Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-12-24
Words:
1,734
Chapters:
1/1
Kudos:
2
Hits:
12

Hidupkan Kehidupanmu

Summary:

Saat musim panas, Luc dan Sierra menikmati waktu minum bersama di bar saat perayaan kemenangan tentara Dunan. Disana Sierra bercerita akan masa lalunya, menyadarkan Luc akan pentingnya menjalani hidup.

Work Text:

“Hari ini adalah hari merayakan kemenangan kita dalam perang! Mari kita bersenang-senang sepuasnya!!!”

“Yeaaaahh!!!”

Semua orang di Istana Dunan bersorak dengan riang. Mereka menari, bercengkrama, bermain dan berpesta. Setelah perjuangan panjang yang pahit dan penuh liku, akhirnya mereka dapat mencicip hasil jerih payah dan pengorbanan mereka, yaitu sebuah kemenangan mutlak atas Kerajaan Highland. Semua tampak gembira dan rasa lega terlukis di wajah mereka karena mereka berhasil bertahan hidup dan melewati rentetan perang menyakitkan yang melanda seluruh negeri.

Sang pemimpin, Riou, dikelilingi orang-orang dari berbagai kalangan yang memberi selamat atas keberhasilannya memimpin tentara Dunan hingga akhir perang. Walau masih muda, Riou telah diberi kepercayaan untuk memimpin. Pada awalnya, banyak yang meragukan kemampuan pemuda itu. Namun, setelah melihat keberhasilannya pada beberapa perang, mereka mulai menaruh rasa hormat yang tinggi kepadanya.

Di balkon, seseorang menatap keramaian pesta di bawahnya. Rambut pendek sebahunya yang berwarna hijau tertiup angin yang berhembus dengan lembut.

“Selamat malam, manusia.

Bersamaan dengan hembusan angin, seorang wanita muncul di sampingnya. Pria itu menoleh ke arah wanita tersebut. Seorang wanita muda yang manis. Kulitnya putih pucat. Rambutnya berwarna putih perak berhiaskan bando berwarna ungu. Ia mengenakan baju lengan panjang berwarna putih dan jubah berwarna ungu dan biru tua. Kedua matanya yang tajam berwarna merah menatap pria berambut hijau di depannya. Mulutnya tersenyum—memperlihatkan kedua taring yang mengintip dari balik bibirnya.

Pria berambut hijau itu memalingkan wajahnya. “Aku bukan ‘manusia’. Aku punya nama, Sierra.”

“Apa salahnya aku memanggilmu ‘manusia’? Kamu memang manusia, ‘kan?” Sierra menyenderkan dirinya ke pinggir balkon. Tangannya memegang sepotong semangka berwarna merah segar. "Atau bukan?"

Pria berambut hijau mengerutkan kedua alisnya, merasa terusik dengan pertanyaan itu. Dia... apakah dia 'manusia' atau bukan? Dia sendiri pun tidak tahu jawabannya.

Tiba-tiba terdengar suara 'krenyes' dari arah Sierra. Luc mengintip dari ujung penglihatannya. Sierra tengah menggigit sepotong semangka segar. Menyadari akan tatapan pada dirinya, Sierra berkata dengan sinis. “Berhenti melotot ke arahku. Kalau kamu mau semangka juga, kamu bisa ambil di bawah."

"Tidak perlu."

Luc kembali memandang keramaian di bawah. Sierra melompat dengan anggun dan duduk di pagar balkon, ikut melirik ke bawah. “Kalau kamu sebegitu inginnya ikut berpesta, kenapa tidak turun?”

Pria berambut hijau itu hanya terdiam, enggan menjawab pertanyaan Sierra. “Kamu ini benar-benar, ya. Tidak sopan kalau diam saja saat diberi pertanyaan!” seru Sierra. Kesal karena ketenangannya terganggu, Luc berjalan menjauh dan pergi dari balkon.  Dengan langkah yang sama cepatnya Sierra mengejar dia.

“Hei! Kenapa kamu lari? Tidak suka, ya, aku temani?”

“Aku tidak punya waktu untuk meladenimu. Ganggulah orang lain!”

Secepat kilat Sierra memegang lengan Luc yang ramping. “Luc, ikutlah minum bersamaku, ya? Ada hal penting yang ingin ku bicarakan padamu,” kata Sierra pelan. Suaranya tenang dan dalam. Luc menatap kedua mata Sierra. Dari sorot matanya terlihat bahwa dia serius dan tidak berniat main-main dengannya.

“Apakah sebegitu pentingnya sehingga harus dibicarakan malam ini?” tanya Luc. Sierra mengangguk mantap. Setelah berbagai pertimbangan, Luc setuju untuk menemani Sierra.

“Pastikan hal ini sangat penting dan tidak menyita waktu berhargaku.”


Mereka berdua pun pergi ke bar yang ada di lantai dasar istana. Beruntunglah di sana sepi. Orang-orang lebih memilih untuk ikut berpesta di luar daripada hanya berdiam diri di dalam istana.

“Wah, wah, jarang sekali aku melihat kalian berdua!” seru Leona, sang pemilik bar yang sedang duduk santai di balik meja kedai.

“Itu karena baru kali ini kau melihat kami berdua,” kata Luc dingin.

“Saat musim panas pun Luc tetap dingin seperti biasa ya! Haha,” balas Leona sambil tertawa renyah.

“Selamat malam, Leona,” sapa Sierra sambil tersenyum. “Tidak ikut berpesta di luar?”

Leona melambaikan tangannya. “Tidak, tidak. Kakiku pegal-pegal setelah berdansa. Kalau sudah baikan aku akan kembali bergabung. Kalian mau pesan minuman?”

“Aku pesan satu yang favoritku, ya.  Tolong tambahkan es batu yang banyak. Terima kasih,” kata Sierra sambil berlalu ke meja bundar dan duduk disana.

Leona mengalihkan pandangannya ke Luc. “Luc sendiri mau pesan apa? Susu cokelat?” tanyanya sambil bercanda.

“Aku... tidak butuh minuman apa pun," jawabnya ketus. Kemudian ia menghampiri Sierra yang sudah duduk manis disana.

Setelah pesanan Sierra datang, ia langsung menyesap minumannya. Luc memandang Sierra dengan tidak sabar. Hiruk pikuk keramaian pesta terdengar dengan sangat jelas dari luar.

“Kamu tahu, Luc? Jauh sebelum ini aku juga pernah merayakan pesta yang sangat meriah di desa tempat tinggalku,” ujar Sierra memulai pembicaraan. “Sebenarnya bukan pesta juga, sih, tapi lebih ke festival kecil-kecilan. Aku ingat sekali waktu itu merupakan festival perayaan keberhasilan panen jagung terbesar setelah dua tahun.  Sama seperti saat ini, festival itu juga kami rayakan saat musim panas.”

Sambil bercerita, Sierra tersenyum bahagia. Kenangan yang dulu terpendam muncul kembali dalam benaknya. “Aku memiliki kedua orang tua yang sangat baik dan sayang padaku. Orang-orang di desa juga sangat ramah. Teman-temanku juga baik dan menyenangkan... Kehidupanku sangat damai dan sempurna.”

Luc memperhatikan Sierra. Terlihat raut wajah yang bahagia, namun entah kenapa mengandung kesedihan yang mendalam. Kedua mata Sierra berkaca-kaca. “Rasanya aku ingin hidup seperti itu sampai akhir hidupku...”

Sierra kembali menyesap minumannya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali dengan pelan. Luc memilih untuk diam dan tidak berkomentar apa pun.

“Kemudian, karena suatu insiden aku mendapatkan sebuah true rune dengan kekuatan yang menakutkan. Kamu pasti tahu, Blue Moon Rune.”

Luc melirik ke sebuah simbol berbentuk bulan sabit berwarna ungu tua yang terukir di tangannya kanan Sierra.

“Blue Moon Rune merupakan rune simbol kasih sayang dan penghancuran... Merupakan rune yang dapat mengubah pemiliknya menjadi vampir dan abadi untuk selamanya,” lanjutnya. Jauh dalam lubuk hatinya, Sierra tidak menginginkan ini semua. Seandainya waktu bisa diulang, ia tidak akan melakukan hal bodoh yang memicu dirinya mendapatkan rune itu. Sama sekali ia tidak bermimpi untuk hidup abadi dan berubah menjadi makhluk malam penghisap darah manusia.

“Daripada berkah, rune itu lebih merupakan sebuah kutukan,” ujar Sierra. “Saat pertama kali mendapatkannya, aku kehilangan kendali. Rune itu menguasai diriku sepenuhnya, mengubahku menjadi mesin penghancur. Aku membunuh semua orang yang aku sayangi—orang-orang di desa, teman-temanku, bahkan kedua orangtuaku... Aku menghancurkan segalanya.”

Luc tidak melepaskan pandangannya dari Sierra. Kekuatan true rune memang bisa mengubah pemiliknya menjadi orang lain—sesuatu yang lain—yang memberkahi atau menghancurkan segalanya. Luc paham betul akan hal itu karena dia sendiri pernah terlibat dengan pemilik true rune di waktu lampau. Dia sendiri pun juga...

“Keadaan itu memaksaku untuk menarik diri ke hutan. Sebisa mungkin aku menghindari kontak dengan manusia. Selama bertahun-tahun yang menyakitkan, aku berusaha menguasai rune itu dan akhirnya berhasil. Karena keberhasilan itu, aku dapat hidup tanpa perlu meneguk darah manusia.”

Sierra mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Luc. Terlihat sebuah senyuman tipis di wajahnya yang pucat.

“Berpuluh-puluh tahun berlalu, tapi aku sama sekali tidak merasakan dekatnya kematian. Saat itu, aku senang. Aku bisa hidup lebih lama dari manusia biasa...” katanya sambil terkekeh. “Tapi, aku salah besar. Setelah mengembara 70 tahun lamanya, untuk pertama kalinya aku berkata, ‘Aku bosan hidup’. Manusia salah kalau menginginkan tubuh yang abadi karena hidup selamanya itu tidak seenak yang mereka pikirkan.”

“Akhirnya, mau tidak mau aku harus menjalani hidup ini. Aku... Itu kewajibanku sebagai pemilik dari kutukan Blue Moon Rune... Selama hampir 800 tahun aku mengembara dan perlahan jiwaku mulai hilang. Aku seperti sebuah vas yang kosong, seperti kata pepatah ‘hidup segan, mati tak mau’...”

“Apa yang berusaha kau sampaikan?”

Sierra menatap Luc dengan lekat. “Sebagai manusia, jalani hidupmu dengan baik, Luc. Agar nanti kamu punya kenangan yang menyenangkan, agar disaat ajalmu nanti kamu tidak menyesal,” Sierra mempererat genggaman pada gelas minumannya. “Jangan berakhir sepertiku, ya?”

Di sana, untuk pertama kalinya Luc melihat kedua mata Sierra berkaca-kaca. Sierra seorang wanita yang tegar. Pahit-manisnya kehidupan sudah ia jalani. Berbagai tragedi memilukan telah ia hadapi sehingga ia menjadi wanita yang kuat hingga saat ini. Sebenarnya, air matanya telah lama sekali kering, dan tubuhnya sudah tidak memiliki jiwa lagi, sehingga menangis sekarang pun tidak ada gunanya. Tapi, kenangan pahit itu kembali, membuatnya ingat, dan menyebabkan munculnya rasa penyesalan yang tidak terelakkan.

"Sierra, aku... kau tidak perlu menasihatiku. Memang aku baru hidup sebentar saja, tapi aku..."

"Kamu apa?"

Aku paham betul penderitaanmu. Luc menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata pahit itu. 

"Dengar, Luc. Maaf, ya, kalau kesannya aku seperti sok bijak atau terkesan menghakimi. Sama sekali bukan itu yang aku maksud. Terkadang aku hanya sedih melihatmu selalu murung setiap hari atau melihat ke kejauhan dengan tatapan kosong. Hidupmu masih panjang dan kamu masih punya jiwa, Luc. Ingat itu."

Jiwa... Kata tersebut terngiang-ngiang di kepala Luc. Ucapan Sierra terdengar penuh harapan dan alangkah menyenangkannya kalau Luc bisa menjalani hidup seperti itu. Tapi... “Kau tidak tahu apa-apa tentang diriku...” ujarnya pada akhirnya.

"Aku tahu. Makanya, bagaimana kalau sekarang kamu yang gantian cerita? Aku ini pendengar yang baik, lho. Mungkin aku bisa menampung keluh kesahmu, mumpung aku lagi berbaik hati."

“Aku tidak butuh bantuanmu.”

“Heh, kamu ini manusia yang sombong sekali, ya?”

Tepat saat itu, seorang pria tinggi besar seperti beruang masuk ke dalam bar. “Leona, pesta kembang apinya akan segera dimulai!”

Leona yang tadi sibuk mengurut kakinya, menoleh ke arah datangnya suara. “Oke, Viktor! Aku akan segera kesana.”

Viktor yang berdiri di ambang pintu, secara tidak sengaja melihat Sierra dan Luc. Di antara keduanya terdapat hawa-hawa tidak enak, tapi Viktor yang kurang peka tidak merasakannya sama sekali. “Yo, Sierra dan Luc! Tumben sekali berdua di sini. Sedang apa kalian?” tanyanya penasaran.

“Selamat malam, Viktor. Aku hanya sedang memberi ‘pelajaran’ pada Luc kecil,” jawab Sierra sambil menepuk-nepuk kepala Luc. Merasa risih, Luc menepis tangan Sierra dengan keras.

“Pelajaran, heh? Hahaha,” tawa Viktor. “Kalau sudah selesai, segeralah bergabung dengan kami. Lomba memukul buah semangka sudah hampir selesai. Kalau kalian tidak cepat-cepat, kalian akan ketinggalan pesta kembang apinya!”

Leona dan Viktor segera pergi meninggalkan mereka berdua.

Luc bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati pintu. Sebelum ke luar, Luc berhenti. “Sierra, aku ada satu pertanyaan. Apa takdir tidak bisa diubah?”

Sierra memerhatikan punggung Luc. Punggung dan bahu yang kecil itu terlihat seperti sedang memikul beban yang begitu besar dan berat. Ia menyesap minumannya dengan pelan dan menjawab, “Takdir memang tidak bisa diubah, Luc, tapi, dengan usaha yang sungguh-sungguh, kau bisa membuat roda takdir itu sedikit melenceng dari jalannya. Yang terpenting, lakukan itu sambil menjaga jiwamu.”

Tanpa memperlihatkannya, Luc tersenyum kecil dan segera berlalu. Sierra kembali menikmati suasana bar yang sepi dan perlahan, tenggelam dalam lamunan dan kekhawatiran akan Luc.


Di sanalah Luc berdiri—di belakang kerumunan orang-orang. Kembang api menghiasi malam dengan warna-warninya yang indah. Sorak-sorai orang-orang terdengar dari segala penjuru.

“Jalani hidup dengan sepenuhnya sebagai manusia, ya...” Luc menatap langit malam yang penuh warna. Angin berhembus lagi menerpa wajahnya dengan lembut. Ia tertawa kecil, lalu tersenyum pahit. “Sayangnya... aku juga sudah kehilangan jiwa manusiaku...”