Work Text:
Jeno membereskan buku-bukunya di atas meja perpustakan ketika seseorang dengan rambut oranye persis jeruk itu menabrakan pinggangnya tepat di pinggir meja, membuat Jeno mendongak dan memundurkan wajahnya ketika Si Oranye mengulurkan selembar kertas ke depan wajahnya.
"Ketua kelas, maaf terlambat mengumpulkan. Terimakasih."
Anak itu kemudian berlalu begitu saja setelah Jeno mengambil lembar kertas tadi. Tidak kaget lagi dengan tingkah teman sekelasnya Si Kepala Oranye Na Jaemin yang semaunya dan tidak memiliki tata krama, setidaknya itu yang anak-anak lain katakan ketika melihat Jaemin tidur saat jam pelajaran atau saat Jaemin meletakkan pantofelnya di atas loker di dalam ruang kelas, atau ketika Jaemin kabur saat jadwal piket.
Jeno menatap lembar di tangannya, menatap tulisan ceker bebek dengan tinta hitam itu dalam diam sebelum menyatukan lembar itu dengan lembar lain di atas tumpukan buku-bukunya,
Julliard School, Amerika Serikat.
Jeno berdiri dari duduknya, melangkahkan kaki ke dalam ruang wali kelasnya, menemukan Pak Kim sedang menggaruk punggungnya dengan tongkat yang biasa digunakan untuk mengajar.
"Oh Jeno, letakkan di sana," Jeno membungkuk sedikit kemudian meletakkan lembar formulir yang telah ia kumpulkan dari teman-temannya ke atas meja. Pak Kim menepuk punggungnya dan bergumam sesuatu seperti terimakasih dan kerja bagus padanya sebelum mengingatkannya bahwa besok adalah jadwal bimbingan dengan guru konserling mengenai jurusan perguruan tinggi.
Bimbingan tersebut biasa dilakukan untuk anak tingkat akhir, mereka akan membicarakan mengenai minat dan bakat kemudian akan disarankan jurusan dan kampus mana yang dapat mereka coba untuk daftar dan berapa nilai yang harus mereka raih ketika ujian masuk perguruan tinggi nanti.
Jeno akan melangkahkan kakinya berbelok ke arah gerbang ketika ia mendengar musik mengalun pelan dari kejauhan, musik itu berasal dari ruang tari yang sering digunakan klub tari sekolahnya. Setiap pulang sekolah, ruangan itu tidak pernah sepi dari musik yang mengalun. Terkadang musiknya terdengar bising dan bertempo cepat membuat dada berdebar, terkadang musiknya mengalun lamban dan mendayu seperti musik penghantar tidur.
Perumpaan yang buruk dari orang yang begitu awam dengan musik seperti Jeno.
Jeno mengernyit ketika musik yang lamban dan terdengar indah itu tiba-tiba diselingi teriakan keras yang terdengar seperi suara Na Jaemin.
"Sialan, kenapa aku harus jadi perempuannya? Park Jisung! Berhenti!"
Disusul dengan cekikikan yang bersaut-sautan. Begitu kontras dengan musik indah yang sangat cocok dimainkan ketika mendung sore-sore begini. Merusak suasana.
Entah dorongan dari mana, mungkin kesal karena teriakan dan cekikikan perusak suasana itu, Jeno melangkahkan kakinya ke arah ruang tari tersebut. Dengan ajaib, bagai sihir, cekikikan dan teriakan bising itu hilang, digantikan dengan senyuman manis Na Jaemin di dalam pelukan Park Jisung. Anak emas kelas 10A yang kemarin baru saja memenangkan perlombaan tari genre hiphop yang membuat anak itu tadi pagi ditepuki tepuk tangan nyaring ketika kepala sekolah menyebutkan namanya dengan bangga di depan podium saat upacara pagi.
Jeno mengerutkan hidungnya ketika melihat Jisung ikut tersenyum lebar, mendorong, menarik, memeluk, dan memutar tubuh dan lengan Na Jaemin seperti seperti anak itu adalah boneka yang ringan.
Perumpaan yang buruk dari orang yang begitu awam dengan tari seperti Jeno.
Mereka terus melakukan gerakan-gerakan itu berbarengan dengan musik yang mengalun, terus seperti itu sampai Jeno tiba-tiba dapat merasakan dirinya melangkah mendekat, menarik lengan Jaemin dan mulai mengikuti gerakan anak itu. Jeno tersenyum dengan lebar, menarik, memeluk, dan memutar tubuh dan lengan Na Jaemin seperti Na Jaemin adalah makhluk paling ringan di muka bumi, Jeno melayang, dia tidak lagi bisa merasakan kakinya menapak ke tanah, Ia dibawa terbang di udara dengan Na Jaemin yang dengan anggun bergerak sesuai dengan irama, memeluk, tertarik ke dalam pelukan Jeno, kemudian lari keluar dari pelukan Jeno hanya untuk kembali masuk lagi ke dalam pelukannya.
Jeno terbatuk, menggosok hidungnya dengan jari telunjuk ketika serbuk bunga dari musim semi yang tertinggal terbawa angin dan masuk ke dalam hidung dan tenggorokannya tanpa permisi, membuat khayalannya pecah seperti gelembung tersentuh ujung kuku. Perutnya mual, seperti ingin buang air besar. Dengan cepat kakinya ia langkahkan kemana saja, asalkan jauh dari sumber suara yang tiba-tiba begitu memekakan telinga.
Jeno pasti sudah gila. Dua tahun satu kelas dengan Na Jaemin, Ia tidak pernah menganggap anak itu makhluk yang signifikan menarik perhatiannya. Na Jaemin hanya datang ke sekolah untuk tidur dan mengikuti olimpiade seni, tidak pernah mengerjakan tugas dengan serius, kemudian pulang ke rumah. Dua tahun Ia satu kelas dengan Na Jaemin, belum pernah Ia merasakan hidupnya berputar dengan membingungkan, menarik dirinya ke sana ke mari. Na Jaemin hanya murid biasa yang selalu minta tambahan waktu pengumpulan tugas pada Jeno yang merupakan ketua kelas.
Tidak pernah menyangka Ia yang menari ke sana ke mari bisa membuat dirinya sebingung ini.
Donghyuck benar, seharusnya Jeno tidak memberikan anak itu kelonggaran waktu lagi, harusnya Jeno tidak menunggui pemalas itu mengumpulkan formulirnya sampai anak-anak lain sudah pulang ke rumah begini. Seharusnya Jeno berhenti memuaskan rasa penasarannya terhadap si penari kepala oranye.
...
Jeno berdiri di depan kelas dengan daftar nama-nama di tangannya, anak itu membacakan daftar ke 10,
"Na Jaemin, giliranmu. Silahkan tunggu di depan ruang Pak Kim."
Jeno bisa melihat anak itu mengangguk kemudian berdiri dari tempat duduknya, berjalan melewati Jeno, Jeno bisa melihat anak itu berjalan dengan sedikit terseok, dengan aneh anak itu menepuk perut Jeno kemudian dengan terseok lagi berjalan menjauh keluar kelas.
Na Jaemin itu memang begitu, dari hasil pengamatan Jeno, selain serampangan, Ia juga selalu melakukan hal aneh yang patut dipertanyakan maksudnya. Donghyuck pernah sekali bercerita padanya bagaimana bulu kuduknya berdiri dan tdiak mau turun lagi saat Jaemin tersenyum begitu manis pada Haechan, merangkul pundak anak itu dan bertanya jika dinosaurus bangkit dari kubur, apakah Donghyuck akan menyelamatkan Jaemin dari kejaran hewan purba itu? Jeno masih ingat tatapan teror yang Donghyuck berikan untuk beberapa hari setelah kejadian tersebut, masalahnya Na Jaemin itu tidak memiliki teman dekat, bukan berarti Ia dimusuhi. Ia hanya tidak pernah berada di kelas kecuali saat jam pelajaran berlangsung.
Tentu Jaemin dan Jeno, mereka tidak sedekat itu untuk saling menepuk perut. Tapi Jeno bisa memaklumi, semua penghuni kelas bahkan satu sekolah bisa memaklumi segala tingkah laku aneh Na Jaemin.
Jeno menunduk dan melihat daftarnya lagi ketika Donghyuck masuk ke dalam kelas dan berseru pada Renjun yang sedang duduk di ujung kelas, sesuatu seperti aku akan membunuhmu jika Donghyuck00 tidak bisa chicken dinner hari ini, Di ujung sana Renjun teriak tidak kalah nyaring, berusaha menghalau Donghyuck untuk merampas ponsel milik Donghyuck di genggamannnya.
Jeno berjalan keluar kelas ketika melihat namanya tertera tepat di bawah nama Na Jaemin setelah meminta Jimin sekretaris kelas mengambil alih daftar nama di tangannya. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding di depan ruang Pak Kim, menunggu sesi bimbingan Jaemin dengan guru konserling mereka selesai. Jeno mengedarkan pandangannya ke atas, menatap langit-langit kemudian menatap lantai, berusaha menulikan telinganya ketika daun pintu yang sedikit terbuka itu membuatnya dapat mendengar pembicaraan guru konserling mereka dan Jaemin.
"Aku bisa melakukannya, aku sudah memiliki portofolio, sedang ikut kursus dan kelas tambahan bahasa inggris, catatan pelanggaranku juga bersih kan dua bulan terakhir?"
"Bersih, tapi pelanggaranmu dua bulan sebelumnya memenuhi daftar. Merokok, memukul adik kelas, bolos pelajaran, tidur saat pelajaran berlangsung," Jeno dapat mendengar guru konserling mereka berdehem,
"Menggunting bunga mawar milik kepala sekolah?"
"Itu satu tahun lalu! Saem, aku sudah bertaubat. Percayalah."
Sekarang Jeno dapat mendengar guru mereka menghela nafas begitu keras,
"Enam bulan terakhir kau juga gagal meraih satu pun medali, bahkan untuk tingkat antar sekolah di Seoul?"
Hening, Jeno tidak mendengarkan apa-apa untuk sesaat, kemudian Jeno dapat mendengar suara Jaemin kembali berbicara.
"Festival Seni Tahunan. Aku akan memenangkan medali emas. Jika aku menang, sekolah bisa kan, merekomendasikanku pada Julliard?"
Jeno mengigit bibir bawahnya, diam-diam ikut menunggu jawaban dari guru mereka.
"Catatan pelanggaranmu juga harus benar-benar bersih. Tidak dengan Juliard, aku khawatir itu hanya akan membuang kesempatanmu. Bagaimana dengan National University of Arts?"
"Tidak bisa. Aku lebih baik mengulang tahun depan jika itu bukan Julliard."
Guru mereka kembali menghela napas. Jeno tanpa sadar ikut menghela napas, memang ada apa sih di Julliard Julliard itu?
Jeno jengkel, entah pada Jaemin yang begitu keras kepala atau pada guru mereka yang sudah menghela nafas sebanyak lima kali.
"Jaemin, kenapa tidak mencoba Universitas lain yang lebih mudah? Dengan jurusan akademis lain? Dengan nilaimu yang seperti ini, kamu bisa masuk Universitas yang meski bukan unggulan tapi cukup bergengsi untuk wilayah selain Seoul."
Kali ini Jeno mendengar Pak Kim berbicara.
"Saem, tidak bisa. Saem lihat kaki ini? Kemarin aku hampir membuat ibu jarinya terpelintir 360 derajat. Aku melakukan itu bukan untuk pergi ke universitas selain Julliard. Maaf."
Jeno bergerak gusar, ternyata Jaemin yang keras kepala lah yang membuat anak itu jengkel.
"Baiklah kalau begitu, semoga beruntung."
Jeno dapat mendengar guru konserling mereka berbicara final, mungkin sudah menyerah menghadapi kepala batu Na Jaemin atau mungkin sesi milik Jaemin sudah usai.
Jeno berdiri menghadap pintu ketika dari sana kepala oranye Jaemin menyembul di balik pintu, disusul dengan tubuhnya, kemudian kakinya, anak itu tersenyum begitu lebar ke arah Jeno, di luar hujan, tapi rambut oranye Jaemin dan senyuman lebar anak itu bisa saja menggantikan matahari yang enggan keluar dari tadi pagi.
"Semoga beruntung, ketua kelas!"
Anak itu berseru, dibalas anggukan oleh Jeno. Jaemin melangkahkan kakinya ke arah kelas dengan sebelumnya menepuk perut Jeno lagi. Kakinya terseok, tapi masih sempat melompat kecil seperti kelinci di atas rumput.
"Na Jaemin tidak bisa dihentikan," Jeno mendengar Pak Kim bersuara lagi di dalam sana.
"Biarkan dia bermimpi," Guru konserling mereka tertawa.
"Dia tidak memiliki pendukung, tertulis di sini, Ayahnya masuk bui dan Ibunya di rumah sakit jiwa, siapa yang akan membiayainya?" Jeno mematung sebentar, tiba-tiba langkahnya terasa berat, ingin tau lebih dari mulut wali kelasnya itu.
"Julliard akan sulit untuknya," Guru konserling mereka bersuara, seakan menyimpulkan kata-kata Pak Kim.
Jeno tanpa sadar menunggu, sambil menatap punggung Jaemin yang mulai mengecil di depan sana, menunggu dan berharap Pak Kim akan mengatakan sesuatu yang sesuai dengan apa yang Jeno inginkan.
"Kita harus merekomendasikannya ke tempat lain."
Jeno menghela nafas kesal, untuk pertama kalinya Ia tidak menyukai Pak Kim, wali kelasnya yang baik dan banyak disukai murid-murid itu.
.
"Kau akan pergi ke SNU?"
Jeno mengangguk.
"Nilaimu cukup?"
Jeno mengangguk lagi,
"Katanya sih begitu."
"Kedokteran?"
Jeno kembali mengangguk lagi.
Haechan menggelengkan kepalanya tidak percaya, mulutnya terbuka dengan dramatis.
"Aku harus memastikan nilaiku semester ini tidak turun dan tidak ada catatan pelanggaran."
Haechan mendesah, mengerang, kemudian merangkul pundak sahabatnya,
"Kau tidak perlu khawatir. Beri salam pada SNU. Semuanya, aku perkenalkan. Mahasiswa Kedokteran SNU, Lee Jeno!" Haechan berseru, membuat semua teman sekelasnya yang lain ikut berseru memberikan selamat, mengucapkan dukungannya pada Jeno, dan beberapa berseru betapa bangganya ia pada si ketua kelas.
Tanpa sadar kepala Jeno menengok ke arah tempat duduk Na Jaemin, yang sekarang sedang ikut bertepuk tangan menggunakan buku tulisnya.
...
Jeno kembali mendengarnya, alunan musik itu lagi, berasal dari ruang tari.
Dia tidak ingin bunuh diri untuk kedua kali, jadi ia mengurungkan niatnya untuk menghampiri. Membiarkan musik itu terus mengalun seperti meledeknya sekaligus mengajaknya untuk mendekat, untung saja Donghyuck dan Renjun yang sedang bertengkar di hadapannya bisa sedikit menjadi distraksi.
Sekolah pada hari itu sudah berakhir, sebagain anak ada yang tinggal di kelas lebih lama untuk mengerjakan tugas kelompok yang akan dikumpul besok. Seperti Jeno, Renjun, dan Donghyuck sekarang. Ada juga yang masih tinggal di kelas lebih lama untuk membersihkan kelas sesuai dengan jadwal piket.
"Na Jaemin lagi, bisa kau bayangkan berapa ribu won yang anak itu bayar pada bendahara kelas sebagai denda piket? Whoa! Aku akan memotong rambut oranye konyolnya itu jika bertemu dengan dia besok!" Jeno dapat mendengar Julia menggerutu sambil menyapu lantai.
Yeji di lain sisi sedang menghapus papan tulis menanggapi gerutuan Lia.
"Biarkan dia. Yang penting kan masih sesuai dengan peraturan. Jika tidak piket, bayar denda."
"Tapi ini namanya patriarki! Apakah ini namanya patriarki? Laki-laki bolos piket kemudian perempuan yang melakukan piket!"
Gerutuannya belum selesai.
"Apa kau pikir aku ini anak perempuan?!" Hyunjin berseru, sambil memegang gagang sapu di tangannya, menyapu bagian kelas yang lain.
Jeno menundukkan kepalanya, mencoba memfokuskan dirinya pada pekerjaan di depannya yang terbengkalai karena Donghyuck dan Renjun yang terus bertengkar. Di antara suara pertengkaran Renjun dan Donghyuck, gerutuan mereka yang bertugas piket pada hari itu, dan suara musik dari ruang tari dari kejauhan, Jeno berusaha menuliskan jawabannya di atas kertas. Suara di sekelilingnya berangsur menjadi sunyi ketika Jeno mulai menuliskan turunan dari soal yang sedang ia kerjakan, saat hasilnya seharusnya Jeno dapatkan, pembicaraan Pak Kim dan guru konserling mereka tiba-tiba terngiang di benaknya, dilanjut dengan Na Jaemin yang tersenyum sambil menari tanpa permisi masuk ke dalam kepalanya. Berputar dan terus berputar, berlari kecil ke sana kemari tanpa takut tersandung, dan masuk ke dalam pelukan Jeno.
Jeno mengigit bibir bawahnya, bagaimana harum tubuh Jemin ketika anak itu sedekat pelukan imajinernya? Apakah akan berbau citrus seperti kepala oranye konyolnya? Atau berbau seperti musim semi mengingatkan pada kupu-kupu berterbangan dengan ringan dan hinggap di atas bunga? Atau musim gugur seperti anak anjing kecil berlari ke sana ke mari menerbangkan daun gugur di belakang halaman? Apakah seperti musim panas dengan mojito dan semangka serta terpaan kipas angin setiap kali keringat Jeno bercucur dari dahinya? Atau seperti salju pertama yang menetes di atas telapak tangan saat musim dingin?
Kepala Jeno pusing. Tiba-tiba Ia ingin buang air lagi. Membuat anak itu beranjak dan melangkahkan kaki ke dalam toilet, menghiraukan suara musik dari ruang tari yang terdengar sedikit lebih jelas ketika Ia berada di luar kelas. Dengan cepat ia masuk ke dalam toilet siswa, masuk ke dalam salah satu bilik hanya untuk duduk di atas penutup wc. Memegangi dadanya yang tiba-tiba berdegup seperti akan gila. Dia menarik napas begitu dalam kemudian menghembuskannya lagi. Na Jaemin tidak mau berhenti ke sana ke mari di dalam kepalanya.
Jeno tiba-tiba terdiam ketika mendengar suara cekikikan dari samping bilik tempatnya berada. Suaranya terdengar seperti suara Jisung dan Jaemin.
Jeno kemudian dapat mendengar suara krasak-krusuk dari bilik sebelah, sebelum disusul dengan asap yang mengepul di udara. Dengan cepat Jeno menutup hidungnya. Mengernyit tidak suka ketika baunya masih bisa masuk ke dalam hidungnya. Dari tempatnya Jeno bisa mendengar Jaemin yang tertawa ketika Jisung bilang kemarin setelah latihan sepatunya menginjak kotoran kucing.
Jeno bisa mendengar Jaemin ikut bercerita, kemarin setelah ia latihan ia bertemu dengan seekor tupai yang sedang memakan popcorn di atas perosotan di taman di dalam kompleks perumahannya. Jeno mengernyit atas cerita yang terdengar seperti omong kosong itu. Tapi Jeno bisa mendengar Jisung terbahak dari sana, mengucapkan kata-kata seperti tupai yang sebenarnya suka makan eskrim cokelat.
Obrolan mereka terdengar seperti obrolan para alien yang baru saja menginvasi bumi, tapi Jeno mendengarkan setiap kata dan masuk ke dalam perbincangan itu, sepenuhnya melupakan tugas kelompoknya yang terancam menjadi kacau karena sekarang berada di tangan Donghyuck dan Renjun. Jeno akan beranjak setelah mendengar Jisung melontarkan pertanyaan pada Jaemin.
"Hyung, tidak ingin ikut dengan Si Samoyed?"
"Ke mana?"
"Guruku bilang ada anak kelas 12 yang akan masuk kedokteran SNU."
Jeno menahan napasnya tanpa sadar.
"Oh, bagaimana ya, Samoyed rasanya tidak tau kalau aku ini ada. Lagipula nanti aku juga akan lupa. Ini namanya cinta monyet."
Jisung bergumam seperti mengerti. Jeno menghela napasnya tanpa sadar. Na Jaemin menyukai seseorang, Samoyed namanya, terdengar aneh untuk nama orang Korea dan sepertinya orang itu juga akan masuk kedokteran SNU seperti dirinya.
Jeno menunduk, tanpa sadar menatap ujung sepatunya dengan lesu.
"Hyung, tau tidak cinta monyet itu hanya berlangsung selama 3 bulan. Jika sudah lebih itu namanya cinta kingkong!"
Jeno dapat mendengar Jaemin tertawa lagi, anak itu kemudian berseru dengan tidak kalah seru,
"Jika cintanya lebih dari satu tahun, namanya cinta dinosaurus!"
Kemudian terbahak sendiri. Setelahnya Jeno bisa mendengar Jisung mengaduh karena Jaemin memukulnya, disusul dengan tawa yang bersahut-sahutan.
Na Jaemin memang tidak memiliki teman di kelasnya, tapi satu sekolah juga tau, Ia dan anak kelas 10A itu begitu dekat dan terus menempel tanpa bisa dilepas.
Jeno terperanjat kecil ketika ponselnya bergetar, mendapatkan pesan masuk dari Donghyuck yang menyuruhnya cepat ke kelas karena Renjun mulai sok tahu mengerjakan tugas miliknya. Jeno beranjak dari duduknya, dengan berat melangkahkan kakinya keluar toilet siswa, berjalan ke arah kelas sambil bersin-bersin dan menggosok hidungnya.
...
Jeno tersenyum menatap Ibunya yang sedang berbicara, di samping Ibunya, Ayahnya sedang meminum gelas soju pertamanya pada makan malam pada malam itu. Di samping Ibunya yang lain, Kakak perempuannya duduk sambil memangku Na-Eun, anaknya yang masih berumur tiga tahun, sedangkan suaminya duduk tepat di samping Jeno dan Ayahnya. Ini adalah makan malam keluarga, tradisi rutin yang harus dilakukan ketika salah satu dari anggota keluarga berulangtahun. Kali ini adalah Ibunya. Perempuan paruh baya yang cantik itu menginginkan restaurant Cina untuk ulangtahunnya kali ini.
Jeno sedang menuangkan soju pada gelas milik Ibunya ketika seorang pelayan mendekati meja mereka, meletakkan bebek peking di atas meja, pelayan itu menunduk, membuat Jeno mendongak setelah selesai menuangkan soju untuk Ibunya. Pelayan itu tersenyum dengan ramah, menawarkan apa ada lagi yang ingin dipesan dan ketika Kakak perempuannya membalas senyumannya dan menggeleng, pelayan tersebut kembali dan melayani pelanggan lain.
"Dia terlihat seumuran dengan Jeno, apakah dia salah satu member grup idola? Kenapa rambutnya warna oranye seperti itu?" Ibunya bergumam, meletakkan potongan daging bebek ke atas nasi milik Jeno dan putrinya.
"Anak jaman sekarang memang begitu, Ibu tidak tahu ya, itu namanya trend masa kini!" Kakak perempuannya berseru, mengundang kekehan dari Ayah dan suaminya.
Jeno menolehkan kepalanya ke samping ketika Na-Eun meletakkan tangannya di atas lengan Jeno, Jeno tersenyum, mengusak kepala Na-Eun dengan lembut sebelum menatap ke arah belakang Na-Eun, di sana Na Jaemin sedang membungkuk berkali-kali pada seorang pelanggan yang mengacungkan sendok ke arah wajahnya, dia menggunakan sweater berwarna abu-abu dan apron berwarna merah terang dengan tulisan "Hwarang Chinese Food".
Tatapan mereka bertabrakan ketika Jaemin berhenti membungkuk, anak itu melambaikan tangannya begitu bersemangat ke arah Jeno dan berbicara pada Jeno tanpa suara,
"Makan yang banyak, Ketua Kelas."
Jeno tersenyum canggung melihatnya, dengan kikuk dan entah apa yang ada di pikirannya kala itu, ia mengangguk dan ikut berbicara pada Jaemin,
"Semangat, Jaemin."
Untuk pertama kalinya Jeno memutuskan untuk meladeni tingkah Jaemin, lucunya lagi-lagi menghantarkan degup aneh yang memaksa sudut bibirnya naik ke atas.
Jeno menyukai bebek peking, suka sekali sampai kakak perempuannya terkadang mengamuk ketika Jeno mencuri dua potong dari piringnya, tapi malam itu Ia hanya menyentuh dan memakan dagingnya sebanyak dua potong, sisanya dihabiskan untuk memperhatikan Na Jaemin yang berjalan ke sana ke mari melayani pelanggan yang datang pada malam itu.
...
Jeno menatap Jaemin yang berdiri di depan kelas, bersama dengan dua anggota kelompoknya yang lain, mempresentasikan hasil kerja mereka. Jeno harusnya memperhatikan perempuan bertubuh pendek di samping Jaemin yang sedang menjelaskan itu, tapi Jaemin yang menggerakan tubuhnya ke kanan ke kiri di depan sana membuatnya tidak fokus, akhirnya menatap anak itu yang sedang menggerakan tubuhnya ke kanan ke kiri, membuat Jeno terdiam dan tersenyum menatapnya.
Pandangan mereka kembali bertemu, Jaemin ikut tersenyum ke arah Jeno.
Mungkin salah pergantian musim, membuat manusia di atas bumi bertingkah aneh. Atau isi kepala Jeno telah terkontaminasi oleh pembicaraan aneh Jisung dan Jaemin di toilet kemarin. Tapi Jeno bisa melihat telinga kucing menyembul dari kepala Jaemin.
Membuat Jeno memutus tatapan mereka dan menunduk untuk mencoret-coret buku tulisnya untuk kemudian mematung ketika tanpa sadar coretannya membentuk gambar anak laki-laki yang memiliki telinga kucing di kepalanya, di samping gambar anak laki-laki itu Jeno menulis 'Julliard', 'Na Jaemin', dan 'Waltz'.
...
Malamnya Jeno mencari 'Waltz' dan 'Julliard' di internet, menemukan hasil pencarian dan mengangguk mengerti, menonton video pertunjukkan Waltz di komputernya sampai pagi, membayangkan Jaemin dan dirinya ada di dalam layar, menari ke sana ke mari tanpa takut menginjak kaki satu sama lain.
Perutnya dipenuhi bunga, kupu-kupu, atau apapun itu yang menganggu, tapi rasanya menyenangkan. Saat jam menunjukkan pukul 3 pagi, Jeno memutuskan untuk berhenti, membaringkan tubuhnya di atas kasur dan menatap langit-langit kamarnya dengan senyum yang begitu tinggi membuat matanya melengkung persis sabit yang sekarang mulai pudar karena waktu beranjak pagi.
Bayangan Jaemin dan dirinya menari bersama memenuhi benaknya, hari itu Ia tertidur dengan hati yang berbunga. Rasanya ingin merasakannya lagi dan lagi. Besok Ia akan mengajak Jaemin berteman.
...
Jeno mengedarkan pandangannya ke berbagai arah, Na Jaemin tidak masuk kelas pertama dan kedua, sekarang waktu istirahat pertama dan Na Jaemin masih tidak ada di kelas untuk memakan kimbapnya, juga tidak ada di ruang tari menyisakan jisung yang sedang bermain game di ponselnya menyarankan Jeno untuk mencari Jaemin ke belakang sekolah.
Dia di sana, duduk di atas pohon ceri di belakang sekolah, Jeno tidak tau bagaiamana anak itu bisa sampai tersangkut di sana. Jeno berjalan mendekat, dari tempatnya Jeno bisa melihat Jaemin mengayunkan kakinya ke depan dan ke belakang, dan asap yang terkepul dari mulutnya. Jaemin memandang lurus tembok sekolah sambil bersenandung, tidak menyadari ketua kelas ada di bawahnya, melihatnya merokok di lingkungan sekolah.
"Jaemin!"
Jaemin terperanjat, hampir terjungkal mendengar seruan tiba-tiba Jeno, Jaemin dengan cepat berusaha menyembunyikan batang rokoknya ke mana saja, sebelum sesudahnya meringis saat ujung batang yang terbakar itu mengenai telapak tangannya.
"Hati-hati," Jeno menatap Jaemin khawatir, dengan sabar menunggu anak itu turun ke bawah.
"Apa yang kau lakukan di atas sana?" Jeno menatap Jaemin yang sekarang sedang menepuk-nepuk seragamnya yang sedikit terkena tanah.
"Melihat pemandangan?" Jaemin takut-takut memandang balik mata Jeno, mengantisipasi ancaman Jeno yang akan mengadukannya pada Pak Kim. Tapi Jeno justru berseru.
"Aku ingin jadi temanmu! Boleh, 'kan?!"
Jeno tau dia terlalu lantang berseru, dia tidak pernah benar-benar bisa berinteraksi dengan orang baru, di kelas Ia berteman baik dengan Haechan dan Renjun karena dulu keduanya yang mendekati Jeno terlebih dahulu. Jeno tau dirinya ini kaku dan tidak bisa mengekspresikan perasaannya dengan baik dan teratur, yang Ia tau dia hanya ingin mengeluarkan sesuatu yang menganjal dadanya dari beberapa minggu belakangan ini.
Kemudian bagai kehilangan akal, Jeno mendekat ke arah Jaemin untuk mengecup pipi anak itu.
Pembelaan Jeno, dia hanya mengikuti instingnya untuk merasakan kembali debaran yang semalam Ia rasakan.
Pipi Na Jaemin halus, persis seperti kulit buah apel dengan pipinya yang sekarang memerah begitu.
Jaemin mematung, masih memproses apa yang terjadi.
Kemudian bagai kehilangan akal juga, Jaemin mendorong Jeno pelan sampai punggungnya bersentuhan dengan tembok. Jeno dapat merasakan nafas Jaemin yang teratur dari jarak sedekat ini. Dari jarak sedekat itu pula Jeno bisa mencium bau nikotin yang bercampur beri.
Baunya bukan tidak sedap, hanya aneh. Membuat Jeno bertanya-tanya di benaknya. Rokok merk apa yang Jaemin hisap tadi.
Jeno mematung, menatap mata dengan kerlip dihiasi helai bulu mata lentik yang menggelitik perutnya itu kini lebih mendekat, menyisakan jarak kurang dari satu senti, mata itu perlahan menutup bersamaan dengan tarikan pada tengkuknya.
Jeno menderita sinusitis, membuat dia seringkali meledak-ledak jika seseorang dengan tidak tahu diri merokok di depan wajahnya. Tapi bibir dengan bau nikotin itu ia biarkan menyesap bibirnya seperti orang itu menyesap puntung rokoknya tadi. Bertanya-tanya apakah manusia di depannya juga bisa merasakan susu pisang yang baru saja Jeno minum ketika jam istirahat tadi seperti Ia bisa menyesap rokok rasa beri dari belah bibir Si Rambut Oranye.
Jeno masih mematung, membiarkan angin bulan Oktober menerpa helai oranye di depan matanya, menghantarkan harum kolonye yang wanginya persis sekali seperti harum yang sering Na-Eun keponakannya pakai. Bertanya-tanya bagaimana kolonye anak bayi bercampur rokok rasa beri bisa buat kepalanya berputar seperti ini.
Jaemin menyesap bibirnya sekali lagi sebelum anak itu menjauhkan wajahnya, membuat tautan mereka terlepas, menyisakan Jeno yang berdiri di sana, masih terpaku dengan pipi semerah tomat.
"Boleh, Jeno. Kau boleh jadi temanku."
1/2
