Actions

Work Header

Strawberry and Cigarette

Summary:

Sudah saatnya Tae make a move, karena itulah dia nawarin diri untuk nemenin Yoongi dalam perjalanan malam dari Seoul ke Daegu menggantikan Seokjin dan Namjoon

Just another fluffy story "suka sama temen kakak"

Notes:

Hola, Ganto imnidaaaa

hope you enjoy my story! maklumi typo (s)!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

"Plis Jin, dari sini sampai rumah aku cuman makan waktu empat jam aja. Jadi aku enggak butuh teman perjalanan segala."

"Tapi kamu berangkat tengah malam dan setelah kerja Yoongicchi."

"Problem?"

"Ya masalah dong kalau kamu pergi sendirian. Aku dan Namjoon ikut ya."

"Enggak usah repot-repot deh."

"Aku dan Namjoon ikut pergi okay."

Tangan putih pucat yang tengah mengelap meja bar itu terhenti karena seluruh atensi sang pemilik dialihkan ke seorang pria berbibir tebal merah merekah. Hening di antara keduanya, hening pula di sekitar mereka karena bar telah tutup menyisakan para karyawan yang bersih-bersih tanpa suara.

Dalam diam dua pasang mata beradu tatap. Si bartender melempar tatapan datar sedangkan si manager café memberikan puppy eyes andalannya.

"Okay Yoongicchi?"

Yoongi mendecak dalam hati. Kesal dengan diri sendiri karena begitu lemah dengan tatapan memelas seorang Kim Seokjin. Maka akhirnya dia mendesah panjang untuk kemudian menggangguk menyetujui, "oke oke."

"Good!"

"Tapi kita langsung putar balik ya. Enggak mampir ke mana-mana."

"Sip."

"Ke manapun."

"Iya iya."

 

 

***** *****

 

Sudah lebih dari lima menit Taehyung berdiri gusar di depan pintu bernomor 255

 

 

Sudah lebih dari lima menit Taehyung berdiri gusar di depan pintu apartemen nomor 255. Handphone berisiknya diabaikan, sungguh tidak peduli dengan rentetan pesan text maupun panggilan tak terjawab dari Seokjin, Namjoon dan juga Jimin karena detik ini keselamatan jantungnyalah yang paling utama. Taehyung tidak mau mati muda, masih banyak hal yang ingin dia lakukan seorang diri ataupun bersama Jimin Sang Soulmate Sejati Terbaik Sepanjang Masa. Maka fokus Taehyung saat ini adalah bagaimana caranya menentramkan jantung yang semakin ditenangkan malah semakin berdetak tak karuan. Masih berdegup kencang saking didera kegugupan tak tertahankan.

Taehyung jadi menyesal dengan kata-kata konyol yang dia ucapkan tanpa sadar sekitar setengah jam lalu. Sok-sok menawarkan diri untuk datang ke kemari menggantikan Namjoon padahal nyatanya sudah lima menit berlalu tubuhnya tak kunjung bergerak satu incipun sejak sampai di depan pintu. Heh, bahkan si tubuh Taehyung ini bersikeras untuk kembali ke rumah sakit tempat Seokjin dirawat daripada harus berhadapan dengan Min Yoongi.

 

 

Min Yoongi.

 

 

Pria yang dia sukai sejak dua tahun lalu atau lebih tepatnya sejak Taehyung bertama kali menginjakkan kaki di Kota Seoul untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Seoul Jurusan Clothing & Textiles. Waktu itu Seokjin tengan sibuk mengurusi café barunya bersama Namjoon jadilah Yoongi, sebagai salah satu sahabat terbaik Seokjin yang kebetulan sedang luang menjemput dan mengantarkan Taehyung ke asrama kampusnya serta mengajak yang lebih muda berkeliling kota yang masih asing. Setelahnya mereka tidak pernah lagi berinteraksi lebih dari sekadar berbasa-basi walaupun Taehyung yang tinggal di asrama masih cukup sering mengunjungi apartemen Seokjin.

Setahun berikutnya mereka benar-benar jarang berjumpa maupun berkomunikasi karena Yoongi yang semula tinggal bersama Seokjin dan Namjoon di kawasan Itaewon pindah ke daerah Gangnam yang lebih dekat dengan tempat dia bekerja sebagai bartender hingga sekarang. Namun anehnya rasa suka Taehyung sama sekali tidak memudar bahkan semakin dalam. Barangkali karena Seokjin masih tetap sering menceritakan Yoongi, masih selalu menyebut-nyebut Yoongi setiap kali mengobrol dengan sang adik.

"Oh Taehyung. Kenapa kau benar-benar payah soal asmara eoh. Aish."

Kening itu dibentur pelan ke daun pintu. Dan tiga menit kemudian akhirnya tangan Taehyung terangkat untuk memencet bel. Oh, betapa sepasang kaki Taehyung langsung ingin berlari ke mana saja asalkan tidak melangkah masuk ke dalam apartemen pria yang amat disukainya.

Belum ada jawaban.

Maka Taehyung memencet bel sekali lagi, dua kali lagi dan yang untuk ketiga kalinya dibalas sahutan dari dalam.

"Sebentar, sebentar."

Suara berat yang sudah lama tidak Taehyung dengar. Terakhir kali bulan lalu saat Seokjin mengajaknya bersenang-senang ke klub untuk menghilangkan stress akibat ujian. Malam itu Yoongi hanya bisa bergabung bersama mereka sebentar saja, sekedar menyapa dan menghabiskan segelas alkohol.

Klek.

Pintu yang terbuka membuat keselamatan jantung Taehyung kembali dalam kondisi kritis. Oh, Taehyung benar-benar tidak mau mati muda tapi jika dengan begitu dia bisa melihat langsung secara dekat seorang Min Yoongi yang bersweater oversize, berambut berantakan, bermuka bantal dan bersuara serak khas bangun tidur maka Taehyung lebih dari tidak apa-apa.

"Taehyung?"

Nama itu benar-benar terdengar jauh lebih indah jika diucapkan oleh Min Yoongi. Si Pemuda Kim jadi sempat terlena dan terdiam sebelum akhirnya sadar.

"Se-selamat pagi Hyung. Maaf meng-mengganggu pagi-pagi begini. Aku eh, maksudku Seokjin-hyung dia eou, karena itu aku kemari- jadi- eou-

"Hei, hei tenanglah. Ayo, masuk dulu okay. Kita ngomong di dalam aja."

Taehyung belum siap. Dia belum pernah masuk ke apartemen Yoongi. Meskipun dia tahu kedatangannya kali ini akan membawanya untuk melakukan itu (karena mustahil mereka bicara di depan pintu kan) tetapi tetap saja jantungnya seolah-olah akan meledak.

Untuk kesekian kalinya Taehyung mengutuk dirinya sendiri karena sok-sok datang kemari.

"Apa yang mau kamu omongin benar-benar mendesak?"

"Eh? Oh tidak juga sih Hyung."

"Oke, kalau gitu aku cuci muka dulu ya. Terserah kamu mau tunggu di mana, duduk aja di mana kamu nyaman. Anggap aja tempat sendiri."

"Oke Hyung. Gamsahamnida."

"Bentar ya."

Dengan begitu Yoongi melenggang ke kamar mandi meninggalkan Taehyung yang berdiri diam untuk beberapa lama sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Apartemen Yoongi lebih kecil dari milik Seokjin dan Namjoon karena bukanlah two bedroom apartment melainkan one bedroom studio apartment namun terkesan lebih lapang karena minim perabot. Bahkan Taehyung yakin tidak ada tambahan apa-apa dari Yoongi selain sofa abu-abu, karpet, coffee table dan gorden hitam. 

Set meja makan berkursi dua sepertinya memang sudah bawaan dari phak properti begitupun semua yang ada di dapur. Tak ada pajangan, tak ada hiasan dan tak ada dekorasi apapun bahkan tak ada TV. Memang seperti yang Taehyung bayangkan setiap kali Seokjin cerita kalau apartement Yoongi yang sekarang hanyalah tempat untuk tidur saja karena si bartender juga bekerja sebagai koki di sebuah restoran bintang lima. Dua pekerjaan sekaligus tentu membuat Yoongi tidak banyak memiliki waktu luang selain untuk mengistirahatkan badan. Maka tidak aneh jika apartement ini hanya berfungsi sebagai tempat untuk rebahan saja.

Gorden hitam ruang tengah belum dibuka, memberikan kesan temaram yang bertabrakan dengan penerangan lampu dapur dan koridor depan. Taehyung berada di batas keduanya.

Mahasiswa semester empat itu lalu nyaris terlonjak kaget begitu suara Yoongi kembali terdengar.

"Kenapa cuman berdiri aja?"walau tidak mengganti pakaian tidurnya tadi Yoongi tampak lebih rapi. Rambut pirangnya tak lagi berantakan, wajahnya lebih segar dan benar-benar hilang bekas baru bangun tidurnya. Entah kenapa Taehyung jauh lebih suka penampakan Yoongi satu menit lalu, "duduk gih."

"Eh? Oh maaf Hyung,"Taehyung kemudian melangkah untuk duduk di sudut kanan sofa sedangkan Yoongi berlalu ke dapur.

"Sori aku enggak punya apa-apa selain bir dan air mineral dingin."

"Oh. Enggak apa-apa Hyung. Enggak usah repot-repot,"meski Taehyung berkata begitu Yoongi tetap kembali dan ikut duduk di sofa dengan membawa dua botol mineral dingin.

"Jadi?"

"Eum, Hyung udah dapat kabar dari Seokjin-hyung?"

"Jin? Kenapa dia?"

"Seokjin-hyung masuk rumah sakit-

"Apa!?"

"Cuman keseleo Hyung! Jatuh dari tangga dan udah baik-baik aja kok."

"Oh syukurlah."

"Tapi kata dokter harus istirahat total selama tiga hari karena kaki Seokjin-hyung enggak boleh digerakin dulu sampai benar-benar pulih."

"Dasar ceroboh."

"Eou itu, katanya Yoongi-hyung berangkat ke Daegu malam ini ya?"

"Yep. Ah, kamu ke sini mau ngasih tau kalau Jin enggak bisa ikut ya."

"Iya. Soalnya dari tadi nomor Yoongi-hyung enggak aktif-aktif pas ditelpon Seokjin-hyung maupun Namjoon-hyung. Pesan mereka juga enggak terkirim."

"Oh sori sori soalnya mati. Baru aja tadi aku cas pas bangun tidur."

"Mereka jadi khawatir dan mau mastiin tapi karena Namjoon-hyung enggak bisa pergi ke sini makanya aku yang gantiin."

"Ah gitu ya. Sip sip aku ngerti kok. Nanti aku sempatin ke rumah sakit."

"Ou...

"Ada lagi?"

"Eh?"

"Kayanya masih ada yang pengen kamu bilang ke aku."

"Eum, soal ke Daegu, Seokjin-hyung bilang Yoongi-hyung masih harus tetap ditemenin."

"Dasar emak-emak. Memangnya aku anak kecil apa."

"Tapi menurut aku Yoongi-hyung memang butuh teman perjalanan. Meski cuman empat jam perjalanan tapi Hyung berangkat tengah malam setelah kerja kan. Ba- bahaya...

Pipi Taehyung merona ketika Yoongi menatapnya lamat-lamat. Dia ingin berpaling karena begitu malu tapi entah kenapa sepasang matanya malah kegirangan ditatap Yoongi.

"Hyung?"

"Kalian emang kakak-adik ya,"Yoongi tersenyum simpul dan itu tentu membuat pipi Taehyung kian memerah, senyuman Yoongi sangat jarang tertuju padanya seorang, "nah biar aku tebak."

"Eh?"

"Jadi karena Jin enggak bisa pergi otomatis Namjoon juga enggak bisa pergi karena yeah pastilah dia yang bakal ngerawat Jin kan. Nah, apa kamu yang bakal gantiin mereka jadi teman perjalanan aku?"

Taehyung menggangguk dan menunduk malu, "ka-kalau Hyung enggak setuju-

"Aku sih oke. Kamunya gimana? Enggak dipaksa Jin kan?"

"Enggak kok Hyung. Malah aku sendiri yang nawarin diri- oh ya tuhan. Maksud aku, eou, karena enggak ada yang bisa pergi, jadwal aku besok kosong terus eou- jadi eou-

"Oke oke. Aku ngerti kok Taehyung."

"Oh baguslah..."

"Kalau emang kamu sendiri yang mau ya enggak masalah. Tapi kita enggak bakalan mampir ke mana-mana ya."

"Un. Aku udah dengar dari Seokjin-hyung."

"Good. Di mana aku bisa jemput?"

"Biar hemat waktu aku aja yang datang ke tempat kerja Hyung boleh?"

"Boleh sih tapi apa kamu enggak repot?"

"Enggak kok Hyung."

"Oke kalau gitu. Kamu udah tau tempatnya?"

Taehyung menjawab dengan anggukan dan Yoongi ikut mengangguk-angguk kecil, "sip sip. Eh tapi bukannya kamu tinggal di asrama ya? Boleh keluar tengah malam?"

"Boleh Hyung. Jam masuk emang terbatas sampai jam 12 malam tapi kalau jam keluar bebas kapan aja."

"Oke oke. Berarti kita langsung berangkat dari tempat kerja aku ya."

"Iya Hyung."

"Ada lagi?"

"Enggak Hyung."

"Sip."

"Ka-kalau begitu aku permisi dulu ya Hyung. Sori nganggu istirahat Hyung."

"Its okay. Thanks ya udah mau repot-repot datang ke sini."

"Sama-sama Hyung."

"Aku anterin sampai halte ya."

"Enggak usah-

"Aku anter ya Taehyung."

"Oke Hyung...

Dengan begitu keduanya langsung beranjak dari sofa untuk sama-sama melangkah meninggalkan apartemen Yoongi. Dalam diam mereka memasuki lift dan begitu terus sampai bis yang akan Taehyung naiki datang dan menepi.

"Sampai ketemu nanti malam Hyung."

"Sampai ketemu nanti malam Taehyung."

Begitu bis telah meninggalkan halte untuk membelah jalanan Seoul dan Yoongi telah membalikkan badan untuk kembali masuk ke gedung apartementnya, Taehyung langsung merogoh tas untuk meraih handphone.

25 panggilan tak terjawab dari Seokjin-hyung.

20 pesan belum dibaca dan 30 panggilan tak terjawab dari Chimchim.

5 pesan belum dibaca dan 3 panggilan tak terjawab dari Namjoon-hyung.

2 pesan belum dibaca dan 4 panggilan tak terjawab dari Kookie.

3 pesan belum dibaca dan 2 panggilan tak terjawab dari Seokie-hyung.

Taehyung mendesah panjang memutar bola mata. Sampai kapan orang-orang di sekelilingnya akan berhenti bersikap berlebihan. Dia pandangi jendela bis untuk mengusir rasa sebal sebelum mengetik pesan kepada Seokjin lalu Namjoon lalu Jungkook lalu Hoseok dan terakhir menelpon Jimin.

"YAH! KENAPA ENGGAK NGANGKAT TELPON AKU HHA!!"

"Sori sori."

"Kamu beneran ke apartement Yoongi-hyung?"

"Yup."

"Oh Ya TUHAN! SPILL THE TEA!!!"

"Kamu di mana sekarang?"

"Di tempat Seoki-hyung sama Kookie. Kami baru balik dari rumah sakit."

"Seokjin-hyung udah cerita apa aja?"

"Katanya kamu yang gantiin Namjoon-hyung datang ke tempat Yoongi-hyung terus kamu juga yang gantiin Jin-hyung dan Namjoon-hyung jadi teman perjalanan Yoongi-hyung. Beneran Tae??"

"Yup."

"Oh! Akhirnya soulmate aku gerak juga! Im so proud of you!"

"Haha. Yeah...

"Setelah dua tahun lamanya Tae...

"Un...

"Kok bisa tiba-tiba gini?"

"Aku sendiri juga masih belum percaya Chim tapi tadi pas ngunjungin Seokjin-hyung entah kenapa hati aku bilang kalau enggak sekarang ya kapan lagi mumpung ada kesempatan emas."

"Benar-benar emas Tae. Perjalanan itu bikin orang makin dekat kan dan kalian bakal berduaan aja lho. Aaah, aku excited banget Tae."

"Aku deg-degan banget Chim."

"I know. Tapi jangan sampai salah tingkah ya ntar takutnya malah malu-maluin."

"Iya... aku usahain."

"Jadi gimana rasanya pertama kali masuk ke apartement Yoongi-hyung- tunggu, tunggu aku mau dengar langsung dari kamuuuuu, enggak puas cuman lewat telpon."

"Aku juga Chim tapi habis ini aku ada kuliah."

"Kalau gitu ntar siang kamu makan di sini aja ya. Aku ama Kookie udah janji mau masakin sesuatu buat Seokie-hyung sekalian buat kamu juga. Makin asik kalau makin rame."

"Oke sip."

"Bye bye Soulmate."

"Bye bye Soulmate."

 

 

***** *****

 

 

"Gimana?"Taehyung yang semula memanut-manut cermin tersenyum gugup ketika telah menghadap ke arah dua sahabatnya, "good?"

"Bagus kok Tae,"Jimin bersorak riang, meloncat dari tempat duduknya di ranjang untuk memutari Taehyung lebih dekat, "ganteng, cantik, cakep, rupawan, terbaik deh pokonya,"pujinya tulus dan benar-benar senang akhirnya menemukan outfit yang cocok untuk Taehyung kenakan setelah satu jam lebih menimbang-nimbang. Senyum Jimin berubah cemberut ketika kekasihnya yang tengah berbaring di atas tempat tidur menyeletuk,

"emangnya lo ama Yoongi-hyung mau pergi kencan apa."

"Ish! Kookie! Ini bahkan lebih dari sekadar kencan! Makanya Taetae harus-

"Keliatan banget lho kalo Taetae-hyung maksain diri buat dandan."

"Tae enggak usah dengerin Kookie ya."

"Tapi bener juga ya... justru aku jadinya norak banget dong Chim bela-belain dandan cuman untuk-

"Hush! Be quite! Salah apa kalau kamu emang keliatan banget sengaja dandan untuk seseorang yang kamu suka? Enggak kan. Wajar lho Tae."

"Heh harga diri lo jadi jatuh Hyung."

"Kookie udah ah! Kok malah ngerusak suasana sih. Keluar sana,"dengan sebal Jimin menarik paksa tubuh Jungkook untuk kemudian mendorongnya keluar dari kamar Taehyung, "kamu bicara harga diri. Apa enggak ingat gimana bucinnya kamu pas ngedeketin Seokie-hyung eoh. Dasar."

Jungkook hanya mendengus sebal dan memilih duduk di ruang makan asrama Taehyung dan Jimin. Dengan tampang masam dia tetap melanjutkan game di handphonennya.

"Serius Tae. Enggak usah mikirn omongan Kookie okay,"Jimin mengarahkan Taehyung untuk duduk di tepian ranjang sebelum meraih hairspray, sisir, catokan rambut dan jepitan, "dia cuman lagi bete aja soalnya ntar malam kami enggak jadi kencan ama Seokie-hyung."

"Eehh? Kenapa?"

"Hyung ada urusan mendadak."

"Yaah, padahal kalian udah lama enggak kencan bertiga kan."

"Ho oh. Tapi yah gini resiko pacaran ama orang udah kerja."

Taehyung menunduk lesu saat Jimin sudah mulai menata rambutnya.

"Hei, udah aku bilang jangan pikirin omongan Kookie. Pokoknya malam ini kamu harus dandan cantik biar ngantuk dan capeknya Yoongi-hyung hilang okay."

"Enggak enggak. Aku udah enggak mikirin omongan Kookie kok."

"Tapi kok kamu lesu Tae."

"Aku mikirin omongan kamu barusan."

"Hm? Yang mana?"

"Yang, eum, resiko pacaran ama orang yang udah kerja."

"Aaaahhh."

"Tapi bukannya aku kepedean bakal pacaran ama Yoongi-hyung ya. Aku cuman-

"Iya Tae. Iya. Aku paham kok."

"Apa Seokie-hyung emang sesibuk itu ya?"

"Sibuk banget sih enggak. Cuman ya nyocokin jadwal tiga orang itu susah banget lho Tae. Ditambah salah satu dari kami udah kerja ya jadinya gini."

"Ah bener juga."

"Tapi tadi siang kami masih bisa makan bareng kan."

"Duh, seharusnya tadi siang aku enggak usah ikutan nimbrung."

"Hei hei ~ Its okay Tae. Udah aku bilang makin rame makin asik kan. Toh Jungkook dan Seokie-hyung semangat banget dengerin cerita kamu."

"Hehe."

"Dan kamu enggak perlu khawatir kalo kamu pacaran ama Yoongi-hyung okay. Kalau sama-sama suka ya pasti deh bakal usaha mati-matian biar bisa punya quality time berdua."

"Kalau sama-sama suka...

"YAH! Udah berapa kali aku bilang kalau Yoongi-hyung itu sebenarnya suka juga kok sama kamu. Tapi ya karena dia tipikal apa ya, dating is not his thing karena itu dia enggak kunjung nembak kamu dan kamulah yang tugasnya ngelangkah lebih dulu. Kalau enggak ya kalian bakalan kaya gini aja terus. Makanya aku seneng banget lho Tae setelah sekian lama aku nasehatin otak bebal kamu itu akhirnya kamu sadar kalau emang harus make a move dan manfaatin kesempatan yang ada. "

"Kok kamu bisa yakin sih kalau Yoongi-hyung juga suka sama aku?"

"Insting."

"Heh."

"Eh tapi beneran lho. Cara dia natap kamu itu beda."

"Really Chim?"

"3000%"

"I hope so."

"Makanya dandan yang cantik terus jaga sikap biar enggak malu-maluin. Terus kalau dia-

"Yes Mom."

 

 

***** *****

 

 

Taehyung memutuskan untuk langsung mendatangi Yoongi walaupun yang lebih tua tidak membalas bahkan membaca pesan textnya. Pastinya Yoongi masih sibuk bekerja karena Taehyung satu jam lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Melihat Yoongi bekerja sebagai bartender adalah salah satu hal yang sejak dulu ingin Taehyung saksikan secara langsung. Bagaimana Yoongi di tempat kerja, bagaimana Yoongi selain di antara Seokjin dan kawan-kawan dekatnya. Taehyung sungguh penasaran karena itulah sekarang dia sudah sampai dan siap memasuki salah satu klub malam kawasan Gangnam.

Tak butuh lama untuk menemukan sosok Yoongi setelah memasuki Klub Butterfly namun ketika hendak menghampiri meja bar Taehyung dicegat oleh seorang pria tak dikenal.

"Sendirian ya Cantik."

Taehyung langsung ingin muntah mendengar basa-basi norak dari si pria asing yang sudah setengah mabuk. Tapi Si Pemuda Kim mencoba untuk bersikap sopan karena sedang tidak ingin cari gara-gara, "maaf ya Mas. Gue udah sama seseorang."

"Oh ya? Mana ya si seseorang itu kok enggak keliatan."

Oke. Taehyung tak ingin membuang-buang waktu dan memilih melanjutkan langkah. Benar-benar tidak peduli pada pria yang kemudian langsung meraih tangannya.

"Hei. Kok sok jual mahal gini sih. Aku cuman mau-

"Ngapain lo ama pacar gue hha."

Sebuah tangan memeluk kedua bahu Taehyung, empunya merupakan sosok pria tinggi yang juga tidak Taehyung kenal. Karenanya dia sempat mengenyit heran sebelum diberi besikan, "Bogum, temannya Min Yoongi."

"Hyung ke toiletnya kok lama sih,"maka Taehyung langsung ikut bersandiwara.

"Sori Babe hehe. Nah lo pergi sana."

Si pria setengah mabuk berlalu pergi setelah mendecak sebal dan Bogum langsung melepas tangannya dari Taehyung, "lo oke?"

"Oke kok. Thank you."

"Good. Yoongi nyuruh gue nyamperin lo pas liat lo diganggu ama cowok norak tadi."

Oh betapa Taehyung benar-benar senang mendengarnya. Dia lalu duduk manis di meja bar setelah berpisah dengan Bogum, dalam diam mematai Yoongi yang berpakaian khas bartender tengah sibuk meracik minuman serta melayani tamu. Beberapa kali pandangan mereka dibuat bertemu sebelum Yoongi berdiri tepat di hadapan Taehyung.

"Kamu enggak apa-apa?"

"Enggak apa-apa kok Hyung."

"Dia sempat narik tangan kamu tadi kan."

"Cuman megang doang kok Hyung."

"Beneran?"

"Bener Hyung. Dan makasih banyak ya Hyung udah mau nolongin."

"Kenapa kamu cepet banget datangnya, udah Hyung bilang sekitar jam 3an kan."

"Maaf Hyung."

"Kamu nunggu lama jadinya kan."

"Enggak apa-apa kok Hyung."

"Oke oke. Mau aku buatin apa?"

"Hmm...

"Ah, kamu kan enggak suka alkohol. Aku buatin koktail buah aja ya."

Taehyung jadi merasa diperlakukan seperti anak kecil tapi dia memang tidak suka dan tidak tahan dengan alkohol lagipula koktail buah bukan pilihan buruk kan. Maka dia tersenyum dan mengangguk, "please Hyung."

Lalu Taehyung menghabiskan koktail buah sambil bermain handphone, mengobrol dengan Bogum yang beberapa kali mampir dan mencuri-curi lirik ke arah Yoongi. Pria yang dia sukai itu tampak professinal dan bersahabat disaat bersamaan. Taehyung sempat cemburu melihat beberapa pelanggan tampak begitu akrab dengan Yoongi namun kemudian tersadar betapa dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kehidupan Min Yoongi. Masih sebatas kenalan biasa, masih sebatas 'adik sahabat' dan masih duduk sendirian dengan perasaan cemburu yang sepantasnya belum dia miliki.

Baru tadi pagi dia pertama kali datang ke apartemen Yoongi, baru kali ini dia datang ke tempat kerja Yoongi dan baru kali ini dia melihat Yoongi tertawa lepas selain bersama Namjoon dan Seokjin.

Nyesel aku datang lebih awal

-send

 

Eh eh eh eh kenapa kenapa?

-chimchim

 

Enggak sedikit pelanggan yang akrab ama Yoongi-hyung

-send

 

Kamu cemburu?

-chimchim

 

Yeeep

-send

 

Ya wajarlah kamu cemburu, namanya juga suka

-chimchim

 

Tapi aku belum berhak untuk cemburu chim, emangnya aku ini siapanya Yoongi-hyung

-send

 

Kan kamu calon pacarnya Tae ya berhak-berhak aja sih

-chimchim

 

Bisa aja salah satu heh atau salah banyak dari pelanggan yang akrab ama Yoongi-hyung itu juga calon pacarnya kan

-send

 

God. Gitu lagi gitu lagi. Kamu ini hobi banget minder dan ujung-ujungnya enggak jadi deketin Yoongi-hyung

-chimchim

 

Apa aku pulang kali ya

-send

 

YAH! BERANI KAMU PULANG KITA ENGGAK BAKAL SAHABATAN LAGI OKAY!

-chimchim

 

Chiiiimmmmm

-send

 

Sekarang kamu harus optimis! Kamu yang bakalan nemenin dia pulang balik seoul-daegu kan! Kalian emang belum dekat dan karena itulah kamu harus manfaatin perjalanan ini sebaik-baiknya biar bisa makin deket dengan Yoongi-hyung

-chimchim

 

-typing...

 

OKAY KIM TAHYUNG?!

-chimchim

 

Oke oke

-send

 

Goooddd

-chimchim

 

Thanks chim

-send

 

Good luck Taehyungie

-chimchim

 

Thanks!!

-send

 

"Aku udah selesai."

Taehyung mendongak mendapati Yoongi telah melepas celemek hitam sepinggangnya, "oh, iya Hyung."

"Tunggu bentar ya. Aku beres-beres dulu."

 

Kami uda mau berangkat ><

-send

 

GOOD LUCK MY SOULMATE!!!!

-chim

 

 

 

***** *****

 

 

 

Taehyung terdiam ketika Yoongi memasukkan sekotak buah strawberry ke troli belanjaan mereka saat mampir ke supermarket 24 jam sebelum benar-benar meninggalkan Kota Seoul. Setahu Taehyung Yoongi tidak terlalu menyukai buah terutama yang sejenis strawberry.

Taehyung makin heran ketika Yoongi memasukkan jus strawberry, permen strawberry dan berbagai camilan lainnya rasa strawberry, "Hyung suka banget ya ama strawberry?"

"Eh?"wajah Yoongi benar-benar bingung, "ini buat kamu. Kamu suka strawberry kan?"

Sepasang kaki Taehyung langsung berubah menjadi jelly. Dia meremas troli begitu kuat agar tidak merosot jatuh dengan kedua pipi yang benar-benar merona.

"Taehyung?"

"Enggak usah repot-repot Hyung."

"Enggak apa-apa kok. Sepanjang perjalanan kita emang butuh camilan kan. Tambah gih, sisanya kamu sendiri yang milih ya. Dan balikin aja yang udah aku ambil kalau ada yang enggak kamu suka."

"Oke. Makasih banyak Hyung."

Sekitar setengah jam kemudian mereka telah memasuki jalan tol Yeongdong menuju Daegu. Taehyung memandangi dashbor di mana sekotak rokok bersebelahan dengan sebungkus permen strawberry. Dia juga memandangi batang rokok yang diamit bibir tipis Yoongi dan sekotak buah strawberry yang dia pangku sendiri. Mereka berdua memang benar-benar berbeda.

 

Strawberry and Cigarette.

 

Yoongi terkesan cuek dan Taehyung penuh afeksi. Yoongi jago minum dan Taehyung sama sekali tidak tahan alkohol. Dandanan Yoongi kasual serba gelap dan gaya penampilan Taehyung seringnya vintage dengan banyak warna.

"Jadi nanti kita benar-benar langsung putar balik ya Hyung?"

"Yup. Kita udah harus sampai di Seoul sebelum jam 12 biar aku enggak telat masuk kerja."

"Apa enggak bisa cuti satu hari aja Hyung?"

"Cuman karna bolak balik Seoul-Daegu? Enggak ah. Bagusan make kesempatan cuti yang berharga itu untuk hal lain kan."

"Hm. Benar juga sih."

"Apalagi kalau di restoran tempat Hyung kerja itu."

"Serendipity?"

"Yup. Di Serendipity karyawan yang enggak pernah cuti bakalan dapat banyak bonus di akhir tahun."

"Hyung lagi jor-joran banget ya ngumpulin duit sampai-sampai maksain diri kerja di dua tempat."

"Yeah."

"Boleh aku tahu kenapa Hyung?"

"Hm, Jin enggak pernah cerita ya?"

"Eum, enggak Hyung,"Taehyung menggeleng dan bersumpah bahwa terbesit rasa kecewa di sudut mata Yoongi yang tetap fokus melihat ke depan. Yang lebih tua lalu tergelak pelan, "aku pikir dia selalu cerita soal aku ke kamu ternyata akunya aja yang kegeeran ya."

"Seokjin-hyung emang sering cerita soal Hyung kok. Aku tau kalau ternyata Hyung pecinta kucing dan selalu narok makanan kucing di belakang Serendipity dan Butterfly. Aku juga tau kalau Hyung pernah makan bath bom karena penasaran banget gimana rasanya-

"Aish. Malah yang aneh-aneh dia ceritain."

"Enggak aneh kok Hyung. Aku juga pernah makan pensil warna karena penasaran wanginnya kok enak banget."

"He eh,"Yoongi tertawa, "jadi gimana rasanya, enak?"

"Ya pahitlah Hyung."

"Jadi Jin masih sering cerita tentang aku ya."

"Yuup."

"Dan dia belum pernah cerita kenapa aku kerja keras ngumpulin duit?"

"Belum. Aku rasa karena benar-benar personal dan kita belum terlalu dekat jadi Seokjin-hyung belum pernah cerita."

"Kamu ngerasa kita belum dekat ya?"

"Ou..."

"Yah. Padahal aku ngerasa sebaliknya lho."

"EH?"

"Nah, aku kepengen punya studio musik sendiri."

"Studio musik?"

"Sebenarnya cita-cita aku itu jadi produser musik."

"Really!?"

"Yup."

"Ah. Katanya waktu masih kuliah dulu Hyung sama Namjoon-hyung sering perform gitu ya."

"Yup. Bahkan kadang bareng Jin."

"Iya. Suara Seokjin-hyung bagus banget dan dia pinter nyanyi."

"Tapi ya, enggak semua orang bisa ngejar impian mereka kan. Kami mutusin untuk kerja yang punya penghasilan pasti dan stabil dulu. Soal impian pasti bisa kami kejar lagi kalau hidup kami udah jauh lebih baik dari sekarang."

"Pemikiran yang bagus banget Hyung."

"Nah semoga memang seperti yang kami harapkan. Kamu sendiri?"

"Hm?"

"Impian kamu?"

"Oh. Aku mau jadi designer."

"Udah aku duga."

"Tapi akhir-akhir ini aku ditawarin untuk jadi model."

"Dan udah aku duga juga."

"Eh?"

"Mustahil kamu enggak sadar Taehyung. Secara fisik kamu itu udah setara ama artis lho. Jadi ya wajar kan ditawarin gitu."

Taehyung tak ingin Yoongi berpikir dia sedang demam tapi mau bagaimana lagi pipinya tak bisa tidak memerah mendengar ucapan Yoongi barusan. Hari ini entah sudah berapa kali wajah Taehyung merona karena sikap dan perkataan Yoongi.

"Terus kamu terima?"

"Masih aku pikirin Hyung."

"Terima aja. Jadi ntar kamu bisa hemat karena enggak perlu lagi nyewa model untuk rancangan kamu sendiri."

"Hyung, stop it...

"Apa?"

"Aku enggak segood looking itu kok."

"Kamu enggak bisa dipuji ya. Aigo, beneran kakak-adik hm. Jin itu juga paling enggak tahan dipuji. Telinga dan leher dia pasti merah banget tiap nerima pujian atau perhatian."

"Aku- aku juga gitu."

"Aku tau. Seharian ini udah berapa kali pipi kamu merona."

Taehyung ingin menelpon Jimin detik ini juga.

Jantungnya benar-benar tak tahan jika berada di dekat Yoongi lebih lama lagi jika sikap Yoongi tetap seperti ini. Kemudian gerimis berubah menjadi hujan deras membantu Taehyung mencegah niatnya untuk mengganggu tidur sang soulmate sejati. Jantungnya tetap berdebar kencang namun kali ini karena khawatir sebab gemuruh dan petir tak ada ampun menyerang langit.

"Its okay."

"Deras banget Hyung."

"Aman kok."

"Hyung udah biasa nyetir ke keluar kota ya?"

"Enggak. Perdana ini- hei, kamu enggak usah cemas. Kita bakalan baik-baik kok."

"Pantes Seokjin-hyung enggak mau Hyung jalan sendiri."

"Tapi bukan berarti aku penyetir yang buruk okay."

"Aku enggak mau mati muda Hyung."

"Yah! Dasar!"

Taehyung tertawa lepas karena berhasil membuat Yoongi kesal dan sebuah tangan kemudian sampai di pucuk kepalanya, mengacak-acak rambut yang sudah sedemikan ditata oleh Jimin hingga berantakan, "brat."

"Bercanda Hyung. Daritadi aku perhatiin Hyung enak kok bawa mobilnya."

"Ya pastilah."

"Aku jadi mau nyetir juga."

"Kamu belum dapat SIM ya?"

"Belum."

"Heh. Bagusan Jin yang ikut biar kami bisa gantian walau sebentar."

"Ya udah, turunin aja aku Hyung. Enggak ada gunanya aku ikut."

"Oke. Beneran aku turunin ya."

"Hyuuung."

 

 

***** *****

 

 

 

Taehyung tak pernah bepergian keluar kota dengan mobil pribadi sebelumnya, begitupun Yoongi tetapi sekarang keduanya sama-sama sadar bahwa ada yang salah dengan rute yang mereka ambil setelah keluar dari jalan tol.

"Hyung."

"Hm?"

"Kok kita kaya di pesawangan gitu ya Hyung."

Hujan deras sama sekali tidak mereda malah makin menjadi-jadi mengguyur bumi. Angin kencang memperburuk situasi ditambah dengan gemuruh petir yang menggelegar dahsyat dan jalanan sepi yang terlihat menyeramkan berkali-lipat disaat cuaca sedang murka begini. Semua itu membuat Taehyung tidak bisa lagi bercanda soal mati muda karena ya tentu saja sekarang keselamatannya memang terancam dalam artian yang sesungguhnya.

"Apa GPS-nya salah ya."

Taehyung mencermati GPS mobil hanya untuk kemudian menatap horor ke arah Yoongi,

"hyung... kayanya... GPSnya error deh...

"Hha??"

Dengan begitu Yoongi menepi dan memeriksa sendiri GPS mobil. Dia mengumpat dan mendesah kasar lalu meraih handphone untuk mendapati jaringan internet yang tidak ada.

"Shit."

"Kok bisa error gini Hyung???"

"Karena mobil ini habis kecelakaan."

"Hha??"

"Ini mobil paman hyung yang tinggal di Daegu. Minggu kemaren istrinya bawa sendiri ke Seoul terus kecelakaan. Nah, si istri trauma bawa mobil dan paman Hyung harus selalu nemenin istrinya kan. Jadinya aku yang disuruh anterin ke Daegu sekalian bawain barang-barang pesanan semua keluarga."

"Kalau error gini seharusnya belum boleh keluar bengkel dulu dong Hyung."

"Dua hari lalu Hyung pake keliling kota aman-aman aja kok."

"Terus gimana sekarang?"

"Kita lurus aja terus sampai nemu pom bensin atau pemukiman warga,"ucap Yoongi kembali melajukan mobil pelan-pelan, "kita tanya sana-sini dan terpaksa lanjut cari jalan secara manual."

"Oke...

"Enggak ada yang perlu dikhawatirin okay."

"Un...

Yoongi bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan tetapi baru lima menit kemudian ban belakang kempes menyusul mesin mobil yang mendadak tak bisa dihidupkan. Dia mengumpat di dalam hati dan Taehyung rasanya ingin menangis, si pemuda Kim paling tidak tahan dengan situasi yang menyeramkan maupun menegangkan seperti di film-film horror.

"Aku bisa ganti ban-

"Tapi di luar deras banget lho Hyung."

"Setelah ganti ban biar Hyung periksa mesin-

"Tapi di luar-

"Jauh lebih baik gitu daripada harus nunggu sampai reda atau sampai ada yang lewat kan. At least kita usaha dulu."

"Ada payung enggak di sini?"

"Nope."

"Aku bantu Hyung."

"Kamu bisa ganti ban?"

"Enggak bisa sih tapi Hyung bisa kasih arahan apa yang musti aku lakuin kan."

"Kamu bawa baju ganti kan?"

"Yup."

"Sip."

Baru dua langkah keluar dari mobil Yoongi dan Taehyung sama-sama kembali masuk dan menggeleng-geleng.

"Enggak bisa. Deras banget."

"Iya Hyung."

Tetapi meskipun dalam waktu sesingkat itu hujan deras berhasil membuat baju mereka benar-benar basah kuyup. Yoongi membersihkan kerongkongannya sebelum berkata, "kita bisa ganti baju di bangku belakang, kamu duluan."

"Ou. Oke Hyung,"Taehyung beranjak ke bangku belakang dan meraih ransel yang sejak semula memang ditaruh di sana bersebelahan dengan ransel Yoongi. Keningnya mengerut banyak mendapati hanya ada makanan di dalam tasnya dan... sekotak kondom... sebotol lube... secarik note dari Jimin yang berisi,

 

"ngapain kamu repot-repot bawa baju segala kalau bisa pinjam punyanya Yoongi-hyung uwu."

 

"PARK JIMIN!!"

Yoongi terlonjak kaget mendengar teriakan Taehyung dan menahan diri untuk tidak menoleh ke arah belakang, "kenapa Taehyung? Kok tiba-tiba teriak Park Jimin."

"Aishhh."

"Kamu oke?"

"Enggak oke Hyung."

"Ada apa?"

"Ternyata aku lupa bawa baju ganti."

"Oooh."

Taehyung kembali ke tempat duduk semula seraya merapal mantra kutukan dalam kepalanya teruntuk pemuda jahil bernama Park Jimin. Sahabatnya itu memang ada-ada saja.

"Kalau gitu pake baju aku aja."

"Hyung bawa baju dua?"

"Cuman satu sih."

"Kalau gitu enggak usah Hyung."

"Nanti kamu sakit-

"Justru Hyung yang sekarang lebih rentan lho. Badan Hyung pasti udah capek banget karena seharian udah kerja terus nyetir sedangkan aku enggak ngapa-ngapain kan."

"Kamu beneran enggak apa-apa."

"Bener. Hyung ganti baju deh sekarang."

"Oke oke."

Dengan begitu Yoongi berpindah ke bangku belakang dan mulai mengganti pakaiannya sedangkan Taehyung mulai menscroll handphone seraya berharap terjadi sebuah keajaiban yaitu sinyal-

"OH YA TUHAN HYUNG! ADA SINYAL!"

Sorak Taehyung kelewat senang hingga tanpa sadar menoleh ke belakang di mana Yoongi sedang setengah telanjang. Memang gelap gulita tetapi tidak membuat sepasang mata Taehyung buta total. Dia masih dapat melihat dada bidang itu, kulit pucat itu dan otot perut yang meskipun tidak sekekar Jungkook tetapi tercetak rapi- oh shit.

"Maaf Hyung!"Taehyung cepat-cepat berpaling dan kembali menghadap ke depan. Terdengar olehnya Yoongi tertawa pelan,

"enggak usah minta maaf segala. Jadi ada sinyal ya. Bagus itu. Coba cari pom bensin atau bengkel dekat sini."

"Iya Hyung, hmmm, ada Hyung! Sekitar dua ratus meter dari sini! Oh Ya Tuhan syukurlah."

"Ada kontaknya?"

"Ada! Ada! Aku hubungin sekarang."

Sepuluh menit kemudian sebuah cahaya terang menyilaukan pandangan Yoongi yang tengah merokok dan Taehyung yang tengah menguyah buah strawberry. Cahaya itu berasal dari sebuah kendaraan yang kemudian berhenti tepat di depan mobil Yoongi. Lalu seorang pria bermantel hitam keluar dari sana, pembawaannya tampak cukup mencurigakan hingga Taehyung bergetar mengatakan,

"Hyung jangan bukain pintu."

"Kayanya dia mau nolongin kita deh,"sedangkan Yoongi tidak terlalu ambil pusing, "itu bukannya orang bengkel yang kamu hubungin?"

"Enggak ah Hyung. Dia itu pasti psikopat, series killer-

"Heh. Dasar kebanyakan nonton film-

"Serius lho Hyung. Dan orang-orang kaya Hyung ini yang mati duluan lho."

"Plis Taehyung. Coba liat baik-baik deh, itu mobil derek lho."

Taehyung menyipit untuk menajamkan penglihatan dan kemudian mengangguk-angguk paham, "oh bener juga haha. Syukurlah....

"Kayanya kamu udah mulai demam deh. Pikiran kamu udah ke mana-mana soalnya."

"Enggak kok Hyung aku cuman jaga-jaga. Enggak boleh segampang itu percaya-

"Iya iya."

Jendela mobil diketuk–ketuk dan sebuah teriakan terdengar dari luar, dibuat selantang mungkin untuk melawan suara hujan maupun badai, "BENGKEL BUPYEONG!"

"Jangan percaya dulu Hyung. Bisa aja dia cuman ngaku-ngaku."

"MINKIM CHIVANTE???"teriak si pria asing lagi.

Dan Yoongi terkekeh melihat ekspresi Taehyung,"masih enggak percaya hm."

 

 

***** *****

 

 

Beruntung sekali karena tidak hanya bengkel tetapi Bupyeong adalah sebuah area peristirahatan, terdapat Motel Bupyeong, Pom Bensin Bupyeong dan Minimarket 24 jam Bupyeong. Setelah mobil Yoongi dibawa masuk ke dalam bengkel dan mulai ditangani oleh dua orang teknisi, sang bartender dan si mahasiswa basah kuyup memutuskan untuk menyewa kamar motel. Taehyung butuh mandi dan Yoongi butuh kasur sambil menunggu mobil diperbaiki.

Ketika memasuki motel sederhana yang terawat baik Taehyung berharap sebuah kejadian klise di drama-drama romantis akan terjadi pada dirinya dan Yoongi. Di mana hanya tersisa satu kamar saja dengan satu tempat tidur doublebed hingga dua tokoh utama mau tak mau terpaksa tidur satu ranjang berdua. Namun nyatanya ada tiga kamar kosong dengan dua tempat tidur singlebed.

Taehyung berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Setelah setengah perjalanan dan sempat terjebak di tengah hujan deras jantungnya sudah mulai terlatih untuk berdekatan dengan Min Yoongi. Maka tidur seranjang, tidur dalam artian yang sesungguhnya, telah siap Taehyung hadapi. Jadilah dia benar-benar berharap namun akhirnya sadar bahwa dia tidak sedang berada di dalam drama romantis melainkan di dalam realita kehidupan di mana harus berpandai-pandai memanfaatkan kesempatan yang ada bukannya menunggu penulis skenario untuk menciptakan momen dengan si dia.

Wanita tua di resepsionis sangat ramah, bercerita banyak dan menyambut hangat bak kawan lama. Memperkenalkan diri sebagai Aera dan berkata Bengkel Bupyeong berkembang menjadi Area Peristirahatan karena semakin banyaknya orang yang tersesat karena salah keluar jalur tol. Yoongi membalas Aera dengan senyuman simpul sebelum menerima kunci kamar,

"kami juga salah keluar jalur tol Bi."

Aera tergelak pelan, wanita itu menyarankan Yoongi dan Taehyung untuk mengisi perut di minimarket. Di sana dijual hidangan lezat yang dapat menghangatkan badan. Dua sosok tampan di hadapannya mengangguk paham dan berterima kasih banyak sebelum berlalu pergi ke kamar mereka.

Selagi Taehyung mandi, Yoongi pergi untuk melaundry pakaian basah mereka berdua dan membeli hidangan yang tadi Aera sebutkan. Sekembalinya yang lebih tua ke kamar, dia dihadapkan pada Taehyung yang berpakaian handuk tengah mengeringkan rambut sambil duduk di tepian ranjang.

"Makan yuk,"ajak Yoongi menaruh bungkusan makanan di atas meja berkursi dua di sudut kamar. Dia mulai duduk dan Taehyung segera menyusul.

"Oh thanks banget Hyung. Aku lapar banget."

"Habis makan aku turun untuk jemput baju, kata Aerassi pasti udah kering."

"Okeee."

"Semoga mobilnya cepet diperbaiki."

"Semoga. Teknisi bilang sekitar dua jam ya?"

"Tiga jam kurang."

"Ah, berarti kita refund tiket kereta terus beli yang baru?"

"Nope. Kita masih sempat kok. Hyung sengaja beli tiket jam sepuluh karena Hyung tau kalau ibu Hyung pasti maksa istirahat sebentar dan sarapan di rumah."

"Hooo. Gitu. "

"Karena kejadian ini berarti nanti kita bener-bener langsung putar balik. Sekadar nyapa doang terus langsung ke stasiun."

"Sip sip."

 

 

***** *****

 

 

Setelah Taehyung tidak lagi memakai baju handuk dan Yoongi mulai berbaring di atas tempat tidur, hujan deras perlahan-lahan berganti menjadi gerimis.

"Istirahat aja Hyung, nanti aku bangunin."

"Oke. Thanks."

Semula Taehyung hanya sibuk memainkan handphone sambil menghabiskan sisa camilan rasa strawberry. Namun tak lama kemudian pandangan serta perhatiannya hanya mau tertuju pada sosok pria yang tampak tertidur pulas di ranjang sebelah. Tubuh Taehyung lalu bergerak sendiri, duduk di atas karpet dan merebahkan kepala pada lipatan tangan sendiri yang diletakkan di tepian kasur Yoongi.

Pemuda Kim memperhatikan wajah itu dalam-dalam. Baru kali ini dia melihat langsung seorang Yoongi yang tertidur pulas-

"Ada yang aneh dengan wajah aku?"

-seorang Yoongi yang ternyata belum tertidur pulas. Taehyung benar-benar kaget dan tubuhnya lebih dulu ditarik sebelum sempat menjauh. Detik berikutnya dia telah berada di bawah kungkungan Yoongi dengan napas tersengal-sengal dan pandangan yang dikunci oleh tatapan tajam.

Selang beberapa detik hanya deru napas Taehyung yang memenuhi ruangan sebelum Yoongi kian mendekatkan wajah mereka berdua. Lalu dalam diam seolah-olah dua sosok itu mengerti bahwa tubuh mereka tak dapat menolak tarikan dari satu sama lain.

Entah siapa yang lebih dulu memejamkan mata, entah siapa yang lebih dulu mempertemukan bibir mereka berdua yang jelas Taehyung benar-benar meleleh dan terlena. Tubuhnya memanas saat Yoongi mulai melumat belah bibirnya untuk kemudian berhasil membuka mulut Taehyung dengan lihai dan memabukkan.

Taehyung merasakan pahitnya rokok sedangkan Yoongi merasakan manisnya strawberry saat lidah mereka mulai bermain nakal. Lalu dua rasa itu berpadu di dalam mulut mereka sebab dua saliva telah bercampur tanpa segan. Taehyung merengek saat Yoongi menyudahi ciuman mereka namun langsung melenguh keenakan saat Yoongi mencumbu leher jenjangnya.

"Hyunggnh."

"Kamu cantik banget Tae,"tangan Yoongi meraba-raba selangkangan Taehyung.

"Hyung,"sedangkan tangan Taehyung meremas sepray.

"Boleh Hyung nyentuh kamu Tae?"bisikan berat itu membuat Taehyung kian panas. Matanya terpejam erat dan dagunya kemudian diraih oleh yang lebih tua, "Tae?"

"Please Hyung...

"Kamu yakin?"

Ditanya begitu membuat pikiran Taehyung tak lagi penuh oleh hawa nafsu. Nada bicara Yoongi begitu lembut, tatapan Yoongi penuh pertimbangan sehingga Taehyung akhirnya sadar apakah mereka memang boleh melangkah lebih jauh lagi disaat perasaan mereka belum terungkap secara gamblang.

"Aku suka sama kamu Hyung."

Yoongi tidak begitu terkejut mendengar itu. Malah sepertinya dia sudah menyangka Taehyung akan mengatakannya. Tatapan dan senyumannya menghangat saat Taehyung lanjut bicara, 

"apa kamu juga suka sama aku, Hyung?"

"Always Tae. Aku juga suka sama kamu."

"Really?"

Air mata Taehyung mulai berlinang dan Yoongi mengecup keningnya dalam-dalam.

"Sori baru ngaku sekarang ya dan plis jangan salah paham. Aku bilang aku suka sama kamu bukan karena kebawa suasana okay. Tapi karena aku memang suka sama kamu udah sejak lama."

Oh. Taehyung sudah terisak-isak, "sejak kapan Hyung- hiks."

"Hei, jangan nangis."

"Enggak bisa enggak nangis soalnya aku seneng banget Hyung."

"Hmm, sejak kita rame-rame libur musim panas di Busan?"

"Eeeeh, udah- hiks lama dong Hyung."

"Yup- hey, don't cry baby."

"Hiks."

"Aku tanya sekali lagi ya, boleh aku nyentuh kamu Baby?"

"Please Hyung."

"Glad to hear that."

Maka Yoongi mulai melucuti pakaian mereka berdua. Memberikan Taehyung banyak ciuman dan sentuhan manis yang berujung sensual penuh kenikmatan. Saat dua kemaluan mereka bertemu, dikocok oleh lima jari Yoongi dan lima jari Taehyung, bibir mereka tak berhenti mendesah enak dibalik ciuman panas yang kian menggairahkan.

"Hyung aku mau datang."

"Aku juga Baby. Come with me."

Birahi yang sama-sama memuncak membuat Yoongi dan Taehyung menyemburkan cairan putih secara bersamaan. Taehyung melenguh dan Yoongi menggeram nikmat. Lalu permainan mereka tidak berhenti sampai disitu saat Taehyung kembali meraup belah bibir Yoongi, kembali membawa mereka ke dalam ciuman panas sehingga libido lagi-lagi meningkat tajam. 

Terengah-engah Taehyung berkata pelan, "Hyung, aku bawa kondom dan lube."

"Eh?"

"Mak- maksudnya bukan aku! Tapi Jimin...

"Waw. Kalian benar-benar soulmate sejati hm."

Taehyung hanya bisa menunduk dengan wajah merah.

"Jadi kamu masih mau lanjut ya?"

"Ka-kalau Hyung udah capek-

"Hei, jangan ngeremehin stamina aku ya."

"Jadi?"

"Kondom dan lube. Di ransel kamu kan?"

Taehyung menggangguk malu dan Yoongi berbegas turun dari ranjang untuk mengambil dua barang dari ransel Taehyung. Dia tertawa pelan seraya berkata, "nanti sampaikan ucapan terima kasih Hyung ke Jimin ya."

Mendengar itu Taehyung ikut tertawa. Tubuhnya lalu kembali dikungkung oleh yang lebih tua, Yoongi sempatkan untuk bercumbu panas sebelum membasahi jemarinya dengan lube dan mulai menyiapkan lubang Taehyung untuk dia masuki kemudian.

Jari-jari Yoongi bergerak telatan membuka jalan penuh perasaan. Tiap sebentar dia membaca ekspresi wajah Taehyung, tiap sebentar dia mengecup telinga Taehyung seraya berbisik, "kamu indah Tae. You doing so good Baby."

"Hyungnh."

Setelah empat jari Yoongi telah lancar keluar masuk lubang Taehyung, bungkusan kondom dirobek dan isinya dipakaikan pada batangan Yoongi yang sudah benar-benar mengeras dan tak sabar untuk segera memasuki Taehyung.

"Tae, Hyung masuk ya."

Taehyung mengangguk-angguk cepat dan kian kuat meremas sepray. Bibirnya hendak digigit namun mulut Yoongi sudah lebih dulu mencegah itu. Mulut Yoongi juga berbisik, "aku suka sama kamu Tae,"dengan penuh perasaan dan begitu tulus saat perlahan-lahan mulai memasuki Taehyung.

Dibalik perih yang berujung nikmat Taehyung mengamit kedua pipi Yoongi dan mengecupnya satu-satu, "aku juga suka sama kamu Hyung."

Mereka lalu melakukan penyatuan intim dengan penuh kasih. Taehyung kembali menangis terisak-isak karena saking terharu. Dia juga menangis karena keenakan. Air mata Taehyung juga tumpah ruah saat penis Yoongi selalu berhasil menumbuk prostatenya. Memanjakan Taehyung seperti sudah paham betul bagaimana setiap sudah tubuh yang lebih muda.

"Baby."

"Hyungnh!"

Gerakan Yoongi kian liar hingga membuat tubuh Taehyung kian bergelinjang tak karuan. Dan seperti sebelumnya mereka kemudian datang disaat bersamaan.

Kening basah Taehyung dikecup Yoongi sebelum tubuhnya lemas tak sadarkan diri.

 

 

***** *****

 

 

gue udah nganu ama Yoongi-hyung hehe

-send

 

CEPET AMAT!!!

-chimchim

 

Ya kan kamu sendiri yang masukin kondom dan lube ke ransel aku

-send

 

YA TAPI ITU KAN CUMAN BECANDAAN DOANG SUMPAH AKU NGGAK NYANGKA KALIAN BAKAL BENERAN NGANU!!!!

-chimchim

 

nanti kalau udah balik aku cerita hoho

-send

 

OH YA TUHAN!! SELAMAT TAEEEE!!!!!

-chimchim

 

Hoho ~

-send

 

 

 

-END-

 

 

Notes:

begitulah....

#deepbow gamsahamnida

kindly asking for your feedback ^^

see u next supv time ~~~