Work Text:
Choi Soobin as Pluto/Hades
Hueningkai as Jupiter/Zeus
Choi Yeonjun as Juno/Hera
Soobin berkhayal dalam malamnya yang abadi. Dalam kilas matanya, Juno masih merupakan pemuda berusia delapan belas. Tarik senyumnya polos dan kilat matanya seperti bintang di kelam malam.
"Soobin," tuturnya mendayu bagai petik harpa Apollo.
Dan senyumnya, oh senyumnya, Soobin selalu jatuh pada tarik sabitnya, pun pada pelangi yang terbentuk ketika tawanya melebar.
"Yeonjun,"
Dalam memorinya, ia masih mendekap Yeonjun di dalam kedua tangannya. Pemuda kecil itu masih menggeliat geli ketika ia bawa kedua tangannya pada pinggang ramping si kecil.
"Kemari setan kecil,"
Dalam sudut kenangannya yang paling dalam, Soobin melihat dirinya berusia duapuluh, berlari seperti anak kecil pada bukit penuh rumput hijau. Dalam jangkauannya ada Yeonjun yang tengah tertawa seolah ia pemuda paling bahagia di dunia.
"Kamu selalu berhasil menangkapku,"
(—Aku selalu berharap sampai saat ini pun kamu masih ada dalam dekapanku.)
Ketika ia lepas dari khayal, yang menyapa hanyalah dingin dunia bawah.
Dan Yeonjun tak ada bersamanya.
(—Yeonjun lebih pantas berada di angkasa, bintang kecil yang tak pernah padam sinarnya.)
Dalam realitasnya, pemuda kecilnya beranjak bijaksana. Senyum polosnya memudar terganti tipisnya tarikan bibir. Binar matanya tertutup kabut seperti langit mendung.
Soobin ingin mengembalikan tawanya.
(—Kamu tak tahan dingin, bagaimana mungkin kamu dapat bertahan di rumahku yang tak pernah merasakan mentari?)
(—Kamu hanya perlu memelukku dengan erat.)
Soobin memiliki banyak penyesalan dalam hidupnya. Ada banyak bagaimana jika yang terus menghantui malamnya yang sepi. Namun penyesalan terbesarnya masih tentang Juno, dan akan selamanya tentang Juno.
(—Seharusnya aku tak pernah melepaskanmu.)
Ketika ia membuka mata, Yeonjunnya telah lepas dari genggaman. Juno kecilnya berhenti mengorbit padanya.
Kemudian ia temukan Juno dalam dekapan Jupiter—dan Pluto, Pluto hanya sesosok asing dalam bimasakti.
(—Apa kamu akan berjuang untuk aku?)
(—Suatu hari, ketika manusia telah lupa tentang kita, dan kita bukanlah apapun selain debu di angkasa, aku akan membakar dunia untuk kamu dan akan kurobek takdir hanya agar bisa mendekapmu lagi.)
Selesai.
