Actions

Work Header

Story of The Lilies

Summary:

SEKAI adalah sebutan untuk dunia ini, dan di dalamnya, ada dua kota yang bersebelahan bernama White Lily dan Black Lily.
Jika kamu penasaran dengan mereka, mengapa tidak mampir sejenak untuk mengintip sebagian kecil dari kisah mereka?

ch 1 dan 2 : Mafukasa
ch 3 dan 4 : Akikoha

Chapter 1: The Smiling Black Lily

Chapter Text

Lily hitam tidaklah cantik. Warna mereka sangat membosankan, dan semua orang menghindari mereka. Tidak ada seorang pun yang berpikiran untuk mendekati mereka, dan mengenal mereka dari dekat. Ya, lily hitam tidak diinginkan oleh siapapun.

~***~

Mafuyu duduk di tengah hamparan lily hitam. Tangannya mengelus kotak musik yang berada di atas pangkuannya dengan hati-hati. Iris matanya yang berwarna ungu menatap kosong ke arah kotak musik itu. Untuk sesaat, lantunan melodi dari kotak itu berhasil menekan gelisah di hatinya, tapi itu tidak bertahan lama. Perasaan negatif itu perlahan kembali, menekan dadanya, membuat Mafuyu sesak. Tapi ia sudah terbiasa dengan ini. Ia hanya perlu duduk diam dan membiarkan emosi itu menguasai dirinya. Ya, ia hanya perlu menahannya, dan perasaan gelisah ini akan berlalu.

“Kamu baik-baik saja?”

Sebuah suara asing memanggil dirinya. Perlahan ia mendongakkan kepalanya, dan netranya bertemu pandang dengan sepasang manik keemasan yang bersinar layaknya bintang -begitu kontras dengan dirinya. Pakaian lelaki di hadapannya berwarna putih menyilaukan mata, dan Mafuyu melihat beberapa ornament lily putih menghiasi pakaiannya. Ah, ternyata orang ini berasal dari White Lily.

“Lily putih. Kenapa kemari?” tanya Mafuyu pelan.

Pria itu tersenyum. “Aku ingin bertemu seseorang, dia tinggal di Black Lily. Kebetulan aku melihatmu duduk di tengah hamparan lily hitam ini, jadi aku memutuskan untuk menyapa!”

Alasan yang tidak masuk akal, pikir Mafuyu dalam hati. Gadis itu merasa tidak perlu meladeni orang dihadapannya, toh cepat atau lambat orang itu akan pergi. Tidak ada yang betah berlama-lama bersama lily hitam.

Namun, bukannya pergi, lelaki itu malah duduk di hadapan Mafuyu, dan masih dengan senyuman lebar, ia memperkenalkan diri, “Namaku Tenma Tsukasa, dari White Lily! Siapa namamu?”

Mafuyu tidak langsung menjawab, ragu untuk memberitahukan namanya pada orang asing. Namun, karena laki-laki itu tampaknya tidak akan pergi sebelum mendapatkan jawaban, gadis itu akhirnya menjawab, “Mafuyu.”

“Salam kenal, Mafuyu! Ngomong-ngomong, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Kamu baik-baik saja?”

“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”

Tsukasa menggaruk pipinya dengan telunjuk. “Umm, karena kulihat ekspresimu sangat… sedih? Lagipula, orang yang ‘baik-baik saja’ tidak akan duduk di tengah hamparan lily hitam seperti kamu. Barangkali ada yang bisa kulakukan untuk menghiburmu?”

Mafuyu mendengus kasar. “Mungkin ini terlihat tidak biasa bagimu yang berasal dari White Lily, tapi hal yang kulakukan bukanlah sebuah kejanggalan. Duduk dihamparan lily hitam ini membantuku menenangkan pikiran.”

Si pirang menelengkan kepalanya ke samping. “Begitukah? Maaf, aku tidak tahu. Waah, ternyata ada banyak hal yang berbeda di Black Lily. Aku harus meminta Rui untuk mengajariku lebih banyak soal tempat ini.”

Setelah itu, si pirang terus berceloteh panjang lebar, dan sejujurnya Mafuyu merasa sedikit terganggu. Bukan karena ocehannya yang tidak dimengerti, tetapi suaranya terlalu keras, padahal mereka hanya berduaan di sini.

“Tadi kamu bilang mau menemui seseorang,” Mafuyu memutuskan untuk memotong celotehan lawan bicaranya, “kamu bakal bikin dia menunggu lama kalau terus berada di sini.”

Lelaki itu menjentikkan jarinya, dan berteriak dengan keras. “Ya ampun aku lupa! Semoga Rui tidak marah!”

Buru-buru si pirang beranjak berdiri dan berlari meninggalkan tempat itu, meninggalkan Mafuyu seorang diri. Mafuyu mengembuskan napas berat. Baru sebentar bertemu tapi ia merasa laki-laki itu telah mengisap seluruh energinya. Apa semua orang di White Lily seperti itu? Ah, tapi Kanade tidak berisik seperti dia.

“Mafuyuuu…!!”

Mafuyu menoleh ke belakangnya, dan ia melihat Tsukasa berlari kembali ke arahnya dengan kecepatan tinggi dan berhenti tepat di hadapannya dengan napas tersengal-sengal. “Ke-kenapa?” tanya Mafuyu bingung.

Tsukasa berusaha mengatur napasnya sebelum berbicara. “Aku lupa, aku mau memberikan ini untukmu,” ucapnya sambil mengulurkan sekuntum bunga lily putih.

“Hadiah untukmu, supaya kamu tersenyum!”

Tangan Mafuyu tampak ragu, namun akhirnya ia tetap menerima bunga itu. “Terima kasih,” ujarnya pelan, yang dibalas dengan senyuman oleh Tsukasa.

 “Kalau ada kesempatan, ayo kita ngobrol lagi! Sampai jumpa!”

Dan Tsukasa kembali berlari pergi, meninggalkan Mafuyu yang masih duduk di tengah hamparan lily hitam. Pandangannya melekat ke arah Tsukasa berlari, dan tanpa sadar ia menggenggam lily putih pemberian Tsukasa ke dadanya, mendekapnya dengan lembut.

“…. sudah tidak sakit lagi. Kenapa?” Namun tak ada siapapun yang dapat menjawab pertanyaan itu.

~***~

“Mafuyu? Apakah itu kamu?”

Mendengar dirinya dipanggil membuat Mafuyu menolehkan kepalanya. “Rui.”

Seorang lelaki dengan topi tinggi berjalan ke arahnya sambil tersenyum. “Apa yang kamu lakukan di perpustakaan tengah malam begini?”

Mafuyu mengembalikan buku di tangannya ke lemari. “Bukan apa-apa, hanya tidak bisa tidur.”

Lelaki itu- Rui- terkekeh pelan. “Begitukah? Kalau begitu kita sama.”

Mafuyu memilih untuk tidak menanggapi ucapan Rui. Ia berjalan melewati laki-laki itu dan hendak kembali ke ruangannya untuk beristirahat.

“Oh? Bukankah itu lily putih milik Tsukasa-kun?”

Mendengar nama itu membuat Mafuyu menghentikan langkahnya. “Kamu tahu?”

Sambil tersenyum, Rui menjawab, “Tentu saja. Aku sudah beberapa kali melihatnya. Pantas saja tadi siang ornament lily di pakaiannya menghilang, ternyata ia berikan padamu.”

“Jadi, orang yang ingin dia temui adalah kamu.”

“Begitulah. Aku dan Tsukasa-kun kadang-kadang bertemu untuk membicarakan show. Ide-idenya luar biasa cemerlang lho. Dan dia juga tidak menganggapku aneh. Dia… orang yang baik.”

Ini pertama kalinya Mafuyu melihat seorang Kamishiro Rui berekspresi seperti itu. Sayangnya Mafuyu tidak tahu apa nama dari ekspresi dan perasaan itu. “Kamu sepertinya tidak kaget. Kamu tahu aku bertemu dengannya siang ini?”

Rui menggeleng. “Aku tahu dia bertemu dengan seseorang siang tadi, yang mana membuatnya terlambat dari waktu yang kami janjikan, tetapi aku tidak tahu kalau kamulah orang yang ia temui, Mafuyu. Aku hanya menebak karena melihat bunga lily putih yang kamu sematkan di pakaianmu itu.”

Tanpa sadar Mafuyu menatap ke pita yang menghiasi lehernya, tempat ia menyelipkan bunga pemberian Tsukasa. Biasanya Mafuyu akan membuang semua barang yang tidak berguna, akan tetapi, entah apa yang menahannya untuk tidak membuang lily putih itu.

“Rui,” panggil Mafuyu kemudian, “Tsukasa itu orang yang seperti apa?”

“Oya? Kamu penasaran dengannya?”

Mafuyu mengembuskan napas. “Lupakan saja,” ucap Mafuyu sambil kembali berjalan menuju pintu. Namun belum sempat tangannya membuka knop pintu itu, suara Rui kembali terdengar.

“Seperti matahari, dia orang yang sangat hangat,” ujar Rui sambil tersenyum. “Mungkin dia bisa menolongmu, Mafuyu.”

Gadis itu terdiam sejenak, sebelum beranjak pergi dari perpustakaan.

~***~

White Lily dan Black Lily adalah sebuah istilah yang digunakan oleh orang-orang untuk membedakan dua kota di SEKAI. Seperti namanya, di setiap sudut kota itu dihiasi dengan bunga lily yang indah. Akan tetapi, dikarenakan warnanya yang segelap langit tanpa bintang, lily hitam sering disalah pahami oleh orang luar. Begitu banyak rumor beredar kalau lily hitam akan membawa nasib buruk bagi siapapun yang menyentuhnya. Bahkan ada juga rumor jahat yang mengatakan kalau orang-orang yang berasal dari kota Black Lily adalah orang-orang terkutuk.

Di sisi lain, orang-orang menganggap kalau lily putih akan memberikan keberuntungan dan kebahagiaan bagi yang melihatnya. Jika lily hitam adalah sang antagonis, maka lily putih adalah protagonist yang disukai oleh semuanya. Tentu saja, penduduk White Lily sangat menentang rumor itu. Mereka kemudian membangun sebuah jembatan berwarna gading cerah, yang dihiasi dengan ukiran lily berwarna hitam dan putih. Jembatan itulah yang menghubungkan kedua kota tersebut, dan penduduk White Lily menggunakan jembatan itu untuk pergi mengunjungi Black Lily, demi mematahkan prejudis orang-orang terhadap para penduduk Black Lily.

~***~

Mafuyu menatap ke sungai yang memantulkan bayangan dirinya dari atas jembatan gading yang menghubungkan kota tempat tinggalnya dengan kota tetangga, White Lily. Ia tidak tahu apa yang membawa dirinya kemari. Perasaan gelisah itu kembali menekan dadanya, membuatnya sesak. Kotak musik pemberian Kanade, dan bunga lily pemberian Tsukasa tidak mampu menahan sakit di dadanya. Dengan perasaan nelangsa, tanpa sadar kedua kaki Mafuyu membawanya ke perbatasan kota. Ia menoleh ke kanannya, dan dari kejauhan ia dapat melihat bangunan-bangunan bercat putih -Kota White Lily.

Mafuyu tidak pernah berpikir untuk mengunjungi kota itu. Ia hanya mengenal Kanade, dan pertemuan mereka pun tidak disengaja karena ia melihat si gadis berambut seputih salju itu tengah tersesat di jalanan kota Black Lily. Sejak itulah mereka mulai dekat. Kanade memberikan kotak musik berisi lantunan melodi ciptaannya untuk Mafuyu, berkata kalau ia akan menemukan melodi untuk menyelamatkan dirinya. Ucapan sia-sia, kalau Mafuyu pikir. Dirinya sudah tidak bisa diselamatkan. Namun anehnya, ia tidak bisa membuang kotak music itu, dan terus bergantung pada benda itu tiap kali sesak meliputi dadanya.

Jemari Mafuyu menyentuh ornament lily putih yang tersemat di lehernya. Walau sedikit, perasaannya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Terlintas di benaknya untuk mencari Tsukasa di kota White Lily, tetapi ia langsung menepis pikiran absurd itu. Kota itu begitu luas, mustahil ia bisa menemukan Tsukasa. Sebaiknya dia pulang saja, toh lama kelamaan dirinya akan terbiasa dengan sesak ini.

“Woah Mafuyu! Kita bertemu lagi!”

Dengan cepat Mafuyu menoleh, dan ia melihat Tsukasa berjalan dari arah Black Lily. Penampilannya masih sama seperti saat mereka pertama bertemu -pakaian putih bagaikan pangeran dari negeri dongeng, rambut pirang yang dikuncir dengan pita putih tersampir di pundaknya, dan tentu saja senyuman cerah bagaikan mentari, yang mana membuat Mafuyu sedikit mengernyitkan matanya.

Tsukasa terlalu menyilaukan, gumamnya dalam hati.

Pemuda itu berjalan mendekati Mafuyu yang tidak beranjak dari tempatnya berdiri. “Apa kabarmu? Sehat ‘kan? Kamu udah senyum untuk hari ini?”

Mafuyu membuang pandangannya. “Biasa saja.”

“Begitu ‘kah? Yah, setidaknya aku senang kalau kamu sehat-sehat saja! Oh! Apakah itu bunga pemberianku? Kamu masih menyimpannya?”

Refleks tangan Mafuyu menyentuh ornament lily itu. “Kamu mau aku membuangnya?”

“Hah?! Bukan begitu! Maksudku, aku senang kamu masih menyimpan hadiah dariku. Ah, ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan di sini? Menunggu seseorang?”

“Tidak,” Mafuyu menggeleng pelan, “aku juga tidak tahu kenapa aku kemari. Tanpa sadar, kakiku membawaku ke tempat ini.”

Tsukasa meletakkan tangannya di dagu. “Hmm, kalau begitu, mau jalan-jalan bersamaku? Aku mau menunjukkan kota White Lily padamu!”

Mafuyu terdiam. Biasanya dia akan langsung menolak tawaran itu, akan tetapi entah kenapa mulutnya tidak sanggup melontarkan kata-kata penolakan.

Si pirang lalu meringis pelan melihat Mafuyu tidak menjawab pertanyaannya. “Err, kamu boleh menolak kok kalau tidak mau. Aku enggak akan memaksa-”

“Ayo,” ucap Mafuyu dengan suara pelan, membuat Tsukasa menghentikan kalimatnya.

“Eh? Ayo apa maksudmu?”

Untuk pertama kalinya, Mafuyu menatap mata Tsukasa. “Ayo. Antarkan aku mengelilingi White Lily.”

~***~

“Hmm, kamu lebih suka taiyaki atau dango, Mafuyu?”

“Yang mana pun tidak masalah.”

“Hei, jangan begitu! Kamu harus memilih!”

Mafuyu mengembuskan napas dan mengambil dango tiga warna dari tangan Tsukasa. “Kalau begitu aku pilih ini saja.”

Tsukasa kemudian tersenyum senang. “Oke! Pak, saya beli dango nya 2 ya!”

Setelah membayar, Tsukasa meraih tangan Mafuyu dan menariknya pelan. “Ayo, kalau tidak salah Azusawa mau mengadakan street performance di dekat sini!”

Mafuyu membiarkan Tsukasa menarik tangannya, membiarkan lelaki itu menuntunnya berjalan-jalan di kota yang sangat asing bagi dirinya. Sesekali Tsukasa menyapa penduduk White Lily, dan mereka semua balas menyapa si pirang lengkap dengan senyum di wajah mereka.

“Semua orang selalu tersenyum ketika menyapamu.” Mafuyu mengungkapkan isi pikirannya.

“Benarkah? Tentu saja mereka tersenyum ketika menyapa bintang seperti diriku ini! Ha—hahaha!”

Setelah tertawa lantang, Tsukasa menatap Mafuyu dan tersenyum lembut. “Senyum itu bersifat menular, Mafuyu. Karena itulah, aku berusaha tersenyum di depan semuanya. Selain itu, wajah tersenyum lebih baik daripada cemberut, ‘kan?”

Mafuyu mengerjapkan matanya. “Barusan, apa kamu menyindirku?”

“Ti-Tidak! Bukan begitu! Ya ampun, maksudku itu,” Tsukasa melepaskan gandengannya dan dengan kedua jari telunjuknya ia menarik ujung bibir Mafuyu ke atas, membentuk sebuah lengkung senyum, “siapapun akan terlihat cantik ketika tersenyum, begitupun dirimu, Mafuyu. Jadi, sesekali tersenyumlah!”

Tsukasa tampak sangat bersinar, tapi anehnya Mafuyu tidak merasa terganggu. Malah, entah kenapa rasanya sesak di dadanya sedikit berkurang.

“Akan aku coba,” jawabnya kemudian.

Lelaki itu tersenyum lebar, sebelum kemudian ia menggandeng tangan Mafuyu. “Ayo, masih ada beberapa tempat yang ingin kutunjukkan padamu!”

“Eh? Mafuyu dan… Tenma-san?”

Mendengar namanya dipanggil membuat mereka menghentikan langkahnya. Mafuyu menoleh ke kanannya dan melihat seorang gadis berambut seputih salju berjalan mendekat.

“Kanade,” panggil Mafuyu pelan.

Gadis bernama Kanade itu tersenyum tipis. “Ternyata memang kamu, Mafuyu. Bagaimana kabarmu? Ah, dan Tenma-san, selamat siang.”

“Ooh, Yoisaki-san! Selamat siang! Jarang sekali aku melihatmu berada di pasar raya seperti ini!”

Kanade menunjukkan tote bag di tangan kirinya. “Hari ini temanku datang mengunjungiku, jadi aku ingin memberinya sedikit hadiah. Dia sangat suka pai apel, dan kebetulan aku lihat kalau di pasar raya ada pai apel edisi terbatas, jadi aku ingin membelikannya untuk dia.”

“Oh, aku tau toko yang kamu maksudkan! Adikku, Saki, juga mengatakan soal promo itu padaku! Tapi, kudengar antriannya sangat panjang, apa kamu baik-baik saja?”

“Aku sedikit lelah karena harus mengantri lama, tapi aku baik-baik saja. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku. Ngomong-ngomong, Tenma-san, apa kamu dan Mafuyu saling kenal?”

Sebelum Tsukasa membuka mulutnya, Mafuyu sudah menjawab lebih dulu. “Aku baru bertemu dengannya dua kali, dan itu pun hanya kebetulan.”

“Hei Mafuyu, dari jawabanmu seakan-akan kita ini orang asing! Bukankah kita sudah berteman?!”

“Teman? Kamu dan aku?”

“Haah? Maksudmu kamu enggak nganggap aku temanmu?!”

Dengan polosnya, Mafuyu menggeleng, membuat Tsukasa kehabisan kata-kata. Di sisi lain, Kanade yang sedari tadi memperhatikan interaksi dua orang di depannya tampak kebingungan, namun tak lama senyum menghiasi wajahnya.

“Mafuyu,” panggil Kanade lembut, “aku bersyukur kamu bertemu dengan Tenma-san. Dia orang yang baik.”

Si gadis bersurai ungu tidak berkomentar apa-apa, berkebalikan dengan Tsukasa yang langsung tertawa lantang mendengar pujian Kanade.

“Oh iya, sebenarnya aku ingin menitipkan ini pada Mochizuki-san, tapi karena aku bertemu denganmu, aku berikan sekarang saja,” ucap Kanade sembari menyerahkan beberapa lembar kertas partiture kepada Mafuyu. “Memang masih belum lengkap, tapi kuharap melodi ini mampu menyelamatkanmu, walau hanya sedikit.”

Mafuyu menatap partiture di tangannya dengan ekspresi bingung. Dalam hati, ia merasa perbuatan Kanade ini sia-sia, karena dirinya sudah tidak bisa diselamatkan, tetapi ada sedikit harapan dalam dirinya, yang masih menunggu untuk diselamatkan. Harapan itulah yang membuatnya tidak bisa membuang partiture, kotak music, dan juga lily putih pemberian Tsukasa.

“Terima kasih, Kanade,” hanya itu jawaban yg ia berikan, namun itu cukup untuk membuat Kanade tersenyum.

“Ah, aku harus segera kembali. Mafuyu, Tenma-san, sampai jumpa lain waktu,” ucap Kanade sambil membungkuk pelan.

“Hati-hati di jalan, Yoisaki-san!” balas Tsukasa sambil melambaikan tangannya.

Ketika Kanade telah hilang dari pandangan, Tsukasa berpaling ke arah Mafuyu. “Kamu kenal Yoisaki-san?”

“Iya. Kami tidak sengaja bertemu di Black Lily waktu itu.”

“Begitu ya. Ngomong-ngomong, kamu mau coba memainkan partiture itu? Di dekat sini ada studio music, dan seingatku mereka memiliki piano.”

“Aku tidak begitu mahir memainkan piano.”

“Kalau begitu, biarkan aku memainkannya untukmu.”

Mafuyu menatap Tsukasa dan menelengkan kepalanya. “Kamu bisa bermain piano?”

“Hei apa-apaan reaksi itu?!”

Gadis itu menatap partiture di tangannya, kemudian menatap wajah Tsukasa. Tanpa sadar sebelah tangannya meraih bunga lily putih di lehernya.

Mungkin kalau Kanade dan Tsukasa, mereka akan bisa menyelamatkanku, pikir Mafuyu dalam hati.

“Mafuyu? Kenapa bengong?”

Mafuyu menggelengkan kepalanya. “Kalau begitu, tolong mainkan lagu ini untukku, Tsukasa.”

Dan si pirang menyengir lebar. “Serahkan padaku!”

~***~

Ruangan bercat putih, dengan sebuah jendela besar yang memenuhi hampir seluruh dinding sebelah kiri, membuat sinar matahari menyinari sebuah grand piano yang berwarna hitam legam di tengah-tengah ruangan. Mungkin hanya piano itulah satu-satunya benda yang berwarna gelap di ruangan ini, dikarenakan tak hanya tembok, bahkan perabotan seperti meja dan vas berisi bunga lily semuanya berwarna putih bersih. Dilihat darimana pun, ruangan ini bukanlah sebuah studio music biasa.

“Duduklah, Mafuyu!” ucap Tsukasa sambil menepuk sisi kanan bangku tempat ia duduk. “Aku ingin kamu mendengar permainan pianoku dari dekat.”

Mafuyu mendudukan dirinya di samping Tsukasa. “Apa kamu tidak sempit?”

“Tidak kok. Dulu adikku dan aku sering duduk bersama ketika bermain piano,” jawab Tsukasa sambil sibuk membaca partiture music pemberian Kanade. “Hmm, bagian tengahnya sedikit rumit, tapi sepertinya masih bisa kumainkan. Yosh! Kita mulai!”

Tsukasa menarik napas panjang, sebelum mengembuskannya pelan. Perlahan jemari tangannya mulai menari di atas tuts piano, menciptakan lantunan melodi yang hangat dan lembut. Iris kuning miliknya tampak fokus membaca not pada partiture itu, namun biarpun begitu, irama yang dihasilkan benar-benar merdu. Seakan-akan Tsukasa sudah pernah memainkan melodi ini sebelumnya.

Mafuyu menatap wajah Tsukasa. Dari jarak sedekat ini, barulah ia menyadari kalau segala hal dalam diri Tsukasa benar-benar bersinar. Iris matanya yang sewarna bintang, rambutnya yang berwarna pirang bagaikan mentari di musim panas, dan yang paling utama, kharismanya yang begitu bersinar menyilaukan. Dan bagaikan ngengat, Mafuyu tampaknya sudah terpikat pada kilau menyilaukan itu.

Ah, tampaknya Tsukasa sudah sampai pada bagian yang ia bilang sedikit rumit. Terlihat lelaki itu mengernyitkan alisnya, dan terdengar satu-dua not yang sedikit sumbang. Tapi tidak mengapa, melodi yang tercipta tetaplah lembut dan hangat, membuat perasaan Mafuyu menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.

Mungkin saja aku masih bisa diselamatkan. Kalau itu Kanade dan Tsukasa, mungkin aku…

Mafuyu memejamkan matanya, dan menyenderkan kepalanya pada bahu Tsukasa. Menikmati setiap lantunan nada yang memasuki indra pendengarnya, merasuk tepat ke hatinya, dan memberinya kehangatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Tak lama setelah itu, lantunan melodi itu berhenti, dan Mafuyu membuka matanya. Iris ungunya melirik Tsukasa yang tampak sedikit kecapekan.

“Hufft sudah kuduga tidak akan semudah itu. Yoisaki-san memang hebat,” gumamnya kecil.

“Permainanmu bagus,” puji Mafuyu, dan dua kata itu sukses membuat wajah Tsukasa yang awalnya mengernyit tak senang menjadi sumringah dan berseri-seri.

“Benarkah?! Yah, tentu saja mengingat aku adalah seorang bintang! Ha—hahaha!”

Reaksi yang sudah diduga oleh Mafuyu. Tampaknya Tsukasa ini tipe manusia yang senang diberi pujian.

Namun Tsukasa terbelolak kaget ketika melihat ke arahnya. “Mafuyu! Kamu tersenyum!”

Kini giliran Mafuyu yang kaget. “Aku… tersenyum?”

“Iya! Wah, ini pertama kalinya aku melihatmu tersenyum! Sudah kuduga kamu akan lebih cantik ketika tersenyum, Mafuyu! Jadi tetap pertahankan senyum itu, ya!”

Mafuyu mengerjap bingung. Bahkan dirinya tidak sadar kalau ia tersenyum. Tanpa sadar tangannya menyentuh lily putih di lehernya -hal kecil yang sudah menjadi kebiasaannya tiap kali ia merasakan perasaan aneh menggerogoti dadanya.

“Hahaha! Apakah kamu begitu terpesona dengan permainan piano dari Tenma Tsukasa ini?”

Si gadis mengangguk pelan. “Kurasa begitu. Lagu buatan Kanade benar-benar hangat, tapi ketika kamu yang memainkannya, rasanya…. berbeda. Seperti berlari di bawah sinar matahari di awal musim semi, kehangatan yang memberikan kenyamanan.”

Mafuyu menduga Tsukasa akan tertawa lantang dan memuji dirinya seperti tadi, akan tetapi sebaliknya, lelaki itu malah tampak salah tingkah. Tampak sedikit semburat merah muda menghiasi kedua pipi dan telinganya.

Tsukasa terbatuk beberapa kali dan mengalihkan pandangannya dari Mafuyu. “Ya-Yah, itu sih jelas. Ha, Hahaha!”

Mafuyu ingin bertanya apa ada yang salah dengan kata-katanya, akan tetapi Tsukasa buru-buru berkata, “Selain itu, aku yakin itu semua berkat lagu buatan Yoisaki-san! Ketika memainkannya pun aku merasakan kehangatan dan ketulusan di setiap notnya. Dia pasti benar-benar ingin memikirkanmu ketika membuat lagu ini.”

Kembali Mafuyu teringat pada ucapan Kanade yang berkata bahwa ia akan menemukan melodi untuk menyelamatkan dirinya. Seperti kata Tsukasa, tampaknya Kanade benar-benar serius dengan ucapannya waktu itu.

“Hei Tsukasa,” panggil Mafuyu pelan, “maukah kamu memainkan lagu itu lagi untukku?”

“Hm! Tentu saja boleh! Akan kumainkan sebanyak apapun yang kamu mau! Dan kali ini aku pastikan aku tidak akan salah seperti tadi!”

Tsukasa meregangkan bahu serta jemari tangannya. “Baiklah, aku siap! Ah, ngomong-ngomong kamu boleh bersandar di bahuku seperti tadi kalau mau.”

Tanpa berbicara, Mafuyu menyandarkan kepalanya di bahu kanan Tsukasa dan memejamkan matanya.

“Yosh, kita mulai!”

Cahaya matahari merembes masuk dari kaca jendela dan menyinari ruangan bercat serba putih itu, membuatnya terlihat semakin menyilaukan. Di tengah ruangan itu, tampak sebuah grand piano berwarna hitam legam, yang sedang dimainkan oleh seorang pria berpakaian serba putih layaknya seorang pangeran. Di sebelahnya, tampak seorang gadis yang bagaikan jelmaan dari bunga lily hitam, menyandarkan kepalanya pada si pangeran dan menikmati untai nada yang tercipta dari permainan piano itu. Mereka tampak begitu kontras satu sama lain, tapi mungkin itulah yang membuat mereka tampak semakin menarik untuk di pandang. Bunga lily hitam yang tidak diinginkan siapapun mulai menemukan tempatnya, yaitu berada di sebelah Sang Lily Putih.

~***~