Work Text:
Tak banyak yang kutahu tentangnya, namun, berlimpah pula seribu apresiasiku kepadanya.
Selain mahir dalam mengayunkan pedang yang ujung tajamnya baru saja diasah, ia juga tak pernah kenal dengan yang namanya lelah. Bahkan, saat beban hidupnya semakin ditambah oleh kehadiranku; seorang kawan, sekaligus muridnya yang selalu mengeluh akan segala hal, ia tak pernah putus asa dalam mengasah kemampuan berpedangku yang tak seberapa dengannya.
Semakin dibuat terpukau diriku bahwa nyatanya—ia juga mahir dalam mengontrol emosinya. Seakan telah berdamai dengan emosinya yang stabil.
Sungguh, begitu memukau.
Untukmu, Kakak; seorang kawan dengan julukan "Pendekar Pedang Terkuat" di Desa, mengagumi eksistensimu adalah sebuah kehormatan untukku. Terlepas dari segala kekurangan yang satu per satu kau sebutkan padaku kala itu, semua itu tak menjadi penghalang untukku terus mengagumimu.
Untukmu juga, Kakak; di lubuk hatiku yang terdalam, aku begitu merindukanmu. Senyumanmu, gelak tawamu, segalanya, semuanya begitu manis, begitu pula menyakitkan. Merindukanmu adalah sebuah kebahagiaan serta lara yang tercampur, namun tak pernah larut.
Harapan terakhirmu bagaikan bintang tertinggi yang hanya dicapai oleh seorang pecundang yang terjebak dalam masa lalunya. Penuh tantangan untuk digapai, seakan nyaris mustahil untuk diraih.
Sekali lagi, aku; Pendekar kecilmu, merindukanmu dengan sepenuh hatinya.
Berangan-angan bahwa dirimu hadir di sisiku, bersamaku. Seperti saat di mana kita sedang duduk di meja makan dengan sepiring ayam bakar dengan bumbu kesukaanku, serta secangkir teh hangat beraroma menenangkan yang tak pernah kau lewatkan untuk memulai pagi. Atau saat kita berdua sedang merenung di balkon Dojo tanpa sepatah kata apapun karena sedang melepas penat setelah melewati hari yang panjang dengan berlatih. Kemudian, kita berdua memuja cantiknya swastamita; matahari terbenam.
Sungguh, betapa beratnya rinduku untuk mengulang hari yang berkesan kala itu.
Namun, egoisnya, takdir berkata lain.
Kejamnya takdir menimpaku secara bertubi-tubi.
Kakak, gugur dalam eratnya pelukan, dengan isak tangis penuh lara membiru. Lara yang membiru ini menandingi rasa pilunya luka gores yang kudapat dari tragedi kala itu. Selain itu, luka gores yang kudapat tak seberapa dengan luka miliknya. Lengannya bersimbah dengan darah yang bercucuran, bagian lukanya entah kenapa menciptakan warna keunguan, membuat tubuhnya mati rasa, meninggalkan tanda tanya besar.
Mustahil, semua ini mustahil. Bagaimana bisa? Tidak, tidak mungkin.
Tidak.
Tidak.
TIDAK.
Tidak mungkin sosok kejam di luar sana merenggut nyawa seorang kawan yang bahkan belum mencapai harapannya—harapan terakhirnya dengan sepenuhnya; tak ingin kehilangan seseorang yang dicintainya, lagi.
Dengan ini, aku, Yama; membenci hujan tanpa pengecualian. Hujan yang menutupi bulir air mata Kakak, menutupi rasa laranya yang tak pernah ia ceritakan kepadaku. Hujan pula yang seakan merendahkan perasaanku akan kepergian Kakak.
Untukmu sekali lagi, Kakak; kini, maut telah memisahkan kita. Merenggut kebahagiaanku, kebahagiaanmu juga. Kau yang selalu kudambakan, harapanmu pula yang menjadi harapan keduaku. Namun, semuanya telah gugur tanpa sisa. Lalu, apa yang perlu dipertahankan?
Dengan ini, dalamnya lautan tak menjadi ancaman untukku mengusir satu-satunya pecundang yang selalu bergantung pada orang lain di kelamnya dunia ini; aku, Yama.
FIN.
— neiradre | neistra
02/12/22
