, ya! Aku memang pulang selarut ini biasanya! Tidak punya klub bukan berarti aku seluang itu untuk menunggumu, Kento! Aku—“
“Baiklah, aku percaya. Maaf ya sudah menuduhmu.”
Aku seperti melihat karakter komik tengah berkelit dengan alasannya yang sudah dapat dibaca dari luar. Ternyata sisi canggungnya Michieda separah ini, dengan ekspresinya yang komikal dan begitu vokal akan perasaannya yang sebenarnya. “Y-ya, tidak apa sih. Aku maafkan.”
Tuh, cukup lucu ternyata.
Akhirnya kami memutuskan untuk membicarakan hal itu sembari berjalan ke halte bus. Berjalan berdampingan dengan Michieda tentu saja membuat tinggi tubuhku tampak kontras dengan tingginya. Kalau kulihat lagi, padahal Michieda cukup tampan, oh, juga cukup manis di beberapa fitur wajahnya. Yang aku tahu tentang Michieda hanyalah temannya yang berkacamata tebal, si Iwasaki, yang selalu menemaninya dalam agenda idol-otaku-nya. Ya, Michieda terkenal sebagai idol-otaku di kelasku.
“Jadi, kenapa ingin menjadi pacarku?”
“Haaahhh? Kau juga kenapa menerima ajakanku!?” tuduhnya balik padaku.
Aku berpikir sejenak, “Mungkin karena sekarang aku tidak punya pacar?”
“A-alasan apa-apaan itu!” Ia berhenti berjalan dan memasang kuda-kuda, tangannya ia julurkan seolah menghakimiku.
“Karena aku sedang tidak punya pacar, kau menawarkan diri, sekarang aku punya pacar. Tidak boleh ya kalau alasannya begitu?”
Bibirnya mengerucut, “Boleh saja sih sepertinya, tidak ada peraturan yang melarang hal itu.”
“Tuh, kan.”
“Kalau begitu panggil Shunsuke.”
Aku menoleh padanya, “Maksudnya?”
“Panggil aku Shunsuke.”
Aku mengangguk, “Sampai jumpa besok ya, Shun?”
-
Kehidupan memang tidak bisa ditebak, termasuk waktu dimana aku akan memanggil si Michieda dengan panggilan yang begitu akrab.
“Selamat pagi, Shun!” sapaku di pagi hari yang menyebabkan seisi kelas mendadak hening ketika aku mengatakannya sembari menghampiri Michieda yang sedang tertidur di atas meja.
Mendadak ia terbangun dari tidurnya dan melotot padaku, ia kemudian menyeretku keluar kelas sembari sesekali melihat ke seisi kelas. “Ahahaha, pagi-pagi begini sudah bercanda saja kau, Nagao!” adalah kalimat yang ia ucapkan beberapa kali seakan memberi penjelasan ke seisi kelas mengenai sikapku yang tiba-tiba.
Aku tertawa di dalam hati dengan sikapnya yang super canggung ini, tidak ketinggalan pula ekspresinya yang mudah dibaca itu. Dan apa-apaan dengan panggilan yang mendadak formal ini.
“Bukankah kau kemarin yang memintaku seperti itu, Shun-kun?” tanyaku dengan nada main-main.
Michieda sekali lagi melotot lucu, pandangannya berpendar ke sekeliling hanya untuk mendapatkan bahwa di sekitar kami cukup sepi. Tentu saja sepi, ia membawaku ke perkarangan belakang sekolah. “Tapi tidak di kelas juga!”
“Kenapa? Bukankah kau pacarku, Shun?”
Aku bisa melihatnya menggumamkan kata ‘pacar’ dengan senyum samar yang bisa kutangkap sebelum ia memasang wajah pura-pura garang dengan segera, seakan tadi dia hanya terlena sesaat. “Ya, tapi kalau di sekolah itu rahasia!”
“Wah, bahaya tahu? Kalau orang-orang tidak tahu aku sudah punya pacar bukankah mereka akan menganggapku jomblo lalu mendekatiku?”
Matanya melebar seperti membenarkan ucapanku, alisnya juga bertaut kuat, mungkin sekarang berpikir keras tentang langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya. Aku terkekeh kecil dengan sikapnya itu. “Ya… itu sih benar? Tapi kalau ketahuan kan mereka pasti akan menganggap yang aneh-aneh padamu, lalu semua orang akan menjauhimu, lalu Kento akan kesepian, dan—“
“Shun, mau kencan tidak akhir pekan ini?”
-
Aku menunggu Michieda di tempat yang sudah kami sepakati, tetapi Michieda tidak kunjung datang hingga hujan turun. Ah, sedikit kusesali kenapa tidak memeriksa ramalan cuaca pagi ini. Penyesalan kedua adalah aku tidak membawa payung dan kini aku sudah basah kuyup. Kenapa aku begitu bodoh ketika Michieda juga tidak menampakkan dirinya hingga kini.
“Kento, maaf!”
Suara itu bisa kudengar di antara berisiknya suara hujan yang mulai deras, kepalaku juga terasa tidak mendapatkan kucuran air hujan. Ketika aku mendongak di sana sudah ada wajah Michieda yang terlihat khawatir dan lengannya yang melebarkan sebuah mantel besar. Kurasa itu mantel yang ia kenakan untuk agenda kencan hari ini dan sekarang juga turut basah karena hujan.
Sebenarnya Michieda ini orangnya cukup modis, terlihat dari bagaimana cara ia berpakaian hari ini, mantel krem sepanjang lutut dan set pakaian serba hitam dari atas hingga bawah, serta sepatunya yang tampak cukup ber-merk. Perawakannya sungguh berbeda dari yang biasanya kulihat, mungkin tidak kusadari karena aku hanya melihatnya di sekolah di kebanyakan waktu dan pertemanannya dengan Iwasaki semakin memperburuk impresiku padanya.
“Aku tadi tersesat!” ucapnya penuh sesal. Lengannya mungkin tanpa ia sadari juga turut turun karena ia membungkuk sembari meminta maaf, mantelnya yang tadi sempat melindungiku kini melekat sempurna di badannya. “Ah, maaf! Kau jadi basah kuyup lagi!”
Dimana pun dan di situasi apapun, Michieda tetaplah orang yang ceroboh dan canggung. Aku tersenyum tipis melihatnya buru-buru kembali membentang mantel di atas kepalaku, aku hampir tidak sadar kepalanya sendiri terkena air hujan dan dia tampak tidak begitu mempedulikannya.
“Ayo!” pekiknya. Aku pun tersadar hari ini Michieda mengambil inisiatif begitu banyak dan aku sama sekali belum berbicara barang sepatah kata. Di bawah lindungan mantel panjang krem miliknya aku juga ikut berlari menyamai langkahnya yang besar hingga tiba di depan kedai ramen. Hujan dan ramen, mungkin itu yang muncul di kepala Michieda yang biasanya tidak berpikir dalam.
Dengan keadaan basah kuyup kami berdua disapa oleh pemilik kedai ramen, memesan, lalu menikmati ramen dalam diam. “Shun?”
Ah, sial. Jenis intonasi suara apa yang aku keluarkan ini. Tapi tangan Michieda yang tiba-tiba menangkup gemetar dingin telapak tanganku membuatku ingin memanggil namanya. Ya walaupun seketika ia menghempas tanganku kembali dan dengan gugup menengok ke kanan-kiri.
“A-anu. Kento. Itu karena kau menggigil?” Bola matanya berputar kesana kemari, aku merespons hal itu dengan kekehan kecil. “Ahaha, iya, karena kau menggigil makanya kupikir aku bisa membantumu?”
Kini bola matanya melebar lucu dan akhirnya berani untuk menatapku selama beberapa saat sebelum membuang pandangnya kembali. “Lagian Kento itu mikir ngga sih kalau cuaca hari ini dingin? Kenapa hanya memakai baju tipis seperti itu? Tidak bawa jaket pula, aku kan jadi kerepotan.”
“Maaf ya, Shun?” ucapku cepat dengan nada yang riang sembari meremas pelan pergelangan tangannya dan hal tersebut sukses membuatnya terkejut hingga melompat dari kursinya sendiri.
“WOAH!!!”
Aku tertawa kencang sekali yang untung saja kedai ramen sedang ramai saat itu sehingga reaksi Michieda tidak berarti apapun untuk kontribusi suara di dalam kedai. Lelaki itu benar-benar canggung dan sepertinya hidupku tidak akan terlalu membosankan sekarang.
-
Kalau berbicara tentang Michieda, tentu saja aku bisa mengeluarkan banyak cerita bagaimana sikapnya yang begitu canggung dan ceroboh seperti aku mendeskripsikan dirinya. Sehingga akhir-akhir ini aku sering menggodanya di kelas dan ia ketakutan sendiri jika teman-teman kami mengetahui hubungannya denganku.
“Shun!!!”
Ini kali ketiga untuk hari ini aku memanggil namanya dan bergelayut di lengannya. Sebenarnya, teman sekelasku juga tidak mempedulikan sikapku ini dan hanya membiarkannya seperti angin lewat. Teman-teman sekelas juga tidak menaruh curiga, toh kami berdua laki-laki. Anggapan bahwa mungkin saja kami tiba-tiba jadi berteman baik lebih masuk di akal mereka ketimbang memikirkan Michieda yang secara tiba-tiba menembakku dan kami akhirnya berpacaran. Di satu sisi lagi, aku memang dikenal sebagai seseorang yang mudah berbaur dengan siapapun. Sebagai catatan, aku sedang tidak membual mengenai diriku.
Oh, benar soal panggilan tadi. Tentu saja Michieda mengeluarkan tantrumnya seperti biasanya. Ia akan melompat kaget, mengeluarkan seluruh kalimat yang bisa membenarkan perilaku kami berdua kepada seisi kelas yang sebenarnya juga tidak membutuhkan penjelasan, mengomeliku terus-menerus selama lima belas menit, lalu merengut kesal selama lima menit, dan melupakannya ketika ia sudah tenang.
“Kau pergi atau kutendang sekarang juga, Nagao.”
“Uh, seram sekali!” celetukku.
Aku dapat melihat teman sebangku Michieda, si Iwasaki bocah berkacamata tengah menonton video musik idolanya. Ia juga tampak tidak begitu peduli. Kuperhatikan kembali Michieda yang ada di sampingnya tengah menulis sesuatu.
‘Pulang bersama’
Aku hanya tersenyum simpul dan mengangguk. Kenapa rasanya menjadi pacar Michieda seperti menjadi anggota sindikat gelap. Walau begitu, aku dapat merasakan berbagai emosi di bola matanya setiap Michieda bersikap seperti itu. Rasa panik, takut, gugup, dan perasaan bersalah.
Sebelum kalian semua menghakimiku untuk tetap berhubungan dengan Michieda yang tampak seperti pria dengan bendera merah berjalan, aku ingin kalian tahu satu hal bahwa Michieda merupakan pria yang romantis. Atau bisa kusebut, caranya mencintai begitu klise?
Michieda suka sekali film-film romansa komedi yang akhirnya bisa kutebak dalam sekali lihat, ia juga tidak akan tahan melihat adegan intim sederhana hingga ia menutup matanya. Polos sekali, pikirku kala itu.
Pada sore ketika aku pulang bersamanya, rute perjalanan pulang sudah terasa sepi. Mungkin karena klub-ku bubar terlalu lama dan Michieda menungguku hingga akhir. Aku tidak menyangka kala itu Michieda akan lebih berani ketimbang ada orang-orang di sekitar kami sehingga ia bertanya dengan pertanyaan yang tidak pernah aku duga.
“Kento, apakah sudah menyukaiku?”
Waktu seketika seperti berhenti berjalan, begitu pula dengan langkah kakiku. Michieda di sore itu tampak seperti orang yang berbeda, bukan Michieda yang canggung dan ceroboh, bukan Michieda yang terlalu berhati-hati dan takut akan terlihat.
“E-eh, maksudmu apa?”
Dan kini, akulah yang terkesan canggung di sini.
“Pertanyaanku sudah jelas, jawabannya juga hanya bisa dua, sudah dan belum.”
Aku belum terbiasa menerima sisi Michieda yang berterus terang seperti ini, tatapan matanya juga tampak serius ketika aku mendongak untuk beradu tatap dengan matanya. Tangannya tersimpan di kantong celana, entah ia mencoba untuk terlihat keren atau apa.
“Aku … sepertinya tidak tahu.”
“Belum memutuskan?”
“Belum memutuskan,” ucapku tidak begitu yakin dan hanya mengikuti arus yang ia berikan. “Kenapa, Shun? Tumben sekali.”
“Aku ingin sekali menggandeng tanganmu hingga kita berpisah di halte, apakah boleh jika kau belum suka padaku?”
DORAMA APA YANG ANAK INI TONTON KEMARIN. Aku nyaris tidak bisa mengikuti kemana arah permainan Michieda kali ini, kemampuanku dalam menjaili Michieda seakan sirna seketika. Aku tidak tahu Michieda sedang meniru adegan apa, tetapi aku tidak bisa berbohong bahwa jantungku berdegup sangat kencang sore itu. Dan dengan begitu tidak berdayanya aku mengangguk lemah sebelum aku dapat merasakan tangan Michieda yang hangat. Tangannya hangat, kontras dengan cuaca pada hari itu.
“Tangan Kento begitu lembut, aku tidak bisa melupakannya semenjak aku merasakannya di kedai ramen kemarin. Terus kepikiran hingga tidak bisa tidur,” ucapnya tanpa terbata. Sejak kapan Michieda menjadi sejujur ini? Aku tidak dapat mengelak bahwa aku turut kewalahan mengatasi semua ini. Wajahnya yang damai diterpa cahaya matahari senja, tangan kirinya yang tersimpan di saku celana, tangan kanannya yang melingkupi seluruh tangan kiriku, sunyinya senja menjadi ruang dan waktu untuk kami berdua.
- See ya -
