Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
ENHYPROMPT: Secret Santa
Stats:
Published:
2022-12-20
Words:
1,065
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
130
Bookmarks:
4
Hits:
1,382

Jakarta Gak Ada Romantis-Romantisnya.

Summary:

Jakarta gak ada romantis-romantisnya, tapi kalau ingat gimana gue sukarela menghantam semua macetnya demi sekedar menjemput pacar gue yang gajinya pas-pasan UMR belaka, gue tahu ini namanya cinta.

Notes:

Jayhoon dalam 1065 kata. Dijabarkan dari sudut pandang Park Jongseong
sebagai orang pertama. Memakai banyak referensi tempat di Jakarta dan makian dalam bahasa vulgar. Mereka berdua masyarakat dengan kelas sosial menegah. Banyak implikasi hustle culture dan mid-life crisis. Ditulis sebagai bagian dari ENHYPROMPT FIC FEST: Secret Santa.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Jakarta, 2022.

 

Jakarta gak ada romantis-romantisnya.

Gue berani bilang begini karena gue sudah hidup cukup lama di Ibu Kota yang paling gak jelas cuacanya itu. Kalau siang selalu bangsat panas teriknya; pun kalau sekalinya turun hujan, gue bagai sebelas-dua belas dapat pengalaman jadi tokoh pendukung di Weathering With You (2019) milik Makoto Shinkai. Lihat saja kondisi gue sekarang. Kondisi gue yang sangat-amat memprihatinkan sekarang . Anak laki-laki kelahiran 2002 dalam balutan jas hujan warna hijau, terguyur derasnya titik-titik air yang berjatuhan dengan kejam; dikerjai lampu merah salah satu cabang jalan Bundaran Air Mancur Senayan pula.

‘Kapan ijonya, sih, anjinggg’ maki gue dalam hati, mulai deprivasi rasa sabar. 

Stang motor Honda Beat milik Bunda tengah gue genggam erat selayaknya memegang tiang agama saking atmosfer dingin ini mulai buat gigi bergemeletuk. Kedua kaki gue yang memang dari sananya panjang, menapak total pada aspal basah; agak menekuk malah. Gak tahu harus bersyukur atau enggak karena tadi siang rupanya Ninja Merah Kawasaki gue dibawa kabur sang Kakak tersayang. Kemungkinan besar sih buat ngapel . Hati nurani gue berdoa semoga dia gak bernasib seperti gue—kehujanan. Gak kebayang kalau mesin manja itu seenak jidat memilih mogok ketika dihantam banjir.

Helaan napas gue saja berakhir jadi kabut pada kaca helm. Pandangan gue yang seketika mengabur itu jelas cuma tambah bikin emosi. Lagi-lagi organ genital meluncur dari mulut gue sebagai sumpah serapah. 'Kontol!' . Mungkin kesabaran gue memang cuma setipis uang dua ribu rupiah. Pemandangan depan gue yang langsung dipantati Patung Pemuda Membangun juga gak membantu banyak.

Jakarta gak ada romantis-romantisnya.

Gue taruh beberapa pengecualian untuk momen seperti ketika gue menyambangi temporary exhibition di Galeri Nasional atau sekedar pergi photobox ke rumah adat Jakarta Selatan: Mbloc. Pengecualian lainnya akan gue taruh di RoJA by MoJA Museum. Singkatnya: tempat main sepatu roda. Lokasinya ada di dalam Gelora Bung Karno. Harga tiketnya jujur agak bajingan, sih. Kendati yang gue ingat dari hari itu cuma wajah Park Sunghoon yang luar biasa riang karena rupanya dia handal meluncur ke sana-sini. 

Oh, iya, Sunghoon nama pacar gue.

Alasan kenapa sekarang gue rela hujan-hujanan bersama motor matic adalah karena mau jemput dia pulang kerja. Tempat kerja pacar gue yang lahir bulan Desember itu masih di sekitar kawasan GBK. Setiap hari gue bersyukur karena Sunghoon gak jadi ambil tawaran di daerah SCBD (Sudirman Central Business District), jadi gue gak perlu putar balik lewat Simpang Susun Semanggi dulu setiap mau jemput, atau merasa harus pakai lanyard supaya bisa masuk ke standar tampilan anak-anak intern di sana.

(Bercanda). 

Sunghoon gak kuliah. Habis lulus SMA, dia langsung kerja. Kita ketemu di salah satu pameran di Jakarta Convention Center saat sama-sama jadi volunteer . Rencananya tahun depan anak itu mau ambil kelas karyawan karena tempat kerjanya bilang, dia harus punya gelar sarjana supaya lebih mudah naik jabatan. Gue gak mau komentar apa-apa karena cuma bisa mendoakan. Kapitalisme brengsek . Semoga Sunghoon gak mati muda. Sementara gue adalah pekerja lepas yang sepenuhnya bekerja dari rumah. 'Freelancer' dan 'Work From Home' kalau kata apalah istilah orang Amerika. 

Sunghoon yang dulu naksir gue duluan, omong-omong.

Gue bisa apa kalau tampang rupawan dan perangai dengan rasa percaya diri tak ketulungan itu gencar betul mendekati gue di sela-sela waktu jadi relawan. Yang tiba-tiba minta rokok lah; yang gemar lemparkan ajakan makan siang bersama lah; sampai tahu-tahu gue sudah sukarela saja mengantar eksistensi itu pulang sampai depan pagarnya. Siapa sangka gue berakhir jatuh lebih terperosok daripada yang gue kira.

Kembali lagi ke waktu saat ini. Kini gue mau gantian mengutuk Jakarta dan para arsiteknya yang hobi membuat parkiran motor jauh di dalam tanah; seolah kita kendaraan paling hina yang tak boleh terlihat eksistensinya. Gue sampai harus turun tiga lantai parkir dulu untuk mencapai basement karyawan. Untungnya gak perlu menunggu lama sampai mata gue langsung mendapati figur jangkung Sunghoon yang sedang clock-out lewat mesin absensi sidik jari.

Sunghoon itu bajingan. 

Cowok yang sayangnya gue cinta setengah mati tersebut langsung cekikikan takala melihat gue masih dalam balutan mantel ponco. 

"Sumpah… Kayak Kaonashi ."

"Ketawa sekali lagi, gue tinggal."

Anak itu jelas makin tertawa riang; seolah tak habis dibantai jam kerja lembur. Gue gak tahu kenapa dia senang betul lembur dari durasi shift aslinya, pun Sunghoon bilang memang tradisi lingkungan kerjanya begitu adanya. Sedikit-banyak mengingatkan gue akan bos gue yang gemar menelepon pagi-pagi buta. Sekali lagi: kapitalisme brengsek. Walaupun begitu, tetap saja tangan gue kontradiktif mengulurkan helm warna merah yang memang selalu gue bawa untuk dia.

"Makasih, sayang."

Kan . Park Sunghoon dan mulut isengnya. Gue masih sering menemukan diri sendiri salah tingkah setiap dipanggil begitu, kendati sekarang sudah lebih handal menyembunyikannya. Lebih baik gue putar balik lagi ke rumah daripada membiarkan Sunghoon tahu kalau gue grogi.

"Harusnya bilang kalo hujan. Biar gue naik Go-Car aja."

Cowok itu— cowok gue —lanjut bicara. High fare jam pulang kerja ditambah hujan deras. Membayangkan nominalnya saja sudah cukup buat gue sakit kepala. 

"Lo mau punya rumah sama gue gak, sih?"

Sunghoon ketawa lagi. Ini candaan internal nomor dua kita setiap sama-sama sudah dibelai lelah: punya rumah di pinggir kota. Nomor satunya adalah celetuk 'Kawin lari, yuk' yang biasa gue balas 'Lo mau nikah pake mas kawin kuota Indosat?'

"Yaudah, deh. KRL juga bisa."

Mana sudi gue membiarkan Sunghoon jadi pepes di transportasi umum paling keji satu itu. Apalagi dengan rute barunya yang membuat jarak Stasiun Sudirman ke rute lain harus berhenti transit dulu. Bisa gue tendang satu-satu semua orang di Stasiun Manggarai kalau pacar gue kenapa-napa. 

"Baru hujan pas gue udah di tengah jalan, yakali gue muter balik lagi."

Sunghoon masih senyam-senyum. 

"Lo naksir banget ya sama gue."

Banget. 

Gue menatap Sagittarius satu itu dengan muak. 

"Bacot. Buruan naik."

Jakarta gak ada romantis-romantisnya, tapi kalau ingat gimana gue sukarela menghantam semua macetnya demi sekedar menjemput pacar gue yang gajinya pas-pasan UMR belaka, gue tahu ini namanya cinta

Jakarta gak ada romantis-romantisnya, tapi di tengah-tengah fX Sudirman dan kelompok idola Ibu Kota yang barangkali sedang latihan di lantai empat, gue menemukan cinta. Bentuknya hadir dalam sosok cowok yang beberapa senti lebih tinggi; satu paket dengan kadar percaya diri yang jauh lebih tinggi lagi. Gak apa-apa, toh gue cuma mau yang ini. 

"Jongseong."

Nama gue dipanggil dari belakang. Sunghoon senderkan sisi wajahnya ke punggung gue seiring dengan lengannya yang menyelinap dan memeluk pinggang gue. Bisiknya tersuara parau kemudian, tapi gue tahu dia tulus. 

"Makasih, ya."

Senyum gue akhirnya pecah juga. Kunci motor kembali gue putar dan mesinnya menyala; sengaja supaya suara balasan gue agak teredam, kendati tetap saja Sunghoon bisa dengar. 

"Bawel.”

Sama-sama, sayang.

Notes:

Jayhoon dalam 1065 kata. Dijabarkan dari sudut pandang Park Jongseong
sebagai orang pertama. Memakai banyak referensi tempat di Jakarta dan makian dalam bahasa vulgar. Mereka berdua masyarakat dengan kelas sosial menegah. Banyak
implikasi hustle culture dan mid-life crisis. Ditulis sebagai bagian dari ENHYPROMPT
FIC FEST: Secret Santa.