Work Text:
Mereka bertiga duduk melingkari api unggun. Paimon sedang bercerita dengan semangat mengenai kisah-kisah seram yang mereka dengar selama Kimodameshi di Inazuma. Sementara Paimon bercerita, Sang Pengembara melirik ke arah Wanderer yang terdiam, tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Sang pengembara tidak mengganggunya dan memilih diam. Membiarkan hanya suara Paimon dan gemeletuk api di bawah kuali masakan mereka mengisi keheningan malam itu.
***
Setelah Paimon tertidur, Sang Pengembara menyadari Wanderer telah menghilang. Pergi dari tempatnya. Jejak elemental anemo masih terlihat segar di udara. Sang pengembara memastikan Paimon diselimuti dengan baik dan tertidur lelap sebelum mengikuti jejak itu sampai ke bibir jurang tempat kunang-kunang beterbangan.
Di atas sebuah batu, Wanderer duduk seorang diri. Wajahnya mendongak menatap rembulan.
"Bicaralah." Wanderer berkata bahkan sebelum Pengembara mendekat. "Kau ingin menggangguku, kan? Sebaiknya katakan segera sebelum mood-ku berubah buruk."
Dalam diam, Sang Pengembara menghampiri Wanderer dan berdiri di sisinya.
"Kau memikirkan sesuatu?"
Wanderer mendengkus. "Tentu saja. Setelah bersabar mendengar ocehan benda itu tanpa henti, sudah wajar jika aku membutuhkan waktu untuk berpikir, kan?"
"Hm, Paimon memang seperti itu." Sang pengembara mengiyakan. Kadang beberapa orang mendapati suara Paimon terlalu menjengkelkan untuk didengar. Ia sudah biasa mendengar kritik itu.
"Kau harus sesekali melatih benda itu untuk tahu kapan saatnya harus diam." Wanderer bersungut kesal. "Atau ia akan membawamu pada masalah satu hari nanti."
"Paimon tidak akan membawa masalah begitu besar untukku." Pengembara mengelak dengan yakin. "Tidak sampai ke level yang tidak bisa aku atasi."
"Percaya sekali kau padanya!" Wanderer mencebik. "Kepercayaan seperti itu akan membawamu kepada kehancuran jika tidak dikelola dengan baik!"
Rasanya kata-kata itu tidak hanya ditujukan kepada Sang Pengembara. Tapi Sang Pengembara tidak berani berkomentar. Ia sudah berjanji pada Nahida dan Sang Wanderer ada dalam perlindungan sang Dewi.
"Jadi kalian bertemu hantu di Inazuma?"
"Tsukumogami dan Yokai tepatnya." Sang pengembara mengoreksi. "Tapi, ya, kami pernah bertemu fragmen dari masa lalu seperti itu di Tsurumi."
Sang Wanderer terdiam. Angin berembus di antara mereka. Angin yang entah kenapa, membawa kesedihan bersamanya.
"Apa … kau juga melihatnya…." Kata-kata itu terputus sejenak. "Di … Tatarasuna?"
Kesunyian langsung mengisi ruang di antara mereka. Kesedihan yang terbawa angin kini telah jelas dari man asalnya. Sang pengembara memejamkan mata, mencoba mengingat sebisanya, mencoba berusaha sedikit saja.
Pertanyaan itu bukan keluar dari Wanderer ataupun Scaramouche sang Harbinger. Itu keluar dari Sang Kabukimono yang mendapatkan segalanya dan kehilangan segalanya di Tatarasuna ratusan tahun lalu.
Hanya untuk itu, Sang Pengembara berusaha. Bukan untuk Wanderer, tapi untuk sang boneka terbuang yang teraniaya ratusan tahun silam.
Sayang, kenyataan tidak bersikap baik pada siapa pun.
"Sejujurnya, aku belum pernah bertemu hantu sungguhan di Inazuma. Kebanyakan hanya berupa anomali Ley Line atau fragmen masa lalu yang tercermin kembali berkat kekuatan dari dalam Teyvat. Beberapa hanya sibuk mengulang kembali siklus hidup mereka tanpa henti beberapa masih memiliki kesadaran untuk menyahutimu." Sang pengembara berujar. Matanya ikut memandang bulan yang dingin membalas balik tatapan mereka yang tiada berdaya di bawah sini. "Tatarasuna mungkin tempat dengan konsentrasi elemental tinggi, tapi di sana tidak ada anomali Ley Line yang aku dapati maupun fragmen masa lalu yang diproyeksikan kembali."
Di sisinya, Wanderer terdiam.
"Seorang kenalanku di Liyue pernah mengatakan, kalau hantu tercipta karena ada keinginan yang belum selesai dari seseorang. Biasanya, penyesalan atau keinginan yang tak sampai." Sang pengembara berhenti sejenak, menanti Wanderer untuk memotongnya, tapi hal itu tidak pernah terjadi. "Jika tidak ada anomali Ley line, proyeksi masa lalu, ataupun perwujudan masa lalu yang kembali karena urusan mereka belum selesai, artinya…."
Sekali lagi diam. Sang pengembara mengambil napas. Matanya diam-diam melirik sosok Wanderer. Sosok yang biasanya begitu angkuh dan teguh itu kini tampak rapuh dan … kesepian.
"Seluruh keinginan mereka telah terwujud."
"Atau mungkin mereka beserta jiwa mereka terbakar habis tanpa sisa." Sang Wanderer terkekeh penuh ironi. "Mungkin api yang aku hentikan saat itu hanya sedikit dari apa yang membakar di luar sana. Siapa yang tahu?"
Tawa pahit penuh ironi. Sang pengembara memejamkan mata, mencoba memahami dan membaca situasi. Semua orang punya cara mereka sendiri untuk berdamai dengan duka dan kesedihan. Beberapa memilih diam, banyak yang memilih menangis, banyak yang memilih melampiaskannya kepada orang lain. Tapi sebagian kecil, golongan paling menyedihkan dari semuanya, memilih untuk menyembunyikan kesedihan itu di balik tawa palsu.
"Atau hanya semudah, mereka tidak lagi punya penyesalan." Sang pengembara memandang punggung Wanderer. "Ambisi mereka, harapan dan keinginan mereka sudah terwujud. Tanpa penyesalan sama sekali."
Suara tawa yang getir itu kembali keluar dari mulut Wanderer.
"Kematian yang begitu sia-sia dan bodoh seperti itu … kau pikir tidak satu pun dari mereka punya penyesalan?" Wanderer menutupi wajahnya. "Entah logikamu yang terlalu konyol atau memang orang-orang itu yang … terlalu…."
Kata-kata yang terputus, wajah yang menunduk dan bersembunyi di balik bayang-bayang, serta kesunyian yang mengikuti di belakangnya … sang pengembara tidak bisa berkomentar apa-apa.
"Malam sudah larut, aku tidur duluan." Sang pengembara berbalik lebih dulu. "Jangan lupa istirahat."
"Kau tahu tubuhku tidak membutuhkannya."
"Aku tidak hanya bicara soal tubuh," sang pengembara beralasan. "Pikiran juga … butuh sedikit ruang untuk beristirahat. Tidak bisa selamanya dipaksa untuk merenungi segala hal."
Wanderer berdecak. "Urus saja urusanmu sendiri! Aku hanya di sini karena misi dari Nahida, tidak lebih!"
Sang pengembara memilih untuk tidak mendebat. "Jika itu maumu."
Sang pengembara pun melangkah pergi. Meninggalkan sosok kesepian itu seorang diri di bibir jurang. Jika Wanderer tidak bertekad untuk menebus kesalahannya, mungkin ia akan memilih untuk jatuh dari jurang itu dan mengakhiri segalanya. Tapi Sang Pengembara yakin, seseorang dengan tekad sekuat itu untuk terus hidup mengemban dosa, tidak akan semudah itu mengakhiri hidup.
Meski mungkin … ia akan berjaga-jaga di dekat sini. Bersembunyi menyamarkan hawa keberadaan.
Sekadar berjaga-jaga.
***
Segera setelah ditinggalkan sendirian–tidak benar-benar sendirian, karena ia masih bisa merasakan kehadiran Sang Pengembara di belakangnya, sepertinya sengaja bersembunyi–Wanderer termenung memandangi rerumputan yang bergoyang di bawah kakinya.
Barisan semut berjalan di dekat kakinya. Tanpa mengganggunya sama sekali, koloni semut itu berjalan bersama tanpa pernah terpisahkan. Pikirannya kembali berkelana ke tempat yang jauh, kepada kemungkiann-kemungkinan yang tidak lagi bisa digapai.
Tanpa diganggu siapa pun, semut-semut iti tentunya akan hidup panjang.
Tanpa kehadiran dirinya, pasti … orang-orang Tatarasuna akan….
"Ah, tidak." Wanderer mengingat, Dottore ada di sana bahkan sebelum dirinya datang.
Jika ia tidak ada di sana, orang selicik Dottore pasti masih akan bisa melancarkan rencana lain. Bisa lebih berbelas kasih, bisa jauh lebih buruk.
Mungkin, tidak peduli apa pun yang akan terjadi, baik ia datang ke sana, maupun tidak, orang-orang Tatarasuna tetap akan dikorbankan demi menanam bibit kekacauan di Inazuma.
Kedua tangan putih itu mengepal kuat-kuat ketika wajah dari orang-orang yang dulu mengisi hari-harinya yang kosong, orang-orang pertama yang memberinya kebahagiaan setelah dicampakkan, para warga yang dengan baik menerima dan memperlakukan dirinya sebagai bagian dari mereka sampai akhir.
Hanya demi kekacauan yang jauh di masa depan, orang-orang tidak bersalah di Tatarasuna dikorbankan. Orang-orang yang tidak punya kepentingan apa pun, kesalahan apa pun….
"Katsuragi … Nagamasa … Nozomu…." Nama, satu demi satu, muncul dalam bisikan lewat lisannya. Semua orang yang ia ingat dari Tatarasuna. Semua yang musnah, hilang tanpa kembali, maupun yang tewas pada hari itu. Semuanya ia sebutkan tanpa terlewat satu pun. "Niwa…."
Sepenting itu mereka bagi dirinya.
Namun mereka hanya serangga bagi Dottore.
Kenyataan itu selalu memukul Wanderer kapanpun ia mengingatnya.
Hal yang berharga, tidak tergantikan dan tidak akan ia tukar pada apa pun di dunia ini, pada kenyataannya hanya sekumpulan serangga di mata orang lain.
"Lucu…." Sang Wanderer tertawa sendiri. "Bukankah aku melakukan hal yang sama ratusan kali?"
Lantas siapa aku sampai berhak berpikir, semua ini tidak adil?
Orang-orang yang ia bunuh, mereka yang masa depannya ia hancurkan…. Yang tidak terhitung lagi jumlahnya….
Sosok yang kesepian itu memegangi dadanya. Merasakan sakit aneh yang entah bagaimana bisa datang dari dadanya yang tidak memiliki jantung. Tidak memiliki hati.
"Tidak ada penyesalan, ya?" Sang Wanderer kembali mendongak memandang bulan yang membisu. "Tentu saja…."
Jika orang-orang Tatarasuna memiliki penyesalan, sudah pasti ia akan kena yang namanya kutukan atau karma.
Meski ia tidak percaya hal semacam itu berlaku bagi boneka seperti dirinya.
Tapi tidak. Bahkan sisa-sisa mereka tidak ada di Tatarasuna. Mereka tersapu bersih dari dunia orang hidup, menyisakan hanya sejarah yang ditulis dengan tinta hitam karena insiden tidak terjelaskan.
Meski dihapus, meski dirinya memanipulasi Irminsul, tiada satu pun roh pendendam datang kepadanya. Seolah mereka semua tidak pernah sekalipun menyimpan dendam padanya.
"Hati yang murni."
Wanderer merasakan dadanya yang dingin. Dulu, di sana sempat bersarang jantung dari orang yang sangat berharga baginya. Jantung yang ia buang karena ketakutan. Seseorang yang meski terbunuh dan disalahkan dengan cara paling kotor, memiliki hati paling bersih yang melindunginya.
"Kenapa bahkan di kematianmu, kau terus melindungiku…."
Melindungiku yang seperti ini….
"Kenapa….?" Tanpa bisa ditahan, setetes air mata jatuh menuruni pipi sang boneka. "Niwa-sama…."
Pertanyaan itu, tentu saja, sama seperti semua pertanyaan di benaknya, sampai kapan pun … tidak akan pernah terjawab.
***
