Work Text:
Garland, sudah tidak asing lagi di telinga. Bagaimana tidak? Kerajaan yang dikenal akan kemegahan dan keindahannya. Terkenal akan kemakmurannya. Bahkan di penghujung jalannya dihias dengan serbuk serbuk emas murni dan berlian. Tentunya kota makmur harus dilindungi dengan kekuatan yang kuat bukan? Di sinilah Garland, pemegang tahta pemilik pasukan militer terkuat. Pasukan yang dibekali dengan kemampuan di atas rata-rata, hal inilah yang mampu membuat mereka mempertahankan tanah kebangaan.
Dan Leo, Putra Mahkota Garland, kebanggaan sang Kuasa. Eksistensinya cukup membuat banyak khalayak dengan rela bersujud di bawahnya. Ia, Leo, terlahir untuk menjadi penguasa. Memiliki porsi tubuh kecil, tak menghambatnya 'tuk mendapatkan kegaguman para rakyat. Jangan remehkan wajah serta tubuhnya yang kecil itu. Para saksi dapat bersumpah bahwa lengannya dapat membanting seorang yang lebih besar berkali-kali lipat darinya.
Selama 17 tahun Leo bernapas, telah Ia habiskan hampir separuh hidupnya mendedikasikan dirinya di bawah kekuasaan kerajaan. Mempelajari politik serta militer, Leo rasa sudah sanggup Ia katakan bahwa Ia hidup untuk sang Raja, bukan 'tuk dirinya.
Hidupnya bukan untuk dirinya sendiri.
Matahari kini bersinar dengan silaunya, mengusik kenyamanan Putra Mahkota. Derap kaki yang diiringi suara bergemuruh terdengar jelas di indera pendengar sang Putra Mahkota, memicu alis tebalnya berkerut. "Bising sekali," pikirnya. Berniat untuk kembali ke alam mimpi sebelum Ia diganggu ketika suara gemuruh tersebut menyerukan namanya.
"Yang Mulia! Yang Mulia Putra Mahkota!"
Sial. Benar-benar mengganggu.
Dengan hela napas kasar, Leo membangunkan dirinya dari kasur dan melangkahkan kedua tungkainya menuju kamar mandi. Membersihkan diri, mengenakan ornamen-ornamen nan megahnya itu, Ia bawa kedua kakinya menuju pintu keluar. Bersiap untuk menjalani hari.
Rutinitas hari-hari. Tak pernah berbeda. Tak akan berganti.
"Yang Mulia, Baginda Raja memanggilmu," ujar Ilo, utusan sang Raja. Raut wajah Leo turut memasam kala mengetahui Raja mengutus dirinya. Kalau bukan mengenai pernikahan, apa lagi?
"Ya. Kau boleh mengundurkan diri, Ilo," balasnya. Yang dibalas dengan anggukan dari yang terpanggil. "Baik, Yang Mulia."
Hening kembali menemani Leo. Sudah sewajarnya dirinya terbiasa dengan kesendirian yang selalu Ia alami. Namun tidak. Ia tidak sanggup. Ia ingin bebas. Ia ingin seperti burung di luar sana yang dengan bebasnya mengepakkan sayap kebanggaan. Leo, sang penguasa, ingin bebas.
Sekali lagi, tidak bisa. Di saat tangan kecil miliknya mengayunkan jari jemarinya ke dunia, Ia sudah terikat dengan belenggu takdir tanpa satupun jalan keluar.
"Kau adalah penerusku Leo, jangan kecewakan aku."
"Seorang calon raja harus mempersembahkan hidupnya terhadap kekuasaan yang diberikan, selamanya."
Bak mantra pengingat, ucapan sang Raja kian membusuk di otaknya.
Leo ayunkan kedua kakinya menuju ruangan sang Raja, ayahnya.
Tok Tok
Leo ketukkan buku-buku jarinya ke permukaan pintu. Tidak ada jawaban. "Ayah, ini aku," ia ucapkan, yang dibalas dengan sahutan suara khas seorang pria paruh baya, "Masuk."
Membuka pintu yang tentunya melebihi tingginya dua kali lipat, Ia memasuki ruangan sang Raja. "Ayah, kau memanggilku?" ujarnya ketika berhadapan dengan ayahnya. Yang jauh lebih tua tak menjawab, hanya memandang. Sungguh, walaupun satu katapun tak terucap, hawa yang dikeluarkan sang penguasa tidak bisa diremehkan.
"Tidak usah disebut juga, kau sudah paham." Leo berdesis, tentu Ia paham. Sangat paham. "Dan sudah aku ucapkan berkali-kali, aku tidak sudi untuk mengikuti kemauanmu perihal ini, Raja."
Hening. Para penjaga di sisi ruangan hanya bisa merasakan situasi yang mulai mencekam. Sebelum gebrakan meja terdengar. "Keterlaluan! Sungguh lancang! Apakah ini balasanmu terhadap ayahmu!"
Kedua netra Leo menyipit, menajamkan pandangan, "Keterlaluan katamu? Aku sudah memberikan hampir jiwaku untukmu, untuk tanah ini. Sudah cukup. Hatiku, akan kuberikan kepada seseorang yang aku inginkan." Tak peduli akan penolakan, Ia membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar ruangan. Samar-samar akan teriakan amarah dapat Ia dengar. Tapi apa pedulinya?
Leo usak kasar surai oranyenya, menghela napas, "Kapan bapak tua itu menyerah, sih…. Menyusahkan."
Ia berjalan mengitari lorong kosong sebelum dirinya berhenti sebentar. Seperti mendapat suatu ide cemerlang, Leo pamerkan senyuman lebar jahilnya. Menunjuk satu penjaga, Leo berbisik, "Kau bantu aku kabur dari sini, oke? Atau ku penggal kepalamu." Sang penjaga bergidik ngeri, kedua matanya membulat, badan bergetar ketakutan. Apa yang bisa diperbuat selain mengangguk tanda persetujuan? Nyawanya lebih penting!
Sungguh, bagaimana bisa kau mengucapkan kalimat mematikan seperti itu sembari tersenyum, Leo?
"Anjing pintar! Teruslah menurut seperti ini, ya!" Tepukan kasar Leo berikan di pundak penjaga tersebut. Ia melambaikan tangannya sebagai tanda untuk mengikuti dan berjalan ke kamarnya.
Leo raih kain putih yang tergeletak di lantai, dan Ia ikat di teralis jendela. "Aku akan kabur menggunakan ini," ujarnya. "Tugas kau cuma satu, rahasiakan ini. Kalau ada yang bertanya di mana aku, berlagaklah seakan-akan kau tidak tau apa-apa, oke?"
"B–bbaik Yang Mulia!"
"Pintar. Keluar kau sekarang. Ingat, tutup mulutmu rapat-rapat."
Dengan segera penjaga tersebut berlari keluar, seakan-akan hidupnya diujung tanduk. Ketika Leo memastikan bahwa tidak ada seorangpun di sekitarnya, dengan semangat Ia sambungkan tali yang sudah disiapkan dan diikat ke teralis jendela.
Secara perlahan-lahan Leo mengendap turun menggunakan tali. Ketika kakinya mengapak tanah dengan cepat Ia berlari menuju semak-semak agar tidak terlihat penjaga kerajaan. Setelah Ia yakin bahwa dirinya sudah keluar dari area kerajaan, dengan cepat Leo berlari ke kerumunan dengan harap Ia tidak akan terdeteksi.
Riuh pikuk ciri khas ramainya kerumunan di bawah teriknya matahari membangun senyuman yang girang di wajah Leo. Di sini lah harusnya dirinya berada. Bukan berada di tumpukan buku-buku strategi militer serta politik. Bukan di tengah keheningan yang mencekam. Di sini lah Leo hidup.
Ketika Ia berjalan menyusuri jalan, tiba-tiba tabrakan di pundak dapat Ia rasakan. Baru saja ingin marah sebelum dirinya dibentak oleh suara lembut khas wanita. "Hei! Matamu itu pajangan atau bukan, sih?"
Tuhan. Menit itu juga, detik itu juga, Leo bermonolog pada dirinya sendiri.
"Indah."
Surai bergelombang abunya seakan menari seiring lembutnya angin berhembus. Binar biru muda cerahnya dengan lucunya membulat. Alis tipisnya menukik marah. Dan bibirnya. Tuhan. Bibir ranumnya mengerucut menggemaskan.
Yang dibilang cantik saat ini menggeram marah. "Hei! Kenapa malah diam saja? Maafku mana?" ujarnya sembari menjentikkan jarinya di depan wajah Leo, berusaha untuk mengembalikan fokus sang surai oranye terhadap dirinya.
Bagaimana tidak? Leo, dengan raut dungunya termenung tidak jelas. Tidak ada kewibawaan yang seharusnya calon raja miliki.
Sekali lagi, Tuhan, Bagaikan melodi musik, Leo rasa berbagai frasa spontan terbentuk dalam hatinya kala Ia mendengar suara dari pemilik binar biru muda di depannya ini.
"Siapa namamu?"
"Ha? Apa kau mabuk atau semacamnya?”
"Aku Leo." ujarnya, dengan malu-malu mengulurkan tangannya hanya untuk mendapatkan tatapan dari si cantik di depannya. "Tidak ada yang bertanya!"
"Aku Leo, jadi siapa namamu?" senyuman lebar terpampang di wajahnya tanpa rasa malu.
"Ya Tuhan, dia aneh." itulah kesan pertama si cantik terhadapnya.
“……”
"Aku Leo, siapa namamu?"
"Ah! Oke! Oke! Hentikan, kamu sudah mengatakannya untuk ketiga kalinya!”
"Jadi? Aku Leo, siapa namamu?” dia mengulang kembali pertanyaannya.
“.....—” helaan napas dalam terdengar dari bibir si cantik,
“—Sena.” dia akhirnya mengalah.
Hari itu, Leo baru mengetahui keberadaan manusia paling indah. Dia bahkan mendapatkan namanya. "Sena," Dari detik itu juga, Leo memutuskan untuk mengukir nama itu selamanya di seluruh eksistensinya mulai sekarang.
Sejak itu, rasanya takdir seperti mempermainkan mereka. Kapan pun, dan di mana pun, mereka akan lari ke satu sama lain. Tentu saja pertengkaran kecil tak terhindarkan, terutama dari si cantik, Sena. Walau terkadang Leo alih-alih membalas, Ia lebih memilih menikmati pemandangan di depannya.
“Matamu itu adalah ciptaan tangan Tuhan yang sempurna”
“Jangan menggembungkan pipimu seperti itu..... ini akan menjadi akhir dari diriku suatu hari nanti.....”
"Rambutmu berbau menenangkan."
"Senyummu itu, selalu bahagia, oke?"
Awalnya itu adalah pemikiran tentang seorang pria yang menghargai keindahan. Sampai isi hatinya berubah menjadi "Aku mencintaimu." dan "Jadilah milikku, bisakah?"
Itu mengejutkannya, Leo tidak siap memikirkan dia mencintai seseorang. Terutama mencintai Sena. Bukan karena dia menganggapnya tidak pantas untuknya, justru sebaliknya. Bagi Leo, Sena adalah orang terindah di dunia yang pernah ada. Dia peri yang riang, murni, tak tergapai. Bagaikan bulan yang menyinari kegelapan. Sena persis seperti itu.
Sementara Leo? Dirinya sendiri sudah penuh dengan noda darah, Ia melangkah maju di atas tumpukkan yang tidak bersalah. Dia tidak pantas mendapatkan cinta Sena yang suci sedikit pun.
Maka dari itu, Ia memutuskan untuk menjaga perasaannya hingga akhir hayatnya.
Seharusnya seperti itu.
Hingga keluarga kerajaan mulai was-was dengan hubungan mereka. Pengawal ditunjuk oleh Raja lebih dari biasanya tanpa sepengetahuan Leo, singkatnya, sebagai mata-mata.
Hari demi hari berlalu begitu saja, hingga Leo mulai menyadari akan sorot mata yang Ia rasakan di sekeliling dirinya dan Sena. Dia punya firasat. Dan dia takut.
"Tolong, jangan biarkan ini seperti yang aku pikirkan."
Sayang sekali. Ternyata persis seperti apa yang dia takutkan. Suatu hari ketika mereka berdua sedang berjalan-jalan di jalan yang sepi, mereka terkejut ketika mereka berdua diborgol dan diseret ke Istana Kerajaan.
"Sial. Berakhir sudah," untuk dirinya dan Sena. Leo memanglah bukan hamba Tuhan, dirinya bukan umat yang berbakti. Namun untuk saat ini, drngan bersungguh-sungguh Ia berharap Tuhan mendengarnya.
“Aku tahu kamu di atas sana, mengawasi kami. Jika memang Dirimu ada, maka aku mohon. Ulurkan tangan dan kebajikanMu itu untuk masalah yang akan datang—”, Leo menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, “—Setidaknya ulurkan tangan Dirimu ke Sena, aku mohon, Ya Tuhan.”
"Apa yang kamu pikirkan?! Seorang petani biasa?! Dia akan mempermalukan Gelar Kerajaan kita jika dirinya masuk ke dalam silsilah keluarga!” sang Raja, di singgasananya yang megah, mengamuk ke arah dua orang yang dipaksa berlutut.
"Leo! Sejak kamu masih kecil, kamu telah melebihi semua harapanku.... Sekarang.... Ah, mengecewakan!” dia meninggikan suaranya dan membanting kepalan tangannya ke sandaran kursi singgasana kebangaan.
Hening. Tidak ada yang berani membela. Suasana yang sudah mencekam, semakin menusuk. Tidak ada yang berani melawan sang Raja termasuk Leo. Karena pada akhirnya, dirinya adalah hanya salah satu pion-pion kecil milik ayahnya. Leo, adalah boneka.
“Pengawal! Bawa wanita itu ke sel bawah tanah! Saya berharap tidak ada yang akan memberinya air atau makanan!” Sena diseret dengan kasar oleh para penjaga, mengabaikan tangisannya. Oh, betapa Leo berharap dia bisa berlari ke arahnya dan memeluk memenangkannya. Tapi dia tidak bisa.
"Siapa pun yang menentangku harus dihukum, bahkan kamu, Leo."
"Ini adalah kesempatan terakhirmu atau aku akan mencabut gelar mu."
"Jangan kecewakan aku."
Malam hari ini dingin. Leo saat ini sedang diawasi oleh Raja sendiri, sehingga tidak ada celah untuk melarikan diri dan menyelamatkan Sena. “Maafkan aku, Sena,” batinnya bermonolog.
Sejak dia bertemu Sena, Leo selalu tidur mengakhiri harinya dengan senyuman di wajahnya. Ini adalah pertama kalinya dia tidur dengan air mata mengalir di pipinya. 5 hari telah berlalu. Leo belum pernah bertemu Sena sama sekali, dia ditolak saat ingin masuk sel bawah tanah. "Perintah Raja," kata mereka.
Leo frustrasi. "Aku perlu menyelinap masuk," adalah rencananya untuk tengah malam. Dia memutuskan untuk mencoba melarikan diri bersama, Sena dan dirinya. Menjalani hari-hari mereka di tempat terpencil, jauh dari Istana Kerajaan dimana tidak ada yang bisa mengenali mereka. Itu rencananya.
Dia tidak pernah berencana untuk melihat kekasihnya dengan pakaian compang-camping berdarah, tubuh penuh bekas luka siksaan.
Dan dingin.
Keadaan pikiran Leo sudah mengamuk saat itu setelah melihat pemandangan menyakitkan di hadapannya. “Ha..... Ha...... Apa-apaan ini...." suaranya bergetar begitu juga tangannya saat dirinya mengulurkan tangan ke arah tubuh yang dingin itu. “Tidak.... Tidak..... Sena......” tangannya yang gemetar dengan lembut menepuk-nepuk pipi dingin si cantik, mencoba membangunkannya seolah-olah dia baru saja tertidur dengan damai. “Ini bukan saatnya bercanda, Sena..... Aku mohon....”
"Tolong bangun....."
“Maaf, ini semua salahku….. kita seharusnya tidak bertemu hari itu…. Maafkan aku….”
“Jangan tinggalkan aku, kumohon.....” Leo bahkan tidak menyadari air matanya sudah mengalir dengan deras. Leo menangis bak anjing kecil yang ditelantarkan.
"Yang Mulia Putra Mahkota!" itu adalah suara para penjaga.
“Jangan berani kalian mendekati kami! Aku perintahkan kalian! Jangan datang kemari," teriak dirinya histeris. Oh, betapa Leo berharap dia bisa meruntuhkan bumi dan mengubur semuanya bersama Sena-nya sekarang. Dia dengan hati-hati membawa tubuh Sena yang dingin di lengannya seolah-olah dia memegang harta nasional yang rapuh yang dapat runtuh dengan gerakan sekecil apa pun.
Konon katanya calon raja yang akan datang tidak boleh menunjukkan emosi mereka, tidak boleh menunjukkan kelemahan mereka dengan cara apa pun, untuk alasan apa pun.
Tapi malam ini, malam yang menghancurkan ini, Leo merasa dia bisa hancur berkeping-keping kapan saja.
Kematian.
Kata itu sendiri mengandung banyak arti bagi setiap individu. Leo telah menyaksikan banyak adegan kematian di depan matanya, baik dalam perang maupun eksekusi, itu tidak berarti apa-apa baginya. Tidak pernah dia berpikir suatu hari dia akhirnya akan merasakan sakit akan kematian yang mengerikan.
Kematian orang yang dicintai.
Kematian sang terkasih.
Leo berjalan melewati mereka sembari menggendong tubuh dingin Sena dengan wajah tanpa ekspresi, seperti orang yang kehilangan alasan untuk hidup. Dia bawa Sena ke kamar pribadinya, dengan hati-hati dan lembut menurunkannya ke tempat tidurnya. Tempat tidur yang dia impikan untuk bisa ditiduri bersama Sena-nya untuk menghabiskan malam dengan pelukan hangat, dan bangun melihat senyumannya yang manis. Tapi sepertinya mimpi itu tidak bisa terpenuhi.
“Sena......" dia belai pipinya dengan lembut, penuh cinta, “Sena..... Aku bahkan belum sempat mengungkapkan perasaanku padamu....” Kelenjar air matanya seakan pecah, air matanya tidak dapat dibendung tak bisa dikendalikan sekarang, mengalir deras seperti hujan lebat.
“Ah..... kamu masih cantik....” Leo genggam tangan kanan Sena, seolah berusaha mencari kehangatan yang tersisa. Tapi tidak, tidak ada. Tangannya dingin. Dia terlambat.
"Jika kamu tidak di sampingku, maka kurasa giliranku untuk berada di sampingmu, kan?"
"Kamu memiliki temperamen yang buruk... bagaimana jika kamu menyinggung Tuhan di atas sana.... bagaimana aku tidak khawatir...."
“Jangan marah padaku, oke?” dia berkata lirih.
Dengan hati-hati melepaskan tangan yang digenggamnya, Leo mengambil botol kecil dari lacinya. Sebuah racun. Tidak berbahaya jika diminum dalam jumlah sedikit. Tapi itu sudah menjadi masalah lain jika diminum semuanya dalam satu tegukan. Racun yang dibuat untuk menyiksa, menyakitkan dan merenggut nyawamu secara perlahan.
Dan Leo meminum semuanya dalam sekali teguk.
“Maaf..... Sena, aku hanya khawatir kamu akan kesepian.... Jangan membenci aku, ya? Tunggu aku,” selesai berbicara Leo naik ke tempat tidur dan berbaring dengan lembut lalu bergerak memeluk Sena.
“Kali ini, kita mungkin dibuat untuk mengenal satu sama lain. Tapi di kehidupan lain, aku akan menemukan dan memberitahumu perasaanku.”
"Kita akan dibuat untuk saling mencintai saat bertemu lagi."
"Jadi, sampai saat itu, maukah kamu menungguku?" Malam itu, dua insan Tuhan tidur dengan damai, menunggu kesempatan untuk saling mencinta lagi.
