Actions

Work Header

Wise Marriage Life

Summary:

Mari kita membayangkan hari-hari Min Ha dan Seokhyeong setelah menikah. Apakah kehidupan mereka berjalan mulus? Atau mungkin ada hari-hari sedih, konyol, bahkan kacau yang harus mereka hadapi? Bagaimana mereka menyikapinya sebagai pasangan yang sudah menikah. Akankah mereka dapat melalui kehidupan pernikahan mereka dengan bijaksana?

Notes:

All the original characters are not mine. Some additional characters will be appeared based on my imagination. Hope you enjoy every chapter of this fanfic.

Chapter 1: Moving In

Chapter Text

Suatu sabtu di bulan oktober...

Min Ha baru saja selesai mengepak barang terakhir yang akan dibawanya ke rumah Seokhyeong saat suaminya itu muncul. Seokhyeong baru saja tiba dari rumah sakit, ada panggilan darurat saat tadi pagi dia baru mengantar Min Ha untuk beres-beres di apartemennya. Seharusnya dia menemani Min Ha untuk mengosongkan apartemennya sebelum akhirnya menyerahkan kembali kunci apartemen kepada pemiliknya. Namun apa boleh buat, salah seorang pasiennya tiba-tiba mengalami gawat janin dan dia harus melakukan operasi darurat di akhir pekannya yang indah ini.

Seokhyeong meletakkan dua gelas kopi dan sekotak ayam goreng bawaannya di atas kabinet dapur. Kemudian dia menghampiri Min Ha yang tampak lelah dan berkeringat. Tanpa ragu dia mengecup pipi Min Ha dan melihat ke sekeliling apartemen yang dipenuhi kardus. 

"Sudah selesai? Harusnya tunggu aku saja, biar bisa kubantu. Kau pasti lelah sekali melakukan semuanya sendiri."

Min Ha menggelengkan kepalanya.

"Oppa, aku bisa mati bosan kalau harus diam menunggu Oppa selama hampir 4 jam di sini. Lagipula tidak banyak juga yang harus dibereskan."

Seokhyeong mengedarkan pandangannya sambil menghitung jumlah kardus yang memenuhi ruangan. 4 kardus super besar, 5 kardus yang sedikit lebih kecil, dan 4 kardus lainnya yang berukuran sedang dan banyak sekali barang-barang lainnya yang tidak dikemas dalam kardus. Dia menatap Min Ha penuh tanda tanya.

"Tidak banyak? Kardus-kardus ini membuat kita hampir tidak bisa duduk, Min Ha."

Min Ha tersenyum nakal sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Hehe, iya aku tidak menyangka ternyata sebanyak ini. Sebentar lagi jasa pindahan akan datang, Oppa. Tenang saja, mereka yang akan membereskan semuanya. Sekarang Oppa duduk saja di sini dulu."

Min Ha menyeret Seokhyeong ke area sempit di dekat pintu balkonnya. Hanya area itu yang tersisa untuk mereka berdua duduk. Lalu dia mengambil minuman dan ayam goreng yang dibawa Seokhyeong dan mereka mulai menikmati makanan dan minuman mereka sambil berbincang.

"Bagaimana keadaan nyonya Hong dan bayinya?"

"Syukurlah keduanya bisa selamat. Tadi kami sempat khawatir karena bayinya tidak langsung menangis. Tapi untungnya tidak lama kemudian dia langsung menangis dengan kencang."

Min Ha mengangguk-angguk sambil memakan paha ayam goreng kesukaannya.

"Syukurlah kalau begitu."

Tidak lama setelah mereka selesai makan, jasa pindahan yang mereka pekerjakan datang. Setelah semua barang dibawa ke dalam mobil mereka, Soekhyeong dan Min Ha pun segera menuju mobil dan menunjukkan jalan ke kediaman Seokhyeong.

Setelah beberapa jam yang melelahkan, akhirnya semua barang Min Ha sudah berada dengan aman dan selamat di rumah Seokhyeong. Tapi masalahnya sekarang adalah ruang tamu dan ruang tv Seokhyeong dipenuhi dengan barang-barang Min Ha. Seokhyeong memijat-mijat kepalanya yang tiba-tiba pusing.

Min Ha yang melihatnya mendadak cemas.

"Oppaa... Maafkan aku, rumahmu jadi penuh dengan barang-barangku. Aku janji akan segera membereskannya. Oppa jangan khawatir ya, ya ya?"

Seokhyeong menghela napas.

"Min Ha, sudah sebulan kau berjanji akan membereskannya. Dimulai dari barang-barang yang kita bawa dari sepulang berbulan madu, hingga kini barang terakhir yang kita ambil dari apartemenmu. Tapi nampaknya tidak ada kemajuan sedikitpun."

Min Ha cemberut.

"Iya aku tahu, Oppa pasti marah karena rumah Oppa jadi berantakan. Tapi Oppa kan tahu, aku bahkan hampir tidak punya waktu untuk pulang ke rumah, makanya aku tidak sempat membereskan semuanya."

Seokhyeong tersenyum dan mengacak-acak rambut Min Ha.

"Oppa tidak marah, hanya saja Oppa sudah tidak tahan melihat semua ini. Jadi, coba kau terima saja usul Oppa ya? Kita minta saja jasa orang lain untuk melakukannya. Oppa kan sudah pernah mengusulkannya, tapi kau menolaknya terus. Waktu itu kau bilang bisa membereskannya sendiri."

Min Ha memajukan bibirnya.

"Iya, kupikir waktu itu aku akan punya waktu. Lagi pula aku juga takut aku kurang suka hasilnya kalau orang lain yang melakukannya, Oppa. Dan lagi..."

Min Ha ragu-ragu melanjutkan kata-katanya. Soekhyeong menatapnya.

"Dan kenapa?"

"Biaya jasa mereka itu mahal sekali" 

Min Ha menunduk malu setelah mengatakan itu. Seokhyeong tertawa terbahak-bahak setelah mendengarnya. Dia memeluk Min Ha dan kemudian berbisik di teling Min Ha.

"Yeobo, uang kita tidak akan habis cuma untuk membayar mereka. Kau tenang saja, kau kan menikah dengan konglomerat."

The End of Chapter 1