Actions

Work Header

Dari Hati ke Hati

Summary:

Mereka dan cerita dibaliknya. Mencari titik terang agar terbebas dari kelabu.

Notes:

hai! im sorry for being 🐌 :D

@akaashickeiji on Twitter! 🤟🏾

Work Text:

Kageyama menyambungkan panggilan video pada Hinata, yang pertama ia lihat ketika panggilan tersambung adalah layar hitam dengan suara grasak-grusuk. Ia memfokuskan perhatiannya pada laptop di depannya hingga kemudian muncul rambut oranye yang sepertinya sedang telungkup di atas kasurnya.

Kekasih oranye nya itu sekarang tengah memakai hoodie oversize, kupluk nya dipakai sehingga menutupi hampir semua bagian kepalanya, menyisakan mata yang sengaja ia perlihatkan. Iris keemasan itu nampak bersinar memancarkan cahaya pantulan dari lampu tidurnya. Untuk beberapa saat, Kageyama terdiam. Terpesona. Cantik, indah, sempurna.

“Mana wajahnya?” Kageyama berucap pertama.

Hinata sempat terkejut, ia malu untuk menunjukkan wajahnya seperti ini. Karena kemarin-kemarin mereka hanya melakukan panggilan suara. Awalnya Kageyama sempat memintanya untuk mengganti jadi video-call, tapi Hinata bersikeras menolaknya.

Seminggu ini, karena Hinata yang mungkin kesal padanya menyebabkan sulitnya ia untuk bertemu. Lelaki itu hanya takut membuat kekasihnya semakin kesal, karena ia tidak tahu akar dari diamnya Hinata akhir-akhir ini.

“Nih,” Hinata membuka sedikit kupluk nya dan dengan sengaja mendekatkan wajahnya pada kamera, “Biar keliatan jeleknya!” Bibirnya membentuk sebuah pout secara tidak sadar.

Kedua sudut bibir Kageyama terangkat sedikit, “Enggak juga, still pretty.”

Si rambut oranye hanya berdecak, menahan senyumnya. Dia itu kenapa, sih, selalu berhasil buat Hinata salah tingkah seperti ini? Yang dijuluki Tangerine itu selalu menebak-nebak kira-kira mantra apa yang digunakan kekasihnya sampai membuatnya gampang luluh?

“Senyum mah senyum aja kali.” Hinata dapat mendengar kekehan kecil dari pacarnya. Ia memalingkan wajahnya, menggeser ponselnya agar tidak terlalu kelihatan kalau ia sedang memerah.

“Apa, sih! Enggak usah so asik.” balas si oranye. Kageyama semakin terkekeh, ia suka reaksi yang Hinata berikan. Seolah menolak, tidak suka dengan pujian-pujian tersebut. Padahal hatinya selalu menginginkannya.

“Not gonna lie, you’re so pretty tonight. Abis makan apa, sih?”

“Kage, ih! Kenapa jadi cheesy gini, sih?”

“Aneh, ya? Apa enggak suka?”

Hinata berdengung, “Enggak aneh.. suka, kok. Cuman kaget aja? Like, Kageyama Tobio being a cheesy person.”

Kageyama tertawa mengikuti Hinata, “Sounds good, i guess.”

“Udah, ah, udaaaah. Liat! Merah!” Hinata menunjuk pipinya yang memerah dengan ekspresi marah yang dibuat-buat.

Melihat itu, Kageyama berujar dalam hati, ‘Apa gue samperin aja ke rumahnya, ya? Gemes banget cok gak nahan.’

“Kage, kok diem???” Ditengah asiknya menikmati keindahan di layar laptopnya, Kageyama disadarkan oleh karena panggilan tersebut. Kageyama hanya menggeleng seraya tersenyum tipis. Ia rasanya tergila-gila oleh Hinata Shouyou.

Keheningan melanda, Kageyama sibuk memerhatikan kekasihnya, sedangkan Hinata memilih untuk mengambil minumnya di meja belajarnya, sebenarnya ini hanyalah alibi agar kecanggungan sedikit berkurang. Ponselnya ia sandarkan pada bantal. Lantas, ketika ia meneguk air minumnya, Kageyama memanggilnya. Panggilan yang selalu membuat perutnya seperti mules dan penuh, penuh oleh kupu-kupu yang terbang, jantungnya spontan bergerak lebih cepat dari normalnya.

“Sayang?”

Sialan. Mengejutkan sekali. Hinata malah tersedak karenanya. “Sayang, you okay?”

“I’m good, gapapa kok,” Hinata tertawa kecil yang dibuat-buat. Ulah Kageyama Tobio memang selalu membuatnya bereaksi berlebihan. Tuh, kan.

“Alright. Anyway.. I wanna talk about something with you. About our relationship.”

Belum juga selesai dari keterkejutannya tadi, kini jantungnya semakin berdegup kencang saat Kageyama berbicara seperti itu. Akan deep talk? Astaga, itu hal yang Hinata takutkan. Entahlah, hanya takut tanpa alasan. Ia takut akan hasilnya nanti. Ia takut apa yang ia katakan akan membuat Kageyama maran dan berujung memutuskan hubungan ini. Ia sangat tidak ingin hal itu terjadi.

Selama ini, hubungan mereka baik-baik saja, Hinata tidak keberatan dengan Kageyama yang cuek meskipun itu menyebabkan ia kesal sendiri. Hinata kembali ke kasurnya, kembali ke posisi asalnya tadi.

“Boleh? Ada banyak hal yang mau aku omongin, ini tentang kita. Ke depannya juga.”

“All right, Tobio.. I'm with you. Aku juga, kok.”

Kageyama mengembuskan napasnya untuk merilekskan pikirannya, ia takut salah berbicara. Ia tidak pandai akan hal itu. Sejak kecil, ia tidak terbiasa terbuka pada siapapun, bahkan kepada orang tuanya sekalipun. Dan ini mungkin kali kedua baginya untuk berbicara dengan pembahasan dalam setelah yang pertama dengan ayahnya ketika ia akan memasuki sekolah menengah atas.

“Aku mau introspeksi diri, aku harus bisa merubah diriku sendiri untuk jadi lebih baik. Enggak salah, kan?” pertanyaan tersebut hanya dibalas anggukan singkat oleh Hinata.

Kageyama nampak tengah duduk di gaming chair itu memajukan kursinya agar lebih maju. “Ada beberapa, sih, yang mau aku tanyain.”

“Oke.. tanya aja, aku jawab sebisa aku, ya.”

“Ada sifat aku yang enggak kamu suka? Pasti ada, sih. Yang paling nyebelin menurut kamu apa?”

“Aku sebutin satu-satu?”

“It’s up to you, sayang. Tapi di jabarin aja, ya? Biar akunya ngerti. Keluarin aja semuanya.”

“... Gimana, ya.. aku bingung,”

Kening Kageyama sedikit berkerut, “Bingung kenapa?”

“Enggak tahu.. di kepalaku ada, kok, cuman sulit buat di ungkapkan.”

“Pelan-pelan, oke? Atau kalau kamu belum siap bisa besok, kok.”

Hinata spontan menggeleng, mungkin memang ini sudah saatnya untuk berterus terang pada lelakinya. Karena tidak mungkin ia harus memendam lebih lama lagi.

“Aku.. gak suka sama sifat cuek kamu— MAKSUD AKU kaya, gapapa, sih..”

Kageyama mengangguk mengerti, nampaknya ia akan mencatat semua yang Hinata katakan padanya. Ini untuk evaluasi terhadap dirinya sendiri, karena mungkin karakternya sedikit membuat orang-orang tidak nyaman.

“Hah, itu dicatat, Kags?”

“Iya, sengaja.”

Hinata menganga, se niat itukah dia untuk berubah? Wah. Ia terkejut.

“Lanjutin, hei. Nyantai aja, sih. Kaya lagi ngomong sama Pak Dian aja.”

“Ish! Iya, itu. Aneh aku tuh, sebenernya kata yang tepat tuh bukan cuek, lebih ke enggak peka. Atau mungkin akunya yang banyak kode-kodean. Maaf, ya..”

“It’s okay, aku ngerti kamu emang suka kode-kodean,” Kageyama terkekeh, Hinata pun refleks terkekeh pula, “Kamu kan tahu, aku tuh paling gak bisa di ajak kode-kode begitu. Aku bukan anak Pramuka, jadinya aku enggak ngerti. Lain kali kalau kamu mau sesuatu tuh bilang langsung, ya? Kamu jangan sampe bilang a, padahal kamu tuh pengennya b. Aku selalu usahain kalau itu bersangkutan sama kamu.”

Tuh, kan, kenapa sempat-sempatnya memberikan kalimat menggelikan seperti itu? Mana lengkap dengan senyuman miring khas Kageyama Tobio.

“HALAAAH! Enggak usah gombal gitu, lah. Jelek wuuu!”

“Ohh, jadi gitu ya salting nya? Baru tahu aku.” Kageyama tertawa mengejek, hal itu membuat Hinata semakin kesal namun dua bibir itu tidak dapat berbohong ketika ia malah membentuk senyuman manis.

“Iyaaaa, Kage. Nanti aku bilang, kok. Maaf, ya, aku juga keseringan ngode gitu, emang bawaan lahir kayanya gitu, deh.”

“AHAHAHA! Kamu tau enggak bawaan lahir aku apa?”

Hinata berpose seperti sedang berpikir, “Bakar volly mu itu, ya! Ih aku tahu-an banget!”

“Tet tot, salah! Apa hayooo?”

“Ih apa dong??? Ganteng, ya?”

“... KOK BETUL?! Wah, curang. Kamu curang yaaa, ngaku!”

Hinata spontan tertawa keras, “Kan aku bisa baca pikiran kamu!”

Kageyama menanggapinya dengan cengiran dan berpura-pura terkejut, “Keren banget! Coba sekarang tebak aku lagi mikirin apa?”

“Lagi mikirin aku!”

“BETUL LAGI! Sayangku emang paling keren sedunia! Nanti aku kasih hadiah pukis, peluk dan kiss.”

“Mauuuu!”

“Besok, ya, Tangerine.”

“Ehehehe, okey-dokey, Tobio!”

Mereka menghentikan tawanya, Kageyama kembali angkat bicara, “Tangerine?”

Hinata menggigit bibir bawahnya greget, MENGAPA HARUS TANGERINE??? Itu panggilan mematikan yang bisa membuatnya luluh dalam sekejap. Tidak ada yang memanggilnya seperti itu selain dari Kageyama. Panggilannya unik, Hinata sangat menyukainya. Panggilan itu selalu menggetarkan hatinya, jantungnya akan dengan otomatis berpacu dengan cepat.

“Stop, Kags. Jangan Tangerine, ihhh!” Hinata berucap dengan nada merengek, seolah memohon agar Kageyama tidak mengeluarkan kata itu setidaknya untuk saat ini saja. Kan niatnya ingin menjadi cool di depan kekasihnya itu jadi hilang seketika.

Kageyama menyadari jika pipi itu semakin memerah ketika ia menyebut kata ’Tangerine’. Pengetahuan tentang Hinata bertambah satu, Hinata itu akan sangat luluh jika dipanggil Tangerine.

Lelaki berambut biru gelap itu tersenyum licik, “Tangerine, Tangerine, Tangerine!”

“IHH! AKU MATIIN, YA?!”

Sekarang tawa puas terdengar di indera pendengaran Hinata, suka sekali melihatnya salting brutal seperti ini.

“Bercanda, ahahaha! Asik banget sih ngisengin kamu, tuh.”

“DIAAAM!” Kageyama mengatupkan kedua bibirnya, meskipun ia masih ingin tertawa keras. “Tadi kamu mau ngomong apa?”

“Oh, iya, ini.. kamu enggak keberatan kalau aku posesif? Ini aku sadar diri, soalnya aku enggak suka punyaku seenaknya diambil orang.”

Hinata itu menyukai sisi posesif Kageyama. Ia merasa sangat dicintai jika Kageyama sudah posesif padanya. Karena sejauh ini, posesifnya Kageyama masih dapat ditoleransi akal sehat.

“Uhm, aku gapapa, sih. Aku suka, kok. Asal kamunya jangan berlebihan aja, kalo berlebihan aku enggak suka. Dan yang masuk akal! Jangan sampai aku dilarang main sama temen-temen ku.”

“Oke, oke, aman. Aku kenal semua temen mu, sih.”

“Nah, iya. Itu poin bagusnya.” Hinata terdiam sejenak, “Kags, janji sama aku untuk cerita hal-hal yang kamu jalanin, ya? Aku siap jadi tempat cerita kamu, tempat kamu ngeluh disaat hatimu lagi enggak baik, pundak aku selalu siap buat jadi sandaran dikala kamu capek. Jangan merasa sendiri, okay? Jangan sungkan sama aku.. kamu udah baik banget merespon semua keluh kesah aku, sekarang giliran aku, ya? Aku juga pengen diceritain yang kamu alami, sampai yang gak pentingnya! Aku suka kaya gitu, aku jadi merasa berguna sebagai pacar kamu. Mengerti, sayangku?”

Kageyama mendengarkan yang diucapkan lelakinya dengan saksama, Hinata benar. Ia tidak boleh terus-menerus merasa sendiri, ia harus mulai belajar berbagi cerita. Kageyama tersentuh atas apa yang Hinata ucapkan.

“Will do, Tangerine. Makasih, ya? Kamu udah bertahan sejauh ini. Aku tahu pasti kamu enggak betah sama aku yang cuek dan gak peka ini. Tapi aku bakal ubah sifat jelek aku perlahan. Bantu aku, ya?”

“Iya.. aku pasti selalu bantu kamu. Apapun itu. Jadi, baikan?”

Kageyama mengangguk dengan senyuman yang manis, “Baikan.”

Hinata tersenyum hingga matanya menyipit. Rasa senangnya membuncah karena akhirnya ia bisa terbuka pada Kageyama. Kekasihnya itu, Hinata sangat menyayanginya.

“I love you, Tangerine.”

“I love you, too. And always do, Blue Eyes.”

Mereka tidak tahu, jika Oikawa mendengar potongan percakapan mereka dari luar kamar. Kakak dari Kageyama itu tersenyum puas. Rencananya berhasil total.