Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-12-23
Completed:
2023-01-08
Words:
4,602
Chapters:
3/3
Kudos:
7
Hits:
200

One Side

Summary:

Apalah arti sebuah hubungan kalau hanya satu orang yang berjuang?

Chapter 1: Breaking up

Chapter Text

Bokuto menaruh gelas berisi whiskey di depan Kuroo. Sebagai sahabat yang baik, ia ingin Kuroo untuk sejenak melupakan masalah yang sedang ia hadapi saat ini.

“Bro, jangan ditekuk terus dong mukanya. Nih, minum dulu biar enteng dikit tuh pikiran.”

Kuroo mengambil gelas di depannya dan menenggaknya sekaligus. Badannya terasa lebih enteng meskipun tidak menyelesaikan permasalahan yang sedang ia hadapi.

“Sini coba cerita, tumbenan banget ngajak kumpul lagi disini.”

Kuroo menghela nafas. “Biasalah, masalah percintaan. Nggak tau kenapa ya, tapi gue ngerasa bersalah banget sama cewe gue.”

“Sorry sebelumnya, tapi gue ngga yakin bisa bantu. Tau sendiri lah, gaada pengalaman.” Ujar Kenma sambil mengetik beberapa pesan ke managernya.

“Sebenernya ini sekaligus buat pengalaman juga buat kalian sih. Intinya kalo cewe kalian ada apa-apa itu selalu ke kalian, jangan pernah buat kecewain mereka. Contohnya ya kayak situasi gue sekarang ya. Dulu cewe gue tuh kalo cerita atau butuh apa pun ya selalu ke gue. Tapi apa? Gue selalu sibuk sama kerjaan dan nggak pernah ada waktu buat dia. Buat ngehubungin dia aja hampir nggak pernah. Sekarang giliran gue mau kita lebih deket, dia malah menjauh. Dia yang dulu care banget sekarang jadi cuek. Kalo ada masalah dan butuh bantuan juga pasti nggak pernah ke gue, selalu ke temen-temennya. Nyesel banget pokoknya,” tutur Kuroo.

Sambil menyesap minumannya, Bokuto terkekeh mengejek.

“Kan udah dibilang, jangan pernah ngecewain harapan cewek. Kejadian kan,” Bokuto menepuk pelan pundak Kuroo, “terus sekarang masih jalan? Apa break nih ceritanya?”

Dasi yang sudah tidak terpasang dengan rapi di lehernya ditarik lepas oleh Kuroo. Ia juga membuka kancing teratas bajunya.

“Masih lah!” sergah Kuroo.

Kenma yang tadinya sibuk berkirim pesan pun akhirnya menyimpan ponselnya. Ia memutuskan untuk memperhatikan sahabatnya yang sedang galau itu.

“Kalian pacaran lima tahun kan? Pasti susah buat lepasnya.” Komentar Kenma.

“Itu dia Ken, gue tuh udah nyaman banget sama dia. Dibandingin cewe-cewe yang sebelumnya, dia tuh yang ibaratnya, apaya, kalo bisa dibilang tuh dia yang paling ngertiin gue. Ngga pernah nuntut ini itu, mandiri banget juga orangnya.”

“Terus lo mau gimana? Susah sih kalo bujuk cewe yang udah kecewa gitu. Yuri sekali ngambek aja susah banget dibujuknya.”

“Ngga tau Bok, masih bingung jujur.”

“Lo tuh mau seriusin cewe lo nggak sebenernya?”

Pertanyaan Kenma membuat Kuroo berpikir sejenak. Hubungan yang telah ia jalin selama lima tahun sejak ia kuliah tentu bukan hal mudah jika berakhir begitu saja. Jika ditanya, maka Kuroo akan menjawab dengan yakin bahwa wanita yang kini berstatus menjadi kekasihnya itu adalah wanita yang akan ia jadikan pendamping hidupnya. Masalahnya adalah apakah Kuroo siap untuk membawa hubungan mereka ke langkah yang lebih jauh? Kuroo tidak yakin. Uang memang bukan masalah untuknya, penghasilannya saja sudah di atas rata-rata. Sayangnya pekerjaannya itu yang membuat Kuroo ragu. Ia takut tidak bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.

“Mau lah, gue cuma mau dia di hidup gue. Ngga kebayang sumpah kalo ngga ada dia kayak gimana. Tapi gue juga belum siap.”

“Oke, mungkin jangan sampe ke arah sana deh. Mungkin lo harus omongin ini berdua. Coba cari tahu apa yang harus lo lakuin biar dia tuh ngga cuek lagi dan balik kayak dulu lagi. Pacaran lima tahun juga bukan hal yang gampang pastinya, ada pasti lah fase jenuh. Tapi jangan sampe jenuhnya kebablasan.”

Kuroo menatap Bokuto dengan tatapan sedikit heran.

“Sejak sama Yuri kok lo jadi bener gini sih? Gila, keren banget Yuri.”

“Yuri kan jadi pawang nggantiin Akaashi yang akhirnya ngga tahan juga sama Bokuto.” Ucapan Kenma membuat Bokuto pura-pura menangis dengan drama.

“Thanks Bro udah dengerin curhatan gue.”

Di sisa malam itu, Kuroo, Bokuto, dan Kenma melanjutkan obrolan mereka. Kuroo pun sedikitnya bisa teralihkan pikirannya berkat kedua sahabatnya.

Keesokan harinya Kuroo telah berada di depan pintu apartemen kekasihnya. Beberapa kali Kuroo memencet bel, namun tidak ada balasan dari dalam. Mengeluarkan ponselnya, Kuroo mencoba menghubungi pacarnya agar segera membukakan pintu untuknya.

“Halo?” setelah beberapa kali berdering, akhirnya terdengar suara kekasihnya.

“Hei, aku udah di depan apartemen kamu. Bukain dong,”

Terdengar helaan nafas dari ujung telfon.

“Kuroo, aku di rumah sakit. Diopname dari dua hari lalu.”

Jawaban itu membuat Kuroo mematung. Bagaimana bisa Kuroo tidak tahu kalau pacarnya sedang dirawat di rumah sakit? Hatinya diliputi rasa sakit dan bersalah.

“Loh kok kamu nggak bilang?” intonasi Kuroo sedikit naik karena kepanikannya sendiri.

“Kan kamu yang bilang sendiri kalo kamu lagi sibuk dan suruh jangan ganggu kamu dulu.”

Perasaan bersalah makin menggerogoti Kuroo. Sepertinya titel pacar terburuk tahun ini layak untuk Kuroo saat ini.

“Di rumah sakit mana? Aku ke sana sekarang.”

“Nggak usah, udah ada Lev kok sama Kak Alisa disini. Mending kamu istirahat aja biar nggak tumbang kayak aku.”

“Nggak, pokoknya aku kesana sekarang.”

Nada bicara Kuroo yang terdengar tidak ingin ada bantahan pun membuat Suzu mau tidak mau memberitahu rumah sakit tempat ia dirawat. Tanpa menunggu lagi, Kuroo menutup sambungan telfonnya dan berlari menuju mobilnya.

Selama perjalanan menuju rumah sakit, Kuroo hampir beberapa kali menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Pikirannya terlalu kacau sampai ia tidak bisa fokus.

Sampai di rumah sakit, Kuroo segera menuju ruangan yang disebutkan oleh Suzu tadi. Kuroo mengetuk pintu pelan, takut mengganggu pasien-pasien di sana. Lev muncul membuka pintu dan mempersilahkan Kuroo untuk masuk. Di sofa kecil ada Alisa yang sedang mengupas apel. Suzu sendiri terbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya terlihat sedikit pucat.

“Suzu!”

Suzu tampak sedikit terkejut saat melihat Kuroo sudah ada di hadapannya. Mata Kuroo berkaca-kaca. Alisa yang menyadarinya segera menyeret Lev pergi untuk memberikan sepasang kekasih itu ruang untuk berbicara.

“Eum, hai?”

Tanpa aba-aba, Kuroo menerjang kekasihnya dan memeluknya dengan erat. Air mata terjun bebas tanpa bisa ditahan oleh Kuroo.

Banyak hal yang ingin Kuroo ucapkan, tapi itu semua seperti tertahan di ujung lidahnya.

“I’m sorry.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Kuroo.

Suzu menepuk-nepuk punggung kekasihnya pelan.

“It’s okay, aku cuma ngga mau ganggu kamu. Aku tau banget seberapa sibuknya kamu, and worrying about me is the last thing yang harus kamu pikirkan. You should take care of yourself first.”

Kuroo melepaskan pelukan mereka dengan paksa, menatap Suzu dengan tatapan tidak percaya. Di saat ia sedang sakit seperti ini ia masih mendahulukan orang lain?

“You! You are my priority!”

Suzu tersenyum getir mendengar jawaban Kuroo. Bisa-bisanya ia bilang prioritas kalau ia kenyataannya ia tidak pernah ada untuknya. Lelucon apa yang coba Kuroo mainkan, Suzu tidak tahu.

Kuroo duduk di ranjang Suzu saat kekasihnya itu menepuk ruang kosong di ranjangnya, menyuruh Kuroo untuk duduk.

“Coba inget, kapan terakhir kali kita quality time? A month, or two, or maybe six? Sampe lupa loh aku karena udah nggak ngitung lagi. Kita itu status doang pacaran, tapi kenyataannya nggak seperti itu. Pernah nggak kamu taruh aku di atas pekerjaan kamu?”

Kuroo terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana Suzu.

“I was happy with you, Kuroo. I really did. Tapi aku nggak tau apa kita bisa tetap kayak gini.”

“No! I love you, so much! Kamu satu-satunya wanita di hidup aku setelah ibuku. Aku ngga mau kehilangan kamu.”

“And yet you never fight for me.”

Air mata dari matanya berjatuhan membasahi celananya. Kuroo tertunduk, tidak sanggup melihat wajah Suzu.

“Kuroo, boleh aku jujur? Aku capek. Selama ini cuma aku yang berusaha mempertahankan hubungan kita. It was always me yang selalu inisiatif ngehubungin kamu, atau sekedar menyemangati kamu. Sayangnya effort yang aku keluarkan kayanya nggak bisa buat kamu taruh aku di nomor satu.”

Suzu meraih wajah Kuroo, mengangkatnya. Mata mereka pun akhirnya sejajar. Suzu bisa melihat mata Kuroo yang merah akibat tangisannya. Kalau melihat ini beberapa hari yang lalu mungkin ia akan goyah. Tapi sekarang Suzu sudah membulatkan tekadnya.

“Tau ngga kenapa aku ngga bilang kalo aku sakit? Dulu waktu sakitku kambuh, kamu sibuk banget sama kerjaan kamu. Alih-alih nganterin aku ke rumah sakit kamu malah meeting mendadak sama atasan kamu. Rasanya tuh sakit, Kuroo. Aku coba pendem semua itu. Jadi biar aku ngga merasakan hal yang lagi, aku justru telfon Lev sama Kak Alisa buat nganterin aku ke rumah sakit.”

Kuroo ingat momen itu. Saat ia lebih memilih menjawab panggilan atasan dibandingkan kekasih yang tergeletak lemas di kasur. Brengseknya lagi, ia meminta tolong Kenma untuk mengantar Suzu ke rumah sakit dan tidak menjenguknya selama tiga hari ia dirawat disana.

“I know you’re a good person. But I don’t think that we are meant to be. Mungkin di masa depan kamu bisa berubah dan menemukan sosok yang lebih cocok buat kamu. And that’s not for me.”

“Aku cuma mau kamu.” Lirih Kuroo.

“Thanks for these past five years, Kuroo.”