Actions

Work Header

sebuah penyesalan (remake)

Summary:

Chuuya sudah memastikan bahwa ia tidak lagi memiliki perasaan pada mantan istrinya. Namun saat memperhatikan kembali keadaan sang brunet setelah mereka berpisah, melihat secara langsung tubuh kecil Dazai yang pingsan di depannya, mengapa masih ada perasaan sedih dan khawatir menggerogoti dadanya?

Mengapa Chuuya perlahan merasakan penyesalan?

(Remake karena saya tidak puas dengan ending yang sebelumnya)

Notes:

guys, ini remake dari fanfic sebelumnya, hehe. ada beberapa konflik yang mau ditambahin. tapi mungkin gak terlalu panjang.

Chapter Text

 

Chuuya sudah memastikan dirinya tidak lagi memiliki perasaan kepada Dazai. Bahwa perceraian mereka tidak akan menjadi sebuah penyesalan. Itulah mengapa ia sering merutuki presiden agensi dan bosnya yang terkadang masih mengutus Soukoku untuk misi spesifik. Ia mau tidak mau harus bekerja sama dengan mantan istrinya. 

Langkah Dazai yang berjalan di depannya semakin pelan. Chuuya mengerutkan alis, ia memastikan bahwa tempat ini bukan tempatnya dan Dazai mencari informasi yang dibutuhkan dalam misi mereka.. “Oi Dazai, Gue udah capek dan gak mood buat ladenin apapun keisengan yang ada di kepala lo.” 

Dazai menghentikan langkahnya. Ia diam dan tidak menjawab perkataan Chuuya. Sesuatu yang aneh karena Dazai tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk semakin menaikkan emosi sang jingga. Walau mereka sudah berpisah, sifat Dazai yang jahil dan usil tidak berubah. Walau terkadang setelahnya Dazai terlihat canggung, atau sesekali iris coklat itu menatap Chuuya sedih. 

Tepat saat Chuuya ingin membuka mulut, tubuh tinggi di depannya jatuh. Iris biru melebar dan dengan reflek menangkap tubuh Dazai yang sangat ringan. Suhu tubuh yang dingin dan nafas yang berat semakin menumbuhkan rasa panik. 

Kapan terakhir kali Dazai makan? Bahkan seingat Chuuya tubuh lemah Dazai tidak seringan ini saat sang brunet masih menjadi eksekutif Port Mafia. Apa Dazai kembali tidak memperdulikan tubuhnya setelah mereka berpisah? 

Beribu pertanyaan segera memenuhi kepala Chuuya. Tanpa pikir panjang, ia segera menggendong tubuh Dazai dan mencari rumah sakit terdekat. 

Chuuya sudah memastikan bahwa ia tidak lagi memiliki perasaan pada mantan istrinya. Namun saat memperhatikan kembali keadaan sang brunet setelah mereka berpisah, melihat secara langsung tubuh kecil Dazai yang pingsan di depannya, mengapa masih ada perasaan sedih dan khawatir menggerogoti dadanya? 

Mengapa Chuuya perlahan merasakan penyesalan?

“Makan,” perintah Chuuya sambil menyerahkan satu piring penuh berisikan nasi, sayur, dan kepiting bakar yang sudah terpisah dari cangkangnya. 

Dazai yang sedang asyik memainkan ponselnya mengerutkan wajah. “Tapi aku masih kenyang, Chuu Chuu!” 

Sang jingga menaikkan alisnya. “Kapan lo terakhir makan?”

 Wajah Dazai semakin mengerut. Namun ia tidak bisa menjawab pertanyaan Chuuya. Dazai lupa mengingat kapan terakhir kali ia mengonsumsi sesuatu selain air dan kafein. 

Chuuya menghela nafas pelan. “Makan.” 

…. 

 

Suhu tubuh Dazai sangat turun drastis. Hampir menyentuh angka tiga puluh satu derajat. Dokter dan perawat segera memberikan penanganan medis. Beberapa selang sudah terpasang di tubuh sang brunet. Melihat tubuh lemah Dazai di atas brankar dan tersambung oleh beberapa alat membuat nyeri di dada Chuuya. Penanganan yang semakin lama pasti akan menghancurkan organ dalam sang brunet. Dan mengingat sifat Dazai, pasti ia tidak akan mencari pertolongan apapun, membuat Chuuya merutuki sifatnya itu. 

Malnutrisi, minum alkohol berlebih, dan mengonsumsi obat antidepresan bisa menjadi faktor terkena hipotermia. Belum lagi sepertinya Dazai menceburkan dirinya ke sungai apapun itu dan membiarkan bajunya yang basah hingga kering sebelum melaksanakan misi dengan Chuuya. 

Chuuya kembali meneliti wajah sang brunet. Kantung mata yang terlihat lebih jelas, wajah pucat, pipi yang terlihat lebih tirus, rambut yang sudah lumayan memanjang. Apa Dazai selalu terlihat seperti ini setelah perceraian mereka? Chuuya tidak menghiraukan penampilan sang brunet sebelumnya, atau menghindar untuk memperhatikan Dazai. Chuuya menggenggam tangan Dazai yang tidak terhubung selang infus. Membelai pelan kulit pucat yang tidak dibalut perban. Suhu tubuhnya masih rendah, namun tidak sedingin sebelumnya. Tangan yang begitu kecil, seperti hanya kulit yang membungkus tulang. 

“Kapan terakhir lo makan, hm?” bisik Chuuya sambil terus membelai tangan Dazai. Matanya mengarah ke area pergelangan tangan. Beberapa luka sayat baru terlihat sedikit dalam. Dada Chuuya semakin nyeri saat merasakan bekas luka itu. “Lo kembali ngelukain diri?” tanyanya lirih. “Bukannya lo udah janji buat gak lakuin itu lagi? Katanya lo udah sayang sama kulit indah lo ini.” 

Tentu, tidak ada yang merespon ucapan Chuuya. Chuuya hanya ditemani oleh senyapnya ruang inap Dazai. Hanya bunyi alat dan suara nafas stabil yang mengisi kehampaan ruangan. 

… 

“Chuu, aku gak bisa tidur,” gumam Dazai kembali ke ruangan kerja di mana Chuuya sedang mengerjakan laporan yang sebenarnya masih ada waktu tiga hari untuk diserahkan ke bos. Namun tentu Chuuya bukan orang yang menunda suatu pekerjaan, bukan seperti sosok yang sedang merengek di pintu ruang kerjanya. “Aku gak bisa tidur kalo gak ada Chuu Chuu.” 

Sang jingga hanya bergumam pelan, tidak menghiraukan sifat kekanakan istrinya, dan kembali fokus pada pekerjaannya saat ini. 

Kesal tidak dihiraukan, Dazai segera mendekati suaminya. Tanpa peduli omelan Chuuya, Dazai menutup laptop, mematikan barang elektronik itu dengan paksa. 

“Lo gila ya!” 

“Chuuya yang gila,” jawab Dazai ketus. “Laporan yang dikerjain juga bukan laporan yang harus dikirim detik ini juga,” omelnya. “Kalo Chuuya terlalu banyak kerja gini, yang ada Mori tua itu kesenangan dan manfaatin Chuuya!” 

Chuuya hanya menghela nafas kesal. Ingin kembali membuka laptopnya, namun Dazai dengan sigap meletakkan tangannya di atas laptop. “Tidur, Chuu.” 

Berdecak kasar, Chuuya akhirnya bangkit dari kursi. Dengan tersenyum lebar Dazai membuka kedua tangannya, lalu memeluk Chuuya. 

“Ck, ini gue sebenarnya nikahin koala atau manusia sih,” gerutunya. 

Yang diomeli hanya mengeluarkan lidahnya. “Biarin, wle!” 

 

Dua hari Dazai belum juga bangun dari tidurnya. Chuuya menyempatkan diri untuk menjenguk sang mantan, membawa bunga lily putih kesukaan Dazai. Chuuya melihat sosok surai putih saat memasuki ruang inap. Ah, anak didik Dazai, Atsushi. Tentu saja sosok manusia harimau itu mengkhawatirkan keadaan Dazai. Sang brunet sudah seperti kayak kandung bagi Atsushi. Walau tingkah dan kelakuannya kadang membuat anak didiknya itu terus menghela nafas. “Ah, Nakahara san. Aku dengan, kau yang membawa Dazai san ke rumah sakit.” 

Chuuya menarik satu kursi ke dekat brankar Dazai, di samping Atsushi. “Ya, dia pingsan saat menjalankan misi. Misi itu tidak terlalu genting, dan untungnya masih bisa ditunda hingga ia pulih.” 

Raut wajah Atsushi terlihat sendu. “Dazai san terlalu memaksakan tubuhnya akhir-akhir ini.” Topik pembicaraan Atsushi menarik perhatian Chuuya. “Ia jarang tidur karena terlalu banyak mengambil misi. Kunikida san awalnya tentu bersyukur karena Dazai san akhirnya produktif. Namun makin lama, seluruh anggota agensi mengkhawatirkan keadaan Dazai san. Kau tahu, Nakahara san, sebelum kalian melaksanakan misi, Dazai san ketahuan belum tidur selama empat hari, dan itu membuat Yosano sensei murka. Yosano sensei ingin melarang Dazai san melakukan misi itu, namun Dazai san berhasil kabur. Itulah kenapa kalian tidak janjian di kantor agensi.” 

Mendengar pernyataan Atsushi, Chuuya kembali menatap wajah damai Dazai dalam. Tubuhnya tidak lagi terhubung dengan selang dan alat, hanya masker oksigen dan selang infus yang masih terhubung ke tubuhnya. Memori tentang Dazai yang tidak bisa tidur tanpa ditemani muncul di kepala Chuuya. Dazai yang akan menyeret Chuuya dari apapun yang ia lakukan di tengah malam karena Dazai tidak bisa tidur jika kasur yang terlalu lebar di sebelahnya terasa dingin. Tidak ada tubuh yang ia peluk. 

“Dazai masih kesulitan tidur sendirian,” gumam Chuuya tanpa sadar. 

Atsushi hanya tersenyum simpul. “Mungkin kau menolong Dazai san karena sisi kemanusiaan, bukan lagi peduli padanya. Tapi aku sangat berterima kasih, Nakahara san. Mungkin jika kau tidak membawa Dazai san ke rumah sakit sesegera mungkin, sekarang aku bukan menatap tubuh lemah Dazai san, tapi lagi mengkremasinya.” 

Alam bawah sadar Chuuya ingin berteriak bahwa ia masih peduli dengan sang brunet. Ingin mengoreksi pernyataan Atsushi. Namun perkataannya sebelum perceraian begitu nyata untuk disangkal. 

“Lo kira sekarang gue masih peduli sama lo? Setelah apa yang lo lakuin, lo pikir gue masih mau satu atap sama iblis macam lo, hah?”

Chuuya berteriak kencang dan menghancurkan hati Dazai, tepat di depan Atsushi. 

“Kau benar, ini semua karena sisi kemanusiaan,” kan? 

Chuuya menyelamatkan Dazai karena sisi kemanusiaaan. 

Kan? 

… 

Setelah mendengar kabar Dazai yang sudah siuman, tanpa berpikir panjang Chuuya segera meninggalkan apapun yang ia kerjakan saat ini juga, dan langsung pergi ke rumah sakit. Saat membuka pintu, pemandangan pertama yang Chuuya lihat adalah tubuh lemah Dazai yang duduk bersandar, dengan tatapan kosong menatap makanan yang sudah tersaji di depannya. Chuuya perlahan melangkahkan kaki mendekati Dazai. 

Sadar akan sosok tamu yang masuk, Dazai akhirnya menoleh. Ia melebarkan mata saat menyadari bahwa yang mengunjunginya adalah Chuuya. Sang brunet hanya tersenyum kicut sebelum kembali menatap piring-piring yang belum disentuhnya. “Chuu Chu-” Dazai lupa bahwa ia tidak lagi berhak memanggil Chuuya dengan panggilan kesayangannya. “Chuuya, makanan rumah sakit kenapa hambar semua sih?” protesnya. 

“Mungkin lo belum boleh makan makanan yang tinggi sodium,” jawab Chuuya asal. 

“Tapi Chuuya, aku lebih pilih dipaksa makan masakan Chuuya daripada rumah sakit!” protes Dazai. Namun ia terdiam setelah sadar akan perkataannya. Dazai tersenyum kicut bahwa ia baru menyadari, mereka bukan lagi sepasang suami istri. “Ya mau gimana lagi, aku gak mungkin bisa makan masakan Chuuya lagi sih,” gerutunya, sambil mulai mengambil sendok. 

“Gue masakin kalo lo udah baikan.” 

Ucapan Chuuya menghentikan gerakan Dazai yang sedang menyendok makanan. Dazai menatap Chuuya kaget. Namun secepatnya merubah ekspresinya menjadi datar. “Setelah saya keluar dari rumah sakit, anda tidak perlu peduli lagi dengan iblis ini, Nakahara san.” 

… 

Perceraian Chuuya dan Dazai terjadi karena masalah internal Port Mafia yang semakin melebar. Beberapa dokumen penting tersebar ke publik. Jika semakin banyak dokumen yang bocor, akan menyebabkan Port Mafia tersudut dan menjadi sebuah kunci untuk organisasi bawah tanah lainnya untuk menghancurkan Port Mafia. Pada rapat beberapa eksekutif, penyidik kasus ini menyimpulkan bahwa pelaku penyebaran dokumen adalah Dazai. Tentu Chuuya tidak terima atas tuduhan tak berdasar tersebut. Namun bukti yang didapat begitu kuat, sehingga membungkam Chuuya dan tak sadar menyulutkan emosi sang jingga. Port Mafia merupakan rumah bagi Chuuya. Tidak mungkin ia membiarkan rumah nya hancur, tidak peduli siapapun dalang di balik kehancuran tersebut. Mori tersenyum miring dan menyerahkan Chuuya menyelesaikan kasus ini. Karena bagaimanapun, hanya Chuuya yang bisa melawan perbuatan Dazai. 

Dazai mengerutkan wajahnya saat melihat Chuuya yang tidak biasanya pulang cepat. Sebelum Dazai menyambut suaminya, tangan Chuuya dengan ringan menampar pipi Dazai. “Maksud lo apa nyebar informasi PM?” 

Iris coklat melebar. Tangan Dazai menyentuh bekas tamparan. Raut wajahnya masih kaget menatap Chuuya. “Chuu Chuu kasar banget! Pulang-pulang bukannya cium tapi malah-” 

“Gak perlu basa basi, gue cuma mau tau apa maksud lo nyebar dokumen rahasia PM? Gue tau lo pengkhianat. Tapi PM masih jadi rumah buat gue!” potong Chuuya emosi. 

Pernyataan Chuuya menyulut emosi Dazai. “Jadi aku selama ini kau anggap apa, Chuuya?” 

Melihat Chuuya hanya terdiam, Dazai kembali melanjutkan perkataannya. “Apa karena PM rumahmu, aku tidak akan pernah jadi prioritas nomor satu? Jadi untuk apa kau menikahiku Chuuya? Kau nikah aja sama PM. lagi pula, dokumen yang aku bocorin cuma dokumen ringan yang gak akan bikin PM bangkrut detik itu juga!” 

“Dokumen seringan apapun bisa jadi senjata musuh buat nyerang PM, jingan!” 

Rahang Dazai mengeras. “Apa kau gak mikir, Chuuya. PM cuma nguras tenagamu doang! Kau jarang tidur, jarang pulang, PM cuma manfaatin tenagamu yang sangat mencintai pekerjaan. Aku khawatir sama keadaanmu Chuuya. Aku peduli kesehatanmu. Aku gak mau kehilanganmu di usia muda karena kesehatan. Aku cuma ngancam Mori untuk nggak terlalu manfaatin kinerjamu.” 

“Bukan gini caranya peduli, Dazai. Gak ada manusia manapun yang memberikan kepedulian dengan ngancurin rumah pasangannya!” 

Sang brunet hanya tertawa pelan. Menyingkirkan terlebih dahulu perasaan sakit hati karena tanpa sadar Chuuya tidak menganggapnya manusia. “Lalu mau pakai cara apa lagi, Chuuya? Udah berapa ratus kali aku mengingatkanmu, emang Chuuya dengerin?” ucapnya lirih. Iris coklat menatap biru dengan tatapan terluka. “Kalo gitu, peduli aja sama PM, gak usah peduliin aku lagi! Chuuya harus pilih antara PM atau aku!” 

“Lo kira sekarang gue masih peduli sama lo? Setelah apa yang lo lakuin, lo pikir gue masih mau satu atap sama iblis macam lo, hah?”

Tubuh Dazai membeku. Tanpa sadar, air mata menetes dari matanya. 

Dazai selalu kebal dengan perkataan tajam dari orang-orang. Perkataan orang terdekat yang tidak mempedulikannya. Namun mendengarkan perkataan itu dari suaminya sendiri, bahkan hati iblis sepertinya tidak kebal dengan pernyataan Chuuya. 

“Lalu selama ini, hanya aku yang menganggap pernikahan kita adalah rumah. Lalu, kau anggap apa pernikahan kita?” tanyanya lirih. Tanpa menunggu, Dazai segera menggelengkan kepalanya. “Engga, aku gak perlu jawaban itu,” ucapnya sambil mengusap wajah. Menghapus jejak air mata di pipinya. Dazai menghentikan ucapannya sebelum mendengar hal yang lebih menyakitkan. 

Mungkin Chuuya menikahinya karena rasa kasihan,

Mungkin Chuuya menikahinya karena Port Mafia masih membutuhkan Dazai, 

Seluruh kemungkinan yang di pikiran Dazai begitu menyesakkan dada. Dan ia tidak ingin mendengarnya secara langsung dari mulut Chuuya. 

“Kau tidak mau satu atap lagi denganku, kan? Oke! Aku tunggu surat perceraian.” 

Dazai mengalihkan perhatiannya dari Chuuya ke ruang tamu. “Atsushi, sepertinya kunjunganmu hari ini sangat tidak tepat.” 

Mata Chuuya melebar. Perdebatannya dan Dazai ternyata dilihat secara langsung oleh anak didik Dazai. Saat Chuuya menatap wajah manusia harimau itu, raut wajah Atsushi terlihat begitu terkejut. 

Setelah Dazai dan Atsushi keluar, Chuuya baru memikirkan seluruh perkataan Dazai. 

Tentu saja Dazai adalah istrinya. Ia begitu menyayangi Dazai. Pernikahan mereka begitu spesial untuk Chuuya. 

Namun Dazai seorang pengkhianat. Ia mengkhianati Port Mafia dengan keluar dan masuk ke organisasi rival. Dan saat ini, Dazai kembali berkhianat dengan membocorkan dokumen yang dimiliki Port Mafia. 

Chuuya seorang Mafia. Bagaimanapun, ia tetap eksekutif Port Mafia. Dan mafia harus mengenyahkan seluruh perasaan yang akan membuatnya mengkhianati Port Mafia. 

Itulah mengapa Chuuya memantapkan diri untuk mengurus perceraian. 

… 

Kejadian pingsannya Dazai membuat sosok brunet itu terus berada di kepala Chuuya. Meskipun Chuuya sudah pulang dari rumah sakit, ia selalu kepikiran akan keadaan Dazai. Tak akan ada yang menjamin bahwa Dazai akan mengurus hidupnya. Bahwa tubuh Dazai akan terus semakin kecil setiap harinya. 

Tangan bersarungnya meraih nakas, mengambil bingkai putih yang Chuuya tutup. Foto yang diambil dua tahun lalu. Foto pernikahannya. Dazai yang menggunakan baju pengantin lengan panjang dan berkerah tinggi, menutupi bekas luka yang biasa Dazai tutupi dengan perban. Dalam foto, Dazai tersenyum lebar dengan mata yang terlihat begitu bersinar. 

Walau Dazai tidak pernah mengatakannya secara langsung, namun Chuuya mengetahui bahwa acara pernikahan mereka adalah hari paling bahagia yang pernah Dazai rasakan. 

“Chuuya, aku takut. Aku selalu kehilangan sesuatu yang sangat ingin kujaga.” 

Gumam Dazai di malam hari, setelah ia terbangun dari mimpi buruk, memeluk tubuh Chuuya erat. Tubuhnya bergetar karena ketakutan. Chuuya membelai punggung Dazai, menenangkan ketakutan sang brunet. Mengatakan beribu kali bahwa ketakutan yang Dazai rasakan tidak akan menjadi kenyataan. 

Dan benar saja, satu setengah tahun setelah pernikahan itu, Dazai menandatangani surat perceraian.

Chuuya melihat kekosongan di mata Dazai saat sang brunet menandatangani surat itu, saat mereka melakukan persidangan, saat akhirnya keputusan perceraian mereka sudah disahkan. Saat di mana akta perceraian sudah keluar.

Jarinya membelai pelan foto itu. Tanpa sadar, semakin lama Chuuya menatap wajah bersinar Dazai, semakin banyak air yang menggenang di pelupuk matanya. 

Semakin lama ia menatap foto itu, semakin besar rasa penyesalan yang tumbuh. 

“Maaf, aku tidak menepati janjiku.” 

… 

Kotak bekal kesayangan Dazai yang masih tersimpan di rumah Chuuya sudah terisi dengan nasi dan lauk seimbang. Chuuya sudah menghias makanan agar nafsu makan Dazai semakin meningkat. Hal yang selalu Chuuya lakukan di pagi hari. Bicara soal makanan, Dazai seperti anak kecil, yang tertarik makan saat makanannya dibentuk selucu mungkin. Chuuya juga sudah berkonsultasi dengan dokter Dazai tentang makanan yang boleh dan yang harus dikurangi untuknya, sehingga makanan yang Chuuya masak masih aman untuk Dazai makan. 

Chuuya berkunjung lumayan pagi hari ini. Ia akan melaksanakan misi hingga malam sehingga sulit meluangkan waktu saat kerja. Namun saat Chuuya membuka pintu ruang inap, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Dazai yang berhasil menarik selang infusnya. Iris biru melebar, dengan cepat mendekati sang brunet. 

“Dazai! Lo…,” Chuuya kehabisan kata. Ia meletakkan kotak bekal di nakas, lalu segera membersihkan luka di tangan Dazai. 

Dazai yang tidak menduga akan adanya tamu, sama kagetnya dengan Chuuya. Setelah kembali sadar dari keterkejutan, Dazai dengan cepat menarik lengannya yang digenggam Chuuya, menyebabkan darah yang masih dibersihkan kini kembali keluar. 

Chuuya kembali ingin menyentuh tangan Dazai, namun segera ditangkis sang brunet. “Dazai, tangan lo masih berdarah. Dibersihkan dulu.”

Sang brunet hanya tersenyum sendu. “Ngapain Chuuya pagi-pagi ke sini?”

Perkataan Dazai menghentikan gerakan Chuuya. “Dazai, tangan lo berdarah.”

“Mau aku luka, atau mati sekalipun. Itu bukan urusanmu. Chuuya harusnya gak di sini. Chuuya harusnya gak bawa aku ke rumah sakit. Chuuya amnesia atau gimana? Bukannya kau sendiri yang bilang tak akan peduli lagi padaku?” 

Keheningan menyelimuti keduanya. Dazai perlahan bangkit dari brankar, kakinya masih belum terlalu kuat menopang tubuh. Chuuya dengan reflek ingin membantu, namun Dazai segera menaikkan tangannya, menolak bantuan Chuuya. 

“Oh jelas Chuuya tidak akan peduli padaku. Karena itu dia bawa aku ke tempat yang paling aku benci di dunia ini.” 

Dazai membenci rumah sakit. Chuuya sangat tahu kebencian sang brunet akan gedung kesehatan ini. Namun, dengan kepala penuh kekhawatiran, Chuuya sedikit melupakan fakta tersebut. “Lo hampir mati, Dazai.” 

“Chuuya lupa, aku paling menunggu ajalku tiba. Kau tak perlu repot-repot menyelamatkanku.” 

Chuuya menatap Dazai sendu. Dazai menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Apakah brunet sangat membencinya sekarang? 

Tentu saja, dengan apa yang ia lakukan pada Dazai, mana mungkin wanita itu masih mencintainya. 

Menelan ludah pahit, Chuuya perlahan mengambil kantong kain yang berisikan kotak bekal. Bekal khusus yang sudah ia siapkan untuk Dazai. “Aku hanya ingin menetapi perkataanmu.” 

Iris coklat melirik kantong yang Chuuya beri, lalu mendengus kesal. “Aku tidak membutuhkannya. Sudah kukatakan, kau tidak perlu repot-repot peduli lagi padaku.” 

“Namun katamu setelah keluar dari rumah sakit.” 

Dazai menatap kesal kekeraskepalaan Chuuya. Namun ia tetap menerima kantong yang Chuuya berikan. 

“Setelah ini, kita tidak punya kepentingan apapun selain pekerjaan.” 

Dazai pergi, tanpa melihat raut wajah sang jingga.