Work Text:
Ada banyak makhluk di dunia ini yang hidupnya tidak sama dengan kita, Sayangku
Yang menghancurkan hidup, bukan menumbuhkan dan menyuburkan seperti kita
Jadi hati-hati ya, kalau main
Dan jangan berkelana terlalu ke Utara, karena terlalu banyak yang berbahaya di sana
Cahaya yang begitu minim membuat San memicingkan mata karena tidak biasanya dia berpergian sebelum matahari sepenggalah tingginya. Dia, si peri hutan yang hidupnya bergantung pada cerahnya mentari, tidak terbiasa berkelana di waktu-waktu seperti ini, ketika matahari pagi baru muncul satu semburat dan yang menyelimuti sekitarnya masih lebih banyak gelap ketimbang sebaliknya.
Tidak terbiasa, memang, tapi Mama bilang peri hutan tidak boleh malas-malasan, karena hutan butuh mereka untuk tetap hijau, jadi ketika San bangun sebelum matahari terbit hari ini ia memutuskan untuk jalan-jalan, siapa tahu ada spot yang lebih duluan kena matahari daripada tempatnya biasa berjemur di dekat rumah.
San tidak tahu dia sudah berjalan berapa lama, karena belum ada matahari berarti ia tidak bisa mengira-ira jam berapa sekarang. Tapi ketika ia temukan padang rumput di balik rindangnya pepohonan, San tahu tempat ini akan terang benderang nanti siang. Jadi dikelilinginya tempat itu, mencari rumput yang paling empuk untuk tempatnya menunggu hingga matahari terbit.
Hidungnya lebih dulu menemukan rusa yang tergeletak tanpa nyawa sebelum matanya, saking gelapnya. Dahinya ikut mengernyit ketika ia mencium bau anyir darah yang menguar di sekitarnya. Ada binatang mati di hutan tentu saja bukan sesuatu yang langka, makanya San cuma berniat untuk memutari hewan malang itu untuk lanjut mengelilingi padang rumput itu. Tapi langkahnya terhenti ketika ia hampir tersandung sesuatu, tidak, suatu makhluk yang duduk di sebelah rusa itu. Pakaian yang ia kenakan serba hitam, makanya San tidak langsung melihatnya di tengah kegelapan.
San terkesiap perlahan. Duduknya dekat banget dengan bangkai binatang itu. Kok dia tidak pusing ya sama bau darahnya? San takut….
Agaknya makhluk itu punya pendengaran yang cukup tajam, karena begitu San mengeluarkan suara lirih saja, ia langsung menoleh dengan cepat.
San tidak tahu makhluk apa yang ada di depannya itu, tapi melihat bercak-bercak gelap di sudut bibir makhluk itu secara instingtif dia mundur satu langkah. Tangannya meremas-remas celana yang ia kenakan, kebiasaannya waktu gugup yang belum bisa ia hilangkan.
Mata San awas menatap makhluk itu, siap kabur kalau tiba-tiba dia menyerang. Walaupun tidak yakin juga ia akan berhasil. Kalau memang dia yang menjadi pemangsa rusa itu, berarti dia cepet banget larinya, iya ‘kan?
Rasa takutnya perlahan-lahan luntur ketika makhluk di depannya tidak bergerak sedikitpun, lalu menyunggingkan senyum ke arahnya. Senyum. Bukan seringai. Walaupun dua gigi taringnya tetap terlihat ketika ia tersenyum. Senyum berarti pertanda baik, ‘kan?
“ … Hai,” sapa si peri hutan itu malu-malu. “Kamu … lagi ngapain?”
Entah apakah ia menyadari kalau gerakan cepat membuat San ketakutan atau bagaimana, tapi tangan makhluk itu bergerak lamban ketika dikibaskan ke arah binatang di sebelahnya. “Habis minum.”
Minum … ? San melihat lagi ke arah bercak-bercak di sekitar bibir makhluk itu. “Ah … Habis minum darah rusa?” Senyum yang dilemparkan kepadanya membuatnya yakin kalau ia benar. Berarti, “kamu vampir ya? Yang tinggalnya di mansion sebelah Utara itu?”
Si vampir (?) itu terkekeh mendengar pertanyaan San. “Iya betul,” tubuhnya membungkuk dalam, menyapa sopan walaupun posisinya masih duduk serampangan di samping bangkai binatang. “Kamu pasti peri, ‘kan?”
San yang sudah memutuskan kalau dia tidak berbahaya (dengan sengaja mengabaikan dering nasihat Mama di kepalanya kalau dia terlalu mudah percaya orang lain) akhirnya duduk di hadapan si vampir. Lupa kalau dia tadi berniat akan menjauh dari rusa yang sudah mati itu. “Iya. Kok tahu?”
Si vampir itu memicing ke arah Timur, lalu bangkit dari duduknya. Yah … Padahal San baru aja mau nemenin. “Soalnya kamu cantik banget,” jawabnya sambil mengerling ke arah San. Bajunya dikibas-kibaskan sembarangan. “Udah ya, Cantik,” suara makhluk itu terdengar bersamaan dengan kicauan burung yang mulai bersahutan. “Besok lagi, aku harus pulang sebelum matahari terbit. Bye!”
“Tunggu!” San agak berseru sebelum dia pergi. “Kamu namanya siapa?”
Vampir itu kembali terkekeh. “Wooyoung,” katanya sambil melambaikan tangan dan berjalan mundur, karena dia betulan harus segera pergi sebelum terang.
“Aku San! Besok ketemu lagi ya, dadah!!”
Ini sudah kupu-kupu keempat yang hinggap di keningnya hari ini, tapi yang ada di pikiran San masih belum beranjak dari vampir ganteng yang tadi ia temui. Kok bisa kelihatan ganteng? Padahal tadi gelap banget. Tapi walaupun gelap tadi San bisa melihat rambut dan bibirnya yang tebal, hidungnya yang cakep, dan matanya yang tajam walaupun bukan dalam cara yang menakutkan setelah ia lihat lebih dekat. Apalagi ketika dia senyum, pipi San jadi hangat kalau ingat kembali bagaimana senyum Woyoung, lengkap dengan gigi taringnya, membuatnya semakin terlihat tampan. Senyum itu juga membuat keduanya menyipit lucu, dan aura seramnya jadi hilang begitu saja.
Tapi kalau ingat bagaimana dia duduk santai di sebelah rusa itu tadi, seram juga sih … Bagaimana kalau ternyata dia makannya darah peri hutan juga? Atau sebaiknya dia nanya Mama? Tapi nanti ketahuan kalau tadi pagi San mainnya kejauhan. Besok deh, besok akan dia tanyakan masalah penting ini bersama dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Si peri hutan itu berguling di atas rumput, membuat kupu-kupu di kepalanya terbang menghindar. Akan ia pikirkan pertanyaan-pertanyaan lain yang akan ia tanyakan itu.
Ketika San sampai di tempat mereka bertemu kemarin—kali ini dengan mata penuh kantuk karena tidur kemalaman—Wooyoung sudah berbaring di sana, untungnya tanpa ditemani bangkai binatang lagi hari ini. Mungkin dia sudah makan di tempat lain tadi? Entahlah. San memutuskan untuk langsung duduk di sebelahnya.
“Wooyoung minum darah apa hari ini?” Seumur-umur tidak pernah San mengira suatu hari akan melontarkan pertanyaan seperti ini sebagai kalimat sapaan.
Kepala Wooyoung yang disandarkan pada lengan sebagai bantalnya menoleh ke arah San. “Kenapa memangnya?” tanyanya dengan senyum tersungging di wajahnya.
“Karena … “ San beringsut mendekat, ingin melihat wajah Wooyoung dengan lebih jelas hari ini. “Penasaran! Vampir minumnya darah apa aja sih? Minum darah peri hutan juga nggak? Nggak ‘kan? Jangan ya, jangan minum darah Sannie, nggak enak soalnya Sannie cuma makan nektar bunga!”
Wooyoung memiringkan tubuhnya agar bisa melihat ke arah San di sebelahnya. “Darah San manis dong berarti?”
San buru-buru menggeleng kuat-kuat, kedua tangannya membuat huruf X besar di depan dadanya. “Nggak manis! Nggak enak! Beneran! Sannie pernah kok nggak sengaja nelen darah sendiri, nggak enak!” Sebelum Wooyoung betul-betul mempertimbangkan untuk meminum darahnya, San langsung mengubah topik pembicaraan. “Vampir beneran nggak bisa kena matahari ya? Kenapa? Padahal Sannie harus berjemur tiap hari loh, biar kuat!”
Wooyoung bukannya tidak menangkap upaya San untuk mengalihkan perhatiannya, tapi ia membiarkan si peri hutan melakukannya, cuma memilih untuk tertawa pelan dan menopang kepala dengan tangannya yang bertumpu pada siku. “Sannie kok nggak pernah jalan-jalan ke hutan sebelah Utara?”
San ikutan meletakkan kepalanya di atas kepalan tangan. Sebelah tangannya yang lain memeluk tubuh yang cukup kedinginan karena tidak terbiasa dengan cuaca dini hari. “Nggak boleh soalnya kata Mama ada vampir di sana.”
“Memangnya vampir serem?”
“Serem kan, makannya darah!”
“Ini di depan Sannie ada vampir, serem nggak?”
“Oiya betul juga … Nggak serem sih? Wooyoung keliatan baik! Wooyoung baik kan? Atau Wooyoung pura-pura baik? Ngaku sekarang kalo emang gitu!”
Senyum Wooyoung naik cuma di satu sisi bibirnya. “Menurut Sannie gimana, kira-kira aku lagi pura-pura nggak?”
San mengetukkan ujung jari ke bibir bawahnya. Kepalanya miring ke kiri dan matanya dengan serius memperhatikan Wooyoung yang tenang di hadapannya.
“Nggak tau sih,” kata San akhirnya. “Tapi kalau ternyata Wooyoung jahat, ya udah, yang penting Wooyoung baik sama San sekarang.”
Wooyoung tidak bisa menahan diri untuk tidak mengacak-acak rambut San yang tetap hangat bahkan di dini hari, hasilnya menyimpan energi dari matahari yang dikumpulkannya seharian. “San tahu nggak, di belakang rumahku ada kebun bunga loh.”
“Masa?” Tanya San setelah merapikan rambutnya lagi, walaupun ada beberapa helai poni yang dengan keras kepala tetap jatuh menutupi dahinya. “Kok nggak ada yang pernah bilang di sana ada kebun bunga!”
Wooyoung mengangkat bahu. “Mungkin karena peri hutan nggak banyak yang berani main ke sana. San mau jadi peri hutan satu-satunya yang jadi pengunjung di sana?”
Untung tangan Wooyoung ada di atas lutut San, karena si peri hutan itu hampir saja terjungkal saking semangatnya menjawab “Mau!!!”
Untung juga San digandeng Wooyoung sampai mereka tiba di mansion yang ditinggali si vampir, karena San tidak tahu jalan dan dia tidak terbiasa kemana-mana ketika hari masih gelap seperti saat ini.
San tidak tahu seperti apa ekspektasinya terhadap taman bunga Wooyoung, barangkali taman yang isi bunganya merah dan hitam seperti estetika yang dipunya Wooyoung? Tapi yang jelas bukan hamparan bunga berwarna-warni yang sepertinya keindahannya tidak terlalu bisa dinikmati Wooyoung karena dia harus di dalam rumah ketika matahari bersinar terang.
San langsung sibuk ber-ahh dan ohh ria. Ujung jarinya menyentuh lembut setiap kelopak bunga yang langsung tergugah dan mekar karena sentuhannya. “Ini boleh buat San semua bunganya? Buat diminum nektarnya?” Tanyanya sambil menoleh ke arah Wooyoung yang dari tadi menonton apa yang ia lakukan dari tangga depan mansionnya.
“Boleh,” ujar Wooyoung mengijinkan, “tapi bagi-bagi ya, jangan diabisin. Mereka juga biasanya minum dari situ,” lanjut sang vampir sambil menunjuk atas kepalanya, di mana ada satu sarang lebah besar bertengger di langit-langitnya.
Mata San memicing ke arah yang ditunjukkan Wooyoung, berusaha menerka apa yang ada di sana. “Oh, lebah ya?” Melihat angggukan Wooyoung San ikut mengangguk-angguk bersemangat. “Nanti sebelum minum Sannie bilang dulu deh ke ratu lebahnya, minta ijin ikut minum di sini.”
Wooyoung bangkit dari duduknya, sudah saatnya ia masuk ke dalam. Diseberanginya taman bunga untuk menepuk-nepuk kepala San pelan. “Pinter. Aku masuk dulu ya, matahari bentar lagi terbit.”
San kembali mengangguk. “Sannie nunggu siangnya di sini aja ya? Sampai ratu lebahnya bangun baru minta ijin deh!”
“Boleh. Nanti sambil berjemur di sini juga boleh.”
Sepasang mata si peri hutan itu langsung bersinar lebih cerah. Yes!! Tempat berjemur baru!! Taman bunga baru!!
“Oke!! Udah sana Wooyoung masuk dulu ntar keburu jadi abu!!”
Siang itu sang ratu lebah dikagetkan dengan panggilan dari luar sarang mereka yang jarang diganggu (siapa yang mengira mansion vampir ternyata tempat yang sangat aman untuk membangun sarang?).
“Halo ratu lebah. Selamat pagi!”
Senyum secerah mentari menyambutnya, membuatnya semakin kaget karena, kok ada peri hutan sampai sini? Jauh bener mainnya ini anak. Atau mungkin dia tersesat? “Iya?” Tanyanya kebingungan.
“Sannie mau minta ijin bagi kembangnya boleh nggak?”
“Kembang? Kembang yang mana maksudnya? Mau dianterin pulang?”
“Eh … Nggak usah! Yang di luar itu kok, yang dari tamannya Wooyoung.”
Masih heran, tapi yang penting anak ini tidak tersesat. “Iya boleh. Tapi jangan rebutan sama lebah pekerja, ya.”
“Iya tenang aja, San anak baik kok,” jawab San sambil dengan senyum lebar mengangkat tangan ke pelipis seperti memberi hormat.
“Ya … Ya udah, silakan.” Bingung dia sebenarnya, baru pertama kali ada yang minta ijin buat makan nektar, di taman bunga punya vampir pula. Tapi karena memang bunganya cukup banyak untuk dinikmati bersama, ya sudah ia perbolehkan saja. Sepanjang hari itu sang ratu lebah menyaksikan si peri hutan lari dan menari kesana kemari, mencicipi berbagai macam bunga yang beberapa di antaranya tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Mama tanya beberapa hari ini San berjemur di mana, setengah heran setengah senang karena anak lelakinya ini sekarang rajin bangun pagi. Tapi San cuma menjawab tanpa menyebutkan tempatnya secara spesifik. Ingin rasanya dia meyakinkan Mama kalau ada vampir yang baik dan tidak makan darah peri hutan, tapi San cukup yakin kalau Mama tahu justru nanti akan melarangnya main ke sana lagi.
Padahal masih banyak yang perlu dieksplor di taman bunga Wooyoung!! Semenjak ia dapat ijin dari ratu lebah San jadi lebih sering berjemur di sana daripada di tempat-tempat biasanya. Hutan di Utara tidak terlalu rimbun, makanya San suka banget berjemur di sana karena matahari lebih cerah dan hangat terasa di kulitnya. Bunganya banyak banget pula jenisnya. Wooyoung bilang kalau dia sering membawa pulang benih bunga-bungaan kalau lagi pergi jauh.
“Padahal kan kamu kalau siang nggak bisa keluar liat bunganya,” celetuk San polos.
“Bisa kok,” Wooyoung menjawab enteng. “Kan ada banyak jendela di atas,” ujarnya sambil menunjuk ke arah mansionnya.
Kening San berkerut mendengarnya. Entah kenapa tidak pernah terpikir sebelumnya kalau tentu saja tempat tinggal Wooyoung punya jendela. “Berarti Wooyoung sering liat Sannie kalo lagi berjemur? Kok nggak pernah nyapa sih! Nggak pernah manggil!”
Hari itu, Wooyoung menyadari kalau membujuk peri hutan yang ngambek itu, sama sekali tidak gampang.
Keesokan harinya San sudah tidak marah, sih, tapi dia tetap menyeret kakinya malas-malasan ketika tangannya digandeng Wooyoung menuju mansion padahal hari masih sangat gelap. “Mau ngapain sih?” San menggerutu setengah kesal setengah mengantuk. Biasanya kan Wooyoung pulang kalau matahari sudah hampir terbit, ini kenapa masih pukul empat pagi dia sudah mau pergi? Dan kenapa pula pakai ngajakin San segala, biasanya juga San dicuekin dibiarin main di halaman sendirian. Cih.
Langkah kaki Wooyoung terhenti di bawah salah satu jendela di sisi barat mansion. “Ini hadiah buat Sannie.”
San menelengkan kepala ke kanan. “Bunganya? Terima kasih tapi ini masih gelap.”
“Bukan bunganya, kalau itu boleh buat San semua sama buat lebah-lebah. Tapi ini,” Wooyoung menunjuk daerah dekat kakinya.
San merunduk ke arah yang ditunjuk Wooyoung, meraba-raba ada apa gerangan di sana. Tangannya kemudian terantuk sesuatu yang keras dan terasa seperti … kayu?
“Ini apa?”
“Tadi semalaman aku bikinin kursi buat Sannie, biar lebih nyaman berjemurnya di sini.”
San terkesiap. Dalam kegelapan Wooyoung bisa dengan melihat jelas bagaimana mulutnya terbuka sebelum ditutup dengan kedua tangan mungilnya.
“Wooyoung bikinin buat Sannie? Sannie doang? Nggak harus berbagi sama tupai yang tinggal di pohon maple depan itu?? Wooyoung nggak berburu semalem???”
Wooyoung belum sempat menjawab ketika tiba-tiba ia dipeluk sesosok peri hutan yang meloncat-loncat kegirangan. “Makasih! Makasih banget! Aaaa seneng!!!”
Wooyoung tidak tahu dia harus bagaimana, San juga sepertinya tidak menunggu jawaban darinya jadi ia tepuk-tepuk kikuk punggung San yang seperti biasa tetap hangat bahkan di dinginnya fajar.
Sejak hari itu Wooyoung jadi menghabiskan (semakin) banyak waktu menatap ke arah taman dari balik kelambu hitam tebal yang terpasang di jendela kamarnya. Memang sih dia biasanya menghabiskan siang dengan tidur, tapi toh sebenarnya dia juga tidak butuh tidur sebanyak itu. Jadi masuk akal saja, ‘kan, menghabiskan waktu buat ngeliatin si peri hutan berjemur, berlarian keliling kebun bunga menyapa setiap ekor hewan yang dia liat, atau menari berputar-putar sambil bersenandung senang walaupun dari kamar Wooyoung tidak terdengar apa yang San nyanyikan.
Kadang, kadang, kalau Wooyoung sedang beruntung, San akan bosan dengan kegiatannya di taman dan celingukan di dekat pintu belakang mansion sebelum memberanikan diri untuk mengetuk. Sejak San ngambek waktu itu Wooyoung bilang padanya untuk mampir ke dalam kapan saja dia mau karena Wooyoung tidak bisa menyibak kelambu untuk menyapanya dari kamar.
Di saat seperti itu Wooyoung memastikan diri untuk sudah berdiri di balik pintu sebelum ketukan ragu-ragu San menyentuh daun pintu.
(Untung dia selalu siap, karena dengan pelannya ketukan San, dia tidak akan pernah mendengarnya dari kamarnya).
Setiap kali, San selalu menyelinap masuk cepat-cepat, tahu betul kalau dia tidak boleh membiarkan banyak cahaya matahari memasuki mansion. Setelahnya dia akan mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha membiasakan diri dengan gelapnya ruangan sebelum tersenyum lebar menyapa Wooyoung seolah mereka tidak ngobrol berjam-jam dini hari tadi.
Tidak banyak yang mereka lakukan, cuma meneruskan obrolan apapun yang terputus tadi karena matahari keburu terbit. Tapi di hari-hari San menyempatkan diri untuk mampir ke dalam walaupun kentara dia tidak terlalu nyaman dengan nihilnya cahaya mentari, itu adalah hari-hari yang paling menyenangkan untuk Wooyoung.
(Dia berusaha untuk tidak banyak memikirkan kenapa itu menyenangkan baginya).
“Wooyoung! Ini— ah, maaf, halo,” San membungkuk setelah buru-buru menyelinap masuk tapi dengan tangan masih terangkat karena ada yang ia bawa di sana.
Ketika San mengintip kemudian mengangkat kembali tubuhnya sosok di hadapannya itu masih belum menjawab sapaannya. Alih-alih dijawab, San justru ditatap lekat-lekat, sebelum tatapan itu akhirnya jatuh di barang yang masih dipegang di kedua tangannya.
Diperhatikan seperti itu, San jadi balas memperhatikannya. Bahkan di kegelapan ruangan ia bisa melihat bagaimana kulitnya pucat sama seperti Wooyoung, atau bahkan lebih pucat lagi. Matanya sendu dan cantik dan masih memperhatikan tangan San.
“Nyariin Wooyoung ya?” Tidak menunggu jawaban dari San, sosok itu langsung melanjutkan kalimatnya, “dia lagi istirahat. Mau dibangunin?”
Dia siapa ya? San bertanya-tanya dalam hati sambil berusaha memperhatikan sosok di depannya. Vampir juga sih kelihatannya, kalau dilihat dari kulit pucat dan taring yang terlihat saat dia berbicara. Vampir yang tinggal satu rumah dengan Wooyoung, kah? Tapi kok Wooyoung tidak pernah cerita? Tapi kenapa juga ya Wooyoung harus cerita? Mereka temenan kan bukan berarti San harus tahu semuanya tentang Wooyoung, walaupun San suka menceritakan segala hal tentang dirinya pada Wooyoung.
Entah kenapa memikirkan alasan kenapa Wooyoung bisa jadi dengan sengaja tidak menceritakan orang yang hidup serumah dengannya bikin San jadi sedih.
“Gimana?” Pertanyaan itu membuat San tergeragap kaget dan tersadar dari lamunannya.
Si peri hutan itu menggeleng lesu. “Nggak usah, nggak penting-penting banget kok. Ini cuma tadi aku bikin mahkota dari bunga buat Wooyoung,” suara San mengecil karena malu, “boleh nitip dikasihin nggak?” Entah kenapa dia mendadak kehilangan kepercayaan diri, padahal tadi ia rangkai mahkota ini dengan riang gembira, membayangkan gantengnya Wooyoung yang pasti akan semakin menonjol kalau dipakaikan mahkota bunga. Tapi ketika melihat warna-warni itu di tangan vampir di depannya, San jadi menyadari kalau mahkota itu pasti juga akan terlihat sangat cocok dipakainya.
Ah, San jadi tambah sedih. Kenapa ya?
“Boleh, nanti disampein ya. Makasih, San,” katanya sambil menerima rangkaian bunga dari tangan San. Senyumnya tersungging. Manis sekali.
San yang sudah siap balik badan untuk pulang langsung menghentikan langkahnya, “kok kamu tahu nama Sannie?”
“Wooyoung sering cerita tentang kamu, kamu yang sering berjemur di taman belakang rumah akhir-akhir ini, kan?”
San menggaruk kepalanya bingung. Wooyoung nyeritain San ke dia tapi tidak pernah cerita ke San kalau dia tidak tinggal sendirian di mansion ini? San bingung tapi dia tetap memasang senyum cerah di wajahnya, “Iya! Kamu namanya siapa … “
“Yeosang.”
“Yeosang. Oke kalo gitu, Sannie mau pulang dulu ya, dadah Yeosang, makasih Sannie udah boleh numpang berjemur.”
“ Bye bye , San.”
Ketika Wooyoung menggeliat bangun di luar sudah gelap. Sambil meregangkan tubuhnya, ia merutuki diri sendiri yang terlalu jumawa berpikir kalau dia akan baik-baik saja tidak banyak tidur berminggu-minggu, memilih untuk berburu di malam hari dan memandangi San di siang hari.
“ Your little boyfriend tadi ke sini,” ujar Yeosang dari sofa di sudut kamar, manga tentang hubungan romansa vampir dan manusia di tangan.
Wooyoung merutuk sekali lagi. Bisa-bisanya dia tidur waktu San mampir ke mansion. Ugh. “ He’s not my boyfriend .”
“Memang kecil tapi ya? Gemes banget pula. Nggak heran betah nggak tidur lama banget demi ngeliatin tiap hari.”
Wooyoung mendengar gemelisik kain yang menandakan Yeosang tengah menumpangkan sebelah kaki di atas yang lain, pose favoritnya kalau sedang berniat membuat hidup Wooyoung menderita. “ Shut up ,” gerutunya bersungut-sungut.
“Oh? Nggak usah aku kasih tahu kalau ada titipan dari dia buat kamu berarti.”
Kan. Bener-bener penderitaan ini. Wooyoung masih tengkurap di atas kasur tapi dia bisa mendengar nada kemenangan di suara Yeosang. The little shit .
Wooyoung memperhatikan San yang duduk di kursi favoritnya di ruang tamu. San yang diam saja dari tadi, tidak langsung cerita ini itu seperti biasanya. Bahkan cuma tersenyum ketika Wooyoung mengucapkan terima kasih atas mahkota bunga yang sampai sekarang masih nangkring dengan manis di meja samping tempat tidurnya.
“Sannie laper?” Tebaknya, ingin tahu apa yang membuat si peri hutan di depannya ini begitu redup.
San mengangkat kepalanya lalu menatap Wooyoung bingung. “Nggak kok … ?”
Wooyoung menatap San lekat-lekat. “Terus kenapa kok diem aja? Capek ya? Atau sakit? Sannie nggak lagi sakit, kan?” Ujung kalimatnya meninggi bercampur khawatir. Punggung tangannya ditempelken ke dahi San, lalu telapak tangannya, lalu punggung tangannya lagi.
Kedua mata San mengerjap-ngerjap. Masih bingung. Bingung tapi senang juga melihat Wooyoung khawatir sebegitunya. Dia menggeleng pelan-pelan, biar tangan Wooyoung tidak kemana-mana dan tetap di dahinya. “Nggak capek, nggak sakit juga.”
“Terus kenapa dong? Atau lagi sedih?”
Kalau pertanyaan yang ini membuat San jadi berpikir sejenak, kemudian mengangguk.
Wooyoung beringsut mendekat, tangan yang tadinya di dahi kini berpindah untuk menggenggam kedua tangan yang tergeletak di pangkuan si peri hutan. “Sedih kenapa?”
San memperhatikan tangannya yang ada di dalam tangkupan tangan Wooyoung. Bertanya-tanya kenapa tangan dingin Wooyoung membuat hatinya terasa hangat. “Nggak tau,” jawabnya setelah ingat kalau pertanyaan Wooyoung belum ia jawab.
Wooyoung tidak melepaskan tangannya. “Kok nggak tau?”
“Soalnya bikin bingung kenapa Sannie sedihnya.”
“Coba ceritain ke aku apa yang bikin Sannie sedih?”
San memejamkan matanya, membayangkan kembali perasaannya kemarin ketika bertemu dengan Yeosang di mansion. “Kok Wooyoung nggak pernah cerita kalau di mansion ada Yeosang?” Bukannya cerita, San justru balik bertanya.
Hati Wooyoung, jujur saja, langsung mencelos. Perlahan-lahan ia tarik tangannya dari pangkuan San, berusaha sekuat tenaga mengabaikan kecewa yang bisa ia lihat terbersit sekilas di wajah si peri hutan.
“San pengen tau tentang Yeosang? Nanti aku ceritain semuanya tentang dia!” Wooyoung memaksa suaranya untuk tetap ceria, sepenuhnya menyadari kalau ia justru jadi kedengaran bodoh karena biasanya ia tidak berbicara dengan nada semelengking ini.
Memang ya Yeosang. Sekali doang diliat langsung bikin peri hutan-nya tertarik.
San cuma bisa mengerjap bingung. “Nggak perlu juga sih kalau semuanya? Sannie cuma penasaran aja kenapa Wooyoung nggak pernah nyeritain tentang dia.”
Wooyoung menyeringai lebar. Beda dari senyum kecil yang biasanya didapat San. “Maaf ya, aku nggak ada maksud nyembunyiin Yeosang dari Sannie. Ganteng ya dia?”
Kedua mata San bergetaran menutup, begitu juga suaranya saat ia selesai menelan ludah dan menjawab. “Iya. Ganteng banget, cocok bersandingan sama Wooyoung.”
“Cocok pasti sama Sannie, kalian sama-sama — hah?”
Mereka berdua bertatap-tatapan hening.
“Yeosang cocok sama … aku?” Wooyoung yang lebih dahulu memecah canggung yang terjadi. “Makasih banget tapi nggak usah, Yeosang tuh sepupu aku. Ngeselin pula.”
“Aku cocok sama Yeosang?” San bergumam pelan, masih bingung dengan apa yang barusan terjadi.
“Nggak! Nggak kok, jangan didengerin tadi aku lagi kesurupan aja,” Wooyoung buru-buru menyanggah. God , hampir saja dia bikin San jadi memikirkan dirinya sendiri bersama Yeosang.
“Emang vampir bisa kesurupan?”
“Bisa! Aku buktinya.”
Tawa San pecah berderai, dan Wooyoung akhirnya bisa bernapas lega.
“Sannie sekarang kalau berjemur biasanya di mana, Nak?"
San yang sedang fokus merangkai kalung bunga (lagi) langsung membeku, walaupun ia sudah menduga Mama akan menanyakan ini lagi kepadanya.
"Mama udah nggak pernah lagi ketemu Sannie kalau lagi nyari tempat berjemur. Lebah-lebah juga pada nanyain Sannie kemana kok udah lama nggak keliatan.”
San memasang wajah polos terbaiknya. “Sannie cuma jalan agak lebih jauh dari biasanya kok, Ma. Pengen liat ada bunga-bunga apa aja selain di sini!”
Mama menoleh dari fokusnya melipat baju mereka yang sudah kering sore ini. “Yang penting nggak main ke Utara kan, Sannie? Nggak lupa kan kalau Mama nggak bolehin kamu main ke sana?”
San tersenyum lebar sambil memasang tangan di sisi kepalanya dalam sikap hormat. “Nggak lupa dong, Baginda Ratu. Sannie kan anak pinter!”
Mama tertawa kecil, mengakui kalau putranya ini memang anak baik. Mama bangga banget.
Keesokan harinya San melangkah keluar rumah dengan rasa bersalah memberatkan kakinya. Tapi dia tidak bisa melepaskan pertemanannya dengan Wooyoung. Dengan sedikit doa kepada Dewa Alam dan permintaan maaf kepada Mama di dalam hati, San bergegas menuju tempatnya biasa bertemu Wooyoung.
Ia keluarkan sapu tangan yang biasa ia bawa, untuk mengusap sisa-sisa darah yang mengotori sisi-sisi mulut Wooyoung. Senyum si vampir hangat walaupun gigi-gigi taringnya mencuat menakutkan.
Mama, memang betul dia berbahaya
Tapi aku nggak menyesal sudah kenal dia
